Aku segera beranjak. Aku harus membersihkan diri, Aku berjalan ke kamar mandi, melepaskan gamis dan pakaian dalamku yang terasa kotor. Aku berdiri di bawah shower, dan air dingin menghantam tubuhku, mencoba memadamkan api gairah dan dosa di dalam jiwaku.
Setelah selesai mandi dan berwudhu, aku tidak langsung berpakaian. Aku melangkah keluar kamar mandi dengan telanjang bulat. Aku berjalan ke meja rias dan berdiri di depan cermin, menatap pantulan diriku.
Aku melihat payudaraku yang besar dan mulus, dan di sana, aku melihat banyak bekas kemerahan akibat remasan brutal Pak Rahmat tadi. Bekas-bekas itu, meskipun menyakitkan, terasa seperti stempel pengakuan atas kebinalanku.
Aku menghela napas panjang. Aku segera mengambil mukenah yang tergantung dan memakainya. Kemudian, aku menggelar sajadah. Aku menunaikan Shalat Maghrib, mencoba memohon ampun agar bisa membersihkan setidaknya sebagian kecil dari kekotoran yang kurasakan.
Setelah selesai Shalat Maghrib, aku tidak berlama-lama di sajadah. Aku segera meraih ponselku yang tergeletak di kasur. Pikiranku langsung tertuju pada Mas Bims, pria yang telah membimbingku melewati ancaman Pak Rahmat.
Aku membuka aplikasi Toktok dan mengiriminya pesan:
"Mas Bims. Aku sudah aman. Pak Rahmat sudah pulang. Terima kasih banyak, Mas. Kalau enggak ada Mas Bims, aku enggak tahu harus gimana."
Mas Bims membalas pesanku dengan cepat, nadanya terdengar santai.
"Bagus Ukhti, kok lama? Tadi Pak Rahmat minta apa dari Ukhti?"
Aku bingung. Haruskah aku jujur? Meskipun aku malu, aku sudah telanjur jujur padanya. Selain itu, ia sudah melihatku di titik kehancuran, jadi aku memutuskan untuk jujur, meskipun harus berbohong sedikit untuk menjaga sisa martabatku.
"Dia minta coli di depanku, Pak. Cuma itu saja," jawabku, meskipun aku tahu ada remasan, sentuhan, dan sperma di cadarku yang sengaja kusembunyikan.
"Baguss Ukhti," balas Mas Bims cepat, tanpa menunjukkan keterkejutan. "Yang penting kamu yang mengendalikan situasi. Kamu enggak boleh kalah. Kamu harus mendominasi jika ada laki-laki yang menggoda kamu. Kalo bisa Kamu harus goda balik. haha"
"Iya, Mas Bims," jawabku, merasakan lagi rasa berkuasa yang ia ciptakan.
Kemudian, ia mengubah topic.
"Kamu enggak mau live kayak Ustadzah Tiara gitu?"
"Aku enggak berani," balasku jujur.
"Kenapa enggak berani?" tanyanya, nadanya sedikit menantang.
"Kan aku Ustadzah pengisi pengajian, mana mungkin live seperti itu.." jelasku, menyinggung citra suci yang masih kupegang teguh.
"Kamu bisa bikin akun baru. Khusus buat PK match. Nanti main challenge," rayunya.
Aku terdiam. Ide itu begitu gila. Memisahkan Zahra yang suci dari Zahra yang liar dengan membuat akun baru. Aku bisa mendapatkan damba dan pengakuan liar tanpa menghancurkan citra guru ngajiku. Aku bingung.
Aku tidak membalas pesan Mas Bims itu. Ide untuk membuat akun ganda, memisahkan sisi suci dan liarku, terasa begitu menggoda sekaligus menakutkan. Aku menaruh ponselku di sofa, membiarkan keheningan mengambil alih.
Tak lama, aku mendengar Adzan Isya berkumandang. Aku bergegas menuju sajadah. Setelah membersihkan diri dengan mandi junub tadi, aku berharap shalat ini bisa memberiku ketenangan. Namun, saat bersujud, bayangan penis Pak Rahmat yang menempel di cadarku terus mengganggu kekhusyukanku.
Setelah selesai Shalat Isya, aku beranjak ke dapur untuk memasak. Aku mencoba menyibukkan diri dengan rutinitas agar pikiranku tidak melayang pada dosa yang baru kulakukan. Setelah selesai, aku makan dalam diam.
Selesai makan, aku kembali ke kamar mengambil ponselku. Aku berjalan ke ruang tamu, dan duduk di sofa yang sama, sofa yang baru saja menjadi saksi kehinaanku.
Aku membuka aplikasi Toktok. Bukan untuk mencari kajian agama. Jari-jariku yang gelisah ingin melihat kembali dunia yang telah meruntuhkanku. Aku mencari akun Ustadzah Tiara lagi, meskipun aku tahu ini adalah langkah menuju kehancuran.
Aku menemukan akunnya, tetapi layar profilnya sepi. Ustadzah Tiara sedang tidak live.
Rasa kecewa itu ada, tetapi hasratku untuk mengetahui seluk-beluk "dunia baru" yang ditawarkan Mas Bims jauh lebih besar. Aku menaruh ponselku di pangkuan. Aku memutuskan mencari tahu bagaimana sih PK match challenge itu bekerja.
Aku keluar dari profil Ustadzah Tiara dan kembali ke halaman utama Toktok. Aku mencari-cari video penjelasan tentang fitur tersebut. Aku menemukan beberapa video yang menjelaskan mekanismenya:
PK match adalah pertarungan virtual antara dua host live di mana penonton akan saling berlomba memberikan hadiah (gift) untuk mendukung host favorit mereka. Aku melihat gift yang masuk dihitung sebagai poin. Pihak yang poinnya paling banyak pada akhir waktu yang ditentukan akan memenangkan tantangan tersebut.
Aku menonton lebih detail. Dalam video itu, host yang menang akan mendapatkan semua hadiah (gift), sementara yang kalah akan mendapatkan hukuman (challenge).
Hukuman itu bermacam-macam, dari sekadar mencoret wajah hingga hukuman yang bersifat sensual. Dan di kalangan host liar, hukuman itu seringkali berupa tantangan untuk menggoyangkan tubuh atau melakukan gerakan yang memancing hasrat, bahkan merobek baju.
Aku membayangkan diriku di tengah pertarungan itu. Aku, Ukhti Zahra sang guru ngaji, menjadi host di arena challenge yang penuh dosa, merobek baju gamisku sehingga memperlihatkan tubuhku. Aku tidak butuh hadiahnya, tetapi aku butuh sensasi kemenangan, sensasi mendominasi, dan pengakuan yang akan kudapatkan dari ratusan, bahkan ribuan, mata yang menonton.
Aku teringat kata-kata Mas Bims: Kamu bisa bikin akun baru. Khusus buat PK match. Nanti main challenge.
Ide itu terasa semakin masuk akal. Ini adalah cara untuk menciptakan Zahra yang liar di balik topeng Zahra yang suci di kompleks perumahan.
Aku mematikan ponselku. Aku sudah tahu cukup. Aku harus segera bertindak. Aku harus menciptakan identitas liarku. Aku harus membuat akun baru. Aku akan menjadi Ratu di Toktok, didanai oleh Mas Bims, dan dicari oleh para pria cabul di seluruh dunia maya.
"Yaaa aku akan melakukannya besok. Tidak sekarang," gumamku pada diriku sendiri. "Aku harus mempersiapkan dengan matang."
Aku tidak boleh terburu-buru. Aku harus membuat identitas baruku sempurna, sebuah topeng yang sama kuatnya dengan cadar dan gamis yang kugunakan di dunia nyata. Aku akan memisahkan Ukhti Zahra sang guru ngaji dari Ratu Dosa yang akan bermain di dunia maya, seperti yang disarankan Mas Bims.
Aku menaruh ponselku di meja, bangkit dari sofa, dan berjalan ke kamar. Aku membaringkan diriku di kasur. Pikiranku dipenuhi strategi: nama akun baru, penampilan, dan tantangan yang akan kuterima.
Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku yang lelah beristirahat. Aku membayangkan Pak Rahmat yang telanjang, Pak Hasan yang meremas pantatku, dan Mas Bims yang tertawa puas di balik layar, menyebutku "Sayang.".
Aku tertidur lelap, tetapi jiwaku tidak menemukan damai. Alih-alih mimpi suci, aku justru terseret ke pusaran fantasi liar yang kusimpan rapat. Aku memimpikan kejayaanku sebagai Ratu Dosa di live streaming.
Aku bermimpi berada di dalam ruang live streaming yang terang, aku mengenakan gamis abu-abuku yang licin dan agak ketat, dengan cadar terpasang sempurna. Di depanku, layar terbelah dua. Di sisi lain, tampak seorang pria tampan, berwajah tulus seperti Pak Bayu tetapi dengan sorot mata penuh hasrat, yang sedang melakukan PK match denganku. Di atas layar, angka gift kami berdua berdetak cepat.
Ting! Ting! Ribuan gift masuk.
"Ayo, Ukhti Zahra! Challenge! Jangan kasih menang!" teriak suara-suara anonim dari kolom komentar yang membanjiri layar.
Aku tersenyat. Aku kalah telak. Skorku jauh di bawah pria itu.
"Hukuman, Ukhti Zahra!" seru suara pria itu, suaranya serak dan menuntut. "Aku mau lihat kamu goyang! Tunjukkan goyanganmu!.. hahaha."
Aku tersenyum di balik cadar, sebuah senyum penuh rahasia dan kepasrahan. Aku mengangguk.
Aku memulai challenge pertamaku. Aku mulai menggoyangkan pinggulku, pelan di awal, tetapi semakin lama semakin sensual. Gerakan itu membuat gamis licinku berayun, mencetak siluet pantatku yang padat.
"Mmmhh... Ahhh!" aku mendesah, suaraku parau, menikmati sensasi damba yang datang dari ribuan mata di layar.
"Lagi, Ukhti Zahra! Lebih liar! Aku mau lihat kamu meliuk!" perintah pria itu.
Aku kalah lagi. Dan kali ini, hukumannya semakin brutal, didorong oleh komentar para penonton.
"Ukhti Zahra, aku mau lihat perutmu! Buktikan kamu seksi, ayo robek baju kamu. haha!"
Aku memejamkan mata. Aku mengambil gunting yang entah dari mana muncul di tanganku. Dengan tangan gemetar, aku mulai menggunting gamis abu-abuku. Sret! Sret! Kain itu robek di bagian perut, memperlihatkan perutku yang rata dan putih mulus, sedikit pusarku terlihat.
"Aahh!" aku menjerit lirih. Sensasi terlarang itu membuatku gila. Aku mengelus perutku, merasakan pandangan ribuan pria menelanjangiku.
"Lagi, Ukhti Zahra! Kamu belum cukup liar, kami belum puas. Iya kan penonton. Hahaha!!" teriak pria itu, suaranya kini terdengar seperti Mas Bims, penuh dominasi.
Aku kalah lagi. Tantangan terakhir menghantamku.
"Aku mau kamu tunjukkan bra kamu! Nenen se gede itu pasti enak kalo di kenyot!"
Aku menatap layar. aku sudah menjadi Ratu Dosa.
Aku meraih lubang yang aku sobek di gamisku tadi. Aku menariknya ke atas, membiarkan bra dan payudaraku yang besar dan padat terekspos. Aku mendesah liar, suaraku pecah, penuh gairah yang tak tertahankan.
"Aahhh! Ayoo sini kenyot putingku! Ahhh!"
Aku menjerit, di hadapan ribuan mata para pria cabul di aplikasi itu.
Kemudian Aku bangun, Aku tersadar. Aku berada di kamarku, Aku bersyukur ternyata itu semua Cuma mimpi. Pagi sudah menjelang. Jendela kamarku menampilkan cahaya fajar.
Aku buru-buru menyentuh dadaku. Mukenaku masih utuh dari semalam.
Mimpi itu begitu hidup. Aku tahu, ini bukan sekadar fantasi. Ini adalah proyek liarku yang harus segera kulaksanakan. Aku harus menciptakan akun baru nanti.
Aku segera bangun. Kulihat sudah jam lima pagi. Aku kemudian menunaikan Shalat Subuh. Setelah shalat, aku berganti menggunakan gamis abu-abu yang ketat itu, nggak tau kenapa aku ingin memakai gamis ini. Kemudian aku menyapu rumah, membersihkan setiap sudut ruang tamu yang baru saja menjadi saksi bisu kehinaan dan kebinalanku. Kemudian, aku menyapu halaman depan rumah kontrakanku.
Aku melakukan rutinitas itu dengan pikiran yang terbagi. Satu sisi masih menjaga peran sebagai Ukhti Zahra yang alim dan rajin, tetapi sisi lainku kini fokus merencanakan menjadi Ratu Dosa di dunia maya. Aku harus menciptakan benteng yang tak bisa dihancurkan. Aku harus memastikan, kehancuran yang terjadi di rumahku tidak akan merusak citra suci yang kugunakan untuk mengajar mengaji.
Sambil menyapu halaman, aku memastikan wajahku tertutup sempurna oleh cadar, mengangguk sopan pada tetangga yang sesekali lewat.
Kemudian, ada suara motor berhenti di depan rumahku.
"Assalamualaikum, Ukhti," sapa suara yang dalam dan familier.
"Wa'alaikumsalam," jawabku, sambil mengangkat kepala.
Kulihat itu adalah Pak Bayu. Ia mengenakan kemeja kantor yang rapi, tampak sangat maskulin di atas motor sport-nya.
"Ehh, Pak Bayu! Mau berangkat kerja?" tanyaku, berusaha terdengar santai, meskipun jantungku langsung berdesir melihatnya.
"Iya, Ukhti. Mau berangkat kerja," jawabnya, tersenyum ramah. "Rajin sekali Ukhti pagi-pagi nyapu halaman rumah."
"Alhamdulillah, Pak. Sudah rutinitas, biar rumahnya bersih," jawabku, membalas senyumnya dari balik cadar. Aku mencengkeram erat gagang sapu, berusaha mengendalikan diri dari gejolak hasrat yang selalu ia picu.
Pak Bayu mengangguk, matanya menatapku dengan tulus, seperti biasa. Namun, kali ini, pandangannya sedikit berbeda. Ia tidak lagi menatap lurus ke mataku seperti dulu, melainkan sedikit turun, ke arah dadaku. Ia terdiam sejenak, lalu berdeham.
"Ukhti, gamisnya bagus hehe," pujinya, suaranya sedikit lebih serak, berusaha terdengar kasual.
Aku memandang gamis abu-abuku yang licin dan mencetak tubuh. Gamis yang sama yang kemarin berhasil membuatnya gagal menjaga pandangan.
"Ihh, Pak Bayu, hehe, bagus banget yaa?" tanyaku, nadaku kembali genit, sebuah isyarat tersembunyi yang ingin memancing pengakuan liarnya
"Hehe iya Ukhti, jadi terlihat lebih seksi.. ehh maksudnya lebih cantik.. hehe," jawab Pak Bayu, suaranya sedikit gugup, tetapi matanya tetap menatap ke area dadaku, gagal menyembunyikan hasrat tersembunyinya.
"Haha. Pak Bayu ada-ada aja. Ingat istri di rumah, Pak. Masa Ukhti-Ukhti gini digodain," balasku, tawaku renyah di balik cadar.
Meskipun aku berpura-pura menolak, di dalam hati, aku merasa senang. Pengakuan ini, yang datang dari pria ideal idamanku, terasa jauh lebih memabukkan daripada pujian vulgar Pak Rahmat atau Pak Hasan.
"Ya ampun, Maaf Ukhti Zahra," balasnya, mencoba menguasai diri, tetapi senyumnya semakin lebar, menyimpan rahasia. "Saya duluan ya, Ukhti. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, Pak Bayu," jawabku, mengangguk sopan.
Aku berdiri di halaman, melihat punggungnya yang tegap menjauh di atas motor sport-nya. Sekarang, godaan nyata dari Pak Bayu telah menyempurnakan kehancuranku.
Aku kembali masuk ke dalam rumah. Ini adalah sinyal bahwa aku harus segera meluncurkan identitas baruku. Aku tidak bisa lagi menahan hasrat untuk mendominasi dan mendapatkan pengakuan liar.
Aku berjalan cepat ke kamar, mengambil ponselku. Waktunya membuat akun baru. Aku akan menjadi Ratu Kenikmatan di Toktok.
Aku mulai mengotak-atik aplikasi. Dengan tangan gemetar, aku membuat akun baru, sebuah identitas alter yang benar-benar terpisah dari Ukhti Zahra sang guru ngaji.
Setelah proses pendaftaran, aku memberi nama akunku QueenSha. Nama yang terdengar dominan, angkuh, dan penuh kekuasaan. Ini adalah nama yang akan dipakai oleh Zahra versi yang liar, yang ingin menjadi ratu mencari kenikmatan.
Lalu, aku mengatur foto profil. Aku tidak berani menggunakan wajahku sendiri, meskipun tertutup cadar, karena takut terhubung dengan identitas asliku. Aku memutuskan untuk memakai foto profil fiktif, sebuah gambar siluet wanita berjilbab dengan mahkota, yang memancarkan aura misterius dan mendominasi.
Aku telah menciptakan QueenSha. Benteng antara sisi suci dan liarku kini berdiri tegak. Aku tersenyum penuh rahasia. Kini, aku siap mengirim pesan kepada Mas Bims.
Aku segera mengirim pesan ke akun Mas Bims menggunakan identitas baruku, QueenSha.
"Mas Bims, aku sudah bikin akun baru."
Aku menunggu balasannya. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Ponselku tetap sunyi. Mas Bims tak kunjung menjawab. Mungkin dia sedang sibuk, atau belum melihat pesanku.
Aku merasa tidak sabar. Hasrat untuk mendapatkan pengakuan liar yang kudambakan sudah memuncak, terutama setelah godaan Pak Bayu tadi. Aku tidak bisa menunggu. Aku harus berinisiatif.
Aku memutuskan untuk live sendiri.
Aku mencari spot yang tidak ada orang lain tahu. Aku masuk ke kamar tidurku. Aku mengatur ponselku di atas meja rias, menjadikannya tripod. Aku live dengan background kamarku. Tidak ada yang tahu spot ini selain aku sendiri karena tidak ada orang lain yang pernah masuk kamarku. Ini terasa aman, sebuah ruang rahasia tempat QueenSha menjalankan aksinya.
Aku merapikan gamis abu-abuku yang licin dan mencetak tubuh. Aku memastikan cadarku terpasang sempurna, hanya menyisakan mata indahku yang ber-eyeliner. Aku menenangkan diri, menarik napas panjang.
Aku kemudian menekan tombol live.
Di layar, nampaklah diriku: QueenSha yang tertutup sempurna, dari kepala sampai ke sebagian dada. Aku belum berani menampilkan sampai payudaraku.
Aku menyapa para penonton dengan suara yang kuusahakan selembut mungkin, tetapi ada nada percaya diri yang kental di sana.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, semuanya. Selamat datang di live perdanaku."
Penontonku mulai bertambah. Dari nol, menjadi lima, lalu sepuluh, dan kemudian ada 15 orang. Komentar-komentar mulai masuk, kebanyakan hanya menyapa ringan.
Tiba-tiba, muncul notifikasi di layar. Seseorang mengundangku untuk PK match.
Aku terkesiap, tetapi hasratku bergejolak. Aku menerima undangan itu.
Layar terbelah dua. Di sisi seberang, tampak seorang laki-laki tampan, wajahnya bersih, stylish, dan mukanya mirip artis Korea. Ia menatapku dengan senyum yang penuh misteri. Ini adalah lawan pertamaku sebagai QueenSha. Jantungku berdebar tak karuan, bercampur antara gugup dan euforia liar.
Bersambung...
