𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟎𝟖

 

Cahaya bulan samar-samar menyelinap melalui celah tirai, membentuk bayangan tipis di dinding kamar Maya. Dia terbaring di ranjang, napasnya belum sepenuhnya teratur setelah malam yang begitu intens dengan Pak Karyo. Tubuhnya terasa hangat, penuh dengan sensasi yang sulit dia gambarkan—campuran antara kelelahan fisik dan gejolak emosi yang tak kunjung reda. Rambutnya yang basah oleh keringat menempel di kening, dan tangannya tanpa sadar mengelus perutnya yang mulai membuncit. Bayi kita, gumam Pak Karyo tadi malam, dan kata-kata itu seolah terpatri di pikirannya, menggema tanpa henti.

Maya memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan malam itu, tapi justru ingatan itu makin jelas. Sentuhan tangan kasar Pak Karyo yang penuh perhatian, desahan pelan yang tak bisa dia tahan, dan cara pria itu mengarahkan gerakannya dengan penuh kendali—semuanya terasa begitu nyata. Dia menggeliat kecil, merasakan sisa-sisa nyeri manis di tubuhnya, terutama di bagian bawah perut yang seolah mengingat setiap dorongan lembut namun tegas. Ini gila, batinnya, kenapa aku malah merindu momen itu? Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi pikirannya terus berkecamuk. Akhirnya, setelah bergulat dengan perasaannya sendiri, kelelahan mengambil alih, dan dia terlelap dalam tidur yang dalam, tanpa mimpi.


Pagi menyapa dengan sinar matahari yang menyelinap melalui jendela dapur yang terbuka lebar. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara, bercampur dengan suara dentingan piring yang lembut. Maya duduk di meja makan, cangkir teh hangat di tangannya, matanya sesekali melirik jam dinding. Dia merasa aneh—pagi ini terasa terlalu biasa setelah malam yang begitu luar biasa. Irwan duduk di hadapannya, membaca koran dengan ekspresi datar, seolah tidak ada yang terjadi. Tapi Maya tahu, di balik ketenangan itu, Irwan sedang mengamatinya.

Sebelum sarapan dimulai, Irwan menyingkirkan korannya sejenak dan menatap Maya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Maya, aku nggak bisa tidur semalaman mikirin kemarin," ucapnya pelan, suaranya rendah namun penuh emosi. "Aku liat semuanya dari rekaman. Dan... aku nggak tau harus bilang apa, tapi aku suka liat kamu kayak gitu. Performancemu tadi malam, itu... luar biasa."

Maya menegang, wajahnya langsung memanas. Dia menarik cangkirnya lebih dekat, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya. "Wan, maksud kamu apa? Kamu beneran... nggak marah?" tanyanya, suaranya bergetar antara rasa bersalah dan kebingungan.

Irwan menggeleng pelan, tangannya mencapai lengan Maya, mengelusnya dengan lembut. "Aku nggak marah, Say. Justru... aku ngerasa sesuatu yang berbeda. Aku suka liat kamu kehilangan kontrol, liat kamu... menikmati semuanya sama dia." Dia menjeda, matanya menelusuri wajah Maya, seolah mencari reaksi. "Aku cuma mau kamu jujur sama aku. Kamu juga kan... menikmati itu?"

Maya menelan ludah, merasakan tenggorokannya kering. Dia tidak bisa menyangkal, tidak setelah malam yang begitu membakar itu. Tapi mengakuinya di depan Irwan terasa seperti melanggar batas yang lebih dalam lagi. "Aku... aku cuma bingung, Wan. Tubuhku bereaksi sendiri, tapi pikiranku nggak tau ini bener apa nggak," jawabnya lirih, matanya menghindar.

Irwan tersenyum tipis, senyum yang sulit dibaca. "Kita akan cari tau bareng-bareng, ya. Tapi untuk sekarang, aku cuma mau bilang... aku nggak keberatan kalau kamu lanjutin ‘performa’ kayak gitu." Dia menarik tangannya kembali, lalu mengambil korannya lagi, meninggalkan Maya dengan pikiran yang semakin kacau.

"Pak Karyo belum keluar?" tanya Irwan tiba-tiba, memecah keheningan yang kembali menyelimuti mereka sambil melihat sekeliling dapur modern yang kosong.

"Belum," jawab Maya pendek, nada suaranya hati-hati. Dia tidak yakin bagaimana harus bersikap setelah percakapan tadi dengan Irwan, apalagi dengan kehadiran Pak Karyo yang sebentar lagi akan bergabung.

Suara langkah kaki terdengar dari lorong, dan seketika Maya merasakan tubuhnya menegang. Pak Karyo masuk dengan langkah santai, mengenakan kaos oblong sederhana dan celana pendek lusuh yang biasa dia pakai saat bekerja di rumah. Dia mengangguk hormat pada Irwan dan Maya, wajahnya menunjukkan ekspresi netral yang sempurna. "Selamat pagi, Pak, Bu," sapanya sopan, tapi matanya bertemu dengan Maya sekilas, menyimpan kilatan tersembunyi yang membuat jantung Maya berdegup lebih cepat.

Maya menggeser tubuhnya di kursi, merasakan nyeri samar di pinggulnya yang mengingatkannya pada malam sebelumnya. Setiap gerakan kecil seolah menjadi pengingat—dorongan, sentuhan, dan panas yang masih terasa di kulitnya. Dia mencoba fokus pada teh di tangannya, tapi kehadiran Pak Karyo terasa begitu mengganggu, terutama dengan Irwan yang duduk tepat di depannya, mengamati setiap detail dengan tatapan analitis yang dingin.

Pak Karyo meletakkan piring berisi telur mata sapi dan roti panggang di depan Maya, lalu menuangkan minuman herbal ke dalam gelas dengan gerakan yang begitu terlatih. "Ini jamu buat energi Ibu," ucapnya, suaranya formal namun ada nada berbeda yang hanya Maya tangkap—nada yang penuh makna. "Bagus untuk kehamilan."

"Terima kasih, Pak," balas Maya cepat, menghindari kontak mata. Dia merasakan wajahnya memanas, takut Irwan akan membaca ketidaknyamanan di ekspresinya.

Irwan mengangguk kecil, lalu berkomentar dengan nada santai, "Cuacanya cerah ya hari ini." Dia seolah ingin mencairkan suasana, tapi Maya tahu itu hanya kedok—matanya terus meneliti setiap gerakan, setiap jeda, seolah mengumpulkan data.

"Iya, Pak. Bagus untuk jemuran," jawab Pak Karyo sambil membereskan dapur, tangannya sibuk dengan lap pembersih.

Irwan melihat jam tangannya dan melipat korannya. "Ah, hampir lupa. Ada email penting yang harus kubalas." Dia berdiri, meraih cangkir kopinya yang masih setengah penuh. "Aku ke ruang kerja dulu ya, Say."

Maya mengangguk, sedikit terkejut dengan kepergian Irwan yang mendadak. "Jangan lama-lama. Sarapanmu belum habis."

"Nggak lama kok," jawab Irwan sambil mengecup singkat kening Maya. Dia melangkah keluar dari dapur, meninggalkan Maya dan Pak Karyo berdua.

Di ruang kerjanya, Irwan dengan cepat mengaktifkan aplikasi CCTV di laptopnya. Dia baru memasang kamera tambahan di dapur minggu lalu, dengan alasan keamanan yang Maya percaya begitu saja. Layar menampilkan pemandangan dapur dengan jelas—Maya masih duduk di meja makan, sedangkan Pak Karyo tampak sibuk membereskan peralatan.

Irwan meneguk kopinya yang mulai dingin, matanya tak lepas dari layar.

Sementara itu di dapur, Pak Karyo melirik sekilas ke arah pintu, memastikan Irwan benar-benar sudah pergi. Dengan gerakan yang tampak alami, dia bergerak mendekati Maya, berpura-pura hendak mengambil piring kosong di depannya. Jaraknya begitu dekat hingga Maya bisa merasakan kehangatan tubuhnya, mencium aroma khas Pak Karyo—campuran keringat dan sabun cuci piring yang anehnya membuat jantungnya berdebar.

"Semalam tidurnya nyenyak, Bu?" bisik Pak Karyo tepat di telinga Maya. Suaranya rendah dan serak, napasnya hangat menerpa kulit sensitif di leher Maya. "Saya khawatir... badan Bu Maya masih capek gara-gara... kemarin."

Pak Karyo bergerak lebih dekat, dadanya hampir menyentuh punggung Maya. Pura-pura meraih piring, tangan kasarnya sengaja menyentuh lengan Maya, jemari tebalnya mengusap naik-turun di pergelangan tangan Maya. Lalu, dengan gerakan halus tapi berani, ibu jarinya menelusup ke dalam telapak tangan Maya, menggosok lingkaran kecil yang terasa intim.

"Hhhh—" Maya menarik napas tajam. Seluruh tubuhnya langsung bereaksi, seolah tersengat listrik nikmat. Getaran halus menjalar dari titik sentuhan, merambat ke seluruh tubuhnya, berkumpul di antara kedua pahanya. "A-aaah..."

Desahan kecil lolos dari bibirnya tanpa bisa ditahan. Maya merasakan panas menjalar dari pipi turun ke leher dan dadanya. Nipplenya langsung mengeras, menonjol jelas di balik kain piyama tipisnya. Puting yang begitu keras hingga terasa nyeri nikmat.

Pak Karyo sengaja menurunkan pandangannya, menatap dada Maya tanpa berusaha menyembunyikannya. "Mmm... Bu Maya kedinginan?" godanya, suaranya rendah dan penuh arti. Jemarinya masih bermain di pergelangan tangan Maya, sesekali naik untuk mengusap bagian dalam lengannya.

"Nggak... nggak kok..." Maya mencoba menjauhkan tubuhnya, tapi kursinya menempel rapat ke meja. Saat bergeser, pinggulnya justru bergerak-gerak gelisah, menggesek bagian bawahnya ke tepi kursi, menciptakan friksi yang semakin membuatnya terangsang. "Ah! P-Pak Karyo... tolong... jangan begini..."

Tapi tubuhnya mengkhianati kata-katanya. Tanpa sadar Maya justru sedikit mencondongkan tubuh ke arah Pak Karyo, dagunya terangkat, lehernya terekspos seperti undangan tak terucap. Kakinya perlahan membuka, lututnya bergetar halus.

"Ngghhh..." Maya mengerang pelan saat merasakan cairan hangat mulai membasahi celana dalamnya. Sensasi lengket yang familiar itu membuatnya malu sekaligus bergairah.

Pak Karyo tersenyum tipis, matanya berkilat penuh kemenangan. Dia membungkuk lebih dekat, bibirnya hampir menyentuh telinga Maya. "Bu Maya tau? Saya bisa cium baunya," bisiknya vulgar. "Bau Bu Maya... yang basah."

Maya terkesiap, matanya membelalak. "Pak Karyo!" tegurnya, tapi suaranya justru keluar seperti desahan yang tertahan.

Dengan berani, Pak Karyo berpindah posisi. Dia tidak lagi berdiri di belakang Maya, tapi kini bergerak ke samping, berlutut di sebelah kursi Maya dengan alasan pura-pura membersihkan sesuatu di lantai. Posisi ini membuat kepalanya sejajar dengan paha Maya.

"Maaf, Bu," ucapnya dengan nada yang sama sekali tidak menyesal. Matanya menatap langsung ke selangkangan Maya yang tertutupi piyama tipis. "Saya cuma mau mastiin Bu Maya istirahat cukup buat... kondisinya."

Tangan Pak Karyo kembali bergerak, kali ini dengan berani menyentuh lutut Maya. "Buka dikit, Bu," bisiknya, mendorong pelan lutut Maya agar kakinya terbuka.

Maya terkesiap, tapi tidak menolak. Kakinya sedikit membuka, memberikan Pak Karyo pemandangan yang lebih jelas ke selangkangannya. Piyama tipisnya tidak mampu menyembunyikan noda basah yang mulai terbentuk.

"Saya buatin jamu spesial ya? Bagus buat... tenaga Bu Maya." Kata terakhir diucapkan dengan vulgar saat tangannya perlahan merambat naik di sepanjang paha dalam Maya, berhenti tepat sebelum menyentuh area intimnya.

"Ini jamu... harus diminum hangat-hangat," tambahnya, ibu jarinya menggosok lingkaran kecil di paha dalam Maya, semakin dekat ke pusat gairahnya. "Atau... Bu Maya mau sesuatu yang lain dulu? Yang lebih... panas?"

"Sial," bisiknya, tanpa sadar mengusap bagian depan celananya saat menyaksikan Maya mengigit bibir bawahnya ketika tangan Pak Karyo dengan sengaja menyapu tulang selangkanya.

Irwan mematikan layar laptop dengan kasar. Dia berdiri, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu berjalan kembali ke dapur. Dia perlu bicara dengan Maya. Sekarang juga.

Irwan melangkah masuk ke dapur dengan wajah yang sulit dibaca. Maya tersentak kaget melihat kedatangannya, secara refleks menegakkan posisi duduknya. Pak Karyo dengan cepat mengambil jarak, kembali ke perannya sebagai pembantu yang sopan.

"Udah selesai emailnya?" tanya Maya, suaranya sedikit bergetar. Dia berharap wajahnya yang memerah tidak terlalu kentara.

Irwan menatap Pak Karyo dengan tatapan dingin. "Pak Karyo, tolong selesaikan dulu kerjaan di halaman belakang."

"Baik, Pak," jawab Pak Karyo dengan nada formal, tapi matanya sempat bertemu dengan Maya sekilas—pandangan penuh arti yang membuat jantung Maya kembali berdebar.

Setelah Pak Karyo keluar, Irwan berdiri diam sejenak. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal di samping tubuhnya.

"Maya, ikut aku sebentar," ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan terkontrol. Dia mengangguk ke arah lorong dekat dapur.

Maya mengerutkan dahi, jari-jarinya mencengkeram cangkir teh hingga buku-buku jarinya memutih. Sesuatu dalam nada suara Irwan membuat darahnya berdesir—bukan ketakutan, tapi sesuatu yang lebih rumit. Dia meletakkan cangkir dengan hati-hati, gerakan yang terlalu terkontrol untuk menyembunyikan getaran halus di tangannya.

"Hmm," gumamnya pendek, mengikuti Irwan dengan langkah yang diseret. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana mungkin pagi ini Irwan mengajaknya bicara begini setelah semalam praktis mendorongnya ke pelukan Pak Karyo?

Di lorong yang sempit, tubuh mereka terlalu dekat namun terasa begitu jauh. Aroma aftershave Irwan tercium tajam, berbeda dengan aroma alami Pak Karyo yang masih tersisa di ingatannya. Irwan berhenti mendadak, berbalik menghadapnya. Maya mundur setengah langkah secara naluriah, punggungnya menyentuh dinding.

"Maya..." Irwan mulai bicara, matanya menatap ke samping Maya, tidak berani bertemu pandang. Dia menelan ludah, jakun di lehernya naik turun. "Aku nggak nyaman ninggalin kamu sendirian di rumah sama Pak Karyo."

Tapi semalam kamu bilang suka liat aku sama dia, pikir Maya, kata-kata yang tidak mampu dia ucapkan. Lidahnya terasa kelu. Yang keluar hanya, "Oh."

"Apa yang tadi aku liat..." Irwan mengusap tengkuknya, bahunya menegang. "Aku... aku perlu monitor situasinya."

Maya merasakan panas menjalar di wajahnya. Dia liat semuanya tadi. Tangan Pak Karyo di pahaku. Bisikannya. Desahanku. Perutnya melilit dengan rasa malu bercampur... gairah? Sial, Maya, kenapa malah terangsang inget itu?

"Maksud kamu apa sih, Wan?" Akhirnya Maya bicara, suaranya lebih tinggi dari yang dia inginkan. "Aku nggak ngapa-ngapain kok." Kebohongan itu terasa pahit di lidahnya.

Irwan mengepalkan tangannya di sisi tubuh, lalu membukanya lagi, lalu mengepalkannya lagi—gerakan gelisah yang tidak disadarinya. "Aku nggak bilang kamu ngapa-ngapain." Matanya akhirnya bertemu dengan Maya, tapi hanya sedetik sebelum kembali menatap lantai. "Aku cuma... nanti siang aku ada sesi terapi sama Dr. Andy."

Jadi ini tentang terapinya? Dia mau pamer ke dokternya bahwa dia berhasil 'mengontrol' fantasinya? pikir Maya, kebingungan dengan arah pembicaraan.

"Aku mau kamu ikut," lanjut Irwan, nadanya aneh—seperti perintah tapi juga seperti permohonan. "Kamu bisa tunggu di mobil. Atau di café. Atau... aku bisa anter kamu ke salon."

Maya mengerjap. Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang mulai membuncit. Kenapa tiba-tiba? Kenapa setelah tadi pagi? Kemudian pemahaman perlahan muncul dalam benaknya. Dia takut aku dan Pak Karyo akan... selama dia pergi?

Tubuh Maya menghangat dengan realisasi itu. Sebagian dirinya merasa terhina—seolah dia tak bisa mengendalikan diri. Sebagian lagi merasa tertangkap basah—karena mungkin itulah yang akan terjadi jika dia dibiarkan sendiri dengan Pak Karyo hari ini. Dan bagian lainnya... bagian lainnya justru terangsang oleh pikiran bahwa Irwan mungkin sengaja membatasinya, seperti permainan kontrol yang rumit.

"Aku cuma nggak mau kamu sendirian di rumah," tambah Irwan, nadanya datar tapi matanya menyiratkan ribuan kata yang tak terucap.

Maya menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai emosi dalam dirinya. Apa maunya Irwan sebenarnya? Dia bilang suka liat aku sama Pak Karyo, tapi sekarang dia takut kami bersama? Atau ini cuma tentang dia yang mau kontrol kapan kami bersama?

"Oke," jawabnya akhirnya, suaranya hampir berbisik. "Aku ikut."

Selama sepersekian detik, Maya melihat kilatan aneh di mata Irwan—seperti... kekecewaan? Seolah dia berharap Maya akan menolak? Tapi secepat kilatan itu muncul, secepat itu pula menghilang, digantikan dengan anggukan puas.

"Bagus," ucap Irwan, tangannya meraih lengan Maya tapi tidak benar-benar menyentuhnya, hanya melayang canggung di udara. "Kita... berangkat jam 1."

Mereka berdiri kaku selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, terjebak dalam lorong sempit dengan jarak fisik yang minimal tapi jurang emosional yang menganga lebar. Udara di sekitar mereka terasa berat oleh kata-kata yang tidak terucap, oleh kebingungan Maya tentang apa yang sebenarnya diinginkan Irwan, oleh ketidakmampuan Irwan mengakui bahwa semua ini tentang kebutuhannya akan kontrol, bukan tentang proteksi.

Mereka kembali ke dapur, tempat Pak Karyo masih sibuk membereskan sisa-sisa sarapan. Dia mengangguk hormat saat melihat mereka kembali, tapi Maya bisa merasakan tatapannya yang penuh makna, seolah pria itu tahu ada sesuatu yang sedang dibahas di lorong tadi. Maya duduk kembali di kursi, mencoba mengabaikan kehadiran Pak Karyo, tapi setiap gerakan pria itu—cara dia mengelap meja, cara dia melirik sekilas—terasa seperti magnet yang menarik perhatiannya.

Irwan memeriksa jam tangannya, lalu berdeham lagi. "Maya, kita bersiap-siap sekarang aja ya? Aku mau mampir ke kafe deket tempat Dr. Andy dulu sebelum sesi dimulai."

Maya mengangguk, diam-diam bersyukur bisa segera meninggalkan rumah dan atmosfer yang begitu menekan ini, meski hanya untuk sementara. "Oke, aku siap-siap dulu," ucapnya, lalu berdiri dan bergegas ke kamar dengan jantung yang masih berdebar.

Saat mereka berjalan ke pintu depan, Pak Karyo berdiri di lorong, mengangguk hormat. "Hati-hati di jalan, Pak, Bu," ucapnya dengan nada formal.

Irwan menggandeng tangan Maya erat, sebuah gestur posesif yang tidak luput dari perhatian Pak Karyo. Tatapan mereka bertemu sekilas—Irwan dengan tatapan tajam dan Pak Karyo dengan ekspresi netral yang sempurna, menyembunyikan frustasi yang bergejolak di baliknya.

"Kami akan kembali nanti sore," ucap Irwan datar, lalu menuntun Maya keluar, meninggalkan Pak Karyo yang menatap kepergian mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com