𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟒𝟑 𝐌𝐚𝐚𝐟𝐤𝐚𝐧 𝐀𝐤𝐮 𝐒𝐮𝐚𝐦𝐢𝐤𝐮

 


 Pak Budi membalikkan tubuhku, memposisikan bokongku sedikit menungging. Sensasi kulitnya yang keriput menempel di punggungku membuatku merinding. Tangan kanannya menampar pantatku pelan. "Plak!" Suara tamparan itu menggema di ruangan, membuatku tersentak, tapi anehnya, aku juga mendesah. "Ahhh..."

"Kamu mau di-entot lagi, Ustadzah?" tanyanya, suaranya serak. Ia meremas payudaraku yang besar dengan tangan kirinya.

Aku hanya bisa mengangguk, napasku memburu. "Mau, Pak... mauuu..." rintihku, suaraku parau.

"Nungging, Ustadzah, yang lebih bagus." Aku menurut, menundukkan tubuhku sedikit. Ia menyeringai. "Nah, begitu. Cantik sekali pantatmu, Sayang."

Ia mulai menggesek-gesekkan penisnya yang besar dan tegang di bibir vaginaku. Sensasi itu membuatku gila. Aku menjerit pelan, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... aku enggak sabar... ayo, Pak... masukin..."

"Sabar, Ustadzah... nikmatin dulu," bisiknya. Ia terus menggesek, gerakannya lambat, tapi intens. "Memek Ustadzah sudah basah banget. Aku suka. Aku suka Ustadzah yang nakal."

Tiba-tiba, ia menghentikan gesekannya. Aku bisa merasakan kepala penisnya berhenti, tepat di lubang vaginaku. Jantungku berdebar tak karuan, perasaanku campur aduk antara rasa takut dan kenikmatan. Ia mendorongnya pelan, sangat pelan, membuatku menjerit kesakitan.

"Ahhh! Pak! Sakit! Jangan!" teriakku, tapi suaraku lebih terdengar seperti desahan. Air mataku mengalir.

Ia tidak peduli. Ia terus mendorongnya, dan aku bisa merasakan kepala penisnya membelah bibir vaginaku. "Tahan, Sayang... Tahan... Sebentar saja... Ahhh..." bisiknya, suaranya serak. "Memekmu sempit banget. Aku suka."

"Enggak... Ahh... Pak... sakit..." rintihku, air mataku terus mengalir.

Ia terus mendorongnya, dan rasa sakit yang tajam itu perlahan tergantikan oleh kenikmatan yang memabukkan. Penisnya terasa penuh di vaginaku, meregangkan setiap inci di dalamnya. Aku melengkung, mencengkeram lututku dengan erat.

Dengan sekali hentakan yang brutal, seluruh penisnya masuk ke dalam vaginaku. "Ahh!..." jeritku, suaraku parau, dipenuhi rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan yang memabukkan. Penisnya terasa begitu penuh, begitu sesak di dalam vaginaku. Aku bisa merasakan urat-uratnya yang tegang, dan sensasi itu membuatku gila.

"Gila, Ustadzah... sempit banget... Ahhh!" desahnya, suaranya serak. "Rasakan ini... Rasakan bagaimana kontol besar Bapak ini..."

Aku hanya bisa pasrah, memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini.

Pak Budi mendiamkan penisnya di dalam vaginaku. Aku terdiam, isak tangisku bercampur dengan napas yang memburu. Penisnya terasa begitu penuh di dalam diriku, sebuah sensasi yang terasa sakit, namun juga begitu memuaskan. Ia menunduk, mencium leherku, lalu berbisik, "Ustadzah, masih sakit ya? Tahan sebentar, ya. Nanti sakitnya akan hilang, dan digantikan sama keenakan yang luar biasa."

Aku hanya bisa mengangguk, berusaha menahan tangisku. "Ahh... Pak... sakit..." rintihku, suaraku parau.

"Sempit banget memek Ustadzah," bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Pantesan Mas Dimas gak bisa puasin kamu. Kontolnya kecil ya?"

Aku tidak menjawab, hanya mendesah, tak bisa menahan diri. Rasa sakit yang tajam itu perlahan tergantikan oleh kenikmatan yang memabukkan. Aku bisa merasakan setiap uratnya yang menonjol, dan sensasi itu membuatku gila.

"Gimana, Sayang? Udah enakan?" tanyanya.

"Iya, Pak... ahh... iya... udah enakan..." rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan.

Ia menyeringai, senyumnya penuh kemenangan. Tanpa aba-aba, ia mulai menggenjotku. Gerakannya pelan, namun brutal. Aku mencengkeram lututku, berusaha menahan sensasi yang membanjiri seluruh tubuhku.

"Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau.

Ia terus menggenjot, gerakannya semakin cepat, semakin dalam. "Gimana, Ustadzah? Enak? Beda kan sama punya suamimu?" bisiknya, suaranya serak. "Aku jamin, kamu akan ketagihan. Aku akan buat kamu ketagihan sama kontol besar ini."

Kemudian, tangan kirinya yang tadinya menopang pinggangku, kini naik. Ia meremas payudaraku dengan brutal, sementara tangan kanannya terus memegang pinggangku sambil menggenjotku dengan brutal. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.

Di depan kami, di pantulan kaca meja rias, aku melihat semua perbuatan itu. Aku melihat bagaimana tubuhku yang polos dan alim ini digenjot oleh pria lain. Aku melihat bagaimana wajahku yang selama ini tertutup cadar kini memancarkan ekspresi nafsu yang memabukkan. Aku melihat bagaimana payudaraku diremas dengan kasar, dan penisnya yang besar itu keluar masuk dari vaginaku.

Pemandangan itu begitu gila, begitu menakjubkan, tapi entah mengapa, terasa begitu memuaskan. Aku tidak lagi malu. Aku hanya ingin kenikmatan itu. Aku hanya ingin puas.

"Ahh... Pak... terus... lebih cepat... Ahhh!" rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku menganggukkan kepala, air mata mengalir dari mataku. "Iya, Pak... aku suka... aku suka..."

Pak Budi terus menggenjotku dengan brutal. Aku hanya bisa mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, membuatku gila. Tiba-tiba, tangan kanannya yang tadinya meremas payudaraku, kini naik, menjambak rambutku. Ia menariknya kuat-kuat, membuatku mendongakkan kepala. Aku menjerit pelan, merasakan rasa sakit yang aneh, bercampur dengan kenikmatan yang memabukkan.

"Ahh! Pak! Jangan! Ahh..." rintihku, suaraku parau.

Ia tidak peduli. Ia terus menggenjot, gerakannya semakin cepat, semakin brutal. Ia menempelkan wajahnya di leherku, menciumi leherku, lalu berbisik, "Ustadzah, Bapak suka kamu begini. Kamu terlihat sangat seksi kalau rambutmu ditarik... Kamu terlihat sangat binal."

Di depan kami, di pantulan kaca meja rias, aku melihat semua perbuatan itu. Aku melihat bagaimana penisnya yang besar dan tegang keluar masuk dari vaginaku, gerakan itu begitu cepat, begitu brutal. Rambutku yang tergerai ditarik olehnya, membuat leherku terekspos. Pemandangan itu begitu gila, tapi entah mengapa, terasa begitu memuaskan.

Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... terus... lebih cepat... Ahhh!" rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Kemudian, aku merasakan gejolak hebat di dalam diriku. Gelombang orgasme terasa begitu dekat. Aku menjerit, tak bisa menahan diri. "Ahh! Pak! Aku mau keluar! Aku mau keluar!" teriakku, tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali.

Tiba-tiba, Pak Budi menghentikan genjotannya, lalu ia mencabut penisnya dari vaginaku. Aku terkesiap, sensasi hampa menyelimuti diriku. Aku merasa sangat kecewa.

"Ahh, Pak... jangan... kenapa berhenti?" rintihku, suaraku parau, penuh permohonan. "Terus, Pak... aku mau keluar... Ahhh... aku mau keluar..."

Aku merasakan gelombang kenikmatan itu semakin dekat, dan aku tidak ingin ia berhenti. Aku memohon kepadanya, tanganku meraih penisnya, menuntunnya kembali ke vaginaku.

"Terus, Pak... tolong... aku mau keluar..." rintihku, suaraku parau, penuh keputusasaan.

Ia menyeringai, senyumnya penuh kemenangan. Ia tahu, ia telah mengendalikan diriku sepenuhnya. Ia mendorongku hingga aku berlutut, lalu ia menampar-nampar penisnya di wajahku. "Ustadzah, kamu hebat," bisiknya. "Aku akan buat kamu keluar, Sayang. Tapi, kamu harus nurutin setiap perintahku. Kamu setuju?"

Aku hanya bisa mengangguk, air mata mengalir dari mataku, sebuah pengakuan kalah. Aku tahu, aku telah jatuh terlalu dalam, dan aku tidak bisa lagi kembali. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini.

Pak Budi menyeringai, senyumnya penuh kemenangan. Ia tahu, aku telah sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Tanpa aba-aba, ia kembali memasukkan penisnya yang besar dan tegang ke dalam vaginaku. Aku menjerit, tapi rasa sakit itu segera berubah menjadi kenikmatan yang memabukkan.

"Ahh! Pak! Enak! Terus, Pak!" rintihku, suaraku parau.

Ia terus menggenjotku dengan brutal, gerakannya semakin cepat dan dalam. Aku bisa merasakan setiap hentakannya, setiap dorongannya, dan setiap benturan kulit kami yang terdengar jelas di ruangan itu. "Plok! Plok! Plok!" Suara itu seperti irama yang memompa gairahku.

"Gimana, Ustadzah? Kamu suka, kan?" bisiknya, suaranya serak. Ia menjambak rambutku, membuatku mendongakkan kepala, dan ia terus menggenjotku. "Ini yang kamu mau, kan? Ini yang bisa membuatmu keenakan."

Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan itu. Di depan kami, di pantulan kaca meja rias, aku melihat semua perbuatan itu. Aku melihat bagaimana penisnya yang besar dan tegang keluar masuk dari vaginaku, dengan brutal. Aku melihat bagaimana wajahku yang selama ini tertutup cadar kini memancarkan ekspresi nafsu yang memabukkan.

"Ahh... Pak... lebih cepat... lebih cepat... Ahhh!" rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku mencengkeram lututku, berusaha menahan gelombang kenikmatan yang semakin memuncak. Aku bisa merasakan tubuhku menegang, pinggulku bergerak tak terkendali.

"Keluar, Sayang... keluarkan... ahhh..." desahnya, suaranya serak. "Ahhh... Bapak juga... Bapak mau keluar di dalammu... ahhh!"

Aku menjerit, "Ahh! Aku keluar! Ahhhhhh!" Tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali. Aku merasakan gelombang kenikmatan membanjiri seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang begitu kuat, begitu nyata, dan begitu memabukkan. Setelah itu, tubuhku lemas, ambruk di lantai.

Pak Budi mencabut penisnya, dan aku merasa hampa. Ia menatapku, matanya dipenuhi gairah dan kemenangan. "Ustadzah, kamu hebat," bisiknya. "Kamu sudah keluar. Kamu sudah merasakan kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya."

Ia kemudian memelukku, menciumi leherku. "Kamu sekarang milikku, Ustadzah," bisiknya. "Kamu sudah janji kamu bakal nurutin semua kemauanku. Jangan lagi pakai cadar ini. Cadar ini hanya untuk menutupimu dari pandangan yang tidak pantas, tapi sekarang, di depanku, kamu adalah seorang ratu, seorang wanita binal yang pantas dipertontonkan."

Aku hanya bisa mengangguk, air mata mengalir dari mataku, sebuah pengakuan kalah. Aku tahu, aku telah jatuh terlalu dalam. Aku tidak bisa kembali.

"Iya, Pak... aku janji," jawabku, suaraku parau, penuh pengakuan.​

Pak Budi menyeringai penuh kemenangan. "Ayo, Sayang, sini," bisiknya. Ia berjalan ke arah meja rias, menarik kursi di depannya, lalu duduk. Ia menepuk pahanya, mengisyaratkan aku untuk duduk di atasnya.

Aku menurut, berjalan terhuyung-huyung ke arahnya. Aku naik, memposisikan diriku di pangkuannya. Sensasi kulit kami yang telanjang bersentuhan membuatku bergidik. Aku bisa merasakan penisnya yang masih besar dan tegang menempel di vaginaku yang basah.

Pak Budi memeluk pinggangku erat, menempelkan wajahnya di leherku. "Nyaman, kan, Ustadzah?" bisiknya, suaranya serak. "Kamu itu sempurna. Begitu pas di pangkuan Bapak."

"Iya, Pak..." rintihku, suaraku parau. "Terima kasih..."

"Untuk apa, Sayang?" tanyanya, ia menciumi leherku, lalu mencupangnya pelan, meninggalkan tanda merah di sana.

"Untuk semuanya..." jawabku, memejamkan mata. "Aku... aku merasa hidup lagi."

Ia tertawa pelan. "Itu karena kamu sudah jujur sama dirimu sendiri. Kamu itu wanita yang berani, wanita yang butuh kepuasan, suamimu, tidak bisa memberikannya, kan?"

Aku mengangguk, isak tangisku bercampur dengan desahan yang semakin keras. "Iya, Pak... aku... aku hampa..."

"Nah, sekarang kamu punya Bapak," bisiknya. Ia meremas payudaraku dengan brutal. "Kamu punya kontol yang besar ini, yang akan selalu siap buat kamu. Kamu mau? Aku bisa ajari kamu jadi lebih nakal."

Aku menggeleng, malu, tapi pada saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Enggak, Pak... aku takut..."

"Kenapa takut?" tanyanya. "Suamimu saja tidak tahu, kan? Aku janji, ini akan jadi rahasia kita. Kamu hanya perlu nurut. Kamu hanya perlu nikmatin. Katakan padaku, Ustadzah, apa yang paling kamu suka dari Bapak?"

Aku terdiam, bingung harus menjawab apa. Pikiranku kalut, tapi mulutku seolah punya kehendak sendiri. "Penis Bapak... aku suka penis Bapak... besar... dan brutal..." rintihku, sebuah pengakuan yang membuatku malu.

Pak Budi tersenyum, senyum penuh kemenangan. "Nah, sekarang kita buat kamu makin ketagihan," bisiknya.

Aku hanya bisa pasrah, memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini.

Pak Budi terus meremas payudaraku sambil aku duduk di pangkuannya. Ia menciumi leherku, lalu berbisik, "Ustadzah, Bapak punya ide. Ustadzah nggak penasaran mau coba kontol lain? Atau mau main sama banyak kontol sekaligus?"

Jantungku berdebar tak karuan. Aku terdiam, bingung harus menjawab apa. "Emm, aku nggak tau, Pak..." rintihku, suaraku parau.

Ia tersenyum penuh kemenangan. "Ustadzah, kalau mau bilang saja. Jangan bohongi dirimu. Bapak tahu kamu itu binal. Bapak tahu kamu butuh kepuasan lebih. Nanti, kita main sama beberapa cowok yang menimati tubuhmu. Kamu pasti puas banget, Sayang. Kamu akan jadi ratu di antara mereka."

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Pikiranku kalut, tapi kata-katanya menusuk, terasa begitu membebaskan. Aku membayangkan diriku di tengah-tengah mereka, disembah, didamba, merasakan kenikmatan yang luar biasa. "Emm... aku mau, Pak... tapi sama siapa?" tanyaku, suaraku nyaris tak terdengar.

"Dipikir nanti saja, Ustadzah," jawabnya, suaranya serak. Ia tersenyum, senyumnya penuh arti. "Yang penting Ustadzah mau dulu. Sekarang, yuk kita mandi bareng."

Tanpa menunggu jawabanku, ia bangkit dari kursi, lalu menggendongku. Aku terkejut, tapi tidak menolak. Tubuhku terasa ringan, seolah aku adalah boneka yang bisa ia mainkan sesuka hati. Ia berjalan ke arah kamar mandi yang ada di kamarku. Ia menurunkanku, lalu menyalakan shower. Air hangat membasahi tubuhku, tapi yang kurasakan adalah sensasi panas yang memabukkan.

"Sini, Sayang, biar Bapak yang mandiin," bisiknya.

Aku hanya mengangguk, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini. Ia mengambil sabun, lalu mengusap tubuhku. Gerakannya begitu sensual, begitu lembut, namun penuh gairah. Ia menyabuni setiap lekuk tubuhku, meremasnya, mengelusnya, membuatku mendesah tak karuan.

"Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Ia menyabuni payudaraku, lalu meremasnya, memilin putingku. "Ahh... Ustadzah... payudaramu ini... sempurna... Aku suka... aku suka sekali..." bisiknya.

Setelah selesai mandi, kami keluar. Aku merasa begitu bersih, tapi di saat yang sama, aku merasa kotor, kotor sekali. Aku meraih rok dan baju tunik dari lemari. Aku memakainya, lalu mengambil hijab. Aku tidak memakai cadar, karena Pak Budi sudah melihat wajahku.

Namun, ia menghentikanku. "Ustadzah, pakai cadarmu lagi," perintahnya.

Aku terdiam, bingung. "Kenapa, Pak? Bapak kan sudah tahu wajahku."

"Ustadzah, kamu itu milikku," bisiknya, suaranya serak. Ia meraih cadarku, lalu memakaikannya di wajahku. "Di luar sana, kamu tetap Ustadzah. Kamu tetap alim. Tapi, di balik cadar ini, kamu adalah wanita paling nakal, wanita yang hanya Bapak yang tahu betapa liarnya. Ini rahasia kita. Rahasia yang membuatmu semakin seksi."

Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini. Ia mencium keningku, lalu memelukku erat.

"Ustadzah, setelah ini kegiatannya ustadzah apa?" tanyanya, suaranya serak.

"Aku... aku mau nge-packing orderan pembeli, Pak," jawabku, suaraku parau.

Ia tersenyum, senyumnya penuh kemenangan. "Yaudah, Ustadzah. Aku bantuin, ya."

Jantungku berdebar kencang. Aku terkejut, tapi aku tidak menolak. Ia mengikutiku dari belakang, langkahnya terasa berat. Kami berjalan ke studioku, ruangan kecil yang selama ini menjadi duniaku yang aman dan damai. Di sana, tumpukan paket dan pakaian syar'i menantiku.

Kami berdua duduk di lantai, mengemas paket-paket itu. Di antara kami, ada keheningan yang canggung, tapi tak lama, ia memecahnya.

"Ustadzah, kamu hebat," bisiknya, suaranya serak. "Bisa jualan gamis sebanyak ini. Pasti banyak yang suka sama gamis buatanmu, ya."

"Alhamdulillah, Pak..." jawabku, suaraku sedikit bergetar.

"Sama seperti tubuhmu, Ustadzah," timpalnya, suaranya penuh arti. Ia meraih sebuah gamis, mengusap-usapnya. "Bahannya halus. Semulus kulit Ustadzah."

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku mencoba mengabaikan ucapannya, tapi dorongan untuk melangkah lebih jauh, untuk menyenangkan dia, terlalu kuat untuk kutahan. "Pak, jangan begitu..." rintihku.

Ia tertawa pelan. "Ustadzah, aku serius. Lihatlah gamis ini," ucapnya, ia menaruh gamis itu di depan tubuhku. "Gamis ini melambangkan kesucian. Tapi di dalamnya, ada wanita yang begitu liar, begitu seksi. Aku suka. Aku suka kamu yang begitu."

Ia mengulurkan tangannya, dan tangannya menyentuh punggungku dari balik mukena. Ia mengelusnya, perlahan, lalu semakin cepat, membuatku merinding. "Kamu tidak perlu malu, Ustadzah. Kamu itu sempurna. Kamu bisa jadi wanita paling salehah di luar sana. Tapi di hadapanku, kamu bisa jadi wanita paling nakal, wanita paling seksi. Kamu suka, kan?"

Aku tidak bisa menjawab, hanya mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak..." rintihku, suaraku parau.

"Ustadzah, setelah di-packing gini nanti Ustadzah antar ke jasa pengiriman?" tanya Pak Budi, suaranya terdengar santai, seolah kami benar-benar hanya berurusan dengan pekerjaan.

"Enggak, Pak," jawabku sambil mengemas satu per satu paket gamis. "Nanti di-pick-up sama kurir dari jasa pengirimannya."

"Wah, baik banget kurirnya ya, Ustadzah," ucapnya, ada nada aneh dalam suaranya. Ia mengambil paket lain, menimangnya sejenak. "Mau pick-up barang di rumah."

"Iyaa, sudah pekerjaannya begitu, Pak Budi," balasku, mencoba terdengar normal, padahal jantungku berdebar tak karuan.

"Tapi baik loh mereka, Ustadzah. Coba deh kapan-kapan kasih mereka bonus," rayunya. Ia tersenyum penuh arti, matanya tak lepas dari tubuhku.

"Emm... iya deh. Nanti aku kasih mereka uang jajan," balasku, tanpa berpikir panjang.

Pak Budi tertawa pelan, tawanya terdengar serak dan menggoda. "Jangan bonus uang, Ustadzah. Cepat habis kalau uang," bisiknya. Ia mendekatkan wajahnya ke arahku, membuatku terkesiap.

"Terus apa, Pak?" tanyaku, suaraku parau.

Ia menyeringai. "Kasih bonus tubuh Ustadzah. Haha."

Aku tersentak, rasa malu yang luar biasa membanjiri diriku. "Ihh, Bapak ada-ada aja," ucapku, mencoba terdengar kesal, tapi di dalam hatiku, ada sensasi aneh yang tidak bisa kuingkari.

"Gak apa-apa, Ustadzah," bisiknya. "Kan katanya tadi mau main sama banyak kontol. Nah, Bapak bisa bantu Ustadzah wujudkan itu. Kita mulai dari kurir-kurir yang baik ini."

Aku terdiam, tanganku berhenti mengemas. Pikiranku kalut. Kata-kata Pak Budi bagai racun yang memabukkan. Ia benar. Aku sudah berjanji, aku sudah jatuh terlalu dalam. Aku membayangkan diriku, Ustadzah Tiara, yang selama ini dikenal alim, memberikan "bonus" kepada para kurir. Pemandangan itu begitu gila, begitu menakutkan, tapi anehnya, juga terasa sangat memuaskan.

Setelah selesai mengemas semua paket, aku menaruhnya di kotak yang biasa kusimpan di depan rumah. Aku kembali ke ruang tamu, di mana Pak Budi sudah duduk santai di sofa. Aku merebahkan diri di sampingnya, meletakkan kepalaku di bahunya. Kami sudah seperti sepasang kekasih, nyaman dan saling mengerti.

"Capek, Sayang?" bisik Pak Budi. Ia mengelus rambutku dengan lembut.

"Iya, Pak..." jawabku, memejamkan mata. "Rasanya tenang begini... aku jadi lupa semua masalah."

"Nah, itu gunanya Bapak," ucapnya, suaranya serak. "Bapak di sini untuk buat kamu lupa semua masalah. Kamu hanya perlu nikmatin kontol Bapak. haha"

Keheningan menyelimuti kami. Tiba-tiba, aku merasa rindu pada Mas Dimas. Sudah lama aku tidak membuka ponsel, dan aku ingin tahu kabarnya. Aku bangkit, mengambil ponselku di kamar, lalu kembali ke sofa. Pak Budi menatapku dengan mata penuh tanda tanya.

"Kenapa, Sayang?" tanyanya.

"Aku mau buka HP, Pak... kangen Mas Dimas," jawabku, suaraku parau.

Ia hanya mengangguk, lalu memelukku dari samping. Aku membuka layar ponselku, dan mataku terbelalak. Ada notifikasi chat dari Mas Dimas. Aku membukanya, dan jantungku berdebar tak karuan.

Mas Dimas: Tiara. Aku mau tanya. Apa kamu tahu arti CCTV?

Tubuhku membeku. Mataku membelalak. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak. Aku menatap Pak Budi, dan ia menatapku, bingung.

Chat berikutnya.

Mas Dimas: Apa kamu tahu, kalau di rumah kita ada CCTV yang tersembunyi yang ku pasang? Apa kamu tahu, kalau aku sudah memasangnya sejak lama? Dan apa kamu tahu, kalau semua perbuatanmu dengan Pak RT, dengan tukang sayur, dan sekarang... dengan pria yang ada di sampingmu itu... aku lihat semuanya!

Degg…

Bersambung...

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟒𝟐 𝐏𝐞𝐣𝐚𝐧𝐭𝐚𝐧 𝐌𝐢𝐥𝐢𝐤 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐓𝐢𝐚𝐫𝐚

Pagi itu, aku terbangun dengan tubuh terasa lelah, namun hatiku dipenuhi perasaan campur aduk. Di sampingku, Pak Budi masih terlelap. Aku bangkit, berjalan terhuyung-huyung menuju kamar mandi. Kucuran air dingin membasuh tubuhku, tapi yang kurasakan hanyalah kekotoran yang tak kunjung hilang. Aku mengusap vaginaku, membersihkan sisa-sisa sperma Pak Budi. Pikiranku kalut. Apakah aku akan hamil? Aku bahkan belum pernah hamil dengan Mas Dimas, suamiku, dan kini ada kemungkinan aku hamil dengan pria lain, bahkan pria tua yang baru aku temui sehari. Ketakutan itu mencengkeramku, membuatku gemetar.

Selesai mandi, aku mengambil air wudhu, lalu menunaikan salat Subuh. Aku mencoba untuk khusyuk, tapi bayangan semalam terus menghantuiku. Selesai shalat, aku tetap memakai mukena, hanya saja aku tidak memakai dalaman apa pun. Aku kembali ke kamar dan duduk di samping Pak Budi yang masih terbaring. Aku menatapnya, ada perasaan jijik bercampur dengan rasa takjub. Ia terlihat begitu damai, seolah tidak terjadi apa-apa. Perlahan, aku mengulurkan tanganku, mencoba membangunkannya.

"Pak, bangun," bisikku, suaraku parau.

Ia mengerang, lalu perlahan membuka matanya. Ia menatapku, senyumnya penuh arti. tubuhnya masih telanjang dibalik selimut, Aku menunduk, malu, tapi pada saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh menjalar di seluruh tubuhku. Mataku tak sengaja melirik ke bawah, dan aku terkejut. Penisnya tegak sempurna, lebih besar dari yang kubayangkan saat melihatnya dari dekat.

"Masya Allah, Pak..." rintihku, suaraku nyaris tak terdengar.

Ia tertawa pelan. "Ustadzah, kenapa? Kaget?" godanya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Punya Bapak selalu begini kalau bangun. Sempurna, kan? Keras banget. Penis ini yang semalam membombardir memek ustadzah. hehe"

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku tahu, ia sedang mengujiku. Ia mencoba menarikku lebih dalam ke dalam permainannya. "Iya, Pak..Terimaksih ya semalam." jawabku, suaraku parau.

"Sama-sama ustadzah, Sini Ustadzah, sentuh," perintahnya, suaranya melembut, penuh rayuan. "Rasakan bagaimana kerasnya ini. Ini yang akan membuat Ustadzah ketagihan di entot kontol besar nanti."

Aku menggeleng, mencoba menolak. "Jangan, Pak... aku takut..."

"Kenapa, Sayang?" bisiknya, tangannya meraih tanganku, lalu menuntunku untuk menyentuh penisnya yang tegang. "Bapak tidak akan gigit kok. Ustadzah harus berani. Lihatlah, kontol ini milikmu sekarang. Setelah ini, kamu tidak perlu repot-repot lagi berfantasi dengan laki-laki lain di dunia maya. Cukup hubungi Bapak saja."

Aku memejamkan mata, merasakan sensasi itu. Penisnya begitu besar, begitu keras, dan panas. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak, tapi sentuhan itu terlalu nyata. Aku mulai mengocoknya perlahan, mengikuti irama desahanku.

"Ahh... iya, Ustadzah... begitu... terus... lebih cepat," bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Ustadzah, Bapak penasaran banget, bibir Ustadzah yang indah itu, pasti bisa bikin Bapak keenakan, mau coba lagi enggak, Ustadzah? Kamu tidak usah malu, di dalam mukena ini, kamu bebas berbuat apa pun."

Ia menyeringai, matanya menatapku lekat-lekat. Aku menghentikan kocokanku, bingung. "Maksud Bapak?" tanyaku, suaraku bergetar.

Ia tertawa, tawa yang terdengar kejam di telingaku. "Iya, Sayang. Bapak akan buat Ustadzah lebih keenakan. Ustadzah tidak perlu khawatir dengan Mas Dimas. Bapak sudah kirimkan videomu semalam ke Mas Bims. Mas Bims bilang, Dia suka banget, dia sudah kasih izin buat aku ngentotin ustadzah."

Aku tersentak, tubuhku membeku. Mataku membelalak. Videoku? Mas Bims? Kasih izin? Pikiranku berputar tak karuan. Ia tahu. Ia melihatnya.

Untuk menyetubuhiku dia harus minta izin mas bims, bukan nya izin mas dimas sebagai suami sah ku, seakan-akan mas bims punya kendali penuh atas kepemilikan tubuhku untuk di setubuhi siapapun. Tapi aku tak terlalu peduli.

"Sini, Sayang, mendekat," bisik Pak Budi, suaranya serak dan menuntut. Ia menarik tubuhku, membiarkanku bersandar di dada bidangnya yang masih hangat. Tangan besarnya merayap di punggungku, lalu dengan santai melingkar ke depan, meremas payudaraku dari luar mukena. Sentuhannya terasa begitu nakal, membuatku merinding.

"Kamu gak pake bra ya, Ustadzah?" tanyanya, suaranya bernada menggoda, dan aku hanya bisa mengangguk pelan. "Udah mulai binal yaa? Hehe. Aku suka," jawab Pak Budi, tawanya terdengar penuh kemenangan.

Ia menuntunku untuk turun dari dadanya, membiarkan tubuhku berlutut di depannya. "Sekarang, hisap kontol Bapak, Ustadzah. Aku akan buat kamu lupa dengan suamimu."

Aku hanya bisa pasrah, memejamkan mata, dan membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini. Tanpa sadar, aku menganggukkan kepala, ku masukkan penisnya ke dalam cadarku, kepalaku perlahan turun mengulum penisnya. Sensasi penisnya yang besar dan keras di dalam mulutku, perpaduan sentuhan tangannya di payudaraku, membuatku gila. Aku tahu, aku sudah tidak bisa kembali.

Aku menggenggam penisnya yang besar itu, jari-jariku melingkarinya dengan erat. Kepalaku naik turun, mengulum penis Pak Budi. Desahannya membuatku semakin berani. "Ustadzah, kamu hebat banget... pintar sekali... ahhh..." bisiknya, tangannya mengusap-usap kepalaku, mempercepat irama hisapanku.

"Ahh… Ustadzah… jilatanmu, hisapanmu… Ahh… enak banget, Sayang," desahnya, suaranya serak, matanya terpejam, menikmati setiap gerakanku. "Aku suka wanita sepertimu, di luar alim dan polos, tapi di dalam... Ahhh... liar banget."

"Ustadzah, apa kamu pernah mencicipi punya suamimu seperti ini? Apa kontol dia keras seperti ini? Pasti tidak, kan?" tanyanya, suaranya dipenuhi ejekan. "Ayo, Ustadzah, jangan malu. Nikmati saja... ini lebih nikmat dari punya suamimu..."

Aku menelan ludah, air mataku menetes. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku terus mengulumnya, merasa seperti budak nafsu yang tidak berdaya. Ia menarikku lebih dekat, tangannya yang lain memegang daguku, memaksaku untuk menatapnya.

"Ustadzah, kamu harus berjanji... kamu akan terus begini. Bapak suka... Bapak akan buat kamu lebih bahagia... Bapak akan berikan apa saja yang kamu mau..."

Setelah cukup puas mengulum penis Pak Budi, aku merasa lemas tak berdaya. Pak Budi menarikku, mengangkat daguku, membuat mata kami bertemu. Ia menatapku lekat-lekat, senyum misterius mengembang di bibirnya.

"Ustadzah..." bisiknya, suaranya dalam. "Ustadzah… aku sudah merasakan mulutmu yang lembut dan vaginamu yang sempit, tapi ada satu lagi yang belum pernah aku lihat dan rasakan," bisiknya. " Sekarang, Bapak minta satu hal. Boleh?"

Aku hanya mengangguk, napasku masih terengah. "Apa, Pak...?"

"Buka cadarmu, aku ingin melihat wajahmu yang cantik secara langsung" pintanya.

Jantungku berdebar kencang. Aku menggelengkan kepala. "Jangan, Pak... Aku tidak bisa."

"Kenapa? Kamu malu?" godanya, jemarinya membelai bibirku. "Kamu tidak perlu malu. Bapak sudah lihat tubuhmu, dan Bapak sangat suka. Sekarang Bapak ingin lihat wajah cantikmu, lihat bagaimana ekspresi keenakanmu saat Bapak menggenjotmu. Ayo, Ustadzah, jangan sembunyikan kecantikanmu dari Bapak."

"Tidak... tidak, Pak... aku takut..." rintihku.

Pak Budi tertawa, tawa yang penuh rayuan. Ia memegang daguku, lalu perlahan menurunkan tangannya ke selangkanganku dari luar mukena, mengusap celah di antara pahaku. "Ustadzah, kamu harus berani. Kalau kamu berani, Bapak janji, kenikmatan yang tadi kamu rasakan akan berlipat-lipat ganda. Bapak akan buat kamu lebih keenakan. Kamu gak mau, Ustadzah?"

Aku terdiam, menelan ludah. Aku memikirkan tawaran Pak Budi. Kenikmatan yang tadi dan kemarin aku rasakan sudah membuat seluruh tubuhku gemetar. Jika Pak Budi berjanji akan memberikan kenikmatan yang lebih, apakah aku bisa menolak?

"Ustadzah, jangan ragu. Bapak tahu kamu mau," bisik Pak Budi, suaranya meyakinkan. "Bapak tahu kamu suka dengan penis Bapak yang besar ini, kan? Bapak akan masukkan kontol ini ke dalam mulut Ustadzah lagi, dan Bapak akan membiarkan Ustadzah mengulumnya sampai Ustadzah puas. Tapi, dengan satu syarat, Bapak harus melihat wajah Ustadzah. Bapak ingin lihat bagaimana Ustadzah keenakan saat mengulum kontol Bapak ini."

Aku terperangkap dalam jebakan Pak Budi. Aku tergoda oleh janji kenikmatan yang lebih besar, dan di saat yang sama, aku merasa tak berdaya untuk menolak. Perlahan, tanganku terangkat, menggapai tali cadarku. Jari-jariku gemetar saat aku melepaskan ikatan itu. Cadar yang selama ini melindungiku, kini terlepas, memperlihatkan wajahku yang cantik.

Pak Budi tertegun. Ia menatapku lekat-lekat, matanya memancarkan kekaguman. "Masya Allah, Ustadzah... wajahmu benar-benar sempurna. Kamu cantik sekali... lebih cantik dari yang Bapak bayangkan," bisiknya, suaranya dipenuhi ketulusan. "Sekarang, Bapak akan berikan apa yang Bapak janjikan. Ayo, Sayang. Nikmati Bapak. Nikmati setiap inci kontol Bapak."

Pak Budi tersenyum, lalu menarik kepalaku, mengarahkannya kembali ke penisnya yang tegak. "Ayo, Sayang. Jadilah wanita binal yang bapak suka. Ayo, Ustadzah. Kontol Ini lebih baik dari punya suamimu."

Tanpa sadar, aku kembali mengulum penis Pak Budi. Di dalam hatiku, aku merasa hampa, namun tubuhku terasa hidup, merasakan kenikmatan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.

Aku terus mengulum penis Pak Budi, menelan setiap inci dari kejantanannya yang besar itu. Sambil kepalaku naik turun, tangan Pak Budi naik ke wajahku. Ia mengelus-elus pipiku dengan lembut, gerakannya seolah gemas melihat wajahku.

"Masya Allah, Ustadzah... kamu cantik banget," bisiknya, suaranya serak. "Wajahmu sempurna... Aku bisa gila kalau lihat kamu begini terus."

Aku melepaskan hisapanku sejenak, menatap matanya yang dipenuhi nafsu. "Penis Bapak juga sempurna... aku tergila-gila sama penis bapak..." rintihku, tak bisa lagi menahan hasrat.

Pak Budi tersenyum penuh kemenangan. Ia kemudian menarikku, lalu merebahkan ku. Ia sendiri jongkok di depanku, penisnya yang besar dan tegang kini berada tepat di depan wajahku. "Sekarang, hisap lagi, Sayang," perintahnya, suaranya serak. "Hisap sampai Bapak puas."

Aku menurut, kembali mengulum penisnya. Di tengah hisapanku yang brutal, tangan kirinya bergerak. Ia mengangkat ujung mukenaku, menyelipkan tangannya ke dalam, dan mengelus lembut pahaku. "Pahamu mulus banget, Ustadzah... Aku suka."

Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau.

Tangan kirinya terus naik, jari-jarinya yang kasar menyentuh vaginaku yang basah. "Ahh... sudah basah banget memekmu, Ustadzah... Kamu menginginkan ini, kan?" bisiknya. "Kamu suka sentuhan Bapak, kan?"

"Iya, Pak... ahh... iya..." desahku, kepalaku terus naik turun.

Bersamaan dengan itu, tangan kanannya bergerak. Ia menyentuh payudaraku dari luar mukena. Ia meremasnya, gerakannya begitu lihai dan penuh nafsu. Aku menjerit pelan, tak bisa menahan kenikmatan yang membanjiri seluruh tubuhku.

"Ahh... Ustadzah... payudaramu ini... kencang sekali..." bisiknya. "Aku suka. Aku suka semuanya dari Ustadzah... Kamu adalah wanita paling seksi yang pernah Bapak temui... Badanmu sempurna."

Aku tidak bisa berkata-kata, hanya mendesah dan terus mengulum. Aku mencengkeram erat penisnya, dan sesekali aku memuji. "Penis Bapak juga... besar banget, Pak.. penis terbesar yang pernah aku temui... aku suka..." rintihku, air mataku mengalir, bukan karena sedih, tapi karena kenikmatan yang luar biasa. Aku tahu, aku sudah sepenuhnya dikendalikan oleh nafsu, dan aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin kenikmatan itu terus berlanjut.

"Iya, Ustadzah, kontolku sekarang punyamu," bisik Pak Budi, suaranya serak. Ia mengelus kepalaku. "Kapan pun kamu mau, kontol ini pasti datang ke sini untuk puasin kamu. Kamu cuma perlu bilang. Kamu mau ini,"

Aku tidak bisa menahan diri, tanganku meraih penisnya, mengelusnya lembut. "Ahh... terima kasih, Pak... ini penis punyaku... ahh... sempurna sekali..." rintihku, suaraku tercekat. "Pak, aku mau penis ini, ahh... masuk ke vaginaku lagi, Pak... ahh..."

Pak Budi tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat kejam di telingaku. Ia menggelengkan kepala, "Sabar, Ustadzah... nanti kontol Bapak akan buat Ustadzah keenakan... Sabar, kita main pelan-pelan ya... kita nikmatin hari yang panjang ini. Kamu kan sudah bilang kalau kamu suka penis Bapak, jadi sekarang tugasmu adalah nurut, ya."

Aku hanya bisa mengangguk pasrah, "Iya, Pak... ahhh... aku nurut..."

Ia kemudian melepaskan tanganku. Ia mengangkat penisnya yang tegang, lalu menampar-nampar di wajahku. Aku terkesiap, sensasi hangat dan keras itu membuatku mendesah tak karuan.

"Ahhh... Ustadzah... wajah kamu cocok banget ditampar kontol gede Bapak," bisiknya, suaranya serak. Ia terus menampar, gerakannya pelan, namun intens. Ia menyeringai, "Ahhh... Ustadzah... rasakan ini... rasakan bagaimana kontol Bapak ini... rasakan kehangatannya... rasakan besarnya... ahh... Bapak bisa gila..."

Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini. Sensasi penisnya yang hangat dan keras menampar-nampar pipi, hidung, dan bibirku membuatku gila.

Pak Budi terus menampar-nampar penisnya di wajahku. Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini. Sensasi itu begitu aneh, namun memabukkan. Kemudian Ia menghentikan gerakannya.

"Ustadzah," bisiknya, suaranya melembut, penuh bujukan. Ia meraih kedua tanganku, menggenggamnya erat. "Bapak sudah lihat wajah Ustadzah yang cantik. Tapi Bapak ingin lihat kamu seutuhnya. Buka mukenamu ya ustadzah?"

Jantungku berdebar kencang. Aku tahu, jika aku melepas mukena ini, aku akan telanjang bulat. Rambutku, yang selama ini hanya dilihat oleh suamiku, akan terlihat olehnya. Rasa takut yang luar biasa menyergapku. Aku menggelengkan kepala dengan cepat.

"Jangan, Pak... aku tidak mau.. aku angkat aja mukena nya ya pak, jangan di lepas.." rintihku, suaraku parau.

Pak Budi tertawa pelan. "Kenapa, Sayang? Kamu malu? Kamu tidak perlu malu. Tubuhmu ini terlalu indah untuk disembunyikan. Aku sudah tahu kalau di dalam mukena ini, kamu tidak pakai dalaman apa-apa. Kamu itu suka kan, main-main seperti ini? Apalagi kalau kamu telanjang bulat dan rambutmu terurai, kamu akan semakin seksi dan menggoda. Kontolku pasti suka lihat kaku seperti itu ustadzah"

Ia melepaskan genggaman tangannya, lalu menyentuh pundakku dengan lembut. Jemarinya perlahan mengelus pundakku, membuatku merinding. "Bapak janji, Bapak tidak akan buat kamu rugi. Bapak akan buat kamu puas. Kamu akan merasakan nikmat yang tidak pernah suamimu berikan. Kamu akan tahu bagaimana rasanya jadi wanita yang paling diinginkan, wanita yang paling seksi. Ayo, Sayang... kamu harus berani sedikit. Jangan bohongi dirimu sendiri. Kamu menginginkan ini."

Rayuannya bagai sihir, meluluhkan semua pertahananku. Aku memejamkan mata, tak bisa lagi menolak. Aku tahu, aku sudah jatuh terlalu dalam. Semua kata-katanya menusuk, tapi terasa begitu membebaskan. Ia benar. Aku ingin ini. Aku ingin kenikmatan yang lebih.

Aku mengangkat kepalaku, menatap matanya yang memancarkan nafsu. "Yaudah, Pak... Bapak aja yang lepasin..." bisikku, suaraku nyaris tak terdengar, sebuah pengakuan kalah. Aku bangkit dari kasur, turun ke lantai, berdiri di depannya.

Pak Budi menyeringai, senyum penuh kemenangan. Ia juga bangkit dari kasur, lalu dengan perlahan, ia menarik ujung bawah mukenaku ke atas kepala. Lalu dia lepaskan dan di lepar ke lantai, menampakkan tubuhku yang telanjang bulat. Rambutku yang selama ini tertutup kini tergerai, jatuh menutupi punggungku.

Pak Budi tertegun. Ia menatapku, matanya membelalak, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia menghela napas, suaranya serak, penuh kekaguman. "Masya Allah, Ustadzah... kamu benar-benar sempurna... Tubuhmu putih, mulus, dan kencang. Rambutmu indah sekali... Aku tidak pernah melihat wanita seindah ini."

Ia membiarkan mukena itu jatuh ke lantai, Kini, kami berdua sama-sama telanjang bulat. Aku merasa malu, tapi di saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang terasa begitu memabukkan.

"Ayo, Sayang... kita akan bermain," bisiknya, suaranya penuh kemenangan. Ia melangkah ke arahku, dan aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini.

Pak Budi meraih tanganku, ia menuntunku ke arah meja rias. Aku terdiam, mengikuti setiap langkahnya. Di sana, di depan kami, terdapat kaca besar yang memantulkan seluruh tubuh kami yang telanjang bulat. Jantungku berdebar kencang, perasaanku campur aduk antara rasa malu dan takjub.

"Lihat, Ustadzah... lihatlah," bisiknya, suaranya serak. Ia memelukku dari belakang, menempelkan tubuhnya yang kekar dan tua ke punggungku yang mulus. "Lihat bagaimana kita terlihat di kaca itu."

Aku menatap pantulan kami di cermin. Sisi kanan kami adalah aku, seorang wanita yang baru saja melepas semua pakaiannya, tubuhku putih, mulus, dan kencang. Di sampingku, Pak Budi, dengan kulitnya yang keriput dan tubuhnya lumayan kekar di usianya. Pemandangan itu begitu kontras, begitu gila.

"Ustadzah, kamu sangat sempurna," bisiknya, suaranya penuh kekaguman. Ia menempelkan wajahnya di pipiku. "Lihatlah, kamu seperti bidadari, dan Bapak, Bapak ini cuma laki-laki tua yang menginginkan tubuhmu."

Namun, mataku tak bisa lepas dari satu hal, penisnya. Penisnya yang besar dan tegang menempel di pantatku, mengacung, seolah-olah ingin membelah pantatku. Aku bisa merasakan setiap uratnya yang menonjol, dan sensasi itu membuatku gila.

"Lihat Ustadzah... kontol ini tegak untukmu. Hanya untukmu..." bisiknya lagi. "Dan lihatlah pantatmu. Begitu indah... begitu kencang... Kontol Bapak tidak tahan melihatnya. Kontol ini ingin masuk ke dalam vaginamu yang sempit lagi Ustadzah."

Aku hanya bisa mendesah, tak bisa berkata-kata. "Ahh... Pak..." rintihku, suaraku parau.

Ia terus menggerayangi tubuhku dari belakang, meremas payudaraku, mengelus pahaku, dan sesekali memaju-mundurkan penisnya di pantatku. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan ini.

"Ustadzah, kamu sudah binal sekarang," bisiknya. "Tidak ada yang perlu kamu sembunyikan lagi. Ini rahasia kita berdua. Kamu akan menjadi wanita paling berani yang pernah ada. Dan Bapak yang akan memuaskanmu."

Aku mengangguk, air mata mengalir dari mataku, aku telah jatuh terlalu dalam..

Bersambung....


 

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟒𝟏 𝐀𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 (𝟑)

Kemudian aku ke depan rumah. Aku membuka pintu rumahku, ada pria tua berumur sekitar 40-an. Aku memandang mukanya, aku kaget. Orang ini adalah orang yang fotonya dikirim Mas Bims kepadaku dulu, orang dengan foto penis yang sangat besar. Aku kaget, tapi aku berusaha tenang.

"Assalamualaikum, Ustadzah," salamnya.

"Waalaikumsalam, Pak," jawabku, suaraku sedikit bergetar.

"Gini, Ustadzah, aku disuruh Pak Bims ke sini, untuk mengirim kotak ini."

Aku menerima kotaknya, hatiku berdebar tak karuan. Aku menyuruhnya masuk ke sofa ruang tamu, dan ia menurut. Aku membuka kotaknya, berisi gelang dan kalung. Ada selembar surat dari Mas Bims.

Aku kemudian membuka ponselku, ada chat dari Mas Dimas.

Mas Dimas: Dek, kamu baik-baik aja kan? Apa yang dia berikan?

Aku memfoto kotak itu, dan sebuah suratnya yang belum kubaca. Pikiranku kalut. Pria tua itu kini duduk di hadapanku, menatapku dengan mata penuh gairah. Aku tahu, ini adalah awal dari sebuah permainan yang lebih gila.

Aku menelan ludah, hatiku berdebar tak karuan. Pria tua suruhan Mas Bims itu duduk di hadapanku, menatapku dengan mata penuh gairah. Tanganku gemetar saat membuka surat yang ada di dalam kotak. Isinya hanya satu kalimat, tapi cukup untuk membuat duniaku berputar.

“Sayang, aku tahu kamu berani. Aku sudah mengirimkan hadiahnya. Sekarang, aku butuh bukti. Kirimkan foto payudaramu sebagai ucapan terima kasih. Jangan malu, dan harus orang suruhanku yang ngefoto, kamu pasti bakal suka.”

Aku menatap surat itu, lalu kembali menatap pria tua di depanku. Ia tersenyum penuh kemenangan, seolah tahu apa isi surat itu. Aku mengambil ponselku, dan Mas Dimas sudah membalas chat-ku.

Mas Dimas: Apa isi suratnya, Dek?

Aku: Mas Bims minta fotoin payudaraku, Mas, buat sebagai terima kasih.

Mas Dimas: Kamu mau, Dek?

Aku: Adek gak tau, Mas, Adek takut. Apa yang harus Adek lakuin, Mas?

Mas Dimas: Lakuin aja, Dek. Jangan takut, Mas akan nemenin kamu.

Balasan Mas Dimas membuatku semakin mantap. Aku terkejut, tapi di saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku merasa berani. Aku merasa punya kendali. Aku tahu, ini adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal, tapi entah mengapa, aku tidak mau menghentikannya.

Aku menaruh ponselku, lalu kembali menatap pria tua di depanku. Aku mencoba terlihat santai, meskipun di dalam hatiku, badai tengah berkecamuk. "Pak, nama saya Tiara. Bapak siapa?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar.

"Aku Budi," jawabnya, suaranya serak. "Salam kenal ya, Ustadzah."

"Salam kenal juga, Pak," balasku. "Ohh iya, ini suratnya beneran Mas Bims minta itu ya, Pak?"

"Iya, Ustadzah. Dia minta aku fotoin dada Ustadzah, dengan pakai gelang dan kalung di kotak ini." Ia menatapku, matanya dipenuhi nafsu yang membara. "Gimana, Ustadzah? Kamu mau? Mas Bims bilang, dia akan kasih yang lebih kalau Ustadzah mau."

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku tahu, ia tidak sedang berbicara tentang uang. Ia berbicara tentang kenikmatan. Ia berbicara tentang hasrat yang selama ini kupendam. Aku menunduk, tak berani menatapnya. Aku tahu, aku sudah jatuh terlalu dalam, dan aku tidak bisa lagi kembali.

"Aku... aku enggak tahu, Pak..." rintihku. "Aku takut..."

"Jangan takut, Ustadzah," bisiknya, suaranya melembut, penuh rayuan. "aku disini gak akan memaksa kok, kalau ustadzah gak mau ya gpp kok.."

Aku berpikir sejenak. Mas Dimas sudah memberiku izin. Entah apa alasannya, tapi restunya membuatku merasa lebih berani. Aku menatap Pak Budi, mencoba menenangkan diri. "Ya sudah, Pak, aku mau," jawabku, suaraku masih sedikit bergetar. "Tapi di dalam studioku saja ya, Pak."

Senyum kemenangan terukir di wajahnya. "Oke, Ustadzah."

Aku berdiri, melangkah ke arah studiku. Pak Budi mengikutiku dari belakang, langkahnya terasa berat dan terburu-buru. Setelah sampai di studio, aku berdiri di tengah ruangan, hatiku berdebar tak karuan. "Aku harus gimana, Pak?" tanyaku, suaraku parau.

"Buka gamisnya aja Ustadzah, sama branya. Lalu pakai kalungnya," jawabnya sambil mengambil ponsel dari saku celana. Ia menyalakannya dan bersiap untuk memotret.

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku menuruti perkataannya. Dengan tangan yang bergetar, aku membuka resleting gamisku dari depan. Kain gamis yang longgar itu meluncur turun, memperlihatkan tubuhku yang hanya terbalut bra merah. Pak Budi mendesah, matanya membelalak, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.

"Masya Allah, Ustadzah, payudaramu besar sekali," bisiknya, suaranya serak. "Bra merah itu terlihat begitu seksi di tubuhmu."

Aku merasa malu, tapi anehnya, aku juga menyukai sensasi ini. Aku terus melakukannya. Aku melepas bra-ku, membiarkan payudaraku yang besar dan mulus terpampang jelas di hadapannya.

"Sekarang, Ustadzah, pakai kalungnya," perintahnya.

Aku mengambil kalung yang ada di dalam kotak dan memakainya. Kalung itu terasa dingin di leherku, sebuah sensasi yang aneh di tengah semua panas dan gairah ini.

"Sekarang, Ustadzah, berpose yang bagus," bisiknya. "Anggap saja aku ini suamimu. Dan kamu, kamu adalah ratu."

Aku kembali berpose sesuai arahannya. Dia terus mengarahkan poseku, suaranya serak dan menuntut. "Lihat ke kamera, Ustadzah... ya, begitu... sekarang, miringkan sedikit tubuhmu..."

Aku menuruti setiap perintahnya, merasa seperti boneka yang bisa ia mainkan sesuka hati. Aku tahu, ini adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal. Tapi entah mengapa, aku tidak mau menghentikannya. Aku hanya ingin kenikmatan itu. Aku hanya ingin puas.

"Sekarang, Ustadzah, sentuh payudaramu... ya, begitu... remas pelan-pelan," bisiknya. "Aku suka melihatmu seperti ini, terlihat seksi banget."

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku meremas payudaraku sendiri, mengikuti irama desahanku.

"Masya Allah... Ustadzah... cantik banget..." bisiknya lagi. "Sekarang, Ustadzah lepas semua gamisnya kebawah lalu sentuh vaginamu... ya, begitu... dari luar celana dalammu..."

Aku menuruti setiap perintahnya. Tanganku gemetar, tapi aku terus melakukannya. Aku meloloskan gamisku kebawah kemudian aku menyentuh vaginaku dari luar celana dalam, merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri.

"Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

"Ustadzah suka kan?" tanyanya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Aku tahu Ustadzah suka. Aku akan membuat Ustadzah lebih keenakan."

"Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku merasa malu, hanya memakai celana dalam, hijab, dan cadar di hadapan Pak Budi yang penisnya selalu aku kagumi lewat foto yang dikirim Mas Bims.

"Ustadzah suka kan?" tanyanya, suaranya serak, penuh kemenangan.

Aku tidak bisa menjawab, hanya mengangguk pelan. Ia terus mengarahkan poseku, setiap perintahnya membuatku semakin tenggelam dalam sensasi yang aneh dan memabukkan ini. "Ustadzah, sekarang sentuh putingmu," bisiknya, suaranya serak. "Pilin pelan-pelan, seperti yang kamu lakukan di live-mu kemarin. Aku suka melihatmu keenakan seperti itu."

Aku menuruti setiap perkataannya, tanganku gemetar saat memilin putingku. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku mendesah hebat. "Ahhh... ahh... Mas... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Ia tersenyum puas, matanya tak lepas dari tubuhku. Aku melirik ke celananya, dan aku terkejut. Celananya mengembang sangat besar. Aku bisa membayangkan penisnya yang ereksi, penis yang sama yang kulihat di foto Mas Bims. Perasaan jijik dan gairah bercampur aduk, membuatku gila.

"Ustadzah, sentuh vaginamu... ya, begitu... dari luar celana dalammu," bisiknya lagi.

Aku menuruti setiap perintahnya, tanganku gemetar, tapi aku terus melakukannya. Aku menyentuh vaginaku dari luar celana dalamku, merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Ia tersenyum, lalu mendekat. Tangannya yang besar dan kasar menyentuh pinggulku, membelainya pelan. "Aku suka Ustadzah yang nakal," bisiknya. "Aku suka Ustadzah yang berani. Jangan malu, ini rahasia kita bertiga dengan mas bims. Kamu akan ketagihan."

Dia terus meremas payudaraku, memilin putingku. Aku mendesah. Tangannya yang kasar terasa begitu brutal, tapi sensasi itu membuatku semakin gila. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan ini.

Kemudian, dia menyuruhku melepas celana dalamku. "Lepas celana dalammu, Ustadzah. Aku ingin melihat semua keindahanmu," bisiknya, suaranya serak.

Aku nurut. Dengan tangan gemetar, aku membuka celana dalamku. Kain itu meluncur turun, memperlihatkan vaginaku yang basah. Kini, aku telanjang bulat, hanya memakai jilbab dan cadar.

Dia tersenyum penuh kemenangan, matanya memancarkan gairah yang membara. Dia menuntunku untuk berpose di kursi, dengan berbagai gaya sensual. "Duduk, Ustadzah... ya, begitu... sekarang, lebarkan kakimu..."

Aku menuruti setiap perintahnya, merasa seperti boneka yang bisa ia mainkan sesuka hati. Aku tahu, ini adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal. Tapi entah mengapa, aku tidak mau menghentikannya. Aku hanya ingin kenikmatan itu. Aku hanya ingin puas.

Dia terus mengarahkan poseku, setiap perintahnya membuatku semakin tenggelam dalam sensasi yang aneh dan memabukkan ini. "Ustadzah, sentuh putingmu... ya, begitu... pilin pelan-pelan," bisiknya. "Aku suka melihatmu keenakan seperti ini."

"Masya Allah... Ustadzah... cantik banget..." bisiknya lagi. "Sekarang, Ustadzah, sentuh vaginamu... ya, begitu... Aku suka melihatmu keenakan seperti ini."

Aku menuruti setiap perkataannya, tanganku gemetar, tapi aku terus melakukannya. Aku menyentuh vaginaku, merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Dia tersenyum, lalu mendekat. Tangannya yang besar dan kasar menyentuh pinggulku, membelainya pelan. "Aku suka Ustadzah yang nakal," bisiknya.

Dia terus meraba pinggulku, pahaku, lalu membelai bibir vaginaku. Aku mendesah hebat. Sensasi jari-jarinya yang kasar di kulitku yang sensitif membuatku melengkung. Aku tidak bisa mengendalikan diri, tubuhku bergerak tak terkendali mengikuti setiap sentuhannya. "Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau. "Terus, Pak... lebih dalam..."

Kemudian dia menaruh ponselnya di tripod di mejaku. "Sekarang kita sesi bikin video ya, Ustadzah. Kita bikin berdua. Aku sebagai model laki-lakinya," bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan. Ia tersenyum, lalu dengan cepat melepas semua bajunya. Aku kaget melihat penisnya yang sangat besar. Kini aku melihat penis itu langsung. Penis yang biasa aku lihat dari foto. Penisnya hitam, besar, dan tegang, lebih besar dari yang kubayangkan. Jantungku berdebar tak karuan, perpaduan antara rasa takut dan gairah yang tak bisa kuingkari.

Setelah telanjang, dia memencet tombol rekam di ponselnya. Kemudian dia menuntunku berdiri, menuntunku untuk berpose berdua. Pose yang sangat sensual. "Ustadzah, sekarang kita berpose ya," bisiknya. "Aku akan peluk Ustadzah dari belakang, tangan Ustadzah sentuh penisku."

Aku menuruti setiap perintahnya. Dia memelukku dari belakang, tangan kanannya meremas payudaraku, sementara tangan kirinya memegang tanganku, menuntunku untuk menyentuh penisnya. Aku mengocok penisnya, mengikuti irama desahanku. Aku mendongakkan kepala, memejamkan mata.

"Ustadzah, sekarang kita ciuman," bisiknya.

Pak budi menyibakkan cadarku kesamping, kemudian Kami berciuman. Bibirnya yang kasar dan berbau rokok terasa begitu asing, namun aku membalasnya dengan penuh nafsu, seolah-olah aku ingin melupakan semua yang pernah terjadi.

"Masya Allah... Ustadzah... enak banget ciuman sama Ustadzah..." desahnya, suaranya serak. "Sekarang, Ustadzah, kita berpose yang lebih liar. Sini tangannya ke tembok, terus pantatnya agak nungging." Dia mengarahkanku.

Aku menuruti setiap perintahnya, merasa seperti boneka yang bisa ia mainkan sesuka hati. Aku menaruh tanganku di tembok, memposisikan pantatku menungging. Dia memelukku dari belakang, meremas payudaraku dengan brutal. Aku bisa merasakan penisnya yang tegang menempel di pantatku.

"Ustadzah... pantat Ustadzah bagus banget," bisiknya, suaranya serak. "Aku suka. Aku suka banget."

Pinggangnya bergoyang seakan-akan sedang menggenjot tubuhku, penisnya terus bergesekan ke pantatku. Kemudian, dia menaruh penisnya di sela-sela pahaku, menggeseknya. Tangan kanannya terus meremas payudaraku, sementara tangan kirinya kebawah membelai vaginaku dari depan, kemudian memegang penisnya dari depan, menggesek-gesekkan penisnya ke bibir vaginaku. Aku mendesah hebat.

"Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

"Ustadzah suka kan?" tanyanya, suaranya serak, penuh kemenangan.

Terkadang, kepala penisnya yang besar didorong ke lubang vaginaku, membuatku sakit. Aku menjerit, tapi rasa sakit itu segera tergantikan oleh kenikmatan yang memabukkan. Kami berdua merasa nikmat, sampai aku merasakan mau orgasme.

"Ahh... Pak... terus... lebih kencang... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Aku terus mendesah, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini. Tiba-tiba, aku merasakan gejolak hebat di dalam diriku. Aku menjerit, "Ahhh! Aku mau keluar! Ahhhhhh!"

Tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali. Setelah itu, tubuhku lemas, ambruk di lantai. Dia mengangkat tubuhku, membiarkanku bersandar di dinding. Dia mengocok penisnya di depan mukaku dan menepuk-nepuk penisnya yang besar dan tegang ke cadarku, membuatku mendesah. "Ahhh... ahh... Pak..."

"Gimana, Ustadzah? Enak enggak?" tanyanya.

"Enak, Pak. Ahh..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Kemudian dia bangkit, berjalan ke arah ponselnya di tripod, lalu mematikan rekaman. Aku terdiam, napasku memburu, jantungku berdebar tak karuan.

Dia kembali ke arahku, menyeringai. "Ustadzah, sudah tidak aku rekam nih," bisiknya, suaranya serak. "Jadi sudah tidak perlu malu lagi. Ayo kita lakukan yang lebih nikmat dari ini."

Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menggendongku. Aku terkejut, tapi tidak menolak. Tubuhku terasa ringan, seolah-olah aku adalah boneka yang bisa ia mainkan sesuka hati. Dia berjalan keluar dari studio, menuju ke arah kamarku. "Ini kamar Ustadzah, kan?" tanyanya.

"Iya, Pak," jawabku, suaraku parau.

Kemudian dia masuk, lalu merebahkanku ke kasur. Dia merebahkan dirinya di sampingku, menyibakkan cadarku, lalu mencium bibirku. Aku membalas ciumannya dengan penuh nafsu. Bibirnya yang kasar dan berbau rokok terasa begitu asing, namun aku membalasnya dengan penuh nafsu, seolah-olah aku ingin melupakan semua yang pernah terjadi.

"Bibir Ustadzah manis banget," bisiknya, suaranya serak. "Aku suka. Aku suka banget."

Dia menunduk, menciumi leherku, lalu mengulum putingku, menghisapnya dengan ganas. Sensasi itu begitu kuat, begitu memabukkan. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

"Ustadzah suka kan?" tanyanya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Aku tahu Ustadzah pasti suka. Aku akan membuat Ustadzah ketagihan."

Kemudian tangannya turun. Dia terus meremas payudaraku, memilin putingku, sementara tangan yang lain membelai vaginaku. Aku mendesah keras karena perbuatannya. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan ini.

Tiba-tiba dia menghentikan perbuatannya. Dia jongkok di sampingku, penisnya tepat di depan mukaku. Aku memperhatikan penisnya. Sangat besar sekali penis ini. Penis yang sama yang kulihat di foto Mas Bims. Perasaan jijik dan gairah bercampur aduk, membuatku gila.

"Ustadzah, sudah pernah nyepong kontol belum?" tanyanya, suaranya serak.

"Belum, Pak," jawabku bohong. Aku tidak ingin ia tahu aku sudah pernah melakukannya.

"Mau gak Bapak ajarin?"

Aku diam, bingung. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Di dalam hatiku, ada rasa takut yang luar biasa akan penis nya yang sangat besar ini, tapi juga rasa penasaran yang tak bisa kuingkari.

Dia mengartikan keheninganku sebagai tanda setuju. Kemudian dia memegang bahuku, "Duduk aja, Ustadzah, biar enak kalo nyepong." Kemudian dia turun dari kasur, berdiri di lantai, lalu aku diposisikan duduk di ujung kasur. Posisi penisnya pas di depan mukaku.

Kemudian dia menyibakkan cadarku ke samping, dan aku disuruh menjilati kepala penisnya. Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku menjilatinya, merasakan rasanya yang aneh, tapi entah mengapa, terasa begitu memabukkan.

"Ahh... Ustadzah... enak banget..." desahnya. "Sekarang, Ustadzah, masukkan kontolku ke mulutmu."

Aku menuruti setiap perkataannya. Aku memasukkan penisnya. Penis ini sangat besar. Mulutku hanya mampu menampung sampai leher penisnya saja. Pak Budi mendesah, tangannya meremas payudaraku dan vaginaku. Lalu kami berdua mendesah.

Lalu Pak Budi memasukkan satu jarinya ke vaginaku. "Ahh, Pak, sakit!" jeritku, suaraku parau.

"Gilaa, sempit banget memek Ustadzah," bisiknya. "Bayangin memek Ustadzah yang sempit ini dimasukin kontol besarku."

Aku memejamkan mata, membayangkan ucapannya. Pikiranku melayang, membayangkan bagaimana rasanya jika penisnya yang besar itu benar-benar masuk ke dalam vaginaku. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku mendesah hebat, tak bisa menahan diri.

Jarinya terus keluar masuk di dalam vaginaku. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku mendesah hebat. Di saat yang sama, tangan satunya terus meremas payudaraku, memilin putingku. Aku tergila-gila dengan penis Pak Budi ini, seperti monster, besar banget.

"Ahh... Pak... terus... lebih cepat..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam sensasi itu. Penisnya yang besar di mulutku, jari-jarinya di vaginaku, dan remasan di payudaraku, semua itu membuatku gila.

Kemudian dia melepaskan tangannya, dan melepaskan penisnya dari mulutku. Dia sedikit mendorong bahuku ke belakang. Aku terdiam, bingung dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Dia menyeringai, matanya memancarkan nafsu yang membara. Dia melebarkan kakiku, lalu menjilati vaginaku.

Sensasi dingin dan basah itu membuatku menjerit pelan, "Ahhh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Dia terus menjilati, mengulum, dan menghisap, gerakannya semakin cepat, semakin intens. Aku tidak bisa menahan diri. Aku mendesah, tubuhku menegang.

"Ustadzah, memekmu manis sekali," bisiknya, suaranya serak. "Aku suka. Enak banget memek ustadzah"

Aku hanya bisa mendesah, tak bisa berkata-kata. "Ahh... ahh... terus, Pak... lebih cepat... Ahhh!" Suaraku parau, penuh kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Dia terus menjilati, mengulum, dan menghisap, gerakannya semakin cepat, semakin intens. Aku mendesah, tak bisa lagi menahan diri.

Tiba-tiba, dia mengangkat kepalanya, menatapku, matanya dipenuhi gairah. "Ustadzah, saatnya menu utama," ucapnya.

"Maksudnya apa, Pak?" tanyaku, suaraku parau.

Dia tidak menjawab, lalu dia mengangkat tubuhnya berdiri, kemudian mengangkangkan kakiku. Dia memposisikan tubuhnya di tengah-tengah kakiku yang mengangkang, lalu dia menindih tubuhku. Dia menyibakkan cadarku ke samping, lalu menciumku. Ciumannya begitu menuntut, begitu liar, berbeda dari biasanya. Aku membalas ciumannya dengan penuh nafsu, seolah-olah aku ingin melupakan semua yang pernah terjadi.

Tangan kirinya ke bawah, memegang penisnya. Dia menggesek-gesekkan penisnya di bibir vaginaku, dan kemudian memposisikan kepala penisnya yang besar itu tepat di bibir vaginaku. Lalu mendorongnya pelan. Aku terkesiap, tubuhku membeku. Rasa sakit yang tajam itu menyentak kesadaranku, namun tubuhku tidak bisa menolak.

"Ahh, Pak, jangan gini," rintihku, suaraku parau, penuh ketakutan. "Ahh, sakit banget, Pak."

Dia tidak peduli, terus mendorong penisnya. "Tahan, Sayang, sebentar saja," bisiknya. "Setelah ini, kamu akan keenakan. Kamu akan merasakan kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya."

Aku memejamkan mata, isak tangis bercampur dengan desahan yang masih keluar dari bibirku. Aku tahu, ini bukan lagi permainan. Ini nyata. Rasa sakit itu, sensasi itu, semua ini terlalu jauh. Tapi, dorongan untuk melangkah lebih jauh, untuk mengetahui seberapa dalam aku bisa jatuh, terlalu kuat untuk kutahan.

"Ahh... Pak... jangan..." rintihku. "Aku tidak mau..."

Ia terus mendorongnya, dan aku bisa merasakan kepala penisnya membelah bibir vaginaku. Aku menjerit, "Ahhh! Pak! Sakit! Jangan!"

Air mataku sedikit mengalir, apakah ini saatnya aku bersetubuh dengan lelaki lain? Apakah aku sudah siap dengan ini semua? Aku sangat bimbang, tapi di sisi lain aku sangat menginginkan disetubuhi dengan penis gagah besar milik Pak Budi. Penolakanku hanya di mulut, sementara tubuhku tidak bisa menolak.

"Ahh, Pak, jangan gini," rintihku, suaraku parau, penuh ketakutan. "Ahh, sakit banget, Pak."

Dia tidak peduli, terus mendorong penisnya. "Tahan, Sayang, sebentar saja," bisiknya.

"Ahh... Pak... jangan..." rintihku. "Aku tidak mau..."

Ia terus mendorongnya, dan aku bisa merasakan kepala penisnya membelah bibir vaginaku. Aku menjerit, "Ahhh! Pak! Sakit! Jangan!"

Dia mengabaikan jeritanku, terus mendorong penisnya. Aku bisa merasakan setiap inci dari penisnya yang besar dan tegang itu masuk ke dalam vaginaku yang sempit. Rasa sakit itu begitu tajam, membuatku menjerit.

Dia menghentikan dorongannya. Aku melihat ke arah bawah dan menyadari penisnya sudah sepertiga yang masuk. Rasanya sakit sekali, air mataku sedikit mengalir. Dia menunduk, mencium bibirku, lalu berbisik, "Udah enakan, Ustadzah?"

Aku mengangguk pelan, berusaha menahan tangisku.

Kemudian, dia memundurkan penisnya. Lalu dia memasukkan lagi, begitu terus sampai aku merasa sangat enak. Rasa sakit yang tajam itu perlahan tergantikan oleh kenikmatan yang memabukkan. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Kemudian, dengan sekali hentakan, seluruh penisnya yang sangat besar itu masuk seluruhnya ke dalam vaginaku. Aku tersentak, menjerit kesakitan, air mataku mengalir deras. "Ahhh! Pak! Sakitttt!" teriakku, tubuhku kejang.

Pak Budi kemudian menenangkanku. Dia memelukku erat, mencium bibirku, dan membelai kepalaku. "Tahan, Sayang, sebentar saja," bisiknya. "Setelah ini, kamu akan keenakan. Kamu akan merasakan kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya."

Aku hanya mengangguk dan menangis, membiarkan air mataku membasahi pipi. Rasa sakit yang tajam itu masih terasa, tapi sentuhannya yang lembut perlahan meredakannya. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini.

Kemudian, Pak Budi mulai menggerakkan penisnya maju mundur. Perlahan, rasa sakit itu menjadi sangat nikmat. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi penisnya yang besar dan keras di dalam vaginaku yang sempit membuatku gila. Aku melengkung, mencengkeram sprei ranjang dengan erat.

"Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

"Ustadzah suka kan?" tanyanya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Aku tahu Ustadzah suka. Aku akan membuat Ustadzah ketagihan. Aku janji."

Dia terus menggerakkan pinggulnya, memaju-mundurkan penisnya di dalam vaginaku. Gerakannya yang lambat dan ritmis membuatku semakin gila. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... ahh... terus, Pak... lebih cepat... Ahhh!" Suaraku parau, penuh kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

"Ahhh... Pak... terus... lebih cepat... Ahhh!" Suaraku parau, penuh kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

"Gimana rasanya, Ustadzah, dientot kontol gede?" bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Enak, kan? Beda sama punya suamimu, kan?"

Aku tidak bisa menjawab, hanya mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi penisnya yang besar dan keras di dalam vaginaku yang sempit membuatku gila. Aku melengkung, mencengkeram sprei ranjang dengan erat. "Ahh... Pak... enak banget..." rintihku, suaraku parau.

"Aku tahu, Sayang," bisiknya lagi, "kamu butuh ini. Kamu butuh kepuasan yang tidak bisa suamimu berikan. Aku di sini untuk membuatmu puas."

"Ahh... Pak... aku mau keluar... ahhh..." rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan.

"Keluarin, Sayang... keluarin..." bisiknya. "Aku suka melihatmu keenakan seperti ini."

Dia terus menggerakkan pinggulnya, memaju-mundurkan penisnya di dalam vaginaku. Gerakannya yang brutal dan cepat membuatku semakin gila. Aku menjerit, "Ahhh! Aku keluar! Ahhhhhh!" Tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali. Setelah itu, tubuhku lemas.

Dia menempelkan wajahnya di leherku, menciumi leherku, lalu mengulum putingku, menghisapnya dengan ganas. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... terus..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Aku memejamkan mata, menikmati sisa-sisa orgasme yang baru saja meledak di dalam diriku. Pak Budi menghentikan genjotannya, namun penisnya masih menancap di vaginaku. Napasku memburu, tubuhku lemas, tapi aku merasa sangat puas.

Kemudian Pak Budi bilang, "Ustadzah, mau di atas gak? Pasti Ustadzah pengen naikin kontol gedeku ini kan?"

"Mau, Pak," jawabku, suaraku parau, penuh pengakuan.

Kemudian Pak Budi mencabut penisnya. "Ahh," desahku, sebuah sensasi hampa menyelimuti. Kemudian dia berbaring di kasur.

"Sini, Ustadzah," dia menuntunku untuk menduduki penisnya. Aku kemudian memposisikan tubuhku di atasnya, mengarahkan penisnya pas ke lubang vaginaku. Lalu aku menurunkan pinggulku pelan. "Ahhh... enak sekali rasanya," rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan yang memabukkan.

Kemudian aku mengambil selimut untuk menutupi perbuatanku. Begini aku merasa sedikit nyaman dan tidak malu. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam sensasi itu. "Gimana, Sayang? Enak enggak?" bisiknya, suaranya serak.

"Iya, Pak, enak banget," jawabku, suaraku parau. "Terus, Pak... Ahhh..."

Kemudian aku memaju-mundurkan pinggulku. Gerakanku pelan, ritmis, lalu semakin cepat. Setiap gerakanku membuatku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... lebih kencang... Ahhh! Enakkk!" rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

"Ustadzah, kamu hebat banget," bisiknya, suaranya serak. "Aku suka Ustadzah yang nakal. Aku suka Ustadzah yang berani. Jangan malu, ini rahasia kita berdua. Kamu akan ketagihan."

Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.

Kami berdua meracau tak karuan, aku terus menggenjot penis Pak Budi. Gerakan pinggulku semakin brutal, semakin cepat, mengikuti irama desahanku yang semakin keras. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan ini.

"Ahh, Pak, sepertinya aku akan ketagihan penis Bapak, ahh," rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan. "Terus, Pak, lebih cepat... Ahhh!"

"Ahh, iya, Ustadzah, aku juga pasti ketagihan memek Ustadzah. Sempit banget. Enakk. Ahh," desahnya, suaranya serak, penuh kemenangan. "

Aku tidak bisa menjawab, hanya mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi penisnya yang besar dan keras di dalam vaginaku yang sempit membuatku gila. Aku melengkung, mencengkeram bahunya dengan erat. "Ahh, Pak, terus... ahhh," rintihku, suaraku parau.

"Ustadzah, kamu hebat banget," bisiknya. "Aku suka bagaimana kamu mengendalikan ini. Aku suka bagaimana kamu membuatku gila."

"Ahhh... Ustadzah, aku enggak tahan," desahnya, suaranya serak. Tanpa aba-aba, dia membalikkan tubuhku. Kini, posisinya aku rebahan di bawahnya, dan Pak Budi di atasku. Dia mulai menggenjotku dengan brutal, mulutnya menciumi payudaraku dengan ganas.

Genjotan Pak Budi sangat brutal, berbeda dari yang pernah kurasakan. Setiap hentakannya membuatku mendesah, tak bisa menahan diri. Aku mencengkeram sprei ranjang dengan erat, merasakan sensasi itu menjalar ke seluruh tubuhku.

"Ahhh... Ustadzah, aku mau keluar..." bisiknya, suaranya serak, penuh nafsu.

"Ahhh, iya, Pak, keluarin..." rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan.

"Ahhh... Ahhh... crot... crott... aku keluar di dalam memekmu, Ustadzah... nikmat... Ahhh..." desahnya, suaranya serak, penuh kemenangan.

Aku merasakan cairan spermanya yang hangat dan kental membanjiri vaginaku. Sangat banyak. Aku kaget. Kenapa dia keluar di dalam vaginaku? Aku ingin menanyakannya, tapi bibirku tidak bisa terucap karena tubuhku terlalu lemas.

Kemudian Pak Budi ambruk di sebelahku. "Terima kasih, Ustadzah, kamu enak banget," ucapnya. Sambil memelukku, kita berdua tidur. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam kelelahan yang luar biasa.

Bersambungg...


 

Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com