Malam itu, setelah obrolan di kamar, kami kembali berhubungan. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada rasa canggung yang tidak bisa disembunyikan. Aku mencoba mengambil inisiatif. Aku mencoba memeluk Dimas, menciumnya dengan dalam. Aku ingin ia merasakan gairahku. Aku ingin ia membalasnya dengan cara yang sama. Aku ingin ia menunjukkan, bahwa ia juga menginginkanku.
Aku menggenjot dengan cepat, mencoba untuk melampiaskan semua frustasi yang kurasakan. Aku ingin merasakan kenikmatan yang selama ini kudamba. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya mencapai puncak, bagaimana rasanya melayang, bagaimana rasanya menjadi wanita seutuhnya. Tapi, Dimas terlalu cepat mencapai puncak. Setelah ia keluar, ia ambruk di atasku, terengah-engah. Aku terdiam, hati terasa hancur. Ini bukan yang aku inginkan. Aku tidak ingin ini terjadi.
Aku merasakan kekecewaan yang sangat dalam. Kekecewaanku begitu besar sehingga aku tidak bisa menyembunyikannya. Air mataku menetes. Aku ingin berteriak, ingin menangis, ingin melampiaskan semua amarahku. Tapi, aku hanya bisa berbisik di hatiku. "Mas enggak bisa puasin Adek."
Setelah mas Dimas tertidur, Aku bangkit, mengambil pakaianku, dan berjalan keluar. Aku tidak tahu, apa yang akan kulakukan. Aku hanya tahu, bahwa aku harus lari. Aku harus lari dari kenyataan yang menyakitkan ini.
Aku kembali ke kamar studiku, menutup pintu rapat-rapat, dan mengunci diriku di dalamnya. Aku membuka ponsel, dan langsung membuka pesan WhatsApp. Aku mencari nama Mas Bims. Aku harus berbicara dengannya. Ia satu-satunya orang yang mengerti diriku, ia satu-satunya orang yang bisa kurasakan, dan kurasakan.
Aku: Mas, maaf aku mengganggu. Tapi aku butuh teman curhat.
Mas Bims langsung membalasnya, seolah ia sudah menunggu pesanku.
Mas Bims: Ada apa, Dek? Kamu kenapa? Cerita aja.
Aku: Aku capek, Mas. Aku capek sama hidupku. Aku capek sama suamiku.
Mas Bims: Kenapa, Dek? Ada apa?
Aku: Tapi ini rahasiaku, Mas… aku gak bisa curhat ke sembarang orang. Ini terlalu pribadi.
Mas Bims: Tenang aja, Dek. Kamu bisa percaya sama aku 100%. Aku bukan orang lain. Aku temanmu. Aku di sini untuk mendengarkan. Kamu gak perlu malu. Aku mengerti.
Aku terdiam. Jantungku berdebar kencang. Kata-katanya begitu menenangkan. Ia tidak menghakimi. Ia memberikan ruang. Akhirnya, aku menyerah.
Aku: Mas, suamiku enggak bisa puasin aku, Mas. Aku merasa hampa. Aku merasa seperti ada yang kurang.
Mas Bims: Aku mengerti, Dek. Aku sangat mengerti.
Ia tidak menghakimi. Ia tidak menganggapku sebagai wanita gila. Ia mengerti.
Aku: Mas, aku mau minta saran. Aku mau mencari kepuasan yang lain. Aku mau... aku mau merasakan hidup.
Mas Bims tidak langsung membalas. Aku menunggu, jantungku berdebar kencang. Akhirnya, balasan datang.
Mas Bims: Kalau begitu, kamu harus eksplorasi hasratmu. Kamu harus berani keluar dari zona nyamanmu. Kamu harus mencari kepuasan yang lain.
Aku: Maksud Mas?
Mas Bims: Coba kamu jadi eksibisionis, Dek. Tunjukkan tubuhmu ke orang lain. Atau coba kamu main Tinder, menggoda pria lain. Tapi ingat, semua itu hanya fantasi. Hanya untuk melampiaskan hasratmu. Jangan sampai kamu melangkah lebih jauh. Jangan sampai kamu mengkhianati suamimu.
Aku terdiam. Jantungku berdebar kencang. Aku merasa terkejut, tapi juga tertarik. Ide itu gila. Tapi, di sisi lain, ide itu terasa begitu membebaskan.
Aku: Tapi... itu salah, Mas. Aku enggak bisa.
Mas Bims: Enggak, Dek. Itu enggak salah. Selama kamu tidak melangkah lebih jauh, tidak ada yang salah dengan itu. Percayalah. Pengalaman seperti itu bisa membuatmu merasa hidup kembali. Bisa membuatmu merasa didamba dan diinginkan. Kamu bisa menjadi wanita yang kamu inginkan, Dek. Wanita yang berani, yang punya kendali atas dirinya sendiri.
Aku: Mas... kenapa Mas mau bantu aku?
Mas Bims: Aku adalah penggemarmu, Dek. Aku terangsang oleh persona ustadzah alimmu. Dan aku terkejut, bahwa ada sisi liar lain yang tersembunyi. Aku bisa membantumu menemukan siapa kamu sebenarnya.
Aku: Mas... aku...
Mas Bims: Percayalah, Dek. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan selalu ada untukmu. Dan, sebagai "pembayaran" untuk melihat sisi liar mu, aku akan memberikanmu hadiah. Hadiah-hadiah yang bisa membantumu menjadi wanita yang lebih baik.
Tak lama kemudian, sebuah notifikasi masuk ke ponselku. Transferan bank dengan jumlah yang sangat besar. Aku terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Ia benar-benar melakukannya.
Aku mulai melakukan apa yang Mas Bims sarankan. Aku membuat akun Tinder, dengan nama samaran “Queen Bee”. Aku mengunggah foto-foto yang tidak menampilkan wajahku. Foto-foto yang hanya menampilkan lekuk tubuhku dengan gamis yang ku gunakan, dari sudut pandang yang strategis, dari belakang punggung, atau dari samping pinggul. Aku menyukai sensasi ini. Aku merasa menjadi sosok yang misterius, yang membuat para pria penasaran.
Aku mulai menggoda pria lain, berinteraksi dengan mereka, dan merasakan sensasi menjadi pusat perhatian. Mereka memujiku, mengatakan aku cantik, seksi, dan sangat menarik. Mereka mengirimiku pesan-pesan nakal, meminta lebih banyak foto, lebih banyak interaksi. Dan aku, dengan senang hati, memberikannya.
Sensasi itu luar biasa. Aku merasa menjadi wanita yang paling diinginkan di dunia. Aku merasa berani, berkuasa, dan punya kendali. Aku bisa melakukan apa saja, dan tidak ada yang bisa menghentikanku. Aku bisa menjadi wanita yang aku inginkan, tanpa Dimas tahu.
Permainan ini semakin liar. Aku tidak hanya menggoda mereka dengan kata-kata. Aku mulai mengirimkan foto-foto yang lebih berani. Foto-foto yang hanya menampilkan payudaraku, tertutup bra. Mereka memujiku, mengatakan payudaraku sangat besar, mulus, dan indah.
Ponselku bergetar. Ardan. Namanya di layar bikin jantungku langsung berdebar. Dia bilang lagi main sendiri, bayangin aku. Pikiranku langsung liar. Ini bukan lagi sekadar obrolan iseng, ini udah masuk zona bahaya, zona yang bikin aku penasaran.
"Tolong bantu aku crot sayang. Kirim foto nenenmu yang tanpa bra, aku pengen lihat seluruh payudaramu yang besar itu," pintanya.
Kemudian dia mengirimkan sebuah foto. Jantungku berdebar kencang. Itu adalah penisnya. Aku menelan ludah, mengamati detailnya. Penisnya hitam, kurus, tapi panjang. Tidak sepanjang punya Mas Bims, tapi jelas lebih panjang dan besar dari milik suamiku, Mas Dimas.
Ragu. Bingung. Tapi sensasi penasaran itu mengalahkan segalanya. Rasanya kayak lagi main api, dan aku gak bisa berhenti. Aku butuh tahu seberapa jauh aku bisa melangkah. Aku pengin tahu, apa yang bakal terjadi selanjutnya.
Aku mengambil napas dalam-dalam, masuk ke kamar mandi, dan mengunci pintunya. Lampu menyala, memantulkan bayanganku di cermin. Perlahan, aku membuka gamisku, merasakan sejuknya udara menyentuh kulitku. Aku melepaskan bra, membiarkan payudaraku yang besar dan mulus terasa bebas. Putingku yang berwarna merah muda menegang. Aku menyisihkan jilbab ke pundak, memperlihatkan seluruhnya.
Tanganku gemetar saat memotret, dengan hati yang berdebar. Aku mengirimkannya pada Ardan.
Ardan: "Bagus banget Dek, nenen kamu kenceng banget. Muluss. Pengen ku kenyott.."
Aku: "Sini, mas. Kalau mau, payudaraku udah nungguin," jawabku, lebih berani. Balasanku terasa begitu berani. Aku terkejut, tapi juga merasa gembira. Itu bukan aku yang biasa. Itu adalah Tiara yang baru, yang berani, yang haus akan pengakuan.
Ardan: "Ahh sayang aku mau keluar di memek kamu, kirim foto memek kamu dong cepat, please.."
Aku kaget, bingung, tapi entah kenapa aku menaruh HP-ku di wastafel. Area itu sudah tidak tertutup gamis, kini hanya memakai celana dalam. Tanganku gemetar, tapi jari-jariku langsung bergerak. Aku turunkan sedikit karet celana dalam kiri, menyingkap ke bawah karet celana dalamku sebelah kanan, memperlihatkan sebagian vaginaku yang dengan sedikit bulu halus dan memotret dengan timer area intimku yang basah. Aku berpose seperti model, hasilnya sangat sensual. Aku kirimkan foto itu padanya.
Ardan: "Gila, Dek. Pinggulmu seksi banget. Memekmu yang sebagian ketutup celana dalam aja udah bikin aku sange berat. Pengen banget aku entot sampai crot di dalamnya. Ahhh... ahhh... aku crot, Dek. Makasih ya sayang... nenenmu indah, body kamu idaman, memekmu bikin aku gak tahan."
Ia mengirimiku sebuah video penisnya mengeluarkan sperma. Aku terdiam, membeku. Ponsel di tanganku terasa panas, seolah itu bukan hanya video, tapi sebuah bukti nyata dari perbuatanku. Aku merasa kotor. Aku membayangkan jika aku benar-benar di entot sama dia, aku membayangkan bagaimana rasanya, Ahhh... sebuah desahan tanpa suara keluar dari bibirku. Aku merasabersalah. Aku tahu, aku sudah jauh melangkah. Aku sudah menghancurkan semua yang telah diajarkan padaku.
Tapi, di sisi lain, aku merasa hidup. Aku merasa diinginkan, dihargai, dan punya kendali. Perasaan ini, perasaan diakui, adalah sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan dari siapa pun, bahkan dari suamiku.
Bersambung...







