𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟑 𝐁𝐢𝐠 𝐒𝐩𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐤𝐮, 𝐁𝐢𝐦𝐬

Keesokan harinya, aku bangun dengan perasaan yang berat dan lelah. Beban dosa semalam yang sangat larut itu terasa mengacau pikiranku. Aku memaksakan diri menunaikan Shalat Subuh. Suara lirihku melantunkan ayat-ayat suci, tetapi pikiran tentang sentuhan Pak Hasan terus mengganggu kekhusyukanku. Aku bersujud lama, memohon agar air wudhu dan ritual ini bisa membersihkan setidaknya sebagian kecil dari kekotoran yang kurasakan.

Setelah shalat dan merapikan rumah, aku segera bersiap untuk rutinitas baruku, sebuah komitmen yang kubuat setelah kehancuran pertama. Aku harus menjalani hidup normal, dan cara terbaik untuk menipu diriku sendiri serta mencari pengakuan yang 'suci' adalah dengan menjadi Ustadzah di media sosial.

Aku mengenakan gamis longgar, jilbab lebar, dan cadar. Aku duduk di depan lampu ring light, memasang hp ku. Jantungku berdebar kencang, kali ini karena kegugupan, bukan hasrat.

Aku membuka aplikasi Toktok dan memulai kajian online-ku.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hari ini, kita akan membahas mengenai keutamaan menjaga pandangan,” sapaku, suaraku kuusahakan terdengar lembut dan tegas, meniru Ustadzah yang pernah kulihat.

Aku berbicara dengan fasih, mengutip ayat Al-Qur'an dan Hadits yang kudapatkan dari pendidikan agama yang ketat dan masa di pesantren. Ironisnya, aku, yang malam tadi gagal total menjaga pandangan dan kehormatanku, kini berdiri sebagai pembicara tentang etika kesucian.

Kolom komentar dipenuhi oleh ucapan salam, stiker bunga, dan pujian atas ilmuku.

Perasaan Dihormati. Itu yang kudapatkan.

Namun, di tengah ceramahku, pikiranku kembali melayang. Aku teringat sentuhan Pak Hasan, dan bayangan live streaming Ukhti liar yang menjual tubuhnya dengan pantat dan payudara yang terekspos. Aku ingin pengakuan suci ini, tetapi di saat yang sama, aku merindukan sensasi damba yang liar.

Setelah 20 menit, aku mengakhiri live streaming itu. Aku mematikan ponselku. Aku berhasil. Aku adalah Ukhti Zahra, guru ngaji yang alim.

Tetapi, meskipun aku berhasil menipu penonton di dunia maya, aku tahu satu hal: aku adalah wanita yang sangat bernafsu tinggi, dan pelampiasan yang kudapatkan semalam lebih kuat daripada semua doa dan kajian yang kulakukan pagi ini.

Aku memaksa diriku untuk menjalani rutinitas harian setelahnya, bersih-bersih dan memasak. Aku harus terus menjadi normal, berharap kesibukan ini bisa membungkam hasratku yang besar ini.

Hari-hari berlalu. Aku menjalani rutinitas normal dengan ketat. Shalat, mengajar mengaji , membersihkan rumah. Aku berhasil menciptakan kembali rutinitasku. Aku telah berhasil menjadi Ukhti Zahra yang seperti dulu, yang alim dan tidak tergoda lelaki.

Meskipun banyak godaan dalam seminggu ini, aku bisa menahan hasratku untuk tidak melakukan hal-hal dosa itu lagi. Aku tidak lagi pergi ke warung nasi goreng yang penuh kenangan itu. Aku berpegangan teguh pada jilbab lebar dan cadarku.

Kemudian, di hari ini, jam 9 pagi, aku memulai live streaming kajian seperti biasa. Aku berbicara tentang keutamaan menjaga lisan dan hati, dengan suara yang lembut dan penuh ketenangan.

Awalnya, penontonku hanya berkisar antara 20 hingga 50 orang, sesuai dengan biasanya. Mereka semua memberikan komentar yang sopan dan religius.

Namun, tiba-tiba, layar ponselku berkedip terang dengan animasi besar di layar, seorang penonton memberikan gift Paus!

Aku tersentak. Paus? Itu adalah gift yang sangat mahal, jauh lebih besar daripada bunga yang biasa kuterima. Jantungku berdebar kencang, sebuah debaran yang familiar, campuran antara terkejut dan gairah terlarang.

Aku melirik cepat ke pemberi gift. Itu adalah Bims. Ia tidak berkomentar apapun, hanya mengirim Paus dan diam saja.

Namun, dampak gift itu terasa instan. Seketika, penontonku yang biasanya cuma 20-50 sekarang naik jadi 200. Angka itu terus bertambah dengan cepat, dan kolom komentar sangat ramai membanjiri layar.

Aku menahan napas, mencoba tetap fokus pada materi kajian. Namun, mataku tanpa sengaja menangkap beberapa komentar di tengah lautan salam dan puji-pujian.

“Masya Allah, suaranya lembut banget, Ustadzah!”

“Terima kasih buat gift Pausnya! Siapa pun itu, berkah selalu!”

“Ustadzah, matanya cantik banget kalau lagi serius ngaji!”

Mereka memuji mataku yang cantik. Aku kaget. Aku hanya menyisakan mata indahku untuk dilihat, dan pujian tentang mata itu terasa begitu intim.

Bims. Pria yang kulihat begitu berkuasa di live streaming, yang dengan uang bisa mengendalikan wanita liar di Toktok yang dulu sering ku lihat. Ia telah muncul di live streaming kajianku. Ia telah melihatku, dan ia telah memberikan gift kepadaku. Ia tidak memintaku joget atau meremas payudara. Ia hanya memberikan Paus dan diam menunggu.

Ketegangan itu mencekikku. Aku tahu, aku tidak bisa lagi menipu diriku sendiri. Dunia liar telah mengetuk pintuku lagi, dan kali ini, seseorang membayar mahal untukku.

Aku mencoba menenangkan diri, menarik napas, dan memaksakan senyum yang kaku di balik cadar.

“Emm… Alhamdulillah,” ucapku, suaraku sedikit bergetar. “Jazakumullah khairan katsiran untuk gift Pausnya. Aku hanya bisa berterima kasih. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.”

Aku mencoba kembali ke materi kajian, tetapi kolom komentar di sisi layar kini menjadi liar, terlepas dari materi agamaku.

“Ustadzah, PK Match dong! Biar rame lagi!”

“Iya Ustadzah! Ayo PK sama Ustadz Fulan! Pasti menang banyak!”

“PK Ukh! Biar koinnya cair banyak!”

Mereka menyarankan aku PK match dengan orang lain. Aku tahu itu adalah adu gift dengan orang lain, sebuah permainan yang populer di Toktok untuk mengumpulkan uang. Aku tahu itu adalah jebakan yang bisa membawaku ke dunia yang semakin liar.

Aku tidak mau seperti itu. Aku live tidak untuk koin, tujuanku adalah untuk kajian. Aku harus menegaskan batasku. Aku harus menunjukkan bahwa aku berbeda dari Ukhti-ukhti liar yang dijual oleh Akun bernama Bims itu.

Aku mengangkat suara sedikit, berusaha terdengar tegas.

“Emm… Teman-teman yang nonton harap tenang yaa… Di sini kita kajian,” kataku, mencoba mengendalikan keramaian. “Live ini murni untuk berbagi ilmu, bukan untuk permainan gift atau PK match. Mohon fokus kembali pada materi.”

Aku kembali mengutip sebuah Hadits, memaksakan diriku untuk fokus pada kesucian. Namun, ketegangan itu mencekik. Aku tahu, dengan Paus dari Bims, aku telah menarik perhatian yang salah. Mereka tidak datang untuk ilmuku, mereka datang untuk melihat Ukhti Zahra yang diam-diam liar, yang kini diakui oleh d0natur (jadi d0natur HANYA melalui admin team, BUKAN lewat staff lain) besar di platform ini.

Aku harus cepat mengakhiri live streaming ini sebelum suasana semakin tak terkendali. Aku merasa tubuhku kembali basah oleh keringat, dan hasrat yang kubendung selama seminggu kini terasa ingin meledak.

Aku tidak bisa membiarkan kekacauan ini berlanjut. Aku harus mengunci kembali pintu ke dunia liarku.

“Baiklah, teman-teman. Alhamdulillah, kajian hari ini kita cukupkan sampai di sini dulu. Semoga ilmunya bermanfaat,” ucapku cepat, suaraku kembali dipenuhi ketenangan yang dibuat-buat. “Wallahu a’lam bishshawab. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Aku segera menekan tombol ‘Akhiri Siaran’ di ponselku.

Layar kembali gelap. Keheningan di ruang tamu kontrakan ini terasa mencekik. Aku menjatuhkan ponselku di sofa.

Debaran jantungku masih kencang. Itu bukan debaran spiritual, tetapi debaran hasrat. Aku telah berhasil menahan diri selama seminggu dari Pak Hasan, tetapi Bims telah membuka kembali. Aku merasa seolah gamis longgarku kini terasa mencetak tubuhku dengan sempurna, seperti ukhti bercadar yang dulu terlihat di layar ponselku.

Aku bangkit, berjalan ke dapur. Aku harus mengalihkan pikiran. Aku harus kembali ke hal-hal yang membosankan dan rutin.

Aku memutuskan untuk melakukan kegiatan lain. Aku membuka kulkas. Aku perlu belanja kebutuhan pokok. Bahan makanan di kulkas sudah mulai menipis. Ini adalah alasan yang bagus untuk keluar rumah.

Namun, keluar rumah berarti melewati pos security Pak Rahmat, dan berisiko bertemu Pak Bayu atau Pak Hasan.

Tidak. Aku menolak pikiran itu. Aku hanya akan pergi ke minimarket di luar kompleks.

Aku kembali ke kamar, mengganti gamisku dengan yang paling longgar dan tebal, dan memastikan cadarku terpasang sempurna. Aku mengambil dompet dan kunci. Aku harus berhati-hati. Aku harus menjaga citraku, karena aku tahu, di luar sana, ada mata yang mengawasiku, mata yang tahu aku tidak sesempurna yang terlihat.

Aku menarik napas panjang. Pintu yang kubuka adalah pintu ke dunia godaan dunia nyata, dan aku harus siap menghadapi godaan yang nyata.

Aku berjalan menuju gerbang. Saat melewati pos satpam, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik. Aku melihat ke dalam pos satpam, dan benar saja, di sana ada Pak Rahmat yang fokus ke layar handphone-nya. Wajahnya tertunduk, seolah tak menyadari kehadiranku. Aku melewatinya dengan langkah cepat, tidak ingin memberinya kesempatan untuk menggoda atau menantangku seperti malam itu.

Aku terus melangkah hingga sampai di jalan besar. Aku belok ke kiri ke arah minimarket. Aku melewati deretan ruko-ruko yang masih sepi. Aku sengaja tidak menoleh ke kanan, ke arah warung nasi goreng, Walaupun aku tahu warung Pak Hasan masih tutup. Keheningan itu terasa mencekik, seolah mengingatkanku pada perjanjian gelapku.

Tibalah aku sampai di minimarket di luar gerbang kompleks. Aku segera mengambil keranjang belanja. Aku mengisi keranjang dengan snack-snack dan buah-buahan. Aku belanja cukup banyak untuk kebutuhan ku seminggu ke depan, tujuanku adalah memastikan aku tidak perlu lagi keluar rumah malam-malam ketika lapar.

Saat sedang memilih buah-buahan di dekat pendingin, aku mendengar suara yang familier.

“Assalamualaikum, Ukhti Zahra.”

Aku menoleh. Aku melihat Pak Bayu. Dia berdiri di sampingku, mengenakan kaus polo berwarna gelap yang terlihat sangat pas di tubuhnya, menonjolkan bagian dada bidang dan lengannya yang berotot. Ia tersenyum tulus, senyum yang selalu membuat hasrat tersembunyiku berontak di balik kekaguman yang tulus.

“Wa’alaikumsalam, Pak Bayu,” jawabku, suaraku kuusahakan tetap lembut. Ia terlihat santai, sangat berbeda dari setelan kemeja kantornya seperti biasanya.

“Wah, rajin sekali Ukhti belanja sepagi ini,” sapanya ramah, tanpa ada nada genit sedikit pun. Matanya hanya menatap mataku, tidak turun ke tubuhku.

“Hehe, iya, Pak. Kebutuhan sudah habis,” kataku, mencoba bersikap wajar.

“Ukhti kelihatan segar hari ini,” pujinya tulus.

Aku mengangguk. “Iya, Pak. Baru selesai kajian sebentar juga tadi.”

“Masya Allah. Ukhti memang teladan yang baik buat anak-anak,” katanya, senyumnya semakin lebar. Ia mengambil sebotol air mineral dari kulkas.

Aku kembali fokus pada buah-buahan, tetapi aku merasakan kehadirannya di sampingku. Aku teringat gamis abu-abu ketatku kemarin dan betapa ia gagal menjaga pandangannya. Hari ini aku mengenakan gamis yang longgar, aku penasaran apakah ia memperhatikan badanku lagi.

“Emm, Pak Bayu sendiri? Baru pulang atau baru mau kerja?” tanyaku.

“Saya libur hari ini, Ukhti. Mau belanja sedikit. Anak-anak di rumah butuh susu,” jawabnya. Ia menunjuk beberapa kotak susu di keranjangnya.

“Oh, begitu,” kataku.

Tiba-tiba, ia mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya merendah. “Ukhti, saya mau tanya sesuatu… Emm, yang dulu sore di TPQ itu, gamis Ukhti bagus sekali. Yang warna abu-abu. Ukhti terlihat… anggun sekali.”

Meskipun ia menggunakan kata anggun, aku tahu maksud tersembunyinya. Wajahku terasa panas di balik cadar. Ia sengaja mengungkit gamis yang mencetak payudaraku itu. Aku kaget.

“Emm, terima kasih, Pak,” jawabku, suaraku tercekat.

Ia melihat kegugupanku. Ia tersenyum lagi, tetapi kali ini senyum itu menyimpan sedikit rahasia, sedikit hasrat yang tersembunyi di balik kesopanannya.

“Saya permisi dulu, Ukhti. Semoga ngajar ngajinya selalu lancar, ya,” pamitnya.

“Aamiin. Terima kasih, Pak Bayu,” jawabku.

Aku hanya bisa melihat punggungnya yang tegap menjauh. Meskipun perbincangan kami singkat dan sopan, meskipun ia tidak pernah menyentuhku. Dan pujian atas gamis itu adalah Pengakuan nyata dari hasrat yang tersembunyi darinya kepadaku.

Aku meraih keranjangku. Aku harus segera pulang sebelum hasrat ini kembali membakar.

Aku membayar semua belanjanku, memasukkan snack dan buah-buahan ke dalam tas plastik. Aku berjalan keluar dari minimarket. Perbincangan singkat dengan Pak Bayu, terutama pujian tentang gamis abu-abuku, kembali membangkitkan gejolak aneh di dalam diriku.

Saat aku sampai di gang menuju rumahku, aku kepikiran. Aku menoleh ke arah warung nasi goreng. Aku ingin berjalan lurus dan menuju warung Pak Hasan, hanya sekadar untuk temu kangen. Aku rindu sentuhannya, rindu pengakuan liarnya tentang tubuhku.

Tidak. Aku menggelengkan kepala. Aku harus kuat. Aku harus kembali menjadi Ukhti Zahra yang suci dan pendiam. Aku tidak ingin kembali seperti dulu.

Aku memaksakan kakiku berjalan belok menuju rumahku. Aku menggumamkan istighfar berulang kali.

Sampai di gerbang kompleks, jantungku mencelos. Ternyata Pak Rahmat sudah berdiri di pintu pos, bukan lagi duduk santai, melainkan menunggu. Matanya yang tajam langsung tertuju padaku.

“Assalamualaikum, Ukhti Zahra,” sapanya, suaranya serak, penuh arti. Ia bersandar di tiang pos, tatapannya menyapu tas belanjaan dan tubuhku.

“Wa’alaikumsalam, Pak Rahmat,” jawabku, suaraku kuusahakan tetap tenang dan formal. Aku berjalan cepat, berusaha melewatinya.

“Buru-buru amat, Ukhti,” godanya, ia melangkah sedikit ke tengah jalan, memaksaku berhenti. “Udah lama Bapak nungguin Ukhti. Bapak pengen ngobrol kayak dulu lagi.”

Aku menatapnya tajam. Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Imanku sudah tebal lagi.

“Maaf, Pak Rahmat. Aku sibuk. Ini sudah siang,” tolakku dengan nada dingin.

“Yahhh… Kok gitu, Ukhti. Padahal Bapak sudah ngaceng lagi nih, lihat Ukhti jalan dari jauh,” bisiknya, nadanya penuh rayuan. Ia melirik ke selangkangannya, mencoba menarik perhatianku ke tonjolan di celananya.

“Tolong jaga lisan Bapak, Pak Rahmat,” kataku, mencoba mempertahankan wibawaku sebagai guru ngaji. “Aku ke sini bukan untuk hal-hal jorok seperti itu lagi. Aku mau pulang.”

Pak Rahmat tidak menyerah. Ia tersenyum miring, penuh kemenangan. Ia tahu aku pernah tergoda, dia ingin mencobanya lagi.

“Hehe. Bapak tahu, Ukhti Zahra yang alim ini suka kan. dulu aja Ukhti malu-malu.. Bapak cuma minta ditemenin aja, Ukh. Bapak pengen coli lagi di sini, sambil lihat Ukhti. Cuma lihat aja, Ukhti enggak perlu ngapa-ngapain.”

Rayuannya begitu keji. Ia menggunakan kejatuhanku dulu sebagai senjata.

“Tidak, Pak Rahmat. Aku sudah bilang tidak,” aku menegaskan, mencengkeram erat tas belanjaan di tanganku. “Aku tidak mau. Itu dosa. Jangan ulangi lagi.”

Ia maju selangkah, menipiskan jarak di antara kami. “Ahh, Ukhti. Bapak cuma mau bantu Ukhti nuntasin hasrat Ukhti, Ukhti pasti lagi sange kan sekarang.”

“Tidak pak..,” bantahku, suaraku bergetar.

“Hehe. Yakin, Ukh? Gimana kalau Bapak coliin di depan Ukhti sekarang? Aku janji, Ukhti akan suka. Kita main di pos, di dalam sana ada kamar kecil, mau yaa?. Cuma sebentar aja kok.” Pak Rahmat terus merayu, menggunakan bisikan dan tatapan yang menelanjangiku, berusaha meruntuhkan imanku yang baru saja kutegakkan kembali.

Aku menutup mata sejenak, menenangkan gairah yang kembali bergejolak karena rayuannya. Aku harus kuat.

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com