Keesokan harinya, aku bangun dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa takut, tetapi gairah untuk melakukan hal terlarang jauh lebih besar. Setelah shalat Subuh, aku menghabiskan waktu dengan merias diri, sesuatu yang jarang kulakukan. Bedak tipis, lipstik warna natural di balik cadar, dan eyeliner yang membuat mata indahku terlihat lebih tajam dan memikat.
Sore hari, Saat tiba waktunya mengajar di TPQ, aku mengenakan gamis abu-abu baruku. Gamis itu terasa dingin, licin, dan membalut tubuhku dengan sempurna. Payudaraku terasa padat dan menonjol, membuatku sadar akan setiap langkah yang kuambil.
Aku juga mengenakan jilbab lebarku, tetapi kali ini, aku sengaja menyampirkannya sedikit ke belakang, agar siluet lekukan dada dan payudaraku sedikit lebih terlihat.
Aku meninggalkan rumah. Aku berjalan dengan langkah yang lebih percaya diri. Setiap gesekan kain gamis di tubuhku memicu sensasi aneh.
TPQ itu berada di pinggir komplek perumahan elit, tidak jauh dari pos security. Saat aku berjalan melewati pos, aku melihat Pak Rahmat sedang bertugas.
Deg!
Melihat Pak Rahmat membuatku teringat akan penis tegangnya semalam. Rasa malu itu masih ada, tetapi rasa menang karena kehadiranku bisa membuatnya ngaceng juga ikut membuncah.
Pak Rahmat, yang tadi sibuk mengutak-atik ponselnya, mendongak. Matanya langsung tertuju padaku. Tatapannya berbeda dari biasanya. Dia menatapku dari kepala hingga kaki, seolah menelanjangiku di balik gamis baruku. Matanya menyipit, bibirnya menyunggingkan senyum yang penuh arti.
Aku tidak menyapanya. Aku hanya berjalan melewatinya dengan langkah anggun. Aku merasakan gamis licinku yang mencetak payudaraku dan pinggulku seolah berteriak.
"Assalamualaikum, Ukhti Zahra," sapa Pak Rahmat, suaranya serak, nadanya sedikit menggoda.
Aku membalas salamnya singkat tanpa berhenti, "Wa’alaikumsalam, Pak," jawabku, suaraku kuusahakan tetap tenang.
Aku tidak menoleh ke belakang, tetapi aku tahu, Pak Rahmat pasti sedang menatap punggungku dan pantatku yang tercetak jelas oleh gamis abu-abu ini. Aku menyeringai di balik cadar. Aku mendapatkan pengakuan liar pertamaku hari ini, dan itu membuatku merasa berkuasa.
Sekitar jam empat, kegiatan mengaji di TPQ selesai. Aku berdiri di depan pintu, mengawasi murid-muridku dijemput.
Aku berdiri tegak. Gamis abu-abu ini terasa memeluk tubuhku. Aku membiarkan cahayanya yang lembut menerangi sedikit lekuk tubuhku. Aku merasakan tatapan orang tua murid yang menjemput anak-anak mereka. Biasanya, mereka melihatku sebagai Ustadzah yang dihormati, kini, tatapan mereka terasa sedikit lebih lama.
Semua murid telah bubar, kecuali satu. Aisyah, dan bapaknya, Pak Bayu.
Pak Bayu berjalan mendekat ke arahku. Ia mengenakan kemeja yang sama seperti kemarin, kemeja yang lagi-lagi memperlihatkan urat kekar di lengannya.
“Assalamualaikum, Ukhti Zahra,” sapa Pak Bayu, suaranya dalam dan ramah, tulus seperti biasa.
“Wa’alaikumsalam, Pak Bayu,” jawabku, suaraku kuusahakan selembut mungkin, tetapi ada getaran yang tidak bisa kusembunyikan.
"Terima kasih sudah mengajar Aisyah hari ini, Ukhti. Maaf merepotkan," katanya.
"Sama-sama, Pak. Itu sudah kewajiban saya. Aisyah hari ini sudah bagus hafalannya," kataku.
Aku berdiri di depannya. Aku sengaja tidak menjaga jarak terlalu jauh, tetapi juga tidak terlalu dekat. Cukup dekat untuk membuat ia melihat perbedaan pada diriku.
Pak Bayu mengangguk, senyumnya tulus. Namun, kali ini, senyum itu perlahan memudar. Matanya, yang biasanya hanya menatap mataku, kini turun.
Matanya terfokus pada gamis abu-abuku. Lebih tepatnya, pada siluet payudaraku yang besar yang tercetak jelas di balik kain licin itu. Aku bisa merasakan tatapannya menelanjangiku, meskipun ia mencoba menyembunyikannya. Pemandangan ini jauh lebih nyata dan membuatku merasa deg-deg an daripada sentuhan Pak Hasan atau erangan Pak Rahmat.
Jantungku berdebar kencang. Ia melihatku! Tatapannya tidak lagi tulus, melainkan bercampur dengan hasrat yang tersembunyi.
Pak Bayu segera mengalihkan pandangan, wajahnya sedikit memerah. Ia berdeham, mencoba menguasai dirinya. Ia mencondongkan tubuhnya, sedikit ke arahku.
“Ukhti… gamisnya… bagus sekali,” bisiknya, suaranya serak, bukan lagi karena keramahan, melainkan karena getaran hasrat yang tertahan. “Warnanya bagus.”
Aku menelan ludah. Pujian itu, meskipun terdengar sopan, terasa sangat vulgar. Ia tidak memuji gamisku, ia memuji apa yang dicetak gamis itu.
Aku tersenyum lembut di balik cadar. “Alhamdulillah, Pak. Ini gamis baru.”
Pak Bayu kembali mengangguk, matanya kembali turun sejenak, lalu cepat-cepat kembali menatap mataku.
“Ukhti… emm… kelihatan… ya… lebih… segar hari ini,” katanya, mencoba mencari kata-kata yang aman, tetapi kegugupannya begitu kentara.
Dia gagal menjaga pandangan. Yess Aku menang.
“Terima kasih, Pak Bayu,” jawabku, suaraku penuh kemenangan.
Pak Bayu segera berbalik, seolah takut akan dirinya sendiri. Ia menarik tangan Aisyah. “Kami permisi dulu, Ukhti. Assalamu’alaikum.”
Aku hanya bisa tersenyum. "Wa’alaikumsalam, Pak Bayu."
Aku menatap punggungnya yang tegap menjauh. Aku tahu. Aku tidak perlu menjadi Ukhti liar di Toktok. Aku hanya perlu membuat diriku sedikit menggoda, dan pria-pria di dunia nyata akan mendambaku, seperti Pak Bayu.
Sensasi damba itu kini terasa nyata, Aku berhasil. Aku telah membuat Pak Bayu, pria yang selama ini kusukai dan begitu menjaga dirinya, melanggar pandangannya.
Ini belum berakhir. Aku akan membuat Pak Bayu lebih liar lagi. Aku akan menjadi wanita yang di inginkan.
Aku pulang dan masuk ke dalam rumah kontrakan, menutup pintu, dan langsung merebahkan diri di kamar. Gamis abu-abu yang kupakai terasa licin dan dingin, tetapi tubuhku terasa panas. Aku masih bisa merasakan getaran dari tatapan Pak Bayu yang gagal menjaga pandangan. Aku telah menciptakan celah pada tembok yang kubangun sendiri.
Sensasi damba itu begitu kuat, begitu nyata, hingga membuatku melupakan kehinaan yang kurasakan semalam waktu bersama pak hasan dan pak rahmat. Aku telah membuat Pak Bayu terpengaruh oleh ke seksian tubuhku. Kemenangan ini memabukkan.
Setelah shalat Maghrib dan Isya, bukannya rasa tenang yang kudapatkan, hasrat itu malah semakin membuncah. Aku berusaha mencari kajian di Toktok, mencoba mengisi jiwaku dengan kesucian. Aku merebahkan diri di sofa yang sunyi , mulai nge-scroll aplikasi itu.
Awalnya, aku melihat live streaming kajian-kajian Islami. Aku mencari ketenangan yang kudapatkan setelah shalat tadi. Aku mencoba fokus, tetapi bayangan wajah Pak Bayu yang memerah dan tatapan liar Pak Rahmat terus mengganggu.
Tiba-tiba, saat aku men-scroll ke bawah, mataku menangkap sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih vulgar dari Ukhti bercadar liar yang kulihat kemarin. Layar ponselku menampilkan seorang wanita yang mengenakan pakaian yang sangat minim, hanya memakai tanktop, dengan bra-nya sedikit terlihat. Wajahnya penuh senyum genit, dan ia berbicara dengan nada manja kepada para penonton.
Aku merasa jijik, tetapi anehnya, aku tidak bisa mengalihkan pandangan. Aku terpaku. Wanita itu, dengan payudara yang besar dan padat, terlihat sangat percaya diri dengan pakaian terbukanya.
Kolom komentar dipenuhi oleh pujian vulgar dan gift yang berdatangan. Setiap kali ada gift yang besar, seperti Singa atau Paus, hadiah mahal yang kukenal dari live streaming Ukhti kemarin, wanita itu akan tertawa genit dan mulai menggoyangkan payudaranya yang besar dengan gerakan sensual.
"Aduh, terima kasih banyak, Ko Budi! Kamu memang yang terbaik!" serunya dengan suara parau, sambil menggoyangkan payudaranya sendiri.
Pemandangan itu begitu telanjang, begitu liar. Nafsu yang selama ini terpendam, yang baru saja kupercikkan pada Pak Bayu, kini meledak tak terkendali.
Aku mematikan suara ponselku, tetapi mataku tidak bisa lepas dari gerakan liar wanita itu. Aku menyaksikan bagaimana pria-pria di kolom komentar memuja dan mendamba, dan bagaimana wanita itu memanen hadiah.
Aku tidak butuh uangnya. Tetapi aku butuh sensasi yang ia berikan. Sensasi liar, pengakuan total atas kecantikan dan tubuh indahku.
Aku merasakan payudaraku sendiri mulai berdenyut di balik gamis. Tanganku bergerak refleks, menyelipkan ke balik kain. Jari-jariku yang gemetar menyentuh payudaraku yang besar dan padat.
Tekanan lembut pada payudara sendiri, sambil menyaksikan kebiadaban di layar, mengirimkan gelombang panas ke seluruh tubuhku. Aku mulai meremas, lebih kuat dari yang kulakukan di warung nasi goreng Pak Hasan. Aku ingin menirukan gerakan si host live itu, aku manggoyangkan dadaku ke kanan dank e kiri, aku ingin merasakan sensasi damba yang sama.
“Mmmhh... Ahhh...” rintihan lirih lolos dari bibirku, meskipun aku sudah berusaha keras menahan suara.
Aku semakin bernafsu. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku melengkung di sofa. Semua yang suci, semua rencana untuk menjadi Ustadzah Kajian Online, semua itu runtuh di hadapan hasrat yang membara ini.
Aku tahu ini salah. Ini adalah dosa besar.
Aku tidak tahan lagi. Nafsu ini begitu tinggi. Aku ingin meredakannya, ingin menghentikannya. Aku butuh pelampiasan, tetapi aku takut sendirian. Aku takut akan kembali terjerumus pada perbuatan liar seperti di warung nasi goreng atau pos security.
Aku ingin suci, tetapi aku ingin didamba.
Apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan hasrat nafsuku ini?
Tubuhku berkata, Sentuhan! Aku harus menemukan cara untuk meredakan hasrat ini, untuk menemukan pelampiasan yang terlarang namun memuaskan, tanpa harus mengundang pria lain ke dalam rumahku atau diriku lagi.
Aku menekan payudaraku lebih kuat, meremas putingku hingga menegang. Desahan parau lolos dari bibirku.
Aku butuh udara. Aku butuh kendali.
Aku bangkit, berjalan ke kamar mandi, membuka semua pakaianku, lalu membuka pancuran air dingin. Air dingin menghantam tubuhku, tetapi api hasrat ini tidak kunjung padam.
Aku keluar dari kamar mandi, tubuhku basah, terbungkus handuk. Aku berjalan ke cermin. Aku membuka handukku yang menutupi tubuhku, Aku menatap tubuhku yang terekspos. Payudaraku yang besar, pinggulku yang bagus, wajahku yang cantik dan hidung mancung. Inilah sumber dosa dan gairahku.
Aku harus mengunci hasrat ini. Aku harus meredakannya.
Aku mengambil handphone ku, mencari nomor telepon temanku yang dulu sering mengajakku keluar. Tidak. Aku tidak mau ganggu.
Tiba-tiba, mataku tertuju pada sebuah benda di meja rias: sebuah kuas makeup dengan gagang plastik yang panjang dan ramping.
Sebuah ide gila, sebuah pelampiasan yang kotor, melintas di benakku.
Jika aku tidak bisa mendapatkan sentuhan pria, aku akan menyentuh diriku sendiri.
Aku tidak tahan lagi. Aku harus mengunci hasrat ini.
Aku segera mematikan ponselku. Aku berjalan ke kasur. Aku hanya ingin memuaskan hasrat ini sendirian.
Aku meraba-raba area vaginaku, yang sudah terasa gatal dan basah sejak tadi. Aku menggerakkan tanganku. Aku membayangkan bukan tanganku, tetapi tangan Pak Bayu yang berurat kekar, atau tangan Pak Hasan yang kasar.
“Ahh… Mmmhh…” rintihku, memejamkan mata. Aku sepenuhnya hanyut, berusaha keras meredakan gejolak nafsu yang memuncak. Aku hanya ingin damai.
Aku telah menemukan cara untuk menghilangkan hasrat nafsuku: dengan melampiaskannya, sendirian.
Aku kembali meraih handphoneku. Aku tahu ini adalah langkah yang salah, tetapi aku butuh dorongan, butuh visualisasi, butuh pembenaran atas kegilaanku. Aku mencari akun host live yang berpakaian minim tadi. Aku scroll, scroll, dan terus scroll.
Aku tidak menemukannya. Namun, mataku menangkap live streaming lain yang jauh lebih berani, bahkan lebih aneh. Seorang wanita muda, wajahnya dirias tebal, mengenakan kostum Spiderman yang sangat ketat, mencetak seluruh lekuk tubuhnya yang sintal. Ia tertawa, berjoget, dan merespons komentar genit para pria.
Dan yang membuatku terkesiap, di tangan kanannya, ia memegang sebuah benda.
Benda itu terbuat dari silikon atau plastik tebal, berbentuk panjang, berurat, dan berwarna kulit. Itu adalah benda yang didesain agar mirip sekali dengan kemaluan pria. Aku yakin. Benda itu mirip sekali dengan penis Pak Rahmat yang kulihat semalam, tegang, membesar, dan sangat nyata. Hanya saja, benda di tangan wanita itu terlihat jauh lebih besar.
Ahh! Aku terkesiap, napasku tertahan.
Melihat visualisasi yang begitu vulgar, begitu nyata, langsung menghantamku. Rasa malu itu hilang ditelan gairah yang memuncak. Aku terangsang hebat.
Tanganku yang tadi sempat terdiam, kini bergerak liar. Aku mencengkeram payudaraku yang besar dan padat. Remasanku brutal, mencoba meniru setiap desahan yang keluar dari bibir wanita berkostum Spiderman itu.
Aku menyentuh area vaginaku. Jari-jariku yang gemetar mengelus vaginaku dari luar gamis yang kurasakan kini sudah sangat basah. Gesekan itu memicu desahan tertahan, tetapi itu tidak cukup. Aku butuh sentuhan yang lebih dalam, yang lebih menuntut.
Mataku kembali melirik ke meja rias. Di sana tergeletak sebuah benda yang tadi kulihat: gagang kuas makeup plastik yang panjang dan ramping.
Aku segera meraihnya. Bentuknya yang panjang mengingatkanku pada penis. Ya, pada penis Pak Rahmat. Aku tahu gagang kuas ini sedikit lebih kecil, lebih halus, tetapi di dalam imajinasiku, itu adalah dia. Itu adalah penis pak rahmat.
Aku memegangnya. Aku memejamkan mata. Sambil meremas payudaraku dengan tangan kiriku, aku mulai menggerakkan gagang kuas itu di area pangkal pahaku, menekan dan menggesek-geseknya di atas vaginaku yang basah dan berdenyut di balik kain gamis.
"Ahhh... Pak Rahmat... Lebih dalam..." rintihku, memanggil nama yang seharusnya kubenci.
Sensasi itu begitu kuat, begitu terlarang. Aku tidak peduli lagi. Aku ingin hasrat ini tuntas.
Aku meningkatkan ritme remasanku pada payudara. Aku menggesekkan gagang kuas itu lebih cepat. Aku melengkungkan tubuhku, membiarkan kenikmatan itu menguasai. Aku mencoba keras mencapai batas, mencoba keras meredakan gejolak nafsu ini.
Tetapi, meskipun aku sudah mencoba melampiaskannya, nafsu ini tak kunjung tuntas. Justru, sentuhan halus dari gagang kuas ini membuatku sadar akan satu hal: Aku butuh sentuhan yang nyata, dari kulit, dari seorang pria.
Aku membuka mata, napasku memburu. Air mata mengalir di pipiku, bukan karena penyesalan, tetapi karena frustrasi. Aku merasa terpenjara dalam hasratku sendiri.
Aku butuh pelampiasan nyata.
Aku bingung. Aku berdiri, mondar-mandir di kamar.
Ke mana aku harus pergi?
Apakah aku harus ke Warung Nasi Goreng Pak Hasan? Di sana, aku mendapatkan sentuhan fisik. Dia mengelus paha dan pinggulku. Dia menyingkap jilbabku dan melihat besarnya payudaraku. Dia membenarkan perbuatanku. Dia menawarkanku kenyamanan dan kepuasan.
Atau, apakah aku harus ke Pos Satpam Pak Rahmat? Dia menunjukkan hasratnya yang paling telanjang di hadapanku. Dia mengacungkan kemaluannya. Dia berbicara kotor tentang tubuhku. Dia melihatku sebagai wanita liar yang ingin dia setubuhi. Aku ingin kembali melihat tonjolan itu, ingin kembali mendengar erangan cabulnya.
Aku tidak butuh uang, aku butuh pengakuan liar, sentuhan terlarang, dan sensasi damba yang hanya bisa diberikan oleh salah satu dari mereka.
Aku menelan ludah. Jantungku berdebar kencang, memilih di antara dua pria yang telah meruntuhkan kesucianku.
Pikiranku sudah bulat. Aku ingin melihat penis lagi. Aku ingin ke Pos Satpam Pak Rahmat sekarang juga. Sensasi melihat tonjolan nyata itu, mendengar erangan cabulnya yang memanggil namaku, terasa lebih mendominasi daripada sentuhan Pak Hasan. Aku butuh pengakuan liar, dan Rahmat adalah orang yang paling berani memberikannya.
Aku melihat jam di dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Waktu yang sempurna. Aku segera bergerak.
Bersambungg...
