𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟎𝟕

 

Pak Karyo membantu Maya berbaring menyamping, menempatkan bantal di antara kakinya dan di belakang punggungnya. "Begini lebih nyaman, Bu. Tidak ada tekanan ke perut."

Maya terkesima dengan pengetahuan Pak Karyo. Bahkan dokter kandungannya hanya memberikan instruksi umum tentang berhubungan selama hamil, tidak sedetail ini.

"Dulu istri saya paling suka posisi begini," Pak Karyo berbisik di telinga Maya sambil berbaring di belakangnya, tubuh telanjangnya menempel pada punggung Maya. "Enak buat ibu hamil karena nggak ada beban."

Kejantanan Pak Karyo terasa keras dan panas menekan bokong Maya. Dengan lembut, Pak Karyo mengangkat kaki Maya sedikit, membuka akses ke area kewanitaannya.

"Pelan-pelan ya, Bu," bisik Pak Karyo, tangannya memandu kejantanannya ke pintu kewanitaan Maya yang sudah basah.

Maya mengangguk, menggigit bibir bawahnya saat merasakan kepala kejantanan Pak Karyo mulai masuk. "Ahhh," desahnya, sensasi penuh itu kembali dirasakannya.

"Enak, Bu?" tanya Pak Karyo, tangannya membelai perut Maya dengan lembut saat dia mulai mendorong masuk lebih dalam.

"Mmm, enak," Maya mengaku, matanya terpejam merasakan setiap inci kejantanan Pak Karyo masuk ke dalam dirinya. "Penuh... banget."

Pak Karyo mulai bergerak dengan ritme lambat dan hati-hati, tangannya tetap membelai perut Maya, sesekali naik untuk memainkan payudaranya yang sensitif. Posisi ini membuat penetrasinya tidak terlalu dalam, tapi sensasinya sangat intim—tubuh mereka menempel dari kepala hingga kaki.

"Kehamilan bikin tubuh ibu lebih sensitif ya?" bisik Pak Karyo, bibirnya mengecup lembut tengkuk Maya. "Rasanya lebih basah, lebih hangat."

Maya mengerang pelan, tidak mampu menyangkal pernyataan itu. Tubuhnya memang merespon Pak Karyo dengan intensitas yang mengejutkan. "Iya," bisiknya, "lebih... sensitif."

Pak Karyo menambah tempo dorongannya, tangan kirinya kini turun untuk membelai klitoris Maya, sementara tangan kanannya masih membelai payudaranya. Sensasi dari tiga titik sekaligus membuat Maya terengah-engah.

"Ah... ah... ah..." Maya mendesah seiring dengan setiap dorongan. Tangannya meraih ke belakang, mencengkeram paha Pak Karyo, mendorongnya lebih dekat.

"Enak, Bu?" Pak Karyo bertanya lagi, bibirnya kini menggigit lembut telinga Maya.

"Enak... sangat enak..." Maya mengaku, merasakan gelombang kenikmatan lain mulai membangun di dalam tubuhnya.

Pak Karyo terus bergerak, jarinya di klitoris Maya semakin cepat. "Bayinya juga senang," bisiknya, "merasakan ibunya bahagia."

Kata-kata itu, entah mengapa, menjadi pemicu bagi Maya. Gelombang orgasme kedua mulai membangun dengan cepat, lebih kuat dari sebelumnya.

"Mas..." kata itu terlepas dari bibir Maya tanpa sadar. "Mas Karyo..."

Gerakan Pak Karyo terhenti sejenak, terkejut mendengar panggilan itu lagi. Tapi kemudian dia melanjutkan dengan lebih bersemangat. "Iya, panggil saya begitu," bisiknya mendesak. "Panggil saya Mas."

"Mas... Mas Karyo..." Maya mengulangi, kini tanpa ragu. Nama itu terasa benar di lidahnya, terasa natural dalam keintiman mereka. "Lebih cepat, Mas... please..."

Pak Karyo menggeram puas, temponya meningkat, jarinya bergerak lebih cepat di klitoris Maya. "Iya, Dik," bisiknya, untuk pertama kalinya menggunakan panggilan itu. "Rasakan Mas... rasakan baik-baik..."

Panggilan "Dik" itu mengirimkan gelombang kejut ke seluruh tubuh Maya. Ada keintiman dalam sebutan itu, sesuatu yang sangat Jawa, sangat tradisional—seperti pasangan suami istri di desa.

"Mas... aku... aku mau..." Maya tergagap, orgasmenya semakin dekat.

"Iya, keluarkan, Dik," dorong Pak Karyo, bibirnya mengecup leher Maya dengan penuh nafsu, seperti serigala yang lapar akan mangsanya. "Mas pengen liat kamu ngerasa enak lagi... ayo, sekali lagi buat Mas, ya."

Beberapa dorongan kemudian, tubuh Maya seolah meledak dalam gelombang kenikmatan yang membakar.

"MAAAAAS!" jeritnya, suaranya memecah kesunyian ruangan.

Tubuhnya mengejang hebat, otot-ototnya bergetar tak terkendali. "AHHHH! MAAAS KARYOOO!"

Gelombang orgasme pertama itu laksana petir yang menyambar, membuat kakinya gemetar lemah dan napasnya tersengal-sengal, seperti habis berlari dari badai. Namun, Pak Karyo tak memberi waktu untuk pulih. Jarinya masih menari di klitoris Maya, iramanya seperti musik yang memabukkan, sementara dorongannya tetap lembut namun pasti, menjaga api itu tetap menyala.

"Sekali lagi, Dik... Mas tau kamu bisa," bisiknya dengan suara serak, penuh dorongan halus, seolah dia sedang melatih seekor burung liar untuk terbang lebih tinggi.

Maya hanya mampu mengerang, tubuhnya yang sensitif seolah menjadi wayang di tangan dalang. Tak sampai dua menit, gelombang kedua datang bagai ombak pasang yang menghantam karang.

"MAS! LAGI! AHHH!" dia menjerit, punggungnya melengkung tajam, tangannya mencengkeram lengan Pak Karyo seolah itu satu-satunya pegangan di tengah badai.

Cairan hangat membasahi paha dalamnya, tanda tubuhnya telah sepenuhnya menyerah pada sentuhan pria itu.

Pak Karyo tersenyum tipis, matanya berkilat penuh kepuasan, seperti seorang pelukis yang baru menyelesaikan karya agungnya. Perlahan, dia mengurangi tempo dorongannya, namun tak sepenuhnya berhenti, seolah ingin memastikan setiap inci tubuh Maya tetap terjaga dalam euforia.

"Satu lagi, Dik... buat Mas, ya? Biar kamu bener-bener rileks," gumamnya, nadanya lembut namun sarat otoritas, seolah tahu Maya tak akan bisa menolak.

Maya yang sudah lemas hanya bisa mengangguk pelan, tubuhnya masih bergetar seperti daun di tiupan angin.

Dengan kesabaran seorang guru, Pak Karyo mengubah sudut dorongannya sedikit, menemukan titik yang membuat Maya tersentak kembali, seperti menekan tombol rahasia. Jarinya kembali bermain, kali ini lebih lambat namun tepat sasaran, bagai seorang musisi yang tahu persis nada mana yang harus dipetik.

"MAS... aku nggak kuat..." Maya mendesah, suaranya serak, pecah-pecah seperti kaca yang nyaris retak.

Namun, tubuhnya justru mengikuti irama Pak Karyo, pinggulnya bergerak tanpa sadar, seolah menari di bawah kendalinya.

"Bisa, Dik... Mas tau kamu kuat. Ayo, lepasin semuanya," balas Pak Karyo, matanya terkunci pada wajah Maya yang memerah penuh gairah, seperti lukisan hidup yang penuh warna.

Beberapa menit kemudian, orgasme ketiga menghantam Maya bagaikan tsunami yang tak terbendung.

"MAAAAAS! AHHHHH!" jeritnya, tubuhnya mengejang begitu hebat hingga dunia seolah lenyap sejenak dari pandangannya.

Napasnya terengah-engah, keringat membasahi kulitnya seperti embun pagi, dan kakinya terasa layaknya jeli, tak mampu lagi menahan beban tubuhnya.

Pak Karyo akhirnya berhenti, napasnya juga agak berat, namun dia tetap penuh kontrol, seperti seorang kapten yang baru saja mengarahkan kapalnya melewati badai. Dia menarik diri perlahan dari tubuh Maya, lalu berbaring di sampingnya, tangannya dengan lembut membelai perut wanita itu, seolah menenangkan lautan yang baru saja bergolak.

"Enak ya, Bu?" tanyanya, kembali ke panggilan formal meski nada suaranya penuh kehangatan.

Maya hanya bisa tersenyum lemah, tubuhnya terlalu lelah untuk sekadar mengangkat jari.

"Enak banget... Pak," jawabnya, suaranya nyaris tak terdengar, penuh kelelahan namun juga kepuasan yang mendalam, seperti seseorang yang baru saja mencapai puncak gunung.

"Kehamilan memang bikin tubuh ibu lebih responsif," jelas Pak Karyo, tangannya masih membelai perut Maya dengan penuh kasih, seperti seorang ayah yang menjaga benihnya. "Tapi kalo ibu sering begini sama saya, tubuh ibu bakal lebih terbiasa... lebih butuh sentuhan saya. Itu bagus, biar ibu nggak tegang."

Nada suaranya terdengar tulus, namun ada dorongan halus di balik kata-katanya, seperti benang tipis yang menarik Maya lebih dalam.

Maya mengangguk lemah, terlalu lelah untuk menangkap maksud tersembunyi di balik kata-kata itu.

"Aku nggak pernah tau kehamilan bisa... seperti ini," gumamnya, matanya setengah terpejam, seperti ingin tenggelam dalam mimpi.

Pak Karyo tersenyum, lalu menggeser posisinya sedikit. Kejantanannya masih tegang, terlihat jelas di balik celana yang sudah dia turunkan tadi. Dia menatap Maya dengan tatapan penuh harapan, tangannya pelan-pelan membelai rambut wanita itu, seperti seorang petani yang menunggu hasil panennya.

"Bu... saya belum keluar, nih," bisiknya, suaranya rendah dan penuh kebutuhan, seperti orang yang kehausan di tengah gurun. "Ibu udah lemes banget, saya nggak mau maksa masuk lagi. Tapi... kalo ibu mau bantu, saya bakal seneng banget."

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit meminta, "Pake mulut aja, Bu... biar cepet selesai. Ibu pasti bisa, kan?"

Maya membuka matanya perlahan, tatapannya jatuh pada kejantanan Pak Karyo yang masih keras dan berdenyut, seperti pedang yang belum menemukan sarungnya. Dia menelan ludah, rasa lelah bercampur dengan sedikit rasa bersalah karena pria ini telah membawanya ke puncak tiga kali, namun dia sendiri belum selesai.

"Yaudah... aku coba," bisiknya, suaranya serak, nyaris seperti bisikan angin.

Tubuhnya yang lemas membuat gerakannya lambat, seperti boneka yang tali-talinya sudah kendur. Namun, Pak Karyo dengan sabar membantu, menggeser posisi Maya hingga dia setengah duduk, bersandar pada bantal yang empuk. Dia berdiri di sisi tempat tidur, tangannya memandu kepala Maya dengan lembut, seperti seorang sutradara yang menuntun aktornya.

"Pelan aja, Bu... nggak usah buru-buru," ujarnya, suaranya penuh dorongan namun tetap hangat.

Maya mengangguk, tangannya yang gemetar meraih kejantanan itu, merasakan panasnya membakar telapak tangannya. Dia menunduk, bibirnya pelan-pelan mendekat, dan akhirnya menyentuh ujungnya.

Aroma maskulin yang kuat langsung menyeruak, campuran keringat dan hasrat yang entah kenapa tak membuatnya mual, seperti hal-hal lain selama kehamilan ini. Sebaliknya, aroma itu justru membangkitkan sesuatu di dalam dirinya, seperti kenangan yang terlupakan.

"Ahhh... begitu, Bu," desah Pak Karyo, suaranya serak saat bibir Maya mulai bergerak, lidahnya menyapu ujung dengan ragu-ragu, seperti seorang pelukis yang baru mencoba warna baru.

Maya merasakan tekstur yang asing, licin dan hangat, dan dia mencoba fokus pada napasnya agar tak terlalu memikirkannya. Dia tak pernah melakukan ini dengan cara yang begitu... intim sebelumnya, apalagi sampai akhir. Namun, ada sesuatu dalam tatapan Pak Karyo, dorongan halus dalam suaranya, yang membuatnya ingin terus, ingin memuaskan pria yang telah membuatnya terbang berkali-kali tadi.

"Lebih dalam dikit, Dik... ya, gitu," pinta Pak Karyo, tangannya di belakang kepala Maya, tak memaksa namun cukup tegas untuk membimbing, seperti seorang kapten yang menunjukkan arah.

Maya mengikuti, membiarkan lebih banyak bagian masuk ke mulutnya, lidahnya bergerak canggung namun semakin percaya diri.

"Hrrrgh... enak banget, Bu," gumam Pak Karyo, pinggulnya bergerak pelan, mencari irama yang pas, seperti tarian yang lambat namun penuh intensitas.

Setiap desahan pria itu seolah menjadi dorongan bagi Maya, membuatnya lupa akan kelelahannya sejenak.

Setelah beberapa menit, napas Pak Karyo makin berat, gerakannya makin cepat, seperti mesin yang mendekati batasnya.

"Dik... Mas udah deket..." peringatnya, tangannya mencengkeram rambut Maya sedikit lebih erat, menunjukkan urgensi.

Maya yang sudah terlalu lelah untuk mundur hanya mengangguk kecil, matanya terpejam, bersiap untuk apa yang akan datang. Namun tiba-tiba, Pak Karyo menarik diri dari mulutnya, tangannya dengan cepat mengelus kejantanannya sendiri.

"Angkat muka, Dik... liat Mas," pintanya, suaranya penuh urgensi, seperti perintah terakhir sebelum ledakan.

Maya membuka matanya, mengangkat wajahnya dengan bingung, dan sebelum dia sempat memahami, Pak Karyo mencapai puncaknya.

"Hrrrgh! Dik!" geramnya, dan cairan hangat menyembur dari ujung kejantanannya, mendarat di wajah Maya—pipinya, hidungnya, bahkan sedikit di bibirnya.

Maya tersentak, matanya melebar kaget, tak menyangka ini yang akan terjadi. Sensasi hangat dan lengket di kulitnya terasa begitu asing, seperti hujan aneh yang tiba-tiba turun. Dia tak pernah mengalami ini sebelumnya, tak pernah membiarkan siapa pun 'menandai' dirinya seperti ini.

Ada perasaan campur aduk di dadanya—malu, terkejut, namun juga ada sensasi aneh yang membuat perutnya bergetar lagi, seolah ini adalah bentuk keintiman baru yang tak dia duga. Dia buru-buru mengusap wajahnya dengan tangan yang gemetar, cairan itu terasa licin di jarinya, dan dia tak tahu harus berbuat apa selanjutnya.

Pikirannya berputar liar—'Kenapa aku nggak marah? Kenapa malah ada bagian dari aku yang... suka?'

Dia melirik Pak Karyo, yang kini menatapnya dengan senyum puas bercampur rasa bersalah.

"Maaf, Bu... saya kelepasan," gumamnya, suaranya masih serak namun penuh kepuasan. "Tapi... wajah ibu pas begini... cantik banget."

Maya tak bisa menjawab, wajahnya memanas, masih tak percaya dengan apa yang baru terjadi. Dia buru-buru mengelap sisa-sisa di wajahnya dengan ujung sprei, mencoba menyembunyikan getaran di tubuhnya.

Dalam hati, dia tahu ini sesuatu yang tak akan dia lupakan—sensasi itu, tatapan Pak Karyo, dan perasaan aneh yang muncul di dadanya. Ini pertama kalinya, dan dia tak yakin apakah dia benci atau justru... ingin merasakannya lagi.

Pak Karyo membantu Maya membersihkan diri dengan kain lembab yang dia ambil dari meja samping, gerakannya lembut dan penuh perhatian, seperti seorang perawat yang menangani pasiennya.

"Kehamilan bikin tubuh ibu lebih responsif," ujarnya lagi, seolah ingin menegaskan poinnya. "Dan kalo ibu butuh pelepasan lagi, saya selalu ada... biar ibu makin terbiasa sama saya."

Maya hanya mengangguk lemah, pikirannya masih kacau, seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan. Namun, ada bagian kecil di dalam dirinya yang mulai bertanya-tanya—apa yang akan terjadi jika dia terus membiarkan pria ini mengambil kendali atas tubuhnya seperti ini?

"Besok saya siapkan jamu khusus," kata Pak Karyo sambil merapikan pakaiannya. "Ramuan untuk trimester kedua. Jamu ini juga bikin tubuh ibu lebih... responsif."

"Makasih, Pak," Maya tersenyum lelah, menyadari makna tersembunyi dalam kata-katanya.

Pak Karyo mengangguk, tangannya dengan berani mengelus perut Maya. "Sudah jadi tanggung jawab saya menjaga ibu dan..." dia menatap langsung mata Maya, "...anak kita."

Maya tidak mengoreksi kata-kata itu. Bagaimanapun, itulah kenyataannya. Bayi dalam perutnya memang anak mereka—secara biologis.

"Ibu perlu istirahat," Pak Karyo berkata, suaranya lembut namun tegas. "Saya ambilkan minum dulu."

Maya memperhatikan bagaimana Pak Karyo bergerak dengan percaya diri, tidak lagi sepenuhnya seperti pembantu patuh yang dulu. Ada sesuatu yang berbeda—cara dia menyentuh perutnya, cara dia menatapnya. Ada klaim kepemilikan di sana yang tidak berani Maya tentang.

Saat Pak Karyo kembali dengan segelas air, Maya sudah mengenakan gaun tidurnya dan duduk bersandar pada bantal.

"Airnya, Bu," Pak Karyo menyerahkan gelas, jari-jarinya sengaja menyentuh tangan Maya lebih lama dari yang diperlukan.

"Makasih," Maya menerima gelas itu, merasakan getaran familiar dari sentuhan sederhana tersebut.

"Kalau ibu butuh apa-apa lagi malam ini, panggil saja," Pak Karyo berkata dengan nada formal, meski matanya menyampaikan pesan yang jauh lebih intim.

Maya hanya mengangguk, menyesap air perlahan. Matanya mengikuti Pak Karyo yang bergerak menuju pintu.

Di ambang pintu, Pak Karyo berhenti dan berbalik. "Pak Irwan besok lembur lagi?" tanyanya, nada suaranya rendah namun penuh harapan.

Maya secara refleks melirik ke sudut kamar—tempat dia yakin Irwan menyembunyikan salah satu kameranya—sebelum menjawab. "Mmm, nggak tau pasti. Biasanya dia suka mendadak kasih tau," jawabnya, pura-pura tidak yakin meski sebenarnya Irwan sudah memberitahunya tadi.

Pak Karyo mengangguk pelan, jari-jarinya mengetuk pelan kusen pintu. "Kalau... kalau Pak Irwan lembur lagi, ibu mau saya bantu lagi seperti tadi?" tanyanya langsung, matanya menatap Maya dengan intensitas yang membuat perut wanita itu bergejolak.

Wajah Maya memanas, tidak ada lagi kebingungan tentang apa yang ditawarkan. "Nanti saya kabarin kalau suami saya pulang telat," jawabnya pelan, jawaban yang tidak secara eksplisit mengiyakan namun jelas memberikan harapan.

Pak Karyo tersenyum puas, tangannya menyentuh perutnya sendiri dalam gestur yang entah bagaimana terasa seperti klaim. "Tubuh ibu hamil butuh perawatan rutin. Bagus untuk... bayi kita," tambahnya sangat pelan, hampir seperti rahasia di antara mereka.

"Selamat malam, Bu Maya. Mimpi yang indah..."

"Malam, Pak," balas Maya, menatap pintu yang tertutup.

Sendirian di kamar, Maya meletakkan gelas di meja samping dan mengelus perutnya sendiri. Ada sesuatu yang berubah malam ini—sesuatu dalam cara Pak Karyo memanggilnya "Dik", dalam cara dia berbicara tentang "bayi kita". Seolah mereka bukan lagi majikan dan pembantu yang terlibat dalam hubungan fisik semata, tapi sesuatu yang lebih kompleks.

"Apa yang sedang kita lakukan?" Maya berbisik pada dirinya sendiri, matanya menatap ke sudut kamar dimana dia yakin kamera Irwan tersembunyi.

Di kamar belakang rumah, Pak Karyo duduk di tepi tempat tidurnya yang sempit, tangannya mengelus foto di ponselnya—foto diam-diam yang dia ambil dari Maya yang sedang tertidur setelah "program" mereka berakhir.

"Sak suwene... sak suwene," gumamnya dalam bahasa Jawa. (Tidak lama lagi... tidak lama lagi.)

Dia meletakkan ponsel di meja, berbaring dengan senyum puas. Rencananya berjalan lebih baik dari yang dia harapkan. Maya sudah memanggilnya "Mas" lagi, sudah mulai menyerah pada sentuhannya. Tidak lama lagi, pikirnya, Maya akan semakin bergantung padanya—tidak hanya untuk jamu dan pijatannya, tapi untuk segalanya.

Pikiran terakhir Pak Karyo sebelum terlelap adalah betapa mudahnya dia akan menjadi bagian permanen dari keluarga ini. Dengan bayi di perut Maya—bayinya—tidak ada yang bisa mengusirnya dari rumah ini. Tidak Irwan, tidak siapapun.


Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟎𝟔

Dengan langkah pasti, Pak Karyo mendorong pintu kamar dengan bahunya, tangannya masih menggendong Maya yang terkulai lemas dalam pelukannya. Tubuh Maya terasa hangat dan ringan dalam gendongannya, gaun tidurnya sedikit tersingkap memperlihatkan paha mulus yang masih berkilau basah.

Kamar itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur yang memancarkan cahaya keemasan lembut. Tempat tidur king size yang biasa ditiduri Maya dan Irwan menjadi fokus pandangan mereka berdua—bukan lagi tempat terlarang, tapi arena yang telah mereka jelajahi bersama sebelumnya.

"Sudah sampai, Bu," bisik Pak Karyo, suaranya rendah dan dalam, namun tidak lagi mengandung keraguan seperti dulu. Tangannya yang kokoh perlahan menurunkan tubuh Maya ke atas tempat tidur, membiarkan jari-jarinya sengaja menyapu lembut punggung dan pinggang wanita itu saat melakukannya.

Maya mendesah pelan saat tubuhnya menyentuh permukaan kasur yang lembut. Matanya sayu, masih berkabut oleh sisa-sisa kenikmatan di ruang tengah tadi. Tidak ada kecanggungan di antara mereka sekarang—hanya antisipasi akan apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Saya ambilkan minum dulu, Bu?" tanya Pak Karyo, tangannya dengan berani menyapu rambut yang jatuh menutupi wajah Maya.

Maya menggeleng pelan, tangannya menangkap pergelangan tangan Pak Karyo, menahannya. "Nggak usah," bisiknya, "tetap di sini."

Pak Karyo menurunkan tubuh Maya dengan lembut ke atas kasur empuk, tangannya yang kuat masih menopang punggung dan pinggang wanita itu. Gaun tidur Maya sedikit tersingkap saat kakinya menyentuh seprai, memperlihatkan paha mulus yang berkilau tipis oleh keringat sisa kenikmatan tadi di ruang tengah. Cahaya lembut lampu tidur menerangi wajahnya yang masih memerah, matanya berkabut oleh gairah yang belum sepenuhnya padam.

"Ibu nyaman di sini?" tanya Pak Karyo, suaranya rendah dan hangat, bercampur dengan nada prihatin yang terdengar tulus. Dia duduk di sisi tempat tidur, dekat sekali hingga Maya bisa mencium aroma maskulinnya—campuran keringat alami dan sabun sederhana yang entah kenapa menenangkan mualnya.

Maya mengangguk pelan, napasnya masih belum stabil. "Iya, Pak... makasih," bisiknya, suaranya serak. Matanya sebentar melirik ke sudut kamar, tempat dia tahu kamera Irwan mungkin sedang merekam. Pikiran itu seharusnya membuatnya malu, tapi malah ada sensasi aneh yang muncul—campuran rasa bersalah dan gairah yang justru membuat jantungnya berdetak lebih kencang.

Pak Karyo tersenyum kecil, tangannya dengan lembut menyapu rambut yang menempel di dahi Maya yang berkeringat. "Ibu tadi kelihatan begitu... rileks," ujarnya, nada suaranya penuh arti. Jari-jarinya turun perlahan, menyentuh pipi Maya yang masih hangat, lalu berhenti di dagunya, mengangkat wajah wanita itu agar mata mereka bertemu. "Wajah ibu pas begitu... bikin saya nggak bisa berpaling."

Maya merasakan panas menjalar lagi di perutnya. Tatapan Pak Karyo penuh hasrat, bukan tatapan seorang pembantu, melainkan seorang pria yang jelas-jelas menginginkannya. "Kamu... makin berani aja ngomong gitu, Pak," balas Maya, nada suaranya bercampur antara teguran dan undangan yang samar, bahkan dia sendiri nggak yakin maksudnya apa.

"Maaf, Bu," jawab Pak Karyo, meski senyumnya sama sekali nggak menunjukkan penyesalan. Tangannya kini turun pelan ke leher Maya, jari-jarinya yang kasar mengusap lembut denyut nadi yang masih cepat di sana. "Cuma... ibu terlalu cantik. Susah buat nahan diri."

Maya menelan ludah, bibirnya terasa kering. Tubuhnya bereaksi pada setiap sentuhan, meski pikirannya berusaha mencari alasan untuk berhenti.

Pak Karyo mendekatkan wajahnya, napasnya terasa hangat di kulit Maya. "Ibu inget nggak, beberapa hari lalu... pas kita bareng kaya gini," bisiknya, suaranya makin dalam. "Ibu panggil saya dengan sebutan... yang lain."

Jantung Maya serasa berhenti sejenak.

Dia tahu apa yang dimaksud Pak Karyo. Malam itu, di puncak gairah, dia tanpa sadar memanggil pria ini dengan sebutan yang begitu intim, sebutan yang seharusnya nggak pernah keluar dari bibirnya.

"Aku... aku nggak sengaja," gumam Maya, wajahnya memanas.

Dia melirik lagi ke sudut kamar, sadar Irwan mungkin sedang mendengar ini semua. Dan anehnya, itu justru membuatnya makin bergairah—suaminya menyaksikan betapa dia kehilangan kendali.

"Sebutan itu..." Pak Karyo berhenti sejenak, jarinya kini bermain di bibir bawah Maya, mengusapnya dengan lembut. "...'Mas'. Ibu panggil saya 'Mas'. Dan rasanya... bener. Kaya kita udah..."

Dia nggak melanjutkan, tapi matanya berkilat penuh harapan.

Maya nggak bisa berkata apa-apa. Dia cuma menatap mata Pak Karyo, merasakan jari kasar itu di bibirnya. Tanpa sadar, dia membuka bibir sedikit, mengundang sentuhan lebih.

Pak Karyo nggak menyia-nyiakan momen itu. Dia mendekat lagi, hingga bibirnya hanya beberapa senti dari bibir Maya.

"Boleh saya... cium ibu, Bu?" tanyanya, suaranya serak penuh hasrat.

Maya nggak menjawab dengan kata-kata. Dia cuma mengangguk pelan, dan itu cukup.

Pak Karyo segera menutup jarak di antara mereka, bibirnya yang tegas menyentuh bibir Maya dengan kelembutan yang mengejutkan. Ciuman itu awalnya pelan, penuh perasaan, tapi segera menjadi lebih mendalam, lebih lapar.

Maya mendesah kecil di tengah ciuman, tangannya tanpa sadar naik ke leher Pak Karyo, menariknya lebih dekat.

Saat bibir mereka akhirnya terpisah, napas keduanya sama-sama terengah. Pak Karyo nggak mundur jauh, dahinya menempel di dahi Maya, tangannya kini turun ke bahu wanita itu, lalu menyusuri lengannya dengan sentuhan ringan yang bikin bulu kuduk Maya berdiri.

"Ibu... bikin saya nggak bisa mikir jernih," gumamnya, jarinya kini bermain di tali gaun tidur Maya, seolah meminta izin tanpa kata.

Maya menggigit bibir, tubuhnya bergetar penuh antisipasi. Pikirannya berputar liar. Dia tahu ini salah, tahu Irwan sedang menonton, tapi justru itu yang membuat semuanya terasa lebih intens.

Dia menikmati setiap sentuhan, setiap kata dari Pak Karyo—dan menyadari suaminya melihat betapa dia larut dalam kenikmatan ini.

"Kamu... bikin aku lupa diri, Pak," bisiknya akhirnya, suaranya penuh kejujuran yang mengejutkan dirinya sendiri.

Pak Karyo tersenyum kecil, matanya berkilat penuh hasrat. Tangannya masih bermain di bahu Maya, tapi kini dengan lembut menariknya lebih dekat.

"Bagus, Bu... kadang lupa diri itu perlu," gumamnya, suaranya rendah dan menenangkan. "Ibu nggak usah nahan apa-apa sama saya. Lepasin aja semua... biar saya yang urus."

Jari-jarinya kini menyusuri lengan Maya, mengirimkan gelombang hangat ke seluruh tubuhnya.

"Kayak tadi pas kita ciuman... ibu kan juga nggak nahan, ya? Rasanya pas, kaya kita udah biasa gini."

Maya menelan ludah, kata-kata itu seperti membuka sesuatu di dalam dirinya. Tatapan Pak Karyo begitu intens, seolah ingin meyakinkan bahwa ini bukan cuma soal fisik.

"Panggil saya 'Mas' lagi, Bu... atau 'Sayang' kaya kemarin. Itu bikin semuanya lebih... nyata," lanjutnya, tangannya kini turun ke pinggang Maya, menariknya pelan hingga tubuh mereka nyaris menempel.

Dia mendekat, bibirnya kembali menyentuh bibir Maya dalam ciuman yang lebih dalam, lebih penuh rasa lapar, seolah ingin menghapus setiap jarak yang tersisa di antara mereka.

Ciuman itu akhirnya terputus, meninggalkan Maya terengah, pipinya memerah.

Pak Karyo tak mundur jauh, matanya masih terkunci pada Maya. Tangannya kini dengan berani menyentuh sisi payudara Maya melalui gaun tipis itu, membelainya pelan.

"Kehamilan bikin tubuh ibu makin sensitif," ujarnya, matanya turun mengagumi tubuh Maya yang berubah. "Lebih penuh... lebih indah. Apa boleh saya... lanjutin, Bu? Biar ibu lebih rileks lagi?"

Maya menarik napas dalam-dalam, tahu persis apa yang dimaksud pria itu. Dia melirik sekali lagi ke sudut kamar, membayangkan Irwan di sisi lain layar, tangannya gemetar memegang ponsel atau laptop, menyaksikan istrinya menyerah pada hasrat.

Dan entah kenapa, bayangan itu justru mendorongnya untuk melanjutkan.

"Yaudah... lanjutin aja, Pak," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar, tapi cukup jelas buat Pak Karyo.

Pria itu mengangguk, tangannya kini lebih berani, sementara Maya membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi yang ditawarkan—sadar sepenuhnya bahwa setiap desahan, setiap sentuhan, sedang ditonton oleh pria yang seharusnya menjadi satu-satunya di hatinya. Tapi malam ini, dia nggak bisa—atau nggak mau—berhenti.

"Boleh saya lihat, Bu?" tanya Pak Karyo, jari-jarinya sudah bermain di tali gaun tidur Maya.

Maya mengangguk tanpa kata, mengangkat tubuhnya sedikit untuk memudahkan Pak Karyo menarik gaun tidurnya ke atas. Gaun itu meluncur naik, mengungkap paha mulus, perut yang mulai membuncit, dan akhirnya payudara Maya yang kini lebih penuh dari sebelumnya.

"Cantik sekali," bisik Pak Karyo, matanya menatap tubuh setengah telanjang Maya dengan kekaguman tulus. "Kehamilan membuat ibu semakin indah."

Maya merasakan campuran rasa malu dan bangga. Tubuhnya memang berubah—pinggangnya sedikit melebar, perutnya mulai membuncit, payudaranya lebih besar—tapi tatapan Pak Karyo membuatnya merasa cantik, bukan canggung.

"Boleh saya sentuh, Bu?" tanya Pak Karyo, tangannya melayang di atas tubuh Maya.

"Boleh," bisik Maya, tubuhnya sudah merindukan sentuhan itu.

Tangan kasar Pak Karyo mendarat dengan lembut di perut Maya, membelainya dengan penuh penghormatan. "Di sini anak kita tumbuh," bisiknya, hampir pada diri sendiri.

Maya tersentak mendengar kata "anak kita" yang diucapkan dengan begitu natural. Tapi dia tidak memperbaikinya. Karena bagaimanapun, itu memang kenyataannya.

Tangan Pak Karyo bergerak naik, akhirnya menutupi payudara Maya sepenuhnya. "Mmm," dia menggumam puas. "Pas sekali di tangan saya."

Maya mengerang pelan saat Pak Karyo dengan lembut memijat payudaranya, jari-jarinya bermain dengan puting yang semakin sensitif. Setiap sentuhan mengirimkan percikan listrik ke seluruh tubuhnya, terutama ke bagian bawah perutnya.

"Boleh saya cium, Bu?" tanya Pak Karyo, wajahnya kini sangat dekat dengan dada Maya.

"Y-ya," Maya tergagap, tubuhnya sudah bergetar menginginkan bibir Pak Karyo di kulitnya.

Pak Karyo menurunkan kepalanya dengan perlahan, bibirnya akhirnya mendarat di puncak payudara Maya. Sensasi hangat dan basah membuatnya tersentak. "Ahhh," Maya mendesah, tangannya tanpa sadar naik untuk memegang kepala Pak Karyo, mendorongnya lebih dekat.

Pak Karyo menjilat, mengisap, dan menggigit lembut puting Maya, menciptakan sensasi yang membuat tubuh Maya melengkung. Tangannya yang satu lagi terus membelai payudara yang lain, mencubit lembut puncaknya.

"Enak, Bu?" bisik Pak Karyo di antara jilatannya.

"Mmmmh," hanya itu yang mampu Maya ucapkan, otaknya mulai berkabut oleh gairah.

Pak Karyo perlahan bergeser, bibirnya kini menyusuri lembah di antara payudara Maya, turun ke perutnya yang membuncit. Dia berhenti di sana, mengecup perut itu dengan kelembutan mengejutkan.

"Tumbuh sehat ya, Nak," bisiknya pada perut Maya, sebuah keintiman yang membuat mata Maya berkaca-kaca.

Tangan Pak Karyo bergerak turun, menyusuri paha dalam Maya yang sudah basah dengan gairah. Maya membuka kakinya lebih lebar, sebuah undangan tanpa kata.

"Ibu sudah sangat siap," gumam Pak Karyo, jarinya menyentuh kelembaban di antara paha Maya. "Kehamilan memang membuat tubuh lebih responsif."

Maya mengerang saat jari Pak Karyo dengan mudah meluncur masuk ke dalam dirinya. "Ohh..." desahnya, pinggulnya bergerak tanpa sadar mencari sentuhan lebih.

"Sabar, Bu," Pak Karyo tersenyum, jarinya bergerak dengan irama lambat yang menyiksa. "Untuk ibu hamil, lebih baik pelan-pelan."

Maya menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan desahan yang ingin lolos. Tapi saat Pak Karyo menambahkan jari kedua, dia tidak bisa menahannya lagi. "Aaahhh," desahnya keras.

"Ya, begitu, Bu," Pak Karyo mendorong, jarinya kini bergerak lebih cepat. "Jangan ditahan. Nggak baik untuk bayi kalau ibunya tegang."

Mendengar kata "bayi" di tengah aktivitas intim mereka entah mengapa justru membuat Maya semakin terangsang. Ada sesuatu yang sangat primitif dalam hal itu—pria yang membuahinya kini memberikan kenikmatan padanya, pada tubuh yang mengandung benihnya.

"Saya juga ingin merasakan ibu," bisik Pak Karyo, bibirnya kini turun dari perut ke arah pangkal paha Maya.

Maya tersentak saat merasakan napas hangat Pak Karyo di area sensitifnya. "P-Pak..." dia tergagap.

Pak Karyo mendongak, matanya bertemu dengan Maya. "Boleh, Bu?" tanyanya, bibirnya hanya beberapa sentimeter dari pusat kenikmatan Maya.

Maya tidak bisa berkata-kata, hanya mengangguk cepat. Pak Karyo tersenyum, lalu menurunkan kepalanya, lidahnya akhirnya menyentuh titik paling sensitif di tubuh Maya.

"Aaahhh!" Maya menjerit, pinggulnya terangkat dari tempat tidur. Sensasinya begitu intens—lidah Pak Karyo yang hangat dan lembut menari di atas klitorisnya, sementara jari-jarinya masih bergerak masuk dan keluar dengan irama sempurna.

"Enak, Bu?" Pak Karyo bertanya di antara jilatannya.

"Enak... sangat enak," Maya mengerang, tangannya mencengkeram sprei dengan kuat. "Jangan berhenti... tolong..."

Pak Karyo menggumam puas, vibrasi dari tenggorokannya menambah sensasi di titik sensitif Maya. Dia meningkatkan tempo jilatan dan gerakan jarinya, membawa Maya semakin dekat ke tepi jurang kenikmatan.

Maya merasakan gelombang itu membangun di dalam tubuhnya—lebih kuat, lebih dalam dari yang pernah dia rasakan sebelumnya. Tubuhnya menegang, napasnya tertahan, dan saat Pak Karyo menghisap klitorisnya dengan lembut, dunianya meledak.

"AAAAHHH! Oh! Oh!" Maya menjerit, tubuhnya mengejang dalam gelombang kenikmatan yang dahsyat. Punggungnya melengkung, pinggulnya terangkat, tangannya mencengkeram kepala Pak Karyo, menahannya di tempat.

Pak Karyo terus menjilat dan menghisap dengan lembut, memperpanjang orgasme Maya hingga wanita itu terkulai lemas di tempat tidur, napasnya terengah-engah.

"Bagus, Bu," bisik Pak Karyo, bibirnya mengkilap dengan cairannya Maya saat dia mengangkat wajahnya. "Ibu hamil perlu pelepasan seperti ini."

Maya hanya bisa terengah, tubuhnya masih bergetar dalam sisa-sisa kenikmatan. Dia menatap Pak Karyo yang kini berdiri, mulai melepaskan pakaiannya. Otot-otot keras terlihat jelas di bawah kulit gelap Pak Karyo—hasil bertahun-tahun kerja fisik yang berat.

Saat Pak Karyo menurunkan celananya, kejantanannya yang sudah sepenuhnya tegang terlihat jelas. Maya menelan ludah, mengingat betapa penuhnya dia merasa saat Pak Karyo berada di dalamnya.

"Ibu mau ini?" tanya Pak Karyo, tangannya mengelus kejantanannya sendiri dengan gerakan lambat.

Maya menatap tubuh telanjang Pak Karyo dengan campuran rasa takjub dan nafsu. Tubuh yang terbentuk dari kerja fisik selama bertahun-tahun—otot-otot yang keras, kulit yang gelap dan kasar, sangat berbeda dengan tubuh Irwan yang langsing dan halus.

"Iya," Maya mengaku, suaranya serak oleh gairah.


 

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟎𝟓

"Maaf, Bu," Pak Karyo kembali berkata, tapi tangannya tidak berhenti. "Daerah sini memang sering sakit untuk ibu hamil. Tekanan dari depan mempengaruhi punggung bawah."

Saat dia mengucapkan itu, tangannya dengan sengaja bergerak ke depan, menyentuh perut Maya dari belakang. Untuk sejenak, tangannya berhenti di perut Maya yang mulai membuncit—gestur yang mengklaim bayi di dalamnya.

Maya merasakan jantungnya berdegup liar. Tubuhnya berkhianat, merespons sentuhan itu dengan cara yang tidak seharusnya. Semua peringatan dalam otaknya teredam oleh desiran darah dan gelombang sensasi yang melanda.

"Lihat, Bu," bisik Pak Karyo, bibirnya kini dekat dengan telinga Maya. "Otot-otot ibu mulai rileks. Rasakan."

Dan memang benar—tubuh Maya terasa lebih ringan, tapi juga anehnya lebih sadar akan setiap sentuhan. Kulitnya seolah menjadi lebih sensitif, terutama di area yang Pak Karyo sentuh.

Tangan Pak Karyo bergerak turun, kini terang-terangan menyentuh pinggul Maya. "Daerah sini juga sering sakit. Pinggul ibu hamil harus kuat, persiapan untuk nanti."

"N-nanti?" Maya bertanya, suaranya bergetar.

"Untuk melahirkan," jawab Pak Karyo, tapi nada suaranya menyiratkan makna lain.

Jari-jari Pak Karyo dengan ahli menekan titik-titik di sekitar pinggul Maya, lalu perlahan bergerak ke depan, menyusuri paha dalamnya yang lembut. Setiap sentuhannya semakin mendekat ke area yang paling sensitif.

"Rileks aja, Bu," bisik Pak Karyo lagi, tangannya kini menelusuri kulit halus paha dalam Maya, semakin naik. "Ibu hamil kan butuh terapi khusus. Nggak baik kalau otot-otot di sini terlalu kaku."

"A-apa maksudnya?" Maya bertanya dengan suara bergetar, meski tubuhnya sudah mulai merespons dengan hangat.

"Hormon kehamilan bikin sirkulasi darah terganggu," jari Pak Karyo menyentuh tepat di selangkangan Maya melalui kain tipis gaun tidurnya, area yang sudah mulai basah. "Area ini butuh stimulasi khusus biar lancar."

Maya mendesis, matanya terpejam erat. Sensasi itu membanjiri tubuhnya seperti gelombang panas yang menyebar dari pusatnya.

"Saya bantu perbaiki sirkulasinya ya, Bu?" Pak Karyo bertanya dengan nada profesional palsu, tapi tangannya sudah menyingkap gaun tidur Maya, mengekspos tubuhnya. Jari-jarinya langsung menyentuh klitoris Maya yang sudah basah, menggosoknya dengan gerakan melingkar yang tegas. "Biar ibu lebih rileks. Bagus untuk bayi juga."

Maya mengerang keras, pinggulnya bergerak menekan jari Pak Karyo yang terus memainkan vaginanya. Cairan hangat semakin mengalir dari dalam tubuhnya, membasahi jari-jari yang semakin intens menggesek klitorisnya.

Bayi kita, pikir Maya tanpa sadar. Bayi kita.

Jari-jari kasar Pak Karyo menyusuri bibir vagina Maya dengan gerakan melingkar yang perlahan, membuat wanita itu menggeliat tidak karuan.

"Ahhh—" Maya menggigit bibirnya, berusaha menahan desahan yang nyaris lolos.

"Ibu jangan ditahan," Pak Karyo berbisik di telinganya, napasnya hangat menggelitik leher Maya. "Ini proses alami. Sirkulasi darah di area sensitif ini harus lancar untuk ibu hamil."

Jari tengah Pak Karyo mulai menekan lembut klitoris Maya yang sudah membengkak, membuat tubuh wanita itu bergetar.

"Nnnhh... P-Pak..." Maya mencengkeram lengan sofa, pinggulnya bergerak tanpa sadar mengikuti irama jari Pak Karyo.

"Tenang, Bu," Pak Karyo menenangkan dengan nada profesional meski matanya berkilat penuh gairah. "Pijatan khusus untuk area ini sangat baik untuk rahim dan janin."

Jari-jari kasarnya kini bergerak lebih cepat, menciptakan suara becek dari cairan Maya yang semakin banyak. "Dengar itu, Bu? Tubuh ibu merespons dengan baik," bisik Pak Karyo, suaranya serak. "Mmm... banyak sekali cairannya. Ini pertanda bagus."

"Aaahh... hhhh..." Maya terengah, kepalanya terkulai ke belakang. Sensasi jari kasar Pak Karyo sangat berbeda dari jari Irwan yang selalu halus dan berhati-hati.

Pak Karyo mengubah posisinya, berlutut lebih dekat. "Boleh saya coba teknik yang lebih dalam, Bu? Ini khusus untuk ibu hamil," tanyanya dengan nada sopan meski tangannya sudah bergerak menyingkap gaun tidur Maya lebih tinggi.

Maya hanya bisa mengangguk, otaknya berkabut oleh hasrat yang tak tertahankan.

"Ahhhh!" Maya menjerit kecil ketika jari tengah Pak Karyo perlahan memasuki liangnya, bergerak dengan ritme yang terukur.

"Ssst... tenang, Bu," Pak Karyo berbisik, ibu jarinya masih memainkan klitoris Maya. "Rileks... biarin jarinya masuk. Lemesin otot-ototnya."

"Oh... ohhh..." Maya mendesah, pinggulnya bergerak semakin liar, mengejar sensasi yang diberikan jari Pak Karyo.

"Ini bagus untuk memperlancar aliran darah ke rahim," Pak Karyo menjelaskan dengan tenang, meski napasnya sendiri mulai tidak beraturan. "Lihat, Bu, tubuh ibu menerimanya dengan baik."

Tanpa peringatan, Pak Karyo menambahkan jari kedua, membuat Maya tersentak. "Ahk—!"

"Maaf, Bu. Apa terlalu cepat?" tanyanya dengan nada khawatir palsu, jari-jarinya tetap bergerak di dalam.

"Ng-nggak... lanjutin..." Maya berbisik parau, matanya terpejam erat.

Jari-jari Pak Karyo bergerak dengan presisi, menemukan titik G Maya dan menekannya dengan tepat. Maya terlonjak, punggungnya melengkung.

"Ahhh! Di situ! Ya—di situ!" Maya menjerit tanpa sadar, tangannya kini mencengkeram lengan Pak Karyo.

"Di sini ya, Bu? Mmm... area ini memang sensitif untuk ibu hamil," Pak Karyo berbisik, nadanya seperti dokter yang memberikan diagnosis meski tangannya bergerak semakin cepat dan dalam. "Kalau dirangsang dengan benar, akan sangat menyehatkan... tubuh ibu akan rileks sepenuhnya... mmmm... bagus untuk bayi juga."

"Nghhh... ahhh... ohhh..." Maya terus mendesah, keringat mulai membasahi dahinya. Matanya setengah terpejam, bibirnya terbuka, wajahnya memerah penuh gairah.

"Tubuh ibu bicara jujur," Pak Karyo berbisik, suaranya kini lebih rendah dan intim. "Ibu memang butuh ini... butuh saya, ya kan, Bu?"

"Ya... ya..." Maya menjawab di tengah desahan, tidak lagi peduli dengan apa yang dia katakan.

"Bayi kita juga butuh ibunya bahagia," bisik Pak Karyo lagi, kata "kita" meluncur begitu saja.

Mendengar kata "bayi kita" entah bagaimana membuat gairah Maya memuncak. Sesuatu yang primitif dan dalam tersentuh—mengetahui bahwa pria yang membuahinya kini menyentuhnya, memuaskannya.

"Saya rasa ibu hampir sampai," Pak Karyo berbisik, merasakan dinding vagina Maya yang mulai berdenyut. "Jangan ditahan. Keluarkan semuanya. Untuk kesehatan ibu dan bayi kita."

"P-Pak... saya... ohhh... saya mau..." Maya terengah, pinggulnya bergerak semakin liar.

"Jangan ditahan bu," Pak Karyo berbisik tepat di telinga Maya, jari-jarinya bergerak semakin cepat, suara becek semakin keras. "Biarkan keluar semuanya."

"AHHHHH!" Maya menjerit, tubuhnya menegang sepenuhnya, punggungnya melengkung tinggi dari sofa saat gelombang orgasme menerjangnya dengan kekuatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Cairan hangat membasahi jari-jari Pak Karyo saat dinding vaginanya berdenyut kuat, mencengkeram jari-jari yang masih bergerak di dalamnya, memperpanjang sensasi puncaknya.

"Nhhh... nhhh... hhhh..." Maya terengah-engah, tubuhnya masih bergetar dalam gelombang pasca-orgasme, matanya berkaca-kaca oleh intensitas sensasi yang baru saja dia alami.

Perlahan, Pak Karyo menarik jari-jarinya, menimbulkan satu desahan terakhir dari Maya. Dengan lembut, dia merapikan gaun tidur Maya, lalu dengan berani mengusap keringat di dahi wanita itu.

"Lihat, Bu," bisiknya, tangannya yang lain kini beralih ke perut Maya yang mulai membuncit, membelainya dengan kelembutan mengejutkan. "Bayinya juga tenang sekarang. Bayi bisa merasakan kalau ibunya senang."

Maya terkulai di sofa, tubuhnya masih bergetar hebat dalam gelombang sisa kenikmatan. Napasnya pendek dan tak beraturan. Keringat mengalir turun dari dahinya, melintasi leher jenjangnya, lalu menghilang di lekuk payudaranya yang membengkak karena kehamilan. Jari-jari kakinya masih berkedut, mencengkeram udara kosong.

"Hhhh... hhh..." Hanya desahan yang mampu keluar dari bibirnya yang merah dan bengkak.

Pak Karyo berlutut di hadapannya, jari-jarinya yang kasar dengan lembut merapikan gaun tidur Maya—menariknya turun untuk menutupi paha telanjangnya, meskipun matanya jelas menginginkan sebaliknya. Dia mengusap lembut cairan yang masih membasahi paha dalam Maya dengan ujung gaun.

"Mmh," Maya mendesah pelan merasakan kain lembut mengusap area sensitifnya.

Dengan kelembutan yang kontras dengan tangannya yang kasar, Pak Karyo mengusap keringat di dahi Maya. Jempolnya menyapu lembut pelipis wanita itu, lalu turun membelai pipinya yang merona merah. Maya secara refleks memiringkan wajahnya, mencari kehangatan telapak tangan itu—suatu gerakan yang tidak luput dari perhatian Pak Karyo.

"Ibu terlihat semakin cantik sekarang," bisik Pak Karyo, suaranya rendah dan dalam. Tangannya kini menyentuh dagu Maya, mengangkatnya sedikit hingga mata mereka bertemu. "Kehamilan bikin ibu bersinar... ada cahaya khusus di mata ibu, di kulit ibu."

Ibu jarinya perlahan mengusap bibir bawah Maya yang sedikit terbuka. Maya merasakan kulit kasar ibu jari itu di bibir sensitifnya.

"Apalagi pas lagi kepuasan gini," lanjut Pak Karyo, matanya berkilat penuh arti. "Wajah ibu... bikin saya nggak bisa berhenti liatinnya."

Sensasi hangat kembali menjalar di perut bawah Maya. Mata Pak Karyo menatapnya dengan intensitas yang membuat seluruh tubuhnya terasa panas. Bukan tatapan seorang pembantu pada majikannya, tapi tatapan seorang pria pada wanita yang sangat diinginkannya.

"Bibir ibu merah banget," bisik Pak Karyo lagi, ibu jarinya masih bermain di bibir bawah Maya. "Kaya buah yang udah matang, siap dipetik."

Kata-kata itu terdengar vulgar dan berani, tapi di telinga Maya yang masih diselimuti kabut gairah, terdengar seperti puisi paling indah. Tanpa sadar, lidahnya menjilat bibir, menyentuh ibu jari Pak Karyo.

"Ah," Pak Karyo mendesah pelan, pupil matanya melebar.

Maya akhirnya menemukan suaranya, meski terdengar serak dan tidak seperti dirinya sendiri. "K-kamu ngomongnya makin berani aja, Pak."

Entah itu teguran atau undangan, bahkan Maya sendiri tidak yakin.

Pak Karyo tersenyum kecil, jarinya kini turun ke leher Maya, mengusap lembut denyut nadinya yang masih berdebar kencang. "Maaf, Bu," katanya, sama sekali tidak terdengar menyesal. "Habisnya ibu... terlalu cantik buat dilewatin."

Tangannya perlahan turun, menyapu tulang selangka Maya, lalu berhenti tepat di atas payudaranya yang kini lebih besar dan sensitif karena kehamilan. Maya menahan napas, menanti sentuhan di dadanya—tapi Pak Karyo menggodanya, hanya mengusap area di sekitarnya.

"Tubuh ibu juga berubah," gumam Pak Karyo, matanya terang-terangan mengagumi perubahan di tubuh Maya. "Lebih... subur. Lebih montok di bagian yang tepat."

Pipi Maya memanas mendengar kata-kata vulgar itu. Tapi alih-alih tersinggung, tubuhnya justru merespons dengan gelenyar hangat yang menjalar hingga ke ujung jari kakinya.

"Apa ibu mau..." Pak Karyo menarik napas, tangannya kini berani membelai sisi payudara Maya melalui gaun tidurnya. "Kita lanjutin di tempat yang lebih nyaman?"

Bibir Maya terasa kering. Dia menelan ludah. "Di... mana?"

Pak Karyo menggeser tangannya ke perut Maya yang mulai membuncit, membelainya dengan kelembutan mengejutkan. "Di kamar ibu mungkin? Saya bisa... rileksin ibu lebih lagi."

Tatapan matanya berubah lebih dalam, penuh janji akan kenikmatan yang lebih besar. "Kayak kemaren itu, Bu. Tapi kali ini lebih lama... lebih enak."

Pengingat tentang pertemuan mereka di kamar tidurnya beberapa hari yang lalu membuat jantung Maya berdebar lebih kencang. Malam itu, saat Irwan pergi, Pak Karyo telah memberikannya kenikmatan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya—di tempat tidur pernikahannya sendiri.

"Saya akan bikin ibu lebih rileks," bisik Pak Karyo, tangannya membelai pelan rambut Maya. "Bagus untuk ibu hamil, rileks sepenuhnya. Buat bayi kita juga."

Bayi kita. Kata-kata itu seharusnya menyadarkan Maya, mengingatkannya bahwa ini sudah kelewatan. Pak Karyo berbicara seolah-olah bayi dalam kandungannya adalah milik mereka berdua—yang memang benar, tapi Pak Karyo seharusnya tidak tahu itu.

Maya tahu dia seharusnya menolak. Mengatakan tidak dan kembali ke kamarnya sendiri. Tapi tubuhnya masih bergetar menginginkan lebih, dan pikirannya dipenuhi bayangan tentang jari-jari kasar Pak Karyo menyentuh setiap inci tubuhnya, bibirnya yang tegas menciumi lehernya, kejantanannya yang keras memenuhinya lagi.

Dan bukankah ini yang Irwan inginkan? Agar dia lebih "natural" dengan Pak Karyo?

Mata Pak Karyo terus menatapnya, penuh harapan dan hasrat. Tangannya kini berani turun ke paha Maya, mengusapnya perlahan dari lutut naik ke atas. Saat jari-jarinya mencapai area yang masih basah, Maya tersentak kecil.

"Ibu masih sensitif di sini," gumam Pak Karyo, suaranya serak. "Kalau di kamar... saya bisa lebih... telaten ngurusnya."

Maya meremas lengan sofa, bibirnya terbuka sedikit saat Pak Karyo dengan berani mengusap vaginanya yang masih basah melalui gaun tipis.

"Ibu mau?" tanya Pak Karyo lagi, kali ini lebih mendesak. "Kita bisa ke kamar ibu sekarang."

Maya menarik napas dalam-dalam. Aroma maskulin Pak Karyo—campuran keringat alami, sabun sederhana, dan aroma tanah—memenuhi indra penciumannya, membuatnya semakin pusing oleh gairah.

"Yaudah, yuk," jawab Maya akhirnya, suaranya pelan namun jelas.

Pak Karyo tersenyum puas. Dengan gerakan kuat namun lembut, dia mengangkat tubuh Maya dari sofa seperti pengantin, satu tangan di bawah lututnya, satu lagi menopang punggungnya.

"Saya gendong aja ya, Bu," bisiknya di telinga Maya. "Kaki ibu pasti masih lemes."

Maya melingkarkan tangannya di leher Pak Karyo, merasakan otot-otot kuat di bawah kemejanya. Hidungnya tanpa sadar mengendus leher pria itu, mencari aroma yang entah bagaimana menenangkan mualnya selama kehamilan.

Saat Pak Karyo mulai melangkah menaiki tangga menuju kamar utama, Maya menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Rasa bersalah mungkin akan datang nanti, tapi saat ini, yang dia rasakan hanyalah antisipasi akan kenikmatan yang menanti di kamar tidurnya—dan mungkin, pengakuan lebih jauh tentang perasaannya yang sebenarnya terhadap ayah biologis dari bayi dalam kandungannya.


 

Read More

𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟎𝟒

 

Pagi itu datang dengan cahaya matahari yang malu-malu menembus tirai tipis di ruang makan. Maya duduk di meja, menyelipkan rambut ke belakang telinga, matanya melirik cemas ke arah pintu. Dua minggu telah berlalu sejak percakapan malam itu dengan Irwan—percakapan yang mengubah segalanya. Lebih natural dengan Pak Karyo, kata suaminya. Tapi apa artinya itu? Maya masih belum yakin.

Aroma kopi dan roti panggang mengisi ruangan ketika Pak Karyo masuk dengan langkah tenang. Sikap tubuhnya yang biasa—sedikit membungkuk, pandangan ke bawah—terlihat sempurna. Tapi Maya tahu lebih baik. Di balik kepatuhan itu, dia bisa merasakan tatapan Pak Karyo yang intens, seperti cairan panas yang mengalir di sepanjang tulang belakangnya.

"Pagi, Bu," sapa Pak Karyo, suaranya rendah dan terkontrol saat meletakkan secangkir teh herbal di depan Maya.

"Pagi, Pak," Maya menjawab, jarinya memainkan sendok kecil di samping cangkir. Dia berusaha keras menjaga nada suaranya tetap profesional.

Irwan masuk ke ruang makan dengan langkah ringan, sudah mengenakan kemeja kerja rapi. "Pagi semuanya," sapanya ceria, mencium puncak kepala Maya sebelum duduk.

Dia terlalu ceria, pikir Maya. Terlalu semangat dengan situasi ini.

"Jamunya enak, Pak Karyo," Maya memecah keheningan, berusaha bersikap normal meski tangannya sedikit gemetar memegang cangkir.

"Buat ibu hamil memang harus beda-beda tiap minggu," jawab Pak Karyo. Matanya bertemu dengan Maya selama sepersekian detik—kontak singkat yang cukup untuk membuat napas Maya tertahan. "Minggu ini pakai daun kelor sama jahe merah. Bagus buat janin, Bu."

Bayangan tangan kasar itu menyentuh tubuhnya membuat Maya mengalihkan pandangan. Ingatan tentang malam di kamar mereka, desahan-desahan yang terlepas dari bibirnya, panggilan "Mas" yang meluncur tanpa sengaja—semua berputar dalam benaknya. Bagaimana aku bisa bersikap normal setelah itu?

"Maya, aku kayaknya bakal pulang telat hari ini," kata Irwan sambil menyesap kopinya. "Ada deadline yang harus diselesaikan."

Maya menangkap tatapan Irwan—sebuah isyarat yang dia kenali. Ini bukan kebetulan. Ini bagian dari rencananya.

"Oh... oke," Maya mengangguk pelan. "Aku juga ada meeting dengan klien baru. Mungkin nggak pulang sampai sore."

Pak Karyo berdiri di sudut ruangan, tangannya diletakkan di depan, postur sempurna seorang pelayan yang menunggu perintah. Tapi Maya bisa merasakan kehadirannya—seperti medan magnet yang menariknya.

"Pak Karyo," Irwan memanggil tanpa mengalihkan pandangan dari kopinya, "tolong jaga rumah ya. Oh, dan kalau sempat, tolong siapkan jamu untuk Maya saat dia pulang nanti. Sepertinya dia agak capek belakangan ini."

"Baik, Pak," jawab Pak Karyo sopan.

Maya merasakan jantungnya berdegup kencang. Ini bukan kebetulan. Irwan sedang menyiapkan situasi di mana dia akan berduaan dengan Pak Karyo. Dasar aneh… nggak puas-puas apa? tapi…

"Semoga meetingnya lancar ya, Sayang," Irwan tersenyum, menggenggam tangan Maya. Di bawah meja, kakinya menekan lembut kaki Maya—sinyal mereka. "Jangan terlalu capek."

Maya mengangguk, tak mampu berkata-kata. Kilasan memori tentang tangan Pak Karyo di tubuhnya membuat perutnya terasa hangat. Dia melirik ke arah Pak Karyo yang sedang menuangkan air ke gelas Irwan, dan untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu lagi. Kali ini, Maya tidak mampu mengalihkan pandangan dengan cepat.

Aku harus pergi dari sini, pikirnya panik. Dengan gerakan tiba-tiba, Maya bangkit dari kursinya.

"Aku harus siap-siap," katanya cepat, hampir tersandung kakinya sendiri saat melangkah meninggalkan ruang makan.

Di belakangnya, dia bisa merasakan dua pasang mata mengawasinya—satu dengan harapan dan antisipasi, satu lagi dengan kelaparan yang tertahan.


Langit Jakarta sudah berubah menjadi semburat oranye ketika Maya memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Kedua kakinya terasa sakit setelah seharian memakai sepatu hak tinggi untuk meeting dengan klien baru. Kepalanya berdenyut, dan perutnya yang mulai membuncit terasa tegang. Pada minggu ke-16 kehamilannya, tubuhnya mulai menunjukkan perubahan yang signifikan.

Maya melepaskan sepatunya bahkan sebelum masuk ke rumah, membiarkan telapak kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin. Lega, pikirnya sambil membuka pintu.

Rumah tampak remang-remang, hanya lampu teras dan dapur yang menyala. Maya memeriksa ponselnya, membaca pesan dari Irwan.

Aku udah standby, kamu silahkan lanjut ya Sayang, enjoy… Love You.

Maya menghela napas panjang. Dia tahu apa yang sedang terjadi—Bagian dari rencana "fase dua" yang dia bicarakan. Menumbuhkan ketergantungan, begitu katanya.

"Sudah pulang, Bu?" suara Pak Karyo membuat Maya tersentak. Pria itu muncul dari arah dapur, mengenakan kaos putih sederhana dan celana panjang hitam.

"Iya, Pak," jawab Maya, mendadak sadar bahwa dia berdiri dengan kaki telanjang dan rambut berantakan. Tas kerjanya terasa berat di bahunya.

Tanpa diminta, Pak Karyo mengambil tas kerja dari tangan Maya. "Biar saya bantu, Bu. Sepertinya ibu capek sekali."

Maya mengangguk lemah, terlalu lelah untuk mempertahankan jarak profesional. "Terima kasih, Pak."

"Pak Irwan sudah mengabari kalau pulang telat," Pak Karyo melanjutkan, mengikuti Maya ke ruang tengah. "Saya sudah siapkan air hangat untuk mandi dan jamu untuk ibu."

Dia sudah merencanakan semuanya, pikir Maya. Atau mungkin Irwan yang memberi instruksi?

"Air hangat?" Maya mengulang, terkejut oleh perhatian itu.

"Iya, Bu. Bagus untuk ibu hamil mandi air hangat setelah seharian bekerja. Membantu relaksasi otot dan mengurangi pembengkakan kaki."

Maya menatap Pak Karyo, tidak yakin harus berkata apa.

"Terima kasih, Pak," kata Maya pelan. "Saya... saya akan mandi dulu."

"Jamunya saya taruh di kamar ya, Bu," Pak Karyo berujar. "Minum selagi hangat. Bagus untuk pencernaan dan mengurangi mual."

Maya mengangguk lagi, menaiki tangga dengan langkah lambat. Tubuhnya terasa berat, dan entah mengapa, kehadiran Pak Karyo di belakangnya terasa seperti tangan tak terlihat yang mendorongnya.

Kamar mandi sudah disiapkan dengan sempurna—air hangat dengan aroma lavender mengepul dari bathub, handuk bersih dilipat rapi di samping, dan bahkan sebotol minyak esensial disiapkan di tepi.

Ini lebih dari sekedar perhatian pembantu, pikir Maya sambil perlahan melepaskan pakaian kerjanya. Ini seperti... seorang suami yang merawat istrinya.

Pikiran itu membuat wajah Maya memanas. Dia cepat-cepat masuk ke dalam air, membiarkan kehangatan meresap ke dalam tulang-tulangnya yang lelah.

Beberapa menit kemudian, suara ketukan lembut di pintu kamar membuatnya terkesiap.

"Bu, jamunya saya taruh di meja samping tempat tidur ya," suara Pak Karyo terdengar dari balik pintu.

"Iya, Pak. Terima kasih," jawab Maya, suaranya sedikit bergetar.

Setelah mandi, Maya mengenakan gaun tidur longgar dan duduk di tepi tempat tidur. Secangkir jamu hangat menunggu di meja samping, aromanya khas dan menenangkan. Dia mengambil cangkir itu, menyesapnya perlahan. Rasa hangat langsung menyebar ke seluruh tubuhnya.

Enak, pikirnya. Dan mualku langsung berkurang.

Maya menyadari betapa dirinya mulai bergantung pada jamu buatan Pak Karyo. Dokter kandungannya sudah menyarankan berbagai obat anti mual, tapi tidak ada yang seefektif ramuan tradisional ini.

Pintu kamar terbuka sedikit, dan Pak Karyo muncul dengan ekspresi sopan. "Maaf mengganggu, Bu. Boleh saya masuk sebentar?"

Maya menaruh cangkirnya, menarik selimut untuk menutupi kakinya. "Iya, Pak. Ada apa?"

Pak Karyo melangkah masuk dengan hati-hati, menjaga jarak yang sopan. "Saya lihat tadi ibu pulang tanpa sepatu. Kaki ibu bengkak?"

Maya menatap kakinya sendiri. Memang, pergelangan kakinya terlihat lebih besar dari biasanya.

"Sedikit," akunya. "Tapi nggak apa-apa kok."

Pak Karyo mengangguk pelan. "Kalau ibu ijinkan, saya bisa membantu dengan pijatan ringan. Bagus untuk mengurangi bengkak dan memperlancar peredaran darah."

Maya merasakan jantungnya berdegup kencang. Bayangan tangan Pak Karyo menyentuh kakinya membuat tenggorokannya kering. Aku mau banget, pikirnya, mengakui dengan jujur. Tapi apa aku bisa terus bermain peran sebagai aktor dalam rencana Irwan?

"Saya nggak tau..." Maya ragu-ragu, bukan karena tidak menginginkan sentuhan Pak Karyo, tapi karena takut tidak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya. Matanya melirik ke arah ponsel, berharap ada gangguan yang menunda momen ini—memberinya waktu untuk mempersiapkan topeng yang tepat.

Kalau aku terlalu antusias, Pak Karyo akan curiga, pikirnya. Tapi kalau aku terlalu menolak, dia akan mundur. Irwan bilang harus natural... tapi natural yang gimana?

"Nggak perlu khawatir, Bu," Pak Karyo meyakinkan. "Ini pijatan biasa saja, seperti yang saya lakukan untuk istri saya dulu. Sangat membantu untuk ibu hamil."

Maya mempertimbangkan tawaran itu, menimbang seberapa banyak ketertarikan yang boleh dia tunjukkan. Kakinya memang terasa sangat pegal, dan semua tekanan hari ini membuat punggungnya kaku—alasan yang sempurna untuk menerima. "Di... di mana?"

"Di ruang tengah saja, Bu. Lebih lega," jawab Pak Karyo, suaranya tenang dan profesional, tapi Maya bisa merasakan getaran halus di baliknya.

Dia juga kepengen ini, pikir Maya, merasa lega karena tidak sendirian dalam hasratnya. Tapi jangan sampe dia pikir aku istri murahan... Gimana ya caranya biar kelihatan natural tapi nggak kelewatan?

"Oke," kata Maya akhirnya, berusaha mencampurkan sedikit keraguan dalam suaranya. "Saya minum jamunya dulu ya, nanti turun."


Ruang tengah hanya diterangi lampu samping yang menciptakan bayangan lembut di dinding. Maya duduk di sofa, meletakkan bantal di punggungnya untuk kenyamanan. Pak Karyo berlutut di hadapannya, gerakan tangannya profesional saat dia mulai memijat pergelangan kaki Maya.

"Bengkaknya lumayan, Bu," komentar Pak Karyo, jari-jarinya menekan dengan tekanan yang tepat. "Memang wajar untuk ibu hamil, tapi harus diperhatikan."

Maya mengangguk pelan, matanya terpejam merasakan kelegaan saat tekanan darah di kakinya seolah mengalir lebih lancar. "Mmm... enak, Pak," gumamnya tanpa sadar.

Tangan Pak Karyo bergerak naik ke betis, jari-jarinya menemukan titik-titik tegang dengan presisi yang mengagumkan. Sesekali jarinya menyentuh bagian belakang lutut Maya—area yang pernah dia sentuh dalam konteks yang sangat berbeda beberapa waktu lalu.

Maya menegang, napasnya tertahan saat sensasi familiar itu menjalari tubuhnya.

"Rileks, Bu," Pak Karyo berkata lembut. "Kalau tegang, pijatannya nggak bisa optimal."

"I-iya, Pak," Maya mencoba menenangkan dirinya, tapi tubuhnya mengkhianati usahanya. Setiap sentuhan Pak Karyo membangkitkan memori yang seharusnya dia kubur dalam-dalam.

"Kalau boleh saya tanya, Bu, Pak Irwan sering bantu pijetin kaki ibu nggak?" tanya Pak Karyo, nadanya kasual tapi Maya bisa merasakan arti di baliknya.

"Jarang," jawab Maya jujur. "Dia... sibuk."

Pak Karyo mengangguk paham. "Sayang sekali. Untuk ibu hamil, sentuhan seperti ini sangat penting. Istri saya dulu selalu bilang pijatan suami itu berbeda rasanya."

Apa maksudnya? Maya bertanya-tanya. Apakah itu kritik halus terhadap Irwan?

"Boleh saya pijat punggung ibu juga? Biasanya ibu hamil banyak tegang di bagian punggung bawah," Pak Karyo menawarkan, tangannya kini sudah bergerak ke atas paha Maya.

Maya terkesiap pelan. Punggung berarti dia harus berubah posisi, memberi Pak Karyo akses lebih ke tubuhnya. Tapi punggungnya memang terasa sangat kaku...

"Boleh," bisiknya, nyaris tak terdengar.

Pak Karyo membantu Maya memposisikan diri menyamping di sofa, punggungnya menghadap ke arahnya. Dengan lembut, tangannya mulai memijat dari bahu turun ke tulang belakang. Maya merasakan jari-jari kuat itu menemukan dan menekan setiap titik tegang di tubuhnya.

"Bagaimana rasanya, Bu?" tanya Pak Karyo saat tangannya menemukan titik yang membuat Maya mendesis.

"S-sakit tapi... enak," aku Maya. Rasa sakitnya dengan cepat berubah menjadi kelegaan saat Pak Karyo menekan titik itu.

"Memang begitu," Pak Karyo menjelaskan, suaranya kini lebih dalam. "Awalnya sakit, tapi nanti pasti lega. Tubuh ibu lagi banyak perubahan. Hormon kehamilan bikin otot-otot tegang."

Maya mengangguk, pasrah di bawah sentuhan Pak Karyo. Pria ini tahu persis apa yang dibutuhkan tubuhnya.

"Di desa, ibu hamil selalu dipijat seminggu sekali," lanjut Pak Karyo, tangannya turun ke punggung bawah Maya. "Bukan hanya untuk mengurangi sakit, tapi juga untuk bayinya. Katanya bayi bisa merasakan ibunya rileks."

Tangan Pak Karyo dengan sengaja menyentuh sisi tubuh Maya, hampir menyentuh payudaranya yang membengkak karena kehamilan. Maya terkesiap, tapi tidak menarik diri.

"Maaf, Bu," Pak Karyo berkata, tapi tidak terdengar menyesal. "Payudara ibu juga bengkak ya? keliatannya jadi lebih besar… lebih sexy… Wajar sih untuk trimester kedua."

Maya merasakan wajahnya memanas seketika, aliran darah berdesir ke pipinya seperti ombak panas yang tak terbendung. Jantungnya berdegup kencang hingga dia bisa mendengar denyutnya sendiri di telinganya. "I-iya," jawabnya singkat, suaranya nyaris tercekik di tenggorokan yang mendadak kering.

Bagaimana bisa Pak Karyo mengucapkan hal seperti itu dengan begitu santai? Di situasi normal, komentar tentang payudaranya yang "lebih besar" dan "lebih sexy" akan dia anggap pelecehan. Tapi sekarang? Tubuhnya justru berkhianat dengan sensasi hangat yang menjalar dari dada ke perut bawahnya.

Tangannya secara refleks bergerak menutupi dadanya yang membengkak di balik gaun tidur.

Salah.

Gerakan itu justru membuat sensasi nyeri nikmat menyebar dari puting sensitifnya yang teramat sensitif. Gelombang panas mengalir turun, menusuk tepat di pusat perutnya yang membuncit.

"Nnnh—"

Desah pelan tak sengaja lolos dari bibirnya. Maya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, malu setengah mati membayangkan Irwan mungkin mendengar. Atau bahkan melihat momen ini melalui kamera tersembunyi.

Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku?

Pikirnya panik, nafas terengah-engah.

Kenapa tubuhku bereaksi sekuat ini hanya karena komentar sederhana?

Hormon kehamilannya memang membuat segalanya terasa berlipat ganda. Sentuhan terasa lebih intens. Kata-kata terasa lebih dalam. Dan hasratnya...

Hasratnya seperti monster yang terus lapar.

"Perubahan tubuh selama hamil itu sesuatu yang ajaib," kata Pak Karyo, tangannya kembali fokus pada punggung Maya, tapi kini lebih rendah, mendekati pinggul. "Istri saya dulu bilang, kadang rasanya seperti tubuhnya bukan miliknya lagi."

Sentuhan Pak Karyo berubah—dari profesional menjadi lebih intim. Jari-jarinya dengan sengaja menyusuri tulang ekor Maya, turun ke area yang membuat napas Maya tercekat.

"P-Pak..." Maya berbisik, setengah protes setengah permohonan.




Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com