𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟗 𝐃𝐚𝐝𝐚 𝐁𝐢𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐋𝐞𝐥𝐚𝐤𝐢 𝐈𝐝𝐚𝐦𝐚𝐧𝐤𝐮

Aku berjalan pelan, memimpin Pak Bayu menuju lorong kecil di dekat dapur, tempat kamar mandi berada, jauh dari pengawasan Aisyah. Di sepanjang lorong, tubuh kami kembali berdekatan. Aroma maskulinnya kembali menerpaku, dan sensasi bersentuhan bahu di sofa tadi terasa begitu nyata.

"Silakan, Pak Bayu. Kamar mandinya di dalam sana," ucapku, menunjuk pintu kamar mandi. Aku berdiri di dekat pintu, menunggu.

"Terima kasih, Ukhti," jawab Pak Bayu, ia bergegas masuk ke dalam. Pintu kamar mandi tertutup, meninggalkan aku sendirian di lorong sempit itu.

Aku bersandar ke dinding, jantungku berdebar kencang. Aku yang baru saja kemarin sore melayani nafsu Pak Rahmat disini, sekarang berdiri menunggu pria idamanku di tempat yang sama. Hasrat itu kembali membakar.

Kemudian setelah 5 menit pintu kamar mandi terbuka sedikit, tetapi Pak Bayu tak kunjung keluar. Rasa penasaran membuatku melangkah maju.

Aku melihat ke arah dalam.

"Astaghfirullah," ucapku, suaraku tercekat, memergoki pemandangan yang tak terduga.

Aku melihat Pak Bayu hanya memakai celana sedang menaikkan resleting, belum memakai baju kemejanya. Otot dada bidang dan perutnya yang sixpack terekspos jelas di hadapan mataku.

Pak Bayu mendengar suaraku. "Ehh, maaf Ukhti," katanya, suaranya terdengar kaget. "Aku kira Ukhti langsung balik ke ruang tamu."

Aku reflek menutup mataku dengan kedua tangan, rasa malu dan terkejut menghantamku. Namun, hasrat liar yang baru saja kukendalikan kembali bergejolak.

Aku merenggangkan jariku sedikit, menciptakan celah. Dari celah sempit itu, aku mengintip otot perut dan dadanya. Pemandangan itu begitu nyata, begitu maskulin, dan jauh lebih mematikan daripada pria yang kulihat di layar ponsel tadi. Jantungku berdebar kencang, hasratku melonjak tajam. Aku ingin melihatnya lebih lama.

Kemudian Pak Bayu membuka pintu lebih lebar, dan memanggilku.

"Ukhti Zahra.."

Aku mematung, memandang otot dada dan perutnya semakin terekspos.

"Ehhh.. Pak Bayu. Maaf aku enggak sengaja, ku kira Pak Bayu sudah selesai. Gpp Pak, lanjutkan saja," ucapku.

Pak Bayu tersenyum kecil, ia tahu aku mengintip. Kemudian ia mengambil kemejanya. Aku melihat semua kejadian itu melalui celah jariku. Pemandangan pria idamanku sedang berpakaian, menunjukkan setiap lekuk tubuhnya, terasa begitu liar. Aku tau ini salah karena pak bayu sudah beristri.

Tak sengaja, dalam desahanku, aku berucap pelan, "Seksi banget Pak, Ahh..."

Pak Bayu tersenyum ke arahku, Ia pasti mendengar desahanku barusan. Aku merasa malu banget. Ia melanjutkan memakai bajunya sampai sudah rapi semua.

"Sudah selesai, Bu. Ayo kembali ke sana, kasihan Aisyah kalau nunggu kami lama-lama," ucapnya, suaranya kembali ke nada profesional, tetapi ada getaran samar di sana.

"Ehh iya, Pak," jawabku, suaraku masih sedikit tercekat, merasakan sensasi liar dari pemandangan yang baru saja kulihat. Aku merapikan cadarku, berusaha mengembalikan diriku sebagai Ukhti Zahra yang alim.

Kemudian kami ke ruang tamu. Aisyah memanggil, "Kok lama, Ayah?"

"Iyaa, Nak, maaf yaa..." jawab Pak Bayu, ia kemudian menggendong Aisyah.

"Ukhti, kami mau pulang dulu yaa.. Bentar lagi mau Maghrib," pamit Pak Bayu.

"Ehh iyaa, Pak," jawabku, suaraku masih sedikit tercekat karena malu.

Kemudian Pak Bayu melangkah ke depan pintu, aku mengikutinya. Saat berada di ambang pintu, Pak Bayu mencondongkan kepala sedikit ke arahku.

"Ukhti juga seksi banget.." bisiknya serak, sebuah pengakuan terakhir yang membuatku tersentak.

Ia kemudian pergi mengucapkan salam, "Assalamualaikum Ukhti Zahra.."

Aku mematung, tidak menjawab salamnya. Aku hanya bisa melihat Pak Bayu pulang. Pengakuan itu, yang datang dari pria ideal dan tulus, terasa lebih memabukkan dan menghancurkan daripada semua rayuan yang pernah kuterima.

Aku segera menyadarkan diriku lalu masuk ke rumah. Jantungku masih berdebar kencang, memikirkan bisikan terakhir Pak Bayu.

Setelah Shalat Maghrib, aku makan dalam keheningan. Selesai makan, aku menunaikan Shalat Isya, berharap ritual ini bisa sedikit meredakan kekacauan batin yang tercipta sepanjang hari.

Kemudian, aku beranjak ke kamar. Aku merasa sangat lelah. Lelah fisik karena mengajar dan sibuk di rumah, tetapi lebih lelah mental karena drama hasrat liar di dunia nyata dengan Pak Rahmat, Pak Bayu dan dunia maya dengan Mas Bims.

Aku merebahkan diri di kasur. Malam itu, aku tertidur pulas. Aku membutuhkan istirahat yang panjang sebelum kembali ke peran ganda dan rencana gila yang akan kubangun sebagai QueenSha.

Keesokan harinya aku bangun seperti biasa. Setelah menunaikan Shalat Subuh, aku segera menyapu rumah, menjalankan rutinitas pagi yang selalu kugunakan untuk menenangkan gejolak batin.

Aku berjalan ke dapur dan membuka kulkas, berniat untuk memasak. Aku melihat ke dalam, tetapi menyadari ada yang kurang. Daging ayamku habis. Hanya tersisa sayur. Aku sadar, aku kemarin lupa membeli daging.

Aku berpikir untuk membeli ke minimarket. Namun, ku pikir-pikir, lebih baik ke pasar saja agar pilihan dagingnya lebih segar dan lengkap. Pasar agak jauh, jadi aku berencana memakai ojek online untuk ke sana.

Aku segera bersiap. Aku masuk ke kamar, Aku mengenakan gamis longgar berwarna gelap, jilbab lebar, dan cadarku. Aku memastikan penampilanku tertutup rapat, kontras dengan jiwa liarku.

Aku mengambil dompet dan ponselku. Aku berjalan ke depan rumah, membuka aplikasi ojek online. Aku memasukkan alamat pasar tradisional terdekat sebagai tujuan. Aku menghela napas panjang, siap menghadapi dunia luar.

Ting! Notifikasi ponsel berbunyi. Pesanan ojek online diterima. Seorang pengendara motor akan segera menjemputku. Aku berdiri di depan gerbang, menunggu kedatangan si pengendara.

Aku menunggu di depan pagar rumah, tak lama kemudian ojek online datang.

"Kak Zahra?" sapa si pengendara.

"Iya, Pak," jawabku.

"Ini helmnya, Kak," katanya, sambil menyerahkan helm.

Aku memakai helm, kemudian naik ke motornya. Aku duduk dengan hati-hati, berusaha menjaga jarak agar tubuhku tak bersentuhan dengan pengemudi ojek online itu.

Lalu kami berangkat.

Kami melewati pos security, kulihat di sana bukan Pak Rahmat yang sedang berjaga. Aku merasa lega. Kami pun melaju ke pasar. Aku terus menjaga jarak agar tubuhku tak bersentuhan dengan pengemudi ojek online itu, berusaha keras mengendalikan gejolak hasrat yang selalu muncul saat aku dekat dengan seorang pria.

Kami menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit. Selama perjalanan, aku merasakan setiap sentakan rem dan akselerasi motor. Aku berusaha keras untuk mencondongkan tubuh ke belakang, menjaga celah agar tidak ada kontak fisik.

Namun, di sebuah perempatan yang ramai, pengemudi ojek online itu tiba-tiba mengerem mendadak karena ada lampu merah.

Deg!

Tubuhku terdorong kuat ke depan. Meskipun aku mengenakan gamis longgar dan jilbab lebar, benturan itu terasa jelas. Aku merasakan payudaraku yang besar dan padat menghantam punggung pengemudi ojek online itu. Benturan itu tak terhindarkan.

"Ehh, maaf, Kak!" seru pengemudi itu, suaranya terdengar kaget dan sedikit canggung.

Aku kaget, tubuhku langsung menjauh ke belakang lagi.

"Iya, Pak. Tidak apa-apa," jawabku.

Namun, sensasi benturan itu meninggalkan jejak yang aneh. Aku bisa merasakan payudaraku berdenyut kencang di balik gamis, bereaksi terhadap sentuhan yang tak disengaja itu. Aku melirik ke pengemudi ojek online. Dia tampak biasa saja, fokus pada kemudinya.

Aku menggumamkan istighfar, tetapi hasrat yang selalu kurasakan saat dekat dengan pria kembali bergejolak. Aku harus segera sampai di pasar.

Kami tiba di pasar. Keramaian, bau rempah, dan hiruk pikuk khas pasar tradisional menyambutku.

"Sudah sampai, Kak. Totalnya Rp15.000," kata si pengendara ojek online.

Aku segera turun, mengeluarkan dompetku. Aku membayar, dan mengucapkan terima kasih.

"Sama-sama, Kak. Hati-hati di jalan ya," jawabnya ramah.

Aku melangkah masuk ke dalam pasar. Aku harus segera mencari kebutuhan masakan hari ini. Aku berjalan melewati lorong-lorong pasar yang sempit dan ramai, berdesakan dengan pembeli lain.

Aku menuju lapak penjual daging ayam. Aku melihat-lihat daging ayam yang terpajang di meja.

"Assalamualaikum, Ukhti. Mau cari daging bagian yang mana?" sapa Bapak penjual daging itu ramah.

"Wa'alaikumsalam, Pak. Aku mau cari ayam potong, yang bagian dada. Ada, Pak?" tanyaku, suaraku kembali ke nada alim yang lembut.

"Oh, ada, Ukhti. Mau berapa potong? Yang ini masih fresh, baru dipotong subuh tadi," jawab Bapak itu, sambil menunjuk beberapa potong daging ayam.

Aku memilih-milih, memastikan dagingnya segar. "Satu kilo saja, Pak. Yang ini, ya."

Saat Bapak penjual daging itu sedang sibuk membungkus pesananku, tiba-tiba, sebuah suara serak dan familier menyapa dari belakangku.

"Ehh, Ukhti Zahra. Masya Allah. Ketemu di sini juga, ya."

Deg!

Aku tersentak. Jantungku mencelos. Aku tahu suara itu.

Aku berbalik. Di sana, berdiri Pak Hasan, penjual nasi goreng yang pernah merasakan indahnya tubuhku. Wajahnya tersenyum lebar, senyum yang mengandung seribu rahasia dan janji-janji dosa. Ia mengenakan kaus oblong dan celana pendek, tampak santai seperti orang yang baru selesai berbelanja bahan makanan.

"Wa'alaikumsalam, Pak Hasan," jawabku, suaraku sedikit tercekat, berusaha keras untuk bersikap normal.

"Bapak lagi beli bahan juga, Ukhti," katanya, matanya menatapku dengan tatapan yang sangat tahu segalanya, tatapan yang mengingatkanku pada adegan liar kami di warung nasi gorengnya. "Rupanya rezeki ya, bisa ketemu Ukhti di sini. Bapak kangen banget sama Ukhti. Kok gak pernah ke warung Bapak lagi sekarang hehe."

Ia berbisik, nadanya dibuat sangat pelan, hanya untuk didengar olehku. Aku merasakan panas menjalar di wajahku di balik cadar. Ia berhasil memojokkanku di tengah pasar yang ramai.

"Ehh.. aku. Aku gak bisa lagi, Pak," jawabku, berusaha keras menjaga suaraku tetap tegas meskipun aku tahu ada getaran kerinduan di baliknya.

"Kenapa gak bisa, Ukhti? Ukhti gak kangen Bapak? hehe," godanya lagi, nadanya memohon sekaligus memaksa.

Aku diam, tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba, suara Bapak penjual daging memecah keheningan yang intim itu.

"Ini ayam bagian dada 1kg sudah Ukhti, ada lagi?" tanyanya.

Aku kaget. Aku lupa kalau aku sedang berinteraksi dengan orang lain.

"Emm.. Aku mau jeroan ayam 1 kg aja, Pak," jawabku cepat, mencoba mengalihkan fokus.

Kemudian Pak Hasan juga berucap, "Kalau Aku Ayam utuh 5 aja, Pak."

Penjual itu mengangguk, lalu mulai memotong dan menimbang daging ayam kami. Aku hanya berdiri kaku di samping Pak Hasan, jantungku berdebar tak karuan, terperangkap di antara hasrat dan kehormatan.

Selagi penjual sibuk memotong daging ayam kami, Pak Hasan mencondongkan tubuhnya ke arahku lagi. Ia berbisik, suaranya serak, menusuk tepat di balik cadarku.

"Ukhti, jangan begitu dong. Bapak kangen crot di pantat Ukhti lagi," rayunya, menggunakan kata-kata vulgar yang hanya kami berdua yang tahu.

Aku tersentak mendengar ia menggunakan kata-kata terlarang kami di tempat umum. "Ssst! Pak Hasan, jangan keras-keras!" bisikku balik, panik. Aku melirik ke Bapak penjual daging, tetapi ia tampak fokus pada pekerjaannya.

"Kenapa, Sayang? Bapak cuma kangen nenen Ukhti yang besar ini," godanya lagi, matanya melirik kea rah payudaraku.

Aku menelan ludah. Ucapannya itu berhasil membuatku goyah. Aku teringat kehancuran yang kualami saat Pak Rahmat datang mengancam.

"Nanti, Pak. Nanti aku pikirkan," bisikku, nadaku kini melunak, sebuah janji yang tak terhindarkan. "Aku janji. Tapi jangan sekarang, Pak. Aku lagi ada urusan penting. Jangan ganggu aku lagi, ya."

"Yaudah deh, Ukhti Sayang. Bapak tunggu. Jangan lama-lama yaa... Bapak kangen banget tubuh Ukhti," balas Pak Hasan, nadanya kembali ceria dan puas, seolah ia baru saja mendapatkan janji temu rahasia dariku.

Aku hanya bisa mengangguk pasrah, merasa malu dan terikat. Tiba-tiba bapak penjual telah selesai mengemas belanjaanku.

"Ini Ukhti, jeroan ayamnya. Total semua 65Rb yaa," kata Bapak penjual daging sambil menyodorkan bungkusan itu.

Aku segera menerima bungkusan daging ayamku dari penjual dan membayar uang.

"Makasih ya, Pak," ucapku pada penjual.

Aku menoleh ke Pak Hasan. "Aku duluan, Pak Hasan. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumsalam, Sayang. Hati-hati di jalan ya," jawabnya.

Aku melangkah keluar dari pasar, menembus keramaian, Aku baru sadar. Aku lupa membeli bumbu masakan. Aku tidak jadi langsung pulang. Aku berjalan memutar, menuju ke tempat penjual bumbu dapur. Di sana ramai banget.

Aku harus berdesakan dengan banyak pembeli, mayoritas ibu-ibu, tetapi juga ada beberapa laki-laki yang sedang berbelanja. Lorong itu sempit dan gelap, dan aku harus melangkah perlahan.

Saat aku mencoba mencapai lapak bumbu, tubuhku tak terhindarkan lagi harus bersentuhan dengan beberapa orang. Aku berjalan dengan gamis dan jilbabku, berusaha menutupi diri, tetapi di tengah keramaian ini, itu terasa mustahil.

Deg.

Aku merasakan sentuhan keras di bahuku, tubuh seorang pria bertabrakan denganku saat ia mencoba lewat.

"Ehh, maaf, Bu," katanya tergesa-gesa.

"Iya, Pak gpp," jawabku lirih.

Sentuhan itu terasa dingin, tetapi memicu desiran panas di tubuhku. Aku terus berjalan, dan kali ini, aku merasakan sentuhan yang lebih nyata. Siku seorang pria menyentuh payudaraku yang besar secara tak sengaja.

Ahhh...

Aku tersentak, payudaraku langsung berdenyut kencang. Aku menunduk, mencoba mengatur napasku yang memburu. Aku mencari siapa yang telah menyenggol payudaraku tadi, tapi aku tidak menemukannya.

Sentuhan yang tak disengaja itu terasa begitu intim, begitu nyata, dan langsung mengingatkanku pada remasan Pak Hasan di pantatku. Aku merasakan hasrat liar itu kembali bergejolak, diperkuat oleh sensasi di tengah keramaian pasar.

Aku mencengkeram tasku erat-erat. Aku harus cepat membeli bumbu dan keluar dari tempat yang penuh godaan dan sentuhan tak terduga ini.

Sampai di toko bumbu, di sana sangat antri. Aku terpaksa harus berdesak-desakan, tubuhku menempel dengan beberapa bapak-bapak yang juga mengantre. Aku berusaha menunduk, fokus pada bumbu yang ingin kubeli, berharap keramaian ini segera berakhir.

Tiba-tiba, aku merasakan sentuhan aneh di bagian belakang tubuhku.

Deg!

Sebuah tangan, yang terasa besar dan hangat, menyentuh pantatku. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan seperti meraba dan menekan pelan di balik gamisku. Aku tersentak, seluruh tubuhku menegang. Aku menoleh sedikit, tetapi tidak bisa melihat wajah siapa pun yang ada di belakangku, karena kami terlalu rapat.

Aku ingin marah dan berteriak, tetapi aku takut membuat keributan di tempat umum. Aku mencoba bergerak maju, tetapi antrean terlalu padat.

Sentuhan itu tidak berhenti. Tangan itu kini bergerak lebih berani, menggerayangi pantatku, meremasnya sedikit, lalu naik ke pinggangku. Elusan itu terasa begitu nyata, begitu kotor, dan langsung memicu gejolak hasrat liar yang selalu kurasakan.

"Mmmhh..." aku mendesah lirih, menahan rintihan yang nyaris lolos, membiarkan tubuhku melengkung di tengah desakan keramaian. Sentuhan anonim itu terasa begitu memabukkan.

Setelah beberapa saat, antrean akhirnya maju. Aku buru-buru membeli bumbu ke penjual, membayar dengan tangan gemetar, dan tanpa menoleh ke belakang, aku berbalik cepat keluar dari lorong itu.

Aku berjalan cepat, ingin segera keluar dari pasar yang penuh godaan ini. Namun, saat aku baru saja melangkah keluar dari keramaian lapak bumbu, aku melihat sosok yang sudah kukenal.

Pak Hasan! Ia berdiri tidak jauh dariku, membawa keranjang belanjaan yang penuh. Ia tersenyum lebar, senyum yang menunjukkan ia sedang menungguku.

"Ehh, Ukhti Zahra. Ketemu lagi," sapanya, suaranya ramah tetapi matanya memancarkan arti yang tersembunyi. "Rupanya rezeki Bapak memang hari ini."

"Iya, Pak Hasan," jawabku, suaraku masih sedikit parau karena sentuhan yang baru saja kualami.

"Ukhti sudah selesai belanjanya? Gimana kalau kita pulang bareng? Bapak bawa motor, Ukhti. Daripada naik ojek online lagi, Bapak bisa antar. Lumayan, ada temen ngobrol di jalan," tawar Pak Hasan, nadanya membujuk, menawarkan kesempatan intim yang berbahaya.

Aku akhirnya mau. Tawarannya terasa seperti takdir yang tak terhindarkan.

"Iya, Pak Hasan. Aku ikut bareng Bapak," jawabku.

Aku berjalan mengikutinya ke tempat motornya diparkir. Namun, saat kami sampai, kami sadar ada masalah. Barang bawaanku, terutama kantong plastik berisi daging ayam dan sayuran, ditambah dengan belanjaan bahan-bahan nasi goreng Pak Hasan yang cukup banyak, membuat jok motornya terlalu penuh.

"Waduh, Ukhti Sayang. Barang kita kebanyakan, ya," kata Pak Hasan, menggaruk kepalanya. "Kalau dipaksakan, kita pasti mepet banget, dan nanti malah jadi bahaya di jalan." Ia melirikku.

"Emm, iya, Pak," balasku.

"Begini saja. Ukhti naik ojek pengkolan yang ada di depan pasar itu aja ya." saran Pak Hasan.

Aku mengangguk setuju. Pak Hasan kemudian memanggil salah seorang kenalannya yang merupakan pengemudi ojek pangkalan.

"Bang Udin!" seru Pak Hasan. Seorang pria paruh baya, berperawakan biasa dan ramah, menghampiri kami.

"Tolong antar Ukhti ini, Bang. Ke komplek sana, ya. Kasihan sendirian gak bawa kendaraan," pinta Pak Hasan.

"Siap, San!" jawab Bang Udin ramah.

Aku berbincang sebentar dengannya, ku lihat pak udin berpostur agak pendek, dan perutnya buncit..

"Ke mana, Neng?" tanya Bang Udin.

"Ke komplek ini, Bang," aku menyebut nama komplekku, dan dia langsung paham.

Bang Udin segera membawa barangku, menaruhnya di bagian depan motornya.

"Aku duluan ya, Ukhti. Nanti Ukhti kalo mau langsung ke warung aja hehe," pamit Pak Hasan.

Aku mendiamkan nya, Kemudian Aku memakai helm dan naik ke motor Bang Udin.

"Sudah siap, Neng?"

"Siap, Bang."

Bang Udin melajukan motornya. Perjalanan dimulai. Suasana di motor terasa lebih santai.

Bersambung..




 

Read More

𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟖 𝐋𝐢𝐯𝐞 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐐𝐮𝐞𝐞𝐧𝐒𝐡𝐚

Penontonku mulai bertambah. Dari nol, menjadi lima, lalu sepuluh, dan kemudian ada 15 orang. Komentar-komentar mulai masuk, kebanyakan hanya menyapa ringan.

Tiba-tiba, muncul notifikasi di layar. Seseorang mengundangku untuk PK match.

Aku terkesiap, tetapi hasratku bergejolak. Aku menerima undangan itu.

Layar terbelah dua. Di sisi seberang, tampak seorang laki-laki tampan, wajahnya bersih, stylish, dan mukanya mirip artis Korea. Ia menatapku dengan senyum yang penuh misteri. Ini adalah lawan pertamaku sebagai QueenSha. Jantungku berdebar tak karuan, bercampur antara gugup dan euforia liar.

"Hallo, Kak," ucap pria tampan di layar seberang, suaranya terdengar lembut dan ramah. "Hallo," balasku, berusaha menjaga nada bicaraku tetap tenang.

"Kak, kita match tiga kali, yuk," ajaknya, nadanya santai tetapi penuh percaya diri.

"Yuk, Kak," jawabku.

Pertandingan PK match pertama dimulai. Timer di layar mulai menghitung mundur dari lima menit.

Pria itu, yang memiliki nama akun yang tidak kukenal, langsung menyapa penontonnya dengan ceria. Sementara itu, kolom komentarku mulai riuh dengan penonton yang penasaran dengan QueenSha yang tertutup dan alim, yang berani menerima tantangan PK.

Hadiah mulai masuk.

Di sisi pria itu, gift ringan seperti stiker hati dan bunga berdatangan secara stabil. Di sisiku, penonton masih sepi. Mereka hanya memberikan like dan salam.

"Ayo, Ukhti! Mana penontonnya Gift-nya, dong! Jangan mau kalah!" teriak pria itu dari layar seberang, nadanya memprovokasi penontonku.

Jantungku berdebar kencang. Aku merasa tertekan, bukan karena ingin menang, tetapi karena ingin mendapatkan pengakuan.

Tiba-tiba, skorku melonjak drastis. Sebuah notifikasi gift besar masuk, Paus!

Aku tersentak.

Aku melirik cepat ke pemberi gift. Itu adalah akun Bims.

"Alhamdulillah! Terima kasih, Mas Bims!" ucapku, suaraku sedikit bergetar, kini sudah tidak malu lagi menyebut namanya secara live.

Skorku langsung mengungguli pria itu. Penonton di kolom komentar menjadi heboh, dan aku merasakan adrenalin menjalar di seluruh tubuhku. Bims benar-benar menjadi jaminanku.

Waktu berakhir. Skorku jauh lebih unggul berkat gift dari Bims.

"Yah, kalah nih, Ukhti," ucap pria itu, tertawa kecil, tidak terlihat kecewa. "Berarti aku kena challenge nih."

"Iya, Kak. Challenge dong, biar seru," balasku, nadaku kini terdengar dominan dan percaya diri.

"Oke, challenge-nya dari kamu, Ukhti. Mau aku ngapain?"

Aku berpikir sejenak. Aku harus membuktikan bahwa QueenSha adalah Ratu yang kejam.

"Baik, challenge-nya gampang aja dulu Kak. Aku mau Kakak ambil spidol, dan buatlah coretan 'Aku Bucin QueenSha' di pipi kanan Kakak," perintahku.

Pria itu terkejut. "Wah, challenge-nya lucu banget, Ukhti. Siap, aku laksanakan."

Ia segera mengambil spidol, dan menuruti perintahku. Pemandangan pria tampan yang kini mencoret pipinya dengan tulisan aneh itu membuat penontonku semakin ramai tertawa.

Setelah challenge selesai, pria itu menatapku lagi dengan senyum.

"Sudah, Ukhti. Sekarang match kedua, ya?" tanya pria di layar itu, tertawa kecil.

"Siap, Kak. Lanjut!" jawabku, gairahku semakin memuncak, sepenuhnya hanyut dalam peran baruku sebagai QueenSha.

Pertandingan kedua dimulai, dengan timer kembali ke lima menit. Kali ini, penontonku lebih banyak dan lebih loyal. Mereka sudah tahu bahwa di balik cadar ini, ada kegilaan yang disokong oleh seorang big bos seperti Bims.

Di sisi lawan, pria itu mulai beraksi, senyum kecil dan merayu penontonnya yang kebanyakan wanita itu. Di sisiku, aku hanya diam, tetapi tatapanku menjadi lebih tajam.

Gift mulai berdatangan di kedua sisi. Penonton pria itu memberikan hadiah-hadiah yang lumayan. Di sisiku, hadiah-hadiah kecil dari penonton mulai masuk, tetapi tiba-tiba, sebuah gift besar lain masuk, paus!..

"Masya Allah! Terima kasih banyak, Mas Bims!" seruku, suaraku dipenuhi euforia.

Skorku kembali melompat tinggi. Pria di seberang layar hanya bisa menggeleng, tertawa pasrah.

Waktu habis. QueenSha kembali menang telak.

"Waduh, QueenSha mainnya keroyokan nih. Di-sokong Mas Bims, enggak ada lawan," canda pria itu. "Oke, challenge lagi, Ukhti. Aku udah siap nerima."

Aku berpikir lagi.

"Baik, Kak. Challenge-nya, aku mau Kakak ambil es batu, dan letakkan di leher Kakak. Tahan selama 30 detik!" perintahku, nadaku penuh dominasi.

Pria itu terkesiap, tetapi langsung menyanggupi. Ia mengambil es batu, meletakkannya di leher, dan menahan diri. Ekspresi kesakitan bercampur kedinginan di wajahnya membuat penontonku tertawa puas.

Setelah challenge selesai, pria itu mengusap lehernya. "Gila, Ukhti. Challenge kamu keras juga ya. Oke, satu lagi, ya? Biar seru!"

Pertandingan ketiga dimulai. Penonton kini membeludak, melampaui 100 orang. Mereka datang untuk melihat QueenSha yang tertutup, didukung big bos, dan memberikan challenge yang brutal.

Kali ini, pertempuran gift jauh lebih sengit. Penonton pria itu seolah tak ingin kalah di ronde terakhir. Mereka beramai-ramai mengirimkan gift. Skorku dan skornya saling kejar-kejaran.

Aku merasa adrenalin memuncak. Aku mencengkeram erat gamis abu-abuku. Aku butuh kemenangan ini, bukan untuk hadiah, melainkan untuk pengakuan.

Saat waktu tersisa 30 detik, aku melihat Mas Bims di komentar.

Zahra! Aku mau kamu menang! Kalau kamu menang, Challenge dia lebih liar! Aku mau dia buka kemejanya!

Aku mengangguk dalam hati, menerima perintahnya.

Di detik-detik terakhir, masuklah gift terakhir, Paus kedua dari Bims!

Skorku melesat.

Buzzzz! Waktu habis. Aku menang tipis.

"Yesss!" seruku, suaraku pecah karena kemenangan dan hasrat.

Pria itu menghela napas pasrah. "Oke, game over. QueenSha Ratu Challenge! Aku kalah, Ukhti. Aku siap menerima hukuman terakhir."

Aku menatapnya dengan pandangan dingin dan dominan. Aku harus membuktikan bahwa QueenSha adalah yang paling liar di sini.

"Baik, Kak," ucapku, suaraku perlahan berubah menjadi serak, penuh perintah. "Karena ini match terakhir, challenge-nya harus lebih berani ya kak. Aku mau Kakak berdiri, dan... buka semua kemeja Kakak! Aku mau penonton lihat tubuh Kakak!"

Pria itu terkejut. "Wah, challenge-nya brutal sekali, Ukhti! Haha.. Sampai buka baju nih?"

"Iya. Buka semua. Sampai terlihat jelas. Dan aku mau Kakak desah di depan kamera! Sekarang!. Hehe." desakku, aku sudah tidak peduli lagi dengan etika.

Pria itu tertawa gugup, tetapi mengangguk. Ia berdiri, dan perlahan, membuka kemejanya. Pemandangan tubuhnya yang atletis, dada bidang, dan perut six-pack terekspos di layar.

"Ahh... Ukhti Zahra... Body-ku ini untukmu, pegang perut six pack ku ini ukhti Ahhh.." desahnya, menuruti perintahku.

Aku menatap pemandangan itu. Gairahku naik. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku melengkung di kursi. Fantasi liarku tentang Pak Bayu dan tubuh ideal kini terpenuhi secara virtual melalui pria ini.

"Alhamdulillah. Terima kasih, Kak. Sampai jumpa di match berikutnya!"..

Setelah PK match itu selesai, Aku segera mengakhiri live streaming ku, aku merasa kali ini cukup..

Layar hp ku kembali gelap. Aku terengah-engah, tubuhku basah oleh keringat. Aku baru saja memenangkan tiga match dan menjadi host yang cukup berani. Aku adalah QueenSha, Ratu Hasrat dan Dosa.

Tiba-tiba, ponselku berkedip. Ada pesan masuk dari Mas Bims.

"Wahh gila, Ukhti Zahra. Kamu hebat banget."

Jantungku berdebar kencang. Pengakuan dan pujian ini terasa jauh lebih memabukkan daripada euforia kemenangan itu sendiri.

"Terima kasih, Mas Bims. Karena dukungan Mas Bims aku jadi menang, yeyy.." balasku, emoji ceria itu terasa aneh di tengah sisa-sisa gairahku.

"Gimana, seru kan?" tanyanya.

"Iyaa, seru banget. Aku sukaa.." jawabku jujur. Aku suka sensasi mendominasi, pengakuan liar, dan perhatian yang kudapatkan.

"Tapi ingat Ukhti, dalam permainan, kamu enggak bisa selalu menang. Pasti suatu saat akan merasakan kalah dan dihukum." balas Mas Bims, nadanya tiba-tiba berubah serius.

Aku terdiam sejenak. Aku tahu dia benar. Aku telah melihat hukuman yang dilakukan host liar lainnya. Aku sudah membayangkan hukuman itu dalam mimpiku, goyang, gunting gamis, dan hal-hal yang lebih vulgar.

"Iyaa, Mas Bims, aku tahu kok," balasku, sebuah pengakuan yang siap menghadapi konsekuensi dari permainan liarku.

"Bagus, Ukhti Sayang, sekarang kamu istirahat dan nikmati kemenanganmu yaa.." balas Mas Bims.

"Iyaa, Mas Bims. Terima kasih," jawabku, mengakhiri percakapan.

Aku bangkit, berjalan ke cermin di kamarku. Aku membuka gamis dan jilbabku. Aku menatap payudaraku yang besar dan putingku yang masih sedikit menegang, sisa dari gairah yang kupicu saat match tadi, melihat otot perut pria tadi membuat hasratku naik.

Hukuman apa yang paling liar?

Tiba-tiba, hasrat aneh menyergapku. Aku ingin dihukum. Aku ingin sensasi itu, sensasi diperintah dan dipermalukan, seperti yang kualami di hadapan Pak Rahmat dan Pak Hasan, tetapi kali ini, atas kemauan sendiri, dan di tonton ribuan orang.

Aku tersenyum kecil di depan cermin. Senyum yang penuh rahasia, senyum yang tidak pernah ditunjukkan oleh ukhti Zahra guru ngaji yang alim, karena ini adalah QueenSha.

Aku akan memikirkan hukuman yang akan mengguncang Toktok.

Aku kemudian beranjak, membiarkan tubuhku yang lelah dan penuh dosa masuk ke kamar mandi. Setelah selesai, aku keluar, mengenakan daster longgar dan bersantai di kamar.

Pikiranku kini fokus pada rutinitas yang kontras, sore nanti aku akan ada jadwal mengajar ngaji di rumahku. Aku akan kembali menjadi Ukhti Zahra yang suci, sebelum kembali merencanakan kejatuhan QueenSha di dunia maya.

Sore hari, setelah menunaikan Shalat Ashar, aku segera bersiap untuk mengajar mengaji. Aku mengenakan gamis longgar dan cadar, kembali ke peran Ukhti Zahra yang dihormati.

Tak lama kemudian, para murid mulai berdatangan ke rumah kontrakan. Ruangan yang kemarin sore menjadi saksi bisu kehinaanku dengan pak rahmat, kini dipenuhi suara riang anak-anak. Aku duduk di sofa yang sama.

Aku memulai pelajaran, membimbing mereka melantunkan ayat-ayat suci. Aku berusaha keras agar pikiran tentang Pak Rahmat dan rencana QueenSha tidak mengganggu kekhusyukanku. Aku menjelaskan tentang tajwid, mendengarkan hafalan mereka, dan memberikan nasihat agama, seolah aku adalah sosok yang paling bersih dari noda dosa.

Setelah sekitar satu jam, kegiatan mengaji pun selesai. Murid-murid mulai satu per satu berpamitan. Aku berdiri di depan pintu, mengawasi mereka pulang, memberikan senyum dari balik cadar, dan menerima salam hormat dari orang tua murid yang menjemput anak-anak mereka.

Semua murid telah bubar, kecuali satu. Aisyah, yang masih bersama ayahnya, Pak Bayu.

Pak Bayu melangkah mendekat ke arahku. Ia mengenakan kemeja yang sama seperti kemarin, kemeja yang sedikit ketat di bagian bahu dan punggungnya.

"Assalamualaikum, Ukhti Zahra," sapanya dengan suara yang dalam dan ramah, tulus tanpa ada nada genit sedikit pun, berbeda jauh dengan godaan yang baru saja kualami dari Pak Rahmat dan Mas Bims.

"Wa'alaikumsalam, Pak Bayu," jawabku, suaraku kuusahakan tetap lembut.

"Saya sangat berterima kasih, Ukhti Zahra," ujar Pak Bayu, matanya yang teduh menatapku dengan tulus. "Aisyah hari ini sudah bagus hafalannya. Ukhti memang guru yang baik sekali, teladan bagi Aisyah."

Pujian yang murni itu, sekali lagi, terasa menenangkan. Aku berusaha keras untuk tidak membiarkan mataku turun ke lengan kekarnya.

"Sama-sama, Pak. Itu sudah kewajiban saya," kataku, membalas senyumnya dari balik cadar.

Pak Bayu mengangguk, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit. "Emm, Ukhti Zahra. Sebenarnya saya mampir karena ada sedikit urusan penting. Jadi komplek ini ada rencana pengecatan mushola TPQ. Kebetulan saya yang mengurus logistik catnya. Saya ingin meminta pendapat Ukhti tentang pemilihan warna yang cocok, karena Ukhti paling sering di sana."

Aku terkejut dengan alasan yang begitu tulus, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan hasrat nafsu seperti pria lain. Ini adalah Pak Bayu yang asli, sopan, tulus, dan bertanggung jawab.

"Oh, begitu, Pak Bayu. Boleh kok aku bantu," jawabku, berusaha terdengar fokus pada urusan mushola. "Tapi kalau bicara warna, mungkin lebih enak melihat contohnya sambil duduk di ruang tamu, Pak. Silakan masuk aja, Pak."

Pak Bayu tampak ragu sejenak. "Emm... tidak merepotkan, Ukhti?"

"Tidak, Pak. Silakan," kataku, membuka pintu lebih lebar.

Pak Bayu pun masuk ke ruang tamu, diikuti Aisyah. Aisyah duduk di sofa yang tadi kugunakan mengajar, sementara aku dan Pak Bayu duduk di sofa panjang, membahas rencana pengecatan mushola.

Kami berbicara selama sekitar sepuluh menit tentang warna cat, anggaran, dan kapan waktu yang tepat untuk eksekusi. Aku berusaha keras untuk bersikap profesional, tetapi setiap kali Pak Bayu mencondongkan tubuhnya untuk melihat sketsa di ponselnya, aroma parfum maskulinnya menerpaku, dan jantungku mulai berdesir. Aku tak sadar tubuh kita semakin dekat.

Aku berusaha keras untuk kembali fokus pada masalah pengecatan mushola, memaksa diriku mengabaikan kedekatan fisik ini.

"Emm, kalau menurutku, Pak Bayu," ucapku, menjauhkan sedikit wajahku dari ponselnya , "warna yang paling cocok untuk dinding luar itu hijau mint deh kayaknya. Itu melambangkan ketenangan, selaras dengan suasana TPQ. Lalu, untuk list plang atas, mungkin bisa menggunakan warna putih gading agar terlihat bersih."

"Oh, hijau mint ya?" Pak Bayu merespons, nadanya masih profesional, tetapi matanya menatap mataku lebih lama. Ia menggeser-geser layar ponselnya untuk mencari contoh warna.

Saat ia mencari, tubuhnya secara otomatis condong ke arahku untuk membagi pandangan pada layar yang kecil. Tanpa kami sadari, bahu kami sudah bersentuhan. Kehangatan dari tubuhnya menembus gamisku.

"Ini, Ukhti. Kalau hijau mint yang ini bagaimana?" tanyanya, sambil mengarahkan ponselnya ke tengah.

Aku mengangguk, dan tanpa sadar, tangan kami saling bersentuhan saat sama-sama menyentuh ponsel itu di tengah sofa. Sentuhan itu ringan, hanya gesekan telapak tangan dan jemari, tetapi itu terasa seperti sengatan listrik.

Jantungku langsung berdebar kencang. Sentuhan kulitnya yang hangat, maskulin, dan tulus, kini terasa jauh lebih memabukan daripada sentuhan liar Pak Hasan di warung nasi goreng. Hasrat yang kupendam untuk pria ini tiba-tiba meluap.

Aku buru-buru menarik tanganku, pura-pura terkejut.

"Emm... iya, Pak. Itu bagus," jawabku, suaraku sedikit bergetar, memaksakan diriku untuk kembali fokus pada warna cat.

Aku melihat ke arah Aisyah , dia fokus membaca buku bergambarnya. Dia tampak asyik sendiri dan tidak memperhatikan kami.

Pak Bayu berdeham, ia tampak sedikit gelisah. "Emm, Ukhti Zahra, maaf sekali. Saya boleh pinjam kamar mandi sebentar?," tanyanya, suaranya kembali profesional, berusaha menjaga kesopanannya.

"Oh, Iyaa boleh Pak," jawabku. Aku bangkit dari sofa. "Silakan, Pak. Mari saya tunjukkan kamar mandinya."

Aku menoleh ke Aisyah. "Aisyah sayang, tunggu sebentar ya, Nak. Baca bukunya di sini saja. Ukhti akan mengantar Bapak sebentar."

Aisyah hanya mengangguk patuh, matanya tetap terpaku pada bukunya.

Bersambung...


 

Read More

𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟕 𝐈𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐁𝐚𝐫𝐮𝐤𝐮 𝐃𝐢 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐌𝐚𝐲𝐚

Aku segera beranjak. Aku harus membersihkan diri, Aku berjalan ke kamar mandi, melepaskan gamis dan pakaian dalamku yang terasa kotor. Aku berdiri di bawah shower, dan air dingin menghantam tubuhku, mencoba memadamkan api gairah dan dosa di dalam jiwaku.

Setelah selesai mandi dan berwudhu, aku tidak langsung berpakaian. Aku melangkah keluar kamar mandi dengan telanjang bulat. Aku berjalan ke meja rias dan berdiri di depan cermin, menatap pantulan diriku.

Aku melihat payudaraku yang besar dan mulus, dan di sana, aku melihat banyak bekas kemerahan akibat remasan brutal Pak Rahmat tadi. Bekas-bekas itu, meskipun menyakitkan, terasa seperti stempel pengakuan atas kebinalanku.

Aku menghela napas panjang. Aku segera mengambil mukenah yang tergantung dan memakainya. Kemudian, aku menggelar sajadah. Aku menunaikan Shalat Maghrib, mencoba memohon ampun agar bisa membersihkan setidaknya sebagian kecil dari kekotoran yang kurasakan.

Setelah selesai Shalat Maghrib, aku tidak berlama-lama di sajadah. Aku segera meraih ponselku yang tergeletak di kasur. Pikiranku langsung tertuju pada Mas Bims, pria yang telah membimbingku melewati ancaman Pak Rahmat.

Aku membuka aplikasi Toktok dan mengiriminya pesan:

"Mas Bims. Aku sudah aman. Pak Rahmat sudah pulang. Terima kasih banyak, Mas. Kalau enggak ada Mas Bims, aku enggak tahu harus gimana."

Mas Bims membalas pesanku dengan cepat, nadanya terdengar santai.

"Bagus Ukhti, kok lama? Tadi Pak Rahmat minta apa dari Ukhti?"

Aku bingung. Haruskah aku jujur? Meskipun aku malu, aku sudah telanjur jujur padanya. Selain itu, ia sudah melihatku di titik kehancuran, jadi aku memutuskan untuk jujur, meskipun harus berbohong sedikit untuk menjaga sisa martabatku.

"Dia minta coli di depanku, Pak. Cuma itu saja," jawabku, meskipun aku tahu ada remasan, sentuhan, dan sperma di cadarku yang sengaja kusembunyikan.

"Baguss Ukhti," balas Mas Bims cepat, tanpa menunjukkan keterkejutan. "Yang penting kamu yang mengendalikan situasi. Kamu enggak boleh kalah. Kamu harus mendominasi jika ada laki-laki yang menggoda kamu. Kalo bisa Kamu harus goda balik. haha"

"Iya, Mas Bims," jawabku, merasakan lagi rasa berkuasa yang ia ciptakan.

Kemudian, ia mengubah topic.

"Kamu enggak mau live kayak Ustadzah Tiara gitu?"

"Aku enggak berani," balasku jujur.

"Kenapa enggak berani?" tanyanya, nadanya sedikit menantang.

"Kan aku Ustadzah pengisi pengajian, mana mungkin live seperti itu.." jelasku, menyinggung citra suci yang masih kupegang teguh.

"Kamu bisa bikin akun baru. Khusus buat PK match. Nanti main challenge," rayunya.

Aku terdiam. Ide itu begitu gila. Memisahkan Zahra yang suci dari Zahra yang liar dengan membuat akun baru. Aku bisa mendapatkan damba dan pengakuan liar tanpa menghancurkan citra guru ngajiku. Aku bingung.

Aku tidak membalas pesan Mas Bims itu. Ide untuk membuat akun ganda, memisahkan sisi suci dan liarku, terasa begitu menggoda sekaligus menakutkan. Aku menaruh ponselku di sofa, membiarkan keheningan mengambil alih.

Tak lama, aku mendengar Adzan Isya berkumandang. Aku bergegas menuju sajadah. Setelah membersihkan diri dengan mandi junub tadi, aku berharap shalat ini bisa memberiku ketenangan. Namun, saat bersujud, bayangan penis Pak Rahmat yang menempel di cadarku terus mengganggu kekhusyukanku.

Setelah selesai Shalat Isya, aku beranjak ke dapur untuk memasak. Aku mencoba menyibukkan diri dengan rutinitas agar pikiranku tidak melayang pada dosa yang baru kulakukan. Setelah selesai, aku makan dalam diam.

Selesai makan, aku kembali ke kamar mengambil ponselku. Aku berjalan ke ruang tamu, dan duduk di sofa yang sama, sofa yang baru saja menjadi saksi kehinaanku.

Aku membuka aplikasi Toktok. Bukan untuk mencari kajian agama. Jari-jariku yang gelisah ingin melihat kembali dunia yang telah meruntuhkanku. Aku mencari akun Ustadzah Tiara lagi, meskipun aku tahu ini adalah langkah menuju kehancuran.

Aku menemukan akunnya, tetapi layar profilnya sepi. Ustadzah Tiara sedang tidak live.

Rasa kecewa itu ada, tetapi hasratku untuk mengetahui seluk-beluk "dunia baru" yang ditawarkan Mas Bims jauh lebih besar. Aku menaruh ponselku di pangkuan. Aku memutuskan mencari tahu bagaimana sih PK match challenge itu bekerja.

Aku keluar dari profil Ustadzah Tiara dan kembali ke halaman utama Toktok. Aku mencari-cari video penjelasan tentang fitur tersebut. Aku menemukan beberapa video yang menjelaskan mekanismenya:

PK match adalah pertarungan virtual antara dua host live di mana penonton akan saling berlomba memberikan hadiah (gift) untuk mendukung host favorit mereka. Aku melihat gift yang masuk dihitung sebagai poin. Pihak yang poinnya paling banyak pada akhir waktu yang ditentukan akan memenangkan tantangan tersebut.

Aku menonton lebih detail. Dalam video itu, host yang menang akan mendapatkan semua hadiah (gift), sementara yang kalah akan mendapatkan hukuman (challenge).

Hukuman itu bermacam-macam, dari sekadar mencoret wajah hingga hukuman yang bersifat sensual. Dan di kalangan host liar, hukuman itu seringkali berupa tantangan untuk menggoyangkan tubuh atau melakukan gerakan yang memancing hasrat, bahkan merobek baju.

Aku membayangkan diriku di tengah pertarungan itu. Aku, Ukhti Zahra sang guru ngaji, menjadi host di arena challenge yang penuh dosa, merobek baju gamisku sehingga memperlihatkan tubuhku. Aku tidak butuh hadiahnya, tetapi aku butuh sensasi kemenangan, sensasi mendominasi, dan pengakuan yang akan kudapatkan dari ratusan, bahkan ribuan, mata yang menonton.

Aku teringat kata-kata Mas Bims: Kamu bisa bikin akun baru. Khusus buat PK match. Nanti main challenge.

Ide itu terasa semakin masuk akal. Ini adalah cara untuk menciptakan Zahra yang liar di balik topeng Zahra yang suci di kompleks perumahan.

Aku mematikan ponselku. Aku sudah tahu cukup. Aku harus segera bertindak. Aku harus menciptakan identitas liarku. Aku harus membuat akun baru. Aku akan menjadi Ratu di Toktok, didanai oleh Mas Bims, dan dicari oleh para pria cabul di seluruh dunia maya.

"Yaaa aku akan melakukannya besok. Tidak sekarang," gumamku pada diriku sendiri. "Aku harus mempersiapkan dengan matang."

Aku tidak boleh terburu-buru. Aku harus membuat identitas baruku sempurna, sebuah topeng yang sama kuatnya dengan cadar dan gamis yang kugunakan di dunia nyata. Aku akan memisahkan Ukhti Zahra sang guru ngaji dari Ratu Dosa yang akan bermain di dunia maya, seperti yang disarankan Mas Bims.

Aku menaruh ponselku di meja, bangkit dari sofa, dan berjalan ke kamar. Aku membaringkan diriku di kasur. Pikiranku dipenuhi strategi: nama akun baru, penampilan, dan tantangan yang akan kuterima.

Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku yang lelah beristirahat. Aku membayangkan Pak Rahmat yang telanjang, Pak Hasan yang meremas pantatku, dan Mas Bims yang tertawa puas di balik layar, menyebutku "Sayang.".

Aku tertidur lelap, tetapi jiwaku tidak menemukan damai. Alih-alih mimpi suci, aku justru terseret ke pusaran fantasi liar yang kusimpan rapat. Aku memimpikan kejayaanku sebagai Ratu Dosa di live streaming.

Aku bermimpi berada di dalam ruang live streaming yang terang, aku mengenakan gamis abu-abuku yang licin dan agak ketat, dengan cadar terpasang sempurna. Di depanku, layar terbelah dua. Di sisi lain, tampak seorang pria tampan, berwajah tulus seperti Pak Bayu tetapi dengan sorot mata penuh hasrat, yang sedang melakukan PK match denganku. Di atas layar, angka gift kami berdua berdetak cepat.

Ting! Ting! Ribuan gift masuk.

"Ayo, Ukhti Zahra! Challenge! Jangan kasih menang!" teriak suara-suara anonim dari kolom komentar yang membanjiri layar.

Aku tersenyat. Aku kalah telak. Skorku jauh di bawah pria itu.

"Hukuman, Ukhti Zahra!" seru suara pria itu, suaranya serak dan menuntut. "Aku mau lihat kamu goyang! Tunjukkan goyanganmu!.. hahaha."

Aku tersenyum di balik cadar, sebuah senyum penuh rahasia dan kepasrahan. Aku mengangguk.

Aku memulai challenge pertamaku. Aku mulai menggoyangkan pinggulku, pelan di awal, tetapi semakin lama semakin sensual. Gerakan itu membuat gamis licinku berayun, mencetak siluet pantatku yang padat.

"Mmmhh... Ahhh!" aku mendesah, suaraku parau, menikmati sensasi damba yang datang dari ribuan mata di layar.

"Lagi, Ukhti Zahra! Lebih liar! Aku mau lihat kamu meliuk!" perintah pria itu.

Aku kalah lagi. Dan kali ini, hukumannya semakin brutal, didorong oleh komentar para penonton.

"Ukhti Zahra, aku mau lihat perutmu! Buktikan kamu seksi, ayo robek baju kamu. haha!"

Aku memejamkan mata. Aku mengambil gunting yang entah dari mana muncul di tanganku. Dengan tangan gemetar, aku mulai menggunting gamis abu-abuku. Sret! Sret! Kain itu robek di bagian perut, memperlihatkan perutku yang rata dan putih mulus, sedikit pusarku terlihat.

"Aahh!" aku menjerit lirih. Sensasi terlarang itu membuatku gila. Aku mengelus perutku, merasakan pandangan ribuan pria menelanjangiku.

"Lagi, Ukhti Zahra! Kamu belum cukup liar, kami belum puas. Iya kan penonton. Hahaha!!" teriak pria itu, suaranya kini terdengar seperti Mas Bims, penuh dominasi.

Aku kalah lagi. Tantangan terakhir menghantamku.

"Aku mau kamu tunjukkan bra kamu! Nenen se gede itu pasti enak kalo di kenyot!"

Aku menatap layar. aku sudah menjadi Ratu Dosa.

Aku meraih lubang yang aku sobek di gamisku tadi. Aku menariknya ke atas, membiarkan bra dan payudaraku yang besar dan padat terekspos. Aku mendesah liar, suaraku pecah, penuh gairah yang tak tertahankan.

"Aahhh! Ayoo sini kenyot putingku! Ahhh!"

Aku menjerit, di hadapan ribuan mata para pria cabul di aplikasi itu.

Kemudian Aku bangun, Aku tersadar. Aku berada di kamarku, Aku bersyukur ternyata itu semua Cuma mimpi. Pagi sudah menjelang. Jendela kamarku menampilkan cahaya fajar.

Aku buru-buru menyentuh dadaku. Mukenaku masih utuh dari semalam.

Mimpi itu begitu hidup. Aku tahu, ini bukan sekadar fantasi. Ini adalah proyek liarku yang harus segera kulaksanakan. Aku harus menciptakan akun baru nanti.

Aku segera bangun. Kulihat sudah jam lima pagi. Aku kemudian menunaikan Shalat Subuh. Setelah shalat, aku berganti menggunakan gamis abu-abu yang ketat itu, nggak tau kenapa aku ingin memakai gamis ini. Kemudian aku menyapu rumah, membersihkan setiap sudut ruang tamu yang baru saja menjadi saksi bisu kehinaan dan kebinalanku. Kemudian, aku menyapu halaman depan rumah kontrakanku.

Aku melakukan rutinitas itu dengan pikiran yang terbagi. Satu sisi masih menjaga peran sebagai Ukhti Zahra yang alim dan rajin, tetapi sisi lainku kini fokus merencanakan menjadi Ratu Dosa di dunia maya. Aku harus menciptakan benteng yang tak bisa dihancurkan. Aku harus memastikan, kehancuran yang terjadi di rumahku tidak akan merusak citra suci yang kugunakan untuk mengajar mengaji.

Sambil menyapu halaman, aku memastikan wajahku tertutup sempurna oleh cadar, mengangguk sopan pada tetangga yang sesekali lewat.

Kemudian, ada suara motor berhenti di depan rumahku.

"Assalamualaikum, Ukhti," sapa suara yang dalam dan familier.

"Wa'alaikumsalam," jawabku, sambil mengangkat kepala.

Kulihat itu adalah Pak Bayu. Ia mengenakan kemeja kantor yang rapi, tampak sangat maskulin di atas motor sport-nya.

"Ehh, Pak Bayu! Mau berangkat kerja?" tanyaku, berusaha terdengar santai, meskipun jantungku langsung berdesir melihatnya.

"Iya, Ukhti. Mau berangkat kerja," jawabnya, tersenyum ramah. "Rajin sekali Ukhti pagi-pagi nyapu halaman rumah."

"Alhamdulillah, Pak. Sudah rutinitas, biar rumahnya bersih," jawabku, membalas senyumnya dari balik cadar. Aku mencengkeram erat gagang sapu, berusaha mengendalikan diri dari gejolak hasrat yang selalu ia picu.

Pak Bayu mengangguk, matanya menatapku dengan tulus, seperti biasa. Namun, kali ini, pandangannya sedikit berbeda. Ia tidak lagi menatap lurus ke mataku seperti dulu, melainkan sedikit turun, ke arah dadaku. Ia terdiam sejenak, lalu berdeham.

"Ukhti, gamisnya bagus hehe," pujinya, suaranya sedikit lebih serak, berusaha terdengar kasual.

Aku memandang gamis abu-abuku yang licin dan mencetak tubuh. Gamis yang sama yang kemarin berhasil membuatnya gagal menjaga pandangan.

"Ihh, Pak Bayu, hehe, bagus banget yaa?" tanyaku, nadaku kembali genit, sebuah isyarat tersembunyi yang ingin memancing pengakuan liarnya

"Hehe iya Ukhti, jadi terlihat lebih seksi.. ehh maksudnya lebih cantik.. hehe," jawab Pak Bayu, suaranya sedikit gugup, tetapi matanya tetap menatap ke area dadaku, gagal menyembunyikan hasrat tersembunyinya.

"Haha. Pak Bayu ada-ada aja. Ingat istri di rumah, Pak. Masa Ukhti-Ukhti gini digodain," balasku, tawaku renyah di balik cadar.

Meskipun aku berpura-pura menolak, di dalam hati, aku merasa senang. Pengakuan ini, yang datang dari pria ideal idamanku, terasa jauh lebih memabukkan daripada pujian vulgar Pak Rahmat atau Pak Hasan.

"Ya ampun, Maaf Ukhti Zahra," balasnya, mencoba menguasai diri, tetapi senyumnya semakin lebar, menyimpan rahasia. "Saya duluan ya, Ukhti. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumsalam, Pak Bayu," jawabku, mengangguk sopan.

Aku berdiri di halaman, melihat punggungnya yang tegap menjauh di atas motor sport-nya. Sekarang, godaan nyata dari Pak Bayu telah menyempurnakan kehancuranku.

Aku kembali masuk ke dalam rumah. Ini adalah sinyal bahwa aku harus segera meluncurkan identitas baruku. Aku tidak bisa lagi menahan hasrat untuk mendominasi dan mendapatkan pengakuan liar.

Aku berjalan cepat ke kamar, mengambil ponselku. Waktunya membuat akun baru. Aku akan menjadi Ratu Kenikmatan di Toktok.

Aku mulai mengotak-atik aplikasi. Dengan tangan gemetar, aku membuat akun baru, sebuah identitas alter yang benar-benar terpisah dari Ukhti Zahra sang guru ngaji.

Setelah proses pendaftaran, aku memberi nama akunku QueenSha. Nama yang terdengar dominan, angkuh, dan penuh kekuasaan. Ini adalah nama yang akan dipakai oleh Zahra versi yang liar, yang ingin menjadi ratu mencari kenikmatan.

Lalu, aku mengatur foto profil. Aku tidak berani menggunakan wajahku sendiri, meskipun tertutup cadar, karena takut terhubung dengan identitas asliku. Aku memutuskan untuk memakai foto profil fiktif, sebuah gambar siluet wanita berjilbab dengan mahkota, yang memancarkan aura misterius dan mendominasi.

Aku telah menciptakan QueenSha. Benteng antara sisi suci dan liarku kini berdiri tegak. Aku tersenyum penuh rahasia. Kini, aku siap mengirim pesan kepada Mas Bims.

Aku segera mengirim pesan ke akun Mas Bims menggunakan identitas baruku, QueenSha.

"Mas Bims, aku sudah bikin akun baru."

Aku menunggu balasannya. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Ponselku tetap sunyi. Mas Bims tak kunjung menjawab. Mungkin dia sedang sibuk, atau belum melihat pesanku.

Aku merasa tidak sabar. Hasrat untuk mendapatkan pengakuan liar yang kudambakan sudah memuncak, terutama setelah godaan Pak Bayu tadi. Aku tidak bisa menunggu. Aku harus berinisiatif.

Aku memutuskan untuk live sendiri.

Aku mencari spot yang tidak ada orang lain tahu. Aku masuk ke kamar tidurku. Aku mengatur ponselku di atas meja rias, menjadikannya tripod. Aku live dengan background kamarku. Tidak ada yang tahu spot ini selain aku sendiri karena tidak ada orang lain yang pernah masuk kamarku. Ini terasa aman, sebuah ruang rahasia tempat QueenSha menjalankan aksinya.

Aku merapikan gamis abu-abuku yang licin dan mencetak tubuh. Aku memastikan cadarku terpasang sempurna, hanya menyisakan mata indahku yang ber-eyeliner. Aku menenangkan diri, menarik napas panjang.

Aku kemudian menekan tombol live.

Di layar, nampaklah diriku: QueenSha yang tertutup sempurna, dari kepala sampai ke sebagian dada. Aku belum berani menampilkan sampai payudaraku.

Aku menyapa para penonton dengan suara yang kuusahakan selembut mungkin, tetapi ada nada percaya diri yang kental di sana.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, semuanya. Selamat datang di live perdanaku."

Penontonku mulai bertambah. Dari nol, menjadi lima, lalu sepuluh, dan kemudian ada 15 orang. Komentar-komentar mulai masuk, kebanyakan hanya menyapa ringan.

Tiba-tiba, muncul notifikasi di layar. Seseorang mengundangku untuk PK match.

Aku terkesiap, tetapi hasratku bergejolak. Aku menerima undangan itu.

Layar terbelah dua. Di sisi seberang, tampak seorang laki-laki tampan, wajahnya bersih, stylish, dan mukanya mirip artis Korea. Ia menatapku dengan senyum yang penuh misteri. Ini adalah lawan pertamaku sebagai QueenSha. Jantungku berdebar tak karuan, bercampur antara gugup dan euforia liar.

Bersambung...


 

Read More

𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟔 𝐒𝐩𝐞𝐫𝐦𝐚 𝐝𝐢 𝐂𝐚𝐝𝐚𝐫𝐤𝐮

Aku membuka kunci pintu.

Pintu itu terbuka, menampakkan Pak Rahmat dengan seragam satpamnya yang lusuh, wajahnya merah padam karena hasrat dan kekuasaan.

"Nah, gitu dong, Ukhti. Saya tahu Ukhti mau main juga, kan? Sini, saya mau..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, aku mengangkat tangan, memberinya isyarat untuk diam. Aku menatap matanya dengan pandangan setajam mata cadarku, ekspresi paling dingin dan paling merendahkan yang pernah kuberikan.

"Pak Rahmat," ucapku, suaraku dalam, tenang, dan menusuk, persis seperti intonasi saat aku mengajar mengaji. "Tolong jaga kehormatan dan tugas Bapak. Saya tadi hanya selesai mandi, dan saya tidak suka diganggu."

Pak Rahmat terdiam. Ia tampak bingung, tidak menyangka akan menghadapi Ukhti Zahra yang alim, bukan wanita binal yang ia lihat di sofa.

Aku melanjutkan, kata-kataku kini mengandung ancaman tersembunyi.

"Dan satu lagi, Pak Rahmat. Aku bisa melaporkan bapak ke polisi dengan tuduhan mendobrak masuk ke rumah dengan niat jahat atau pemerkosaan."

Kata-kata itu berhasil. Wajah Pak Rahmat seketika pucat pasi. Ia mundur selangkah, kaget. Kekuasaan yang tadi ia tunjukkan langsung runtuh di hadapan ancaman hukum.

"Tapi Ukhti..." ia merengek, suaranya kembali menjadi serak dan memelas, seperti pengemis hasrat. "Aku udah ngaceng banget. Please bantuin dong, Ukhti. Cuma sebentar aja." Ia melirik ke arah celana seragamnya yang menonjol.

"Enggak, ya Pak. Sana keluar," tolakku, nadaku tetap dingin dan tegas, meskipun di dalam hati, gairah yang sempat hilang kini berdesir kembali, melihat betapa memelasnya pria yang tadi mengancamku.

Pak Rahmat semakin memelas. Ia memajukan tubuhnya sedikit, mencoba merayu. "Ukhti Zahra... Please, kasihanilah Bapak. Bapak janji, cuma sebentar. Lihat ini, Ukhti. Ini semua karena Ukhti. Kalau enggak dituntaskan, Bapak enggak bisa kerja. Cuma sebentar, please... mau ya? Enggak akan ada yang tahu kok tenang aja."

Aku menatapnya. Rasa kasihan yang aneh tiba-tiba muncul. Di satu sisi, dia adalah pria yang mengancam kehancuranku. Di sisi lain, dia adalah pria kesepian, yang kini menunduk, mengakui hasratnya yang tak tertahankan kepadaku.

Aku teringat pesan Mas Bims: Buka pintunya, Ukhti. Kamu harus mengendalikan situasi. Dan Lakukan apa yang kamu mau.

Mas Bims menyuruhku membuka pintu. Dia menyuruhku mengendalikan situasi.

Aku menghela napas panjang. Aku tahu ini gila, tetapi aku juga tahu, aku tidak bisa menolak hasratku sepenuhnya. Selain itu, dengan membiarkan dia menuntaskan hasratnya, aku bisa memastikan dia tidak akan pernah berani mengancamku lagi, dan dia akan berutang budi padaku.

Aku menyingkirkan tubuhku dari ambang pintu, memberikan sedikit celah.

"Baik, Pak Rahmat. Bapak boleh masuk," ucapku, suaraku kembali berubah menjadi nada yang tenang dan mendominasi. "Tapi ingat, cuma sebentar. Dan tidak ada sentuhan. Bapak hanya boleh... coli dengan cepat, dan sebelum Maghrib, Bapak harus segera pulang. Janji?"

Wajah Pak Rahmat seketika berseri-seri. Ia tersenyum penuh kemenangan dan rasa lega, mengabaikan syarat-syaratku.

"Iya, Ukhti! Aku janji! Aku janji!" serunya, ia buru-buru melangkah masuk ke dalam rumah kontrakanku.

Aku menutup pintu dengan perlahan. Aku telah membiarkan serigala masuk ke dalam rumah si domba suci. Aku telah melewati batas kegilaan yang baru. Aku kini menjadi dalang, yang mengizinkan pemerkosaan terselubung terjadi di ruang tamuku sendiri, di bawah kendali seorang pria yang tak terlihat, Mas Bims.

Aku melangkah cepat. Tangan kananku segera menarik gorden ruang tamu yang tadi kubiarkan terbuka setengah. Kain gorden itu tertutup rapat, menghalangi pandangan dari luar, dan seketika, suasana di dalam rumah terasa lebih gelap dan terisolasi. Tindakan itu adalah sebuah kontradiksi yang menyakitkan: aku baru saja menutup pintu bahaya dari dunia luar, tetapi justru mengizinkan inti bahaya itu masuk ke dalam rumahku.

Aku berbalik. Pak Rahmat berdiri di tengah ruangan, wajahnya masih memerah dan matanya menyala penuh hasrat.

"Sini, Pak Rahmat. Duduk di sofa seberangku," ucapku, nadaku kembali dingin dan mendominasi. Aku berjalan ke sofa tempatku tadi duduk telanjang, dan duduk di sana.

Aku menunjuk sofa di seberangku, sofa yang membelakangi jendela dan gorden yang baru saja kututup. Dengan begitu, Pak Rahmat akan memunggungi gorden, Aku juga menjaga jarakku tetap jauh dari Pak Rahmat.

Pak Rahmat mengangguk cepat, senyumnya menyeringai. Ia melangkah menuju sofa yang kutunjuk dan duduk di sana, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Ia tampak lega dan penuh kemenangan.

"Yaudah cepat, Pak, jangan lama-lama," desakku, suaraku kaku, berusaha mengendalikan waktu dan situasi.

Pak Rahmat tidak langsung bergerak. Ia menatapku, matanya menyapu tubuhku yang kini tertutup rapat oleh gamis dan cadar. Wajahnya menunjukkan kekecewaan karena ia tidak lagi melihat pemandangan yang tadi ia saksikan di jendela tadi.

"Ukhti buka lagi dong gamisnya kayak tadi hehe," rayunya, nadanya menjijikkan.

"Engga, Pak. Gini aja," tolakku tegas, Aku harus mempertahankan sisa-sisa wibawaku.

Pak Rahmat mendesah. Ia mengangguk pasrah.

"Yaudah deh, Ukhti. Tapi Ukhti lihat Bapak ya. Bapak ngaceng banget nih lihat Ukhti yang alim begini," pintanya, suaranya serak, penuh pemujaan liar.

Aku hanya diam, tidak mengiyakan dan tidak menolak. Aku membiarkan keheningan itu menjadi persetujuan.

Pak Rahmat tidak menyia-nyiakan waktu. Ia menggerakkan tangannya ke selangkangan, kemudian aku mendengar suara gesekan kain dan resleting dibuka. Ia menurunkan celana seragamnya hingga ke lutut, memperlihatkan tubuh bagian bawahnya yang telanjang.

Deg!

Meskipun aku sudah pernah melihatnya, pemandangan itu terasa lebih nyata, lebih mengancam, dan lebih memalukan karena ia kini berada di dalam rumahku. Penisnya yang besar, tegang, dan hitam berdiri tegak, menyambutku, sangat berbeda dengan milik mas bims yang putih bersih.

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku menegang di balik gamisku.

"Ahhh... Ukhti Zahra..." erang Pak Rahmat, ia mulai menggerakkan tangannya di kemaluannya.

Tangannya yang besar dan kasar mulai memompa dengan ritmis. Gerakannya cepat, brutal, dan matanya terus tertuju padaku, mencari reaksi di balik cadarku.

"Gila, Ukhti! Ukhti lihat ini! Aku ngaceng banget karena kamu! Body kamu yang aku lihat tadi... Nenen kamu yang gede... Ahhh! Aku mau kamu desah kayak tadi, Ukhti!" desahnya, suaranya semakin keras.

Aku memejamkan mata sejenak, menenangkan gairah yang kembali bergejolak melihat adegan vulgar di hadapanku.

"Aku... aku enggak bisa desah, Pak Rahmat," ucapku, suaraku parau, berusaha meniru intonasi yang kuingat dari pesan Bims. "Aku cuma mau Bapak cepat selesai."

"Aku susah keluar kalau ukhti enggak desah! Aku tahu ukhti masih sange kan! Desah untuk aku! Aku mau ukhti sebut nama aku!" ucap Pak Rahmat, kini ia berdiri, mendekat ke tepi sofa di seberangku, tubuh bagian bawahnya yang telanjang terekspos penuh di hadapanku.

Aku meraih gamisku, mencengkeramnya erat-erat di pangkuanku, tetapi tanganku yang gemetar kini mulai mengelus pahaku sendiri, dari luar gamis.

"Mmmhh... Ahhh..." rintihku, desahan lirih itu lolos tanpa bisa kutahan.

"Gitu, Ukhti! Terus! Lebih liar!" seru Pak Rahmat, gerakannya semakin brutal, matanya menyala penuh kemenangan.

Aku terus mengelus pahaku, membiarkan tubuhku melengkung di sofa. Desahanku semakin keras, mengimbangi gerakan tangannya.

"Ahh! Pak Rahmat! Terus! Lebih cepat! Aku suka! Mmmhh!" Aku menjerit lirih, memanggil namanya di tengah perbuatan cabul yang ia lakukan.

Aku semakin bernafsu melihat penisnya, tanganku kumasukkan ke balik jilbab, aku meremas payudaraku dari luar gamisku. Siluet tanganku meremas payudaraku terlihat jelas dari luar jilbabku. Pak Rahmat semakin semangat. Gerakan tangannya semakin brutal. "Ahhh.. Iyahh Gitu Ukhti.. Baguss.. Ahhh.. "

Tok! Tok! Tok!

Tiba-tiba, suara ketukan lain yang lebih ringan terdengar dari pintu depan.

Degg..!!, Jantungku mau copot untuk kesekian kalinya.

"Assalamualaikum, Ukhti Zahra. Ini Bu Ratih. Maaf, mengganggu, saya mau pinjam timbangan sebentar."

Bu Ratih. Tetanggaku. Sosok yang akan menghakimiku jika tahu ada satpam dengan penis yang baru saja dikeluarkan di ruang tamuku.

Pak Rahmat panik. Ia segera melihat sekeliling, mencari tempat bersembunyi. Celananya masih melorot.

"Sini, Pak Rahmat, cepat! Di dapur!" bisikku, melompat berdiri, menunjuk ke dapur yang hanya dipisahkan oleh dinding.

Pak Rahmat tidak berpikir dua kali. Ia buru-buru menarik celananya ke atas tanpa merapikan resleting, berlari ke dapur dan bersembunyi di dalam kamar mandi, bersandar kaku, mencoba mengatur napasnya.

Aku melangkah ke pintu depan. Aku merapikan gamisku dan jilbabku dengan gerakan cepat, menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungku yang memburu. Aku harus kembali ke peran Ukhti Syar'i yang sempurna.

Klek.

Aku membuka pintu, tersenyum dari balik cadar.

"Wa'alaikumsalam, Bu Ratih. Ada apa ya, Bu?" tanyaku, suaraku kuusahakan selembut dan setenang mungkin. Wajah Bu Ratih terlihat ramah, tanpa curiga sedikit pun.

Di hadapanku, Bu Ratih, tetangga seberang rumah, tersenyum ramah. Ia adalah sosok ibu-ibu komplek yang cerewet dan sangat memperhatikan moral.

"Begini, Ukhti Zahra," kata Bu Ratih, nadanya santai. "Anak saya mau kirim paket. Saya mau pinjam timbangan dapur sebentar. Timbangan saya rusak. Maaf ya, mengganggu sore-sore begini."

Aku harus bertindak cepat. Aku tidak bisa membiarkan Bu Ratih masuk dan melihat sofa yang baru saja menjadi panggung adegan vulgar.

"Ohh iya, Bu, boleh. Tunggu ya, Bu," jawabku, senyumku dari balik cadar kuusahakan terlihat ramah dan tanpa cela.

Aku melangkah cepat ke dapur. Aku mengambil timbangan dapur dari lemari. Gerakanku sangat terburu-buru, tetapi aku harus menjaga agar tidak ada suara pak rahmat dari kamar mandi yang bisa didengar Bu Ratih.

Aku kembali ke pintu depan.

"Ini, Bu timbangannya. Silakan dipakai," ucapku, menyodorkan timbangan itu ke depan.

"Wah, makasih banyak ya, Ukhti Zahra. Maaf ngerepotin," balas Bu Ratih sambil menerima timbangan itu. "Sibuk ya, Ukh? Tadi saya lihat gordennya tertutup rapat banget."

Jantungku kembali kencang. Bu Ratih telah memperhatikan gordenku!

"Iya, Bu. Tadi habis video call kajian sama teman-teman. Jadi gordennya saya tutup," jawabku cepat, menggunakan kebohongan yang paling aman.

"Ohh, begitu. Bagus, Ukhti. Rajin sekali. Ya sudah, saya permisi dulu ya, Ukh. Assalamualaikum," kata Bu Ratih.

"Wa'alaikumsalam," balasku.

Setelah Bu Ratih berbalik dan berjalan menuju rumahnya, aku segera menutup pintu. Aku memutar kunci dengan cepat, memastikan pintu terkunci rapat.

Baru setelah itu, aku berbalik dan berjalan cepat ke belakang, ke arah dapur, tempat Pak Rahmat bersembunyi.

Aku mengetuk pelan pintu kamar mandi.

"Pak Rahmat," bisikku pelan. "Bapak bisa keluar sekarang. Cepat rapikan diri Bapak lalu pulang."

Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka perlahan. Pak Rahmat melangkah keluar, tetapi bukan dengan pakaian rapi. Ia keluar dalam keadaan telanjang bulat, sambil tangannya terus mengocok penisnya yang masih tegang.

Aku kaget. Seluruh tubuhku menegang. Aku refleks menutup mataku dengan kedua tangan.

"Pakk... kok telanjang!" seruku, suaraku parau, dipenuhi keterkejutan dan rasa malu yang memuncak.

Pak Rahmat menyeringai, tidak terpengaruh oleh kepanikanku. Ia melangkah maju, mendekatiku.

"Iya, Ukhti. Bapak Sudah enggak tahan. Boleh yaa?" godanya, suaranya serak dan menuntut.

Aku diam, jantungku berdebar tak karuan, terperangkap di antara dinding dan tubuhnya yang telanjang.

"Ahhh... Ukhti buka aja matanya. Lihat aja, enggak apa-apa," bisiknya, suaranya kini membujuk, memancing hasrat liarku. "Bapak janji, enggak akan pegang Ukhti. Bapak cuma mau Ukhti lihat aku coli di depan ukhti aja.."

Aku menelan ludah. Rasa malu yang kuat beradu dengan rasa ingin tahu dan gairah yang kembali bergejolak. Aku adalah Zahra yang liar, yang baru saja melayani hasrat di dunia maya dan mengizinkan perbuatan cabul terjadi di ruang tamunya. Apakah batas ini benar-benar harus kupertahankan?

Perlahan, aku menurunkan tanganku dari wajahku. Aku membuka mataku.

Aku kini menyaksikan Pak Rahmat berdiri telanjang bulat di hadapanku, di tengah dapurku sendiri. Aku, si Ukhti Syar'i dengan gamis dan cadar yang menutupi setiap inci tubuhku, berhadapan dengan pemandangan paling telanjang dan vulgar yang pernah kulihat.

Penisnya yang hitam, besar, dan keras, ada di hadapanku, diiringi gerakan tangannya yang brutal. Badan nya yang kurus hanya berjarak satu meter dari tubuhku.

"Ahh... Ukhti... Body kamu bagus banget," erang Pak Rahmat, suaranya pecah, matanya menatapku lekat-lekat, penuh kekaguman liar.

"Cepat, Pak... sebelum Maghrib," desakku, suaraku parau.

"Bantuin dong, Ukh, biar cepat... Remas nenen kamu kayak tadi," pintanya, suaranya serak, memohon bantuan.

Aku nurut. Aku segera memasukkan tanganku dibalik jilbab dan gamisku, kemudian mencengkeram payudaraku yang besar dan padat, meremasnya kuat-kuat.

"Ahh... Mantap banget, Ukhti!" seru Pak Rahmat, gerakannya di kemaluan semakin brutal, mengimbangi remasanku.

"Iya, Pak, cepat! Ahh..." aku mendesah, membiarkan tubuhku melengkung di balik gamis.

"Hehe. Enak kan, Ukhti? Sudah mulai sange kan," godanya, tawanya terdengar penuh kemenangan.

"Ahhh... Enggak, Pak. Cepat," tolakku lemah, meskipun rasa basah dan geli di bawah sana mengkhianati kata-kataku.

Pak Rahmat maju selangkah, kini jaraknya denganku tinggal sejengkal. Ia mempercepat kocokannya, penisnya yang keras bergetar di hadapanku.

"Aahh... Ukhti, jilbabnya angkat dong. Aku ingin lihat tangan Ukhti meremas," rayunya, suaranya mengandung perintah yang menuntut penyerahan diri yang lebih dalam.

Aku menatapnya. Rasa malu itu ada, tetapi hasrat yang memuncak dan kebutuhan untuk segera mengakhiri permainan berbahaya ini membuatku goyah.

Aku menghela napas pasrah. Aku menarik jilbab lebarku yang menutupi dada dengan tangan kiriku, dan menyampirkannya ke pundak. Payudaraku yang sedang kuremas dengan tangan kanan kini terlihat lebih jelas, tercetak di balik gamis.

Pak Rahmat mendesah keras, gerakannya di kemaluan seketika melambat, matanya terpaku pada pemandangan di balik jilbabku.

"Masya Allah, Ukhti Zahra... Gila!. Bagus bangett.." erangnya, suaranya serak, penuh kekaguman. "Itu yang aku mau lihat, Sayang. Nenen Ukhti... besar banget, Ukh! Padat. Aku enggak bohong, Ukhti Zahra. Nenen Ukhti ini yang paling bagus yang pernah aku lihat, melebihi cewek-cewek lain di komplek sini."

Pujian vulgar itu menghantamku, mematikan rasa malu dan menggantinya dengan kebanggaan yang kotor. Aku adalah Ukhti Zahra, guru ngaji alim, yang kini dipuji payudaraku oleh seorang satpam telanjang di dapurku.

"Aahh... andai aku bisa meremasnya, Sayang! Andai aku bisa kulum puting Ukhti Zahra!.. Ahhh.." Pak Rahmat mendesah, tangannya yang mengocok penisnya kini gemetar. "Aku pengen banget ngentot Ukhti Zahra! Aku pengen rasain memek Ukhti yang perawan! Aku janji, Ukhti pasti lebih enak daripada cuma digesek di warung nasi goreng itu!"

Desahan dan kata-kata kotornya, yang secara langsung menyerang kehormatanku, justru membuat hasratku meledak tak tertahankan. Aku menutup mataku, membiarkan tubuhku melengkung.

Aku meremas payudaraku lebih kuat, mencubit putingku dari luar hingga terasa sakit. Desahan liarku kini mengimbangi erangan Pak Rahmat.

Aku membayangkan tangan besar dan kasar Pak Rahmat yang meremas payudaraku. Aku membayangkan penisnya yang tegang dan bersih, yang kini terpampang di depanku, menghantam vaginaku, Aku membayangkan diriku menjerit di bawahnya, bukan karena takut, melainkan karena kenikmatan.

"Aahh! Pak Rahmat! Lebih cepat! Aku suka! Mmmhh!" Aku menjerit lirih, memanggil namanya di tengah fantasi liar itu. Aku sepenuhnya hanyut dalam dosa yang baru saja kucapai.

Aku terus meremas payudaraku, cengkeramanku semakin kuat, dan badanku melengkung ke belakang, bersandar ke tembok dapur.

"Ahhh! Pak Rahmat! Terus! Lebih cepat! Aku suka! Mmmhh!" Aku menjerit lirih.

"Gila, Sayang! Ukhti udah sange berat banget yaa.. hehe! Aku enggak tahan lihat nenen kamu yang besar itu!" erang Pak Rahmat, gerakannya di kemaluan semakin brutal. "Aku boleh enggak ikut remas nenen Ukhti? Biar kita sama-sama enak, Sayang!" rayunya, suaranya serak, penuh permohonan yang mendesak.

"Jangan, Pak! Ahhh..." tolakku, suaraku parau, meskipun aku tahu penolakanku kini hanyalah formalitas, dalam hati kecilku aku menginginkan itu.

Pak Rahmat tidak peduli. Ia mengambil langkah yang lebih berani. Tiba-tiba, ada yang menyingkirkan tangan kiriku di payudara kiriku, kemudian sentuhan asing, hangat, dan kasar mendarat di dadaku. Tangan kanannya yang besar telah menyentuh payudaraku, menangkupnya kuat-kuat di balik gamisku.

"Ahhh Pakk Emmhh... " desahan panjang, parau, dan basah lolos dari bibirku. Tubuhku tersentak hebat. Sensasi sentuhan fisik yang nyata, setelah gejolak yang kupicu sendiri, menghantamku seperti gelombang panas. Aku melepaskan remasanku sendiri. Kini, tangan Pak Rahmat yang mengambil alih permainan liar di tubuhku.

Tangan besar dan kasar Pak Rahmat mencengkeram payudaraku kuat-kuat di balik gamis. Ia meremasnya dengan brutal.

"Gila, Ukhti Zahra! Aku enggak bohong! Nenen kamu ini enak banget Sayang! Gede, kenceng, padat banget!" erangnya, suaranya pecah, dipenuhi kejujuran yang memabukkan.

Sentuhan fisiknya yang nyata, beradu dengan pemandangan penisnya yang tegang, membuat hasratku meledak. Aku melengkungkan punggungku, bersandar di tembok, menikmati setiap remasannya.

Tangan kiriku yang kini bebas, refleks bergerak ke bawah, ke area paling sensitifku mulai mengelus vaginaku dari luar kain gamisku.

"Ahh... Mmmhh..." desahku, suaraku semakin parau, mencari pelampiasan ganda.

Pak Rahmat menyadari gerakanku. Ia melirik ke bawah, ke tanganku yang tersembunyi.

"Hahaha! Ukhti Zahra! Ternyata kamu memang binal yaa Sayang!.. Ahh.. Enak kann Ukhti?." tawanya serak, penuh kemenangan. Ia sama sekali tidak merasa jijik, justru semakin bersemangat.

Remasannya di payudaraku semakin brutal, mencubit putingku dari luar hingga menegang.

"Gitu, Ukhti! Terus! Gesek yang cepat! Bapak suka lihat kamu binal begitu!" serunya, ia mempercepat kocokannya di kemaluannya, mengimbangi ritme gesekanku di vagina.

Aku sepenuhnya hanyut. Remasan di payudara, gesekan di vagina, dan pemandangan penis yang dikocok di hadapanku, semuanya berpadu menjadi pusaran gairah.

"Ahh! Pak Rahmat! Lebih cepat! Aku mau keluar! Ahhh...!" Aku menjerit lirih, memohon, tubuhku kejang-kejang.

Pak Rahmat mendesah keras, suaranya pecah, tahu bahwa kami berdua mencapai batas. "Gila, Sayang! Aku juga enggak tahan!!"

Ia mencondongkan tubuhnya, menyentuhkan penisnya yang keras dan hangat ke pahaku, penisnya terasa hangat di pahaku, meskipun terhalang gamis.

"Aahhh! Keluarrr! Aku Keluarrr Pakk!.. Ahhh.. Ahhh… Emmhhh..!"

Aku menjerit lirih, tubuhku kejang hebat, orgasme itu mengguncangku di dapurku sendiri, disaksikan pria telanjang. Aku ambruk ke tembok, lemas, dengan sisa-sisa desahan parau yang masih tertinggal.

Tubuhku lunglai, meluncur ke bawah, hingga aku ambruk berlutut di lantai dapur, tepat di hadapan Pak Rahmat yang masih berdiri tegak.

Degg.!!

Penisnya yang keras dan tegang kini persis berada di depan wajahku. Aku menatap penisnya lekat-lekat, pemandangan itu terasa begitu intim, begitu vulgar, dan begitu mematikan. Aku, Ukhti Syar'i yang berlutut di hadapan penis telanjang seorang satpam di rumahku sendiri.

Pak Rahmat mendesah keras, menyadari posisiku yang tak berdaya. Ia memanfaatkan momen ini. Ia menarik tangannya dari payudaraku, dan menggerakkan pinggulnya sedikit. Penisnya menyentuh pipiku dibalik cadarku.

"Aahh... Ukhti Zahra... Kamu hebat, Sayang! Body kamu bikin Bapak gila! Aku mau keluar! Aku mau crot di cadar Ukhti, ya? Boleh ya, Sayang! Aku mau crot di wajah Ukhti yang alim ini. Ahhh.. !" erangnya, suaranya pecah, penuh keputusasaan dan hasrat.

Aku tersentak, rasa malu dan ngeri memuncak. Aku menggeleng kepala kuat-kuat.

"Jangan, Pak! Jangan! Aku mohon!" bisikku, suaraku nyaris tak terdengar.

Namun, Pak Rahmat sudah berada di ambang batas. Ia tidak peduli dengan penolakanku.

"Terlambat, Sayang! Aku enggak tahan! Aku mau crot di muka kamu! Ahhh… ahhh…!!"

Ia mencengkeram kepalaku, menahannya agar tetap berada di posisi itu. Ia menjerit keras, sebuah desahan klimaks yang hebat, memecah keheningan sore di rumah itu, aku hanya bisa pasrah akan menerima spermanya di wajahku yang suci ini.

"Aahhhhh! Ukhti Zahraaa! Aku Keluarrr! Ahhh...Ahhh... Croottt!!!.. Croottt!!!.. Croottt!!!.."

Aku merasakan sensasi hangat, lengket, dan berbau amis menyemprot keras ke cadarku, menembus kain, dan membasahi sebagian wajahku dan mataku. Tubuh Pak Rahmat terhuyung, ia ambruk, lemas, bersandar ke tembok kamar mandi.

Aku membeku di posisi berlutut, wajahku basah oleh sperma pria cabul ini, wajah yang tertutup oleh cadar yang seharusnya menjadi lambang kesucianku. Aku merasa dihina, dicabuli, tetapi di saat yang sama, rasa damba dan hasrat yang tak terpuaskan itu terasa tuntas untuk sore ini.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Hanya tersisa napas kami yang memburu dan aroma dosa yang kuat. Aku adalah kehancuran yang nyata.

Aku terdiam di posisi berlutut, mukaku merasa basah dan hancur, sementara napas Pak Rahmat terdengar lega dan penuh kemenangan.

"Ahh Ukhti. Bapak puas banget.. Terima kasih yaa Ukhti," bisiknya serak, wajahnya dipenuhi rasa syukur yang menjijikkan.

Aku menarik napas panjang, berusaha mengendalikan getaran di tubuhku. Aku mendorongnya sedikit agar aku bisa berdiri. Aku harus mengakhiri semua ini sekarang.

"Iya, Pak, sama-sama. Tapi sekali ini aja ya, Pak. Ini yang terakhir," ucapku, suaraku kembali kaku dan tegas, sebuah upaya putus asa untuk menarik kembali batasan yang telah kuhancurkan.

"Yahh, Ukhti, padahal Bapak pengen lagi besok," rengek Pak Rahmat, wajahnya menunjukkan kekecewaan.

"Jangan ya, Pak. Awas kalo Bapak berani ke rumahku lagi, aku langsung telepon polisi," ancamku, nadaku kembali penuh kuasa.

"Iyaa deh, Ukhti..." jawabnya pasrah, menyadari ancamanku nyata.

Tepat saat itu, samar-samar terdengar suara merdu dari kejauhan. Adzan Maghrib berkumandang, memecah keheningan yang penuh dosa di dapurku.

Aku segera melangkah mundur, menjaga jarak darinya. "Pak Rahmat, Bapak harus cepat pulang. Sudah Maghrib. Orang-orang akan curiga kalau Bapak masih di sini."

Pak Rahmat mengangguk cepat. Ia buru-buru menaikkan celananya, memakai seragamnya yang kusut. Ia melangkah cepat dan berjalan menuju pintu depan.

Aku mengikutinya, memastikan dia benar-benar keluar.

Aku membuka pintu depan perlahan, melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada Bu Ratih atau tetangga lain yang melihat. Pak Rahmat melangkah keluar dengan tergesa-gesa, wajahnya menunduk, melewati ambang pintu.

"Assalamualaikum, Ukhti Zahra," ucapnya lirih.

"Wa'alaikumsalam. Cepat kembali ke pos Bapak," balasku dingin, tanpa membalas salamnya dengan senyuman.

Aku menutup pintu dengan cepat, menguncinya rapat-rapat.

Aku segera berlari ke kamar mandi, melepaskan cadarku yang basah oleh cairan spermanya, dan membuangnya ke keranjang. Kemudian, aku masuk ke dalam kamar. Aku berdiri di depan cermin meja makeup ku.

Aku menatap pantulan diriku. Ukhti Syar'i yang berantakan, gamis kusut, dan wajah yang tampak tercemar.

Aku meraba wajahku yang terasa hangat dan lengket. Aku melihat mataku yang indah di balik sisa sperma pak rahmat yang masih melekat, mata yang baru saja menyaksikan kehinaan dan mencapai klimaks gairah.

Aku kotor.

Aku telah melangkah terlalu jauh.

Aku menjatuhkan diri di kasur, tubuhku gemetar di tengah adzan Maghrib yang masih berkumandang. Aku harus segera mandi besar, untuk membersihkan diri dari dosa dan kehinaan yang baru saja terjadi. Namun, di antara rasa jijik dan rasa bersalah, ada bisikan samar yang kembali muncul, Aku adalah Zahra yang liar, dan aku menyukai sensasi itu, bahkan aku ingin lebih.

Bersambung...


 

Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com