Aku hanya bisa mengangguk pelan, anggukan yang hampir tak terlihat, sebuah pengakuan yang memalukan namun membebaskan.
Namun, akal sehatku yang tersisa segera berteriak. Aku segera menggelengkan kepalaku kuat-kuat.
"Engg... enggak, Pak," ucapku, suaraku nyaris tak terdengar, berusaha menarik kembali pengakuan yang baru saja terlepas.
Pak Rahmat tersenyum. Senyumnya penuh pengertian, ia seperti tahu aku berbohong. Ia tahu, penolakanku hanyalah formalitas. Ia merespons dengan suara yang lebih serak dan dominan.
"Aku udah ngaceng banget nih, Ukhti..." bisiknya, menekan kata-kata itu. "Aku boleh gak nuntasin di sini sambil lihat Ukhti?"
"Nuntasin gimana, Pak?" tanyaku, suaraku sangat pelan. Meskipun aku tahu maksudnya, ada bagian diriku yang ingin memastikan, ingin mendengar pengakuan vulgar itu sekali lagi.
"Aku pengen coli sambil lihat Ukhti," jawabnya, tanpa basa-basi, suaranya mengandung gairah yang tebal.
"Gak mau, Pak. Aku malu," ujarku, rasa malu yang memuncak beradu dengan hasrat yang mendominasi.
"Ukhti cuma diam aja, kok. Gak perlu ngapa-ngapain," rayunya, nadanya membujuk, seolah meyakinkanku bahwa aku tetap suci meskipun menjadi saksi bisu perbuatan cabulnya.
Aku bingung harus mau apa tidak. Tubuhku berkata iya, tetapi otakku berteriak jangan. Aku hanya bisa diam terpaku, terjebak dalam pusaran antara gairah dan etika.
Tiba-tiba, Pak Rahmat bergerak. Ia berdiri. Aku mendengarnya menarik napas dalam-dalam. Aku bisa mendengar suara gesekan kain yang kasar. Ia membuka resleting celananya dan kemudian menurunkan celananya.
Deg!
Aku tersentak hebat, seluruh tubuhku menegang. Aku segera memalingkan badanku menghadap meja. Aku tak lagi menghadap ke Pak Rahmat yang ada di sampingku. Aku memunggungi dirinya.
Wajahku kututupi dengan tanganku dan kutundukkan ke meja, agar aku tidak melihat kegiatan Pak Rahmat yang cabul itu. Aku memejamkan mata erat-erat.
Dalam kepanikanku, aku tidak menyadari bahwa perbuatanku itu justru menarik kain gamisku. Tubuhku yang menunduk membuat gamisku tertarik ke atas, sehingga terlihat siluet lekuk tubuhku di kain gamisku, terlihat sangat jelas dari samping arah Pak Rahmat. Dan payudaraku yang besar juga tertekan oleh pojokan meja itu, membuat siluetnya terlihat jelas dari angle Pak Rahmat.
Tiba-tiba, Pak Rahmat mendesah, desahan yang berat dan tertahan.
"Ahhh... Ukhti Zahra..."
Aku merinding hebat. Aku tahu penisnya pasti sudah dia keluarkan. Suara desahan itu, yang memanggil namaku, terasa begitu nyata dan liar. Aku tidak berani melihat,
Sensasi ditonton oleh pria yang sedang melakukan perbuatan cabul, apalagi dia terangsang karena tubuhku, terasa begitu mematikan. Rasa malu dan hasrat itu kembali beradu, menciptakan sensasi yang tak tertahankan.
"Ahhh... Ukhti Zahra... Gila! Ukhti seksi banget kalau malu-malu begini," erang Pak Rahmat, suaranya serak dan memburu, terdengar sangat dekat di belakangku.
"Nenen Ukhti bikin aku makin gak tahan, Ukh! Gede, padat banget! Aku yakin, payudara Ukhti enak banget kalo dipegang Ahhh..!"
Pujian vulgar itu membuat seluruh tubuhku gemetar hebat. Payudaraku terasa berdenyut, seolah merespons erangan Rahmat. Rasa takutku perlahan mulai dikuasai oleh gairah aneh. Aku mencengkeram kepalaku dengan kedua tangan, berusaha keras untuk tidak melihat.
"Ahhh... Enak banget, Ukhti. Aku gak nyangka, di balik Ukhti yang alim ini, ada tubuh seksi begini," desahnya lagi. Aku masih gak nyadar bahwa dia bisa melihat siluet lekuk tubuhku yang nyeplak akibat gamisku ketarik karena tanganku keatas kepalaku untuk menutupi mata.
kini suaranya terdengar lebih kencang, disertai suara erangan yang lebih menjijikkan. "Bayangin, Ukh... Aku pengen banget ngentot Ukhti Zahra! Aku pengen rasain ketatnya Memek perawan Ukhti! Aku pengen Ukhti teriak di bawahku, bukannya malu-malu begini!"
Napas Rahmat terasa panas di telingaku. Kata-kata kotornya, yang selama ini hanya kutemukan di kolom komentar Toktok , kini menjadi kenyataan diucapkan di sampingku. Dan objeknya adalah aku sendiri , Aku merasa dihina, dicabuli, tetapi di saat yang sama, pengakuan vulgar itu begitu memuaskan hasrat liarku yang ingin diakui oleh lelaki.
"Ukhti," bisiknya, suaranya kembali serak, kini terdengar lebih tenang namun penuh perintah. "Buka mata Ukhti, dong. Lihat ini. Bapak pengen Ukhti lihat, seberapa besar tubuh Ukhti bikin Kontolku ngaceng. Aku mau Ukhti lihat sendiri, Ukhti cantik, Ukhti seksi, Ahhh..."
"Enggak, Pak. Aku gak mau," ucapku, suaraku parau, penuh penolakan yang rapuh. Aku ingin, tapi aku takut. Aku takut kehancuranku menjadi semakin nyata jika aku melihatnya.
"Gak usah takut Ukhti," katanya lembut, namun tangannya bergerak tiba-tiba. Tangan kasarnya meraih pergelangan tanganku yang menutupi kepalaku, menariknya perlahan. "Cuma sebentar. Aku cuma mau Ukhti tahu, aku gak bohong soal hasratku sama Ukhti."
Aku menolak, mencengkeram kepalaku lebih kuat. Tapi hasrat liar yang menggelegak, rasa ingin tahu yang tak tertahankan, dan kelelahan mental setelah seharian penuh gairah terlarang, membuat pertahananku runtuh.
Tangan kiriku yang memegang kepala perlahan terbuka sedikit. Aku menundukkan kepala lebih dalam ke meja, dan dari balik celah sempit di antara lenganku dan meja, aku mengintip ke arah Pak Rahmat.
Jantungku serasa berhenti berdetak.
Di hadapanku, di dalam pos security yang remang-remang itu, penis Rahmat yang tegang dan membesar berdiri tegak. Aku hanya bisa melihatnya sekilas, di antara bayangan celananya yang melorot sampai lutut. Itu adalah pemandangan paling cabul yang pernah kulihat, jauh lebih nyata dan mematikan daripada gambar atau video di ponselku.
ku perhatikan lagi penisnya yang sedang tegang sempurna, berurat, dan terlihat besar, sebuah pemandangan yang sangat nyata, sangat vulgar, dan sangat mengancam. Itu adalah pemandangan paling cabul yang pernah dilihat oleh mata Ukhti Zahra si guru ngaji.
Rahmat menyeringai. "Gimana, Ukhti? Gede, kan?" tanyanya, suaranya penuh kemenangan.
Aku tersentak, seluruh tubuhku menegang. Aku segera menutup mata lagi dan buru-buru menundukkan kepala, membiarkan tubuhku membeku dalam posisi memalukan itu. Aku telah melihatnya. Aku telah melewati batas terakhir.
Aku menarik tanganku kembali, tubuhku kaku. Aku telah melihatnya . Aku telah melewati batas terakhirku, dan kehinaan itu terasa nyata dan panas. Aku segera melompat berdiri, menarik bungkusan nasi gorengku , dan berlari tanpa menoleh. Aku bahkan tidak tahu apakah Rahmat sudah merapikan diri atau belum. Yang kupikirkan hanyalah melarikan diri dari apa yang baru saja ku lihat.
Langkah kakiku tergesa-gesa menyusuri jalanan kompleks yang sepi.
Sesampainya di kontrakan, aku membanting pintu. Bungkusan nasi gorengku terlepas dari tangan, tergeletak begitu saja di lantai. Aku tidak peduli. Aku langsung berlari ke kamar mandi.
Aku kotor. Kata-kata itu berputar di kepalaku.
Aku membuka cadarku, melempar jilbab lebarku, dan langsung berdiri di bawah pancuran. Air dingin menghantam tubuhku, namun tidak mampu memadamkan api rasa malu dan jijik yang membakar di dalam. Aku menyabuni tubuhku berkali-kali, menggosok kulitku hingga memerah, seolah ingin menghilangkan setiap jejak kata-kata kotor Rahmat, setiap desahan cabulnya, dan setiap pandangan matanya yang menelanjangiku.
Setelah mandi, aku berwudhu dan menggelar sajadah. Aku menunaikan shalat Taubat, sebuah ritual penyucian yang penuh keputusasaan. Aku bersujud lama, air mataku membanjiri sajadah.
"Ya Allah... aku kotor... aku berdosa besar..." bisikku, rintihanku pecah. Aku memohon ampun atas hasrat liar yang telah menghancurkan prinsip yang kupegang teguh menjaga kesucian hingga pernikahan.
Namun, di tengah ratapan itu, muncul suara kecil yang licik. Suara yang mengatakan, "Bukankah kau menyukainya?"
Aku menyelesaikan shalat dan berganti dengan baju tidurku, jiwaku terasa sedikit lebih nyaman. Aku berjalan ke cermin di kamarku. Aku menatap pantulan diriku, Hidung mancung, kulit putih mulus, dan payudara besar yang kini terlihat begitu penuh dan berdenyut di balik kaus tidurku.
Dulu, aku melihatnya sebagai anugerah yang harus dijaga rapat, hadiah untuk suamiku kelak. Sekarang, aku melihatnya sebagai kutukan, di umurku yang sudah 24 tahun justru nafsuku semakin menggebu gebu dan badanku sangat mendukung untuk di nakalin para lelaki jika mereka melihatnya tanpa gamis lebarku.
"Ini... ini yang mereka inginkan," bisikku, mencengkeram payudaraku sendiri, teringat sentuhan Pak Hasan dan erangan Pak Rahmat. "Ini yang membuat mereka berani."
Kebencian pada diri sendiri perlahan berubah menjadi pemikiran yang sakit. Jika tubuh ini adalah sumber dosa, kenapa aku tidak menggunakan dosa itu untuk membalaskan dendam atas kehinaan yang kualami? Aku membutuhkan kendali. Aku butuh pengakuan liar yang bukan datang dari hasrat tersembunyi, melainkan dari kekuasaan yang terang-terangan.
Aku merebahkan diri di kasur. Kuambil handphone-ku. Aku melihat video-video kajian. Aku membuka aplikasi Toktok dan beralih dari konten Ukhti liar.
Di layar, aku melihat seorang Ustadzah muda, berpenampilan rapi dengan jilbab yang menutup dada, sedang memberikan ceramah singkat. Ustadzah itu berbicara dengan suara yang lembut namun tegas, menjelaskan pentingnya menjaga hati dari bisikan setan. Ia mengutip ayat Al-Qur'an dan Hadits dengan fasih. Kolom komentar dipenuhi pujian dan ucapan terima kasih dari para penonton yang mengagumi ilmunya.
Aku sangat kagum dengan penceramahnya. Aku berpikir, ilmu agamaku juga cukup untuk memberikan kajian-kajian seperti ini. Aku juga sudah terbiasa mengajar mengaji di TPQ dan di rumah kontrakanku. Aku juga punya keinginan untuk dihormati, dikagumi, dan dilihat sebagai wanita yang alim dan pendiam.
Aku jadi ingin membuat kajian di Toktok. Sebuah ide lain muncul, ide yang terasa sangat suci. Jika aku bisa mendapatkan perhatian melalui ceramah agama, maka pengakuan itu akan terasa lebih murni dan menenangkan jiwaku yang hancur.
Besok aku berencana membuat kajian di Toktok. Aku akan memulai dengan topik ringan, mungkin tentang etika berpakaian atau keutamaan menjaga pandangan.
Keputusan itu, meskipun terlalu dini, tapi terasa menenangkan. Aku memejamkan mata, membiarkan rencana mulia itu mengusir bayangan cabul Pak Rahmat dan Pak Hasan. Aku akan kembali ke jalan yang benar. Aku akan menjadi Ukhti Syar'i yang sempurna yang tidak hanya dihormati di komplek, tetapi diakui secara luas di media sosial. Aku akan menjadi Ustadzah, tetapi aku juga tidak akan melupakan sensasi damba dari para lelaki.
Kemudian aku tidur.
Bersambungg...
