"Maaf, Bu," Pak Karyo kembali berkata, tapi tangannya tidak berhenti. "Daerah sini memang sering sakit untuk ibu hamil. Tekanan dari depan mempengaruhi punggung bawah."
Saat dia mengucapkan itu, tangannya dengan sengaja bergerak ke depan, menyentuh perut Maya dari belakang. Untuk sejenak, tangannya berhenti di perut Maya yang mulai membuncit—gestur yang mengklaim bayi di dalamnya.
Maya merasakan jantungnya berdegup liar. Tubuhnya berkhianat, merespons sentuhan itu dengan cara yang tidak seharusnya. Semua peringatan dalam otaknya teredam oleh desiran darah dan gelombang sensasi yang melanda.
"Lihat, Bu," bisik Pak Karyo, bibirnya kini dekat dengan telinga Maya. "Otot-otot ibu mulai rileks. Rasakan."
Dan memang benar—tubuh Maya terasa lebih ringan, tapi juga anehnya lebih sadar akan setiap sentuhan. Kulitnya seolah menjadi lebih sensitif, terutama di area yang Pak Karyo sentuh.
Tangan Pak Karyo bergerak turun, kini terang-terangan menyentuh pinggul Maya. "Daerah sini juga sering sakit. Pinggul ibu hamil harus kuat, persiapan untuk nanti."
"N-nanti?" Maya bertanya, suaranya bergetar.
"Untuk melahirkan," jawab Pak Karyo, tapi nada suaranya menyiratkan makna lain.
Jari-jari Pak Karyo dengan ahli menekan titik-titik di sekitar pinggul Maya, lalu perlahan bergerak ke depan, menyusuri paha dalamnya yang lembut. Setiap sentuhannya semakin mendekat ke area yang paling sensitif.
"Rileks aja, Bu," bisik Pak Karyo lagi, tangannya kini menelusuri kulit halus paha dalam Maya, semakin naik. "Ibu hamil kan butuh terapi khusus. Nggak baik kalau otot-otot di sini terlalu kaku."
"A-apa maksudnya?" Maya bertanya dengan suara bergetar, meski tubuhnya sudah mulai merespons dengan hangat.
"Hormon kehamilan bikin sirkulasi darah terganggu," jari Pak Karyo menyentuh tepat di selangkangan Maya melalui kain tipis gaun tidurnya, area yang sudah mulai basah. "Area ini butuh stimulasi khusus biar lancar."
Maya mendesis, matanya terpejam erat. Sensasi itu membanjiri tubuhnya seperti gelombang panas yang menyebar dari pusatnya.
"Saya bantu perbaiki sirkulasinya ya, Bu?" Pak Karyo bertanya dengan nada profesional palsu, tapi tangannya sudah menyingkap gaun tidur Maya, mengekspos tubuhnya. Jari-jarinya langsung menyentuh klitoris Maya yang sudah basah, menggosoknya dengan gerakan melingkar yang tegas. "Biar ibu lebih rileks. Bagus untuk bayi juga."
Maya mengerang keras, pinggulnya bergerak menekan jari Pak Karyo yang terus memainkan vaginanya. Cairan hangat semakin mengalir dari dalam tubuhnya, membasahi jari-jari yang semakin intens menggesek klitorisnya.
Bayi kita, pikir Maya tanpa sadar. Bayi kita.
Jari-jari kasar Pak Karyo menyusuri bibir vagina Maya dengan gerakan melingkar yang perlahan, membuat wanita itu menggeliat tidak karuan.
"Ahhh—" Maya menggigit bibirnya, berusaha menahan desahan yang nyaris lolos.
"Ibu jangan ditahan," Pak Karyo berbisik di telinganya, napasnya hangat menggelitik leher Maya. "Ini proses alami. Sirkulasi darah di area sensitif ini harus lancar untuk ibu hamil."
Jari tengah Pak Karyo mulai menekan lembut klitoris Maya yang sudah membengkak, membuat tubuh wanita itu bergetar.
"Nnnhh... P-Pak..." Maya mencengkeram lengan sofa, pinggulnya bergerak tanpa sadar mengikuti irama jari Pak Karyo.
"Tenang, Bu," Pak Karyo menenangkan dengan nada profesional meski matanya berkilat penuh gairah. "Pijatan khusus untuk area ini sangat baik untuk rahim dan janin."
Jari-jari kasarnya kini bergerak lebih cepat, menciptakan suara becek dari cairan Maya yang semakin banyak. "Dengar itu, Bu? Tubuh ibu merespons dengan baik," bisik Pak Karyo, suaranya serak. "Mmm... banyak sekali cairannya. Ini pertanda bagus."
"Aaahh... hhhh..." Maya terengah, kepalanya terkulai ke belakang. Sensasi jari kasar Pak Karyo sangat berbeda dari jari Irwan yang selalu halus dan berhati-hati.
Pak Karyo mengubah posisinya, berlutut lebih dekat. "Boleh saya coba teknik yang lebih dalam, Bu? Ini khusus untuk ibu hamil," tanyanya dengan nada sopan meski tangannya sudah bergerak menyingkap gaun tidur Maya lebih tinggi.
Maya hanya bisa mengangguk, otaknya berkabut oleh hasrat yang tak tertahankan.
"Ahhhh!" Maya menjerit kecil ketika jari tengah Pak Karyo perlahan memasuki liangnya, bergerak dengan ritme yang terukur.
"Ssst... tenang, Bu," Pak Karyo berbisik, ibu jarinya masih memainkan klitoris Maya. "Rileks... biarin jarinya masuk. Lemesin otot-ototnya."
"Oh... ohhh..." Maya mendesah, pinggulnya bergerak semakin liar, mengejar sensasi yang diberikan jari Pak Karyo.
"Ini bagus untuk memperlancar aliran darah ke rahim," Pak Karyo menjelaskan dengan tenang, meski napasnya sendiri mulai tidak beraturan. "Lihat, Bu, tubuh ibu menerimanya dengan baik."
Tanpa peringatan, Pak Karyo menambahkan jari kedua, membuat Maya tersentak. "Ahk—!"
"Maaf, Bu. Apa terlalu cepat?" tanyanya dengan nada khawatir palsu, jari-jarinya tetap bergerak di dalam.
"Ng-nggak... lanjutin..." Maya berbisik parau, matanya terpejam erat.
Jari-jari Pak Karyo bergerak dengan presisi, menemukan titik G Maya dan menekannya dengan tepat. Maya terlonjak, punggungnya melengkung.
"Ahhh! Di situ! Ya—di situ!" Maya menjerit tanpa sadar, tangannya kini mencengkeram lengan Pak Karyo.
"Di sini ya, Bu? Mmm... area ini memang sensitif untuk ibu hamil," Pak Karyo berbisik, nadanya seperti dokter yang memberikan diagnosis meski tangannya bergerak semakin cepat dan dalam. "Kalau dirangsang dengan benar, akan sangat menyehatkan... tubuh ibu akan rileks sepenuhnya... mmmm... bagus untuk bayi juga."
"Nghhh... ahhh... ohhh..." Maya terus mendesah, keringat mulai membasahi dahinya. Matanya setengah terpejam, bibirnya terbuka, wajahnya memerah penuh gairah.
"Tubuh ibu bicara jujur," Pak Karyo berbisik, suaranya kini lebih rendah dan intim. "Ibu memang butuh ini... butuh saya, ya kan, Bu?"
"Ya... ya..." Maya menjawab di tengah desahan, tidak lagi peduli dengan apa yang dia katakan.
"Bayi kita juga butuh ibunya bahagia," bisik Pak Karyo lagi, kata "kita" meluncur begitu saja.
Mendengar kata "bayi kita" entah bagaimana membuat gairah Maya memuncak. Sesuatu yang primitif dan dalam tersentuh—mengetahui bahwa pria yang membuahinya kini menyentuhnya, memuaskannya.
"Saya rasa ibu hampir sampai," Pak Karyo berbisik, merasakan dinding vagina Maya yang mulai berdenyut. "Jangan ditahan. Keluarkan semuanya. Untuk kesehatan ibu dan bayi kita."
"P-Pak... saya... ohhh... saya mau..." Maya terengah, pinggulnya bergerak semakin liar.
"Jangan ditahan bu," Pak Karyo berbisik tepat di telinga Maya, jari-jarinya bergerak semakin cepat, suara becek semakin keras. "Biarkan keluar semuanya."
"AHHHHH!" Maya menjerit, tubuhnya menegang sepenuhnya, punggungnya melengkung tinggi dari sofa saat gelombang orgasme menerjangnya dengan kekuatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Cairan hangat membasahi jari-jari Pak Karyo saat dinding vaginanya berdenyut kuat, mencengkeram jari-jari yang masih bergerak di dalamnya, memperpanjang sensasi puncaknya.
"Nhhh... nhhh... hhhh..." Maya terengah-engah, tubuhnya masih bergetar dalam gelombang pasca-orgasme, matanya berkaca-kaca oleh intensitas sensasi yang baru saja dia alami.
Perlahan, Pak Karyo menarik jari-jarinya, menimbulkan satu desahan terakhir dari Maya. Dengan lembut, dia merapikan gaun tidur Maya, lalu dengan berani mengusap keringat di dahi wanita itu.
"Lihat, Bu," bisiknya, tangannya yang lain kini beralih ke perut Maya yang mulai membuncit, membelainya dengan kelembutan mengejutkan. "Bayinya juga tenang sekarang. Bayi bisa merasakan kalau ibunya senang."
Maya terkulai di sofa, tubuhnya masih bergetar hebat dalam gelombang sisa kenikmatan. Napasnya pendek dan tak beraturan. Keringat mengalir turun dari dahinya, melintasi leher jenjangnya, lalu menghilang di lekuk payudaranya yang membengkak karena kehamilan. Jari-jari kakinya masih berkedut, mencengkeram udara kosong.
"Hhhh... hhh..." Hanya desahan yang mampu keluar dari bibirnya yang merah dan bengkak.
Pak Karyo berlutut di hadapannya, jari-jarinya yang kasar dengan lembut merapikan gaun tidur Maya—menariknya turun untuk menutupi paha telanjangnya, meskipun matanya jelas menginginkan sebaliknya. Dia mengusap lembut cairan yang masih membasahi paha dalam Maya dengan ujung gaun.
"Mmh," Maya mendesah pelan merasakan kain lembut mengusap area sensitifnya.
Dengan kelembutan yang kontras dengan tangannya yang kasar, Pak Karyo mengusap keringat di dahi Maya. Jempolnya menyapu lembut pelipis wanita itu, lalu turun membelai pipinya yang merona merah. Maya secara refleks memiringkan wajahnya, mencari kehangatan telapak tangan itu—suatu gerakan yang tidak luput dari perhatian Pak Karyo.
"Ibu terlihat semakin cantik sekarang," bisik Pak Karyo, suaranya rendah dan dalam. Tangannya kini menyentuh dagu Maya, mengangkatnya sedikit hingga mata mereka bertemu. "Kehamilan bikin ibu bersinar... ada cahaya khusus di mata ibu, di kulit ibu."
Ibu jarinya perlahan mengusap bibir bawah Maya yang sedikit terbuka. Maya merasakan kulit kasar ibu jari itu di bibir sensitifnya.
"Apalagi pas lagi kepuasan gini," lanjut Pak Karyo, matanya berkilat penuh arti. "Wajah ibu... bikin saya nggak bisa berhenti liatinnya."
Sensasi hangat kembali menjalar di perut bawah Maya. Mata Pak Karyo menatapnya dengan intensitas yang membuat seluruh tubuhnya terasa panas. Bukan tatapan seorang pembantu pada majikannya, tapi tatapan seorang pria pada wanita yang sangat diinginkannya.
"Bibir ibu merah banget," bisik Pak Karyo lagi, ibu jarinya masih bermain di bibir bawah Maya. "Kaya buah yang udah matang, siap dipetik."
Kata-kata itu terdengar vulgar dan berani, tapi di telinga Maya yang masih diselimuti kabut gairah, terdengar seperti puisi paling indah. Tanpa sadar, lidahnya menjilat bibir, menyentuh ibu jari Pak Karyo.
"Ah," Pak Karyo mendesah pelan, pupil matanya melebar.
Maya akhirnya menemukan suaranya, meski terdengar serak dan tidak seperti dirinya sendiri. "K-kamu ngomongnya makin berani aja, Pak."
Entah itu teguran atau undangan, bahkan Maya sendiri tidak yakin.
Pak Karyo tersenyum kecil, jarinya kini turun ke leher Maya, mengusap lembut denyut nadinya yang masih berdebar kencang. "Maaf, Bu," katanya, sama sekali tidak terdengar menyesal. "Habisnya ibu... terlalu cantik buat dilewatin."
Tangannya perlahan turun, menyapu tulang selangka Maya, lalu berhenti tepat di atas payudaranya yang kini lebih besar dan sensitif karena kehamilan. Maya menahan napas, menanti sentuhan di dadanya—tapi Pak Karyo menggodanya, hanya mengusap area di sekitarnya.
"Tubuh ibu juga berubah," gumam Pak Karyo, matanya terang-terangan mengagumi perubahan di tubuh Maya. "Lebih... subur. Lebih montok di bagian yang tepat."
Pipi Maya memanas mendengar kata-kata vulgar itu. Tapi alih-alih tersinggung, tubuhnya justru merespons dengan gelenyar hangat yang menjalar hingga ke ujung jari kakinya.
"Apa ibu mau..." Pak Karyo menarik napas, tangannya kini berani membelai sisi payudara Maya melalui gaun tidurnya. "Kita lanjutin di tempat yang lebih nyaman?"
Bibir Maya terasa kering. Dia menelan ludah. "Di... mana?"
Pak Karyo menggeser tangannya ke perut Maya yang mulai membuncit, membelainya dengan kelembutan mengejutkan. "Di kamar ibu mungkin? Saya bisa... rileksin ibu lebih lagi."
Tatapan matanya berubah lebih dalam, penuh janji akan kenikmatan yang lebih besar. "Kayak kemaren itu, Bu. Tapi kali ini lebih lama... lebih enak."
Pengingat tentang pertemuan mereka di kamar tidurnya beberapa hari yang lalu membuat jantung Maya berdebar lebih kencang. Malam itu, saat Irwan pergi, Pak Karyo telah memberikannya kenikmatan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya—di tempat tidur pernikahannya sendiri.
"Saya akan bikin ibu lebih rileks," bisik Pak Karyo, tangannya membelai pelan rambut Maya. "Bagus untuk ibu hamil, rileks sepenuhnya. Buat bayi kita juga."
Bayi kita. Kata-kata itu seharusnya menyadarkan Maya, mengingatkannya bahwa ini sudah kelewatan. Pak Karyo berbicara seolah-olah bayi dalam kandungannya adalah milik mereka berdua—yang memang benar, tapi Pak Karyo seharusnya tidak tahu itu.
Maya tahu dia seharusnya menolak. Mengatakan tidak dan kembali ke kamarnya sendiri. Tapi tubuhnya masih bergetar menginginkan lebih, dan pikirannya dipenuhi bayangan tentang jari-jari kasar Pak Karyo menyentuh setiap inci tubuhnya, bibirnya yang tegas menciumi lehernya, kejantanannya yang keras memenuhinya lagi.
Dan bukankah ini yang Irwan inginkan? Agar dia lebih "natural" dengan Pak Karyo?
Mata Pak Karyo terus menatapnya, penuh harapan dan hasrat. Tangannya kini berani turun ke paha Maya, mengusapnya perlahan dari lutut naik ke atas. Saat jari-jarinya mencapai area yang masih basah, Maya tersentak kecil.
"Ibu masih sensitif di sini," gumam Pak Karyo, suaranya serak. "Kalau di kamar... saya bisa lebih... telaten ngurusnya."
Maya meremas lengan sofa, bibirnya terbuka sedikit saat Pak Karyo dengan berani mengusap vaginanya yang masih basah melalui gaun tipis.
"Ibu mau?" tanya Pak Karyo lagi, kali ini lebih mendesak. "Kita bisa ke kamar ibu sekarang."
Maya menarik napas dalam-dalam. Aroma maskulin Pak Karyo—campuran keringat alami, sabun sederhana, dan aroma tanah—memenuhi indra penciumannya, membuatnya semakin pusing oleh gairah.
"Yaudah, yuk," jawab Maya akhirnya, suaranya pelan namun jelas.
Pak Karyo tersenyum puas. Dengan gerakan kuat namun lembut, dia mengangkat tubuh Maya dari sofa seperti pengantin, satu tangan di bawah lututnya, satu lagi menopang punggungnya.
"Saya gendong aja ya, Bu," bisiknya di telinga Maya. "Kaki ibu pasti masih lemes."
Maya melingkarkan tangannya di leher Pak Karyo, merasakan otot-otot kuat di bawah kemejanya. Hidungnya tanpa sadar mengendus leher pria itu, mencari aroma yang entah bagaimana menenangkan mualnya selama kehamilan.
Saat Pak Karyo mulai melangkah menaiki tangga menuju kamar utama, Maya menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Rasa bersalah mungkin akan datang nanti, tapi saat ini, yang dia rasakan hanyalah antisipasi akan kenikmatan yang menanti di kamar tidurnya—dan mungkin, pengakuan lebih jauh tentang perasaannya yang sebenarnya terhadap ayah biologis dari bayi dalam kandungannya.
