Aku kembali mengenakan celana dalam dan kemudian gamis abu-abuku yang licin dan mencetak siluet tubuhku. Gamis yang tadi sukses membuat Pak Bayu gagal menjaga pandangannya. Aku memakai jilbab lebar dan cadarku. Aku mengambil dompet dan handphoneku untuk berjaga-jaga.
Saat merias diri di depan cermin, aku hanya fokus pada eyeliner dan memastikan mata indahku terlihat memikat di balik cadar. Namun, karena terburu-buru oleh hasrat yang membakar, aku lupa satu hal, aku tidak memakai bra.
Yaudah gpp, pikirku. Justru lebih baik. Payudaraku yang besar dan padat akan berayun bebas, dan gamis abu-abu yang licin ini akan mencetak bentuknya dengan lebih jelas.
Dengan hati yang berdebar kencang, aku melangkah keluar rumah, mengunci pintu perlahan. Aku berjalan menuju gerbang utama, tempat Pos Satpam berada. Malam terasa sunyi dan gelap, hanya diterangi oleh cahaya remang lampu jalan.
Di perjalanan, keraguan sempat menyergap. Apa yang kulakukan? Aku Ukhti Zahra, guru ngaji ! Aku menggumamkan istighfar , tetapi bayangan tonjolan di celana Pak Rahmat kembali menghapus semua doa.
Saat aku hampir mencapai pos, jantungku mencelos. Pria yang duduk di kursi plastik, terbungkus seragam security berwarna gelap, bukan Pak Rahmat.
Sial.
Yang berjaga adalah seorang aki-aki tua. Wajahnya terlihat lelah, ia duduk membungkuk, sesekali menguap. Aku tidak tahu namanya.
Aku bingung. Apakah aku harus putar balik? Atau haruskah aku menuntaskan hasratku yang sudah di ujung tanduk ini kepada lelaki tua itu?
Tidak. Aku menggelengkan kepala di balik cadar. Hasratku memang liar, tetapi aku butuh pria yang berani dan kuat, seperti Pak Rahmat dengan tubuh tegapnya atau Pak Bayu dengan lengan kekarnya. Aku tidak mau dengan aki-aki tua.
Aku memutuskan untuk terus berjalan, melewati pos.
"Permisi, Pak," ucapku, suaraku kuusahakan tetap lembut dan sopan.
"Iya, Ukhti Zahra," jawab pria tua itu, nadanya ramah dan penuh hormat, tanpa ada nada genit sedikit pun.
Hanya itu percakapan kami. Ia melihatku sebagai guru ngaji, bukan sebagai wanita yang sedang mencari pelampiasan.
Aku terus melangkah, tidak tahu arah. Aku berjalan menuju jalan besar di luar kompleks, jalan yang lebih ramai, tetapi juga lebih gelap. Rasa frustrasi karena hasratku terpotong, bercampur dengan gairah yang tak tertahankan, membuatku gila.
Aku berharap diculik oleh seorang laki-laki ganteng di sini. Pikiran kotor itu melintas tanpa sadar. Aku ingin seseorang menarikku, mendambaku, dan menunjukkan padaku bahwa aku seksi, seperti yang Pak Rahmat katakan.
Tangan kananku kuselipkan di dalam jilbab lebarku, melipatnya di depan dada. Jari-jariku yang gelisah mulai bermain-main, terkadang sedikit menyentuh puting payudaraku yang kini menegang di balik kain gamis, tanpa bra yang menopang. Sentuhan kecil itu mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuhku.
Aku terus berjalan pelan, menundukkan pandangan, melihat jalanan yang sepi. Aku adalah Ukhti Syar'i yang sedang berjalan sendirian di kegelapan malam, dengan hati yang penuh dosa dan payudara yang berdenyut kencang, mencari sentuhan liar yang baru saja kurasakan dan kini kutagih.
Aku terus menyusuri jalanan yang sepi. Angin malam yang dingin bergesekan dengan gamis licinku, membuat putingku semakin menegang dan berdenyut. Tangan kananku masih tersembunyi di balik jilbab, memilin-milin puting payudaraku sendiri, sebuah tindakan refleks dari hasrat yang tak tertahankan.
Aku frustrasi. Ke pos Pak Rahmat gagal. Aku butuh pelampiasan. Aku butuh pengakuan liar. Aku butuh sentuhan nyata.
Tiba-tiba, aku teringat pada Pak Hasan, penjual nasi goreng.
"Kalau Ukhti butuh pelampiasan lagi, kalau Ukhti butuh teman bicara, ke sini saja, ya,"
Tawaran itu, yang dulu kuabaikan karena rasa malu, kini terngiang seperti janji surga. Aku berharap tawaran itu masih berlaku. Warung nasi goreng itu adalah tempat kehancuranku pertama, dan kini, itu adalah tujuanku.
Aku mengubah arah langkahku. Aku berjalan lebih cepat menuju ujung kompleks, tempat warung nasi goreng Pak Hasan berada.
Saat aku mendekat, lampu temaram warung itu menyambutku. Aku melihat Pak Hasan duduk di kursi plastik di dekat gerobaknya, sibuk memainkan handphonenya. Dia terlihat santai, menunggu pelanggan. Ku lihat warungnya sepi tidak ada pembeli.
Aku menarik napas dalam-dalam, mengatur detak jantungku, dan melangkah mendekat.
Pak Hasan mendongak. Matanya yang ramah langsung berubah, menyiratkan keterkejutan dan sesuatu yang lain begitu melihatku.
“Ehh, ada Ukhti Zahra. Assalamualaikum. Malam-malam begini, mau makan, Ukh?” sapanya, nadanya ramah, tetapi aku menangkap getaran serak yang tersembunyi. Ia pasti mengingat apa yang terjadi semalam.
“Wa’alaikumsalam, Pak,” jawabku, suaraku kuusahakan senormal mungkin. Aku butuh alasan. “Iya, Pak. Saya lapar.”
“Mau bungkus apa makan sini?” tanyanya, ia berdiri tegap.
Aku menelan ludah. Jika kubungkus, aku harus segera pulang. Jika aku makan di sini... aku bisa punya waktu.
"Emm... makan sini aja, Pak," kataku, sebuah keputusan yang didorong oleh gairah liar, bukan rasa lapar.
“Oh, iya. Ukhti duduk dulu, ya,” balasnya, ia tersenyum, senyum yang kini terlihat lebih lebar, lebih tahu segalanya.
Aku berjalan ke arah kursi plastik. tetapi anehnya, kakiku menuntunku ke pojokan. Aku memilih kursi yang berada di balik gerobak, di tempat yang paling gelap dan paling jauh dari sorot lampu jalan raya.
Duduk di sana, di pojokan yang remang-remang, membuatku merasa tidak terlihat, atau setidaknya, sulit terlihat dari arah jalan raya. Itu adalah tempat yang sempurna untuk melanjutkan permainan terlarangku.
Aku duduk, tanganku yang gemetar langsung beraksi. Aku menyandarkan punggung ke tembok, dan tanpa ragu, aku menyelipkan tangan kiriku ke balik jilbab lebar. Gamis abu-abuku yang licin terasa begitu tipis dan menghangatkan.
Aku mulai meremas payudaraku yang besar dan padat. Sengaja. Aku menekan putingku yang kini menegang keras karena sentuhan tanganku dan udara malam yang dingin.
“Mmmhh…” rintihan lirih lolos dari bibirku yang tertutup cadar. Kenikmatan itu langsung menghantam, diperkuat oleh sensasi bahaya karena melakukannya di depan umum atau setidaknya, di depan Pak Hasan.
Aku semakin berani. Aku meremas lebih kuat, memilin putingku, membiarkan tubuhku melengkung di kursi plastik itu. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku sepenuhnya hanyut, tidak peduli dengan Pak Hasan yang kini sibuk meracik bumbu di gerobak di depanku.
Suara sreng-sreng spatula di wajan Pak Hasan beradu dengan rintihan tertahanku.
Tiba-tiba, suara wajan itu berhenti. Sunyi.
Aku membuka mata, terkesiap.
Pak Hasan tidak lagi di depan wajan. Dia sudah berdiri di sampingku. Matanya langsung menatap ke dadaku. Ia memergokiku.
Meskipun tanganku tersembunyi di balik jilbab, gamis abu-abu yang kupakai, yang licin dan mencetak tubuh, membuat siluet payudaraku yang sedang kuremas terlihat jelas. Payudaraku terlihat menonjol dan bergetar di bawah remasan tanganku, aku tidak berhenti meremas payudaraku sendiri.
Pak Hasan tersenyum. Senyumnya bukan lagi ramah, melainkan seringai kemenangan yang sama mengerikannya dengan semalam. Ia tahu, aku kembali karena tawaran liarnya.
“Ukhti Zahra,” bisiknya, suaranya serak dan sangat dekat. Napasnya terasa panas di telingaku.
“Selamat datang kembali.”
Ia mencondongkan tubuhnya, sedikit mengintip ke arah tanganku yang tersembunyi dibalik jilbab.
Aku tersentak. Suara Pak Hasan yang serak dan penuh arti itu seolah menelanjangiku di pojokan gelap ini. Tanganku yang tadinya liar meremas payudara, seketika terhenti.
“Nasi gorengnya belum matang, Ukhti,” katanya, nadanya penuh arti. “Tapi... sepertinya ada makanan lain yang lebih enak. hehe”
Aku menatapnya. Jantungku berdebar kencang, Ekspresinya penuh kemenangan, tahu bahwa aku datang kepadanya karena hasrat yang tak tertahankan.
Pak Hasan tidak menunggu persetujuanku. Ia berjalan santai ke kursi plastik di sampingku, menariknya hingga jarak kami begitu dekat. Bahu kami hampir bersentuhan. Bau asap nasi goreng bercampur dengan aroma keringat khas nya.
“Ukhti Zahra lagi sange?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi. Pertanyaan itu begitu telanjang, begitu vulgar, membuat pipiku terasa panas di balik cadar.
Aku hanya bisa menunduk, memilin kain gamis di pangkuanku. Aku menarik tanganku dari payudaraku. “Emm...” hanya kata itu yang bisa keluar dari bibirku, sebuah pengakuan tanpa suara.
“Ukhti butuh pelampiasan sama Bapak?” godanya, suaranya serak, penuh janji.
Aku hanya diam, menunduk dalam-dalam. Aku merasa kotor. Aku adalah guru ngaji, dan aku berada di warung nasi goreng pada jam sepuluh malam, ditawari perzinahan oleh penjual nasi goreng. Namun, tubuhku yang basah dan berdenyut sangat membutuhkan pelampiasan.
Tiba-tiba, tangan Pak Hasan bergerak dari belakang punggungku. Tangannya yang hangat dan kasar merangkul pundakku. Sentuhan itu ringan, tetapi terasa begitu intim.
“Terusin aja, Ukhti. Remas payudara Ukhti,” bisiknya, suaranya kini terdengar seperti perintah yang dominan. “Aku suka lihat Ukhti keenakan gini.”
Aku nurut. Aku segera menyelipkan tanganku kembali ke dalam jilbab, menuju payudaraku yang besar dan menuntut sentuhan. Aku mulai meremas, lebih pelan di awal, tetapi hasrat yang kembali memuncak membuat remasanku semakin kuat.
“Ahh… Mmmhh…” rintihan lirih lolos dari bibirku.
Pak Hasan tertawa kecil, tawa yang penuh arti. Tangan di pundakku mulai bergerak, mengusap bahuku dengan lembut, gerakannya naik turun. Elusan itu terasa menenangkan.
“Gitu, Sayang. Jangan malu. Bapak di sini akan jaga Ukhti. Bapak suka lihat Ukhti yang berani main di pojokan begini,” bisiknya, napasnya terasa panas di telingaku.
Aku semakin berani. Remasanku pada payudaraku sendiri kini menjadi brutal. Aku mencubit putingku yang menegang di balik kain gamis. Sensasi sakit dan kenikmatan yang beradu membuat tubuhku melengkung.
“Pak… enak… Aku… aku suka… sentuhan Bapak,” rintihku, suaraku parau dan basah. Aku telah melupakan etika, melupakan kesucian tubuhku.
“Iya, Sayang. Bapak juga suka lihat Ukhti begini,” balas Pak Hasan, suaranya semakin berat. “Nenen Ukhti Zahra memang besar benget ya. Kenceng banget. Coba Ukhti goyang-goyangin pinggulnya, kayak semalam. Biar Bapak juga ikut ngaceng.”
Mendengar kata-kata vulgar itu, aku merasa malu, tetapi sensasi bahwa aku mampu membuat seorang pria terangsang begitu besar membuat gairahku naik. Aku menggerakkan pinggulku perlahan, memaju-mundurkannya di kursi plastik itu. Gamis licinku bergesekan dengan vaginaku yang sudah basah dari tadi.
“Ahhh… Basah, Pak… Aku basah banget… Mmmhh…” desahku, tanpa sadar mengucap pengakuan itu.
Pak Hasan mendesah keras. Tangannya di bahuku kini turun, bergerak ke pinggulku, mencengkeramnya kuat-kuat. “Gila, Ukhti. Kamu liar banget. Bapak enggak tahan.”
“Aku juga enggak tahan, Pak… Aku mau, Ahhh., Sentuh aku pak…” rintihku, suaraku bergetar hebat.
Tangannya yang mencengkeram pinggulku kini bergerak lebih agresif. Dia kini menghadap ke arahku, Ia menekan pinggulku ke arahnya, membuat pinggulku merasakan tonjolan keras di celananya. Dia benar-benar sudah ngaceng.
Pelukan di pinggang itu terasa begitu memabukkan, sementara kedua tanganku masih brutal meremas payudaraku sendiri.
“Ahh… Pak… Aku… Aku mau…” rintihku, suaraku pecah, penuh gairah dan keputusasaan.
Pak Hasan mendesah keras. Tangannya yang mencengkeram pinggulku kini bergerak, tidak ke depan, melainkan ke belakang. Sentuhan itu terasa naik turun, mengelus lembut pinggangku yang besar, tepat di atas area bokongku, semuanya dari luar gamis abu-abuku yang licin ini.
“Mmmh... Gila, Ukhti Zahra. Gamis ini bagus banget, pas banget di tubuh ukhti” bisiknya serak, napasnya memburu di telingaku.
Ia berhenti mengelus. Tangan kanannya kini menekan sedikit ke area pantatku. Aku bisa merasakan pantatku yang besar dan padat tercetak jelas di balik kain licin gamis itu.
“Aku sudah lihat dari belakang Ukhti pas jalan tadi. Pantat Ukhti ini gede banget, ya? Kenceng, padat… Masya Allah, aku enggak nyangka, Ukhti Zahra yang alim ternyata punya body sebagus ini.”
Pujian vulgar itu menghantamku seperti gelombang. Pantat. Bagian tubuh yang selama ini kuanggap sebagai aib dan kusembunyikan, kini menjadi objek pujian liar. Aku merasa hina, tetapi di saat yang sama, dadaku membusung karena pengakuan itu.
“Mmmhh…” Aku hanya bisa mendesah, tidak mampu menanggapi, terlalu tenggelam dalam gairah.
“Ukhti Sayang,” bisik Pak Hasan, suaranya kini terdengar memohon, tetapi penuh perintah. “Aku mau. Aku pengen banget, Ukh.”
Aku menelan ludah. Aku tahu maksudnya.
“Bapak boleh pegang pantat Ukhti? Cuma sebentar aja kok.. ya? Aku janji. Aku pengen rasain seberapa padat pantat Ukhti yang cantik ini.”
Permintaan itu begitu telanjang. Rasa takut kembali menyergap, tetapi hasrat liar yang memuncak menuntut pelepasan. Aku terdiam. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku melengkung di kursi.
Jika ini bisa menuntaskan hasratku, jika ini bisa membuatku merasa didamba untuk malam ini...
Aku menarik tanganku dari payudaraku, meletakkannya di pangkuan. Sebuah isyarat penyerahan diri yang total.
Aku hanya mengangguk pelan, anggukan yang hampir tak terlihat, sebuah pengakuan yang membebaskan namun memalukan.
“I-iya, Pak…” bisikku, suaraku nyaris tak terdengar. terasa seperti penyerahan diri total. Aku membiarkan Pak Hasan mengendalikan permainan ini.
“Terima kasih, Ukhti,” bisik Pak Hasan, nadanya penuh kemenangan. “Biar lebih enak, Ukhti coba hadap sana, membelakangi Bapak, Biar lebih leluasa.”
Aku menurut. Dengan gerakan kaku, aku memutar tubuhku, membelakangi Pak Hasan, menghadap ke dinding belakang warung. Posisi ini, di pojokan gelap, membuatku semakin merasa tersembunyi, sekaligus semakin terekspos di hadapan Pak Hasan.
Deg!
Seketika, tangan Pak Hasan mendarat di pantatku. Tangannya yang kasar dan hangat, langsung terasa di balik kain licin gamis abu-abuku. Ia tidak meremas, hanya mengelus perlahan, gerakannya naik turun di atas pantatku yang besar dan padat.
“Ahh…” rintihku, desahan lirih itu lolos tanpa bisa kutahan.
Elusan itu begitu intim, begitu nyata, jauh lebih memuaskan daripada sentuhan tanganku sendiri atau gagang kuas tadi. Aku mencengkeram tepi kursi plastik itu erat-erat.
“Ahh… Bagus banget pantat Ukhti,” bisiknya, suaranya serak, penuh kekaguman. “Pinggul Ukhti juga ramping. Bagus banget tubuhnya kalo dilihat dari belakang gini..”
Ia menekan sedikit telapak tangannya.
“Mmmhh… Ahhh…” Desahanku semakin keras, suaraku parau.
“Iya, Ukhti. Apalagi gamis Ukhti juga lebih ketat dari biasanya, ya?” godanya, nadanya semakin berani. “Bapak jadi lebih jelas ngerasainnya.”
Pak Hasan terus mengelus pantatku. Sentuhan itu memicu gelombang panas ke seluruh tubuhku. Aku memejamkan mata, melengkungkan punggung, membiarkan hasrat liar itu memuncak. Vaginaku terasa banjir, celana dalamku terasa basah dan lengket.
Tiba-tiba, suara asing memecah keheningan.
“Pakk, nasi goreng!”
Aku terkesiap, seluruh tubuhku menegang. Jantungku serasa mau copot.
Pak Hasan juga kaget. Tangan di pantatku seketika terlepas.
Bersambungg...




