Aku membuka kunci pintu.
Pintu itu terbuka, menampakkan Pak Rahmat dengan seragam satpamnya yang lusuh, wajahnya merah padam karena hasrat dan kekuasaan.
"Nah, gitu dong, Ukhti. Saya tahu Ukhti mau main juga, kan? Sini, saya mau..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, aku mengangkat tangan, memberinya isyarat untuk diam. Aku menatap matanya dengan pandangan setajam mata cadarku, ekspresi paling dingin dan paling merendahkan yang pernah kuberikan.
"Pak Rahmat," ucapku, suaraku dalam, tenang, dan menusuk, persis seperti intonasi saat aku mengajar mengaji. "Tolong jaga kehormatan dan tugas Bapak. Saya tadi hanya selesai mandi, dan saya tidak suka diganggu."
Pak Rahmat terdiam. Ia tampak bingung, tidak menyangka akan menghadapi Ukhti Zahra yang alim, bukan wanita binal yang ia lihat di sofa.
Aku melanjutkan, kata-kataku kini mengandung ancaman tersembunyi.
"Dan satu lagi, Pak Rahmat. Aku bisa melaporkan bapak ke polisi dengan tuduhan mendobrak masuk ke rumah dengan niat jahat atau pemerkosaan."
Kata-kata itu berhasil. Wajah Pak Rahmat seketika pucat pasi. Ia mundur selangkah, kaget. Kekuasaan yang tadi ia tunjukkan langsung runtuh di hadapan ancaman hukum.
"Tapi Ukhti..." ia merengek, suaranya kembali menjadi serak dan memelas, seperti pengemis hasrat. "Aku udah ngaceng banget. Please bantuin dong, Ukhti. Cuma sebentar aja." Ia melirik ke arah celana seragamnya yang menonjol.
"Enggak, ya Pak. Sana keluar," tolakku, nadaku tetap dingin dan tegas, meskipun di dalam hati, gairah yang sempat hilang kini berdesir kembali, melihat betapa memelasnya pria yang tadi mengancamku.
Pak Rahmat semakin memelas. Ia memajukan tubuhnya sedikit, mencoba merayu. "Ukhti Zahra... Please, kasihanilah Bapak. Bapak janji, cuma sebentar. Lihat ini, Ukhti. Ini semua karena Ukhti. Kalau enggak dituntaskan, Bapak enggak bisa kerja. Cuma sebentar, please... mau ya? Enggak akan ada yang tahu kok tenang aja."
Aku menatapnya. Rasa kasihan yang aneh tiba-tiba muncul. Di satu sisi, dia adalah pria yang mengancam kehancuranku. Di sisi lain, dia adalah pria kesepian, yang kini menunduk, mengakui hasratnya yang tak tertahankan kepadaku.
Aku teringat pesan Mas Bims: Buka pintunya, Ukhti. Kamu harus mengendalikan situasi. Dan Lakukan apa yang kamu mau.
Mas Bims menyuruhku membuka pintu. Dia menyuruhku mengendalikan situasi.
Aku menghela napas panjang. Aku tahu ini gila, tetapi aku juga tahu, aku tidak bisa menolak hasratku sepenuhnya. Selain itu, dengan membiarkan dia menuntaskan hasratnya, aku bisa memastikan dia tidak akan pernah berani mengancamku lagi, dan dia akan berutang budi padaku.
Aku menyingkirkan tubuhku dari ambang pintu, memberikan sedikit celah.
"Baik, Pak Rahmat. Bapak boleh masuk," ucapku, suaraku kembali berubah menjadi nada yang tenang dan mendominasi. "Tapi ingat, cuma sebentar. Dan tidak ada sentuhan. Bapak hanya boleh... coli dengan cepat, dan sebelum Maghrib, Bapak harus segera pulang. Janji?"
Wajah Pak Rahmat seketika berseri-seri. Ia tersenyum penuh kemenangan dan rasa lega, mengabaikan syarat-syaratku.
"Iya, Ukhti! Aku janji! Aku janji!" serunya, ia buru-buru melangkah masuk ke dalam rumah kontrakanku.
Aku menutup pintu dengan perlahan. Aku telah membiarkan serigala masuk ke dalam rumah si domba suci. Aku telah melewati batas kegilaan yang baru. Aku kini menjadi dalang, yang mengizinkan pemerkosaan terselubung terjadi di ruang tamuku sendiri, di bawah kendali seorang pria yang tak terlihat, Mas Bims.
Aku melangkah cepat. Tangan kananku segera menarik gorden ruang tamu yang tadi kubiarkan terbuka setengah. Kain gorden itu tertutup rapat, menghalangi pandangan dari luar, dan seketika, suasana di dalam rumah terasa lebih gelap dan terisolasi. Tindakan itu adalah sebuah kontradiksi yang menyakitkan: aku baru saja menutup pintu bahaya dari dunia luar, tetapi justru mengizinkan inti bahaya itu masuk ke dalam rumahku.
Aku berbalik. Pak Rahmat berdiri di tengah ruangan, wajahnya masih memerah dan matanya menyala penuh hasrat.
"Sini, Pak Rahmat. Duduk di sofa seberangku," ucapku, nadaku kembali dingin dan mendominasi. Aku berjalan ke sofa tempatku tadi duduk telanjang, dan duduk di sana.
Aku menunjuk sofa di seberangku, sofa yang membelakangi jendela dan gorden yang baru saja kututup. Dengan begitu, Pak Rahmat akan memunggungi gorden, Aku juga menjaga jarakku tetap jauh dari Pak Rahmat.
Pak Rahmat mengangguk cepat, senyumnya menyeringai. Ia melangkah menuju sofa yang kutunjuk dan duduk di sana, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Ia tampak lega dan penuh kemenangan.
"Yaudah cepat, Pak, jangan lama-lama," desakku, suaraku kaku, berusaha mengendalikan waktu dan situasi.
Pak Rahmat tidak langsung bergerak. Ia menatapku, matanya menyapu tubuhku yang kini tertutup rapat oleh gamis dan cadar. Wajahnya menunjukkan kekecewaan karena ia tidak lagi melihat pemandangan yang tadi ia saksikan di jendela tadi.
"Ukhti buka lagi dong gamisnya kayak tadi hehe," rayunya, nadanya menjijikkan.
"Engga, Pak. Gini aja," tolakku tegas, Aku harus mempertahankan sisa-sisa wibawaku.
Pak Rahmat mendesah. Ia mengangguk pasrah.
"Yaudah deh, Ukhti. Tapi Ukhti lihat Bapak ya. Bapak ngaceng banget nih lihat Ukhti yang alim begini," pintanya, suaranya serak, penuh pemujaan liar.
Aku hanya diam, tidak mengiyakan dan tidak menolak. Aku membiarkan keheningan itu menjadi persetujuan.
Pak Rahmat tidak menyia-nyiakan waktu. Ia menggerakkan tangannya ke selangkangan, kemudian aku mendengar suara gesekan kain dan resleting dibuka. Ia menurunkan celana seragamnya hingga ke lutut, memperlihatkan tubuh bagian bawahnya yang telanjang.
Deg!
Meskipun aku sudah pernah melihatnya, pemandangan itu terasa lebih nyata, lebih mengancam, dan lebih memalukan karena ia kini berada di dalam rumahku. Penisnya yang besar, tegang, dan hitam berdiri tegak, menyambutku, sangat berbeda dengan milik mas bims yang putih bersih.
Aku menelan ludah, seluruh tubuhku menegang di balik gamisku.
"Ahhh... Ukhti Zahra..." erang Pak Rahmat, ia mulai menggerakkan tangannya di kemaluannya.
Tangannya yang besar dan kasar mulai memompa dengan ritmis. Gerakannya cepat, brutal, dan matanya terus tertuju padaku, mencari reaksi di balik cadarku.
"Gila, Ukhti! Ukhti lihat ini! Aku ngaceng banget karena kamu! Body kamu yang aku lihat tadi... Nenen kamu yang gede... Ahhh! Aku mau kamu desah kayak tadi, Ukhti!" desahnya, suaranya semakin keras.
Aku memejamkan mata sejenak, menenangkan gairah yang kembali bergejolak melihat adegan vulgar di hadapanku.
"Aku... aku enggak bisa desah, Pak Rahmat," ucapku, suaraku parau, berusaha meniru intonasi yang kuingat dari pesan Bims. "Aku cuma mau Bapak cepat selesai."
"Aku susah keluar kalau ukhti enggak desah! Aku tahu ukhti masih sange kan! Desah untuk aku! Aku mau ukhti sebut nama aku!" ucap Pak Rahmat, kini ia berdiri, mendekat ke tepi sofa di seberangku, tubuh bagian bawahnya yang telanjang terekspos penuh di hadapanku.
Aku meraih gamisku, mencengkeramnya erat-erat di pangkuanku, tetapi tanganku yang gemetar kini mulai mengelus pahaku sendiri, dari luar gamis.
"Mmmhh... Ahhh..." rintihku, desahan lirih itu lolos tanpa bisa kutahan.
"Gitu, Ukhti! Terus! Lebih liar!" seru Pak Rahmat, gerakannya semakin brutal, matanya menyala penuh kemenangan.
Aku terus mengelus pahaku, membiarkan tubuhku melengkung di sofa. Desahanku semakin keras, mengimbangi gerakan tangannya.
"Ahh! Pak Rahmat! Terus! Lebih cepat! Aku suka! Mmmhh!" Aku menjerit lirih, memanggil namanya di tengah perbuatan cabul yang ia lakukan.
Aku semakin bernafsu melihat penisnya, tanganku kumasukkan ke balik jilbab, aku meremas payudaraku dari luar gamisku. Siluet tanganku meremas payudaraku terlihat jelas dari luar jilbabku. Pak Rahmat semakin semangat. Gerakan tangannya semakin brutal. "Ahhh.. Iyahh Gitu Ukhti.. Baguss.. Ahhh.. "
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba, suara ketukan lain yang lebih ringan terdengar dari pintu depan.
Degg..!!, Jantungku mau copot untuk kesekian kalinya.
"Assalamualaikum, Ukhti Zahra. Ini Bu Ratih. Maaf, mengganggu, saya mau pinjam timbangan sebentar."
Bu Ratih. Tetanggaku. Sosok yang akan menghakimiku jika tahu ada satpam dengan penis yang baru saja dikeluarkan di ruang tamuku.
Pak Rahmat panik. Ia segera melihat sekeliling, mencari tempat bersembunyi. Celananya masih melorot.
"Sini, Pak Rahmat, cepat! Di dapur!" bisikku, melompat berdiri, menunjuk ke dapur yang hanya dipisahkan oleh dinding.
Pak Rahmat tidak berpikir dua kali. Ia buru-buru menarik celananya ke atas tanpa merapikan resleting, berlari ke dapur dan bersembunyi di dalam kamar mandi, bersandar kaku, mencoba mengatur napasnya.
Aku melangkah ke pintu depan. Aku merapikan gamisku dan jilbabku dengan gerakan cepat, menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungku yang memburu. Aku harus kembali ke peran Ukhti Syar'i yang sempurna.
Klek.
Aku membuka pintu, tersenyum dari balik cadar.
"Wa'alaikumsalam, Bu Ratih. Ada apa ya, Bu?" tanyaku, suaraku kuusahakan selembut dan setenang mungkin. Wajah Bu Ratih terlihat ramah, tanpa curiga sedikit pun.
Di hadapanku, Bu Ratih, tetangga seberang rumah, tersenyum ramah. Ia adalah sosok ibu-ibu komplek yang cerewet dan sangat memperhatikan moral.
"Begini, Ukhti Zahra," kata Bu Ratih, nadanya santai. "Anak saya mau kirim paket. Saya mau pinjam timbangan dapur sebentar. Timbangan saya rusak. Maaf ya, mengganggu sore-sore begini."
Aku harus bertindak cepat. Aku tidak bisa membiarkan Bu Ratih masuk dan melihat sofa yang baru saja menjadi panggung adegan vulgar.
"Ohh iya, Bu, boleh. Tunggu ya, Bu," jawabku, senyumku dari balik cadar kuusahakan terlihat ramah dan tanpa cela.
Aku melangkah cepat ke dapur. Aku mengambil timbangan dapur dari lemari. Gerakanku sangat terburu-buru, tetapi aku harus menjaga agar tidak ada suara pak rahmat dari kamar mandi yang bisa didengar Bu Ratih.
Aku kembali ke pintu depan.
"Ini, Bu timbangannya. Silakan dipakai," ucapku, menyodorkan timbangan itu ke depan.
"Wah, makasih banyak ya, Ukhti Zahra. Maaf ngerepotin," balas Bu Ratih sambil menerima timbangan itu. "Sibuk ya, Ukh? Tadi saya lihat gordennya tertutup rapat banget."
Jantungku kembali kencang. Bu Ratih telah memperhatikan gordenku!
"Iya, Bu. Tadi habis video call kajian sama teman-teman. Jadi gordennya saya tutup," jawabku cepat, menggunakan kebohongan yang paling aman.
"Ohh, begitu. Bagus, Ukhti. Rajin sekali. Ya sudah, saya permisi dulu ya, Ukh. Assalamualaikum," kata Bu Ratih.
"Wa'alaikumsalam," balasku.
Setelah Bu Ratih berbalik dan berjalan menuju rumahnya, aku segera menutup pintu. Aku memutar kunci dengan cepat, memastikan pintu terkunci rapat.
Baru setelah itu, aku berbalik dan berjalan cepat ke belakang, ke arah dapur, tempat Pak Rahmat bersembunyi.
Aku mengetuk pelan pintu kamar mandi.
"Pak Rahmat," bisikku pelan. "Bapak bisa keluar sekarang. Cepat rapikan diri Bapak lalu pulang."
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka perlahan. Pak Rahmat melangkah keluar, tetapi bukan dengan pakaian rapi. Ia keluar dalam keadaan telanjang bulat, sambil tangannya terus mengocok penisnya yang masih tegang.
Aku kaget. Seluruh tubuhku menegang. Aku refleks menutup mataku dengan kedua tangan.
"Pakk... kok telanjang!" seruku, suaraku parau, dipenuhi keterkejutan dan rasa malu yang memuncak.
Pak Rahmat menyeringai, tidak terpengaruh oleh kepanikanku. Ia melangkah maju, mendekatiku.
"Iya, Ukhti. Bapak Sudah enggak tahan. Boleh yaa?" godanya, suaranya serak dan menuntut.
Aku diam, jantungku berdebar tak karuan, terperangkap di antara dinding dan tubuhnya yang telanjang.
"Ahhh... Ukhti buka aja matanya. Lihat aja, enggak apa-apa," bisiknya, suaranya kini membujuk, memancing hasrat liarku. "Bapak janji, enggak akan pegang Ukhti. Bapak cuma mau Ukhti lihat aku coli di depan ukhti aja.."
Aku menelan ludah. Rasa malu yang kuat beradu dengan rasa ingin tahu dan gairah yang kembali bergejolak. Aku adalah Zahra yang liar, yang baru saja melayani hasrat di dunia maya dan mengizinkan perbuatan cabul terjadi di ruang tamunya. Apakah batas ini benar-benar harus kupertahankan?
Perlahan, aku menurunkan tanganku dari wajahku. Aku membuka mataku.
Aku kini menyaksikan Pak Rahmat berdiri telanjang bulat di hadapanku, di tengah dapurku sendiri. Aku, si Ukhti Syar'i dengan gamis dan cadar yang menutupi setiap inci tubuhku, berhadapan dengan pemandangan paling telanjang dan vulgar yang pernah kulihat.
Penisnya yang hitam, besar, dan keras, ada di hadapanku, diiringi gerakan tangannya yang brutal. Badan nya yang kurus hanya berjarak satu meter dari tubuhku.
"Ahh... Ukhti... Body kamu bagus banget," erang Pak Rahmat, suaranya pecah, matanya menatapku lekat-lekat, penuh kekaguman liar.
"Cepat, Pak... sebelum Maghrib," desakku, suaraku parau.
"Bantuin dong, Ukh, biar cepat... Remas nenen kamu kayak tadi," pintanya, suaranya serak, memohon bantuan.
Aku nurut. Aku segera memasukkan tanganku dibalik jilbab dan gamisku, kemudian mencengkeram payudaraku yang besar dan padat, meremasnya kuat-kuat.
"Ahh... Mantap banget, Ukhti!" seru Pak Rahmat, gerakannya di kemaluan semakin brutal, mengimbangi remasanku.
"Iya, Pak, cepat! Ahh..." aku mendesah, membiarkan tubuhku melengkung di balik gamis.
"Hehe. Enak kan, Ukhti? Sudah mulai sange kan," godanya, tawanya terdengar penuh kemenangan.
"Ahhh... Enggak, Pak. Cepat," tolakku lemah, meskipun rasa basah dan geli di bawah sana mengkhianati kata-kataku.
Pak Rahmat maju selangkah, kini jaraknya denganku tinggal sejengkal. Ia mempercepat kocokannya, penisnya yang keras bergetar di hadapanku.
"Aahh... Ukhti, jilbabnya angkat dong. Aku ingin lihat tangan Ukhti meremas," rayunya, suaranya mengandung perintah yang menuntut penyerahan diri yang lebih dalam.
Aku menatapnya. Rasa malu itu ada, tetapi hasrat yang memuncak dan kebutuhan untuk segera mengakhiri permainan berbahaya ini membuatku goyah.
Aku menghela napas pasrah. Aku menarik jilbab lebarku yang menutupi dada dengan tangan kiriku, dan menyampirkannya ke pundak. Payudaraku yang sedang kuremas dengan tangan kanan kini terlihat lebih jelas, tercetak di balik gamis.
Pak Rahmat mendesah keras, gerakannya di kemaluan seketika melambat, matanya terpaku pada pemandangan di balik jilbabku.
"Masya Allah, Ukhti Zahra... Gila!. Bagus bangett.." erangnya, suaranya serak, penuh kekaguman. "Itu yang aku mau lihat, Sayang. Nenen Ukhti... besar banget, Ukh! Padat. Aku enggak bohong, Ukhti Zahra. Nenen Ukhti ini yang paling bagus yang pernah aku lihat, melebihi cewek-cewek lain di komplek sini."
Pujian vulgar itu menghantamku, mematikan rasa malu dan menggantinya dengan kebanggaan yang kotor. Aku adalah Ukhti Zahra, guru ngaji alim, yang kini dipuji payudaraku oleh seorang satpam telanjang di dapurku.
"Aahh... andai aku bisa meremasnya, Sayang! Andai aku bisa kulum puting Ukhti Zahra!.. Ahhh.." Pak Rahmat mendesah, tangannya yang mengocok penisnya kini gemetar. "Aku pengen banget ngentot Ukhti Zahra! Aku pengen rasain memek Ukhti yang perawan! Aku janji, Ukhti pasti lebih enak daripada cuma digesek di warung nasi goreng itu!"
Desahan dan kata-kata kotornya, yang secara langsung menyerang kehormatanku, justru membuat hasratku meledak tak tertahankan. Aku menutup mataku, membiarkan tubuhku melengkung.
Aku meremas payudaraku lebih kuat, mencubit putingku dari luar hingga terasa sakit. Desahan liarku kini mengimbangi erangan Pak Rahmat.
Aku membayangkan tangan besar dan kasar Pak Rahmat yang meremas payudaraku. Aku membayangkan penisnya yang tegang dan bersih, yang kini terpampang di depanku, menghantam vaginaku, Aku membayangkan diriku menjerit di bawahnya, bukan karena takut, melainkan karena kenikmatan.
"Aahh! Pak Rahmat! Lebih cepat! Aku suka! Mmmhh!" Aku menjerit lirih, memanggil namanya di tengah fantasi liar itu. Aku sepenuhnya hanyut dalam dosa yang baru saja kucapai.
Aku terus meremas payudaraku, cengkeramanku semakin kuat, dan badanku melengkung ke belakang, bersandar ke tembok dapur.
"Ahhh! Pak Rahmat! Terus! Lebih cepat! Aku suka! Mmmhh!" Aku menjerit lirih.
"Gila, Sayang! Ukhti udah sange berat banget yaa.. hehe! Aku enggak tahan lihat nenen kamu yang besar itu!" erang Pak Rahmat, gerakannya di kemaluan semakin brutal. "Aku boleh enggak ikut remas nenen Ukhti? Biar kita sama-sama enak, Sayang!" rayunya, suaranya serak, penuh permohonan yang mendesak.
"Jangan, Pak! Ahhh..." tolakku, suaraku parau, meskipun aku tahu penolakanku kini hanyalah formalitas, dalam hati kecilku aku menginginkan itu.
Pak Rahmat tidak peduli. Ia mengambil langkah yang lebih berani. Tiba-tiba, ada yang menyingkirkan tangan kiriku di payudara kiriku, kemudian sentuhan asing, hangat, dan kasar mendarat di dadaku. Tangan kanannya yang besar telah menyentuh payudaraku, menangkupnya kuat-kuat di balik gamisku.
"Ahhh Pakk Emmhh... " desahan panjang, parau, dan basah lolos dari bibirku. Tubuhku tersentak hebat. Sensasi sentuhan fisik yang nyata, setelah gejolak yang kupicu sendiri, menghantamku seperti gelombang panas. Aku melepaskan remasanku sendiri. Kini, tangan Pak Rahmat yang mengambil alih permainan liar di tubuhku.
Tangan besar dan kasar Pak Rahmat mencengkeram payudaraku kuat-kuat di balik gamis. Ia meremasnya dengan brutal.
"Gila, Ukhti Zahra! Aku enggak bohong! Nenen kamu ini enak banget Sayang! Gede, kenceng, padat banget!" erangnya, suaranya pecah, dipenuhi kejujuran yang memabukkan.
Sentuhan fisiknya yang nyata, beradu dengan pemandangan penisnya yang tegang, membuat hasratku meledak. Aku melengkungkan punggungku, bersandar di tembok, menikmati setiap remasannya.
Tangan kiriku yang kini bebas, refleks bergerak ke bawah, ke area paling sensitifku mulai mengelus vaginaku dari luar kain gamisku.
"Ahh... Mmmhh..." desahku, suaraku semakin parau, mencari pelampiasan ganda.
Pak Rahmat menyadari gerakanku. Ia melirik ke bawah, ke tanganku yang tersembunyi.
"Hahaha! Ukhti Zahra! Ternyata kamu memang binal yaa Sayang!.. Ahh.. Enak kann Ukhti?." tawanya serak, penuh kemenangan. Ia sama sekali tidak merasa jijik, justru semakin bersemangat.
Remasannya di payudaraku semakin brutal, mencubit putingku dari luar hingga menegang.
"Gitu, Ukhti! Terus! Gesek yang cepat! Bapak suka lihat kamu binal begitu!" serunya, ia mempercepat kocokannya di kemaluannya, mengimbangi ritme gesekanku di vagina.
Aku sepenuhnya hanyut. Remasan di payudara, gesekan di vagina, dan pemandangan penis yang dikocok di hadapanku, semuanya berpadu menjadi pusaran gairah.
"Ahh! Pak Rahmat! Lebih cepat! Aku mau keluar! Ahhh...!" Aku menjerit lirih, memohon, tubuhku kejang-kejang.
Pak Rahmat mendesah keras, suaranya pecah, tahu bahwa kami berdua mencapai batas. "Gila, Sayang! Aku juga enggak tahan!!"
Ia mencondongkan tubuhnya, menyentuhkan penisnya yang keras dan hangat ke pahaku, penisnya terasa hangat di pahaku, meskipun terhalang gamis.
"Aahhh! Keluarrr! Aku Keluarrr Pakk!.. Ahhh.. Ahhh… Emmhhh..!"
Aku menjerit lirih, tubuhku kejang hebat, orgasme itu mengguncangku di dapurku sendiri, disaksikan pria telanjang. Aku ambruk ke tembok, lemas, dengan sisa-sisa desahan parau yang masih tertinggal.
Tubuhku lunglai, meluncur ke bawah, hingga aku ambruk berlutut di lantai dapur, tepat di hadapan Pak Rahmat yang masih berdiri tegak.
Degg.!!
Penisnya yang keras dan tegang kini persis berada di depan wajahku. Aku menatap penisnya lekat-lekat, pemandangan itu terasa begitu intim, begitu vulgar, dan begitu mematikan. Aku, Ukhti Syar'i yang berlutut di hadapan penis telanjang seorang satpam di rumahku sendiri.
Pak Rahmat mendesah keras, menyadari posisiku yang tak berdaya. Ia memanfaatkan momen ini. Ia menarik tangannya dari payudaraku, dan menggerakkan pinggulnya sedikit. Penisnya menyentuh pipiku dibalik cadarku.
"Aahh... Ukhti Zahra... Kamu hebat, Sayang! Body kamu bikin Bapak gila! Aku mau keluar! Aku mau crot di cadar Ukhti, ya? Boleh ya, Sayang! Aku mau crot di wajah Ukhti yang alim ini. Ahhh.. !" erangnya, suaranya pecah, penuh keputusasaan dan hasrat.
Aku tersentak, rasa malu dan ngeri memuncak. Aku menggeleng kepala kuat-kuat.
"Jangan, Pak! Jangan! Aku mohon!" bisikku, suaraku nyaris tak terdengar.
Namun, Pak Rahmat sudah berada di ambang batas. Ia tidak peduli dengan penolakanku.
"Terlambat, Sayang! Aku enggak tahan! Aku mau crot di muka kamu! Ahhh… ahhh…!!"
Ia mencengkeram kepalaku, menahannya agar tetap berada di posisi itu. Ia menjerit keras, sebuah desahan klimaks yang hebat, memecah keheningan sore di rumah itu, aku hanya bisa pasrah akan menerima spermanya di wajahku yang suci ini.
"Aahhhhh! Ukhti Zahraaa! Aku Keluarrr! Ahhh...Ahhh... Croottt!!!.. Croottt!!!.. Croottt!!!.."
Aku merasakan sensasi hangat, lengket, dan berbau amis menyemprot keras ke cadarku, menembus kain, dan membasahi sebagian wajahku dan mataku. Tubuh Pak Rahmat terhuyung, ia ambruk, lemas, bersandar ke tembok kamar mandi.
Aku membeku di posisi berlutut, wajahku basah oleh sperma pria cabul ini, wajah yang tertutup oleh cadar yang seharusnya menjadi lambang kesucianku. Aku merasa dihina, dicabuli, tetapi di saat yang sama, rasa damba dan hasrat yang tak terpuaskan itu terasa tuntas untuk sore ini.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Hanya tersisa napas kami yang memburu dan aroma dosa yang kuat. Aku adalah kehancuran yang nyata.
Aku terdiam di posisi berlutut, mukaku merasa basah dan hancur, sementara napas Pak Rahmat terdengar lega dan penuh kemenangan.
"Ahh Ukhti. Bapak puas banget.. Terima kasih yaa Ukhti," bisiknya serak, wajahnya dipenuhi rasa syukur yang menjijikkan.
Aku menarik napas panjang, berusaha mengendalikan getaran di tubuhku. Aku mendorongnya sedikit agar aku bisa berdiri. Aku harus mengakhiri semua ini sekarang.
"Iya, Pak, sama-sama. Tapi sekali ini aja ya, Pak. Ini yang terakhir," ucapku, suaraku kembali kaku dan tegas, sebuah upaya putus asa untuk menarik kembali batasan yang telah kuhancurkan.
"Yahh, Ukhti, padahal Bapak pengen lagi besok," rengek Pak Rahmat, wajahnya menunjukkan kekecewaan.
"Jangan ya, Pak. Awas kalo Bapak berani ke rumahku lagi, aku langsung telepon polisi," ancamku, nadaku kembali penuh kuasa.
"Iyaa deh, Ukhti..." jawabnya pasrah, menyadari ancamanku nyata.
Tepat saat itu, samar-samar terdengar suara merdu dari kejauhan. Adzan Maghrib berkumandang, memecah keheningan yang penuh dosa di dapurku.
Aku segera melangkah mundur, menjaga jarak darinya. "Pak Rahmat, Bapak harus cepat pulang. Sudah Maghrib. Orang-orang akan curiga kalau Bapak masih di sini."
Pak Rahmat mengangguk cepat. Ia buru-buru menaikkan celananya, memakai seragamnya yang kusut. Ia melangkah cepat dan berjalan menuju pintu depan.
Aku mengikutinya, memastikan dia benar-benar keluar.
Aku membuka pintu depan perlahan, melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada Bu Ratih atau tetangga lain yang melihat. Pak Rahmat melangkah keluar dengan tergesa-gesa, wajahnya menunduk, melewati ambang pintu.
"Assalamualaikum, Ukhti Zahra," ucapnya lirih.
"Wa'alaikumsalam. Cepat kembali ke pos Bapak," balasku dingin, tanpa membalas salamnya dengan senyuman.
Aku menutup pintu dengan cepat, menguncinya rapat-rapat.
Aku segera berlari ke kamar mandi, melepaskan cadarku yang basah oleh cairan spermanya, dan membuangnya ke keranjang. Kemudian, aku masuk ke dalam kamar. Aku berdiri di depan cermin meja makeup ku.
Aku menatap pantulan diriku. Ukhti Syar'i yang berantakan, gamis kusut, dan wajah yang tampak tercemar.
Aku meraba wajahku yang terasa hangat dan lengket. Aku melihat mataku yang indah di balik sisa sperma pak rahmat yang masih melekat, mata yang baru saja menyaksikan kehinaan dan mencapai klimaks gairah.
Aku kotor.
Aku telah melangkah terlalu jauh.
Aku menjatuhkan diri di kasur, tubuhku gemetar di tengah adzan Maghrib yang masih berkumandang. Aku harus segera mandi besar, untuk membersihkan diri dari dosa dan kehinaan yang baru saja terjadi. Namun, di antara rasa jijik dan rasa bersalah, ada bisikan samar yang kembali muncul, Aku adalah Zahra yang liar, dan aku menyukai sensasi itu, bahkan aku ingin lebih.
Bersambung...
