๐‰๐ž๐ซ๐ข๐ญ๐š๐ง ๐‡๐š๐ฌ๐ซ๐š๐ญ ๐”๐ค๐ก๐ญ๐ข ๐™๐š๐ก๐ซ๐š ๐๐€๐ ๐Ÿ๐Ÿ– ๐‹๐ข๐ฏ๐ž ๐๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ฆ๐š ๐’๐ž๐›๐š๐ ๐š๐ข ๐๐ฎ๐ž๐ž๐ง๐’๐ก๐š

Penontonku mulai bertambah. Dari nol, menjadi lima, lalu sepuluh, dan kemudian ada 15 orang. Komentar-komentar mulai masuk, kebanyakan hanya menyapa ringan.

Tiba-tiba, muncul notifikasi di layar. Seseorang mengundangku untuk PK match.

Aku terkesiap, tetapi hasratku bergejolak. Aku menerima undangan itu.

Layar terbelah dua. Di sisi seberang, tampak seorang laki-laki tampan, wajahnya bersih, stylish, dan mukanya mirip artis Korea. Ia menatapku dengan senyum yang penuh misteri. Ini adalah lawan pertamaku sebagai QueenSha. Jantungku berdebar tak karuan, bercampur antara gugup dan euforia liar.

"Hallo, Kak," ucap pria tampan di layar seberang, suaranya terdengar lembut dan ramah. "Hallo," balasku, berusaha menjaga nada bicaraku tetap tenang.

"Kak, kita match tiga kali, yuk," ajaknya, nadanya santai tetapi penuh percaya diri.

"Yuk, Kak," jawabku.

Pertandingan PK match pertama dimulai. Timer di layar mulai menghitung mundur dari lima menit.

Pria itu, yang memiliki nama akun yang tidak kukenal, langsung menyapa penontonnya dengan ceria. Sementara itu, kolom komentarku mulai riuh dengan penonton yang penasaran dengan QueenSha yang tertutup dan alim, yang berani menerima tantangan PK.

Hadiah mulai masuk.

Di sisi pria itu, gift ringan seperti stiker hati dan bunga berdatangan secara stabil. Di sisiku, penonton masih sepi. Mereka hanya memberikan like dan salam.

"Ayo, Ukhti! Mana penontonnya Gift-nya, dong! Jangan mau kalah!" teriak pria itu dari layar seberang, nadanya memprovokasi penontonku.

Jantungku berdebar kencang. Aku merasa tertekan, bukan karena ingin menang, tetapi karena ingin mendapatkan pengakuan.

Tiba-tiba, skorku melonjak drastis. Sebuah notifikasi gift besar masuk, Paus!

Aku tersentak.

Aku melirik cepat ke pemberi gift. Itu adalah akun Bims.

"Alhamdulillah! Terima kasih, Mas Bims!" ucapku, suaraku sedikit bergetar, kini sudah tidak malu lagi menyebut namanya secara live.

Skorku langsung mengungguli pria itu. Penonton di kolom komentar menjadi heboh, dan aku merasakan adrenalin menjalar di seluruh tubuhku. Bims benar-benar menjadi jaminanku.

Waktu berakhir. Skorku jauh lebih unggul berkat gift dari Bims.

"Yah, kalah nih, Ukhti," ucap pria itu, tertawa kecil, tidak terlihat kecewa. "Berarti aku kena challenge nih."

"Iya, Kak. Challenge dong, biar seru," balasku, nadaku kini terdengar dominan dan percaya diri.

"Oke, challenge-nya dari kamu, Ukhti. Mau aku ngapain?"

Aku berpikir sejenak. Aku harus membuktikan bahwa QueenSha adalah Ratu yang kejam.

"Baik, challenge-nya gampang aja dulu Kak. Aku mau Kakak ambil spidol, dan buatlah coretan 'Aku Bucin QueenSha' di pipi kanan Kakak," perintahku.

Pria itu terkejut. "Wah, challenge-nya lucu banget, Ukhti. Siap, aku laksanakan."

Ia segera mengambil spidol, dan menuruti perintahku. Pemandangan pria tampan yang kini mencoret pipinya dengan tulisan aneh itu membuat penontonku semakin ramai tertawa.

Setelah challenge selesai, pria itu menatapku lagi dengan senyum.

"Sudah, Ukhti. Sekarang match kedua, ya?" tanya pria di layar itu, tertawa kecil.

"Siap, Kak. Lanjut!" jawabku, gairahku semakin memuncak, sepenuhnya hanyut dalam peran baruku sebagai QueenSha.

Pertandingan kedua dimulai, dengan timer kembali ke lima menit. Kali ini, penontonku lebih banyak dan lebih loyal. Mereka sudah tahu bahwa di balik cadar ini, ada kegilaan yang disokong oleh seorang big bos seperti Bims.

Di sisi lawan, pria itu mulai beraksi, senyum kecil dan merayu penontonnya yang kebanyakan wanita itu. Di sisiku, aku hanya diam, tetapi tatapanku menjadi lebih tajam.

Gift mulai berdatangan di kedua sisi. Penonton pria itu memberikan hadiah-hadiah yang lumayan. Di sisiku, hadiah-hadiah kecil dari penonton mulai masuk, tetapi tiba-tiba, sebuah gift besar lain masuk, paus!..

"Masya Allah! Terima kasih banyak, Mas Bims!" seruku, suaraku dipenuhi euforia.

Skorku kembali melompat tinggi. Pria di seberang layar hanya bisa menggeleng, tertawa pasrah.

Waktu habis. QueenSha kembali menang telak.

"Waduh, QueenSha mainnya keroyokan nih. Di-sokong Mas Bims, enggak ada lawan," canda pria itu. "Oke, challenge lagi, Ukhti. Aku udah siap nerima."

Aku berpikir lagi.

"Baik, Kak. Challenge-nya, aku mau Kakak ambil es batu, dan letakkan di leher Kakak. Tahan selama 30 detik!" perintahku, nadaku penuh dominasi.

Pria itu terkesiap, tetapi langsung menyanggupi. Ia mengambil es batu, meletakkannya di leher, dan menahan diri. Ekspresi kesakitan bercampur kedinginan di wajahnya membuat penontonku tertawa puas.

Setelah challenge selesai, pria itu mengusap lehernya. "Gila, Ukhti. Challenge kamu keras juga ya. Oke, satu lagi, ya? Biar seru!"

Pertandingan ketiga dimulai. Penonton kini membeludak, melampaui 100 orang. Mereka datang untuk melihat QueenSha yang tertutup, didukung big bos, dan memberikan challenge yang brutal.

Kali ini, pertempuran gift jauh lebih sengit. Penonton pria itu seolah tak ingin kalah di ronde terakhir. Mereka beramai-ramai mengirimkan gift. Skorku dan skornya saling kejar-kejaran.

Aku merasa adrenalin memuncak. Aku mencengkeram erat gamis abu-abuku. Aku butuh kemenangan ini, bukan untuk hadiah, melainkan untuk pengakuan.

Saat waktu tersisa 30 detik, aku melihat Mas Bims di komentar.

Zahra! Aku mau kamu menang! Kalau kamu menang, Challenge dia lebih liar! Aku mau dia buka kemejanya!

Aku mengangguk dalam hati, menerima perintahnya.

Di detik-detik terakhir, masuklah gift terakhir, Paus kedua dari Bims!

Skorku melesat.

Buzzzz! Waktu habis. Aku menang tipis.

"Yesss!" seruku, suaraku pecah karena kemenangan dan hasrat.

Pria itu menghela napas pasrah. "Oke, game over. QueenSha Ratu Challenge! Aku kalah, Ukhti. Aku siap menerima hukuman terakhir."

Aku menatapnya dengan pandangan dingin dan dominan. Aku harus membuktikan bahwa QueenSha adalah yang paling liar di sini.

"Baik, Kak," ucapku, suaraku perlahan berubah menjadi serak, penuh perintah. "Karena ini match terakhir, challenge-nya harus lebih berani ya kak. Aku mau Kakak berdiri, dan... buka semua kemeja Kakak! Aku mau penonton lihat tubuh Kakak!"

Pria itu terkejut. "Wah, challenge-nya brutal sekali, Ukhti! Haha.. Sampai buka baju nih?"

"Iya. Buka semua. Sampai terlihat jelas. Dan aku mau Kakak desah di depan kamera! Sekarang!. Hehe." desakku, aku sudah tidak peduli lagi dengan etika.

Pria itu tertawa gugup, tetapi mengangguk. Ia berdiri, dan perlahan, membuka kemejanya. Pemandangan tubuhnya yang atletis, dada bidang, dan perut six-pack terekspos di layar.

"Ahh... Ukhti Zahra... Body-ku ini untukmu, pegang perut six pack ku ini ukhti Ahhh.." desahnya, menuruti perintahku.

Aku menatap pemandangan itu. Gairahku naik. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku melengkung di kursi. Fantasi liarku tentang Pak Bayu dan tubuh ideal kini terpenuhi secara virtual melalui pria ini.

"Alhamdulillah. Terima kasih, Kak. Sampai jumpa di match berikutnya!"..

Setelah PK match itu selesai, Aku segera mengakhiri live streaming ku, aku merasa kali ini cukup..

Layar hp ku kembali gelap. Aku terengah-engah, tubuhku basah oleh keringat. Aku baru saja memenangkan tiga match dan menjadi host yang cukup berani. Aku adalah QueenSha, Ratu Hasrat dan Dosa.

Tiba-tiba, ponselku berkedip. Ada pesan masuk dari Mas Bims.

"Wahh gila, Ukhti Zahra. Kamu hebat banget."

Jantungku berdebar kencang. Pengakuan dan pujian ini terasa jauh lebih memabukkan daripada euforia kemenangan itu sendiri.

"Terima kasih, Mas Bims. Karena dukungan Mas Bims aku jadi menang, yeyy.." balasku, emoji ceria itu terasa aneh di tengah sisa-sisa gairahku.

"Gimana, seru kan?" tanyanya.

"Iyaa, seru banget. Aku sukaa.." jawabku jujur. Aku suka sensasi mendominasi, pengakuan liar, dan perhatian yang kudapatkan.

"Tapi ingat Ukhti, dalam permainan, kamu enggak bisa selalu menang. Pasti suatu saat akan merasakan kalah dan dihukum." balas Mas Bims, nadanya tiba-tiba berubah serius.

Aku terdiam sejenak. Aku tahu dia benar. Aku telah melihat hukuman yang dilakukan host liar lainnya. Aku sudah membayangkan hukuman itu dalam mimpiku, goyang, gunting gamis, dan hal-hal yang lebih vulgar.

"Iyaa, Mas Bims, aku tahu kok," balasku, sebuah pengakuan yang siap menghadapi konsekuensi dari permainan liarku.

"Bagus, Ukhti Sayang, sekarang kamu istirahat dan nikmati kemenanganmu yaa.." balas Mas Bims.

"Iyaa, Mas Bims. Terima kasih," jawabku, mengakhiri percakapan.

Aku bangkit, berjalan ke cermin di kamarku. Aku membuka gamis dan jilbabku. Aku menatap payudaraku yang besar dan putingku yang masih sedikit menegang, sisa dari gairah yang kupicu saat match tadi, melihat otot perut pria tadi membuat hasratku naik.

Hukuman apa yang paling liar?

Tiba-tiba, hasrat aneh menyergapku. Aku ingin dihukum. Aku ingin sensasi itu, sensasi diperintah dan dipermalukan, seperti yang kualami di hadapan Pak Rahmat dan Pak Hasan, tetapi kali ini, atas kemauan sendiri, dan di tonton ribuan orang.

Aku tersenyum kecil di depan cermin. Senyum yang penuh rahasia, senyum yang tidak pernah ditunjukkan oleh ukhti Zahra guru ngaji yang alim, karena ini adalah QueenSha.

Aku akan memikirkan hukuman yang akan mengguncang Toktok.

Aku kemudian beranjak, membiarkan tubuhku yang lelah dan penuh dosa masuk ke kamar mandi. Setelah selesai, aku keluar, mengenakan daster longgar dan bersantai di kamar.

Pikiranku kini fokus pada rutinitas yang kontras, sore nanti aku akan ada jadwal mengajar ngaji di rumahku. Aku akan kembali menjadi Ukhti Zahra yang suci, sebelum kembali merencanakan kejatuhan QueenSha di dunia maya.

Sore hari, setelah menunaikan Shalat Ashar, aku segera bersiap untuk mengajar mengaji. Aku mengenakan gamis longgar dan cadar, kembali ke peran Ukhti Zahra yang dihormati.

Tak lama kemudian, para murid mulai berdatangan ke rumah kontrakan. Ruangan yang kemarin sore menjadi saksi bisu kehinaanku dengan pak rahmat, kini dipenuhi suara riang anak-anak. Aku duduk di sofa yang sama.

Aku memulai pelajaran, membimbing mereka melantunkan ayat-ayat suci. Aku berusaha keras agar pikiran tentang Pak Rahmat dan rencana QueenSha tidak mengganggu kekhusyukanku. Aku menjelaskan tentang tajwid, mendengarkan hafalan mereka, dan memberikan nasihat agama, seolah aku adalah sosok yang paling bersih dari noda dosa.

Setelah sekitar satu jam, kegiatan mengaji pun selesai. Murid-murid mulai satu per satu berpamitan. Aku berdiri di depan pintu, mengawasi mereka pulang, memberikan senyum dari balik cadar, dan menerima salam hormat dari orang tua murid yang menjemput anak-anak mereka.

Semua murid telah bubar, kecuali satu. Aisyah, yang masih bersama ayahnya, Pak Bayu.

Pak Bayu melangkah mendekat ke arahku. Ia mengenakan kemeja yang sama seperti kemarin, kemeja yang sedikit ketat di bagian bahu dan punggungnya.

"Assalamualaikum, Ukhti Zahra," sapanya dengan suara yang dalam dan ramah, tulus tanpa ada nada genit sedikit pun, berbeda jauh dengan godaan yang baru saja kualami dari Pak Rahmat dan Mas Bims.

"Wa'alaikumsalam, Pak Bayu," jawabku, suaraku kuusahakan tetap lembut.

"Saya sangat berterima kasih, Ukhti Zahra," ujar Pak Bayu, matanya yang teduh menatapku dengan tulus. "Aisyah hari ini sudah bagus hafalannya. Ukhti memang guru yang baik sekali, teladan bagi Aisyah."

Pujian yang murni itu, sekali lagi, terasa menenangkan. Aku berusaha keras untuk tidak membiarkan mataku turun ke lengan kekarnya.

"Sama-sama, Pak. Itu sudah kewajiban saya," kataku, membalas senyumnya dari balik cadar.

Pak Bayu mengangguk, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit. "Emm, Ukhti Zahra. Sebenarnya saya mampir karena ada sedikit urusan penting. Jadi komplek ini ada rencana pengecatan mushola TPQ. Kebetulan saya yang mengurus logistik catnya. Saya ingin meminta pendapat Ukhti tentang pemilihan warna yang cocok, karena Ukhti paling sering di sana."

Aku terkejut dengan alasan yang begitu tulus, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan hasrat nafsu seperti pria lain. Ini adalah Pak Bayu yang asli, sopan, tulus, dan bertanggung jawab.

"Oh, begitu, Pak Bayu. Boleh kok aku bantu," jawabku, berusaha terdengar fokus pada urusan mushola. "Tapi kalau bicara warna, mungkin lebih enak melihat contohnya sambil duduk di ruang tamu, Pak. Silakan masuk aja, Pak."

Pak Bayu tampak ragu sejenak. "Emm... tidak merepotkan, Ukhti?"

"Tidak, Pak. Silakan," kataku, membuka pintu lebih lebar.

Pak Bayu pun masuk ke ruang tamu, diikuti Aisyah. Aisyah duduk di sofa yang tadi kugunakan mengajar, sementara aku dan Pak Bayu duduk di sofa panjang, membahas rencana pengecatan mushola.

Kami berbicara selama sekitar sepuluh menit tentang warna cat, anggaran, dan kapan waktu yang tepat untuk eksekusi. Aku berusaha keras untuk bersikap profesional, tetapi setiap kali Pak Bayu mencondongkan tubuhnya untuk melihat sketsa di ponselnya, aroma parfum maskulinnya menerpaku, dan jantungku mulai berdesir. Aku tak sadar tubuh kita semakin dekat.

Aku berusaha keras untuk kembali fokus pada masalah pengecatan mushola, memaksa diriku mengabaikan kedekatan fisik ini.

"Emm, kalau menurutku, Pak Bayu," ucapku, menjauhkan sedikit wajahku dari ponselnya , "warna yang paling cocok untuk dinding luar itu hijau mint deh kayaknya. Itu melambangkan ketenangan, selaras dengan suasana TPQ. Lalu, untuk list plang atas, mungkin bisa menggunakan warna putih gading agar terlihat bersih."

"Oh, hijau mint ya?" Pak Bayu merespons, nadanya masih profesional, tetapi matanya menatap mataku lebih lama. Ia menggeser-geser layar ponselnya untuk mencari contoh warna.

Saat ia mencari, tubuhnya secara otomatis condong ke arahku untuk membagi pandangan pada layar yang kecil. Tanpa kami sadari, bahu kami sudah bersentuhan. Kehangatan dari tubuhnya menembus gamisku.

"Ini, Ukhti. Kalau hijau mint yang ini bagaimana?" tanyanya, sambil mengarahkan ponselnya ke tengah.

Aku mengangguk, dan tanpa sadar, tangan kami saling bersentuhan saat sama-sama menyentuh ponsel itu di tengah sofa. Sentuhan itu ringan, hanya gesekan telapak tangan dan jemari, tetapi itu terasa seperti sengatan listrik.

Jantungku langsung berdebar kencang. Sentuhan kulitnya yang hangat, maskulin, dan tulus, kini terasa jauh lebih memabukan daripada sentuhan liar Pak Hasan di warung nasi goreng. Hasrat yang kupendam untuk pria ini tiba-tiba meluap.

Aku buru-buru menarik tanganku, pura-pura terkejut.

"Emm... iya, Pak. Itu bagus," jawabku, suaraku sedikit bergetar, memaksakan diriku untuk kembali fokus pada warna cat.

Aku melihat ke arah Aisyah , dia fokus membaca buku bergambarnya. Dia tampak asyik sendiri dan tidak memperhatikan kami.

Pak Bayu berdeham, ia tampak sedikit gelisah. "Emm, Ukhti Zahra, maaf sekali. Saya boleh pinjam kamar mandi sebentar?," tanyanya, suaranya kembali profesional, berusaha menjaga kesopanannya.

"Oh, Iyaa boleh Pak," jawabku. Aku bangkit dari sofa. "Silakan, Pak. Mari saya tunjukkan kamar mandinya."

Aku menoleh ke Aisyah. "Aisyah sayang, tunggu sebentar ya, Nak. Baca bukunya di sini saja. Ukhti akan mengantar Bapak sebentar."

Aisyah hanya mengangguk patuh, matanya tetap terpaku pada bukunya.

Bersambung...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com