๐‰๐ž๐ซ๐ข๐ญ๐š๐ง ๐‡๐š๐ฌ๐ซ๐š๐ญ ๐”๐ค๐ก๐ญ๐ข ๐™๐š๐ก๐ซ๐š ๐๐€๐ ๐Ÿ“ ๐‰๐š๐๐ข ๐๐š๐ก๐š๐ง ๐‚๐จ๐ฅ๐ข ๐ƒ๐ข ๐ƒ๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐๐จ๐ฌ ๐’๐ž๐œ๐ฎ๐ซ๐ข๐ญ๐ฒ

Matanya menatap lekat payudaraku yang terekspos di bawah cahaya remang. Tangan kirinya yang tadinya memegang ujung jilbabku kini bergerak, dengan lembut namun tegas, menyampirkan jilbab lebarku ke pundakku. Kain itu kini hanya menutupi sebagian kecil dadaku dan kepalaku, sementara tangan kananku yang masih meremas payudaraku terlihat semakin jelas dibalik gamisku. Aku kini terasa setengah terbuka di hadapannya.

"Nah, begitu, Ukhti Zahra," bisiknya, suaranya serak dan penuh kekaguman. "Jangan disembunyikan. Pemandangan ini terlalu indah untuk ditutup. Payudara Ukhti ini adalah anugerah yang harus dilihat lelaki, jangan disembunyikan dibalik jilbab lebar kamu."

Tangannya, yang tadi sempat berhenti, kini kembali bergerak. Ia mengelus lembut pahaku, gerakannya naik turun di atas gamis.

"Sekarang, Sayang," lanjutnya, suaranya kini semakin memabukkan. "Lanjutkan yang tadi. Aku suka melihat tangan Ukhti meremas payudara sendiri. Lakukan lagi, ya? Biar Pak Hasan tahu, Ukhti benar-benar suka kegiatan ini."

Aku menelan ludah, tubuhku gemetar. Aku tahu, penolakan hanyalah formalitas. Ia telah meruntuhkan semua tembokku, dan ia tahu aku menginginkan ini. Aku menatap matanya, yang kini memancarkan gairah yang membara.

Aku mengangguk pelan, sebuah penyerahan diri yang tak terhindarkan. Aku kembali memejamkan mata, dan mencengkeram payudaraku lebih kuat.

"Ahh… Mmmhh… Pak… Ahh!" rintihku, desahan itu kini keluar dengan lebih bebas, tak lagi tertahan. Aku meliukkan tubuhku di kursi, mengikuti setiap tekanan yang kuberikan pada diriku sendiri.

Pak Hasan merespons setiap rintihanku. Tangan kirinya yang mengelus pahaku kini bergerak lebih dalam, tangan nya terasa semakin mendekati pangkal pahaku, di mana celana dalamku terasa semakin basah.

"Gila, Ukhti Zahra…!" erangnya, suaranya berat. "Terus, Sayang, remas lebih kencang! Aku mau lihat Ukhti keenakan sampai lupa diri. Aku janji, aku akan jaga rahasia ini. Aku akan jadi pelindung liarmu."

Aku memaju-mundurkan pinggulku sedikit, merespons sentuhan di paha dan payudaraku. "Ahh… Pak… enak banget… terus! Lebih cepat, Pak! Ahh!" Aku memohon, suara lirihku kini dipenuhi hasrat yang menggebu-gebu.

Pak Hasan Tangannya yang mengelus pahaku kini bergerak lebih agresif. Kali ini, Tangannya yang mengelus pahaku, sentuhannya semakin naik ke arah mendekati vaginaku dari luar gamis. Tangannya terasa hangat dan kasar, terasa begitu menelanjangi, membuatku menjerit tertahan.

"Aahh! Pak! Jangan!" rintihku, sebuah rintihan yang terdengar putus asa.

"Aku cuma mau lihat seberapa basah memek Ukhti," bisiknya serak, penuh kemenangan. Ia tahu aku sudah di ambang batas.

Aku hanya bisa mendesah, tak bisa lagi berkata-kata. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku melengkung, sepenuhnya menyerah pada kendali Pak Hasan. Di balik cadar, Ukhti Zahra si guru ngaji kini berubah menjadi wanita liar yang haus sentuhan.

Tiba-tiba, jari kasarnya menyentuh tepat di depan vaginaku dari luar gamis. Sentuhan yang tidak terduga itu membuatku tersentak kaget hebat. Tubuhku melompat sedikit dari kursi. Aku membuka mata, panik.

Saat itulah, pandanganku jatuh pada layar HP-ku yang tergeletak miring di kursi. Layarnya mati.

Sial! Rekamannya sudah selesai!

Seketika, otakku kembali normal. Rasa malu, rasa bersalah, dan akal sehatku menghantamku seperti ombak besar. Apa yang baru saja kulakukan? Aku baru saja berbuat zina di tempat umum, di hadapan seorang Pak Hasan! Diriku yang selama ini kujaga, hampir saja hancur karena nafsu sesaat.

Aku segera menarik tanganku yang masih tersembunyi di balik gamis dan menarik kakiku yang tadinya sedikit mengangkang. Aku melompat berdiri dari kursi plastik itu, merapikan gamisku dan jilbab lebarku dengan gerakan panik.

"Pak," ucapku, suaraku kembali kaku dan formal, penuh ketegasan yang dibuat-buat. "Berapa nasi gorengnya? Saya mau bayar."

Pak Hasan, yang terkejut karena aksiku terhenti mendadak, menatapku dengan mata penuh kekecewaan. Ia bangkit perlahan, wajahnya terlihat frustrasi karena kehilang an kendali atas diriku.

"Ehh… Rp15.000, Ukhti," jawabnya serak, melirik ke bungkusan nasi goreng di meja yang masih utuh.

Aku segera mengeluarkan uang Rp20.000 dari dompet, meletakkannya di meja tanpa menunggu kembalian. Aku berbalik, siap untuk pergi membawa nasiku.

"Ukhti Zahra!" panggilnya, suaranya kini terdengar memohon, bukan lagi memerintah.

Aku berhenti, membelakanginya.

"Kalau Ukhti butuh pelampiasan lagi, kalau Ukhti butuh teman bicara, ke sini saja, ya," ucapnya, nadanya penuh arti. "Aku janji, aku akan buat Ukhti Zahra nyaman dan puas. hehe."

Aku merasakan panas menyelimuti wajahku. Aku tahu maksudnya. Dia menawarkan diri sebagai pelampiasan bagi hasrat liarku. Aku malu luar biasa. Aku tidak menjawab sepatah kata pun aku merasa kotor.

Aku hanya mengangguk kaku, lalu meninggalkan Pak Hasan dan warung nasi goreng itu dengan langkah tergesa, menjauh dari tempat yang hampir menjadi saksi bisu kehancuranku.

Aku berjalan dengan membawa bungkusan nasi gorengku menuju rumahku. Jantungku masih berdebar kencang. Meskipun akal sehatku sudah kembali, aku masih bisa merasakan sisa-sisa gairah liar yang baru saja kurasakan di warung Pak Hasan. Aku merasa kotor, sangat malu, tapi di dalam hati, sisa gairah dari remasan dan sentuhan Pak Hasan masih terasa begitu nyata. Aku berusaha berjalan cepat, menundukkan pandangan, dan menggumamkan istighfar berulang kali.

Aku harus melewati pos Satpam. Terlihat bapak security yang tadi masih di sana, kini berdiri di depan pos, merokok, matanya mengawasi gerbang yang sepi.

Aku melangkah menunduk, berusaha melewatinya dengan cepat, menggumamkan istighfar untuk menenangkan jantungku yang masih berdebar kencang. Meskipun akal sehatku sudah kembali, sisa-sisa gairah liar dari warung Pak Hasan masih terasa memabukkan.

Tiba-tiba, suara serak dan familiar itu menyapa, memecah kesunyian malam.

“Sudah selesai beli makannya, Ukhti?”

Aku mengangkat kepala sedikit, memaksakan senyum yang pasti terasa kaku di balik cadar. “Sudah, Pak. Ini pulang,” jawabku singkat.

Pria itu membuang puntung rokoknya ke tanah, lalu berjalan mendekat, langkahnya pelan, penuh arti, persis seperti saat ia menggodaku tadi. Aku merasakan tatapannya menyapu tubuhku, dari kepala hingga bungkusan nasi goreng di tanganku.

“Buruk-buru amat, Ukhti,” godanya, nadanya lebih rendah dari yang kuingat. “Temenin Bapak di sini dulu, dong. Biar gak kesepian, hehe.”

Aku merasa gamisku kembali terasa ketat dan terbuka di bawah sorot matanya. Rasa malu bercampur dengan sensasi terlarang yang mulai menjalar lagi. Ini adalah tatapan yang kuinginkan, tatapan yang melihatku bukan hanya sebagai guru ngaji yang alim, tetapi sebagai wanita yang menarik yang ingin dia dapatkan.

“Emang mau ditemenin ngapain, Pak?” tanyaku, suaraku sedikit bergetar, sebuah pertanyaan yang lebih bersifat ajakan daripada penolakan.

Pria itu tertawa pelan, tawa yang terdengar serak dan menggoda. “Temenin tidur, Ukh. Hehe. Becanda, Ukhti. Jangan diambil hati.”

Aku menelan ludah. Jantungku berdebar semakin kencang. Ia tidak tahu, godaan itu begitu dekat dengan batas yang baru saja kulewati bersama Pak Hasan. Aku tahu, gairah liarku yang dipicu oleh Sentuhan Pak Hasan barusan belum sepenuhnya padam. Nafsu itu masih menuntut pelampiasan.

Aku terdiam. Aku deg-degan. Aku memikirkan, tidak ada salahnya aku menemani ngobrol dengan Pak Security di sini. Aku tidak butuh uang, tetapi aku butuh pengakuan atas kepintaranku. Aku butuh sensasi di inginkan para lekaki. Dan tatapan Pak Security ini adalah pengakuan yang liar, tatapan ini yang aku inginkan.

"Yaudah, Pak. Aku temenin sebentar, ya..." ucapku, sebuah keberanian kedua dalam satu malam. Aku melangkah mendekat, berdiri di samping pos, di bawah lampu remang yang sama tempat ia menggodaku tadi.

"Yaudah, ukhti, kita ngobrol di dalam pos, yuk." katanya, suaranya terdengar lembut, namun terasa mendesak.

"Emm... di luar aja deh, Pak. Gak enak kalau di dalam. Nanti jadi fitnah," jawabku, naluri Akal Sehatku masih berusaha melawan, meskipun hasratku sudah bergolak tak karuan.

"Di luar dingin, Ukhti. Enak di dalam," balasnya, nada suaranya semakin meyakinkan.

Dengan polosnya, aku mengiyakan. Tubuhku seolah tak lagi berada di bawah Kendaliku.

Kemudian, aku ikut ke dalam bersama Pak Security. Aku menaruh bungkusan nasi gorengku di meja. Pos security itu kecil dan remang-remang, hanya diterangi oleh lampu neon yang berkedip pelan. Ruangan itu terasa sempit, dan jarak kami pun sangat dekat, menciptakan ketegangan yang membuatku semakin berdebar.


"Omong-omong, nama Bapak siapa, ya?" tanyaku, mencoba mengalihkan fokus dari jarak kami yang intim.

"Namaku Rahmat, Ukhti," jawabnya, ia tersenyum, senyum yang menunjukkan kemenangan.

Rahmat. Nama yang terdengar religius, kontras dengan tatapan liarnya yang baru saja kulihat. Aku kini berhadapan dengan Pak Rahmat, seorang pria yang tadi berjanji akan menjagaku, tetapi kini memintaku menemaninya dalam ruang sempit ini.

Aku memandang Pak Rahmat sekilas. Dia tidak terlalu tua. Badannya tegap dan bagus. Berkulit sawo matang. Postur tubuhnya yang kokoh di balik seragam security itu mengingatkanku pada urat kekar lengan Pak Bayu sore tadi.

"Ukhti ini cantik begini, kok sendirian saja di rumah kontrakan? Belum ada yang punya, ya?" tanyanya tiba-tiba, mencondongkan tubuh sedikit.

Aku terkejut dengan pertanyaan yang begitu terbuka. "Em, memangnya kenapa, Pak?"

"Ya, Bapak cuma penasaran. Ukhti kan alim begini, pasti banyak yang mengantri buat jadi suami. Kok sampai sekarang masih sendirian aja? Apa Ukhti memang tidak pernah dekat dengan laki-laki?"

Aku menunduk, memainkan kain gamisku. Rasa malu dan pengakuan yang kusembunyikan selama ini terpaksa keluar. "Jujur, Pak. Aku... memang belum pernah dekat dengan laki-laki. Jangankan pacaran, ngobrol dekat begini saja, ini baru pertama kali."

Rahmat mendesah pelan, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan. "Yahh. Yang bener, Ukhti. Masih suci banget, dong.."

Aku merasakan wajahku memerah di balik cadar. Aku mengangkat kepala sedikit, mencoba tersenyum, tetapi senyum itu pasti terlihat canggung. "Emm, hehe... Insya Allah, Pak," jawabku malu-malu, merasa geli sekaligus bersemangat karena pujian itu, sebuah pengakuan yang memabukkan tentang kesucianku yang aku sendiri tahu sudah ternoda oleh fantasi-fantasi liarku.

"Padahal enak tau, Ukh, pacaran itu. Jangan-jangan Ukhti tidak suka laki-laki, ya? Haha."

"Ihh, enak aja. Aku masih suka laki-laki kali, Pak," balasku cepat, nadaku sedikit merajuk.

"Lha, buktinya sampai sekarang belum dekat sama cowok. Emang sekarang umur berapa, Ukhti Zahra?"

"Emm... aku umur 24, Pak."

"Tuhh kan. Umur segitu lagi puber-pubernya itu, Ukh. Masa gamau cari cowok."

"Mau sih, Pak. Tapi gak ada yang mau sama aku. Hehe," jawabku asal, berusaha mencairkan suasana. Tentu saja itu bohong. Mereka takut mendekatiku, bukan tidak mau. Aku hanya butuh pria yang berani menembus tembok cadar ini.

"Ihh, gak percaya aku, Ukhti..." Pak Rahmat menggeleng, senyumnya semakin lebar, dan tatapannya semakin tajam. "Pasti banyak yang mau sama Ukhti. Apalagii..." Ia menggantungkan kalimatnya, matanya menelusuri lekuk tubuhku sekali lagi.

Jantungku berdebar kencang. Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini, dan rasa malu yang seharusnya menguasai, justru bercampur dengan hasrat liar yang ingin mendengar pujian itu.

"Apalagi apa, Pak?" tanyaku, suaraku pelan, penuh antisipasi.

"Apalagi emm... maaf ya, Ukh. Apalagi badan Ukhti Zahra, kalau aku perhatikan kelihatan seksi banget di balik gamis lebar ini," bisiknya, nadanya serak dan langsung menusuk.

"Ihh, apasih Pak Rahmat!" Aku tersentak, berpura-pura terkejut dan malu. Wajahku terasa panas, meskipun tertutup cadar, aku tahu pipiku pasti sudah memerah. Dia melihatku! Dia mengakui tubuh yang selama ini kusembunyikan!

"Iyaa kan, Ukhti Zahra... Bener kan tebakan Bapak?" tanyanya, nada suaranya kini penuh kemenangan. "Aku juga yakin banget wajah Ukhti Zahra cantik. Matanya aja kelihatan cantik. Apalagi wajahnya."

Aku menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan getaran di tubuhku. Pujian itu, pujian vulgar tentang daya tarik fisikku yang kusembunyikan, terasa memabukkan. Itu adalah pengakuan yang kubutuhkan, pengakuan yang tidak pernah ku dapatkan sebelumnya.

"Pak Rahmat ini suka bercanda," bisikku, suaraku tercekat, berusaha terdengar malu-malu. Aku memilin-milin kain gamisku, tidak berani menatapnya.

"Aku gak bercanda, Ukhti. Aku serius," katanya, kini ia menggerakkan tangannya, menyentuh gamis longgar di lengan atasku, gerakannya singkat dan lembut, dan langsung menarik tangan nya kembali, terasa seperti sengatan listrik. "Percaya deh, Ukhti. Kalau Ukhti mau, pasti banyak yang ngantri."

Aku merasakan getaran di dadaku. Sentuhan kecil itu, di ruangan remang ini, membuatku kembali teringat pada sentuhan Pak Hasan tadi, elusan di paha dan pinggulku.

Tapi Pak Rahmat ini lebih halus, tapi efeknya sama liarnya.

"Aku... aku gak seksi, Pak," ujarku, mencoba membela diri, namun suaraku semakin lemah, dipenuhi kepura-puraan yang gagal.

Rahmat tertawa kecil, tawa yang penuh kemenangan. "Ukhti jangan bohong sama Bapak. Gamis lebar ukhti itu justru bikin penasaran, Ukh. Aku yakin, Ukhti kalau gak pakai gamis pasti terlihat lebih seksi dan menggoda daripada cewek-cewek lain."

"Ihh, Bapak sok tahu," sanggahku, suaraku sedikit lebih lantang, mencoba mengusir godaan itu.

"Kelihatan, kok, Ukhti. Hehe," balas Rahmat, matanya menyipit, menatapku tajam.

"Ihh, Bapak suka lihat-lihat badanku diam-diam, ya?" tanyaku, nadaku bercampur antara kesal dan rasa ingin tahu yang besar.

"Hehe... Maap, Ukhti. Habisnya aku penasaran banget," jawabnya, nadanya tidak menunjukkan penyesalan sama sekali. Ia maju selangkah, menipiskan jarak di antara kami.

"Aku jujur, Ukhti Zahra," bisiknya, suaranya serak, penuh pengakuan dosa. "Sejak Ukhti datang ke sini tadi, ngomong mau beli makan, aku sudah... sudah ngaceng lihat Ukhti."

Aku tersentak, seluruh tubuhku membeku. Kata "ngaceng" yang vulgar itu, yang ku dengar dari Pak Hasan, kini diucapkan langsung oleh pria lain di hadapanku. Aku melirik ke bawah, ke selangkangan celana Rahmat. Terlihat ada tonjolan yang jelas di sana, bukti nyata dari hasratnya.

Rahmat menyadari tatapanku. Ia menyeringai. "Iya, Ukhti. Ukhti lihat, kan? Ini semua karena Ukhti."

"Ihh, Pak..." Aku menutup mataku malu-malu. Rasa malu itu begitu kuat, tetapi di saat yang sama, rasa diinginkan yang kulihat dari tonjolan itu membuat hasratku memuncak.

"Emang Ukhti gak pernah merasa nafsu gitu, Ukh?" tanyanya, suaranya kini terdengar cukup serius.

"Yaa pernah sih, Pak. Tapi gak jorok gitu dong, Pak..." Aku membuka mataku, menatap matanya di balik cadar. Aku berbohong. Aku baru saja melakukan hal yang lebih jorok dari ini di warung nasi goreng Pak Hasan.

"Ukhti sekarang nafsu gak?"

Pertanyaan itu menghantamku. Pertanyaan yang jujur, telanjang, dan langsung ke inti. Aku tidak bisa mengelak lagi. Aku merasakan tubuhku panas, vaginaku basah, dan payudaraku berdenyut. Aku tahu jawabannya, tapi tak sanggup mengucapkannya. Aku hanya bisa menatapnya.

Aku hanya bisa mengangguk pelan, anggukan yang hampir tak terlihat, sebuah pengakuan yang memalukan namun membebaskan.

"I-iya, Pak..." bisikku, suaraku nyaris tak terdengar.

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com