𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟓𝟔 𝐋𝐢𝐛𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐊𝐞 𝐏𝐚𝐧𝐭𝐚𝐢

Aku mencium pipi Mas Dimas, napasku masih memburu. "Ahhh... iya, Mas. Adek nurut sama Mas," bisikku, suaraku parau. Aku merasakan penisnya yang masih kokoh dan keras di dalam vaginaku, sebuah bukti nyata dari perubahan dirinya. "Mas belum keluar, ya? Adek sudah keluar dua kali," tanyaku, sedikit takjub.

"Belum, Dek," jawabnya, suaranya dalam dan serak, penuh kendali. "Mas mau puasin Adek dulu. Mas mau bikin Adek keenakan."

Aku menatapnya, ada air mata yang menggenang di mataku. "Mas enggak capek baru pulang dari Bali langsung muasin Adek? Mas kuat banget sekarang. Adek enggak nyangka," ucapku, benar-benar merasa takjub dengan vitalitasnya yang baru.

Mas Dimas menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang, tangan besarnya memeluk punggungku dengan erat. "Mas berubah demi Adek. Mas sangat sayang sama Adek. Mas akan selalu bikin Adek puas," bisiknya, suaranya kini kembali melembut, menusuk jauh ke dalam hatiku.

Aku memeluk dada bidangnya, menyandarkan kepalaku. Air mataku tumpah, membasahi kulitnya. Aku menangis, bukan karena sakit, tapi karena kata-kata Mas Dimas barusan. Aku merasa bersalah, rasa jijik yang luar biasa terhadap diriku sendiri menyergap. Mas Dimas, demi aku, melakukan segalanya, mencari kekuatan yang tak pernah ia miliki, dan justru aku bermain dengan pria lain, mengkhianatinya di belakang layar. Aku merasa kotor, hina.

Tapi di sisi lain, di tengah rasa bersalah itu, aku merasa sangat dicintai oleh Mas Dimas. Ini adalah cinta yang menuntut, yang ingin mengendalikan, tapi terasa begitu nyata dan total.

Sensasi penisnya yang masih tertancap di dalam vaginaku terasa begitu kuat, begitu sempurna. Aku tidak ingin berhenti terlalu lama, aku harus memuaskan suamiku ini. Aku kembali menggerakkan pinggulku pelan, dengan masih memeluk dada Mas Dimas. Aku perlahan menggoyangkan pantatku maju mundur, mulai memompanya kembali. Aku ingin memuaskan Mas Dimas.

"Ahh... Mas... Adek mau Mas juga puas... Adek yang akan puasin Mas sekarang," bisikku di telinganya, suaraku terdengar penuh pengakuan.

"Iya, Sayang. Adek memang yang terbaik... Goyang terus, Dek. Mas suka goyangan Adek yang liar ini," desahnya, tangannya kini meremas pantatku, membantuku menjaga ritme.

Aku menggenjotnya semakin cepat, dengan gerakan memutar dan menekan, mencoba membalas semua kenikmatan yang ia berikan. "Ahhh! Mas! Kontol Mas enak banget! Aku suka! Aku suka jadi istri Mas yang liar! Ahh!"

"Ahh, Dek! Terus! Kencengin, Sayang! Ahh! Adek memang gila! Mas suka kamu yang seperti ini!" Suara Mas Dimas menggelegar, menunjukkan bahwa ia juga sudah berada di ambang puncak, dan aku semakin intens memompanya, melampiaskan sisa-sisa hasrat yang masih membara.

Aku memejamkan mata, merasakan tangan Mas Dimas kini meremas payudaraku dengan kencang, cengkeramannya terasa posesif dan menuntut, menegaskan kepemilikannya. "Ahh! Mas! Kenceng banget!" rintihku, namun aku terus menggoyangkan pinggulku, memompa tubuhku dengan liar, menikmati setiap sentuhan yang ia berikan.

Dia tidak puas hanya meremas. Mas Dimas bangkit sedikit, menunduk, dan mengulum puting payudaraku dengan ganas. "Enak, Sayang... Aku suka ini... Nenen Adek ini buat Mas, bukan buat siapa-siapa lagi!" desahnya, suaranya serak. Kami berdua mendesah, suara kami bercampur menjadi satu melodi hasrat. Sensasi ganda, genjotan di dalam dan isapan di luar, membuat tubuhku melengkung.

"Ahh, Dek! Mas sudah enggak tahan!" erangnya, suaranya menggelegar, menunjukkan bahwa ia sudah mencapai ambang batas.

Kemudian, Mas Dimas bangkit. Mendorongku ke belakang, Kemudian Melepaskan penisnya dari vaginaku, ia menyuruhku merangkak. Aku menurut, mengikuti setiap perintahnya. "Nungging, Sayang. Biar Mas lihat pantat mulusmu yang bikin Mas gila itu!"

Aku memosisikan tubuhku merangkak, pantatku menungging sempurna, membuat vaginaku semakin terlihat sempurna dari belakang. Mas Dimas kembali memasukkan penisnya ke dalam vaginaku dengan hentakan yang keras dan brutal. "Ahhh! Tiara Sayang..!"

Dia langsung menggenjot dengan tempo yang memburu dan tanpa ampun. Tangan besarnya mencengkeram pinggulku, menahanku dari hentakan brutal yang ia ciptakan. "Plok! Plok! Plok!" Suara tabrakan kulit kami terdengar nyaring, memompa gairah kami semakin tinggi.

"Rasakan ini, Sayang! Kontol Mas yang ini! Kontol suamimu! Aku akan buktikan siapa yang paling bisa muasin kamu!" erangnya, suaranya kini benar-benar liar dan gelap. Terkadang, tangannya terlepas dari pinggulku dan menampar pantat mulusku. "Plak!" Suara tamparan itu membuatku tersentak, namun justru menambah sensasi liar yang memabukkan.

"Ahh! Mas! Keras banget! Terus! Aku suka! Ahhh!" Aku menjerit, tubuhku merespons setiap sentuhan dominasinya.

Mas Dimas mengerang, suaranya serak dan putus asa. "Dek! Aku mau keluar! Aku enggak kuat nahan enaknya memek Adek! Ahhh!"

"Ahh, iya Mas! Adek juga mau keluar! Bareng, Mas! Ahhh!"

Gerakannya semakin brutal dan cepat, mendorongku ke titik batas. Kami berdua mencapai klimaks hampir bersamaan. Aku menjerit panjang, tubuhku kejang hebat. "Ahhhhhhh! Adek Keluaarrrr!" Dan kemudian, kurasakan gelombang panas yang membanjiri setiap inci vaginaku, sebuah luapan yang kuat dan memuaskan. "Ahhh... Crott... Crott... Mas juga keluar di dalam Adek! Ahhh... Nikmat!" erangnya, tubuhnya menekan kuat ke punggungku, memuntahkan spermanya di dalam vaginaku.

Setelah orgasme mereda, Mas Dimas melepaskan tangannya dari pinggulku. Tubuhku lemas, ambruk ke depan di atas ranjang, terengah-engah. Dia mencabut penisnya, dan ambruk terlentang di sampingku.

"Hah... hah... Terima kasih, Dek," ucap Mas Dimas, suaranya serak, dipenuhi kepuasan yang mendalam.

Aku membalikkan tubuhku, merangkak sedikit, dan memeluknya. "Sama-sama, Mas... Aku... aku puas banget. Mas hebat... Adek enggak akan nakal sama pria lain lagi. Adek cuma mau Mas... dan penis Mas yang hebat ini," bisikku, sepenuhnya menyerah pada dominasinya. Aku menyandarkan kepala di dada Mas Dimas, menikmati sisa-sisa kehangatan dari kontol barunya.

Tak sadar, hari sudah malam. Kelelahan yang luar biasa dan kepuasan yang memabukkan menenggelamkan kami berdua. Kami tertidur lelap tanpa sempat membersihkan diri, tubuh kami masih saling memeluk, terbalut keringat dan sisa-sisa gairah yang telah kami lampiaskan.

Pagi harinya, aku merasakan kehangatan dan guncangan lembut di bahuku. Mas Dimas sudah bangun duluan. "Dek, bangun, Sayang," bisiknya, suaranya serak dan lembut, "Yuk, kita shalat Subuh berjamaah."

Aku terkesiap, lalu membuka mata. Suatu kegiatan yang jarang sekali kami lakukan, berawal dari keintiman yang luar biasa semalam. Aku merasakan hati yang menghangat dan diliputi rasa syukur yang aneh.

Kami mandi bergantian, Setelah selesai, mengambil air wudu, kami menunaikan salat. Gerakan kami terasa khusyuk, namun di balik itu, aku merasakan koneksi yang dalam dengannya, koneksi yang sudah lama kurindukan. Selesai shalat, aku segera salim ke Mas Dimas. Aku mencium tangannya, merasakan hubungan kami semakin mesra dan intim, seolah semua kegilaan yang terjadi sebelumnya telah membuka jalan bagi keharmonisan yang baru dan lebih jujur.

Aku bangkit, berjalan ke dapur. Aku membuka kulkas mengambil sisa bumbu nasi goreng yang sudah kuracik kemarin, bumbu yang penuh kenangan dari pertemuan gila dan rahasia. Dengan cepat, aku mulai memasak. Aroma bawang merah, cabai, dan rempah-rempah yang menggugah selera memenuhi dapur.

Setelah nasi goreng matang dan mengepul, aku membawanya ke meja makan. Aku berjalan ke kamar, memanggil Mas Dimas. "Mas, nasi gorengnya sudah jadi. Ayo, sarapan dulu, Sayang," panggilku, suaraku terdengar ceria.

Dia berjalan ke ruang makan, tersenyum, senyum yang kini terlihat lebih tulus dan penuh makna. Kami berdua duduk, menikmati sarapan bersama.

Mas Dimas menyendok nasi goreng, mencicipinya, lalu menatapku. "Dek. Nasi goreng Adek memang paling enak," pujinya. "Mas jadi semangat banget hari ini."

"Semangat kenapa, Mas?" godaku, suaraku manja.

Mas Dimas tersenyum misterius, mencondongkan tubuhnya ke arahku di seberang meja makan. "Semangat buat menjalani hari-hari dengan Adek, hehe," godanya, matanya memancarkan gairah yang sama seperti semalam.

Aku menunduk, wajahku terasa panas. "Ihh, Mas. Jangan gitu ah. Malu... Tapi... iya, Mas. Masih kerasa banget. Mas hebat banget kemarin," jawabku, jujur dan sedikit malu-malu, mengingat sensasi penisnya yang baru dan perkasa.

"Hehe, iya dong, Dek," dia tertawa kecil. "Mas berubah seperti ini karena ingin menjadi suami yang baik buat Adek. Biar Adek enggak repot-repot cari laki-laki lain kalau lagi pengen."

Kalimatnya menusuk, sebuah pengakuan yang begitu blak-blakan. Aku memejamkan mata sejenak, menahan air mata yang mendesak keluar, diliputi rasa bersalah yang teramat dalam. Namun, rasa cintanya yang begitu besar membuatku merasa hangat. "Hehe. Iya, Mas. Terima kasih banyak ya, Mas," ucapku, suaraku terdengar tulus.

Aku menyadari sesuatu. "Mas, hari ini kerja? Enggak capek, Mas, habis dari Bali langsung kerja lagi?" tanyaku, khawatir.

"Enggak, Dek. Mas dapat cuti 3 hari dari kantor," jawabnya santai.

"Wihh, enak dong, Mas," seruku, mataku berbinar.

"Enak, Dek. Gimana kalau kita pakai buat liburan, Dek?"

"Liburan ke mana, Mas?"

Dia meletakkan sendoknya, menatapku dengan antusiasme yang sudah lama tak kulihat. "Ke gunung atau ke pantai gitu. Adek suka mana?"

"Adek suka pantai sih, Mas," jawabku cepat.

"Yaudah, kita ke pantai yuk, Dek. Kita cari resort yang dekat sama pantai. Yang kamarnya menghadap laut, biar bisa main sambil lihat sunset," usulnya, senyumnya kini penuh dengan janji kenakalan.

Aku merasakan sekujur tubuhku menghangat. Bayangan resort mewah, pemandangan laut, dan sentuhan liar Mas Dimas yang baru membuat hasratku memuncak lagi. "Iyaa, Mas ayok! Kapan?" tanyaku, nadaku terdengar tak sabar.

"Nanti sore aja kita berangkat. Kita siap-siapin barang dulu. Tapi, sebelum itu, sini dulu, Sayang..." Mas Dimas bangkit dari kursinya, lalu berjalan mengelilingi meja, menghampiriku.

Dia menarikku dari kursi, memeluk pinggangku erat. "Mas kasih bonus dulu, ya. Bonus selamat datang karena Mas sudah pulang," bisiknya.

Dia menunduk, bibirnya langsung mendarat di bibirku. Ciumannya lembut, namun penuh janji. Tangannya dengan nakal meremas pantatku. "Mmmhh..." desahku, membalas ciumannya dengan liar.

"Adek! Ahh... Mas suka kamu yang begini. Kamu memang seksi banget," bisiknya, melepaskan ciuman, lalu menciumi leherku.

Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut. "Iya, Mas... Terus, Sayang... Aku mau Mas," rintihku, kakiku sudah melingkari pinggangnya secara otomatis.

Mas Dimas menyeringai, "Oke, Dek. Kita istirahat dulu, baru siap-siap. Biar Adek enggak capek ngemasin barang nya, hehe. Jangan sampai Mas enggak dapat jatah di pantai nanti gara-gara Adek kecapekan."

"Aku enggak janji, Mas, hehe," balasku, tertawa, tawa yang penuh godaan dan hasrat yang tak terkendali. Kegembiraan memuncak di dadaku, sebuah babak baru kenakalan yang akan kami ciptakan bersama.

Kami berdua selesai makan. Aku bergegas ke dapur untuk membereskan piring kotor. Sambil mencuci, pikiranku sudah melayang ke pantai, membayangkan deburan ombak berpadu dengan sentuhan liar Mas Dimas. Aku ingin 'penis baru'-nya ini semakin menggilai diriku. Setelah semua piring bersih, aku kembali ke kamar.

Kulihat Mas Dimas sudah merebahkan diri di ranjang. Aku tersenyum, lalu mulai menyiapkan beberapa perlengkapan dan baju-baju yang akan kubawa untuk tiga hari ke depan. Aku memilih gamis-gamis yang santai untuk di perjalanan, tetapi untuk malam hari... aku sengaja memasukkan lingerie merah transparan yang dikirim Mas Bims dulu, serta beberapa pakaian yang lebih terbuka. Aku ingin kejutan ini semakin menyenangkan untuk suamiku.

Sambil melipat baju, Mas Dimas membuka mata dan menatapku. "Adek packing apa aja, Sayang? Kok lama banget," tanyanya, suaranya serak.

"Ini, Mas. Aku siapin yang spesial buat Mas di sana," godaku, meliriknya dengan senyum nakal. Aku mendekat ke sisi ranjang, membungkuk sedikit ke arahnya. "Nanti di pantai, Mas enggak akan mau lepas dari Adek," bisikku.

Mas Dimas tertawa pelan, lalu menarik tanganku. "Sini. Packing-nya nanti saja. Mas mau peluk Adek dulu. Mas enggak bisa tidur kalau enggak peluk Adek," katanya, nada suaranya penuh manja, namun matanya memancarkan gairah yang sama seperti semalam.

Aku membiarkan diriku ditarik. "Ihh, Mas, sebentar lagi aku mau tidur juga," kataku, meskipun aku tidak menolak. Aku merebahkan diri di sebelah Mas Dimas. Dia langsung memelukku erat, menempelkan tubuhnya. Aku bisa merasakan penisnya yang masih kokoh dan keras menekan pinggulku.

"Mas... Ahh... Penis Mas masih keras aja," bisikku, meraba-raba area selangkangannya. "Adek jadi pengen main lagi sebelum berangkat, Mas."

Mas Dimas tertawa, "Mas juga, Sayang. Tapi nanti Mas enggak kuat jalan kalau main lagi. Kita hemat energi buat di pantai, ya. Biar Mas bisa genjot Adek lebih lama," katanya, lalu mencium puncak kepalaku.

Aku hanya mendesah, pasrah. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya, membiarkan kehangatan tubuhnya meredakan hasrat yang kembali membuncah. "Iya, Mas. Adek nurut. Kita tidur, biar nanti perjalanan aku juga fresh," bisikku, memejamkan mata, membiarkan diriku terlelap dalam pelukannya yang hangat dan penuh janji. Aku tahu, tiga hari ke depan akan menjadi petualangan terliar dalam hidupku.

Kami terbangun dari tidur lelap yang memuaskan, saat sinar matahari sudah meninggi. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. "Dek, bangun, Sayang," suara Mas Dimas serak, membangunkan aku. "Kita kesiangan, yuk, sholat Dzuhur dulu," ajaknya.

Aku segera bangkit. Setelah mengambil air wudhu, kami sholat Dzuhur berjamaah. Setelah itu, aku langsung bersiap untuk packing. Aku mulai memasukkan baju-baju Mas Dimas ke dalam kopernya, sementara ia mandi. Aku melipat kemeja dan celananya, lalu beberapa baju kasual. Setelah selesai, aku beranjak ke kamar mandi.

Mas Dimas baru saja selesai mandi, tubuhnya hanya terbalut handuk. Dia menatapku. "Udah semua, Dek? Sekarang gantian Adek yang mandi. Biar seger," katanya, sambil menyeringai.

Aku mengangguk, dan segera masuk ke kamar mandi. Kurasakan air hangat membasuh tubuhku, membersihkan sisa-sisa keringat dan gairah semalam. Setelah mandi, aku memilih gamis lebar berwarna krem dengan motif bunga, dipadukan dengan jilbab lebar senada, dan tak lupa cadar. Penampilan ini terasa seperti penyamaran, menyembunyikan sisi liar yang baru saja kubagi dengannya.

Aku keluar, Mas Dimas sudah berpakaian rapi dan tampan. Dia melihatku dan tersenyum puas. "Cantik banget, Sayang. Yuk, Dek, kita berangkat. Kopernya udah Mas masukin mobil semua," ajaknya, penuh semangat.

Kami berdua keluar rumah. Aku mengunci pintu dan memastikan semuanya aman, lalu masuk ke dalam mobil. Kami pun berangkat.

Perjalanan di jalan tol terasa menyenangkan. Pemandangan di sisi kiri dan kanan jalan begitu memanjakan mata, perpaduan antara hijaunya persawahan dan birunya pegunungan. "Mas, pemandangannya indah banget," ujarku, hatiku dipenuhi rasa syukur.

"Iya, Dek. Mas juga senang lihat Adek senyum terus," jawab Mas Dimas, tangannya meraih tanganku, menggenggamnya erat.

Setelah perjalanan kurang lebih empat jam, akhirnya kami sampai di sebuah resort mewah. Aku langsung terpukau. Resort itu besar sekali, dengan arsitektur yang elegan, dan lokasinya pas di pinggir pantai.

"Masya Allah, Mas! Bagus sekali tempatnyaa..." seruku, mataku berbinar menatap hamparan pasir putih dan deburan ombak di depan mata.

Mas Dimas tertawa puas melihat reaksiku. "Iya, Dek. Berlibur sama Adek harus pilih penginapan yang terbaik. Mas mau, selama tiga hari ini, Adek benar-benar rileks dan happy," jawabnya, nadanya penuh cinta dan janji. "Dan tentu saja... Mas bisa puasin Adek dengan view yang paling indah, hehe."

Aku menyikut lengannya pelan. "Ihh, Mas! Ada-ada aja," godaku, wajahku memerah, namun senyumku tak bisa kusembunyikan. "Makasih banyak ya, Mas. Aku sayang Mas."

"Mas lebih sayang Adek," balasnya, lalu ia menghela napas panjang. "Yuk, kita check-in. Mas sudah enggak sabar mau bawa Adek ke dalam kamar, dan lihat pemandangan dari balkon kita." bisiknya.

Mas Dimas segera berjalan ke meja resepsionis untuk check-in. Aku menunggunya sambil duduk di kursi lobi, tak sabar ingin segera melihat kamar kami. Setelah mendapatkan kunci, ia kembali menghampiriku. "Ayo, Dek. Kamar kita sudah siap," ajaknya, senyumnya penuh janji.

Kami pun menuju kamar. Begitu Mas Dimas membuka pintu, aku langsung takjub. Kamarnya indah banget! Desainnya elegan dengan pencahayaan temaram, dan nuansa kayu yang hangat.

Aku segera meletakkan tas dan bergegas membuka koper, menaruh baju-baju di lemari. Setelah itu, aku langsung menuju balkon. Aku lebih takjub lagi. Pemandangannya sangat indah dilihat dari atas sini. Walaupun sudah malam, pantainya sangat eksotis di bawah sinar rembulan, dan suara deru ombak terdengar merdu, menciptakan simfoni yang menenangkan. "Masya Allah, Mas... indah banget..." ucapku, takjub. Aku enggak sabar besok pagi mau main ke sana.

Tiba-tiba, Mas Dimas sudah berada di belakangku. Dia memelukku erat dari belakang. Aku bisa merasakan penisnya yang keras dan tegak langsung menempel di pantatku. Tangannya melingkari perutku, mengelusnya lembut. "Kamu suka, Sayang?" bisiknya, suaranya serak, penuh hasrat.

"Suka banget, Mas," jawabku, tubuhku mulai merespons sentuhannya.

Tangannya tak berhenti di perut. Perlahan, ia naik, meraih payudaraku yang besar dan kenyal. "Aku lebih suka pemandangan Adek di sini, Sayang. Apalagi kalau sudah begini," bisiknya lagi, sambil meremas payudaraku.

"Ahhh... Mas! Enak..." rintihku, memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perpaduan sentuhan dominan dan suara deburan ombak. "Jangan di sini, Mas. Nanti ada yang lihat," ujarku, pura-pura khawatir.

Mas Dimas tertawa gelap. "Enggak ada yang lihat, Sayang. Di sini cuma ada Adek, Mas, dan view terindah ini. Adek tahu kan, Mas sudah enggak sabar mau ngetes lagi kekuatan baru Mas di tubuh Adek," Dia terus meremas payudaraku, cengkeramannya semakin menuntut. "Ayo, Sayang. Kita mulai petualangan baru kita di sini."

"Ayo, Mas!" rintihku, merasakan desakan hasrat dari penisnya yang tegak di pantatku.

Tapi, malah kemudian Mas Dimas melepaskan pelukannya, menarik napas panjang. "Hehe. Kita makan dulu, ya, Sayang. Mas lapar banget, nanti takut pingsan kalau ngentot dalam keadaan lapar, haha," godanya, tawanya renyah.

"Hehe, Mas ihh, ada-ada aja. Yaudah, ayok, Mas. Makan di mana?" tanyaku, sedikit kecewa namun tetap mengikuti kemauannya.

"Di restoran bawah aja, Dek," jawabnya, menggandeng tanganku keluar dari kamar.

Kami keluar kamar, menuruni tangga menuju ke restoran. View di restoran itu tidak kalah bagus dari kamar kami. Di samping restoran ada kolam renang yang biru dan view hamparan pasir putih yang memukau.

Kami memesan makanan. Aku minta bebek goreng, dan Mas Dimas minta soto. Kami pun duduk di meja, menghadap langsung ke pantai.

Di sana, banyak orang bermain pasir. Kulihat banyak pasangan muda-mudi yang terlihat kasmaran. Pemandangan itu membuatku tersenyum.

Namun, saat aku melihat-lihat di sekeliling pantai, ada yang aneh. Di kejauhan, ada sekelompok laki-laki bermain pasir. Jumlahnya sekitar lima orang. Dan yang membuatku terkesiap, ada satu wanita berhijab syar'i yang ikut bermain pasir bersama mereka. Wanita itu dikelilingi oleh lima laki-laki tersebut.

"Duhh, kenapa pikiranku aneh-aneh aja, sih," batinku, mencoba mengusir pikiran liarku. Apakah mereka saudara? Atau teman? Atau justru wanita itu mempunyai skandal dengan lima laki-laki itu? Aku merasakan sensasi yang familiar, sebuah campuran antara rasa ingin tahu dan hasrat yang aneh.

Mas Dimas menyadari keheninganku. Dia menoleh, mengikuti arah pandangku. "Kenapa, Sayang? Kok Adek melamun?" tanyanya, suaranya lembut.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan. "Enggak, Mas. Itu, lho, aku lihat ada cewek bercadar main di pantai dikelilingi lima cowok, aku jadi mikir, duh, berani banget ya dia," ucapku, nadaku dibuat polos.

Mas Dimas tersenyum misterius. "Berani kenapa, Dek? Mungkin itu saudara-saudaranya, kan. Lagian, Adek juga enggak kalah berani, kan? Dengan segala rahasia Adek yang liar itu, hehe," bisiknya, suaranya kembali serak dan menggoda, mengingatkanku bahwa ia tahu semua kegilaanku.

Aku menyikut lengannya lagi, wajahku memanas. "Ihh, Mas! Jangan gitu ah! Aku kan cuma sama Mas," balasku, meskipun aku tahu itu adalah kebohongan manis yang ia sukai. "Mas, kita makan dulu, yuk. Sudah lapar banget, nih."

"Iya, Sayang. Makan dulu," katanya, namun matanya masih memancarkan gairah. "Nanti kalau sudah selesai, Mas janji, kita akan buat pemandangan yang lebih indah dari ini di kamar kita."

Aku mengangguk, hatiku berdebar tak karuan. Sambil menikmati bebek gorengku, sesekali mataku kembali melirik ke pantai, ke sosok wanita bercadar yang dikelilingi lima pria itu. Aku tidak bisa mengabaikan mereka, seolah-olah mereka adalah cerminan diriku di masa lalu, cerminan dari petualangan liar yang kini sudah kutinggalkan, demi suamiku yang kini perkasa dan dominan ini.

Bersambungg....


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com