Aku berjalan pelan, memimpin Pak Bayu menuju lorong kecil di dekat dapur, tempat kamar mandi berada, jauh dari pengawasan Aisyah. Di sepanjang lorong, tubuh kami kembali berdekatan. Aroma maskulinnya kembali menerpaku, dan sensasi bersentuhan bahu di sofa tadi terasa begitu nyata.
"Silakan, Pak Bayu. Kamar mandinya di dalam sana," ucapku, menunjuk pintu kamar mandi. Aku berdiri di dekat pintu, menunggu.
"Terima kasih, Ukhti," jawab Pak Bayu, ia bergegas masuk ke dalam. Pintu kamar mandi tertutup, meninggalkan aku sendirian di lorong sempit itu.
Aku bersandar ke dinding, jantungku berdebar kencang. Aku yang baru saja kemarin sore melayani nafsu Pak Rahmat disini, sekarang berdiri menunggu pria idamanku di tempat yang sama. Hasrat itu kembali membakar.
Kemudian setelah 5 menit pintu kamar mandi terbuka sedikit, tetapi Pak Bayu tak kunjung keluar. Rasa penasaran membuatku melangkah maju.
Aku melihat ke arah dalam.
"Astaghfirullah," ucapku, suaraku tercekat, memergoki pemandangan yang tak terduga.
Aku melihat Pak Bayu hanya memakai celana sedang menaikkan resleting, belum memakai baju kemejanya. Otot dada bidang dan perutnya yang sixpack terekspos jelas di hadapan mataku.
Pak Bayu mendengar suaraku. "Ehh, maaf Ukhti," katanya, suaranya terdengar kaget. "Aku kira Ukhti langsung balik ke ruang tamu."
Aku reflek menutup mataku dengan kedua tangan, rasa malu dan terkejut menghantamku. Namun, hasrat liar yang baru saja kukendalikan kembali bergejolak.
Aku merenggangkan jariku sedikit, menciptakan celah. Dari celah sempit itu, aku mengintip otot perut dan dadanya. Pemandangan itu begitu nyata, begitu maskulin, dan jauh lebih mematikan daripada pria yang kulihat di layar ponsel tadi. Jantungku berdebar kencang, hasratku melonjak tajam. Aku ingin melihatnya lebih lama.
Kemudian Pak Bayu membuka pintu lebih lebar, dan memanggilku.
"Ukhti Zahra.."
Aku mematung, memandang otot dada dan perutnya semakin terekspos.
"Ehhh.. Pak Bayu. Maaf aku enggak sengaja, ku kira Pak Bayu sudah selesai. Gpp Pak, lanjutkan saja," ucapku.
Pak Bayu tersenyum kecil, ia tahu aku mengintip. Kemudian ia mengambil kemejanya. Aku melihat semua kejadian itu melalui celah jariku. Pemandangan pria idamanku sedang berpakaian, menunjukkan setiap lekuk tubuhnya, terasa begitu liar. Aku tau ini salah karena pak bayu sudah beristri.
Tak sengaja, dalam desahanku, aku berucap pelan, "Seksi banget Pak, Ahh..."
Pak Bayu tersenyum ke arahku, Ia pasti mendengar desahanku barusan. Aku merasa malu banget. Ia melanjutkan memakai bajunya sampai sudah rapi semua.
"Sudah selesai, Bu. Ayo kembali ke sana, kasihan Aisyah kalau nunggu kami lama-lama," ucapnya, suaranya kembali ke nada profesional, tetapi ada getaran samar di sana.
"Ehh iya, Pak," jawabku, suaraku masih sedikit tercekat, merasakan sensasi liar dari pemandangan yang baru saja kulihat. Aku merapikan cadarku, berusaha mengembalikan diriku sebagai Ukhti Zahra yang alim.
Kemudian kami ke ruang tamu. Aisyah memanggil, "Kok lama, Ayah?"
"Iyaa, Nak, maaf yaa..." jawab Pak Bayu, ia kemudian menggendong Aisyah.
"Ukhti, kami mau pulang dulu yaa.. Bentar lagi mau Maghrib," pamit Pak Bayu.
"Ehh iyaa, Pak," jawabku, suaraku masih sedikit tercekat karena malu.
Kemudian Pak Bayu melangkah ke depan pintu, aku mengikutinya. Saat berada di ambang pintu, Pak Bayu mencondongkan kepala sedikit ke arahku.
"Ukhti juga seksi banget.." bisiknya serak, sebuah pengakuan terakhir yang membuatku tersentak.
Ia kemudian pergi mengucapkan salam, "Assalamualaikum Ukhti Zahra.."
Aku mematung, tidak menjawab salamnya. Aku hanya bisa melihat Pak Bayu pulang. Pengakuan itu, yang datang dari pria ideal dan tulus, terasa lebih memabukkan dan menghancurkan daripada semua rayuan yang pernah kuterima.
Aku segera menyadarkan diriku lalu masuk ke rumah. Jantungku masih berdebar kencang, memikirkan bisikan terakhir Pak Bayu.
Setelah Shalat Maghrib, aku makan dalam keheningan. Selesai makan, aku menunaikan Shalat Isya, berharap ritual ini bisa sedikit meredakan kekacauan batin yang tercipta sepanjang hari.
Kemudian, aku beranjak ke kamar. Aku merasa sangat lelah. Lelah fisik karena mengajar dan sibuk di rumah, tetapi lebih lelah mental karena drama hasrat liar di dunia nyata dengan Pak Rahmat, Pak Bayu dan dunia maya dengan Mas Bims.
Aku merebahkan diri di kasur. Malam itu, aku tertidur pulas. Aku membutuhkan istirahat yang panjang sebelum kembali ke peran ganda dan rencana gila yang akan kubangun sebagai QueenSha.
Keesokan harinya aku bangun seperti biasa. Setelah menunaikan Shalat Subuh, aku segera menyapu rumah, menjalankan rutinitas pagi yang selalu kugunakan untuk menenangkan gejolak batin.
Aku berjalan ke dapur dan membuka kulkas, berniat untuk memasak. Aku melihat ke dalam, tetapi menyadari ada yang kurang. Daging ayamku habis. Hanya tersisa sayur. Aku sadar, aku kemarin lupa membeli daging.
Aku berpikir untuk membeli ke minimarket. Namun, ku pikir-pikir, lebih baik ke pasar saja agar pilihan dagingnya lebih segar dan lengkap. Pasar agak jauh, jadi aku berencana memakai ojek online untuk ke sana.
Aku segera bersiap. Aku masuk ke kamar, Aku mengenakan gamis longgar berwarna gelap, jilbab lebar, dan cadarku. Aku memastikan penampilanku tertutup rapat, kontras dengan jiwa liarku.
Aku mengambil dompet dan ponselku. Aku berjalan ke depan rumah, membuka aplikasi ojek online. Aku memasukkan alamat pasar tradisional terdekat sebagai tujuan. Aku menghela napas panjang, siap menghadapi dunia luar.
Ting! Notifikasi ponsel berbunyi. Pesanan ojek online diterima. Seorang pengendara motor akan segera menjemputku. Aku berdiri di depan gerbang, menunggu kedatangan si pengendara.
Aku menunggu di depan pagar rumah, tak lama kemudian ojek online datang.
"Kak Zahra?" sapa si pengendara.
"Iya, Pak," jawabku.
"Ini helmnya, Kak," katanya, sambil menyerahkan helm.
Aku memakai helm, kemudian naik ke motornya. Aku duduk dengan hati-hati, berusaha menjaga jarak agar tubuhku tak bersentuhan dengan pengemudi ojek online itu.
Lalu kami berangkat.
Kami melewati pos security, kulihat di sana bukan Pak Rahmat yang sedang berjaga. Aku merasa lega. Kami pun melaju ke pasar. Aku terus menjaga jarak agar tubuhku tak bersentuhan dengan pengemudi ojek online itu, berusaha keras mengendalikan gejolak hasrat yang selalu muncul saat aku dekat dengan seorang pria.
Kami menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit. Selama perjalanan, aku merasakan setiap sentakan rem dan akselerasi motor. Aku berusaha keras untuk mencondongkan tubuh ke belakang, menjaga celah agar tidak ada kontak fisik.
Namun, di sebuah perempatan yang ramai, pengemudi ojek online itu tiba-tiba mengerem mendadak karena ada lampu merah.
Deg!
Tubuhku terdorong kuat ke depan. Meskipun aku mengenakan gamis longgar dan jilbab lebar, benturan itu terasa jelas. Aku merasakan payudaraku yang besar dan padat menghantam punggung pengemudi ojek online itu. Benturan itu tak terhindarkan.
"Ehh, maaf, Kak!" seru pengemudi itu, suaranya terdengar kaget dan sedikit canggung.
Aku kaget, tubuhku langsung menjauh ke belakang lagi.
"Iya, Pak. Tidak apa-apa," jawabku.
Namun, sensasi benturan itu meninggalkan jejak yang aneh. Aku bisa merasakan payudaraku berdenyut kencang di balik gamis, bereaksi terhadap sentuhan yang tak disengaja itu. Aku melirik ke pengemudi ojek online. Dia tampak biasa saja, fokus pada kemudinya.
Aku menggumamkan istighfar, tetapi hasrat yang selalu kurasakan saat dekat dengan pria kembali bergejolak. Aku harus segera sampai di pasar.
Kami tiba di pasar. Keramaian, bau rempah, dan hiruk pikuk khas pasar tradisional menyambutku.
"Sudah sampai, Kak. Totalnya Rp15.000," kata si pengendara ojek online.
Aku segera turun, mengeluarkan dompetku. Aku membayar, dan mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama, Kak. Hati-hati di jalan ya," jawabnya ramah.
Aku melangkah masuk ke dalam pasar. Aku harus segera mencari kebutuhan masakan hari ini. Aku berjalan melewati lorong-lorong pasar yang sempit dan ramai, berdesakan dengan pembeli lain.
Aku menuju lapak penjual daging ayam. Aku melihat-lihat daging ayam yang terpajang di meja.
"Assalamualaikum, Ukhti. Mau cari daging bagian yang mana?" sapa Bapak penjual daging itu ramah.
"Wa'alaikumsalam, Pak. Aku mau cari ayam potong, yang bagian dada. Ada, Pak?" tanyaku, suaraku kembali ke nada alim yang lembut.
"Oh, ada, Ukhti. Mau berapa potong? Yang ini masih fresh, baru dipotong subuh tadi," jawab Bapak itu, sambil menunjuk beberapa potong daging ayam.
Aku memilih-milih, memastikan dagingnya segar. "Satu kilo saja, Pak. Yang ini, ya."
Saat Bapak penjual daging itu sedang sibuk membungkus pesananku, tiba-tiba, sebuah suara serak dan familier menyapa dari belakangku.
"Ehh, Ukhti Zahra. Masya Allah. Ketemu di sini juga, ya."
Deg!
Aku tersentak. Jantungku mencelos. Aku tahu suara itu.
Aku berbalik. Di sana, berdiri Pak Hasan, penjual nasi goreng yang pernah merasakan indahnya tubuhku. Wajahnya tersenyum lebar, senyum yang mengandung seribu rahasia dan janji-janji dosa. Ia mengenakan kaus oblong dan celana pendek, tampak santai seperti orang yang baru selesai berbelanja bahan makanan.
"Wa'alaikumsalam, Pak Hasan," jawabku, suaraku sedikit tercekat, berusaha keras untuk bersikap normal.
"Bapak lagi beli bahan juga, Ukhti," katanya, matanya menatapku dengan tatapan yang sangat tahu segalanya, tatapan yang mengingatkanku pada adegan liar kami di warung nasi gorengnya. "Rupanya rezeki ya, bisa ketemu Ukhti di sini. Bapak kangen banget sama Ukhti. Kok gak pernah ke warung Bapak lagi sekarang hehe."
Ia berbisik, nadanya dibuat sangat pelan, hanya untuk didengar olehku. Aku merasakan panas menjalar di wajahku di balik cadar. Ia berhasil memojokkanku di tengah pasar yang ramai.
"Ehh.. aku. Aku gak bisa lagi, Pak," jawabku, berusaha keras menjaga suaraku tetap tegas meskipun aku tahu ada getaran kerinduan di baliknya.
"Kenapa gak bisa, Ukhti? Ukhti gak kangen Bapak? hehe," godanya lagi, nadanya memohon sekaligus memaksa.
Aku diam, tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba, suara Bapak penjual daging memecah keheningan yang intim itu.
"Ini ayam bagian dada 1kg sudah Ukhti, ada lagi?" tanyanya.
Aku kaget. Aku lupa kalau aku sedang berinteraksi dengan orang lain.
"Emm.. Aku mau jeroan ayam 1 kg aja, Pak," jawabku cepat, mencoba mengalihkan fokus.
Kemudian Pak Hasan juga berucap, "Kalau Aku Ayam utuh 5 aja, Pak."
Penjual itu mengangguk, lalu mulai memotong dan menimbang daging ayam kami. Aku hanya berdiri kaku di samping Pak Hasan, jantungku berdebar tak karuan, terperangkap di antara hasrat dan kehormatan.
Selagi penjual sibuk memotong daging ayam kami, Pak Hasan mencondongkan tubuhnya ke arahku lagi. Ia berbisik, suaranya serak, menusuk tepat di balik cadarku.
"Ukhti, jangan begitu dong. Bapak kangen crot di pantat Ukhti lagi," rayunya, menggunakan kata-kata vulgar yang hanya kami berdua yang tahu.
Aku tersentak mendengar ia menggunakan kata-kata terlarang kami di tempat umum. "Ssst! Pak Hasan, jangan keras-keras!" bisikku balik, panik. Aku melirik ke Bapak penjual daging, tetapi ia tampak fokus pada pekerjaannya.
"Kenapa, Sayang? Bapak cuma kangen nenen Ukhti yang besar ini," godanya lagi, matanya melirik kea rah payudaraku.
Aku menelan ludah. Ucapannya itu berhasil membuatku goyah. Aku teringat kehancuran yang kualami saat Pak Rahmat datang mengancam.
"Nanti, Pak. Nanti aku pikirkan," bisikku, nadaku kini melunak, sebuah janji yang tak terhindarkan. "Aku janji. Tapi jangan sekarang, Pak. Aku lagi ada urusan penting. Jangan ganggu aku lagi, ya."
"Yaudah deh, Ukhti Sayang. Bapak tunggu. Jangan lama-lama yaa... Bapak kangen banget tubuh Ukhti," balas Pak Hasan, nadanya kembali ceria dan puas, seolah ia baru saja mendapatkan janji temu rahasia dariku.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah, merasa malu dan terikat. Tiba-tiba bapak penjual telah selesai mengemas belanjaanku.
"Ini Ukhti, jeroan ayamnya. Total semua 65Rb yaa," kata Bapak penjual daging sambil menyodorkan bungkusan itu.
Aku segera menerima bungkusan daging ayamku dari penjual dan membayar uang.
"Makasih ya, Pak," ucapku pada penjual.
Aku menoleh ke Pak Hasan. "Aku duluan, Pak Hasan. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Hati-hati di jalan ya," jawabnya.
Aku melangkah keluar dari pasar, menembus keramaian, Aku baru sadar. Aku lupa membeli bumbu masakan. Aku tidak jadi langsung pulang. Aku berjalan memutar, menuju ke tempat penjual bumbu dapur. Di sana ramai banget.
Aku harus berdesakan dengan banyak pembeli, mayoritas ibu-ibu, tetapi juga ada beberapa laki-laki yang sedang berbelanja. Lorong itu sempit dan gelap, dan aku harus melangkah perlahan.
Saat aku mencoba mencapai lapak bumbu, tubuhku tak terhindarkan lagi harus bersentuhan dengan beberapa orang. Aku berjalan dengan gamis dan jilbabku, berusaha menutupi diri, tetapi di tengah keramaian ini, itu terasa mustahil.
Deg.
Aku merasakan sentuhan keras di bahuku, tubuh seorang pria bertabrakan denganku saat ia mencoba lewat.
"Ehh, maaf, Bu," katanya tergesa-gesa.
"Iya, Pak gpp," jawabku lirih.
Sentuhan itu terasa dingin, tetapi memicu desiran panas di tubuhku. Aku terus berjalan, dan kali ini, aku merasakan sentuhan yang lebih nyata. Siku seorang pria menyentuh payudaraku yang besar secara tak sengaja.
Ahhh...
Aku tersentak, payudaraku langsung berdenyut kencang. Aku menunduk, mencoba mengatur napasku yang memburu. Aku mencari siapa yang telah menyenggol payudaraku tadi, tapi aku tidak menemukannya.
Sentuhan yang tak disengaja itu terasa begitu intim, begitu nyata, dan langsung mengingatkanku pada remasan Pak Hasan di pantatku. Aku merasakan hasrat liar itu kembali bergejolak, diperkuat oleh sensasi di tengah keramaian pasar.
Aku mencengkeram tasku erat-erat. Aku harus cepat membeli bumbu dan keluar dari tempat yang penuh godaan dan sentuhan tak terduga ini.
Sampai di toko bumbu, di sana sangat antri. Aku terpaksa harus berdesak-desakan, tubuhku menempel dengan beberapa bapak-bapak yang juga mengantre. Aku berusaha menunduk, fokus pada bumbu yang ingin kubeli, berharap keramaian ini segera berakhir.
Tiba-tiba, aku merasakan sentuhan aneh di bagian belakang tubuhku.
Deg!
Sebuah tangan, yang terasa besar dan hangat, menyentuh pantatku. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan seperti meraba dan menekan pelan di balik gamisku. Aku tersentak, seluruh tubuhku menegang. Aku menoleh sedikit, tetapi tidak bisa melihat wajah siapa pun yang ada di belakangku, karena kami terlalu rapat.
Aku ingin marah dan berteriak, tetapi aku takut membuat keributan di tempat umum. Aku mencoba bergerak maju, tetapi antrean terlalu padat.
Sentuhan itu tidak berhenti. Tangan itu kini bergerak lebih berani, menggerayangi pantatku, meremasnya sedikit, lalu naik ke pinggangku. Elusan itu terasa begitu nyata, begitu kotor, dan langsung memicu gejolak hasrat liar yang selalu kurasakan.
"Mmmhh..." aku mendesah lirih, menahan rintihan yang nyaris lolos, membiarkan tubuhku melengkung di tengah desakan keramaian. Sentuhan anonim itu terasa begitu memabukkan.
Setelah beberapa saat, antrean akhirnya maju. Aku buru-buru membeli bumbu ke penjual, membayar dengan tangan gemetar, dan tanpa menoleh ke belakang, aku berbalik cepat keluar dari lorong itu.
Aku berjalan cepat, ingin segera keluar dari pasar yang penuh godaan ini. Namun, saat aku baru saja melangkah keluar dari keramaian lapak bumbu, aku melihat sosok yang sudah kukenal.
Pak Hasan! Ia berdiri tidak jauh dariku, membawa keranjang belanjaan yang penuh. Ia tersenyum lebar, senyum yang menunjukkan ia sedang menungguku.
"Ehh, Ukhti Zahra. Ketemu lagi," sapanya, suaranya ramah tetapi matanya memancarkan arti yang tersembunyi. "Rupanya rezeki Bapak memang hari ini."
"Iya, Pak Hasan," jawabku, suaraku masih sedikit parau karena sentuhan yang baru saja kualami.
"Ukhti sudah selesai belanjanya? Gimana kalau kita pulang bareng? Bapak bawa motor, Ukhti. Daripada naik ojek online lagi, Bapak bisa antar. Lumayan, ada temen ngobrol di jalan," tawar Pak Hasan, nadanya membujuk, menawarkan kesempatan intim yang berbahaya.
Aku akhirnya mau. Tawarannya terasa seperti takdir yang tak terhindarkan.
"Iya, Pak Hasan. Aku ikut bareng Bapak," jawabku.
Aku berjalan mengikutinya ke tempat motornya diparkir. Namun, saat kami sampai, kami sadar ada masalah. Barang bawaanku, terutama kantong plastik berisi daging ayam dan sayuran, ditambah dengan belanjaan bahan-bahan nasi goreng Pak Hasan yang cukup banyak, membuat jok motornya terlalu penuh.
"Waduh, Ukhti Sayang. Barang kita kebanyakan, ya," kata Pak Hasan, menggaruk kepalanya. "Kalau dipaksakan, kita pasti mepet banget, dan nanti malah jadi bahaya di jalan." Ia melirikku.
"Emm, iya, Pak," balasku.
"Begini saja. Ukhti naik ojek pengkolan yang ada di depan pasar itu aja ya." saran Pak Hasan.
Aku mengangguk setuju. Pak Hasan kemudian memanggil salah seorang kenalannya yang merupakan pengemudi ojek pangkalan.
"Bang Udin!" seru Pak Hasan. Seorang pria paruh baya, berperawakan biasa dan ramah, menghampiri kami.
"Tolong antar Ukhti ini, Bang. Ke komplek sana, ya. Kasihan sendirian gak bawa kendaraan," pinta Pak Hasan.
"Siap, San!" jawab Bang Udin ramah.
Aku berbincang sebentar dengannya, ku lihat pak udin berpostur agak pendek, dan perutnya buncit..
"Ke mana, Neng?" tanya Bang Udin.
"Ke komplek ini, Bang," aku menyebut nama komplekku, dan dia langsung paham.
Bang Udin segera membawa barangku, menaruhnya di bagian depan motornya.
"Aku duluan ya, Ukhti. Nanti Ukhti kalo mau langsung ke warung aja hehe," pamit Pak Hasan.
Aku mendiamkan nya, Kemudian Aku memakai helm dan naik ke motor Bang Udin.
"Sudah siap, Neng?"
"Siap, Bang."
Bang Udin melajukan motornya. Perjalanan dimulai. Suasana di motor terasa lebih santai.
Bersambung..



