๐‰๐ž๐ซ๐ข๐ญ๐š๐ง ๐‡๐š๐ฌ๐ซ๐š๐ญ ๐”๐ค๐ก๐ญ๐ข ๐™๐š๐ก๐ซ๐š ๐๐€๐ ๐Ÿ๐Ÿ’ ๐†๐จ๐๐š๐š๐ง ๐Œ๐ž๐ฆ๐š๐ญ๐ข๐ค๐š๐ง ๐Œ๐š๐ฌ ๐๐ข๐ฆ๐ฌ

 

“Aku permisi, Pak Rahmat,” kataku, mengambil langkah tegas. “Jangan ganggu aku lagi.”

Aku melangkah melewatinya, menuju pintu rumahku, berharap ia tidak mengejarku. Aku harus lari dari godaan ini.

Aku segera masuk ke dalam rumah, membanting pintu, dan menguncinya. Aku bersandar di pintu, terengah-engah. Rayuan Pak Rahmat, gift Paus dari Akun Bims, dan sentuhan Pak Bayu tadi pagi, semuanya berputar liar di kepalaku. Aku tahu, imanku masih sangat rapuh, aku harus mempartebal lagi.

Aku mencoba menenangkan diri, tetapi rasa panas di wajahku tidak kunjung hilang. Aku segera mengeluarkan semua belanjaan dan aku masukkan ke kulkas, lalu beranjak mengambil air wudhu.

Setelah sholat Ashar, aku kembali ke sofa. Aku meraih handphoneku. Aku membuka aplikasi Toktok.

Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku ingin mencari ketenangan. Aku ingin mendengarkan kajian-kajian. Aku mulai scroll di antara video-video agama. Aku mencoba fokus pada suara lembut para Ustadzah.

Namun, jari-jariku yang gelisah terus scroll ke bawah, melewati konten-konten kajian suci itu.

Sampai kemudian, aku menemukannya.

Aku menemukan live streaming dari ukhti bercadar yang kemarin kulihat, Ukhti yang sama yang menjual persona liar di balik gamis dan cadarnya.

Aku tidak bisa menahan diri. Aku menekan layar untuk menontonnya.

Ia kembali. Ia terlihat lebih berani dari sebelumnya. Ia mengenakan pakaian ketat dan bra menerawang, meskipun bra-nya terhalang kain tipis di depannya. Jilbab lebarnya sudah disampirkan ke pundak, memperlihatkan bagian atas dadanya. Ia tertawa genit, menanggapi komentar-komentar nakal para pria.

Aku tersentak. Rasa jijik dan gairah kembali beradu. Aku penasaran dan terus menonton. Aku melihatnya, membiarkan tubuhku terseret kembali ke pusaran hasrat.

Aku melihat jam di dinding. Aku sudah menontonnya hampir satu jam. Aku sadar, aku sampai lupa akan tekatku untuk kembali menjadi alim. Semua usahaku, kajian online, menolak Pak Rahmat, lari dari warung Pak Hasan, semuanya sia-sia.

Aku tidak bisa diselamatkan.

Aku merasakan payudaraku berdenyut di balik gamis. Aku kembali menjadi Zahra yang penuh hasrat, yang haus sentuhan dan pengakuan. Aku membiarkan live streaming itu menjadi pembenaran atas dosa-dosa dan tindakanku.

Aku tidak bisa mengalihkan pandangan. Aku terus menonton, membiarkan hasrat liar itu menguasai. Tiba-tiba, layar ponselku berkedip terang. Aku melihat notifikasi: akun Bims melempar Singa.

Ukhti bercadar itu tersenyum lebar, senyum kemenangan yang genit. “Terima kasih, Mas Bims,” ucapnya dengan suara parau.

Lalu, ia mulai beraksi.

Dengan gerakan yang disengaja lambat, ia membuka kancing depan gamisnya, satu per satu. Kain gamis yang tipis itu tersibak, memperlihatkan payudaranya yang besar, mulus, dan indah, yang masih tertopang oleh bra berwarna merah. Ia kemudian meremas payudaranya dari luar bra, rintihan sensual lolos dari bibirnya.

Pemandangan itu begitu eksplisit, begitu nyata. Aku terkesiap. Bims kembali menggunakan kekuasaannya, dan wanita itu kembali menyerah pada rayuan uang.

Aku tidak bisa menahan diri. Aku segera meremas payudaraku sendiri dari luar gamis tebal yang kukenakan. Sensasi itu menjalar ke seluruh tubuhku. Aku memejamkan mata.

Aku membayangkan melakukan hal yang sama di live streaming-ku. Aku membayangkan diriku di posisi itu, dihormati sebagai Ustadzah, tetapi didamba sebagai wanita liar oleh pria-pria seperti Bims dan laki-laki lain. Aku membayangkan gift besar, komentar nakal tentang tubuhku, dan sensasi gairah yang tak tertahankan.

Aku tersentak. Sebuah desahan parau lolos dari bibirku. “Ahhh…”

Aku tidak bisa mengalihkan pandangan. Aku terus menonton, membiarkan hasrat liar itu menguasai. Aku segera membelai payudaraku sendiri, meremasnya kuat-kuat di balik gamisku. Sentuhan itu terasa lebih nyata, diperkuat oleh pemandangan di layar.

Aku kemudian menggeser tanganku ke bawah, ke vaginaku. Aku mengelusnya dari luar, merasakan sensasi basah dan denyutan yang muncul.

Di layar, aku melihat Ukhti bercadar itu meliuk-liukkan pantatnya, yang tercetak sempurna oleh bra menerawang dan kain tipis, dan menggoyangkan payudaranya yang besar. Ia tertawa, tahu persis bagaimana cara memancing pria.

Kolom komentar-komentar mesum tentangnya membanjiri layar, penuh dengan pujian vulgar dan fantasi kotor.

“Masya Allah, pantatnya bikin iman goyah!”

“Ustadzah, goyang terus! Aku mau lihat lebih!”

“Body Ukhti ini memang sempurna!. Bikin Ngaceng.”

Semua pemandangan dan kata-kata itu membuatku semakin bernafsu. Aku merasa diriku adalah orang di layar itu. Aku membiarkan tanganku di vaginaku bekerja lebih keras, meniru irama yang kulihat di layar ponsel.

Aku membayangkan diriku di posisi itu, Aku ingin didamba, aku ingin dipuja, dan aku ingin mendapatkan gift Singa dan Paus itu, bukan untuk uang, melainkan sebagai pengakuan atas tubuh indahku.

Aku semakin menekan jariku di vaginaku. Ahhh... Aku harus menjadi seperti dia. Aku harus menjadi ratu dosa di platform ini, agar aku tidak perlu lagi mencari sentuhan terlarang di warung nasi goreng dengan pak hasan.

Aku jadi teringat Pak Hasan, Aku segera mematikan ponsel. Aku telah mengambil keputusan.

Sebuah dorongan gila menyergapku. Aku ingin ke warung Pak Hasan sekarang juga. Aku ingin sentuhan nyata.

Namun, aku melihat jam. Tapi ini masih sore. Pasti masih ramai, dengan pembeli yang lalu-lalang. Aku tidak bisa mengambil risiko lagi setelah insiden kemarin tiba-tiba ada orang beli waktu aku lagi bermesraan dengan pak hasan.

Aku mengurungkan niatku. Aku menarik napas panjang, menenangkan gejolak hasratku.

Rasa panas dan gerah di tubuhku tak tertahankan. Aku melepas gamisku yang terasa gerah. Ku lepas juga jilbab dan cadarku. Aku kini hanya berdiri dengan pakaian dalam.

Kemudian aku ke dapur untuk minum. Aku kini hanya memakai bh dan celana dalam. Aku berjalan di dalam rumah, sepenuhnya terekspos, tanpa kain yang menutup.

Aku tidak biasanya seperti ini. Meskipun di rumah sendirian, aku tidak pernah setelanjang ini. Aku selalu memakai pakaian minimal baju tidur walaupun aku dirumah sendirian. Tapi kini, tubuhku yang tadinya terkunci rapat, kini bebas. Payudaraku yang besar dan mulus terasa dingin oleh udara ruangan. Aku menatap pantulanku di lemari kaca di dapur. Aku tersenyum penuh rahasia dan kebebasan liar.

Setelah minum, aku tidak langsung ke kamar. Aku melangkah ke ruang tamu, dan duduk di sofa yang sunyi itu. Aku kini duduk di sana, di tempat yang biasanya menjadi tempatku mengajar anak-anak TPQ ketika aku ngajar dirumah, aku hanya dengan bh dan celana dalam. Rasanya begitu bebas, begitu terlarang.

Aku menyandarkan punggungku, kemudian melihat ke arah jendela. Jendela itu tertutup gorden tipis, tetapi dari sela-selanya, aku bisa melihat suasana kompleks perumahan.

Aku melihat banyak orang berlalu lalang. Anak-anak bermain di jalanan, tetangga menyiram tanaman, beberapa bapak-bapak berseliweran baru pulang kerja. Itu adalah pemandangan sore yang normal, damai, dan penuh kesucian.

Aku tahu, hanya berjarak beberapa meter dari mereka, di balik gorden ini, ada seorang guru ngaji yang duduk hampir telanjang, yang baru saja memutuskan untuk menjadi ratu dosa.

Jantungku berdebar kencang. Aku membayangkan, bagaimana jika gorden ini terbuka? Bagaimana jika seseorang melihatku? Rasa malu itu menusuk, tetapi di saat yang sama, sensasi bahaya ini terasa begitu memabukkan.

Aku menekan payudaraku sendiri dari luar bra. Aku membayangkan Pak Bayu lewat dan melihatku. Aku membayangkan Pak Rahmat melihatku, dan ngaceng di tempat lalu coli di depanku yang hanya menggunakan bra dan celana dalam.

Aku kini benar-benar menjadi Ukhti Zahra yang liar, yang mencari pengakuan dan damba di tempat yang paling berbahaya, rumahku sendiri, di tengah sore yang ramai.

Aku meremas payudaraku sendiri dari luar bh, sambil melihat ke arah jalan. Pemandangan orang-orang yang lalu lalang di luar terasa seperti tantangan.

Entah ide dari mana, sebuah dorongan gila di otakku. Aku bangkit lalu membuka gordenku setengah. Jendela itu kini setengah terbuka, memperlihatkan sebagian kecil dari ruang tamu di mana aku duduk. Aku bisa melihat lebih jelas aktivitas di luar, dan yang lebih penting, siapa pun yang berjalan di luar kini memiliki kemungkinan untuk melihatku, walaupun kaca jendelaku gelap jika dilihat dari luar.

Kemudian aku kembali duduk, tanpa busana yang menutup tubuhku selain pakaian dalam. Aku melanjutkan aksiku, meremas payudaraku yang besar. Sensasi bahaya karena gorden yang terbuka membuat jantungku berdebar tak karuan.

Rasa gatal dan basah di area bawahku tak tertahankan lagi. Aku menaikkan kedua kakiku, menariknya ke atas sofa, lalu aku lebarkan. Kini kakiku mengangkang, membuat area vaginaku semakin terekspos.

Lalu, aku mengelus vaginaku dari luar celana dalam. Celana dalamku sudah basah sejak aku mulai membelai di kamar tadi, dan kini sentuhan jari-jariku membuat area itu semakin basah.

Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku melengkung di sofa. Aku adalah guru ngaji yang kini duduk tanpa baju di ruang tamu, dengan gorden terbuka setengah, di tengah sore yang ramai, melayani hasrat liarku sendiri. Aku menjadi ukhti liar di rumahku sendiri.

Aku masih duduk di sofa, dengan bh dan celana dalam, menatap ke arah jendela. Gorden yang terbuka setengah terasa seperti tantangan, membuatku semakin bernafsu.

Aku meremas payudaraku sendiri dari luar bh. "Ahhh... Enakk bangett..." desahku,. "Bims pasti suka kalau lihat payudaraku ini..." Aku bergumam liar. Aku terus melihat ke arah jalan, menikmati sensasi bahaya.

Rasa gatal dan basah di area bawahku tak tertahankan lagi. Aku menaikkan kedua kakiku, menariknya ke atas sofa, lalu aku lebarkan. Kini kakiku mengangkang, membuat vaginaku terasa terekspos.

Lalu, aku mengelus vaginaku dari luar celana dalam. "Mmmhh... Basah banget..." rintihku. Celana dalamku sudah basah sejak tadi, dan kini sentuhan jari-jariku membuat area itu semakin basah.

Aku memejamkan mata, melengkungkan tubuhku di sofa. "Terus... Terus, Zahra... Kamu memang ukhti liar! Ahhh... Gesek terus... Biar cepat puass..." Aku memberi perintah pada diriku sendiri, meniru kebinalan yang kulihat di layar ponsel. "Aku lebih seksi daripada Ukhti yang di Toktok itu! Aku lebih berani!" Aku membandingkan, menikmati kebanggaan aneh atas dosa ini.

Aku kini duduk hampir telanjang di ruang tamu, dengan gorden terbuka setengah, di tengah sore yang ramai, melayani hasrat liarku sendiri.

Aku merasakan gejolak hasratku semakin memuncak. Gesekan jari di celana dalamku, beradu dengan sensasi bahaya karena gorden yang setengah terbuka, membuat jantungku berdebar tak karuan.

“Ahh… Mmmhh…” Aku merintih lirih, membiarkan tubuhku melengkung di sofa. Aku adalah guru ngaji yang kini duduk tanpa busana di ruang tamu, di tempat yang seharusnya untuk ngaji murid-muridku.

Tiba-tiba, aku teringat pada live streaming Ukhti liar yang baru kulihat tadi sore. Sentuhan tanganku sendiri terasa hampa. Aku butuh visualisasi, butuh dorongan untuk membenarkan kebinalan yang kurasakan. Aku ingin melihatnya lagi.

Aku segera bangkit dari sofa , berjalan cepat ke kamar untuk mengambil ponselku. Aku kembali ke ruang tamu, lagi-lagi tanpa pakaian selain bra dan celana dalam, dan duduk di sofa yang sama.

Dengan tangan gemetar, aku membuka aplikasi Toktok. Namun, sebelum mencari akun Ukhti liar itu, mataku menangkap notifikasi pesan. Aku terkesiap. Ada pesan masuk dari Bims.

Jantungku langsung mencelos. Pria berkuasa yang telah memberiku gift Paus di live kajianku tadi pagi, kini menghubungiku secara pribadi. Aku membuka pesan itu.

“Ukhti Zahra. Tadi lihat di live Ustadzah Tiara, ya? Gimana, seru kan Ustadzah Tiara?”

Aku tercekat. Dia tahu! Dia tahu aku menonton live streaming liar itu. Dan ternyata, Ukhti bercadar yang liar itu bernama Ustadzah Tiara.

Wajahku terasa panas. Rasa malu dan pengakuan itu begitu kuat. Aku segera membalasnya, berusaha terdengar lugu.

"Iyaa, Pak Bims. Tadi gak sengaja masuk ke live-nya."

Aku menaruh ponselku di pangkuan. Dadaku berdebar kencang, perpaduan antara takut dan gairah yang memabukkan. Dia adalah pria yang membayar mahal untuk dosa, dan dia telah melihatku di dua sisi yang kontras, sebagai ustadzah pengisi kajian yang alim, dan sebagai penonton rahasia dari pertunjukan liarnya ustadzah Tiara.

Aku deg-degan. Pria ini, Bims, kini memegang kartu rahasia terbesarku.

"Gimana Ukhti live Ustadzah Tiara? Seru kan?" tanyanya lagi, kali ini dengan emotikon nakal yang semakin memojokkanku.

Aku benar-benar bingung harus menjawab apa. Otakku terasa kosong. Aku bisa saja berbohong, tetapi bagaimana jika dia memiliki bukti bahwa aku berlama-lama di sana? Bagaimana jika dia benar-benar mengawasi akunku yang sedang ada di live ukhti itu?

Dengan tangan gemetar, aku mengetik balasan yang paling netral yang bisa kupikirkan: "Gak tahu Pak Bims, aku cuma kebetulan masuk aja tadi."

Balasannya datang hampir seketika, dan kali ini, ia menanggapi kata-kataku dengan tawa yang dingin dan meremehkan, seolah dia sedang memegang kendali penuh.

"Kebetulan tapi kok nonton lama hehe. Aku tahu kamu suka kan dengan komentar-komentar nakal di sana. Kenapa kamu gak live seperti dia juga? Nanti aku support kamu. Btw jangan panggil Pak, panggil aja Mas Bims. Okey?"

Degg!

Jantungku seperti dipukul palu godam. Pernyataannya itu adalah sebuah tamparan keras, sebuah pengakuan bahwa dia telah mengamatiku dan tahu persis ke mana arahku. Ia tidak hanya menggodaku, ia menantangku, mendorongku untuk melangkah lebih jauh dari sekadar penonton menjadi pemain utama. Menjadi Ukhti liar dengan support darinya.

Aku kaget dan terpaku, tak tahu harus membalas apa.

Saat aku masih memproses kata-katanya, sebuah link share live muncul di jendela chat.

Mas Bims mengirim pesan: "Sini lihat Ustadzah Tiara keenakan dinakalin viewers nya."

Aku tidak membalas chat-nya. Perintahnya terlalu kuat untuk kuabaikan. Aku segera menekan link itu dan masuk ke live Ustadzah Tiara lagi.

Di sana, aku melihat layar yang penuh sesak dengan komentar liar dan gift yang berjatuhan. Dan di antara semua itu, aku melihat notifikasi terang benderang, Bims menghadiahkan Singa.

Ustadzah Tiara di layar langsung merespons. Wajahnya yang sebelumnya menahan diri, kini terlihat sangat terangsang. Dia tersenyum, lalu dengan gerakan sensual yang disengaja, dia menurunkan sedikit tali bra-nya. Hanya sedikit, tetapi cukup untuk memperlihatkan sekelumit kecil putingnya yang cerah sebelum ia menutupnya kembali. Aksinya hanya sepersekian detik, tetapi cukup mematikan.

Darahku mendidih. Badanku panas, nafsuku menjadi-jadi.

Aku merasakan denyutan hebat di vaginaku. Pemandangan itu adalah katalis yang sempurna untuk kehancuranku.

Kini, aku tidak lagi hanya duduk dan membayangkan. Tangan kananku otomatis bergerak ke bawah, melewati celana dalamku yang sudah basah kuyup, dan mulai mengelus liang kenikmatanku. Sementara itu, tangan kiriku memegang ponsel, membiarkan mata dan otakku dicemari oleh aksi liar Ustadzah Tiara dan support dari Mas Bims.

Aku tersengal. Aku adalah Zahra, seorang guru mengaji, yang kini sedang bermasturbasi di sofa dengan gorden setengah terbuka, sedang menonton live streaming Ukhti liar, dan didorong oleh seorang pria misterius bernama Bims.

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk lagi dari Mas Bims.

Aku membuka mata, berusaha fokus pada layar.

Pesan itu adalah: "Angkat, Ukhti. Aku ingin lihat gimana kamu menikmati ini."

Di bawah pesan itu, ada sebuah video call yang masuk. Panggilan dari Mas Bims.

Jantungku berhenti berdetak. Ini bukan lagi sekadar godaan di chat. Ini adalah sebuah tantangan nyata. Jika aku mengangkatnya, aku akan menelanjangi diriku sendiri di depan seorang asing yang kejam. Jika aku menolak, aku akan kehilangan kesempatan untuk melayani hasrat gila yang aku inginkan selama ini.

Apa yang harus kulakukan?

Darahku serasa berhenti mengalir. Video call? Itu berarti pengkhianatan total terhadap diriku yang kusuci-sucikan. Itu berarti memberikan Bims akses penuh untuk melihat wujud asliku, Ukhti Zahra yang nyaris telanjang, duduk mengangkang di ruang tamu, dengan gorden terbuka setengah. Ini adalah titik di mana kehancuranku menjadi nyata, terekam, dan bisa dimiliki oleh orang lain.

Ketakutan itu besar, tetapi rasa damba itu jauh lebih besar. Bims tidak hanya ingin melihat, dia ingin mengenal Zahra yang liar ini.

"Mas Bims… Aku takut," balasku jujur.

"Takut kenapa, Sayang? Aku cuma mau lihat keindahan kamu. Aku janji, ini rahasia kita. Aku mau kamu desah untuk aku," rayunya, dan setiap kata seperti cambuk yang menghempasku ke dalam jurang.

Aku menelan ludah. Jemariku sudah berada di payudaraku lagi, meremasnya keras, mencari sensasi nyata untuk mengimbangi gairah virtual ini.

Aku ingin.

Aku ingin dia melihatku.

Aku ingin pengakuan ini.

Aku ingin kehancuran ini.

"Aku… Yaudah aku mau mas bims," ketikku, sebuah penyerahan diri yang terasa seperti klimaks kecil.

Bersambung....


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com