Dengan langkah pasti, Pak Karyo mendorong pintu kamar dengan bahunya, tangannya masih menggendong Maya yang terkulai lemas dalam pelukannya. Tubuh Maya terasa hangat dan ringan dalam gendongannya, gaun tidurnya sedikit tersingkap memperlihatkan paha mulus yang masih berkilau basah.
Kamar itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur yang memancarkan cahaya keemasan lembut. Tempat tidur king size yang biasa ditiduri Maya dan Irwan menjadi fokus pandangan mereka berdua—bukan lagi tempat terlarang, tapi arena yang telah mereka jelajahi bersama sebelumnya.
"Sudah sampai, Bu," bisik Pak Karyo, suaranya rendah dan dalam, namun tidak lagi mengandung keraguan seperti dulu. Tangannya yang kokoh perlahan menurunkan tubuh Maya ke atas tempat tidur, membiarkan jari-jarinya sengaja menyapu lembut punggung dan pinggang wanita itu saat melakukannya.
Maya mendesah pelan saat tubuhnya menyentuh permukaan kasur yang lembut. Matanya sayu, masih berkabut oleh sisa-sisa kenikmatan di ruang tengah tadi. Tidak ada kecanggungan di antara mereka sekarang—hanya antisipasi akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Saya ambilkan minum dulu, Bu?" tanya Pak Karyo, tangannya dengan berani menyapu rambut yang jatuh menutupi wajah Maya.
Maya menggeleng pelan, tangannya menangkap pergelangan tangan Pak Karyo, menahannya. "Nggak usah," bisiknya, "tetap di sini."
Pak Karyo menurunkan tubuh Maya dengan lembut ke atas kasur empuk, tangannya yang kuat masih menopang punggung dan pinggang wanita itu. Gaun tidur Maya sedikit tersingkap saat kakinya menyentuh seprai, memperlihatkan paha mulus yang berkilau tipis oleh keringat sisa kenikmatan tadi di ruang tengah. Cahaya lembut lampu tidur menerangi wajahnya yang masih memerah, matanya berkabut oleh gairah yang belum sepenuhnya padam.
"Ibu nyaman di sini?" tanya Pak Karyo, suaranya rendah dan hangat, bercampur dengan nada prihatin yang terdengar tulus. Dia duduk di sisi tempat tidur, dekat sekali hingga Maya bisa mencium aroma maskulinnya—campuran keringat alami dan sabun sederhana yang entah kenapa menenangkan mualnya.
Maya mengangguk pelan, napasnya masih belum stabil. "Iya, Pak... makasih," bisiknya, suaranya serak. Matanya sebentar melirik ke sudut kamar, tempat dia tahu kamera Irwan mungkin sedang merekam. Pikiran itu seharusnya membuatnya malu, tapi malah ada sensasi aneh yang muncul—campuran rasa bersalah dan gairah yang justru membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
Pak Karyo tersenyum kecil, tangannya dengan lembut menyapu rambut yang menempel di dahi Maya yang berkeringat. "Ibu tadi kelihatan begitu... rileks," ujarnya, nada suaranya penuh arti. Jari-jarinya turun perlahan, menyentuh pipi Maya yang masih hangat, lalu berhenti di dagunya, mengangkat wajah wanita itu agar mata mereka bertemu. "Wajah ibu pas begitu... bikin saya nggak bisa berpaling."
Maya merasakan panas menjalar lagi di perutnya. Tatapan Pak Karyo penuh hasrat, bukan tatapan seorang pembantu, melainkan seorang pria yang jelas-jelas menginginkannya. "Kamu... makin berani aja ngomong gitu, Pak," balas Maya, nada suaranya bercampur antara teguran dan undangan yang samar, bahkan dia sendiri nggak yakin maksudnya apa.
"Maaf, Bu," jawab Pak Karyo, meski senyumnya sama sekali nggak menunjukkan penyesalan. Tangannya kini turun pelan ke leher Maya, jari-jarinya yang kasar mengusap lembut denyut nadi yang masih cepat di sana. "Cuma... ibu terlalu cantik. Susah buat nahan diri."
Maya menelan ludah, bibirnya terasa kering. Tubuhnya bereaksi pada setiap sentuhan, meski pikirannya berusaha mencari alasan untuk berhenti.
Pak Karyo mendekatkan wajahnya, napasnya terasa hangat di kulit Maya. "Ibu inget nggak, beberapa hari lalu... pas kita bareng kaya gini," bisiknya, suaranya makin dalam. "Ibu panggil saya dengan sebutan... yang lain."
Jantung Maya serasa berhenti sejenak.
Dia tahu apa yang dimaksud Pak Karyo. Malam itu, di puncak gairah, dia tanpa sadar memanggil pria ini dengan sebutan yang begitu intim, sebutan yang seharusnya nggak pernah keluar dari bibirnya.
"Aku... aku nggak sengaja," gumam Maya, wajahnya memanas.
Dia melirik lagi ke sudut kamar, sadar Irwan mungkin sedang mendengar ini semua. Dan anehnya, itu justru membuatnya makin bergairah—suaminya menyaksikan betapa dia kehilangan kendali.
"Sebutan itu..." Pak Karyo berhenti sejenak, jarinya kini bermain di bibir bawah Maya, mengusapnya dengan lembut. "...'Mas'. Ibu panggil saya 'Mas'. Dan rasanya... bener. Kaya kita udah..."
Dia nggak melanjutkan, tapi matanya berkilat penuh harapan.
Maya nggak bisa berkata apa-apa. Dia cuma menatap mata Pak Karyo, merasakan jari kasar itu di bibirnya. Tanpa sadar, dia membuka bibir sedikit, mengundang sentuhan lebih.
Pak Karyo nggak menyia-nyiakan momen itu. Dia mendekat lagi, hingga bibirnya hanya beberapa senti dari bibir Maya.
"Boleh saya... cium ibu, Bu?" tanyanya, suaranya serak penuh hasrat.
Maya nggak menjawab dengan kata-kata. Dia cuma mengangguk pelan, dan itu cukup.
Pak Karyo segera menutup jarak di antara mereka, bibirnya yang tegas menyentuh bibir Maya dengan kelembutan yang mengejutkan. Ciuman itu awalnya pelan, penuh perasaan, tapi segera menjadi lebih mendalam, lebih lapar.
Maya mendesah kecil di tengah ciuman, tangannya tanpa sadar naik ke leher Pak Karyo, menariknya lebih dekat.
Saat bibir mereka akhirnya terpisah, napas keduanya sama-sama terengah. Pak Karyo nggak mundur jauh, dahinya menempel di dahi Maya, tangannya kini turun ke bahu wanita itu, lalu menyusuri lengannya dengan sentuhan ringan yang bikin bulu kuduk Maya berdiri.
"Ibu... bikin saya nggak bisa mikir jernih," gumamnya, jarinya kini bermain di tali gaun tidur Maya, seolah meminta izin tanpa kata.
Maya menggigit bibir, tubuhnya bergetar penuh antisipasi. Pikirannya berputar liar. Dia tahu ini salah, tahu Irwan sedang menonton, tapi justru itu yang membuat semuanya terasa lebih intens.
Dia menikmati setiap sentuhan, setiap kata dari Pak Karyo—dan menyadari suaminya melihat betapa dia larut dalam kenikmatan ini.
"Kamu... bikin aku lupa diri, Pak," bisiknya akhirnya, suaranya penuh kejujuran yang mengejutkan dirinya sendiri.
Pak Karyo tersenyum kecil, matanya berkilat penuh hasrat. Tangannya masih bermain di bahu Maya, tapi kini dengan lembut menariknya lebih dekat.
"Bagus, Bu... kadang lupa diri itu perlu," gumamnya, suaranya rendah dan menenangkan. "Ibu nggak usah nahan apa-apa sama saya. Lepasin aja semua... biar saya yang urus."
Jari-jarinya kini menyusuri lengan Maya, mengirimkan gelombang hangat ke seluruh tubuhnya.
"Kayak tadi pas kita ciuman... ibu kan juga nggak nahan, ya? Rasanya pas, kaya kita udah biasa gini."
Maya menelan ludah, kata-kata itu seperti membuka sesuatu di dalam dirinya. Tatapan Pak Karyo begitu intens, seolah ingin meyakinkan bahwa ini bukan cuma soal fisik.
"Panggil saya 'Mas' lagi, Bu... atau 'Sayang' kaya kemarin. Itu bikin semuanya lebih... nyata," lanjutnya, tangannya kini turun ke pinggang Maya, menariknya pelan hingga tubuh mereka nyaris menempel.
Dia mendekat, bibirnya kembali menyentuh bibir Maya dalam ciuman yang lebih dalam, lebih penuh rasa lapar, seolah ingin menghapus setiap jarak yang tersisa di antara mereka.
Ciuman itu akhirnya terputus, meninggalkan Maya terengah, pipinya memerah.
Pak Karyo tak mundur jauh, matanya masih terkunci pada Maya. Tangannya kini dengan berani menyentuh sisi payudara Maya melalui gaun tipis itu, membelainya pelan.
"Kehamilan bikin tubuh ibu makin sensitif," ujarnya, matanya turun mengagumi tubuh Maya yang berubah. "Lebih penuh... lebih indah. Apa boleh saya... lanjutin, Bu? Biar ibu lebih rileks lagi?"
Maya menarik napas dalam-dalam, tahu persis apa yang dimaksud pria itu. Dia melirik sekali lagi ke sudut kamar, membayangkan Irwan di sisi lain layar, tangannya gemetar memegang ponsel atau laptop, menyaksikan istrinya menyerah pada hasrat.
Dan entah kenapa, bayangan itu justru mendorongnya untuk melanjutkan.
"Yaudah... lanjutin aja, Pak," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar, tapi cukup jelas buat Pak Karyo.
Pria itu mengangguk, tangannya kini lebih berani, sementara Maya membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi yang ditawarkan—sadar sepenuhnya bahwa setiap desahan, setiap sentuhan, sedang ditonton oleh pria yang seharusnya menjadi satu-satunya di hatinya. Tapi malam ini, dia nggak bisa—atau nggak mau—berhenti.
"Boleh saya lihat, Bu?" tanya Pak Karyo, jari-jarinya sudah bermain di tali gaun tidur Maya.
Maya mengangguk tanpa kata, mengangkat tubuhnya sedikit untuk memudahkan Pak Karyo menarik gaun tidurnya ke atas. Gaun itu meluncur naik, mengungkap paha mulus, perut yang mulai membuncit, dan akhirnya payudara Maya yang kini lebih penuh dari sebelumnya.
"Cantik sekali," bisik Pak Karyo, matanya menatap tubuh setengah telanjang Maya dengan kekaguman tulus. "Kehamilan membuat ibu semakin indah."
Maya merasakan campuran rasa malu dan bangga. Tubuhnya memang berubah—pinggangnya sedikit melebar, perutnya mulai membuncit, payudaranya lebih besar—tapi tatapan Pak Karyo membuatnya merasa cantik, bukan canggung.
"Boleh saya sentuh, Bu?" tanya Pak Karyo, tangannya melayang di atas tubuh Maya.
"Boleh," bisik Maya, tubuhnya sudah merindukan sentuhan itu.
Tangan kasar Pak Karyo mendarat dengan lembut di perut Maya, membelainya dengan penuh penghormatan. "Di sini anak kita tumbuh," bisiknya, hampir pada diri sendiri.
Maya tersentak mendengar kata "anak kita" yang diucapkan dengan begitu natural. Tapi dia tidak memperbaikinya. Karena bagaimanapun, itu memang kenyataannya.
Tangan Pak Karyo bergerak naik, akhirnya menutupi payudara Maya sepenuhnya. "Mmm," dia menggumam puas. "Pas sekali di tangan saya."
Maya mengerang pelan saat Pak Karyo dengan lembut memijat payudaranya, jari-jarinya bermain dengan puting yang semakin sensitif. Setiap sentuhan mengirimkan percikan listrik ke seluruh tubuhnya, terutama ke bagian bawah perutnya.
"Boleh saya cium, Bu?" tanya Pak Karyo, wajahnya kini sangat dekat dengan dada Maya.
"Y-ya," Maya tergagap, tubuhnya sudah bergetar menginginkan bibir Pak Karyo di kulitnya.
Pak Karyo menurunkan kepalanya dengan perlahan, bibirnya akhirnya mendarat di puncak payudara Maya. Sensasi hangat dan basah membuatnya tersentak. "Ahhh," Maya mendesah, tangannya tanpa sadar naik untuk memegang kepala Pak Karyo, mendorongnya lebih dekat.
Pak Karyo menjilat, mengisap, dan menggigit lembut puting Maya, menciptakan sensasi yang membuat tubuh Maya melengkung. Tangannya yang satu lagi terus membelai payudara yang lain, mencubit lembut puncaknya.
"Enak, Bu?" bisik Pak Karyo di antara jilatannya.
"Mmmmh," hanya itu yang mampu Maya ucapkan, otaknya mulai berkabut oleh gairah.
Pak Karyo perlahan bergeser, bibirnya kini menyusuri lembah di antara payudara Maya, turun ke perutnya yang membuncit. Dia berhenti di sana, mengecup perut itu dengan kelembutan mengejutkan.
"Tumbuh sehat ya, Nak," bisiknya pada perut Maya, sebuah keintiman yang membuat mata Maya berkaca-kaca.
Tangan Pak Karyo bergerak turun, menyusuri paha dalam Maya yang sudah basah dengan gairah. Maya membuka kakinya lebih lebar, sebuah undangan tanpa kata.
"Ibu sudah sangat siap," gumam Pak Karyo, jarinya menyentuh kelembaban di antara paha Maya. "Kehamilan memang membuat tubuh lebih responsif."
Maya mengerang saat jari Pak Karyo dengan mudah meluncur masuk ke dalam dirinya. "Ohh..." desahnya, pinggulnya bergerak tanpa sadar mencari sentuhan lebih.
"Sabar, Bu," Pak Karyo tersenyum, jarinya bergerak dengan irama lambat yang menyiksa. "Untuk ibu hamil, lebih baik pelan-pelan."
Maya menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan desahan yang ingin lolos. Tapi saat Pak Karyo menambahkan jari kedua, dia tidak bisa menahannya lagi. "Aaahhh," desahnya keras.
"Ya, begitu, Bu," Pak Karyo mendorong, jarinya kini bergerak lebih cepat. "Jangan ditahan. Nggak baik untuk bayi kalau ibunya tegang."
Mendengar kata "bayi" di tengah aktivitas intim mereka entah mengapa justru membuat Maya semakin terangsang. Ada sesuatu yang sangat primitif dalam hal itu—pria yang membuahinya kini memberikan kenikmatan padanya, pada tubuh yang mengandung benihnya.
"Saya juga ingin merasakan ibu," bisik Pak Karyo, bibirnya kini turun dari perut ke arah pangkal paha Maya.
Maya tersentak saat merasakan napas hangat Pak Karyo di area sensitifnya. "P-Pak..." dia tergagap.
Pak Karyo mendongak, matanya bertemu dengan Maya. "Boleh, Bu?" tanyanya, bibirnya hanya beberapa sentimeter dari pusat kenikmatan Maya.
Maya tidak bisa berkata-kata, hanya mengangguk cepat. Pak Karyo tersenyum, lalu menurunkan kepalanya, lidahnya akhirnya menyentuh titik paling sensitif di tubuh Maya.
"Aaahhh!" Maya menjerit, pinggulnya terangkat dari tempat tidur. Sensasinya begitu intens—lidah Pak Karyo yang hangat dan lembut menari di atas klitorisnya, sementara jari-jarinya masih bergerak masuk dan keluar dengan irama sempurna.
"Enak, Bu?" Pak Karyo bertanya di antara jilatannya.
"Enak... sangat enak," Maya mengerang, tangannya mencengkeram sprei dengan kuat. "Jangan berhenti... tolong..."
Pak Karyo menggumam puas, vibrasi dari tenggorokannya menambah sensasi di titik sensitif Maya. Dia meningkatkan tempo jilatan dan gerakan jarinya, membawa Maya semakin dekat ke tepi jurang kenikmatan.
Maya merasakan gelombang itu membangun di dalam tubuhnya—lebih kuat, lebih dalam dari yang pernah dia rasakan sebelumnya. Tubuhnya menegang, napasnya tertahan, dan saat Pak Karyo menghisap klitorisnya dengan lembut, dunianya meledak.
"AAAAHHH! Oh! Oh!" Maya menjerit, tubuhnya mengejang dalam gelombang kenikmatan yang dahsyat. Punggungnya melengkung, pinggulnya terangkat, tangannya mencengkeram kepala Pak Karyo, menahannya di tempat.
Pak Karyo terus menjilat dan menghisap dengan lembut, memperpanjang orgasme Maya hingga wanita itu terkulai lemas di tempat tidur, napasnya terengah-engah.
"Bagus, Bu," bisik Pak Karyo, bibirnya mengkilap dengan cairannya Maya saat dia mengangkat wajahnya. "Ibu hamil perlu pelepasan seperti ini."
Maya hanya bisa terengah, tubuhnya masih bergetar dalam sisa-sisa kenikmatan. Dia menatap Pak Karyo yang kini berdiri, mulai melepaskan pakaiannya. Otot-otot keras terlihat jelas di bawah kulit gelap Pak Karyo—hasil bertahun-tahun kerja fisik yang berat.
Saat Pak Karyo menurunkan celananya, kejantanannya yang sudah sepenuhnya tegang terlihat jelas. Maya menelan ludah, mengingat betapa penuhnya dia merasa saat Pak Karyo berada di dalamnya.
"Ibu mau ini?" tanya Pak Karyo, tangannya mengelus kejantanannya sendiri dengan gerakan lambat.
Maya menatap tubuh telanjang Pak Karyo dengan campuran rasa takjub dan nafsu. Tubuh yang terbentuk dari kerja fisik selama bertahun-tahun—otot-otot yang keras, kulit yang gelap dan kasar, sangat berbeda dengan tubuh Irwan yang langsing dan halus.
"Iya," Maya mengaku, suaranya serak oleh gairah.
