Aku meletakkan ponselku di depan mataku, tepat di meja dan menghadap jendela yang terbuka. Dengan napas terengah-engah, aku menanti tombol panggil video dari Mas Bims menyala. Jantungku berdebar tak terkendali. Ukhti Zahra sang guru ngaji, kini akan melakukan video call liar, hampir telanjang, di sofa ruang tamunya.
Ting!
Panggilan itu masuk. Aku menatap nama Bims memanggil video call, menanti ku sentuh, Aku memposisikan kamera menghadap ke bagian payudara sampai perutku saja, aku tidak mau menampilkan wajahku dan vaginaku yang basah.
Di luar, suara klakson mobil dan motor terdengar samar. Aku gemetar, tetapi tanganku meraih tombol hijau.
Di luar, suara klakson mobil dan motor terdengar samar. Aku gemetar, tetapi tanganku meraih tombol hijau.
"Halo, Sayang," suara Bims terdengar berat, serak.
Namun, rasa malu dan takut akan keterbukaan yang total menyergapku. Aku refleks, segera menutupi kamera depanku dengan jari agar tubuhku tak terlihat di layarnya.
"Mas Bims... aku enggak berani," bisikku, suaraku parau, terasa sangat basah.
"Kenapa, Sayang? Aku sudah lihat kamu barusan, Kamu sudah lepas gamis kamu kan.. Ukhti Zahra. Jangan malu, Body kamu bagus banget tadi walaupun Cuma sebentar tapi sudah kelihatan kok badanmu sempurna banget. ". jawabnya, suaranya kini terdengar seperti perintah yang dominan.
Aku menatap layar ponselku. Di sana, aku melihat penampakan yang membuatku tersentak, terkejut, sekaligus terangsang hebat. Disana, aku melihat penis Mas Bims, yang berdiri tegak sempurna.
"Masya Allah..." desahku, tanpa sadar.
Penis itu tampak besar, putih, dan bersih, jauh lebih bersih daripada punya Pak Hasan dan Pak Rahmat yang hitam. Itu adalah pemandangan yang berbeda, bersih, namun sama liarnya.
"Kamu suka, Sayang?" goda Bims. "Lihat, ini semua karena kamu. Aku ngaceng karena membayangkan kamu di balik cadar dan mengisi pengajian online, ternyata punya nafsu yang besar juga yaa.. hehe. Mas suka banget sama ukhti yang kayak gini."
Aku tidak bisa menahan diri. Aku ingin melihatnya lebih jelas.
"Aku... aku enggak bisa lihat wajah Mas Bims," kataku, berusaha mengalihkan fokus dari pemandangan di layarku.
"Tidak perlu, Sayang. Cukup lihat ini. Ini adalah bukti paling nyata dari hasratku padamu," balasnya, lalu ia mulai menggerakkan tangannya di kemaluannya.
"Sekarang, Ukhti. Angkat jarimu. Aku mau lihat tubuh kamu lagi. Biar kita sama-sama enak."
Perintahnya begitu jelas, begitu menuntut. Aku tahu, penolakan hanyalah formalitas. Mas Bims menawarkan pengakuan liar yang kucari, dan harganya adalah keterbukaan. Aku ingin dia melihatku.
Aku menarik napas panjang. Aku mengangguk lemah.
"Iya, Mas Bims," bisikku, sebuah penyerahan diri total kepada dalang rahasia di dunia maya ini.
Aku menyingkirkan jariku sedikit dari kamera, hanya cukup untuk menampilkan sebagian kecil tubuhku, sebagian payudaraku yang besar di balik bra dan perutku yang rata.
Aku menatap ponsel. Wajah Bims memang tidak terlihat, tetapi penisnya terlihat sangat jelas, dan desahannya terdengar keras di telingaku.
"Ahhh! Gila, Ukhti Zahra! Nenen kamu gede banget! Aku enggak bohong! Aku mau lihat semua, Sayang. Buka bra kamu!" serunya, suaranya pecah, penuh gairah.
Mendengar pujian vulgar itu , aku kembali tersentak malu. Sensasi bahaya bahwa dia bisa melihat, ditambah dengan pengakuan yang begitu jujur, membuatku kembali pada insting malu-maluku. Aku refleks menutup lagi kamera depanku dengan jari.
"Aku... aku malu, Mas Bims," bisikku, suaraku parau, mencengkeram kamera ponsel dengan jariku.
"Jangan malu, Sayang," balasnya, suaranya kini kembali lembut, membujuk. "Aku enggak akan rekam. Aku janji. Aku cuma mau kamu nyaman sama hasratmu, Aku mau bantu kamu biar bisa puas dan binal seperti ustadzah Tiara."
Aku kembali melengkungkan tubuhku di sofa. Aku menyentuh vaginaku dari luar celana dalam, basah. Aku sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Aku menyerah.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menyingkirkan jariku dari kamera. Aku kini membiarkan ponselku menampilkan tubuhku dari dada hingga perut, menampilkan payudaraku yang hanya terbungkus bra. Aku juga mencondongkan tubuhku sedikit ke depan, membuat siluet payudaraku yang besar tercetak jelas di bra.
"Aku... aku sudah buka, Mas Bims," bisikku, suaraku parau dan penuh penyerahan.
Tepat di saat itu, aku mendengar desahan keras dari layar.
"Ahh! Gila, Sayang! Ukhti Zahra... kamu benar-benar seksi! Aku enggak tahan! Remas nenen kamu, Sayang! Remas yang kuat.. Ahh!"
Perintah Bims, yang beradu dengan desahan dan pemandangan liarnya di layar, membuat tubuhku semakin tak terkendali. Rasa malu itu lenyap ditelan gairah yang membakar. Aku harus memuaskannya. Aku harus memuaskan diriku.
Aku menurut, mengikuti perintahnya yang serak. Kedua tanganku yang gemetar kini mencengkeram payudaraku yang besar dan padat, meremasnya kuat-kuat di balik bra. Sensasi itu, yang dipicu oleh visualisasi liarnya, terasa membakar.
"Mmmhh... Ahhh..." rintihku, suaraku parau, tak lagi tertahan.
Aku menatap layar ponselku. Benar saja, gerakan tangan Mas Bims di kemaluannya semakin cepat dan brutal, mengimbangi remasanku. Penisnya yang putih dan bersih bergetar, membesar, dan urat-uratnya terlihat menonjol.
"Gitu, Sayang! Terus! Lebih cepat! Aku suka lihat kamu sange! Ahhh! Nenen kamu pasti enak banget! Gede, padat!" desah Bims, suaranya pecah, dipenuhi gairah.
Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku melengkung di sofa. Di antara desahan liarku, aku membayangkan penis bersih Mas Bims kini ada di hadapanku, menyentuhku, atau bahkan lebih gila lagi, aku ingin memegang penis itu dan mengulumnya.
"Aku... aku basah, Mas Bims! Aku sange banget! Ahhh... Nenen aku sakit, Sayang! Enak! Terus! Jangan berhenti!" teriakku lirih, sepenuhnya hanyut dalam gairah yang didikte dari kejauhan.
"Gila, Ukhti Zahra! Aku juga enggak tahan! Aku mau kamu lebih liar, Sayang! Buka bra kamu, Sayang! Aku mau lihat puting kamu!" seru Bims, napasnya memburu, suaranya terdengar seperti sebuah permohonan yang memaksa.
Permintaan itu menghantamku. Melepas bra? Bahkan dengan Pak Hasan, batasan itu masih kujaga. Ia hanya berani mengulum putingku dari luar gamis yang basah oleh air ludahnya.
"Jangan, Mas Bims! Aku... aku belum pernah! Aku enggak berani! Aku malu!" tolakku, suaraku bergetar hebat, sebuah penolakan yang terasa rapuh di tengah remasan payudaraku sendiri yang semakin brutal.
"Cuma sebentar, Sayang! Aku mau lihat nenenmu yang besar dan putingmu yang menegang itu! Plis, Sayang! Biar aku cepat keluar! Aku sudah enggak tahan!" rayunya, nadanya mengandung frustrasi yang memuncak.
Aku kembali goyah. Aku telah menunjukkan tubuhku, payudaraku, dan desahanku. Apalah artinya sehelai kain bra di tengah kehancuran ini? Namun, naluri terakhirku sebagai wanita yang 'alim' masih berteriak.
"Enggak, Mas Bims. Jangan sekarang. Aku enggak bisa. Aku cuma bisa ini". Aku remas payudaraku lebih kuat "Cepat, Mas Bims! Keluarin! Aku mau lihat!" Aku meningkatkan ritme remasanku.
Teriakan liarku dan remasan brutal di payudaraku berhasil memicu gairah Mas Bims mencapai klimaks.
"Aahhhhh! Ukhti Zahraaa! Kamu gila! Kontolku enggak tahan! Aku Keluarrr! Ahhhh! Gilaaa!"
Aku mendengar jeritan pecah dari layar ponsel, diikuti dengan suara desahan yang panjang dan berat. Gerakan tangannya di layar terhenti, digantikan oleh cairan kental yang menyemprot di hadapan kamera.
Aku menjerit lirih, napasku terputus-putus. Keheningan singkat menyelimuti ruang tamu, hanya menyisakan napas kami yang memburu, dan aroma dosa yang kini terasa sampai ke dunia maya.
Aku jatuh lemas di sofa, bersandar ke belakang. Aku berhasil melayani hasrat Mas Bims dan mendapatkan pengakuan liar yang kudambakan. Namun, kelegaan ini terasa begitu memalukan. Aku baru saja melakukan perbuatan cabul melalui video call dengan pria yang bahkan tidak menunjukkan wajahnya.
"Mas Bims... sudah keluar?" tanyaku lirih, suaraku parau.
"Iya, Sayang. Mas gak tahan lihat nenen kamu, maaf ya sayang.. Makasih, Sayang. Kamu hebat," balasnya, suaranya serak dan puas.
Aku merasakan kehampaan yang besar. Pelampiasan ini terasa hampa, hanya menyisakan rasa bersalah yang kini bercampur dengan rasa damba yang tak kunjung terpuaskan sepenuhnya.
Aku mematikan sambungan video call itu. Layar ponselku kembali gelap. Aku masih terduduk nyaris telanjang di sofa, di tengah sore yang ramai, dengan gorden terbuka setengah. Aku telah melangkah jauh, tetapi hasratku justru terasa semakin liar. Mas Bims telah memvalidasi kebinalanku, tetapi ia tidak bisa memberikan sentuhan nyata yang kurindukan.
Aku butuh sentuhan nyata. Aku butuh Pak Hasan. Aku butuh Pak Rahmat.
Pikiranku berputar liar. Aku harus melakukan sesuatu.
Aku menatap ponselku yang kini gelap, rasa puas yang memalukan bercampur dengan kehampaan yang mencekik. Aku masih terduduk nyaris telanjang di sofa ruang tamu, hanya dengan bra dan celana dalam, tubuhku basah oleh keringat hasrat. Di luar, hari sudah menjelang petang.
Tiba-tiba, pandanganku terarah ke jendela. Jendela yang kacanya gelap dan gordennya kubiarkan terbuka setengah.
Aku melihat sesuatu yang aneh di sana.
Aku melihat sepasang mata dan sebagian kepala mengintip dari balik celah gorden. Jantungku berdetak kencang, darahku serasa membeku. Aku telah menantang takdir dengan duduk hampir telanjang di tempat yang sangat terekspos ini.
Kemudian, orang itu menampakkan diri seutuhnya.
Deg!
Itu adalah Pak Rahmat , Satpam yang tadi siang merayuku dan menunjukkan hasrat liarnya. Dia berdiri di luar jendela, kemudian melambai pelan ke arahku.
Aku kaget luar biasa, tubuhku membeku. Matanya yang tajam telah melihatku. Dia pasti telah melihatku yang hanya mengenakan bra dan celana dalam, duduk mengangkang di sofa.
Rasa malu yang begitu besar menghantamku. Gairah liar dan nafsu yang tadi memuncak saat video call dengan Mas Bims langsung hilang seketika, berganti rasa takut dan jijik yang tak tertahankan.
Aku segera meraih ponselku yang tergeletak di meja, melompat dari sofa, dan berlari sekencang mungkin ke arah kamarku. Aku membanting pintu dan menguncinya.
Aku bersandar di balik pintu kamar, terengah-engah. Aku deg-degan. Napasku memburu, tubuhku gemetar hebat. Hasratku yang tadi meningkat langsung hilang seketika, digantikan oleh kepanikan dan kehinaan yang menusuk. Pak Rahmat telah melihat Ukhti Zahra yang sesungguhnya. Dan dia ada di luar sana, di depan pintu rumahku.
Ia tidak melihatku dari jauh. Ia ada di jendela. Ia melambai. Itu berarti ia melihat jelas setiap lekuk tubuhku, setiap sentuhan liarku, dan mungkin, ia melihatku berinteraksi dengan ponsel.
Berapa lama dia mengintip?
Aku masuk ke dalam kamar melihat ke arah kaca di meja makeup ku. Kaca itu menampakkan bayangan diriku yang compang-camping, hanya mengenakan bra dan celana dalam, dengan rambut terurai berantakan.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan keras dari pintu depan.
Tok! Tok! Tok!
"Ukhti Zahra!" suara Pak Rahmat terdengar dari luar, lebih keras dan lebih berani dari biasanya. "Buka pintunya, Ukhti! Saya tahu Ukhti ada di dalam!"
Aku membeku. Seluruh keberanianku untuk menjadi "Ratu Dosa" di depan Mas Bims menguap begitu saja. Dunia maya terasa aman, dunia nyata terasa seperti neraka.
"Saya tadi lihat, Ukhti. Masya Allah, Ukhti Zahra... ternyata body-nya bagus banget yaa... Saya ngaceng di luar tadi, Ukh. Buka pintunya, Ukhti. Saya mau lihat lagi. Saya mau rasain Ukhti."
Suaranya penuh perintah, tak ada lagi rayuan malu-malu seperti siang tadi. Kini ia merasa berhak. Ia memiliki rahasia terbesarku, rahasia yang ia saksikan sendiri, di ruang tamuku, di sore hari yang damai.
Air mataku menetes. Aku menggeleng, mencengkeram gagang pintu kamar dengan kedua tangan.
"Pergi! Aku enggak mau!" bisikku, meskipun aku tahu, suaraku tak akan terdengar sampai ke pintu depan.
Tok! Tok! Tok! Ketukan itu semakin mendesak.
"Jangan malu, Ukhti. Bukankah tadi Ukhti juga keenakan? Duduk di sofa, meremas nenen sendiri. Cantik banget, Ukh. Buka pintunya, biar kita sama-sama enak. Saya enggak akan bilang siapa-siapa, janji!"
Ia menggunakan kata-kata yang sama dengan Bims, tetapi dengan nada yang jauh lebih menjijikkan. Bims menawarkan pengakuan dan kekuasaan, Pak Rahmat menawarkan pemerkosaan.
Aku meraih gamisku yang tergeletak di lantai, buru-buru memakainya, mencoba menutupi tubuhku yang terasa begitu kotor dan terhina. Jilbab dan cadarku kugunakan kembali.
Aku harus menelepon polisi? Tidak. Aku guru ngaji. Skandal ini akan menghancurkanku.
Aku meraih ponselku yang masih di tangan. Pikiranku yang panik hanya bisa tertuju pada satu nama, satu pria yang kini menjadi partner sejati kebinalanku.
Mas Bims.
Aku membuka aplikasi Toktok, mencari pesan terakhirnya. Aku harus meminta bantuan.
"Mas Bims! Tolong aku! Tadi aku waktu video call di ruang tamu, terus ternyata ketahuan satpam komplek, Dia lihat semuanya! Dia sekarang ada di luar, dia minta aku buka pintu! "
Di luar, suara Pak Rahmat terdengar lagi, lebih mengancam. "Ukhti! Kalau enggak buka, saya akan bilang ke semua orang kalau Ukhti Syar'i kita ternyata suka telanjang di ruang tamu!"
Ancaman itu berhasil. Darahku mengering. Pak Bayu, murid mengajiku, seluruh kompleks, yayasan tempatku bekerja. Semuanya akan hancur.
"Ukhti Zahra. Tenang. Aku adalah jaminanmu. Buka saja pintu itu. "
"Apa?! Mas Bims!!.. Kamu gila? Dia akan masuk!, Dia bisa perkosa aku.. "
"Buka pintunya, Ukhti. Tapi ingat, kamu harus tenang, dan mengendalikan situasi. Lakukan apa yang kamu mau. Kalau kamu menolak, kamu bisa Ancam dia, ancam pekerjaan nya, dia tidak akan berani sama kamu"
Aku tidak punya pilihan. Pak Rahmat akan menghancurkanku jika aku tidak menuruti, Mas Bims menawarkan pertahanan diri.
Aku mengunci ponselku dan berjalan perlahan dari kamar, mendekati pintu utama yang masih diketuk dengan keras. Aku harus percaya pada Bims. Aku harus menjadi Ratu Dosa yang ia ciptakan.
Aku menarik napas panjang, merapikan cadarku, dan mengubah ekspresi takutku menjadi ekspresi dingin dan angkuh. Aku keluar kamar, kemudian menuju ke pintu depan rumah kontrakanku.
Klek.
Aku membuka kunci pintu.
Pintu itu terbuka, menampakkan Pak Rahmat dengan seragam satpamnya yang lusuh, wajahnya merah padam karena hasrat dan kekuasaan.
"Nah, gitu dong, Ukhti. Saya tahu Ukhti mau main juga, kan? Sini, saya mau..."
