𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟐 𝐃𝐮𝐚 𝐉𝐢𝐰𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐞𝐬𝐞𝐩𝐢𝐚𝐧

Pak Hasan melepaskan pelukannya, memberiku ruang untuk kembali ke kesadaran. Aku segera menarik gamisku ke bawah, menutupi tubuhku yang basah dan kotor. Dan merapikan jilbab dan cadarku, Kemudian Aku turun dari meja, tubuhku masih gemetar.

“Emm… Nasi gorengnya… berapa, Pak?” tanyaku, suaraku kembali kaku dan formal, berusaha menutupi jejak kehancuranku.

“Emm… bentar Ukhti, Bapak masakin lagi yaa…” kata Pak Hasan, suaranya kembali normal, tetapi masih ada nada serak yang tersisa.

“Iyaa, Pak,” jawabku, suaraku lirih.

Aku melihat Pak Hasan berbalik, memakai kembali celananya. Dalam gerakan cepat itu, aku melihat sekilas penisnya yang sudah melemas. Bentuknya yang tadinya besar dan mengancam, kini terlihat kecil dan lucu. Aku tertawa dalam hatiku, sebuah tawa kecil yang geli karena kontras antara kegilaan tadi dan pemandangan sekarang.

Kemudian, Pak Hasan beranjak memasak di gerobaknya.

Aku tidak kembali duduk di pojokan gelap itu. Aku melangkah mendekat, duduk di kursi di samping gerobak nasi goreng, di dalam toko ini. Rolling door-nya masih tertutup, menciptakan ruang intim dan terisolasi bagi kami berdua.

“Ukhti Zahra, maaf ya tadi Bapak nekat melepas celana dalam ukhti,” ujar Pak Hasan sambil mulai meracik bumbu, suaranya lebih lembut.

“Iya, Pak. Gpp kok” jawabku, nadaku kembali rileks. Aku merasa aneh, nyaman, seperti baru saja berbagi rahasia terbesar dengan seorang teman lama.

Kami terdiam sejenak, hanya ada suara sreng-sreng spatula di wajan.

“Ukhti kalau malam-malam begini, kerjanya ngapain aja kalau di rumah?” tanya Pak Hasan, mencoba mencairkan suasana.

“Emm… Ya paling scroll-scroll HP aja, Pak. Nonton drakor, nonton kajian. Terus mengajar mengaji di TPQ sama di rumah kalo sore,” jawabku.

“Masya Allah. Ukhti memang alim banget ya,” pujinya tulus. “Pekerjaan yang mulia. Anak-anak di sini pasti senang diajar Ukhti yang cantik gini.”

“Alhamdulillah, Pak. Itu sudah jadi keseharian saya. Kalau Bapak sendiri, sehari-hari gini cuma di sini ya?” tanyaku balik.

“Iya, Ukhti. Bapak tidur di ruko kecil ini sendirian, di kamar belakang. Pagi membeli bahan dan bumbu, Siang hari menyiapkan semuanya, Jualan dari sore sampai malam. Kalau sudah tutup, ya bersih-bersih, terus tidur.”

“Istri dan anak Bapak di mana?”

“Di kampung, Ukhti. Di Jawa Tengah. Anak-anak masih sekolah. Jadi sebulan sekali Bapak pulang menemui istri dan anak,” jelasnya.

Aku terdiam, merasa kasihan. Hidupnya juga sepi, sama sepertiku, meskipun dengan alasan yang berbeda.

“Kenapa enggak ajak ke sini, Pak?”

“Biayanya besar, Ukh. Di kampung juga sudah ada rumah. Mending Bapak yang cari nafkah di sini. Mereka di sana lebih tenang,” jawab Pak Hasan, nadanya sendu.

Suasana kembali sunyi setelah Pak Hasan bercerita tentang keluarganya di kampung. Nasi gorengku hampir matang. Aku menyadari, di balik kebinalan dan perbuatan terlarang tadi, Pak Hasan adalah pria kesepian, yang juga mencari pelampiasan. Kami sama. Kami berdua adalah orang kesepian yang mencari kehangatan di malam yang sunyi. Dan entah mengapa, pemikiran itu membuatku merasa lebih terikat dan makin cocok dengannya.

Aku tersenyum kecil di balik cadar, mencoba menghilangkan kecanggungan.

“Ihh, Bapak. Istrinya di rumah, di sini malah nakal-nakal sama aku. Hehe,” ucapku bercanda, nadaku kembali genit.

Pak Hasan tertawa, tawa yang lepas, kini tidak lagi gugup. Wajahnya berseri-seri.

“Ehh... gimana ya, Ukhti,” jawabnya, ia mencolek pinggangku dengan siku, gerakannya santai. “Habisnya Ukhti badannya ternyata seksi banget. Dan tahu sendiri kan, Bapak cuma dapat jatah sebulan sekali dari istri kalau pulang kampung hehe.”

Aku ikut tertawa, tawa yang penuh rahasia. “Ohh, jadi Bapak kurang jatah ya? Pantas saja nakal,” godaku.

“Iya, Ukhti. Apalagi ketemu Ukhti yang body-nya aduhai begini,” katanya, ia melirik sekilas ke dadaku, senyumnya semakin lebar. “Mana payudaranya besar, pantatnya padat, terus Ukhti kalau sange itu liar banget. Bapak mana tahan buat gak nakali ukhti. hehe!”

“Ihh, Bapak!” Aku memukul lengannya pelan, pura-pura malu. “Bapak juga sih, penisnya besar banget. Makanya aku juga jadi sange.”

Pak Hasan mematikan api di wajan, lalu menoleh penuh ke arahku.

“Serius, Ukhti? Ukhti suka kontol Bapak yang besar?” tanyanya, suaranya serak, penuh kebanggaan.

“Emm… Suka, Pak,” aku mengangguk jujur. “Penis Bapak Bisa bikin aku orgasme dua kali. hehe”

“Masya Allah,” desahnya, ia memajukan tubuhnya sedikit. “Bapak juga. Ukhti wanita paling binal yang pernah Bapak temui. Udah cantik, seksi, binal lagi.. Tadi itu sange-nya luar biasa, Sayang. Apalagi pas Ukhti gesekin memek Ukhti di kontol Bapak.”

Aku tersipu malu, tetapi hatiku senang. Kami tidak lagi canggung. Kami adalah dua partner dosa yang saling memuji kebolehan masing-masing.

“Emm, aku juga suka, Pak. Bapak tadi mengulum putingku enak banget,” bisikku, kini giliranku yang membalas rayuannya.

Pak Hasan kembali tertawa, lalu mengambil sebungkus nasi goreng yang sudah matang di gerobak.

“Nih, Ukhti Sayang. Nasi gorengnya sudah matang. Dimakan dulu, biar tenaganya kembali. Nanti kapan-kapan, kita main lagi ya? Bapak tunggu Ukhti datang lagi.”

“ Iyaa.. Inshaa Allah, Pak,” jawabku, mengambil nasi goreng itu dengan hati yang penuh dosa, tetapi juga penuh kepuasan. Aku tahu, aku akan kembali. Warung nasi goreng ini adalah pelarian liarku, dan Pak Hasan adalah partner setiaku. Aku yakin dia bisa menjaga rahasia kita berdua ini.

Aku berjalan cepat kembali ke kontrakan, melewati pos satpam yang sunyi. Pria tua tadi masih berjaga, hanya menyapaku singkat. Aku mengabaikannya, pikiranku dipenuhi janji gelap dan sentuhan liar yang baru saja kualami.

Sesampainya di rumah, aku mengunci pintu rapat-rapat. Aku meletakkan bungkusan nasi goreng itu di meja dan melihat jam dinding. Sudah jam 12 malam, sudah sangat larut malam.

Aku duduk, memakan nasi gorengku yang sudah sedikit dingin. Aroma gurih bawang dan kecap mengisi udara, tetapi lidahku terasa tawar. Aku makan sambil memikirkan tadi.

Tubuhku terasa lelah, tetapi pikiranku sangat aktif. Aku teringat penis Pak Hasan yang memuaskan vaginaku tadi, putingku dikulum hingga basah oleh air ludahnya. Sensasi itu sangat baru bagiku, sangat enak. Aku bisa merasakan sisa kehangatan sentuhan kasarnya, dan desahan liarku yang bergema di telingaku.

Aku suka sensasi itu. Aku suka pengakuan liarnya, suka permainannya. Aku suka menjadi Zahra yang binal, yang didamba, yang menuntaskan nafsunya. Tapi aku juga merasa berdosa. Rasa jijik dan rasa bersalah itu menyergap, menusuk di antara setiap sendok nasi goreng yang kukunyah. Aku adalah Ukhti Syar’i yang telah melakukan perzinahan.

Setelah menghabiskan nasi gorengku, aku segera beranjak. Aku butuh pembersihan. Aku berjalan ke kamar mandi, dan aku mandi besar (mandi junub), sebuah ritual penyucian untuk menghapus dosa yang baru saja kulakukan. Aku menyabuni tubuhku, mencoba menghilangkan setiap jejak sentuhan Pak Hasan. Air dingin menghantam kulitku, tetapi tidak mampu memadamkan api gairah dan dosa di dalam jiwaku.

Selesai mandi, aku tidak langsung berpakaian. Aku bercermin telanjang di cermin meja riasku.

Aku menatap pantulan diriku, hidung mancung, kulit putih mulus, dan payudara besar yang kini terlihat begitu penuh dan sempurna, dengan puting yang masih sedikit menegang akibat hisapan Pak Hasan tadi.

Inilah yang mereka inginkan. Inilah yang membuatku liar.

Aku melihat tubuhku bukan lagi sebagai anugerah yang harus dijaga, tetapi sebagai kutukan dan alat untuk mendapatkan pengakuan liar dari para lelaki.

Aku menghela napas panjang. Aku ganti pakaian tidur, mengenakan kaus longgar dan celana pendek berbahan satin, pakaian yang hanya kulihat sendirian di dalam kamar.

Kemudian, aku tidur. Aku berusaha memejamkan mata, memohon agar mimpi suci datang, tetapi yang kubayangkan hanyalah senyum kemenangan Pak Hasan dan goyangan liar penisnya di vaginaku.

Aku tahu, pertahanan yang kubangun sudah hancur total. Aku akan kembali kepadanya suatu saat nanti.

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com