𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟎𝟕

 

Pak Karyo membantu Maya berbaring menyamping, menempatkan bantal di antara kakinya dan di belakang punggungnya. "Begini lebih nyaman, Bu. Tidak ada tekanan ke perut."

Maya terkesima dengan pengetahuan Pak Karyo. Bahkan dokter kandungannya hanya memberikan instruksi umum tentang berhubungan selama hamil, tidak sedetail ini.

"Dulu istri saya paling suka posisi begini," Pak Karyo berbisik di telinga Maya sambil berbaring di belakangnya, tubuh telanjangnya menempel pada punggung Maya. "Enak buat ibu hamil karena nggak ada beban."

Kejantanan Pak Karyo terasa keras dan panas menekan bokong Maya. Dengan lembut, Pak Karyo mengangkat kaki Maya sedikit, membuka akses ke area kewanitaannya.

"Pelan-pelan ya, Bu," bisik Pak Karyo, tangannya memandu kejantanannya ke pintu kewanitaan Maya yang sudah basah.

Maya mengangguk, menggigit bibir bawahnya saat merasakan kepala kejantanan Pak Karyo mulai masuk. "Ahhh," desahnya, sensasi penuh itu kembali dirasakannya.

"Enak, Bu?" tanya Pak Karyo, tangannya membelai perut Maya dengan lembut saat dia mulai mendorong masuk lebih dalam.

"Mmm, enak," Maya mengaku, matanya terpejam merasakan setiap inci kejantanan Pak Karyo masuk ke dalam dirinya. "Penuh... banget."

Pak Karyo mulai bergerak dengan ritme lambat dan hati-hati, tangannya tetap membelai perut Maya, sesekali naik untuk memainkan payudaranya yang sensitif. Posisi ini membuat penetrasinya tidak terlalu dalam, tapi sensasinya sangat intim—tubuh mereka menempel dari kepala hingga kaki.

"Kehamilan bikin tubuh ibu lebih sensitif ya?" bisik Pak Karyo, bibirnya mengecup lembut tengkuk Maya. "Rasanya lebih basah, lebih hangat."

Maya mengerang pelan, tidak mampu menyangkal pernyataan itu. Tubuhnya memang merespon Pak Karyo dengan intensitas yang mengejutkan. "Iya," bisiknya, "lebih... sensitif."

Pak Karyo menambah tempo dorongannya, tangan kirinya kini turun untuk membelai klitoris Maya, sementara tangan kanannya masih membelai payudaranya. Sensasi dari tiga titik sekaligus membuat Maya terengah-engah.

"Ah... ah... ah..." Maya mendesah seiring dengan setiap dorongan. Tangannya meraih ke belakang, mencengkeram paha Pak Karyo, mendorongnya lebih dekat.

"Enak, Bu?" Pak Karyo bertanya lagi, bibirnya kini menggigit lembut telinga Maya.

"Enak... sangat enak..." Maya mengaku, merasakan gelombang kenikmatan lain mulai membangun di dalam tubuhnya.

Pak Karyo terus bergerak, jarinya di klitoris Maya semakin cepat. "Bayinya juga senang," bisiknya, "merasakan ibunya bahagia."

Kata-kata itu, entah mengapa, menjadi pemicu bagi Maya. Gelombang orgasme kedua mulai membangun dengan cepat, lebih kuat dari sebelumnya.

"Mas..." kata itu terlepas dari bibir Maya tanpa sadar. "Mas Karyo..."

Gerakan Pak Karyo terhenti sejenak, terkejut mendengar panggilan itu lagi. Tapi kemudian dia melanjutkan dengan lebih bersemangat. "Iya, panggil saya begitu," bisiknya mendesak. "Panggil saya Mas."

"Mas... Mas Karyo..." Maya mengulangi, kini tanpa ragu. Nama itu terasa benar di lidahnya, terasa natural dalam keintiman mereka. "Lebih cepat, Mas... please..."

Pak Karyo menggeram puas, temponya meningkat, jarinya bergerak lebih cepat di klitoris Maya. "Iya, Dik," bisiknya, untuk pertama kalinya menggunakan panggilan itu. "Rasakan Mas... rasakan baik-baik..."

Panggilan "Dik" itu mengirimkan gelombang kejut ke seluruh tubuh Maya. Ada keintiman dalam sebutan itu, sesuatu yang sangat Jawa, sangat tradisional—seperti pasangan suami istri di desa.

"Mas... aku... aku mau..." Maya tergagap, orgasmenya semakin dekat.

"Iya, keluarkan, Dik," dorong Pak Karyo, bibirnya mengecup leher Maya dengan penuh nafsu, seperti serigala yang lapar akan mangsanya. "Mas pengen liat kamu ngerasa enak lagi... ayo, sekali lagi buat Mas, ya."

Beberapa dorongan kemudian, tubuh Maya seolah meledak dalam gelombang kenikmatan yang membakar.

"MAAAAAS!" jeritnya, suaranya memecah kesunyian ruangan.

Tubuhnya mengejang hebat, otot-ototnya bergetar tak terkendali. "AHHHH! MAAAS KARYOOO!"

Gelombang orgasme pertama itu laksana petir yang menyambar, membuat kakinya gemetar lemah dan napasnya tersengal-sengal, seperti habis berlari dari badai. Namun, Pak Karyo tak memberi waktu untuk pulih. Jarinya masih menari di klitoris Maya, iramanya seperti musik yang memabukkan, sementara dorongannya tetap lembut namun pasti, menjaga api itu tetap menyala.

"Sekali lagi, Dik... Mas tau kamu bisa," bisiknya dengan suara serak, penuh dorongan halus, seolah dia sedang melatih seekor burung liar untuk terbang lebih tinggi.

Maya hanya mampu mengerang, tubuhnya yang sensitif seolah menjadi wayang di tangan dalang. Tak sampai dua menit, gelombang kedua datang bagai ombak pasang yang menghantam karang.

"MAS! LAGI! AHHH!" dia menjerit, punggungnya melengkung tajam, tangannya mencengkeram lengan Pak Karyo seolah itu satu-satunya pegangan di tengah badai.

Cairan hangat membasahi paha dalamnya, tanda tubuhnya telah sepenuhnya menyerah pada sentuhan pria itu.

Pak Karyo tersenyum tipis, matanya berkilat penuh kepuasan, seperti seorang pelukis yang baru menyelesaikan karya agungnya. Perlahan, dia mengurangi tempo dorongannya, namun tak sepenuhnya berhenti, seolah ingin memastikan setiap inci tubuh Maya tetap terjaga dalam euforia.

"Satu lagi, Dik... buat Mas, ya? Biar kamu bener-bener rileks," gumamnya, nadanya lembut namun sarat otoritas, seolah tahu Maya tak akan bisa menolak.

Maya yang sudah lemas hanya bisa mengangguk pelan, tubuhnya masih bergetar seperti daun di tiupan angin.

Dengan kesabaran seorang guru, Pak Karyo mengubah sudut dorongannya sedikit, menemukan titik yang membuat Maya tersentak kembali, seperti menekan tombol rahasia. Jarinya kembali bermain, kali ini lebih lambat namun tepat sasaran, bagai seorang musisi yang tahu persis nada mana yang harus dipetik.

"MAS... aku nggak kuat..." Maya mendesah, suaranya serak, pecah-pecah seperti kaca yang nyaris retak.

Namun, tubuhnya justru mengikuti irama Pak Karyo, pinggulnya bergerak tanpa sadar, seolah menari di bawah kendalinya.

"Bisa, Dik... Mas tau kamu kuat. Ayo, lepasin semuanya," balas Pak Karyo, matanya terkunci pada wajah Maya yang memerah penuh gairah, seperti lukisan hidup yang penuh warna.

Beberapa menit kemudian, orgasme ketiga menghantam Maya bagaikan tsunami yang tak terbendung.

"MAAAAAS! AHHHHH!" jeritnya, tubuhnya mengejang begitu hebat hingga dunia seolah lenyap sejenak dari pandangannya.

Napasnya terengah-engah, keringat membasahi kulitnya seperti embun pagi, dan kakinya terasa layaknya jeli, tak mampu lagi menahan beban tubuhnya.

Pak Karyo akhirnya berhenti, napasnya juga agak berat, namun dia tetap penuh kontrol, seperti seorang kapten yang baru saja mengarahkan kapalnya melewati badai. Dia menarik diri perlahan dari tubuh Maya, lalu berbaring di sampingnya, tangannya dengan lembut membelai perut wanita itu, seolah menenangkan lautan yang baru saja bergolak.

"Enak ya, Bu?" tanyanya, kembali ke panggilan formal meski nada suaranya penuh kehangatan.

Maya hanya bisa tersenyum lemah, tubuhnya terlalu lelah untuk sekadar mengangkat jari.

"Enak banget... Pak," jawabnya, suaranya nyaris tak terdengar, penuh kelelahan namun juga kepuasan yang mendalam, seperti seseorang yang baru saja mencapai puncak gunung.

"Kehamilan memang bikin tubuh ibu lebih responsif," jelas Pak Karyo, tangannya masih membelai perut Maya dengan penuh kasih, seperti seorang ayah yang menjaga benihnya. "Tapi kalo ibu sering begini sama saya, tubuh ibu bakal lebih terbiasa... lebih butuh sentuhan saya. Itu bagus, biar ibu nggak tegang."

Nada suaranya terdengar tulus, namun ada dorongan halus di balik kata-katanya, seperti benang tipis yang menarik Maya lebih dalam.

Maya mengangguk lemah, terlalu lelah untuk menangkap maksud tersembunyi di balik kata-kata itu.

"Aku nggak pernah tau kehamilan bisa... seperti ini," gumamnya, matanya setengah terpejam, seperti ingin tenggelam dalam mimpi.

Pak Karyo tersenyum, lalu menggeser posisinya sedikit. Kejantanannya masih tegang, terlihat jelas di balik celana yang sudah dia turunkan tadi. Dia menatap Maya dengan tatapan penuh harapan, tangannya pelan-pelan membelai rambut wanita itu, seperti seorang petani yang menunggu hasil panennya.

"Bu... saya belum keluar, nih," bisiknya, suaranya rendah dan penuh kebutuhan, seperti orang yang kehausan di tengah gurun. "Ibu udah lemes banget, saya nggak mau maksa masuk lagi. Tapi... kalo ibu mau bantu, saya bakal seneng banget."

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit meminta, "Pake mulut aja, Bu... biar cepet selesai. Ibu pasti bisa, kan?"

Maya membuka matanya perlahan, tatapannya jatuh pada kejantanan Pak Karyo yang masih keras dan berdenyut, seperti pedang yang belum menemukan sarungnya. Dia menelan ludah, rasa lelah bercampur dengan sedikit rasa bersalah karena pria ini telah membawanya ke puncak tiga kali, namun dia sendiri belum selesai.

"Yaudah... aku coba," bisiknya, suaranya serak, nyaris seperti bisikan angin.

Tubuhnya yang lemas membuat gerakannya lambat, seperti boneka yang tali-talinya sudah kendur. Namun, Pak Karyo dengan sabar membantu, menggeser posisi Maya hingga dia setengah duduk, bersandar pada bantal yang empuk. Dia berdiri di sisi tempat tidur, tangannya memandu kepala Maya dengan lembut, seperti seorang sutradara yang menuntun aktornya.

"Pelan aja, Bu... nggak usah buru-buru," ujarnya, suaranya penuh dorongan namun tetap hangat.

Maya mengangguk, tangannya yang gemetar meraih kejantanan itu, merasakan panasnya membakar telapak tangannya. Dia menunduk, bibirnya pelan-pelan mendekat, dan akhirnya menyentuh ujungnya.

Aroma maskulin yang kuat langsung menyeruak, campuran keringat dan hasrat yang entah kenapa tak membuatnya mual, seperti hal-hal lain selama kehamilan ini. Sebaliknya, aroma itu justru membangkitkan sesuatu di dalam dirinya, seperti kenangan yang terlupakan.

"Ahhh... begitu, Bu," desah Pak Karyo, suaranya serak saat bibir Maya mulai bergerak, lidahnya menyapu ujung dengan ragu-ragu, seperti seorang pelukis yang baru mencoba warna baru.

Maya merasakan tekstur yang asing, licin dan hangat, dan dia mencoba fokus pada napasnya agar tak terlalu memikirkannya. Dia tak pernah melakukan ini dengan cara yang begitu... intim sebelumnya, apalagi sampai akhir. Namun, ada sesuatu dalam tatapan Pak Karyo, dorongan halus dalam suaranya, yang membuatnya ingin terus, ingin memuaskan pria yang telah membuatnya terbang berkali-kali tadi.

"Lebih dalam dikit, Dik... ya, gitu," pinta Pak Karyo, tangannya di belakang kepala Maya, tak memaksa namun cukup tegas untuk membimbing, seperti seorang kapten yang menunjukkan arah.

Maya mengikuti, membiarkan lebih banyak bagian masuk ke mulutnya, lidahnya bergerak canggung namun semakin percaya diri.

"Hrrrgh... enak banget, Bu," gumam Pak Karyo, pinggulnya bergerak pelan, mencari irama yang pas, seperti tarian yang lambat namun penuh intensitas.

Setiap desahan pria itu seolah menjadi dorongan bagi Maya, membuatnya lupa akan kelelahannya sejenak.

Setelah beberapa menit, napas Pak Karyo makin berat, gerakannya makin cepat, seperti mesin yang mendekati batasnya.

"Dik... Mas udah deket..." peringatnya, tangannya mencengkeram rambut Maya sedikit lebih erat, menunjukkan urgensi.

Maya yang sudah terlalu lelah untuk mundur hanya mengangguk kecil, matanya terpejam, bersiap untuk apa yang akan datang. Namun tiba-tiba, Pak Karyo menarik diri dari mulutnya, tangannya dengan cepat mengelus kejantanannya sendiri.

"Angkat muka, Dik... liat Mas," pintanya, suaranya penuh urgensi, seperti perintah terakhir sebelum ledakan.

Maya membuka matanya, mengangkat wajahnya dengan bingung, dan sebelum dia sempat memahami, Pak Karyo mencapai puncaknya.

"Hrrrgh! Dik!" geramnya, dan cairan hangat menyembur dari ujung kejantanannya, mendarat di wajah Maya—pipinya, hidungnya, bahkan sedikit di bibirnya.

Maya tersentak, matanya melebar kaget, tak menyangka ini yang akan terjadi. Sensasi hangat dan lengket di kulitnya terasa begitu asing, seperti hujan aneh yang tiba-tiba turun. Dia tak pernah mengalami ini sebelumnya, tak pernah membiarkan siapa pun 'menandai' dirinya seperti ini.

Ada perasaan campur aduk di dadanya—malu, terkejut, namun juga ada sensasi aneh yang membuat perutnya bergetar lagi, seolah ini adalah bentuk keintiman baru yang tak dia duga. Dia buru-buru mengusap wajahnya dengan tangan yang gemetar, cairan itu terasa licin di jarinya, dan dia tak tahu harus berbuat apa selanjutnya.

Pikirannya berputar liar—'Kenapa aku nggak marah? Kenapa malah ada bagian dari aku yang... suka?'

Dia melirik Pak Karyo, yang kini menatapnya dengan senyum puas bercampur rasa bersalah.

"Maaf, Bu... saya kelepasan," gumamnya, suaranya masih serak namun penuh kepuasan. "Tapi... wajah ibu pas begini... cantik banget."

Maya tak bisa menjawab, wajahnya memanas, masih tak percaya dengan apa yang baru terjadi. Dia buru-buru mengelap sisa-sisa di wajahnya dengan ujung sprei, mencoba menyembunyikan getaran di tubuhnya.

Dalam hati, dia tahu ini sesuatu yang tak akan dia lupakan—sensasi itu, tatapan Pak Karyo, dan perasaan aneh yang muncul di dadanya. Ini pertama kalinya, dan dia tak yakin apakah dia benci atau justru... ingin merasakannya lagi.

Pak Karyo membantu Maya membersihkan diri dengan kain lembab yang dia ambil dari meja samping, gerakannya lembut dan penuh perhatian, seperti seorang perawat yang menangani pasiennya.

"Kehamilan bikin tubuh ibu lebih responsif," ujarnya lagi, seolah ingin menegaskan poinnya. "Dan kalo ibu butuh pelepasan lagi, saya selalu ada... biar ibu makin terbiasa sama saya."

Maya hanya mengangguk lemah, pikirannya masih kacau, seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan. Namun, ada bagian kecil di dalam dirinya yang mulai bertanya-tanya—apa yang akan terjadi jika dia terus membiarkan pria ini mengambil kendali atas tubuhnya seperti ini?

"Besok saya siapkan jamu khusus," kata Pak Karyo sambil merapikan pakaiannya. "Ramuan untuk trimester kedua. Jamu ini juga bikin tubuh ibu lebih... responsif."

"Makasih, Pak," Maya tersenyum lelah, menyadari makna tersembunyi dalam kata-katanya.

Pak Karyo mengangguk, tangannya dengan berani mengelus perut Maya. "Sudah jadi tanggung jawab saya menjaga ibu dan..." dia menatap langsung mata Maya, "...anak kita."

Maya tidak mengoreksi kata-kata itu. Bagaimanapun, itulah kenyataannya. Bayi dalam perutnya memang anak mereka—secara biologis.

"Ibu perlu istirahat," Pak Karyo berkata, suaranya lembut namun tegas. "Saya ambilkan minum dulu."

Maya memperhatikan bagaimana Pak Karyo bergerak dengan percaya diri, tidak lagi sepenuhnya seperti pembantu patuh yang dulu. Ada sesuatu yang berbeda—cara dia menyentuh perutnya, cara dia menatapnya. Ada klaim kepemilikan di sana yang tidak berani Maya tentang.

Saat Pak Karyo kembali dengan segelas air, Maya sudah mengenakan gaun tidurnya dan duduk bersandar pada bantal.

"Airnya, Bu," Pak Karyo menyerahkan gelas, jari-jarinya sengaja menyentuh tangan Maya lebih lama dari yang diperlukan.

"Makasih," Maya menerima gelas itu, merasakan getaran familiar dari sentuhan sederhana tersebut.

"Kalau ibu butuh apa-apa lagi malam ini, panggil saja," Pak Karyo berkata dengan nada formal, meski matanya menyampaikan pesan yang jauh lebih intim.

Maya hanya mengangguk, menyesap air perlahan. Matanya mengikuti Pak Karyo yang bergerak menuju pintu.

Di ambang pintu, Pak Karyo berhenti dan berbalik. "Pak Irwan besok lembur lagi?" tanyanya, nada suaranya rendah namun penuh harapan.

Maya secara refleks melirik ke sudut kamar—tempat dia yakin Irwan menyembunyikan salah satu kameranya—sebelum menjawab. "Mmm, nggak tau pasti. Biasanya dia suka mendadak kasih tau," jawabnya, pura-pura tidak yakin meski sebenarnya Irwan sudah memberitahunya tadi.

Pak Karyo mengangguk pelan, jari-jarinya mengetuk pelan kusen pintu. "Kalau... kalau Pak Irwan lembur lagi, ibu mau saya bantu lagi seperti tadi?" tanyanya langsung, matanya menatap Maya dengan intensitas yang membuat perut wanita itu bergejolak.

Wajah Maya memanas, tidak ada lagi kebingungan tentang apa yang ditawarkan. "Nanti saya kabarin kalau suami saya pulang telat," jawabnya pelan, jawaban yang tidak secara eksplisit mengiyakan namun jelas memberikan harapan.

Pak Karyo tersenyum puas, tangannya menyentuh perutnya sendiri dalam gestur yang entah bagaimana terasa seperti klaim. "Tubuh ibu hamil butuh perawatan rutin. Bagus untuk... bayi kita," tambahnya sangat pelan, hampir seperti rahasia di antara mereka.

"Selamat malam, Bu Maya. Mimpi yang indah..."

"Malam, Pak," balas Maya, menatap pintu yang tertutup.

Sendirian di kamar, Maya meletakkan gelas di meja samping dan mengelus perutnya sendiri. Ada sesuatu yang berubah malam ini—sesuatu dalam cara Pak Karyo memanggilnya "Dik", dalam cara dia berbicara tentang "bayi kita". Seolah mereka bukan lagi majikan dan pembantu yang terlibat dalam hubungan fisik semata, tapi sesuatu yang lebih kompleks.

"Apa yang sedang kita lakukan?" Maya berbisik pada dirinya sendiri, matanya menatap ke sudut kamar dimana dia yakin kamera Irwan tersembunyi.

Di kamar belakang rumah, Pak Karyo duduk di tepi tempat tidurnya yang sempit, tangannya mengelus foto di ponselnya—foto diam-diam yang dia ambil dari Maya yang sedang tertidur setelah "program" mereka berakhir.

"Sak suwene... sak suwene," gumamnya dalam bahasa Jawa. (Tidak lama lagi... tidak lama lagi.)

Dia meletakkan ponsel di meja, berbaring dengan senyum puas. Rencananya berjalan lebih baik dari yang dia harapkan. Maya sudah memanggilnya "Mas" lagi, sudah mulai menyerah pada sentuhannya. Tidak lama lagi, pikirnya, Maya akan semakin bergantung padanya—tidak hanya untuk jamu dan pijatannya, tapi untuk segalanya.

Pikiran terakhir Pak Karyo sebelum terlelap adalah betapa mudahnya dia akan menjadi bagian permanen dari keluarga ini. Dengan bayi di perut Maya—bayinya—tidak ada yang bisa mengusirnya dari rumah ini. Tidak Irwan, tidak siapapun.


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com