Keesokan harinya, rutinitas membawaku kembali ke peran asliku. Jam tiga sore, rumah kontrakanku yang sunyi dipenuhi suara riang murid-murid mengaji. Hari ini kegiatan mengaji aku adakan dirumahku.
Selesai mengajar jam empat sore, aku berdiri di depan pintu, mengawasi satu per satu muridku pulang. Aku berdiri tegak, Menggunakan gamis dan cadarku. Semua murid telah bubar, kecuali satu, Aisyah, yang masih bersama bapaknya.
Aku tahu bapaknya bernama Pak Bayu. Dia memang sering antar jemput anaknya, baik di TPQ maupun di rumahku. Pak Bayu, pria yang selalu bersikap sopan dan menjaga jarak.
Pak Bayu melangkah mendekat ke arahku. Ia memberikan salam dengan suara yang dalam namun ramah, lalu bertanya tentang perkembangan Aisyah. Aku menjelaskan dengan sabar, fokus pada kebaikan dan ketekunan anaknya.
"Saya sangat berterima kasih, Ukhti Zahra," ujar Pak Bayu, matanya yang teduh menatapku dengan tulus. "Ukhti Zahra guru yang baik sekali, teladan bagi Aisyah. Saya bersyukur sekali anak saya bisa diajar oleh Ukhti."
Pujian itu tulus, tanpa ada nada genit sedikit pun. Aku memang sering mendapatkan pujian atas kemampuanku mengajar, tapi dari bibir Pak Bayu, pujian itu terasa menenangkan. Aku menjawabnya dengan tulus juga, membalas senyumnya dari balik cadar.
"Sama-sama, Pak. Itu sudah kewajiban saya," kataku.
Saat Pak Bayu membungkuk mengambil buku catatan Aisyah yang terjatuh ke dalam tasnya, sesuatu terjadi.
Lengan kemejanya terangkat sedikit, tepat di siku, memperlihatkan urat-urat kekar yang menonjol di lengannya. Pemandangan itu begitu nyata, begitu maskulin, dan seketika, hasrat liar dari tontonan Toktok tadi malam kembali menyeruak. Itu adalah pemandangan yang seharusnya biasa, tapi mataku menelusuri setiap lekuk otot itu, setiap urat yang mengeras di kulitnya yang bersih.
Bayangan kekuatan fisik seorang pria yang begitu dekat, menjalar ke seluruh tubuhku. Jantungku berdebar kencang, memukul-mukul rusukku seperti ingin meloloskan diri. Aku mencoba menenangkan diri dengan beristighfar dalam hati, menggumamkan doa-doa yang biasa kunyanyikan, mencoba mengusir iblis yang baru saja terbangun.
Pak Bayu kembali tegak, buku catatan Aisyah sudah di tangannya. Ia menyadari kegugupanku. Wajahku mungkin sudah memerah di balik cadar. Ia tersenyum, senyum penuh perhatian, lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku, hanya sedikit, tapi cukup membuatku mencium samar aroma aftershave yang maskulin.
"Ukhti Zahra, kenapa? Kelihatan capek?" tanyanya, suaranya serak dan khawatir. "Mungkin Ukhti terlalu lelah mengajar."
"Emm, tidak, Pak," jawabku, suaraku sedikit bergetar. Aku berusaha mengendalikan diriku agar tidak terdengar seperti sedang menahan napas. "Hanya... sedikit kurang enak badan."
"Oh, begitu," balasnya, nada suaranya lembut. "Kalau begitu Ukhti istirahat saja, ya. Jangan dipaksakan. Kesehatan lebih penting. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum."
Ia berbalik, menggandeng tangan Aisyah. Aku hanya bisa mengangguk pelan.
"Wa'alaikumsalam," bisikku.
Aku berdiri di ambang pintu, menatap punggungnya yang menjauh. Punggung yang kokoh, kemeja yang sedikit ketat di bagian bahu dan punggung.
Deg.
Aku tahu. Ini bukan sekadar lelah. Ini adalah gejolak hasrat pertama yang kurasakan secara langsung dari kontak dunia nyata, bukan hanya dari layar ponsel.
Aku menutup pintu dengan perlahan. Tiba-tiba, gamis longgar ini terasa menyesakkan. Aku berjalan ke kamar, segera membuka cadarku. Di depan cermin, aku menatap pantulan diriku, seorang wanita cantik, Hidung mancung, berpayudara besar, berkulit putih mulus, yang baru saja merasakan getaran dari urat kekar seorang pria.
"Aku gila," bisikku pada diriku sendiri. "Aku... benar-benar gila."
Aku mengambil ponselku, membuka kembali aplikasi Toktok. Aku mencari akun Ukhti liar itu. Aku butuh tontonan itu. Aku butuh cara untuk membenarkan kegilaan yang baru saja kurasakan.
Aku butuh pelampiasan. Aku ingin melihat ukhti-ukhti live yang nakal itu lagi. Aku suka melihat mereka dipuji-puji oleh banyak pria. Aku membayangkan diriku di posisi nya, menjadi pusat perhatian yang liar dan terlarang untuk para lelaki.
Aku membuka aplikasi Toktok, mencari akun Ukhti yang barusan aku tonton kemarin. Aku melihat profilnya lagi. Ada notifikasi live streaming darinya yang sudah dimulai satu jam yang lalu. Aku bergegas. Aku tidak mau ketinggalan. Aku tersenyum. Senyum yang penuh rahasia, senyum yang tidak pernah ditunjukkan oleh Ukhti Zahra si guru ngaji.
Aku merebahkan diri di sofa, menyandarkan punggungku ke bantal, dan segera bergabung dalam live streaming itu.
Seketika, duniaku berubah. Di layar, Ukhti itu berdiri di depan kamera. Ia mengenakan gamis yang jauh lebih ketat dari biasanya. Kainnya membalut tubuhnya, mencetak sempurna setiap lekuk payudara besar dan pinggulnya yang montok. Jilbab lebarnya disampirkan sedemikian rupa sehingga hanya menutupi sebagian dadanya, membuat tonjolan payudaranya terlihat semakin jelas.
Kolom komentar sudah liar. Pria-pria tak dikenal membanjiri layar dengan pujian vulgar dan komentar-komentar genit.
"Masya Allah, Ustadzah, badannya bikin imanku goyah!" tulis seseorang.
"Nenennya gede banget, Ustadzah! Pengen crot di sana!" timpal yang lain.
Aku menahan napas, tubuhku terasa panas. Rasa jijik yang samar beradu dengan hasrat yang membara di dalam dadaku. Aku menonton setiap gerakan Ukhti itu. Dia tertawa, tawa yang penuh rahasia, lalu dengan sengaja menggoyangkan pinggulnya sedikit.
"Jangan nakal, Mas-Mas semua. Ini kan live jualan gamis," ucapnya, suaranya parau, namun nada genit itu begitu kentara.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul. Bims mengirimkan Gift Paus!
Jantungku berdebar kencang. Mas Bims! Pria yang sama yang kulihat semalam, pria yang begitu berkuasa.
"Terima kasih banyak, Mas Bims," seru Ukhti itu, matanya berbinar.
Lalu, di kolom komentar, muncul pesan dari akun itu. "Ukhti, remas payudaranya! Aku mau lihat lebih! Aku mau crot sekarang juga!"
Aku membeku. Aku menunggu. Ukhti itu terlihat ragu. Dia menunduk, tapi kemudian tersenyum. Dia melirik ke arah kamera, sebuah senyum kemenangan, dan kemudian dengan tangan yang sengaja dibuat lambat, dia mulai meremas payudaranya sendiri dari luar gamisnya.
Ahhh...
Sebuah desahan tanpa suara lolos dari bibirku. Pemandangan itu begitu intim, begitu liar, seolah aku adalah satu-satunya penonton di sana Sensasi dari layar itu begitu kuat, begitu nyata, hingga menjalar ke tubuhku sendiri.
Aku merasakan napasku memburu. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut.
Aku di sana...
Aku membayangkan diriku di posisi Ukhti itu, menjadi ratu di tengah lautan hasrat para pria.
Tanpa kusadari, tangan kiriku bergerak dengan sendirinya.
Sentuhan lembut di balik kain gamis.
Jari-jariku yang gemetar menyentuh payudaraku yang besar dan padat. Guncangan dari layar, yang menampilkan tangan Ukhti itu semakin brutal meremas, membuat tanganku sendiri mengikuti iramanya. Aku mulai meremas payudaraku sendiri dari luar gamisku, sebuah tindakan refleks yang sepenuhnya di luar kendaliku.
"Ahhh..."
Sebuah rintihan lirih, basah, lolos dari bibirku. Suara itu terasa asing di telingaku, sebuah pengakuan bahwa hasrat di dalam diriku kini telah menemukan pemicunya. Aku membuka mataku, panik, menyadari apa yang baru saja kulakukan.
Aku melihat tanganku sendiri meremas payudaraku, payudaraku yang selama ini tersimpan rapat. Rasa bersalah menghantam, tapi di saat yang sama, sensasi yang kurasakan begitu memabukkan. Rasa dingin dari kain gamis, beradu dengan panasnya sentuhan tanganku sendiri, terasa seperti sebuah pelampiasan yang tertunda.
Aku segera menarik tanganku, seolah tersengat listrik, dan mematikan aplikasi Toktok. Layar ponselku kembali gelap, memantulkan wajahku yang memerah. Aku terengah-engah, tubuhku basah oleh keringat.
Aku tidak lagi sekadar menonton. Aku sudah berpartisipasi dalam permainan terlarang ini.
Aku kini tahu. Aku juga menginginkannya. Aku ingin menjadi liar. Aku ingin merasa didamba. Dan aku ingin tahu, seberapa jauh Ukhti Zahra yang alim ini bisa melangkah.
Aku menatap payudaraku yang kini berdenyut kencang di balik gamisku.
"Mas Bims," bisikku lirih, memanggil nama pria yang tak kukenal, yang kini telah menjadi dalang di balik hasrat tersembunyiku.
Bersambung..
