𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟑 𝐃𝐚𝐭𝐢𝐧𝐠 𝐀𝐩𝐩𝐬

 


Malam itu, setelah obrolan di kamar, kami kembali berhubungan. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada rasa canggung yang tidak bisa disembunyikan. Aku mencoba mengambil inisiatif. Aku mencoba memeluk Dimas, menciumnya dengan dalam. Aku ingin ia merasakan gairahku. Aku ingin ia membalasnya dengan cara yang sama. Aku ingin ia menunjukkan, bahwa ia juga menginginkanku.

Aku menggenjot dengan cepat, mencoba untuk melampiaskan semua frustasi yang kurasakan. Aku ingin merasakan kenikmatan yang selama ini kudamba. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya mencapai puncak, bagaimana rasanya melayang, bagaimana rasanya menjadi wanita seutuhnya. Tapi, Dimas terlalu cepat mencapai puncak. Setelah ia keluar, ia ambruk di atasku, terengah-engah. Aku terdiam, hati terasa hancur. Ini bukan yang aku inginkan. Aku tidak ingin ini terjadi.

Aku merasakan kekecewaan yang sangat dalam. Kekecewaanku begitu besar sehingga aku tidak bisa menyembunyikannya. Air mataku menetes. Aku ingin berteriak, ingin menangis, ingin melampiaskan semua amarahku. Tapi, aku hanya bisa berbisik di hatiku. "Mas enggak bisa puasin Adek."

Setelah mas Dimas tertidur, Aku bangkit, mengambil pakaianku, dan berjalan keluar. Aku tidak tahu, apa yang akan kulakukan. Aku hanya tahu, bahwa aku harus lari. Aku harus lari dari kenyataan yang menyakitkan ini.

Aku kembali ke kamar studiku, menutup pintu rapat-rapat, dan mengunci diriku di dalamnya. Aku membuka ponsel, dan langsung membuka pesan WhatsApp. Aku mencari nama Mas Bims. Aku harus berbicara dengannya. Ia satu-satunya orang yang mengerti diriku, ia satu-satunya orang yang bisa kurasakan, dan kurasakan.

Aku: Mas, maaf aku mengganggu. Tapi aku butuh teman curhat.

Mas Bims langsung membalasnya, seolah ia sudah menunggu pesanku.

Mas Bims: Ada apa, Dek? Kamu kenapa? Cerita aja.

Aku: Aku capek, Mas. Aku capek sama hidupku. Aku capek sama suamiku.

Mas Bims: Kenapa, Dek? Ada apa?

Aku: Tapi ini rahasiaku, Mas… aku gak bisa curhat ke sembarang orang. Ini terlalu pribadi.

Mas Bims: Tenang aja, Dek. Kamu bisa percaya sama aku 100%. Aku bukan orang lain. Aku temanmu. Aku di sini untuk mendengarkan. Kamu gak perlu malu. Aku mengerti.

Aku terdiam. Jantungku berdebar kencang. Kata-katanya begitu menenangkan. Ia tidak menghakimi. Ia memberikan ruang. Akhirnya, aku menyerah.

Aku: Mas, suamiku enggak bisa puasin aku, Mas. Aku merasa hampa. Aku merasa seperti ada yang kurang.

Mas Bims: Aku mengerti, Dek. Aku sangat mengerti.

Ia tidak menghakimi. Ia tidak menganggapku sebagai wanita gila. Ia mengerti.

Aku: Mas, aku mau minta saran. Aku mau mencari kepuasan yang lain. Aku mau... aku mau merasakan hidup.

Mas Bims tidak langsung membalas. Aku menunggu, jantungku berdebar kencang. Akhirnya, balasan datang.

Mas Bims: Kalau begitu, kamu harus eksplorasi hasratmu. Kamu harus berani keluar dari zona nyamanmu. Kamu harus mencari kepuasan yang lain.

Aku: Maksud Mas?

Mas Bims: Coba kamu jadi eksibisionis, Dek. Tunjukkan tubuhmu ke orang lain. Atau coba kamu main Tinder, menggoda pria lain. Tapi ingat, semua itu hanya fantasi. Hanya untuk melampiaskan hasratmu. Jangan sampai kamu melangkah lebih jauh. Jangan sampai kamu mengkhianati suamimu.

Aku terdiam. Jantungku berdebar kencang. Aku merasa terkejut, tapi juga tertarik. Ide itu gila. Tapi, di sisi lain, ide itu terasa begitu membebaskan.

Aku: Tapi... itu salah, Mas. Aku enggak bisa.

Mas Bims: Enggak, Dek. Itu enggak salah. Selama kamu tidak melangkah lebih jauh, tidak ada yang salah dengan itu. Percayalah. Pengalaman seperti itu bisa membuatmu merasa hidup kembali. Bisa membuatmu merasa didamba dan diinginkan. Kamu bisa menjadi wanita yang kamu inginkan, Dek. Wanita yang berani, yang punya kendali atas dirinya sendiri.

Aku: Mas... kenapa Mas mau bantu aku?

Mas Bims: Aku adalah penggemarmu, Dek. Aku terangsang oleh persona ustadzah alimmu. Dan aku terkejut, bahwa ada sisi liar lain yang tersembunyi. Aku bisa membantumu menemukan siapa kamu sebenarnya.

Aku: Mas... aku...

Mas Bims: Percayalah, Dek. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan selalu ada untukmu. Dan, sebagai "pembayaran" untuk melihat sisi liar mu, aku akan memberikanmu hadiah. Hadiah-hadiah yang bisa membantumu menjadi wanita yang lebih baik.

Tak lama kemudian, sebuah notifikasi masuk ke ponselku. Transferan bank dengan jumlah yang sangat besar. Aku terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Ia benar-benar melakukannya.

Aku mulai melakukan apa yang Mas Bims sarankan. Aku membuat akun Tinder, dengan nama samaran “Queen Bee”. Aku mengunggah foto-foto yang tidak menampilkan wajahku. Foto-foto yang hanya menampilkan lekuk tubuhku dengan gamis yang ku gunakan, dari sudut pandang yang strategis, dari belakang punggung, atau dari samping pinggul. Aku menyukai sensasi ini. Aku merasa menjadi sosok yang misterius, yang membuat para pria penasaran.

Aku mulai menggoda pria lain, berinteraksi dengan mereka, dan merasakan sensasi menjadi pusat perhatian. Mereka memujiku, mengatakan aku cantik, seksi, dan sangat menarik. Mereka mengirimiku pesan-pesan nakal, meminta lebih banyak foto, lebih banyak interaksi. Dan aku, dengan senang hati, memberikannya.

Sensasi itu luar biasa. Aku merasa menjadi wanita yang paling diinginkan di dunia. Aku merasa berani, berkuasa, dan punya kendali. Aku bisa melakukan apa saja, dan tidak ada yang bisa menghentikanku. Aku bisa menjadi wanita yang aku inginkan, tanpa Dimas tahu.

Permainan ini semakin liar. Aku tidak hanya menggoda mereka dengan kata-kata. Aku mulai mengirimkan foto-foto yang lebih berani. Foto-foto yang hanya menampilkan payudaraku, tertutup bra. Mereka memujiku, mengatakan payudaraku sangat besar, mulus, dan indah.

Ponselku bergetar. Ardan. Namanya di layar bikin jantungku langsung berdebar. Dia bilang lagi main sendiri, bayangin aku. Pikiranku langsung liar. Ini bukan lagi sekadar obrolan iseng, ini udah masuk zona bahaya, zona yang bikin aku penasaran.

"Tolong bantu aku crot sayang. Kirim foto nenenmu yang tanpa bra, aku pengen lihat seluruh payudaramu yang besar itu," pintanya.

Kemudian dia mengirimkan sebuah foto. Jantungku berdebar kencang. Itu adalah penisnya. Aku menelan ludah, mengamati detailnya. Penisnya hitam, kurus, tapi panjang. Tidak sepanjang punya Mas Bims, tapi jelas lebih panjang dan besar dari milik suamiku, Mas Dimas.

Ragu. Bingung. Tapi sensasi penasaran itu mengalahkan segalanya. Rasanya kayak lagi main api, dan aku gak bisa berhenti. Aku butuh tahu seberapa jauh aku bisa melangkah. Aku pengin tahu, apa yang bakal terjadi selanjutnya.

Aku mengambil napas dalam-dalam, masuk ke kamar mandi, dan mengunci pintunya. Lampu menyala, memantulkan bayanganku di cermin. Perlahan, aku membuka gamisku, merasakan sejuknya udara menyentuh kulitku. Aku melepaskan bra, membiarkan payudaraku yang besar dan mulus terasa bebas. Putingku yang berwarna merah muda menegang. Aku menyisihkan jilbab ke pundak, memperlihatkan seluruhnya.

Tanganku gemetar saat memotret, dengan hati yang berdebar. Aku mengirimkannya pada Ardan.​

Ardan: "Bagus banget Dek, nenen kamu kenceng banget. Muluss. Pengen ku kenyott.."

Aku: "Sini, mas. Kalau mau, payudaraku udah nungguin," jawabku, lebih berani. Balasanku terasa begitu berani. Aku terkejut, tapi juga merasa gembira. Itu bukan aku yang biasa. Itu adalah Tiara yang baru, yang berani, yang haus akan pengakuan.

Ardan: "Ahh sayang aku mau keluar di memek kamu, kirim foto memek kamu dong cepat, please.."

Aku kaget, bingung, tapi entah kenapa aku menaruh HP-ku di wastafel. Area itu sudah tidak tertutup gamis, kini hanya memakai celana dalam. Tanganku gemetar, tapi jari-jariku langsung bergerak. Aku turunkan sedikit karet celana dalam kiri, menyingkap ke bawah karet celana dalamku sebelah kanan, memperlihatkan sebagian vaginaku yang dengan sedikit bulu halus dan memotret dengan timer area intimku yang basah. Aku berpose seperti model, hasilnya sangat sensual. Aku kirimkan foto itu padanya.

Ardan: "Gila, Dek. Pinggulmu seksi banget. Memekmu yang sebagian ketutup celana dalam aja udah bikin aku sange berat. Pengen banget aku entot sampai crot di dalamnya. Ahhh... ahhh... aku crot, Dek. Makasih ya sayang... nenenmu indah, body kamu idaman, memekmu bikin aku gak tahan."

Ia mengirimiku sebuah video penisnya mengeluarkan sperma. Aku terdiam, membeku. Ponsel di tanganku terasa panas, seolah itu bukan hanya video, tapi sebuah bukti nyata dari perbuatanku. Aku merasa kotor. Aku membayangkan jika aku benar-benar di entot sama dia, aku membayangkan bagaimana rasanya, Ahhh... sebuah desahan tanpa suara keluar dari bibirku. Aku merasabersalah. Aku tahu, aku sudah jauh melangkah. Aku sudah menghancurkan semua yang telah diajarkan padaku.

Tapi, di sisi lain, aku merasa hidup. Aku merasa diinginkan, dihargai, dan punya kendali. Perasaan ini, perasaan diakui, adalah sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan dari siapa pun, bahkan dari suamiku.

Bersambung...

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟐 𝐔𝐣𝐢𝐚𝐧 𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐚𝐬 𝐁𝐢𝐦𝐬

 

Penjualan semakin meningkat, dan aku mulai dikenal di komunitas penjualan online. Namun, ada satu nama yang selalu mengorbit di pikiranku, sosok yang paling kuingat, yang paling membuatku penasaran, Mas Bims. Ia adalah penonton setiaku, hampir di setiap sesi live, ia selalu ada. Komentarnya selalu paling menarik, dan hadiah yang ia berikan selalu yang paling besar.

Suatu hari, setelah aku selesai live, ia mengirimiku pesan di aplikasi.

"Kakak, makasih ya sudah live," tulisnya. "Aku suka sekali melihat Kakak. Kakak itu cantik bagaikan bidadari."

Aku tersenyum. Hatiku menghangat. Sudah lama sekali aku tidak mendengar pujian seperti ini. Aku merasa dihargai, didamba, diinginkan, sebuah perasaan yang sudah lama kering, yang tidak pernah lagi kudapatkan dari suamiku sendiri.

"Masya Allah, terima kasih, Mas Bims," balasku, jariku mengetik dengan cepat. "Aku cuma berusaha jualan kok."

Ia membalas dengan emoji hati dan senyum, lalu dia minta nomor WhatsApp dengan alasan agar lebih enak kalau belanja. Aku pun memberinya. Percakapan kami berlanjut, dari sekadar bisnis menjadi percakapan pribadi. Ia bertanya tentang hariku, tentang keluargaku, tentang apa yang aku suka. Ia membuatku merasa spesial.

Lambat laun, percakapan kami berubah. Mulai dari obrolan ringan, menjadi obrolan yang lebih nakal. Ia mulai menggodaku.

"Kakak, aku penasaran deh," tulisnya. "Kenapa Kakak selalu pakai cadar? Kenapa tidak dibuka saja? Pasti wajah Kakak cantik sekali."

Jantungku berdebar kencang. Aku tahu, ini adalah sebuah godaan, sebuah godaan yang harus kutolak.

"Maaf, Mas Bims," balasku, mencoba untuk tetap sopan. "Ini sudah menjadi bagian dari diriku. Aku tidak bisa membukanya."

Ia tidak memaksaku. Ia hanya tersenyum. "Iya, aku mengerti, Kakak. Aku hanya penasaran. Tapi, boleh tidak... Kakak pakai baju yang lebih ketat? Supaya aku bisa lihat lekuk tubuh Kakak. Aku penasaran, Kakak pasti punya badan yang bagus. Nanti pasti lebih laris juga jualannya karena banyak yang nonton."

Aku terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Di dalam diriku, rasa marah karena direndahkan bertarung melawan rasa jijik pada diriku sendiri, namun di bawah semua itu, ada hasrat terlarang yang mulai menyala. Aku tidak tahu, mana yang harus kuikuti. Aku mengabaikan pesannya. Namun, pikiran tentang gamis ketat dan lekuk tubuh terus menghantuiku.

Suatu hari, aku pergi ke sebuah toko pakaian. Aku melihat sebuah gamis putih yang begitu cantik. Tepat di sebelahnya, tergantung sebuah bra berwarna merah, warnanya begitu terang, begitu berani, seolah berteriak menantang. Warna itu, yang selama ini tabu bagiku, kini terasa memanggil, memancing. Aku membelinya. Aku tidak tahu, ini adalah awal dari sebuah permainan berbahaya.

Saat aku live, aku memutuskan untuk mengenakan gamis putih itu dan bra merah yang baru kubeli. Aku menyukai warna ini. Aku menyukai bagaimana warna ini membuat kulitku terlihat lebih terang. Aku menyukai bagaimana warna ini membuatku merasa lebih berani.

Saat aku live, Mas Bims mengirimiku hadiah elang yang sangat besar, hadiah termahal yang pernah kuterima. Jantungku berdebar kencang. Ia lalu mengirimkan pesan di komentar.

"Kakak, boleh enggak hijabnya ke atasin, tunjukin hatinya? Aku penasaran."

Aku tahu, apa yang ia maksud. Ia meminta aku membuka hijabku, menunjukkan dadaku yang besar menonjol dibalik gamis. Aku terdiam. Aku merasa sangat bingung. Di satu sisi, aku ingin menolaknya. Di sisi lain, aku ingin mendapatkan lebih banyak hadiah dan pujian. Aku mencoba untuk tersenyum. "Maaf ya, Mas Bims. Hati Kakak cuma buat suami Kakak. Kakak gak bisa tunjukin ke yang lain."

Tak lama kemudian suamiku Chat menyuruhku untuk ganti pakaian, karena pakaian yang aku kenakan terlalu kecil, terlalu mencetak jelas bentuk badanku, aku pun berganti pakaian. Di sisi lain aku merasa sudah melakukan kesalahan besar. Kemudian aku mengakhiri sesi live-ku dengan alasan yang tidak jujur. Aku mengatakan kepada penonton bahwa aku merasa tidak enak badan. Aku tahu, ini adalah sebuah kebohongan, sebuah kebohongan yang kulakukan untuk menyelamatkan diriku dari godaan.

Aku merebahkan diriku, pikiranku masih dipenuhi dengan pesan dari Mas Bims. Tiba-tiba, ada notifikasi WhatsApp masuk.

"Kakak, makasih ya tadi sudah menuruti mauku. Kamu tahu, kan? Aku suka gamis putihmu. Apalagi bra merahnya."

Aku terdiam. Jantungku berdebar kencang. Bagaimana ia tahu aku memakai bra merah? Aku langsung panik, membuka galeri ponselku. Aku memutar ulang video live tadi, memperbesar setiap detail. Di balik kain gamis putih yang transparan, samar-samar terlihat lekuk bra merah yang kupakai. Aku merasa malu, tapi juga merasa aneh, ada sensasi yang aneh.

Mas Bims mengirimkan hadiah, transferan bank dengan jumlah yang lebih besar.

"Ini hadiah buat Kakak. Kamu harus lebih PD. Kamu cantik, Kak. Kamu pantas untuk dihargai."

Pesan itu membuatku merasa dihargai. Ia tidak hanya melihatku sebagai seorang penjual, tapi sebagai seorang wanita. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku menyukai perhatian ini. Aku tahu, ini adalah sebuah kesalahan. Tapi aku ingin tahu, sejauh mana aku bisa melangkah. Aku ingin tahu, apa yang akan terjadi jika aku mengikuti kemauan Mas Bims.

Malam itu, setelah Dimas terlelap, aku berbaring di sampingnya. Kehangatan tubuhnya tidak mampu menghapus kekecewaan yang kurasakan. Kami baru saja bersenggama, tapi seperti biasa, semuanya berakhir begitu cepat. Aku tahu ia sudah puas, tapi aku tidak. Aku masih merasa kosong, hasratku tidak pernah terpuaskan.

Dorongan itu kembali datang, kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Tanpa ragu, aku bangkit, masuk ke studio live-ku, dan menutup pintu dengan perlahan. Aku menyetel kamera. Aku melepaskan pakaianku dan mengenakan gamis putih, lalu menutupi tubuhku dengan bra merah yang begitu kontras.

Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu, dengan jari yang bergetar, aku membuat sesi live privat. Hanya satu nama yang bisa melihatnya Mas Bims.

Ia langsung bergabung. Aku menyapanya, suaraku bergetar, "Halo, Mas Bims. Maaf ya, Kakak tadi buru-buru. Sekarang, Kakak cuma buat Mas Bims, kok."

Mas Bims tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengirimkan emoji senyum, lalu emoji tangan seperti menunjuk ke arah payudaraku.

"Aku mau lihat Kakak goyangkan dadanya," tulisnya. "Buat aku."

Jantungku berdebar kencang. Aku ingin menolak, tapi di sisi lain, aku ingin melakukannya. Aku ingin ia melihatku. Aku ingin ia tahu, aku bisa melakukan apa pun. Aku mengangguk. Dengan malu-malu, aku mulai menggerakkan bahuku, menggerakkan payudaraku, membuat gamis putih itu bergerak mengikuti irama.

"Suka, Mas?" bisikku, suaraku parau, penuh hasrat.

"Suka banget," balasnya, ia mengirimkan hadiah Singa yang sangat besar.

Aku terdiam, membeku di depan kamera. Jantungku berdebar tak karuan. Ini adalah jumlah yang sangat besar, lebih dari yang pernah kubayangkan. Rasa kaget, gembira, dan takut bercampur aduk.

Mas Bims lalu mengirimkan pesan lagi. "Sekarang, buka cadar kamu, ya? Aku pengen lihat wajah cantikmu."

Aku menggeleng, meskipun ia tak bisa melihatnya. "Maaf, Mas Bims. Aku enggak bisa. Aku janji enggak akan buka cadar."

Ia tidak memaksaku. Ia hanya mengirimkan pesan lain, yang membuatku menahan napas. "Yaudah. Kalau gitu, naikin jilbabnya, Dek. Remas payudaramu dari luar gamis."

Aku ragu. Tanganku gemetar. Permintaan itu terlalu vulgar, terlalu intim. Ini sudah jauh melampaui batas. Aku mencoba menolak.

Tiba-tiba, ada notifikasi WhatsApp masuk. Itu dari Mas Bims. Ia mengirimkan sebuah foto. Mataku membelalak melihat apa yang ada di sana. Penisnya. Sangat besar, dua kali lipat dari milik suamiku.

Mas Bims: Aku lagi coli, Dek. Please, kasih suguhan yang bagus. Aku mau crot sambil lihat kamu.

Darahku berdesir. Aku merasa jijik, tapi pada saat yang sama, sebuah hasrat aneh menyelimuti diriku. Aku mematikan notifikasi itu, kembali ke layar live, dan menatap mata Mas Bims di layar. Aku tahu, aku tidak boleh melakukannya. Tapi, dorongan untuk menyenangkan orang yang baru saja memberiku hadiah besar itu begitu kuat, terlebih karena aku masih menyimpan kekosongan dari ketidakpuasan dengan suamiku tadi.

Dengan tangan gemetar, aku menarik jilbabku ke atas, memperlihatkan bagian atas payudaraku yang tertutup gamis. Perlahan, aku mengelus dadaku lembut, merasakan sensasi aneh yang belum pernah kurasakan. Sentuhan itu tidak hanya di kulit, tapi juga di hatiku, sebuah sensasi yang membuatku merasa diinginkan.

Aku melakukannya hanya sebentar. Kemudian aku berkata, "Udah ya, Mas. Cukup segini aja. Jangan minta lebih lagi. Besok-besok aja, kalau Mas kirim gift lagi, baru lebih. Tapi jangan minta aku buka cadar ya."

Di layar, Mas Bims tidak membalas dengan teks. Suara seraknya terdengar melalui fitur suara di whatsapp, "Jangan dulu, Sayang, aku mau lihat kamu remas-remas lagi... Please aku mau keluar, ahh..."

Suara itu, dengan perpaduan antara hasrat dan keputusasaan, membuatku bingung. Ini terlalu jauh. Ini bukan aku. Semua ini terasa asing, seperti aku sedang menonton film dengan diriku sendiri sebagai pemeran utamanya.

"Maaf, Mas, aku enggak bisa. Ini sudah terlalu malam..." ucapku, suaraku memohon. "Aku enggak mau Mas minta lebih. Itu aja, ya?" Nada bicaraku berubah, menjadi suara yang sama yang pernah kudengar dari diriku sendiri saat aku menguping pembicaraan masa lalu. "Nanti ya, kalau Mas sudah kirim hadiahnya... Adek janji... Adek kasih yang lebih dari itu. Tapi sekarang, jangan minta lebih ya, Mas... yang lain hanya untuk suamiku..."

Aku mengakhiri live pribadiku, mematikan ponselku, dan terdiam. Aku tersenyum, lalu tertawa kecil, tawa hambar yang terasa asing di telingaku. Aku merasa bersalah. Aku merasa kotor. Aku tahu, aku sudah jauh melangkah, menyeberangi batas yang seharusnya tak pernah kulewati. Tapi, di sisi lain, aku merasa hidup. Aku merasa diinginkan, dihargai, dan punya kendali..

Bersambungg...


Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟏 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐁𝐚𝐫𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐞𝐧𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧

 

Aku merasa sedikit gugup. Tangan yang menggenggam cangkir teh di depanku gemetar. Hari ini, aku berencana meminta izin Dimas untuk mulai berjualan online. Bukan hal yang besar, sebenarnya. Tapi bagiku, ini adalah langkah pertamaku keluar dari sangkar emas yang selama ini memenjarakanku. Langkah pertama menuju sebuah kehidupan yang berbeda.

Dimas baru saja pulang kerja, meletakkan tasnya di sofa, dan melonggarkan dasinya. Aku memberanikan diri. "Mas," panggilku, suaraku sedikit tercekat.

Dimas menoleh, menatapku dengan tatapan bingung. "Ya, Sayang? Ada apa?"

Aku menarik napas dalam-dalam. "Aku... aku mau coba jualan online," kataku. "Silmi menyarankan aku untuk coba jualan gamis dan hijab. Boleh, Mas?"

Aku menunggu jawabannya dengan hati berdebar. Aku membayangkan Dimas akan menolak, mengatakan bahwa pekerjaan rumah sudah cukup, atau bahwa aku tidak perlu bekerja. Tapi, yang kudengar adalah hal yang sama sekali berbeda.

"Tentu saja, Sayang," jawabnya, suaranya lembut. "Kenapa tidak? Jika itu bisa membuatmu bahagia, kenapa tidak? Mas akan dukung."

Aku terdiam, tak bisa berkata-kata. Air mataku menetes. Bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Dimas mengizinkanku. Ia tidak menolak, ia tidak menghakimi. Ia mendukungku.

Malam itu, setelah makan malam dan shalat Isya, kami kembali ke kamar. Aku memeluknya dari belakang. "Mas, terima kasih," bisikku. "Terima kasih sudah mendukungku."

Dimas membalikkan badan, memelukku erat. "Sama-sama, Sayang. Mas senang kalau kamu senang."

Ia mencium bibirku. Sebuah ciuman yang berbeda dari biasanya. Ciuman yang penuh gairah, penuh hasrat. Aku merasakan tangannya menyentuhku, meraba setiap lekuk tubuhku. Aku merasakan hasratku yang sudah lama terpendam kembali bangkit. Aku membalas ciumannya, mencengkeram bahunya erat, merasakan kehangatan tubuhnya yang membara. Ia menggendongku, membaringkanku di ranjang. Kami berhubungan, tapi kali ini, rasanya berbeda. Penuh gairah, penuh desahan. Namun, meskipun begitu, aku tetap tidak bisa mencapai puncak. Ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tak bisa kugenggam.

Aku tidak tahu apa itu. Aku hanya tahu, bahwa aku masih merasa ada yang kurang. Seolah-olah, ada sebuah jurang di antara kami, yang tidak bisa kami jembatani.

Keesokan harinya, aku memulai petualangan baruku. Aku meminta Silmi untuk membimbingku. Ia membantuku membuat akun, mengambil foto-foto produk, dan mengajariku bagaimana cara berinteraksi dengan pembeli. Awalnya, aku merasa canggung. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap. Aku hanya mengunggah foto-foto, menunggu, dan berharap ada yang membeli. Tapi, sehari, dua hari, seminggu, tidak ada yang membeli.

"Kenapa ya, Sil? Nggak ada yang beli," keluhku pada Silmi.

Silmi tersenyum. "Sabar, Tiara. Jualan online itu butuh proses. Kamu harus lebih aktif. Kenapa kamu nggak coba live streaming?"

Aku terdiam. Live streaming? Aku? Aku yang selama ini hanya di rumah, tidak pernah berinteraksi dengan orang asing? Rasanya mustahil. Tapi di sisi lain, aku tahu, ini adalah satu-satunya cara untuk membuat bisnisku maju.

"Aku nggak bisa, Sil," kataku. "Aku malu. Aku nggak tahu harus bicara apa."

"Nggak apa-apa," kata Silmi. "Coba saja dulu. Anggap saja ini sebagai latihan. Kamu bisa mulai dengan santai, perkenalkan produkmu, jawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Santai saja, Tiara."

Aku berpikir keras. Aku tidak mau menyerah. Aku sudah mengambil langkah pertama. Aku tidak akan kembali. Aku harus terus maju.

"Baiklah," kataku, suaraku bergetar. "Aku akan coba."

Siang itu, Dimas sibuk dengan kerjaan nya di kantor, aku masuk ke studio kecilku. Aku mengenakan gamis yang paling cantik, hijab yang paling bersih, dan mengambil ponselku. Jantungku berdebar kencang. Aku menekan tombol Live.

Aku melihat angkanya. Nol. Lalu satu. Lalu dua. Jantungku berdebar kencang. Ada yang menonton. Aku mencoba tersenyum, lalu memperkenalkan diri. "Halo, nama saya Tiara. Hari ini, saya mau memperkenalkan gamis dan hijab koleksi terbaru saya."
Aku merasa sangat canggung. Suaraku bergetar. Aku tidak tahu harus bicara apa. Tapi, perlahan, ada yang mulai berkomentar.

"Kakak cantik sekali, masya Allah."

"Masya Allah, mukenanya bagus banget!"

Aku tersenyum. "Terima kasih," kataku. "Mukena ini terbuat dari bahan katun, adem, dan nyaman dipakai."

Aku mulai berinteraksi dengan mereka. Menjawab pertanyaan mereka. Menjelaskan detail produk. Perlahan, rasa canggungku hilang, digantikan oleh rasa nyaman. Aku mulai menikmati interaksi dengan mereka. Aku menyapa mereka, menanyakan kabar mereka, dan mendengarkan cerita-cerita mereka.

Penjualanku mulai meningkat. Aku bisa menjual dua, tiga, bahkan lima gamis dalam sehari. Aku merasa sangat gembira. Aku merasa... hidup.

Suatu malam, setelah aku selesai live, aku melihat ada pesan masuk dari sebuah akun.

"Kakak cantik. Bajunya bagus banget. Boleh kenalan?"

Aku tersenyum. Aku tidak membalasnya. Tapi entah mengapa, aku merasa senang. Aku merasa diinginkan. Perasaan yang sudah lama hilang. Perasaan yang tidak pernah kurasakan dari Dimas.

Aku tidak tahu, ini akan menjadi sebuah permainan berbahaya. Aku tidak tahu, ini akan membawaku ke sebuah jalan yang gelap. Aku hanya tahu, bahwa aku sudah menemukan apa yang selama ini hilang. Dan aku, tidak akan melepaskannya.

Bersambungg...


Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟎 𝐀𝐰𝐚𝐥 𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧

POV Tiara.
Namaku Tiara, 25 tahun. Jika kalian melihatku sekarang, dengan gamis panjang dan cadar yang menutupi separuh wajah, Kalian pasti percaya aku pernah menjadi seorang santriwati teladan. Aku lulusan terbaik di pesantren, hafal beberapa juz Al-Qur'an, dan mimpiku dulu adalah mengabdikan hidup sepenuhnya untuk agama. Sampai akhirnya, takdir membawaku ke jalan yang berbeda. Aku menikah dengan Dimas, seorang pria yang dijodohkan denganku. Bukan karena cinta yang membara, tapi karena kesepakatan dua keluarga.

Dimas pria yang baik. Saleh, bertanggung jawab, dan mapan. Selama dua tahun pernikahan, kami belum dikaruniai anak. Namun, itu tidak mengubah pandangan orang-orang tentangku. Mereka memujiku, menyebutku "istri idaman."

"Sudah cantik, seksi, salehah lagi," kata mereka.

Aku tersenyum, mengangguk. Ya, aku bangga menjadi istri Dimas. Secara fisik, kami sangat cocok: Mas Dimas yang tampan dan tinggi, dan aku dengan wajah cantik yang kata orang teduh. Ditambah lagi, aku memiliki tubuh yang jadi idaman para pria. Payudaraku sangat besar, 36D, sampai-sampai gamisku tak sanggup menyembunyikan ukurannya. Kulitku putih bersih, perutku ramping, dan pantatku kencang menonjol. Di balik kain-kain longgar yang kupakai, aku tahu aku adalah Tiara yang berbeda, Tiara yang seksi, Tiara yang diinginkan. Dan sejujurnya, aku mulai menikmatinya.

Aku menjalankan semua kewajibanku dengan sempurna. Rumah selalu bersih, makanan selalu terhidang, dan setiap kali Dimas pulang, ia selalu disambut senyum hangat. Namun, di balik semua kesempurnaan ini, ada satu perasaan yang terus menggerogoti: kehampaan.

Hidupku terasa seperti sebuah lingkaran yang tak berujung. Pagi hari, bangun sebelum subuh untuk shalat tahajud dan menyiapkan sarapan. Setelah Dimas berangkat kerja, aku akan membersihkan rumah, lalu membaca buku-buku agama atau mendengarkan ceramah. Sore hari, aku menyiapkan makan malam, menunggu Dimas pulang, lalu kami shalat Maghrib dan Isya berjamaah. Malam tiba, kami tidur. Begitu seterusnya. Rutinitas yang sama setiap hari, setiap minggu, setiap bulan.

Aku tahu, banyak wanita di luar sana yang menginginkan hidup sepertiku. Hidup yang tenang, damai, dan penuh keberkahan. Tapi entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Aku merasa seperti sebuah boneka porselen yang cantik, terpajang di etalase, dikagumi semua orang, tapi tidak pernah benar-benar hidup. Aku merindukan gairah. Aku merindukan api yang dulu membakar semangatku. Aku merindukan perasaan damba.

Hubungan kami terasa dingin, seperti dua orang asing yang tinggal di bawah satu atap. Kami berbicara, tapi hanya tentang hal-hal sepele: tagihan listrik, menu makan malam, atau jadwal berobat ke dokter kandungan. Kami tidak pernah berbicara tentang mimpi kami, ketakutan kami, atau hasrat kami. Aku mencoba. Aku mencoba untuk membuka diri. Tapi Dimas selalu menjawab dengan seadanya, seolah-olah ia tidak mengerti apa yang aku rasakan.

"Mas, apa Mas merasa hidup kita sudah sempurna?" tanyaku suatu malam, saat kami sedang duduk di ruang keluarga.

Dimas meletakkan ponselnya, menatapku dengan bingung. "Maksudmu, Sayang? Bukankah kita sudah punya segalanya? Kita punya rumah, mobil, dan insya Allah, Allah akan segera mengkaruniai kita anak. Alhamdulillah, kita tidak kekurangan apa-apa."

"Bukan itu, Mas," kataku, suaraku bergetar. "Maksudku, apa Mas tidak merasa... ada sesuatu yang kurang?"

Dimas hanya tersenyum. "Apa yang kurang, Sayang? Kalau kamu ingin sesuatu, bilang saja. Insya Allah, kalau Mas punya uang, Mas akan belikan."

Aku terdiam. Percuma. Ia tidak akan pernah mengerti. Ia tidak pernah mengerti bahwa apa yang aku inginkan bukan materi. Yang aku inginkan adalah koneksi. Yang aku inginkan adalah perasaan dicintai.

Intimasi fisik kami juga tidak pernah memuaskan. Kami melakukannya karena kewajiban, bukan karena hasrat. Setiap kali kami berhubungan, rasanya seperti sebuah tugas yang harus diselesaikan. Cepat, tanpa gairah, tanpa desahan. Aku tidak pernah merasakan apa-apa. Aku hanya merasakan sebuah kehampaan yang semakin dalam.

Aku mencoba. Aku mencoba untuk membuat kami lebih intim. Aku membeli lingerie baru, mencoba berbagai macam gaya, tapi semua usahaku sia-sia. Dimas hanya menganggap itu sebagai hal biasa, tidak lebih. Ia tidak pernah mencoba untuk memelukku, menciumku, atau membuatku merasakan gairah. Ia hanya... melayaniku. Dan aku, hanya... melayaninya.

Aku ingin merasakan sebuah gairah yang membara. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai, dikejar, didamba. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi wanita yang paling diinginkan di dunia. Tapi aku tahu, itu hanya mimpi. Mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Suatu siang, aku menelepon sahabatku, Silmi. Silmi, adalah satu-satunya orang yang tahu kehidupanku di luar media sosial. Silmi adalah orang yang selalu ada untukku. Dia selalu mendengarkan keluh kesahku, tanpa menghakimi.

"Sil," kataku, suaraku terdengar lemas. "Aku bosan."

Silmi tertawa kecil. "Bosan kenapa lagi, Tiara?"

"Hidupku," kataku. "Aku bosan dengan rutinitas ini. Aku merasa seperti robot. Bangun, masak, bersih-bersih, tidur. Begitu terus."

"Aku mengerti," kata Silmi, suaranya lembut. "Tapi... bukankah itu hidup yang kamu inginkan, Tiara? Hidup yang damai, tanpa masalah."

"Aku ingin masalah," kataku, suaraku terdengar seperti sebuah bisikan. "Aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuatku merasa hidup kembali."

Silmi terdiam sejenak. "Kenapa kamu tidak coba jualan online, Tiara? Seperti aku. Siapa tahu kamu suka."

Aku terdiam. Jualan online? Aku? Aku yang selama ini hanya mengurus rumah tangga? Rasanya mustahil. Tapi di sisi lain, ada sebuah dorongan kuat. Sebuah dorongan untuk mencoba sesuatu yang baru.

"Aku nggak tahu apa-apa, Sil," kataku. "Aku nggak punya modal, nggak punya pengalaman."

"Nggak apa-apa," kata Silmi. "Modal bisa kita urus nanti. Yang penting, kamu punya niat. Kamu bisa jualan apa saja. Makanan, baju, jilbab, apa pun yang kamu suka."

Aku berpikir keras. Mungkin, ini adalah jawabanku. Mungkin, ini adalah jalan keluar dari kehampaan yang selama ini kurasakan. Mungkin, ini adalah caraku untuk menemukan kembali diriku. Aku tidak akan bilang kepada Dimas. Aku akan melakukannya di belakangnya, sebagai rahasia kecilku, yang bisa kurasakan, dan kutemukan sendiri.

"Baiklah," kataku, suaraku bergetar. "Aku akan coba."

Silmi tersenyum. "Bagus! Kamu tidak akan menyesal, Tiara. Percayalah. Jualan online itu seru. Kamu bisa kenalan dengan banyak orang, belajar banyak hal, dan yang paling penting... kamu akan menemukan kembali semangatmu."

Aku mengakhiri panggilan, dan merebahkan diriku. Aku menatap langit-langit, pikiranku penuh dengan rencana baru. Aku akan mulai besok. Aku akan mulai dengan jualan mukena. Aku akan meminta Silmi untuk membimbingku, membantuku, sampai aku bisa melakukannya sendiri. Aku tahu, ini akan menjadi sebuah petualangan yang baru. Dan aku, tidak sabar untuk memulai.

Aku merasa sedikit gembira. Perasaan yang sudah lama hilang. Sebuah harapan kecil yang muncul di tengah kegelapan. Aku merasa seperti seorang wanita yang kembali menemukan dirinya. Dan aku tahu, ini baru permulaan.

Bersambung


 

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟗 𝐀𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐁𝐚𝐭𝐚𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐠 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐀𝐥𝐢𝐦

 

Tiara menarikku ke dalam kamar. Senyum nakal masih menghiasi bibirnya. Ia menuntunku ke ranjang, mendorongku hingga aku terduduk di tepinya. "Duduk yang manis, Mas," bisiknya, suaranya parau. "Malam ini, Adek yang akan jadi bintang untuk Mas."

Jantungku berdebar kencang. Tiara berdiri di depanku, membiarkan rambutnya yang tergerai jatuh di bahunya. Ia mulai bergerak pelan, goyangan pinggulnya seolah menari mengikuti irama yang tak terdengar. Lingerie merah menyala yang dikenakannya bergerak bersamanya, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya. Aku menelan ludah, tidak bisa berkata-kata. Ia begitu berani, begitu genit.

"Mas suka Adek yang kayak gini?" bisiknya, matanya yang indah menatapku, penuh godaan. "Mas suka kalau Adek joget untuk Mas?"

Aku mengangguk, tidak bisa berbohong. Aku membayangkan Tiara, istriku, yang menari di depan kamera, kini menari hanya untukku. Sensasi jijik dan hasrat bercampur jadi satu.

Tiara mendekat, bibirnya menyentuh telingaku. "Adek akan buat Mas ke enakan," bisiknya, lalu tertawa kecil. Tawa itu, tawa yang sama yang kudengar di siaran langsungnya, membuatku merinding.

Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku menariknya, menciumnya dengan ganas. Tiara membalasnya dengan ciuman yang tak kalah panas. Tangannya merayap, melucuti pakaianku satu per satu. Ia mendorongku hingga aku berbaring tak berdaya. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam amarah, gairah, dan ketidakberdayaan yang membingungkan.

Tiara membuka celana dalamnya yang sewarna dengan bra, lalu naik ke atasku. Ia melumat bibirku dengan ciuman yang panas dan menuntut, kemudian mengarahkan penisku ke vaginanya. Dengan satu dorongan, ia masuk.

"Ahh..." desahnya, suaranya parau, penuh kenikmatan.

Ia mulai bergerak, pelan-pelan, ritmis, kemudian semakin cepat. Ia begitu beringas. Gerakannya begitu kuat, begitu menuntut, seolah ingin melampiaskan semua hasratnya yang terpendam. Aku hanya bisa berbaring, membiarkan dirinya mengendalikan. Aku memejamkan mata, dan yang terbayang di benakku bukan hanya Tiara. Aku membayangkan Tiara, istriku, yang menari di depan kamera. Aku membayangkan para penontonnya coli sambil melihat istriku. Aku membayangkan mereka melihatku ngentot dengan istriku.

Tiara menciumku, tangannya menangkup wajahku. "Mas.. enak banget.." bisiknya.

"Ahhh... kamu nakal banget, Dek," desahku, suaraku serak, bercampur dengan napasku yang memburu.

Tiara berada di atasku, menguasai. Rambutnya tergerai, menutupi wajahnya yang penuh keringat. Ia menggenjot dengan beringas, penuh hasrat. Aku merasakan tubuh kami berdua melayang, menyatu dalam satu gelombang gairah yang tak terkendali. Aku mencengkeram pinggulnya erat, mendorongnya ke bawah, menikmati setiap hentakan yang liar dan ganas.

"Ahh... Mas... enak..." rintihnya, mencengkeram bahuku erat. "Lebih cepat, Mas... Adek suka kayak gini... Ahhh!"

Aku tidak bisa menahannya lagi. Setiap hentakan terasa begitu dalam, memicu gelombang kenikmatan yang tak tertahankan. Aku merasakan diriku akan mencapai puncak. Aku memejamkan mata, dan yang terbayang di benakku bukan hanya Tiara, tapi juga bayangan Tiara di depan kamera, mengenakan gamis putih ketat, menari untuk pria bernama "Mas Bims".

"Ahh ahh... Mas keluar, Dek!" rintihku.

Aku merasakan spermaku memuncrat di dalam rahimnya, sensasi panas yang melegakan sekaligus menyesakkan. Setelah itu, tubuhku lemas. Tiara ambruk di atasku, napasnya masih terengah-engah. Namun, tak ada desahan kenikmatan yang keluar dari bibirnya. Ia mengangkat kepala, menatapku, dan sorot kekecewaan jelas terlihat di matanya. Aku memejamkan mata, badanku terasa kelelahan yang luar biasa.

"Mas..." bisiknya, suaranya lemah. "Kok sudah?"

"Aku... aku minta maaf, Dek," ucapku.

Rasa bersalah dan malu menyelimutiku. Ia turun dari tubuhku, berjalan turun dari ranjang, dan mengambil ponselnya. Layarnya menyala, memperlihatkan notifikasi dari WhatsApp. Mataku mengikuti gerakannya, tak bisa berpaling. Aku kembali memejamkan mata, badanku terasa kelelahan yang luar biasa. Aku ingin tidur.

Tiara mulai mengetik, jarinya bergerak cepat. Ia kembali ke ranjang, duduk di sampingku, dan menatapku dengan wajah datar. "Mas, Adek enggak puas," katanya, suaranya kini dingin. "Mas enggak bisa puasin Adek."

"Aku... aku minta maaf, Dek," gumamku, menunduk.

Ia tidak menjawab. Ia kembali fokus pada ponselnya, jarinya menari di atas layar. Tiba-tiba, ia berbisik pada dirinya sendiri, "Mas Bims bilang, dia bisa bikin Adek puas..."

Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku mendongak, menatapnya, tetapi ia tidak menatapku. Tatapannya kosong, seolah-olah pikirannya melayang jauh. Ia sudah tidak lagi ada di sini, bersamaku. Ia sudah berada di dunia yang lain, bersama pria itu.

"Siapa 'Mas Bims', Dek?" tanyaku, suaraku bergetar.

Tiara tersentak. Ia menoleh ke arahku, ekspresinya berubah. "Kenapa, Mas?"

"Adek... Adek ngapain dengan dia?"

Tiara tidak menjawab. Ia tersenyum, senyum yang sama yang kulihat saat ia menari untukku. Senyum penuh rahasia dan godaan. "Mas mau tau?" bisiknya. "Mas harus lebih liar lagi. Mas harus bisa puasin Adek."

Ia bangkit dari ranjang, mengenakan kembali lingerie-nya yang kusut, lalu dilapis gamis, jilbab, dan cadar. Ia berjalan ke arah pintu, lalu menoleh padaku, senyumnya masih ada di bibirnya yang tertutup cadar.

"Adek mau live," katanya, suaranya semakin parau. "Adek mau cari yang bisa puasin Adek."

Jantungku serasa jatuh ke perut. Ia berjalan keluar kamar, dan aku hanya bisa berbaring, tak berdaya. Aku tahu, ia sudah tidak lagi patuh. Ia kini mengambil alih kendali sepenuhnya. Ia sudah menjadi miliknya, dan aku, suaminya, hanya bisa menontonnya dari jauh.

Aku mendengar suara pintu studio tertutup, lalu bunyi klik dari kunci. Ia mengunci diri. Aku merangkak ke pintu studio, menempelkan telingaku di sana. Samar-samar, aku mendengar suaranya. Suara yang dulu hanya kudengar dalam bisikan lembut, kini terdengar lantang dan penuh hasrat.

"Halo, Mas-Mas Adek semuanya," sapa Tiara, suaranya parau, penuh gairah. "Malam ini Aku mau main lebih liar. Malam ini Aku lagi pengen basah." bisiknya di kamera, penuh gairah. "Mas Bims, Aku kangen... Aku mau kontol mas bims"

Jantungku serasa dihantam palu. Ia tidak hanya live streaming, ia juga berinteraksi dengan pria itu, memanggilnya dengan sebutan mesra yang tidak pernah ia gunakan untukku. Bahkan berani bicara seperti itu ke Bims. Amarah dan rasa sakit membakar dadaku. Aku ingin mendobrak pintu itu, menyeretnya keluar, dan menuntut penjelasan. Tapi aku tidak bisa. Aku terlalu lemah, terlalu hancur.

Tiba-tiba, suara Tiara berubah. Ia tertawa, tawa yang sama yang kudengar di siaran langsungnya. Tawa itu seperti pisau, menusuk-nusuk hatiku.

"Mas Bims, Adek mau joget ya... Adek mau buka baju ya... Adek mau Mas lihat Adek basah"

"Ahhh... Mas Bims, Adek suka ya, kalau Mas lihat Adek kayak gini," bisiknya, suaranya parau. "Mas bilang Adek seksi kan? Adek suka kalau Mas bilang kayak gitu..."

Aku melihat dari lubang kunci, Jantungku serasa jatuh ke perut. Aku melihat istriku melucuti gamisnya, lalu melemparkannya ke lantai. Ia kini hanya mengenakan lingerie merahnya, yang nyaris tidak menutupi apa pun. Jilbab dan cadarnya masih menempel di kepala. Ia berbalik, membelakangiku, dan melambaikan tangannya. Aku melihat punggungnya yang mulus, dan ia mulai menari. Goyangan pinggulnya begitu sensual, begitu menggoda.

Aku menutup mataku, membayangkan Tiara di depan kamera, melakukan semua yang ia janjikan. Aku membayangkan para penontonnya bersorak, memberikan uang, dan memuji setiap gerakannya. Aku membayangkan "Mas Bims" yang tersenyum, melihat istriku menari telanjang untuknya.

Air mata mengalir dari mataku. Aku menangis, bukan karena sakit hati, tapi karena rasa jijik. Jijik pada diriku sendiri, yang tidak bisa memuaskan istriku. Jijik pada istriku, yang memilih pria lain. Dan jijik pada dunia, yang membuat semua ini terasa benar.

"Mas," bisik Tiara, "bangun, Mas... Kamu kenapa?"

Aku terbangun, jantungku berdebar kencang. Napasku memburu. Aku menatap ke sekelilingku. Kamar kami terang. Ini sudah pagi hari. Tiara ada di sampingku, tangannya menyentuh wajahku dengan lembut. Ia menatapku dengan mata penuh kekhawatiran.

"Mas, kamu mimpi buruk?" tanyanya, suaranya lembut, tidak ada jejak gairah atau kemunafikan.

Aku memejamkan mata, lalu membukanya lagi.

"Aku... aku mimpi buruk," bisikku, suaraku serak.

Tiara memelukku erat. "Enggak apa-apa, Mas," bisiknya. "Adek di sini. Adek enggak akan ke mana-mana."

Aku membalas pelukannya. Aku tahu, ini hanyalah mimpi. Semua ketakutan, amarah, dan kecurigaan itu tidak pernah terjadi. Tapi, meskipun hanya mimpi, rasa sakitnya begitu nyata. Aku tahu, di dalam lubuk hatiku, ada ketakutan tersembunyi. Ketakutan akan kehilangan istriku. Ketakutan bahwa ia akan berubah, dan bahwa aku tidak akan pernah bisa memuaskannya.

Aku memeluknya lebih erat, membiarkan diriku tenggelam dalam kehangatan yang sesungguhnya. Aku tahu, aku harus lebih menghargainya, lebih mencintainya, sebelum mimpi buruk itu menjadi kenyataan.

Bersambung


Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟖 𝐊𝐞𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐔𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐒𝐮𝐚𝐦𝐢

 

Hari itu, aku terbangun dengan perasaan yang sedikit berbeda. Hari Sabtu, hari libur. Pikiranku tidak perlu diselimuti kecemasan kantor atau kekhawatiran tentang live streaming Tiara. Kami sarapan, dan aku melihatnya tersenyum di balik cadar.

"Mas, hari ini Adek enggak live," katanya, suaranya lembut. "Hari ini Adek mau fokus beres-beres rumah."

Rasa lega yang hangat mengalir di dadaku. "Syukur deh, Sayang," balasku, hatiku sedikit menghangat. Sebuah ide muncul di kepalaku. "Gimana kalau kita jalan-jalan aja? Ke mall? Adek bisa belanja apa pun yang Adek mau, bebas."

Tiara mengangguk, matanya berbinar. "Mau, Mas!"

Setelah istriku beres-beres rumah, kami pergi ke mall. Tiara terlihat senang, ia melihat-lihat hijab dan gamis di toko-toko. Aku membiarkannya memilih apa pun yang ia suka. Setelah puas belanja, kami makan di sebuah restoran. Di tengah makan, Tiara tiba-tiba pamit. "Mas, Adek ke toilet sebentar ya, adek mau pipis."

Aku mengangguk. Namun, satu menit berlalu, lalu lima menit, sepuluh menit. Ia tak kunjung kembali. Perasaan gelisah mulai merayap. Pikiranku mulai melayang, membayangkan hal-hal yang tidak-tidak. Kenapa lama sekali?

Setelah hampir tiga puluh menit, Tiara kembali. Ia duduk di hadapanku, tersenyum. Tapi aku tidak bisa mengabaikan hal lain, gamis yang ia kenakan terlihat sedikit kusut. Khususnya di bagian dadanya. Aku menatapnya, kecurigaan kembali menusuk dadaku.

"Dek, kok gamisnya kusut?" Pertanyaan itu meluncur dari bibirku, suaraku terdengar lebih tegang dari yang kuinginkan.

Tiara tersentak. Senyumnya pudar sesaat, matanya menunduk menatap gamisnya sendiri, lalu ia mengangkat wajahnya, memaksakan sebuah tawa kecil. "Oh, ini. Tadi Adek BAB, Mas. Jadi harus buka gamis, mungkin kusut karena harus buka baju."

Penjelasannya terdengar masuk akal, tapi ada yang salah. Jawabannya terlalu cepat, tawanya terasa hampa. Aku tahu ada sesuatu yang mengganjal. Mengapa ia harus membuka gamisnya hanya untuk buang air? Sebuah kejanggalan kecil itu memicu lonceng peringatan di kepalaku. Kecurigaan yang semula hanya bisikan, kini berubah menjadi raungan. Aku harus mendapatkan bukti. Sekarang.

"Mas ke toilet sebentar ya, Dek," ucapku, berpura-pura santai.

Aku tidak benar-benar ke toilet. Langkah kakiku membawaku ke lorong sepi yang menghubungkan area toilet wanita dan pria. Aku mengintip, mencari jejak, apa pun yang bisa membenarkan atau menyangkal dugaanku. Di dalam toilet wanita, tidak ada siapa pun. Tapi, dari toilet pria, samar-samar kudengar suara bisikan dan tawa.

"...Gila, enggak nyangka ya, cewek tadi. Bercadar tapi gampang banget digodain pake kontol kita! Hahaha!"

"Hoki seumur hidup kita sudah kepake, bro!"

Jantungku serasa berhenti berdetak. Dunia di sekelilingku memudar. Otakku membeku, hanya satu kalimat yang terus berputar: mungkin yang mereka maksud adalah istriku. Amarah dan kepanikan meledak. Aku tidak bisa membiarkannya. Dengan langkah cepat, aku mendekati sumber suara. Dua pria muda terkejut melihat kehadiranku.

"Bang," suaraku serak. "Tadi saya dengar kalian bicara tentang cewek bercadar. Kalian habis ngapain sama dia?"

Salah satu pria itu, yang memiliki tato di lengan, menatapku dengan mata lebar. Wajahnya langsung pucat. "Oh, enggak, Bang! Tadi dia... dia cuma kepleset di depan pintu toilet wanita. Kami cuma bantuin berdiri doang, kok."

Aku tahu dia berbohong. Mata yang menghindari pandanganku, keringat dingin di dahinya. Cerita yang disampaikannya terlalu datar dan terkesan dihafal. Aku tidak akan mendapatkan informasi apa pun dari mereka. Mereka terlalu takut. Aku menatap mereka dengan tatapan dingin, lalu berbalik pergi.

Aku tidak kembali ke restoran. Aku berjalan cepat, aku harus membeli kamera CCTV. Aku harus memantau istriku. Aku harus tahu apa yang sebenarnya ia lakukan di rumah, saat aku tidak ada. Hanya dengan CCTV aku akan mendapatkan jawaban yang pasti. Bukti yang akan mengakhiri semua kecurigaan, ketakutan, dan kegilaan yang kini menguasai diriku.

Aku berjalan cepat, bagai dikejar bayangan. Tujuan utamaku jelas: toko elektronik. Pikiranku kalut, dipenuhi bisikan-bisikan tuduhan dan potongan percakapan yang kudengar. Aku butuh bukti. Segera.

Aku menemukan toko, dan tanpa banyak bertanya atau mempedulikan harganya, aku membeli satu unit kamera CCTV kecil yang tersembunyi. Kotaknya yang ringkas dengan mudah kumasukkan ke dalam kantong belanjaan, di bawah tumpukan pakaian. Alat ini, aku yakin, akan menjadi mataku di rumah. Mataku yang akan menyingkap semua rahasia yang selama ini Tiara sembunyikan.

Ketika kembali ke food court, Tiara masih duduk di meja kami, menungguku. Raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

"Mas, kok lama? Adek pikir Mas kenapa-kenapa," tanyanya, suaranya terdengar cemas.

"Iya, Dek, maaf," jawabku, memaksakan senyum. Aku berusaha keras agar suaraku tidak bergetar. "Tadi mules. Aku ke kamar mandi dulu, lama banget."

Tiara mengangguk, napasnya terdengar lega. "Yaudah, mau pulang atau jalan-jalan lagi, Mas?" tanyanya. "Bentar lagi sudah Ashar."

"Pulang aja, Dek," balasku. Hatiku terasa berat. Aku tidak bisa lagi bersenang-senang, tidak setelah apa yang baru saja kualami.

Suasana di dalam mobil terasa berbeda. Hening, tetapi penuh dengan ketegangan yang tidak terlihat. Tiara menoleh padaku, senyumnya begitu lembut dan tulus.

"Mas," bisiknya pelan.

"Kenapa, Dek?" jawabku, berusaha menyembunyikan badai di dalam dadaku.

"Aku senang deh," katanya, "Senang karena Mas mau ajak aku jalan-jalan. Senang karena Mas dukung Adek jualan."

"Tentu saja," balasku, kata-kata itu terasa pahit di lidahku. Ia tidak tahu bahwa hatiku remuk, bahwa setiap kata-katanya kini terasa seperti kebohongan.

Tiba-tiba, tangannya mengulur, menyentuh pahaku dengan sentuhan lembut namun berani. Jantungku berdebar kencang. Ia mengusapnya perlahan. "Mas, semalam enak," bisiknya, suaranya parau. "Kamu jadi beda dari biasanya. Adek suka kalau Mas ngajak main yang kayak gitu."

Aku tidak menjawab. Tanganku di kemudi gemetar. Ia tahu. Ia tahu aku menikmati setiap momen itu. Ia tahu aku terhanyut dalam permainan panas itu.

"Tapi... Adek belum puas," bisiknya lagi, suaranya kini terdengar menggoda.

Aku menelan ludah. "Maaf, Dek," bisikku, tidak tahu harus berkata apa lagi.

"Enggak apa-apa kok, Mas," ia tertawa kecil, tawa yang penuh rahasia dan membuatku merinding. "Nanti, Adek aja ya yang di atas. Biar Adek yang atur. Mas harus bisa puasin Adek malam ini."

Aku menatapnya, mataku melebar. Pikiranku kalut. Amarahku meluap, tetapi pada saat yang sama, hasratku ikut membuncah. Ini bukan lagi istriku yang dulu, yang pendiam dan pemalu. Tiara yang sekarang lebih terbuka, berani menuntut, dan penuh gairah. Namun, aku tidak bisa memungkiri, aku menyukai perasaan ini. Terperangkap dalam perpaduan antara kemarahan dan hasrat, aku hanya bisa mengangguk.

"Tentu saja, Dek."

Malam itu, setelah makan malam, Tiara bangkit dari meja makan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berjalan lurus ke kamar. Aku tetap duduk di sana, membiarkan pikiranku kembali pada percakapan kami di mobil. Aku tahu ia telah berubah, tetapi aku tidak tahu seberapa jauh.

Satu menit, dua menit, tiga menit. Pintu kamar terbuka. Napasku tertahan, mataku membelalak. Di ambang pintu, Tiara berdiri, bukan lagi dalam balutan gamis yang menutupi seluruh tubuhnya, melainkan dengan lingerie yang sangat terbuka. Jilbab dan cadarnya sudah tidak ada.


Lingerie itu begitu transparan, hanya terdiri dari bra nerawang dan celana dalam bertali, dengan renda yang nyaris tidak menutupi apa pun. Aku bisa melihat payudaranya yang besar, putingnya yang menonjol di balik bra tembus pandang itu, dan garis vaginanya yang sedikit tercetak di balik celana dalam transparannya. Aku membeku. Ini bukan Tiara yang kukenal. Ini adalah fantasi yang tiba-tiba menjadi nyata, sebuah sisi liar yang ia simpan rapi dariku.

Tiara tersenyum, senyum yang begitu nakal dan menggoda. "Mas..." bisiknya, suaranya parau, penuh hasrat. "Adek mau godain Mas. Biar Mas makin liar seperti semalam. Ayo, Mas... kita bersenggama."

Jantungku berdebar kencang. Ia mengulurkan tangannya, dan aku, tanpa pikir panjang, meraihnya. Tangannya terasa panas, dan sebuah sensasi aneh menjalar di seluruh tubuhku. Ia menarikku, dan aku mengikutinya, seperti boneka yang digerakkan oleh tali. Aku tahu, ia sudah tidak lagi patuh. Ia kini mengambil alih kendali.

Ia menuntunku ke kamar kami, ke tempat tidur. Di sana, di bawah cahaya lampu, ia terlihat seperti dewi. Aku hanya bisa menatapnya, membiarkan diriku tenggelam dalam amarah, gairah, dan ketidakpercayaan yang membingungkan. Ini adalah Tiara yang baru, Tiara yang kulihat di layar ponselku, dan kini, ia berdiri di depanku, siap untuk menari.

Tiara menarikku ke dalam kamar. Senyum nakal masih menghiasi bibirnya. Ia menuntunku ke ranjang, mendorongku hingga aku terduduk di tepinya. "Duduk yang manis, Mas," bisiknya, suaranya parau. "Malam ini, Adek yang akan jadi bintang untuk mas."

Bersambung...


Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟕 𝐒𝐢𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐋𝐞𝐥𝐚𝐤𝐢 𝐈𝐭𝐮❓

Tiara masuk kamar, wajahnya yang ditutupi cadar terlihat lelah namun bahagia. Ia melepas cadar dan hijabnya, menyisakan rambut hitamnya yang tergerai. Aku melihatnya, ia tidak menyadari bahwa aku sedang mengamatinya, bahwa aku baru saja menyaksikan sebuah rahasia yang ia simpan dariku.

Aku baru keluar dari kamar mandi, berpura-pura baru sampai rumah dan bersih-bersih badan. Aku ingin menanyakan tentang siaran pribadi itu, tentang Bims, dan tentang mengapa ia tidak jujur padaku. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak punya bukti. Aku hanya punya mataku dan sebuah pintu yang sedikit terbuka. Aku memutuskan untuk membiarkan rahasia ini tetap di dalam dadaku. Aku akan menanyakan hal lain, hal-hal yang kulihat di siaran publiknya.

Tiara meletakkan hijab dan cadarnya, lalu duduk di ranjang. "Mas," sapanya, suaranya parau. "Mas sudah lama pulang?"

"Baru aja," jawabku, suaraku terdengar kaku. Aku mencoba tersenyum, tapi rasanya sulit. "Tadi aku nonton kamu live."

Tiara mengangguk, matanya berbinar. "Alhamdulillah, Mas. Tadi ramai banget. Banyak yang beli."

"Kamu tadi kok pakai gamis yang ketat itu?" tanyaku, mencoba terdengar santai, tapi suaraku bergetar. "Bukankah kita sepakat kamu ganti baju?"

Tiara menunduk, memainkan ujung gamisnya. "Iyaa, Mas, maaf. Tadi Adek terlalu senang. Habis itu langsung Adek ganti kok. Mas nonton, kan?"

"Iya, aku lihat kok sayang," jawabku. Aku tidak menonton sampai habis. Aku hanya melihat sampai dia ganti baju. "Tapi... banyak komentar aneh, Dek. Ada yang minta kamu goyangin badan, ada yang bilang nonton sambil coli."

Tiara tertawa kecil. Tawa yang sama yang kudengar di siaran langsungnya. Tawa yang dulu membuatku cemburu, kini membuatku muak. "Ah, Mas mah, mereka cuma iseng. Enggak usah dipikirin. Toh, mereka cuma di sana. Mereka enggak kenal aku, enggak tahu aku di dunia nyata." jawabnya sambil bangkit memelukku.

Aku tidak membalas pelukannya. Aku hanya diam, membiarkan dadaku dipenuhi dengan gejolak amarah dan kebohongan.

Ia memelukku erat, dan pada saat yang sama, ia merasakan sesuatu yang menekan perutnya. Ia terdiam, pelukannya mengendur. Ia melepaskan pelukan itu dan menatapku, matanya yang indah dipenuhi rasa terkejut. "Ih, Mas, kenapa ngaceng?" bisiknya, tawanya pecah. Tawa yang sama yang sering kudengar saat ia sedang live streaming.

Tiara tersenyum, lalu dengan lembut, ia menyentuh penisku. Jantungku berdebar kencang. Ia membuka celanaku membelai penisku, merasakan kekerasan yang tak terduga ini. Ia mengangkat wajahnya, mencium bibirku, ciuman yang lebih dalam, lebih menuntut. Aku membalasnya, menciumnya dengan ganas, merasakan kehangatan dan kebasahan bibirnya.

Ia menuntunku ke atas ranjang dengan senyum menggoda. Setelah pintu tertutup rapat, ia membuka gamisnya perlahan, memperlihatkan kulitnya yang mulus yang membangkitkan gairah. Ia merebahkan diri, menantang dengan tatapan matanya. Aku menatap tubuhnya, hasrat langsung membakar diriku. Aku membelai payudaranya yang kenyal dan besar itu, menciumi lehernya yang jenjang, merasakan setiap debaran nadi istriku yang kini terasa begitu liar.

Aku menindihnya, bibir kami bertemu dalam ciuman panas dan lapar. Lidah kami bertautan, saling menjelajahi. Tanganku bergerak ke bawah, meremas pinggulnya, merasakan lekuk tubuhnya yang sempurna. Namun, di tengah ciuman yang memabukkan ini, bayangan Tiara di layar ponsel kembali menghantuiku. Gamis putih ketat, bra merah menyala, dan bisikannya yang menggoda.

Aku memposisikan diriku di antara kedua pahanya yang terbuka lebar. Ia meraih penisku yang sudah tegang, mengarahkannya tepat ke vaginanya yang basah. Dengan satu dorongan mantap, aku memasuki tubuhnya. Ia mendesah keras, mencengkeram bahuku erat. Aku mulai menggenjotnya perlahan, menikmati setiap gesekan kulit kami.

"Ahh... Mas... enak banget..." bisiknya, suaranya serak penuh hasrat.

Aku mempercepat gerakanku, ritmenya semakin cepat dan dalam. Setiap hentakan pinggulku membangkitkan gelombang kenikmatan yang liar. Aku memejamkan mata, dan fantasiku semakin menjadi-jadi. Tiara, istriku, dengan gamis putihnya yang menantang, tersenyum penuh arti ke arah kamera. Aku membayangkan "Mas Bims" dan ratusan mata lainnya menyaksikan setiap gerak tubuhnya, membayangkan mereka memuaskan diri sambil melihatnya.

"Kamu nakal banget sih, Dek, bikin aku mikir yang enggak-enggak," bisikku di telinganya, suaraku bergetar karena hasrat dan kecemburuan yang bercampur aduk.

Tiara mendongak, menatapku dengan mata penuh gairah. "Emang,. Tapi nakal buat Mas aja kok," balasnya, lalu mencium bibirku dengan ganas. "Tapi kalau ada yang lain yang ikut nikmatin, salah mereka dong, pikirannya kotor."

Kami kembali berciuman, gerakanku semakin cepat, semakin brutal. Aku melampiaskan semua kecemburuan, ketakutan, dan hasrat gelap yang kupendam selama ini. Aku tidak peduli lagi. Aku ingin merasakan puncak kenikmatan ini, meskipun pikiran tentang "mereka" terus menghantuiku.

"Ahh... mass... kamu hari ini enak banget. Kasar, Aku sukaa... aku enakkk..." rintih Tiara, suaranya tercekat.

Aku semakin cepat menggenjotnya, melampiaskan segalanya. "Ahh... ahh... Mas keluar, Dek!"

Tiara memelukku erat, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Jangan dulu, Mas, Adek masih mau... Ahh!"

Aku mencoba menahan diri, tapi gelombang orgasme sudah di ambang batas. Nafasku memburu, tubuhku menegang. "Mas nggak kuat, Dek... crottt..."

Aku merasakan spermaku memuncrat di dalam rahimnya, sensasi panas yang melegakan sekaligus menyesakkan. Aku ambruk di atasnya, menempelkan wajahku di lehernya yang basah oleh keringat, terengah-engah. Setelah beberapa saat, aku berguling ke sampingnya, lelah dan linglung.

Aku memejamkan mata. "Dek... maaf Mas keluar duluan."

Tiara tersenyum, mengelus rambutku dengan lembut. "Gpp, Mas, Adek juga udah puas kok." Namun, aku tidak yakin dengan ketulusan ucapannya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, sebuah pertanyaan yang belum terjawab.

Tiara bangkit, mengambil gamisnya yang tergeletak di lantai, lalu berjalan ke kamar mandi. Pintu tertutup, dan aku hanya bisa mendengar suara gemericik air. Keheningan terasa begitu berat, hanya ada suara napas dan detak jantungku yang berpacu kencang. Aku menoleh, mataku menangkap ponsel Tiara yang tergeletak di atas meja rias, seolah memanggilku.

"Aku harus melihatnya," batinku, hatiku diliputi gelombang dorongan yang tak tertahankan.

Perlahan, aku bangkit, berjalan mengendap-endap, dan meraih ponselnya. Layarnya menyala, dan seperti dugaanku, terkunci. Aku mencoba beberapa pola acak bentuk hati, huruf T tapi tidak berhasil. Frustrasi, aku meletakkan ponselnya, namun sebuah notifikasi dari WhatsApp muncul. Mataku membelalak, membaca nama pengirimnya: "Mas Bims."

Pesan itu terpampang jelas, menusuk mataku.

Mas Bims: Gimana, Dek, sensasinya? Seru kan live tadi? Kamu harus lebih PD. Besok kamu,..... chatnya terpotong, tak bisa ku baca semua di notifikasi.

Emosiku campur aduk. Amarah dan cemburu membakar dadaku. Ia tidak hanya live secara pribadi; ia juga membicarakan dan merencanakan keintiman lebih lanjut. Aku ingin membanting ponselnya. Namun, di sisi lain, sebuah sensasi aneh menjalar di bawah perutku. Sensasi jijik, tapi juga gairah yang tak terhindarkan. Pria ini melihat istriku, ia tahu apa yang Tiara lakukan, dan ia menyemangatinya untuk menjadi lebih liar.

Tiba-tiba, suara pintu kamar mandi terbuka. Jantungku melonjak. Tiara akan keluar! Aku buru-buru meletakkan ponselnya kembali di tempat semula. Aku berjalan cepat ke arah kamar mandi, masuk ke dalamnya, dan menutup pintu.

Aku menyalakan shower, membiarkan air dingin membasahi tubuhku. Aku membersihkan diriku, melakukan mandi wajib dengan perasaan yang hancur. Setelah itu, aku menunaikan sholat Maghrib yang tertunda, lalu sholat Isya. Pikiranku masih dipenuhi bayangan Tiara di depan kamera, dengan gamis putih dan bra merahnya, serta pesan dari "Mas Bims" yang terukir jelas di benakku.

Setelah aku mandi dan membersihkan diri, aku kembali ke kamar. Tiara sudah menungguku. Kami salat Maghrib berjamaah, kemudian makan malam dengan hidangan yang sudah Tiara siapkan. Suasana di meja makan terasa lebih ringan. Kami berbicara tentang hari yang telah kami lalui, tentang jualan Tiara, dan tentang rencana kami di akhir pekan. Setelah makan, kami salat Isya berjamaah.

Selesai salat, kami kembali ke kamar. Tiara sudah berbaring di ranjang, ia menepuk tempat di sebelahnya. Aku mematikan lampu, lalu merebahkan diri di sampingnya. Tiara memelukku.

"Mas, tadi Adek hampir pingsan saking senangnya," bisiknya. "Tadi ada yang transfer hadiah besar banget, Mas."

Ia tidak perlu menyebut nama. Aku tahu itu Bims. Aku tahu hadiah itu untuk siaran pribadi yang ia lakukan, untuk setiap tawa, setiap gerakan, dan setiap bisikan genit yang kulihat. Perutku mual, amarah yang kupendam terasa seperti api. Di balik gamis putih dan bra merah itu, ada sebuah transaksi yang membuatku merasa jijik.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Lidahku terasa kelu. Aku hanya memeluknya, membiarkan diriku terlelap dalam kelelahan yang luar biasa, dengan rahasia yang tersembunyi di antara kami, membakar hatiku dalam diam.

Bersambungg...


 

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟔 𝐒𝐞𝐬𝐢 𝐋𝐢𝐯𝐞 𝐏𝐫𝐢𝐯𝐚𝐭

Aku: Dek, kenapa senekat itu?

Tak lama kemudian, balasan dari Tiara muncul.

Tiara: Maksud Mas? Senekat apa?

Aku menatap layar, hatiku dipenuhi dengan perasaan campur aduk. Aku tidak tahu harus marah atau justru merasa tertarik.

Aku: Baju kamu yang itu. Kenapa harus pakai baju yang kayak gitu? Dan bra kamu kelihatan.

Balasan Tiara datang dengan cepat, dengan emoji yang santai.

Tiara: Ohh, itu. Gak apa-apa kok, Mas. Cuma buat mancing penonton aja. Biar banyak yang beli. Lagian, mereka gak kenal aku kok di dunia nyata, kan aku pakai cadar jadi mereka gak akan bisa tahu.

Jawaban itu bagai tamparan keras di wajahku. Ia begitu santai. Ia tidak melihat ini sebagai pelanggaran, melainkan sebagai sebuah strategi bisnis yang cerdas. Ia begitu pragmatis. Aku mencoba mengembalikan Tiara yang kukenal, Tiara yang polos, yang patuh, yang tidak tahu apa-apa.

Aku: Meskipun begitu. Kan kita sebagai muslim, gak baik mengumbar aurat seperti itu.

Tiara terdiam sejenak. Aku menunggu, berharap ia akan mengerti. Akhirnya, balasan datang.

Tiara: Iyaa, Mas... Adek matiin live sekarang deh, atau Adek ganti baju aja? Gimana, Mas?

Jantungku berdebar kencang. Ia memberiku pilihan. Aku bisa menyuruhnya berhenti, mengakhiri semua ini. Tapi hati kecilku yang lain menolaknya. Ada sensasi aneh yang kurasakan. Aku sedikit menyukai perbuatannya kepada orang lain. Ada rasa deg-degan, sebuah campuran kebanggaan dan kecemburuan, memiliki istri yang dikagumi banyak orang. Aku ingin ia tetap berada di sana, di panggung yang ia ciptakan.

Jari-jariku gemetar, mengetik balasan. "Ganti baju aja, Dek. Aku gak mengekang kamu kok."

Aku tahu itu adalah kebohongan terbesar yang pernah kuucapkan. Aku tidak mengekang, aku mengendalikan. Aku ingin dia di sana, di balik layar, menari hanya untukku.

Tiara: Oke, Mas. Adek ganti baju dulu ya. Makasih ya, Mas. Mas baik banget.

Balasan Tiara terasa begitu polos, begitu tulus, seolah ia benar-benar mengira aku adalah suaminya yang "baik". Aku meletakkan ponselku, merasa muak dengan diriku sendiri. Pikiranku kalut. Aku kembali ke ponselku, membuka aplikasi, dan menunggu. Setiap detik terasa bagai pukulan.

Tak lama kemudian, Tiara kembali muncul di layar. Wajahnya yang ditutupi cadar kini tersenyum.

"Maaf ya teman-teman," sapanya, suaranya ceria. "Aku ganti baju dulu. Baju tadi terlalu ketat, nanti kalian enggak fokus beli barangku, malah fokus ke aku, kan repot!"

Aku terdiam, membeku. Ia berani memberikan alasan seperti itu. Alasan yang begitu terus terang, begitu genit. Ia bahkan tidak merasa malu, ia justru menertawakan dirinya sendiri. Penonton di sana, yang sebelumnya sudah berkomentar nakal, kini kembali ramai.

"Yah, kok ganti, Kak? Padahal udah enak dilihatnya." "Bajunya ganti yang lebih hot aja Kak, jadi lebih kelihatan badannya." "Meskipun diganti, bayangan nenen yang tadi enggak akan hilang, Kak. Gamis lebar juga gak bakal bisa nutupin nenen gede kakak"

Aku melihat Tiara tertawa. Ia menanggapi komentar itu dengan santai, tanpa beban. Kemudian ia menjauh dari kamera, sepertinya menuju kamar untuk ganti baju.

Tak lama kemudian, ia kembali ke kamera, kini memakai gamis lebar, hijab lebar, dan dengan cadarnya yang berwarna hitam. Pakaian yang sudah biasa ia pakai. Penontonnya mulai mengomentari pakaiannya yang baru. Beberapa kecewa, beberapa memuji. Tiara hanya tersenyum. Ia kembali ke mode penjual yang polos.

Aku pun merasa lega dan kembali bekerja, pikiranku kini tenang. Aku pulang seperti biasa jam 4 sore. Aku masuk ke rumah, ke kamar, mengganti baju, mandi, lalu merebahkan diri di ranjang. Aku membuka ponsel, ingin melihat istriku live.

Namun, saat aku membuka aplikasinya, akunnya tidak sedang live. Aku bingung. Aku keluar kamar, berjalan menuju studio istriku. Aku masih mendengar dia berbicara, suaranya terdengar seperti sedang live. Pintunya sedikit terbuka, dan aku mengintip.

Jantungku berdebar kencang. Ia berbicara dengan ponselnya, tapi ia mengenakan gamis yang tadi, gamis putih ketat. Hijabnya pendek, hanya menutupi setengah payudaranya. Aku bahkan bisa melihat samar-samar warna merah dari bra yang ia pakai. Dan ia masih memakai cadar. Ia menyapa penonton, "Makasih ya, Kak Bims, sudah setia menunggu. Maaf tadi live-nya kepotong."

Aku bingung kenapa di ponselku dia tidak live. Aku buru-buru mengecek, apakah aku diblokir? Ternyata tidak. Aku tidak diblokir. Aku kembali mengintip, kebingunganku bercampur dengan rasa cemas yang semakin dalam. Ia pasti sedang melakukan live privat, hanya untuk orang-orang tertentu, seperti Mas Bims.

Aku terus mengintip, dan apa yang kulihat membuat napasku tertahan. Tiara kini tidak hanya berbicara. Ia mulai bergerak, lalu dia bicara, "Jangan crot dong, Mas, nanti aku dosa," jawabnya, tapi matanya berkedip ke kamera. Ia menggerakkan bahunya, dan payudaranya ikut bergerak, gamis putihnya yang ketat mengikuti setiap gerakannya, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya. Ia menyentuh dadanya, mengelusnya dari luar gamis.

"Ini khusus buat kalian yang sudah gift dan langganan ke aku," bisiknya, suaranya parau, tidak seperti suara yang kudengar saat ia live di publik. "Kalian suka?"

Aku melihat dia menunduk, bibirnya mendekat ke kamera, seolah ia sedang mencium layar. Ia tertawa, lalu berkata, "Jangan nakal ya, Mas Bims. Nanti aku juga bisa ikutan nakal karena kamu." Aku tidak habis pikir. Istriku benar-benar menuruti permintaan pria lain, permintaan yang begitu vulgar.

Aku merasa bingung harus melakukan apa. Tapi di hati kecilku, ada sensasi tersendiri. Aku merasa penisku menegang melihatnya. Aku mengelus penisku di balik celana, menyaksikan istriku, yang selama ini hanya kulihat dalam kegelapan, kini menjadi tontonan publik, menari untuk pria lain, menari dengan kata-kata genit yang ia lontarkan dengan mudah. Aku tidak tahu lagi, apakah aku marah, atau justru terangsang. Yang jelas, aku tidak bisa berhenti mengintip.

Tak lama kemudian, dia berbicara lagi ke kamera bahwa dia mau menyudahi live-nya karena tidak mau lama-lama live seperti ini, cukup 10 menit saja. Aku pun bergegas lari ke kamar. Aku berencana ketika istriku datang, aku berpura-pura tidak terjadi sesuatu apa pun.


Bersambung...


 

Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com