Jantungku merasa tidak tenang, berdebar kencang. Apakah seperti ini namanya nafsu dengan lawan jenis? Tidak enak sekali rasanya. Perasaan ini begitu asing, begitu menakutkan, menjebakku di antara ajaran yang kupegang teguh dan desakan liar yang baru saja kurasakan.
Tak lama, adzan Maghrib berkumandang. Suara merdu itu seolah menjadi panggilan penyelamat, menarikku kembali dari jurang. Aku segera mengambil air wudhu dan menunaikan shalat Maghrib. Setelah shalat, aku membuka hp ku, mencari live kajian di Toktok untuk menenangkan diriku dari nafsu yang baru saja meledak. Aku menonton kajian itu sampai Isya, mencoba mengisi kembali jiwaku dengan kesucian.
Setelah shalat Isya, rasa lapar yang menggerogoti perutku tak tertahankan lagi. Aku berencana keluar mencari makanan di warung yang buka di luar gerbang kompleks.
Aku mengenakan gamis longgar, jilbab lebar, dan cadar, sebuah kehati-hatian yang berlebihan, menutupi setiap inci tubuh yang kurasakan sudah ternoda oleh pikiran-pikiran kotor. Aku mengambil dompet, kunci rumah, dan melangkah keluar.
Kompleks perumahan elit ini terasa sunyi dan gelap di malam hari. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya remang, menambah nuansa sepi yang mencekam. Langkah kakiku terdengar jelas saat aku berjalan menuju gerbang utama.
Di pos satpam, hanya ada satu orang Satpam yang bertugas.
Dia duduk di kursi plastik, matanya terpejam, seolah baru saja terbangun dari kantuk. Saat aku mendekat, dia tersentak, lalu berdiri tegap, menyambutku dengan senyum.
"Assalamualaikum, Ukhti Zahra," sapanya, suaranya terdengar ramah dan penuh hormat.
"Wa'alaikumsalam, Pak," jawabku, suaraku kuusahakan tetap lembut. Aku tidak tahu namanya, tapi dia adalah Satpam yang sering berjaga malam.
"Mau ke mana, Ukhti? Malam-malam begini sendirian?" tanyanya, perhatiannya terasa berlebihan.
"Mau cari makan sebentar, Pak. Di warung depan," jawabku singkat. Aku berjalan melewatinya, menuju gerbang kecil yang terbuka.
Saat aku melewatinya, pandangannya menyapu tubuhku, dari kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu terasa menelanjangi. Aku merasakan gamisku, yang kukira cukup longgar, tiba-tiba terasa ketat dan terbuka di bawah sorot matanya. Aku sangat malu, Tapi aku suka tatapan dia, tatapan seperti itu yang aku inginkan.
"Hati-hati, Ukhti Zahra," ucapnya, nadanya kini berubah menjadi sedikit menggoda, tidak lagi seformal tadi. "Di luar sepi, dan banyak orang nakal. Apalagi Ukhti... dengan penampilan cantik seperti ini... pasti banyak yang tergoda."
Aku menelan ludah. Jantungku berdebar kencang. Kenapa dia berbicara seperti itu? Tatapannya kini terfokus, bukan lagi pada mataku, melainkan pada payudaraku yang besar, yang sedikit menonjol di balik kain gamis dan jilbabku.
Aku mencoba tersenyum di balik cadar, sebuah senyum yang terasa kaku dan canggung. "Insya Allah, saya aman, Pak. Saya permisi dulu."
Aku melangkah cepat ke luar gerbang, namun langkahku terhenti.
"Ukhti," panggilnya lagi, suaranya dalam dan pelan, menghentikan langkahku tepat di bawah tiang lampu.
Aku berbalik, menatapnya, bingung.
"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan panggil saya, ya, Ukhti," katanya, bibirnya menyunggingkan senyum tipis, penuh arti. "HP saya selalu di tangan, siap sedia 24 jam. Saya akan jadi pelindung Ukhti, bukan hanya dari maling, tapi juga dari hal-hal lain yang Ukhti takutkan."
Kata-kata itu, "pelindung," terasa seperti ajakan nakal. Tatapannya, yang kini terfokus pada lekuk tubuhku, menguatkan dugaanku. Dan sensasi tatapan itu, rasa diinginkan yang terlarang, membuat tubuhku merinding, namun anehnya, kakiku terasa berat untuk melangkah menjauh.
Aku hanya bisa mengangguk, lalu bergegas pergi. Di sepanjang jalan, aku merasakan panas menjalar di wajah dan dadaku. Aku tahu, Satpam itu tidak hanya melihatku sebagai Ukhti Syar'i yang dihormati, tetapi juga sebagai objek yang menarik yang ingin dia dapatkan. Aku baru pertama kali ada lelaki yang berani seperti ini kepadaku. Tatapan mata Satpam itu, ucapan seraknya yang menyebutku sebagai objek yang harus ia lindungi, semua itu terasa begitu nyata dan aku menyukainya.
Aku menemukan warung nasi goreng, memesan dengan suara yang ku usahakan normal. Tapi, pikiranku terus kembali ke gerbang kompleks tadi. Aku tahu, gejolak nafsu yang kurasakan sore tadi belum sepenuhnya padam. Dan godaan itu, godaan yang datang dari sosok yang seharusnya menjaga, kini menjadi tantangan yang membangkitkan rasa ingin tahu yang liar di dalam diriku.
Ilustrasi Pak Hasan
"Assalamualaikum, Ukhti Zahra. Mau pesan nasi goreng?" sapa Bapak penjual nasi goreng itu, ramah.
"Wa'alaikumsalam, Pak Hasan," jawabku, membalas senyumnya dari balik cadar. Aku tahu namanya karena ia sudah sering berjualan di depan kompleks.
"Iya, Pak. Satu porsi dibungkus, ya."
"Siap, Ukhti," jawab Pak Hasan sambil mulai meracik bumbu di wajannya.
Aku berjalan ke kursi plastik di dekatnya dan duduk menunggu nasi gorengku. Suara sreng-sreng spatula di wajan, beradu dengan aroma gurih bawang dan kecap, mengisi udara. Tapi, pikiranku tidak bisa tenang. Aku terus memikirkan mata Satpam itu, dan lengan kekar Pak Bayu sore tadi.
Aku mengambil ponsel, membuka lagi aplikasi Toktok. Aku mencari akun Ukhti liar itu. Aku butuh pengalihan, atau justru butuh dorongan. Aku melihat lagi rekaman ulang live streaming Ukhti itu tadi sore. Adegan dia meremas payudaranya sendiri kembali terbayang. Seketika, hasrat liar yang tadi sempat ku tahan kembali memuncak.
Aku menyandarkan punggungku ke kursi. Aku memejamkan mata, merasakan gejolak aneh di dalam diriku. Tangan kananku, tanpa sadar, bergerak di balik jilbab lebarku. Ia menyentuh payudaraku yang besar dari luar gamis.
Sebuah sentuhan lembut yang seharusnya menenangkan, namun malah memicu desahan tertahan. " Emmhh..." Aku panik, segera menarik tanganku.
Tidak, Zahra. Tidak di sini. Untungnya pak hasan tidak mendengar desahanku.
Aku melihat ke sekeliling. Di warung nasi goreng itu tidak ada pelanggan lain, hanya aku dan Pak Hasan. Pak Hasan membelakangiku, fokus mengaduk nasi di wajan.
Aku tahu, risiko untuk ketahuan sangat kecil, tetapi rasa malu dan bersalah itu begitu besar. Aku menunduk, mencoba menenangkan napasku yang memburu.
Tiba-tiba, Pak Hasan menoleh ke arahku.
"Ukhti, kenapa? Kelihatan tegang begitu," tanyanya, suaranya kini terdengar lebih dekat. Ia berjalan mendekat, menyodorkan toples kecil berisi kerupuk. "Sambil menunggu, dimakan dulu kerupuknya, Ukhti."
"Oh, iya, Pak. Terima kasih," jawabku, meraih kerupuk itu dengan tangan gemetar.
Ia tidak langsung kembali ke wajan. Ia berdiri di sana, menatapku, matanya yang ramah kini terlihat sedikit lebih penasaran.
"Ukhti ini memang rajin sekali mengajar ngaji ya. Di kompleks sini, hanya Ukhti yang penampilannya sesempurna ini," pujinya.
Aku tahu pujian itu murni, tapi hatiku yang sudah kotor oleh fantasi dan godaan Satpam tadi, kini mengartikannya secara berbeda. Aku melihatnya sebagai pengakuan, pengakuan yang aku butuhkan.
"Alhamdulillah, Pak. Sudah kewajiban saya," jawabku, mencoba tersenyum tulus.
"Ya, benar," katanya, ia tersenyum, senyum yang menunjukkan barisan giginya. Ia kembali ke wajan, melanjutkan pekerjaannya.
Aku kembali terdiam, memakan kerupuk dengan hati yang kacau.
Pikiranku kini beralih. Mas Bims, Ukhti liar, payudara yang diremas, dan kini Pak Hasan dengan pujian tulusnya. Semua itu menjadi benang merah yang menjeratku. Aku ingin keluar dari penjara kehormatan ini. Aku ingin menjadi Zahra yang diinginkan, yang liar, yang berani.
Aku melihat sekeliling, sepi. Lampu warung nasi goreng yang temaram hanya menerangi area tempatku duduk dan wajan Pak Hasan. Pak Hasan masih membelakangiku, fokus mengolah pesananku.
Aku membuka HP-ku lagi. Aku memutar ulang rekaman live streaming Ukhti tadi yang meremas payudaranya sendiri dari luar gamis. Jantungku kembali berdebar kencang, perpaduan antara rasa malu dan hasrat yang memabukkan.
Kini aku dengan sengaja menyelipkan tangan kananku ke balik jilbab lebarku, menelusupkannya ke dalam jilbabku. Kain jilbabku yang tebal dan lebar menciptakan ruang tersembunyi yang sempurna. Tanganku kini menyentuh payudaraku dari luar gamisku.
Aku mulai meremas payudaraku dengan lembut. Aku mengikuti irama di tayangan ulang itu, menirukan gerakan si Ukhti liar itu. Tekanan lembut pada payudaraku yang besar dan padat mengirimkan sensasi aneh ke seluruh tubuhku. Aku menggigit bibirku di balik cadar, menahan rintihan yang nyaris lolos.
"Ahhh..."
Bersambung...
