Keesokan harinya, aku bangun pagi hari. Setelah malam yang penuh gejolak dan kehancuran batin, aku memaksa diriku kembali pada rutinitas yang teratur, mencoba membangun kembali benteng kesucian yang hampir runtuh.
Seperti biasa, aku shalat Subuh. Suara lirihku melantunkan ayat-ayat suci, namun kali ini terasa berbeda. Di setiap rakaat, aku merasakan beratnya dosa yang kubawa. Aku berusaha keras agar ibadah ini bisa sedikit menghapus bayangan Pak Rahmat dan sentuhan Pak Hasan.
Selesai shalat, aku segera membersihkan rumah kontrakanku yang sederhana namun cukup bagus, berusaha mengalihkan pikiranku dari kehancuran semalam. Aku menyapu lantai, merapikan sofa di ruang tamu yang sunyi.
Lalu, aku menuju dapur untuk masak dengan bahan-bahan yang ada di kulkasku. Keseharianku memang sangat monoton dan teratur , dan aku sangat jarang keluar rumah. Aku berusaha keras untuk kembali ke rutinitas ini, berharap kesibukan ini bisa membungkam suara hasrat yang masih berbisik di dalam diriku.
Pukul sembilan pagi, setelah menyelesaikan semua rutinitas rumah yang dingin, aku duduk di depan meja rias. Aku telah membuka aplikasi Toktok, bukan sebagai penonton pasif, tetapi sebagai Ustadzah Zahra. Sebuah tripod kecil aku dirikan, memastikan hanya bagian atas tubuh dan wajah ber-cadarku yang tertangkap kamera, sesuai dengan niat awalku, menyebarkan kebaikan, mengumpulkan pengakuan yang murni, dan secara licik membungkam suara hasrat yang masih mendengung setelah perbuatan cabul semalam.
Aku menarik napas panjang. Jemariku yang halus, tertutup kain gamis longgar, menekan tombol LIVE.
"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapaku dengan suara yang kuusahakan selembut dan setenang mungkin, meskipun jantungku berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang kurasakan, antara ketakutan dilihat dan harapan untuk benar-benar dilihat.
Topik pertamaku kubuat se aman mungkin: "Menjaga Izzah dan Iffah: Etika Berpakaian dalam Timbangan Syariat." Ironi yang menusuk. Aku membahas keutamaan jilbab dan cadar, keharusan menjaga pandangan, dan pentingnya pakaian longgar agar tidak menampakkan lekuk tubuh, sementara aku teringat betapa lekukan tubuhku sendirilah yang hampir menjerumuskanku pada perbuatan nista di warung nasi goreng dan pos satpam.
Penonton yang masuk hanya sedikit. Sepuluh, kemudian lima belas, lalu turun lagi menjadi dua belas. Komentar yang muncul adalah:
Barakallah, Ukhti.
Jazakillah khair.
Semoga istiqomah.
Semua komentar itu sopan, alim, dan penuh hormat. Itu adalah pengakuan yang seharusnya aku cari. Namun, di sudut hatiku yang paling gelap, aku diam-diam kecewa. Tidak ada satu pun komentar yang liar, tidak ada pujian cabul, tidak ada yang berani memintaku melakukan gerakan sensual, apalagi mengirim Singa atau Paus seperti yang Akun Bims lakukan pada Ukhti nakal itu.
"Ini murni dan berkah," bisik akal sehatku, berusaha menenangkan. "Ini membosankan sekali," sahut suara hasratku yang licik. "Mereka melihatmu sebagai patung suci, bukan wanita yang didamba."
Akhirnya, dengan alasan keterbatasan waktu, aku mengakhiri siaran langsung itu hanya setelah lima belas menit.
“Baik, karena keterbatasan waktu, kita sudahi dulu kajian hari ini. Semoga Allah memberkahi ilmu yang kita dapatkan. Wallahu a’lam bishshawab. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Aku menutup aplikasi. Ruangan kembali sunyi. Tidak ada gejolak hasrat liar, juga tidak ada euforia kemenangan. Itu hanya rutinitas baru. aku hanya merasa... tenang.
“Aku akan menjadi Ustadzah,” bisikku pada diriku sendiri. Sebuah komitmen yang terasa seperti pelarian.
Di sisi lain Aku merasa hampa. Usahaku kembali ke jalan yang benar terasa seperti kegagalan, karena niatku ternyata tidak seputih yang kuira. Aku kembali ke rutinitas rumah, mencuci piring, menyiram tanaman hias di teras, berusaha keras menyibukkan diri agar tidak lagi teringat bayangan penis Pak Rahmat dan sentuhan Pak Hasan.
Sore menjelang, udara di kompleks perumahan elit terasa hangat dan berdebu. Aku memutuskan untuk menyapu halaman depan, memastikan tidak ada daun kering yang mengotori teras rumah kontrakanku yang tampak asri.
Dengan sapu lidi di tangan, aku berdiri di balik pagar rumah, tetap mengenakan gamis dan cadar, bergerak perlahan. Aku adalah pemandangan yang biasa di sana: Ukhti Syar'i yang selalu tampak tenang dan khusyuk. Beberapa warga yang lewat menyapaku, dan aku membalasnya dengan anggukan sopan.
"Assalamualaikum, Ukhti Zahra, Apa kabar.." sapa Bu Ratih, tetangga di seberang jalan. "Waalaikumussalam, Bu. Alhamdulillah, sehat," jawabku singkat.
Sensasi pengakuan yang aku dapatkan saat ini adalah pengakuan hormat. Mereka memuji kesucianku. Namun, di dalam hati, aku merindukan pengakuan yang berbeda, pengakuan yang liar pengakuan yang kudapatkan dari mata Pak Hasan dan Pak Rahmat.
Tiba-tiba, suara mesin sepeda motor memecah ketenangan. Aku mengangkat kepala, dan jantungku langsung berdegup. Sepeda motor sport berwarna gelap melaju perlahan, kemudian berhenti tepat di depan pagar rumahku.
Itu Pak Bayu.
Dia adalah ayah dari murid mengajiku. Pria mapan, tampan, dan sopan. Pria yang, beberapa waktu lalu, secara tidak sengaja telah menyalakan api hasratku hanya dengan memperlihatkan urat-urat lengannya yang tegang.
Pak Bayu mematikan mesin motornya. Senyumnya ramah, sempurna, tanpa celah, berbeda jauh dengan seringai cabul Pak Hasan atau Pak Rahmat.
“Assalamualaikum, Ukhti Zahra,” sapanya, suaranya yang dalam namun ramah itu kembali memicu sedikit debaran aneh di dada Zahra.
“Wa’alaikumsalam, Pak Bayu. Baru pulang kerja, Pak?” tanya Zahra, berusaha mengendalikan suaranya agar tetap lembut.
"Iya, Ukhti. Baru saja. Kebetulan lewat sini, mumpung Ukhti ada di depan, saya mau tanya sedikit tentang perkembangan Aisyah," ujar Pak Bayu, matanya yang teduh menatapku dengan tulus. Pria ini memang selalu menjaga jarak, selalu bersikap sopan, dan tidak pernah sedikit pun menunjukkan nada genit. "Gimana, Ukh? Sejak diajar Ukhti, Aisyah jadi semakin rajin shalat sekarang."
Aku menjelaskan dengan sabar, seperti biasa, fokus pada kebaikan muridku, berusaha menenangkan diriku sendiri.
"Alhamdulillah, Pak. Aisyah anak yang cerdas dan penurut. Sedikit demi sedikit sudah mulai hafal surat-surat pendek. Tinggal ditingkatkan lagi istiqomahnya," jelasku, membalas senyumnya dari balik cadar.
"Masya Allah, terima kasih banyak, Ukhti. Saya bersyukur sekali anak saya bisa diajar oleh Ukhti," puji Pak Bayu, senyumnya semakin tulus.
Pujian itu kembali terasa menenangkan. Pujian yang murni, yang seharusnya aku hargai. Namun, kali ini, pandanganku tidak bisa lepas dari pemandangan di depanku. Pak Bayu berdiri dengan tangan bertumpu pada jok motor, membuat lengan kemejanya tertarik ke atas, dan sekali lagi, urat-urat kekar di lengan bawahnya terlihat begitu jelas dan nyata.
Deg.
Pemandangan itu begitu nyata, begitu maskulin, begitu hidup , membangkitkan kembali memori sentuhan, erangan, dan hasrat liar dari semalam, dari Pak Hasan dan Pak Rahmat. Tatapanku terpaku, menelusuri setiap lekuk otot yang menonjol di kulitnya yang bersih. Pria ini, yang begitu tulus dan menjaga kehormatannya , kini tanpa sadar menjadi pemicu nyata bagi nafsu yang ku kira sudah ku kubur dengan shalat Taubat.
Pak Bayu sepertinya menyadari tatapanku yang berbeda. Ia menoleh ke lengannya, lalu kembali menatapku, sedikit bingung.
"Ukhti Zahra… Kenapa? Ada kotoran di lengan saya, ya?" tanyanya, suaranya sedikit khawatir, tetapi tatapannya masih penuh kesopanan.
Aku tersentak. Wajahku terasa panas di balik cadar. Aku buru-buru menunduk, mencengkeram erat gagang sapu di tanganku.
"Emm, tidak, Pak," jawabku, suaraku sedikit bergetar, berusaha menenangkan detak jantungku yang kembali memburu. "Hanya… saya lihat jam di motor Bapak. Maaf, Pak. Sudah sore, Bapak harus segera pulang dan istirahat," aku berbohong, berusaha mengalihkan perhatian, padahal aku ingin beristighfar dalam hati untuk mengusir iblis yang baru saja terbangun karena otot di lengannya.
Pak Bayu tersenyum lembut. "Oh, iya, Ukhti. Kalau begitu, saya pamit dulu. Ukhti juga jangan lupa istirahat ya. Assalamu’alaikum."
"Wa’alaikumsalam, Pak," jawabku, suaraku lirih.
Aku berdiri kaku di depan gerbang, menatap punggung Pak Bayu yang kokoh hingga motornya menghilang di tikungan. Punggung yang seharusnya kulihat sebagai ayah dari muridku, kini kulihat sebagai objek hasrat liar yang sempurna. Pria santun yang dihormati ini, justru jauh lebih mematikan bagi kehormatanku daripada rayuan pak Rahmat. Padahal Pak Bayu sudah punya istri dirumah, tapi entah kenapa aura nya sangat membuatku ingin dekat dengan nya dan menggodanya.
Rasa malu yang begitu besar kembali menghantam. Nafsu itu tidak mati, ia hanya tertidur. Dan Pak Bayu, dengan kesucian dan ketulusannya, adalah racun yang paling mematikan bagiku.
Aku menutup pintu rumah rapat-rapat, bersandar di baliknya, dan memejamkan mata. Napasku memburu, jantungku berdebar tak karuan. Bau maskulin dari aftershave Pak Bayu seolah masih tertinggal di udara.
"Aku tidak bisa jadi Ustadzah yang mengisi kajian online," bisikku, suaraku parau, penuh keputusasaan. Rencana membuat kajian di Toktok terasa begitu hampa.
"Aku... ingin dia."
Rencana suci yang kubuat semalam kini terasa konyol. Aku mencoba kembali ke jalan yang benar, tetapi Pak Bayu, dengan ketulusan dan ketampanannya yang tersembunyi di balik kesopanan, menarikku kembali ke jurang hasrat.
Aku berjalan terhuyung ke kamar, langsung menuju cermin. Aku menatap pantulan diriku. Di balik gamis longgar ini, aku tahu aku menarik. Payudaraku besar, pinggulku bagus, dan kulitku putih mulus. Inilah yang membuat Pak Rahmat ngaceng. Inilah yang membuat Pak Hasan menyingkap jilbabku. Dan inilah yang, secara tak langsung, membuatku menginginkan sentuhan nyata dari seorang pria.
Aku mencengkeram payudaraku sendiri dari luar gamis. Sensasi itu, yang baru kutemukan semalam bersama Pak Hasan, langsung menjalar. Hangat. Terlarang. Enak.
Aku tidak butuh pujian vulgar dari live streaming lagi. Aku tidak butuh gift Paus dari Bims. Aku butuh pengakuan yang nyata, dari pria yang nyata, yang kuinginkan. Dan pria itu adalah Pak Bayu.
Dia melihatku sebagai guru ngaji , sebagai teladan bagi anaknya. Dia menghormatiku , tapi tidak pernah mendambaku.
Aku harus membuat Pak Bayu mendambaku.
Aku menjatuhkan diri di kasur, mengambil ponsel. Aku tidak membuka Toktok untuk mencari kajian agama, tetapi mencari akun Ukhti liar itu lagi. Aku perlu tontonan itu, aku butuh cara untuk membenarkan kegilaanku, dan aku butuh inspirasi.
Aku memutar ulang rekaman live streaming Ukhti bercadar itu. Dia sedang menggoyangkan pinggulnya dengan sensual di balik gamis ketat.
Gamis ketat.
Kata-kata itu berputar di kepalaku. Gamisku yang sekarang terlalu longgar. Aku harus mengubah citraku, sedikit. Aku tidak bisa sepenuhnya melepas Syar'i-ku, tetapi aku bisa sedikit menggoda.
Aku bangkit, berjalan ke lemari pakaian. Di sana tergantung rapi koleksi gamis longgar dan jilbab lebar yang kubeli di toko-toko Muslimah terkemuka. Semuanya sempurna, semuanya menutupi.
Mataku tertuju pada sebuah gamis yang baru kubeli beberapa minggu lalu, warnanya abu-abu gelap. Saat kucoba di rumah, gamis itu terasa sedikit lebih... mencetak tubuhku daripada yang lain. Bahannya licin, sedikit lentur, dan potongan di bagian dada dan pinggul terasa lebih pas. Meskipun masih jauh dari ketatnya Ukhti di Toktok, gamis ini bisa menjadi langkah pertama.
Aku segera mengganti pakaianku. Gamis abu-abu itu terasa berbeda di kulitku. Ketika aku berjalan, kain itu berayun dan mencetak siluet payudaraku yang besar dan pinggulku yang bagus. Itu tidak vulgar, tetapi sangat... mengundang.
Aku berjalan ke cermin. Aku memutar tubuhku. Ya. Siluetnya terlihat jelas. Payudaraku menonjol, dan pinggulku tercetak. Ini adalah Ukhti Syar'i yang Berani. Ini adalah cara untuk mendapatkan pengakuan liar yang kucari, tanpa sepenuhnya melepas cadar dan jilbab. Aku ingin menjadi Ukhti yang yang diidam-idamkan para lelaki.
Aku mengambil cadarku. Besok, aku ada jadwal mengajar mengaji di TPQ di sekitar komplek rumah kontrakan. Pak Bayu pasti akan datang menjemput Aisyah.
Ini adalah kesempatanku.
Aku akan mengenakan gamis ini. Aku akan berjalan dengan percaya diri. Aku akan memastikan Pak Bayu melihatku, tidak hanya sebagai guru ngaji yang alim, tetapi sebagai wanita yang menarik, yang diidamkan, yang harus ia gapai. Tembok yang kubangun sendiri harus kuberi celah.
Aku memejamkan mata. Bayangan lengan kekar Pak Bayu kembali terlintas. Aku tersenyum. Senyum yang penuh rahasia, senyum yang tidak pernah ditunjukkan oleh Ukhti Zahra si guru ngaji.
"Besok, Pak Bayu," bisikku pada diriku sendiri. "Aku akan tunjukkan padamu."
Aku harus bersiap untuk penampilan pertamaku sebagai Ukhti Zahra yang Menggoda.
Bersambungg...
