Pagi itu datang dengan cahaya matahari yang malu-malu menembus tirai tipis di ruang makan. Maya duduk di meja, menyelipkan rambut ke belakang telinga, matanya melirik cemas ke arah pintu. Dua minggu telah berlalu sejak percakapan malam itu dengan Irwan—percakapan yang mengubah segalanya. Lebih natural dengan Pak Karyo, kata suaminya. Tapi apa artinya itu? Maya masih belum yakin.
Aroma kopi dan roti panggang mengisi ruangan ketika Pak Karyo masuk dengan langkah tenang. Sikap tubuhnya yang biasa—sedikit membungkuk, pandangan ke bawah—terlihat sempurna. Tapi Maya tahu lebih baik. Di balik kepatuhan itu, dia bisa merasakan tatapan Pak Karyo yang intens, seperti cairan panas yang mengalir di sepanjang tulang belakangnya.
"Pagi, Bu," sapa Pak Karyo, suaranya rendah dan terkontrol saat meletakkan secangkir teh herbal di depan Maya.
"Pagi, Pak," Maya menjawab, jarinya memainkan sendok kecil di samping cangkir. Dia berusaha keras menjaga nada suaranya tetap profesional.
Irwan masuk ke ruang makan dengan langkah ringan, sudah mengenakan kemeja kerja rapi. "Pagi semuanya," sapanya ceria, mencium puncak kepala Maya sebelum duduk.
Dia terlalu ceria, pikir Maya. Terlalu semangat dengan situasi ini.
"Jamunya enak, Pak Karyo," Maya memecah keheningan, berusaha bersikap normal meski tangannya sedikit gemetar memegang cangkir.
"Buat ibu hamil memang harus beda-beda tiap minggu," jawab Pak Karyo. Matanya bertemu dengan Maya selama sepersekian detik—kontak singkat yang cukup untuk membuat napas Maya tertahan. "Minggu ini pakai daun kelor sama jahe merah. Bagus buat janin, Bu."
Bayangan tangan kasar itu menyentuh tubuhnya membuat Maya mengalihkan pandangan. Ingatan tentang malam di kamar mereka, desahan-desahan yang terlepas dari bibirnya, panggilan "Mas" yang meluncur tanpa sengaja—semua berputar dalam benaknya. Bagaimana aku bisa bersikap normal setelah itu?
"Maya, aku kayaknya bakal pulang telat hari ini," kata Irwan sambil menyesap kopinya. "Ada deadline yang harus diselesaikan."
Maya menangkap tatapan Irwan—sebuah isyarat yang dia kenali. Ini bukan kebetulan. Ini bagian dari rencananya.
"Oh... oke," Maya mengangguk pelan. "Aku juga ada meeting dengan klien baru. Mungkin nggak pulang sampai sore."
Pak Karyo berdiri di sudut ruangan, tangannya diletakkan di depan, postur sempurna seorang pelayan yang menunggu perintah. Tapi Maya bisa merasakan kehadirannya—seperti medan magnet yang menariknya.
"Pak Karyo," Irwan memanggil tanpa mengalihkan pandangan dari kopinya, "tolong jaga rumah ya. Oh, dan kalau sempat, tolong siapkan jamu untuk Maya saat dia pulang nanti. Sepertinya dia agak capek belakangan ini."
"Baik, Pak," jawab Pak Karyo sopan.
Maya merasakan jantungnya berdegup kencang. Ini bukan kebetulan. Irwan sedang menyiapkan situasi di mana dia akan berduaan dengan Pak Karyo. Dasar aneh… nggak puas-puas apa? tapi…
"Semoga meetingnya lancar ya, Sayang," Irwan tersenyum, menggenggam tangan Maya. Di bawah meja, kakinya menekan lembut kaki Maya—sinyal mereka. "Jangan terlalu capek."
Maya mengangguk, tak mampu berkata-kata. Kilasan memori tentang tangan Pak Karyo di tubuhnya membuat perutnya terasa hangat. Dia melirik ke arah Pak Karyo yang sedang menuangkan air ke gelas Irwan, dan untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu lagi. Kali ini, Maya tidak mampu mengalihkan pandangan dengan cepat.
Aku harus pergi dari sini, pikirnya panik. Dengan gerakan tiba-tiba, Maya bangkit dari kursinya.
"Aku harus siap-siap," katanya cepat, hampir tersandung kakinya sendiri saat melangkah meninggalkan ruang makan.
Di belakangnya, dia bisa merasakan dua pasang mata mengawasinya—satu dengan harapan dan antisipasi, satu lagi dengan kelaparan yang tertahan.
Langit Jakarta sudah berubah menjadi semburat oranye ketika Maya memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Kedua kakinya terasa sakit setelah seharian memakai sepatu hak tinggi untuk meeting dengan klien baru. Kepalanya berdenyut, dan perutnya yang mulai membuncit terasa tegang. Pada minggu ke-16 kehamilannya, tubuhnya mulai menunjukkan perubahan yang signifikan.
Maya melepaskan sepatunya bahkan sebelum masuk ke rumah, membiarkan telapak kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin. Lega, pikirnya sambil membuka pintu.
Rumah tampak remang-remang, hanya lampu teras dan dapur yang menyala. Maya memeriksa ponselnya, membaca pesan dari Irwan.
Aku udah standby, kamu silahkan lanjut ya Sayang, enjoy… Love You.
Maya menghela napas panjang. Dia tahu apa yang sedang terjadi—Bagian dari rencana "fase dua" yang dia bicarakan. Menumbuhkan ketergantungan, begitu katanya.
"Sudah pulang, Bu?" suara Pak Karyo membuat Maya tersentak. Pria itu muncul dari arah dapur, mengenakan kaos putih sederhana dan celana panjang hitam.
"Iya, Pak," jawab Maya, mendadak sadar bahwa dia berdiri dengan kaki telanjang dan rambut berantakan. Tas kerjanya terasa berat di bahunya.
Tanpa diminta, Pak Karyo mengambil tas kerja dari tangan Maya. "Biar saya bantu, Bu. Sepertinya ibu capek sekali."
Maya mengangguk lemah, terlalu lelah untuk mempertahankan jarak profesional. "Terima kasih, Pak."
"Pak Irwan sudah mengabari kalau pulang telat," Pak Karyo melanjutkan, mengikuti Maya ke ruang tengah. "Saya sudah siapkan air hangat untuk mandi dan jamu untuk ibu."
Dia sudah merencanakan semuanya, pikir Maya. Atau mungkin Irwan yang memberi instruksi?
"Air hangat?" Maya mengulang, terkejut oleh perhatian itu.
"Iya, Bu. Bagus untuk ibu hamil mandi air hangat setelah seharian bekerja. Membantu relaksasi otot dan mengurangi pembengkakan kaki."
Maya menatap Pak Karyo, tidak yakin harus berkata apa.
"Terima kasih, Pak," kata Maya pelan. "Saya... saya akan mandi dulu."
"Jamunya saya taruh di kamar ya, Bu," Pak Karyo berujar. "Minum selagi hangat. Bagus untuk pencernaan dan mengurangi mual."
Maya mengangguk lagi, menaiki tangga dengan langkah lambat. Tubuhnya terasa berat, dan entah mengapa, kehadiran Pak Karyo di belakangnya terasa seperti tangan tak terlihat yang mendorongnya.
Kamar mandi sudah disiapkan dengan sempurna—air hangat dengan aroma lavender mengepul dari bathub, handuk bersih dilipat rapi di samping, dan bahkan sebotol minyak esensial disiapkan di tepi.
Ini lebih dari sekedar perhatian pembantu, pikir Maya sambil perlahan melepaskan pakaian kerjanya. Ini seperti... seorang suami yang merawat istrinya.
Pikiran itu membuat wajah Maya memanas. Dia cepat-cepat masuk ke dalam air, membiarkan kehangatan meresap ke dalam tulang-tulangnya yang lelah.
Beberapa menit kemudian, suara ketukan lembut di pintu kamar membuatnya terkesiap.
"Bu, jamunya saya taruh di meja samping tempat tidur ya," suara Pak Karyo terdengar dari balik pintu.
"Iya, Pak. Terima kasih," jawab Maya, suaranya sedikit bergetar.
Setelah mandi, Maya mengenakan gaun tidur longgar dan duduk di tepi tempat tidur. Secangkir jamu hangat menunggu di meja samping, aromanya khas dan menenangkan. Dia mengambil cangkir itu, menyesapnya perlahan. Rasa hangat langsung menyebar ke seluruh tubuhnya.
Enak, pikirnya. Dan mualku langsung berkurang.
Maya menyadari betapa dirinya mulai bergantung pada jamu buatan Pak Karyo. Dokter kandungannya sudah menyarankan berbagai obat anti mual, tapi tidak ada yang seefektif ramuan tradisional ini.
Pintu kamar terbuka sedikit, dan Pak Karyo muncul dengan ekspresi sopan. "Maaf mengganggu, Bu. Boleh saya masuk sebentar?"
Maya menaruh cangkirnya, menarik selimut untuk menutupi kakinya. "Iya, Pak. Ada apa?"
Pak Karyo melangkah masuk dengan hati-hati, menjaga jarak yang sopan. "Saya lihat tadi ibu pulang tanpa sepatu. Kaki ibu bengkak?"
Maya menatap kakinya sendiri. Memang, pergelangan kakinya terlihat lebih besar dari biasanya.
"Sedikit," akunya. "Tapi nggak apa-apa kok."
Pak Karyo mengangguk pelan. "Kalau ibu ijinkan, saya bisa membantu dengan pijatan ringan. Bagus untuk mengurangi bengkak dan memperlancar peredaran darah."
Maya merasakan jantungnya berdegup kencang. Bayangan tangan Pak Karyo menyentuh kakinya membuat tenggorokannya kering. Aku mau banget, pikirnya, mengakui dengan jujur. Tapi apa aku bisa terus bermain peran sebagai aktor dalam rencana Irwan?
"Saya nggak tau..." Maya ragu-ragu, bukan karena tidak menginginkan sentuhan Pak Karyo, tapi karena takut tidak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya. Matanya melirik ke arah ponsel, berharap ada gangguan yang menunda momen ini—memberinya waktu untuk mempersiapkan topeng yang tepat.
Kalau aku terlalu antusias, Pak Karyo akan curiga, pikirnya. Tapi kalau aku terlalu menolak, dia akan mundur. Irwan bilang harus natural... tapi natural yang gimana?
"Nggak perlu khawatir, Bu," Pak Karyo meyakinkan. "Ini pijatan biasa saja, seperti yang saya lakukan untuk istri saya dulu. Sangat membantu untuk ibu hamil."
Maya mempertimbangkan tawaran itu, menimbang seberapa banyak ketertarikan yang boleh dia tunjukkan. Kakinya memang terasa sangat pegal, dan semua tekanan hari ini membuat punggungnya kaku—alasan yang sempurna untuk menerima. "Di... di mana?"
"Di ruang tengah saja, Bu. Lebih lega," jawab Pak Karyo, suaranya tenang dan profesional, tapi Maya bisa merasakan getaran halus di baliknya.
Dia juga kepengen ini, pikir Maya, merasa lega karena tidak sendirian dalam hasratnya. Tapi jangan sampe dia pikir aku istri murahan... Gimana ya caranya biar kelihatan natural tapi nggak kelewatan?
"Oke," kata Maya akhirnya, berusaha mencampurkan sedikit keraguan dalam suaranya. "Saya minum jamunya dulu ya, nanti turun."
Ruang tengah hanya diterangi lampu samping yang menciptakan bayangan lembut di dinding. Maya duduk di sofa, meletakkan bantal di punggungnya untuk kenyamanan. Pak Karyo berlutut di hadapannya, gerakan tangannya profesional saat dia mulai memijat pergelangan kaki Maya.
"Bengkaknya lumayan, Bu," komentar Pak Karyo, jari-jarinya menekan dengan tekanan yang tepat. "Memang wajar untuk ibu hamil, tapi harus diperhatikan."
Maya mengangguk pelan, matanya terpejam merasakan kelegaan saat tekanan darah di kakinya seolah mengalir lebih lancar. "Mmm... enak, Pak," gumamnya tanpa sadar.
Tangan Pak Karyo bergerak naik ke betis, jari-jarinya menemukan titik-titik tegang dengan presisi yang mengagumkan. Sesekali jarinya menyentuh bagian belakang lutut Maya—area yang pernah dia sentuh dalam konteks yang sangat berbeda beberapa waktu lalu.
Maya menegang, napasnya tertahan saat sensasi familiar itu menjalari tubuhnya.
"Rileks, Bu," Pak Karyo berkata lembut. "Kalau tegang, pijatannya nggak bisa optimal."
"I-iya, Pak," Maya mencoba menenangkan dirinya, tapi tubuhnya mengkhianati usahanya. Setiap sentuhan Pak Karyo membangkitkan memori yang seharusnya dia kubur dalam-dalam.
"Kalau boleh saya tanya, Bu, Pak Irwan sering bantu pijetin kaki ibu nggak?" tanya Pak Karyo, nadanya kasual tapi Maya bisa merasakan arti di baliknya.
"Jarang," jawab Maya jujur. "Dia... sibuk."
Pak Karyo mengangguk paham. "Sayang sekali. Untuk ibu hamil, sentuhan seperti ini sangat penting. Istri saya dulu selalu bilang pijatan suami itu berbeda rasanya."
Apa maksudnya? Maya bertanya-tanya. Apakah itu kritik halus terhadap Irwan?
"Boleh saya pijat punggung ibu juga? Biasanya ibu hamil banyak tegang di bagian punggung bawah," Pak Karyo menawarkan, tangannya kini sudah bergerak ke atas paha Maya.
Maya terkesiap pelan. Punggung berarti dia harus berubah posisi, memberi Pak Karyo akses lebih ke tubuhnya. Tapi punggungnya memang terasa sangat kaku...
"Boleh," bisiknya, nyaris tak terdengar.
Pak Karyo membantu Maya memposisikan diri menyamping di sofa, punggungnya menghadap ke arahnya. Dengan lembut, tangannya mulai memijat dari bahu turun ke tulang belakang. Maya merasakan jari-jari kuat itu menemukan dan menekan setiap titik tegang di tubuhnya.
"Bagaimana rasanya, Bu?" tanya Pak Karyo saat tangannya menemukan titik yang membuat Maya mendesis.
"S-sakit tapi... enak," aku Maya. Rasa sakitnya dengan cepat berubah menjadi kelegaan saat Pak Karyo menekan titik itu.
"Memang begitu," Pak Karyo menjelaskan, suaranya kini lebih dalam. "Awalnya sakit, tapi nanti pasti lega. Tubuh ibu lagi banyak perubahan. Hormon kehamilan bikin otot-otot tegang."
Maya mengangguk, pasrah di bawah sentuhan Pak Karyo. Pria ini tahu persis apa yang dibutuhkan tubuhnya.
"Di desa, ibu hamil selalu dipijat seminggu sekali," lanjut Pak Karyo, tangannya turun ke punggung bawah Maya. "Bukan hanya untuk mengurangi sakit, tapi juga untuk bayinya. Katanya bayi bisa merasakan ibunya rileks."
Tangan Pak Karyo dengan sengaja menyentuh sisi tubuh Maya, hampir menyentuh payudaranya yang membengkak karena kehamilan. Maya terkesiap, tapi tidak menarik diri.
"Maaf, Bu," Pak Karyo berkata, tapi tidak terdengar menyesal. "Payudara ibu juga bengkak ya? keliatannya jadi lebih besar… lebih sexy… Wajar sih untuk trimester kedua."
Maya merasakan wajahnya memanas seketika, aliran darah berdesir ke pipinya seperti ombak panas yang tak terbendung. Jantungnya berdegup kencang hingga dia bisa mendengar denyutnya sendiri di telinganya. "I-iya," jawabnya singkat, suaranya nyaris tercekik di tenggorokan yang mendadak kering.
Bagaimana bisa Pak Karyo mengucapkan hal seperti itu dengan begitu santai? Di situasi normal, komentar tentang payudaranya yang "lebih besar" dan "lebih sexy" akan dia anggap pelecehan. Tapi sekarang? Tubuhnya justru berkhianat dengan sensasi hangat yang menjalar dari dada ke perut bawahnya.
Tangannya secara refleks bergerak menutupi dadanya yang membengkak di balik gaun tidur.
Salah.
Gerakan itu justru membuat sensasi nyeri nikmat menyebar dari puting sensitifnya yang teramat sensitif. Gelombang panas mengalir turun, menusuk tepat di pusat perutnya yang membuncit.
"Nnnh—"
Desah pelan tak sengaja lolos dari bibirnya. Maya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, malu setengah mati membayangkan Irwan mungkin mendengar. Atau bahkan melihat momen ini melalui kamera tersembunyi.
Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku?
Pikirnya panik, nafas terengah-engah.
Kenapa tubuhku bereaksi sekuat ini hanya karena komentar sederhana?
Hormon kehamilannya memang membuat segalanya terasa berlipat ganda. Sentuhan terasa lebih intens. Kata-kata terasa lebih dalam. Dan hasratnya...
Hasratnya seperti monster yang terus lapar.
"Perubahan tubuh selama hamil itu sesuatu yang ajaib," kata Pak Karyo, tangannya kembali fokus pada punggung Maya, tapi kini lebih rendah, mendekati pinggul. "Istri saya dulu bilang, kadang rasanya seperti tubuhnya bukan miliknya lagi."
Sentuhan Pak Karyo berubah—dari profesional menjadi lebih intim. Jari-jarinya dengan sengaja menyusuri tulang ekor Maya, turun ke area yang membuat napas Maya tercekat.
"P-Pak..." Maya berbisik, setengah protes setengah permohonan.
