𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟒 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐢 𝐖𝐚𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐏𝐚𝐤 𝐇𝐚𝐬𝐚𝐧

Rasa malu yang tadinya besar perlahan memudar, digantikan oleh kenikmatan yang belum pernah kurasakan. Sentuhan itu terasa begitu intim, begitu nyata. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku sepenuhnya hanyut dalam sensasi terlarang ini. Aku membayangkan bukan hanya tanganku yang meremas, tapi tangan pria lain yang menikmati tubuhku, meremas payudaraku dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Aku semakin berani. Remasanku berubah, dari lembut menjadi lebih menuntut. Aku mencubit putingku yang kini menegang, dan sensasi itu membuatku melengkung di kursi. Aku mendongakkan kepala sedikit, terengah-engah, membiarkan hasrat liar itu menguasai.

"Emmhh.. Ahhh..." Aku merintih lirih, suaraku parau.

Wajahku memanas, tubuhku bergetar. Aku sepenuhnya tenggelam. Aku membayangkan Pak Bayu dengan lengan kekarnya melakukan ini, atau Mas Bims yang mengirimkan gift mahal agar aku mau melakukannya. Di luar sana, di Toktok, wanita alim ini akan menjerit, tapi di sini, di warung nasi goreng yang sepi, aku hanya bisa menahan suara, menyalurkan semua gejolak hasratku ke tanganku yang meremas payudaraku sendiri.

Aku tidak menyadari, karena terlalu larut dalam nafsu, suara wajan Pak Hasan sudah berhenti. Aku tidak menyadari lampu sorot mobil melintas di jalan depan warung. Aku tidak menyadari Pak Hasan kini sudah berada di sampingku.

Tiba-tiba, suara Pak Hasan terdengar sangat dekat, serak, dan penuh makna, membuatku terkesiap.

"Ukhti Zahra..." bisiknya, suaranya pelan sekali, hampir tak terdengar. "Nasi gorengnya sudah matang. Tapi,.. Ukhti sedang ngapain?"

Mataku membelalak panik. Tanganku masih berada di balik gamis, mencengkeram payudaraku sendiri, dan napasku memburu. Aku tersentak, seluruh tubuhku menegang.

Sial! Dia melihatku!

Tubuhku kaku, aku tidak sempat menarik tanganku keluar dari jilbab. Tangan kananku masih terselip, memegang payudaraku yang kini berdenyut kencang. Wajahku terasa panas, pasti sudah merah padam, meskipun tertutup cadar. Aku menatap pak hasan, mencari jejak mata yang menghakimi, tetapi yang kulihat adalah tatapan yang sangat berbeda.

Sementara HP-ku masih menampilkan adegan Ukhti meremas payudaranya di layar HP-ku.

Pak Hasan tersenyum. Senyumnya tidak lagi ramah seperti tadi, melainkan sebuah seringai yang penuh arti, gelap, dan tahu segalanya.

"Gak apa-apa, Ukhti," ucap Pak Hasan, suaranya pelan dan serak, namun penuh pengertian yang mengerikan. "Aku tahu kok, wanita seumuran Ukhti memang lagi masa tinggi-tingginya nafsu. Apalagi sendirian di rumah, pasti butuh pelampiasan."

Aku terkesiap, tubuhku membeku. Dia tidak marah? Dia tidak menghakimi? Justru dia membenarkan perbuatanku.

"Gak apa-apa kok, Ukhti. Dilanjut aja. Pak Hasan gak akan ganggu kok. Kadang juga ada sepasang kekasih ciuman atau grepe-grepe di sini juga Bapak diemin aja. Bapak udah terbiasa melihat yang seperti itu, Ukh," jawab Pak Hasan, nadanya begitu santai, seolah aku sedang melakukan hal yang wajar.

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Rasa malu yang membanjiri diriku perlahan melunak, digantikan oleh gelombang hasrat yang kembali memuncak. Ada rasa aman yang aneh dari pengakuannya.

"Ehh… maap, Pak. Aku terbawa suasana," bisikku, suaraku parau.

"Gak apa-apa, Ukhti. Dilanjut aja silakan," balasnya. Ia mencondongkan tubuhnya, sedikit mengintip ke layar ponselku. "Aku ikut nonton boleh, gak? Itu cewek di layar HP-nya seksi banget. Gamisnya yang di pake ketat banget"

Aku kembali melihat layar HP-ku. Rekaman Ukhti itu memang liar. Aku sadar, sebenarnya tubuhku juga tidak kalah seksi dari dia, bahkan payudaraku lebih besar, dan kulitku putih mulus. tapi aku menutupinya dengan gamis lebarku ini. Aku bingung harus berbuat apa. Tangan kananku masih di payudaraku. Dorongan Pak Hasan untuk melanjutkan membuatku semakin bergairah. Sensasi bahaya karena ditonton pria asing, yang tadinya menakutkan, kini terasa memabukkan.

Aku tidak tahan lagi. Aku ingin lebih.

Aku menatap Pak Hasan, mataku yang indah di balik cadar itu pasti memancarkan hasrat yang terpendam.

"Gimana, Ukhti? Aku boleh nemenin Ukhti nonton?" godanya, suaranya serak. Ia berjalan ke kursi di sampingku, duduk di sana dengan jarak yang begitu dekat. bahu kami hampir bersentuhan.

Aku mengangguk pelan. "B-boleh, Pak," bisikku, suaraku nyaris tak terdengar, sebuah penyerahan diri yang total.

Pak Hasan tersenyum penuh kemenangan. Ia mencondongkan tubuhnya ke sampingku, matanya kini fokus pada layar ponselku.

Aku kini merasa lebih berani. Tanganku yang tadinya hanya meremas lembut payudaraku, kini bergerak lebih menuntut. Aku mencengkeram payudaraku, meremasnya kuat-kuat dari dalam gamisku.

"Ahhh..." rintihan lirih lolos dari bibirku, tak lagi bisa kutahan.

"Gimana, Ukhti? Enak?" tanya Pak Hasan, suaranya serak dan penuh gairah. "Cewek di HP itu meremasnya kenceng banget, Ukhti. Ukhti juga harus kenceng, biar kenikmatannya sama."

Aku mengikuti instruksinya. Aku meremas lebih kuat. Sensasi itu begitu kuat hingga membuat tubuhku melengkung di kursi. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut, melupakan di mana aku berada.

"Iya, Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan dosa. "Aku suka..."

"Nah, begitu, Ukhti," bisik Pak Hasan, kini suaranya semakin dominan. "Ukhti cantik banget kalau keenakan begitu. Ukhti meremasnya lebih cepat, ya. Bayangin... bayangin bukan tangan Ukhti yang meremas, tapi tangan pria lain yang mengagumi Ukhti."

Pikiranku seketika melayang. Aku membayangkan tangan kekar Pak Hasan yang penuh urat melakukan ini, bukan tanganku sendiri. Bayangan itu membuatku gila. Aku meningkatkan ritme remasanku, mencubit putingku hingga menegang di balik kain gamis.

"Ahhh! Pak! Terus! Ukhti suka!" desahku, suaraku kini bergetar liar, tak lagi malu.

Pak Hasan ikut mendesah, suaranya berat dan memburu di samping telingaku. "Gila, Ukhti. Nenen dia gede banget. Dia meremas Nenennya begitu liar, membuatku ikut ngaceng melihatnya."

Aku merasakan panas di wajahku. Ngaceng. Kata itu, yang biasanya tabu, kini terdengar begitu memabukkan. Aku melirik ke bawah, ke arah selangkangan Pak Hasan. Celana panjangnya terlihat sedikit menonjol, sebuah bukti nyata dari perkataannya.

Rasa malu yang seharusnya menguasai, kini sepenuhnya dikalahkan oleh hasrat liar untuk melanjutkan permainan ini. Aku telah menemukan partner rahasia pertamaku.

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku terasa panas. Aku meremas payudaraku lebih kuat , hingga rintihan liar lolos dari bibirku. Aku sudah tidak peduli lagi.

Tiba-tiba, di tengah remasan liarku, Pak Hasan mencondongkan tubuhnya lebih dekat, suaranya kini terdengar gelap dan menantang, langsung menusuk ke inti rasa maluku.

"Ukhti Zahra" bisiknya, sangat pelan, hanya untuk didengar olehku. Ia melirik sekilas ke payudaraku yang kini bergetar di bawah remasan tanganku. "Payudara Ukhti ini … seberapa besar, sih, Ukhti? Sebesar yang di layar HP Ukhti itu, gak? Atau jangan-jangan, punya Ukhti lebih besar lagi dari cewek di layar itu?"

Aku tersentak, tubuhku membeku. Tanganku yang tadinya liar meremas seketika terhenti. Pertanyaannya begitu telanjang, begitu vulgar, membuatku malu luar biasa. Dia meminta perbandingan!

Aku segera menarik tanganku dari balik gamis, tetapi payudaraku yang kini berdenyut dan menegang terasa begitu terekspos. Aku memejamkan mata di balik cadar.

"Ehh… Pak Hasan, i-itu… nasi gorengku sudah jadi kan," kataku sambil melihat bungkusan nasi goring di gerobaknya, berusaha mengalihkan perhatiannya, suaraku parau, tercekat, penuh kepanikan yang dibuat-buat.

Pak Hasan tertawa kecil. Tawa itu terdengar serak, tahu bahwa dia telah memojokkanku. Dia tidak beranjak, hanya menatapku dengan sorot mata yang menuntut jawaban.

"Jangan malu, Ukhti Zahra. Aku sudah lihat Ukhti tadi keenakan begitu. Aku cuma penasaran, kan di balik gamis dan cadar ini… Ukhti pasti menyembunyikan tubuhnya, keindahan yang luar biasa. Ukhti harus jujur, dong, sama Bapak. Punya Ukhti lebih besar, kan?" godanya, nadanya lembut namun memaksa.

Aku merasakan napasku memburu. Aku ingin berteriak menolak, tetapi hasrat yang masih membara dan rasa damba yang kuinginkan membuatku tak berdaya. Aku melihat kembali layar HP-ku yang menampilkan payudara Ukhti itu. Sejujurnya, aku tahu milikku lebih besar dan lebih padat.

Perlahan, aku mengangguk pelan, sebuah pengakuan yang memabukkan.

"I-iya, Pak," bisikku, suaraku nyaris tak terdengar, tenggelam di antara detak jantungku yang kencang. "Punya a-aku… sedikit lebih besar dari dia. M-maaf, Pak."

Aku menunduk dalam-dalam, berharap cadar ini bisa menyembunyikan wajahku yang kini panas memerah. Pengakuan itu terasa seperti sebuah dosa, sebuah batasan yang baru saja kulewati.

Pak Hasan mendesah, suaranya berat, penuh kemenangan. "Masya Allah, Ukhti Zahra. Aku sudah duga. Ukhti Zahra ini memang primadona tersembunyi di kompleks ini. Pasti kenceng juga, ya? Aku pengen lihat, Ukh. Bolehkah aku lihat?"

Permintaannya yang tiba-tiba membuatku tersentak. Rasa takut seketika mengalahkan hasrat. "Jangan, Pak! Aku mohon jangan! Itu… itu tidak boleh! Aku… aku tidak mau!" Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, panik. Aku berusaha mengatur napasku, mencengkeram tepi kursi plastik itu erat-erat.

"Hehe, becanda kok, Ukh… jangan panik gitu dong. Yuk, dilanjut aja nontonnya, Ukh," kata Pak Hasan, nadanya kembali rileks, namun senyum di bibirnya tetap menyiratkan kemenangan.

"Emm… iya, Pak," jawabku.

Aku mulai kembali tenang, tetapi kegugupan itu kini bercampur dengan gejolak hasrat yang belum tuntas. Aku merasakan dorongan untuk melanjutkan permainan yang baru saja terpotong.

Aku kembali menatap layar HP-ku. Ukhti itu masih di sana, meremas payudaranya sambil menggoyangkan pinggulnya, wajahnya penuh gairah.

Tangan kananku kembali kusesuaikan, kumasukkan ke balik jilbab lebarku, menelusup ke dalam jilbab. Payudaraku yang besar terasa berdenyut, menuntut sentuhan. Kemudian, aku meremasnya lagi.

Sensasi yang familier itu langsung menghantamku. Aku menutup mata, membiarkan tubuhku melengkung tipis. Aku mendesah, desahan tak lagi bisa ku tahan. Kali ini, suara itu lolos, lirih, namun nyata, "Mmmhh..." Aku tidak lagi peduli dengan etika yang selama ini kujaga.

Aku tidak memperdulikan Pak Hasan di sebelahku. Aku tahu dia mendengarnya, aku tahu dia melihatnya. Namun, fakta bahwa ada seorang pria dewasa yang menyaksikan dan membenarkan tindakanku yang liar justru membuat kenikmatan itu berlipat ganda.

"Enak, Ukh?" bisik Pak Hasan, suaranya serak dan sangat dekat.

Aku hanya bisa mengangguk, mataku terpejam, tubuhku sibuk merespons sentuhan tanganku sendiri.

"Punya Ukhti Zahra ini memang kayaknya lebih bagus dari yang di HP ya," godanya, tawanya kecil, bernada gelap. "Yang di HP itu cuma bisa goyang-goyang, tapi Ukhti di sini berani main di tempat umum."

Pujian itu, meskipun sebuah hinaan yang terselubung, terasa begitu memabukkan. Aku merasakan kebanggaan yang aneh karena dianggap lebih berani dan liar.

Tiba-tiba, sentuhan asing mendarat di bahuku. Itu tangan Pak Hasan memeluk bahu ku. Ia mengelusnya perlahan, gerakannya lembut.

"Dilanjutin, Ukh," bisik Pak Hasan, suaranya serak dan menenangkan, seolah dia adalah penjaga rahasia terbesarku. "Aku akan jagain kamu. Aku akan pastikan gak ada yang ganggu kamu. Nanti kalau ada yang lewat, aku akan bilang. Kamu bisa bebas bergerak dan mendesah di sini."

Perkataan Pak Hasan membuatku tenang. Rasa takutku menguap, digantikan oleh dorongan gairah yang kuat dan rasa aman yang aneh. Aku bisa bebas di sini, melakukan hal yang paling terlarang, tanpa memperdulikan sekitarku, di bawah perlindungan pria ini.

Aku terus melanjutkan, tanganku di balik jilbabku kini tidak lagi meremas, melainkan mencengkeram payudaraku, menekan dan memilin putingku yang menegang.

"Ahh… Mmmhh… Pak… Ahh!!" desahku, suaraku kini bergetar, lebih keras dari sebelumnya. Aku sudah tidak peduli. Aku memejamkan mata, membiarkan kenikmatan itu memuncak, mengikuti irama liar Ukhti di layar HP-ku.

Tiba-tiba, aku merasakan sentuhan lain yang lebih berani.

Sebuah tangan, yang bukan tanganku, bergerak lembut di atas pahaku. Tangan Pak Hasan. Ia mengelus pahaku yang tertutup kain gamis tipis. Sentuhan itu ringan, namun terasa begitu mematikan.

Aku tersentak kaget. Mataku langsung terbuka, menatapnya dengan panik.

"Pak! J-jangan!" bisikku, tubuhku menegang.

Pak Hasan tidak menarik tangannya. Ia hanya tersenyum tipis, matanya menatapku dengan tatapan yang sangat gelap.

"Tenang, Ukhti Zahra," bisiknya, suaranya kini seperti perintah. "Aku cuma mau memastikan kamu nyaman. Kamu aman di sini. Aku gak akan aneh-aneh, aku cuma mau lihat kamu senang. Lanjutin, Ukh. Aku mau lihat Ukhti liar kayak tadi lagi."

Sentuhan Pak Hasan di pahaku, meskipun terhalang kain, terasa seperti langsung menyentuh kulitku. Ia tidak hanya menjadi penonton, tetapi kini menjadi dalang yang menyentuhku secara fisik.

Aku mengangguk perlahan, menyerah pada permainan ini. Tanganku kembali aktif, meremas payudaraku lebih brutal. Aku mendesah lebih keras.

Pak Hasan tersenyum puas. Tangannya kini tidak lagi mengelus, melainkan menekan pahaku, menariknya sedikit ke arahnya.

"Sekarang, Ukhti, coba lihat yang di HP," bisiknya, suaranya memburu. "Cewek itu goyang pinggulnya. Ukhti juga harus coba. Goyangin pinggul Ukhti, biar Ukhti lebih keenakan."

Aku menatap layar HP-ku. Ukhti itu memang sedang menggoyangkan pinggulnya dengan sensual.

Dengan rasa malu yang bercampur gairah, aku mencoba memajukan dan memundurkan pinggulku perlahan. Gerakan itu kaku di awal, namun semakin lama, semakin terasa nyata. Gamisku yang longgar bergerak mengikuti irama pinggulku, dan aku merasakan gesekan kain gamis pada klitorisku.

Seketika, vaginaku terasa gatal dan basah. Cairan hangat membanjiri celana dalamku. Sensasi basah itu membuatku semakin terangsang.

"Ahh… Pak… basah…" rintihku tanpa sadar. Aku memaju-mundurkan pinggulku lebih cepat, mencoba meredakan gatal yang tak tertahankan di balik kain.

Pak Hasan mendesah keras. Ia kini menggunakan kedua tangannya. Tangan kirinya masih mengelus pahaku, sementara tangan kanannya kini bergerak lebih berani, mengelus pinggulku, menekan sedikit ke area bokongku.

Aku menjerit lirih di balik cadar. Sentuhan ganda itu, remasan di dada oleh tanganku sendiri, dan elusan di pinggul serta paha oleh tangan Pak Hasan, membuatku mencapai batas. Aku melengkung kuat, membiarkan diriku tenggelam dalam lautan gairah.

"Terus, Ukhti, goyang terus! Ahh… Ukhti liar banget!" bisik Pak Hasan, napasnya memburu di telingaku. Kedua tangannya kini mencengkeram pinggulku kuat-kuat, membantu pergerakanku yang semakin cepat dan brutal.

Aku benar-benar tak terkendali. Aku sudah menjadi Zahra yang liar, yang sepenuhnya binal.

Tangan Pak Hasan terus menuntun pinggangku untuk bergoyang. Aku memajukan dan memundurkan tubuhku di kursi plastik itu dengan ritme yang semakin cepat. Sentuhan dari kedua tangannya yang mencengkeram pinggulku terasa dominan dan memabukkan.

Aku merasakan vaginaku bergesekan dengan kain gamis dan celana dalamku, sensasi itu terasa enak sekali. Gesekan yang cepat itu memicu gejolak aneh di antara kedua pahaku. Aku mendesah, suaraku parau, sepenuhnya hanyut dalam perbuatan terlarang ini.

"Ahhh… Pak… terus! Lebih cepat! Aku suka! Mmmhh…" rintihku, tak lagi peduli dengan lingkungan sekitar. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku melengkung, dan kepalaku mendongak.

Pak Hasan mendesah keras, napasnya yang memburu terasa di leherku. "Gila, Ukhti Zahra, kamu liar banget! Aku suka kamu yang begini. Jangan berhenti Ukhti. Goyang terus! Ahhh!"

Tangan kanannya yang tadinya menuntun pinggulku kini bergerak lebih agresif. Tangannya membuka paha ku sedikit melebar, kemudian menelusup, melewati lutut, dan mulai mengelus paha dalamku dari luar gamis. Gerakannya naik turun, semakin intens, memprovokasi sensasi basah yang sudah kurasakan di Vaginaku.

Aku menjerit lirih, "Aahh! Pak… enak! Aku basah… Ahh!"

Tiba-tiba, Pak Hasan menghentikan aksinya. Aku tersentak, bingung dan frustrasi karena kenikmatan itu terpotong mendadak. Aku membuka mata.

Deg.

Tangan kirinya, yang tadinya mencengkeram pinggulku, kini memegang ujung jilbabku. Dengan gerakan yang perlahan namun penuh arti, ia menarik jilbabku ke atas!

Aku terkesiap, tubuhku kaku. Kain jilbab lebarku tersingkap, memperlihatkan bagian atas dadaku. Payudaraku yang besar dan padat, yang sedang kuremas dengan tangan kananku, kini terlihat jelas di bawah cahaya remang warung nasi goreng itu.

Aku panik, Aku membelalakkan mata, menatap Pak Hasan. Rasa malu yang memuncak kembali menusukku.

Pak Hasan tidak memotret ataupun memegang, dia hanya menatapku dengan mata yang memancarkan kekaguman liar dan gairah yang tak tertahankan.

"Masya Allah, Ukhti Zahra," bisiknya, suaranya serak, penuh kekaguman. Ia mengabaikan tanganku yang panik dan fokus pada payudaraku.

"Nenen Ukhti… Gede banget! Aku sudah duga! Nenen Ukhti ini pasti gede banget, idaman semua pria. Padat, padat sekali, Ukh. Aku suka cara Ukhti meremasnya. Terlihat sangat liar."

Pengakuan itu, pujian vulgar tentang keindahan yang kusembunyikan, menghantamku seperti gelombang. Aku merasa hina, namun di saat yang sama, dadaku membusung karena kebanggaan yang aneh. Pujian inilah yang aku inginkan selama ini.

Pak Hasan tersenyum. Ia tidak meminta lebih, ia hanya menikmati pemandangan yang baru ia ciptakan.

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com