𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟏 𝐒𝐞𝐧𝐬𝐚𝐬𝐢 𝐃𝐢 𝐃𝐚𝐦𝐛𝐚𝐤𝐚𝐧

 

Cerita ini Adalah Spin-off Sequel Dari : Istriku Ustadzah Alim, dengan POV Zahra.
Di balik citra kesucian seorang Ukhti Syar'i yang alim, Zahra, 24 tahun, menyembunyikan hasrat membara. Tubuh menawan yang tertutup rapat, kini mulai menjerit. Kesehariannya berubah ketika ia terjerat dalam sisi gelap dunia maya, para ukhti bercadar yang menjual sensualitas tersembunyi. Awalnya jijik, Zahra perlahan terprovokasi untuk mencari pengakuan serupa dari para lelaki di dunia nyata. Apakah Zahra akan berhasil mengendalikan hasratnya, ataukah ia akan sepenuhnya terjerumus dalam kehancuran dan menemukan kepuasan dalam dosa terlarang? Temukan jawabannya dalam Jeritan Hasrat Ukhti Zahra, sebuah kisah tentang kesucian yang dipertaruhkan demi pengakuan terlarang.

Namaku Zahra, 24 tahun, dan jika kau melihatku, kau akan melihat cerminan gadis suci dengan pakaian tertutup rapat. Aku adalah definisi dari Ukhti Syar'i yang sempurna, gamis longgar, jilbab lebar, dan cadar yang hanya menyisakan mata indahku untuk dilihat. Penampilanku yang total ini membuat tidak semua lelaki berani mendekatiku, dan aku selama ini menutup diri dari lelaki sampai usia 24 tahun ini.

Aku berasal dari keluarga berada. Orang tuaku punya bisnis besar di kota asalku, tetapi mereka sangat ketat soal pendidikan agama. Sejak SMP dan SMA, aku menghabiskan waktu di pesantren di Jawa Timur, jauh dari hiruk pikuk kota. Setelah lulus, aku melanjutkan kuliah di Surabaya. Selama kuliah, aku tinggal di rumah kontrakan yang sederhana tapi cukup bagus, berada di komplek perumahan elit. Setelah selesai kuliah, aku jarang pulang ke rumah orang tua, mungkin hanya sekitar tiga sampai enam bulan sekali pulang. Aku punya alasan yang logis, aku bekerja paruh waktu di sebuah yayasan pendidikan Islam dan mulai mengajar mengaji di TPQ, di sekitar komplek rumah kontrakanku, seminggu tiga kali. Dan terkadang aku mengajar di rumah kontrakan ku.

Keseharianku sangat monoton dan teratur. Aku jarang sekali keluar rumah, hanya keluar jika ada keperluan mendesak, seperti belanja kebutuhan pokok, atau diajak teman-teman pengajar mengaji atau teman kuliah dulu. Aku adalah sosok yang cukup dihormati di komplek perumahan elit ini, dikenal sebagai Ukhti yang alim dan pendiam, serta menjadi guru ngaji anak-anak mereka. Aku tidak punya kegiatan harian. Hanya berdiam diri dirumah sendirian.

Di balik cadar dan gamis longgar, aku tahu aku menarik. Payudaraku besar, pinggulku bagus, pantatku cukup menonjol, dan kulitku putih mulus. Namun, semua itu terkunci rapat oleh gamisku. Aku adalah wanita yang tak tersentuh, dihormati oleh semua orang, namun hampa di dalam. Prinsip yang kupegang teguh menjaga kesucian hingga pernikahan, kini terasa seperti sebuah penjara. Sampai aku menemukan suami yang cocok untukku kelak.

Setelah semua rutinitas harian selesai, keheningan rumah kontrakan ini seringkali terasa membosankan. Aku akan duduk di sofa ruang tamu yang sunyi, membiarkan pikiranku berkeliaran. Di rumah, ketika tidak ada kegiatan, aku sering bermain HP atau laptop. Aku menonton drakor, atau nge-scroll video-video pendek di Toktok. Terkadang juga melihat live streaming kajian-kajian Islami.

Namun, di antara konten yang suci itu, mataku menangkap sesuatu yang lain.

Aku menemukan ada beberapa wanita, beberapa di antaranya bahkan berpenampilan Islami sepertiku, lengkap dengan cadar, melakukan hal-hal aneh di Toktok. Mereka tidak menjual barang dagangan ataupun memberi kajian online, melainkan menjual persona dan siluet tubuh mereka dibalik gamis yang ketat. Dan banyak yang lebih vulgar lagi.

Aku melihat para Ukhti ini merespons komentar-komentar nakal para pria dengan senyum malu-malu. Aku merasa jijik, namun anehnya, aku tidak bisa mengalihkan pandangan. Aku mulai menghabiskan berjam-jam setiap malam hanya untuk menonton live streaming itu. Di sana, aku melihat para wanita yang secara penampilan sama denganku, namun mereka berani. Mereka mendapatkan perhatian dan pengakuan sebagai wanita alim dan cantik sempurna.

Aku menyaksikan bagaimana pria-pria di kolom komentar memuja dan mendamba, dan bagaimana para Ukhti itu memanen hadiah (gift) yang sangat besar, sebuah transaksi yang kotor, tetapi aku melihat ke anehan di sana. Aku tidak tau kenapa mereka hanya untuk gift yang tak seberapa bagiku tapi dia mau-mau saja merendahkan dirinya sendiri.

Aku tahu, itu salah. Itu adalah dosa besar. apia da rasa iri yang muncul. Iri karena mereka mendapatkan perhatian yang begitu besar, pengakuan yang begitu total dari para lelaki. Di dunia nyata, aku dihormati, tapi tidak pernah didamba. Aku dikagumi, tapi tidak pernah diinginkan. Semua yang ada padaku hanya sebatas topeng, sebuah citra yang harus kujaga.

Di depan layar HP, aku bisa melihat sisi lain diriku. Sisi yang liar, yang ingin disembah. Sisi yang ingin tahu, seberapa jauh aku bisa melangkah. Aku tidak butuh uang, tetapi aku butuh pengakuan. Aku butuh sensasi di dambakan.

Suatu sore, aku sedang menonton live streaming seorang Ukhti bercadar yang sangat liar. Dia merespons setiap komentar genit dengan tawa kecil, dan sesekali menggoyangkan pinggulnya di balik gamis ketat yang ia kenakan. Tiba-tiba, dia mengucapkan sesuatu yang membuatku tercekat.

“Kalau kalian mau lihat lebih, kasih aku singa!” serunya, tawanya terdengar genit.

Seketika, kolom komentar heboh. Dalam hitungan detik, notifikasi gift besar muncul, seekor ‘Singa’ yang harganya sangat mahal. Aku terkejut.

Ukhti itu menyeringai, sebuah senyum kemenangan yang membuatku bergidik. “Terima kasih, Mas Bims,” ucapnya, suaranya parau, penuh gairah.

Mendengar nama itu, entah mengapa, jantungku berdebar kencang. Mas Bims. Pria itu begitu berkuasa, hanya dengan uang, ia bisa mengendalikan wanita itu.

Ukhti itu menepati janjinya. Dengan gerakan yang lebih berani, ia mulai meremas payudaranya sendiri dari luar gamis. Ekspresinya yang memejamkan mata, rintihan kecil yang keluar dari bibirnya, semua itu membuatku gila.

Aku mematikan ponselku, tubuhku gemetar. Rasa jijik dan hasrat yang tak terbendung beradu di dalam diriku. Aku tahu, aku tidak bisa lagi menolak. Aku ingin tahu, aku ingin merasakannya. Aku ingin menjadi Ukhti yang berkuasa, yang diidam-idamkan para lelaki. Aku ingin mendengar namaku disebut dengan penuh gairah oleh pria seperti Mas Bims.

Aku merenung. Di umurku yang sekarang, aku belum pernah sama sekali berhubungan maupun kontak fisik yang intim dengan pria. Jangankan disentuh, berdekatan dalam jarak yang terlalu dekat saja sudah membuatku gelisah.

Di masa-masa umurku sekarang, sejujurnya, aku mempunyai keinginan untuk bersama lelaki. Aku ingin cepat-cepat nikah, membangun rumah tangga, menjadi ibu. Tapi, lelaki pada takut mendekatiku karena aku mungkin terlalu tertutup. Cadar dan gamis ini adalah tembok tinggi yang kuciptakan sendiri. Mereka melihatku sebagai bidadari suci yang tak akan bisa dia gapai.

Aku tidur dengan gelisah. Bayangan Ukhti dengan pinggul bergoyang, rintihan sensual, dan nama ‘Mas Bims’ terus membayangiku. Aku ingin dipuji, didamba, dan diakui sebagai wanita yang cantik secara fisik.

Bersambung...


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com