𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟏 𝐀𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐀𝐥𝐢𝐦𝐤𝐮 𝟐

Aku sangat malu, rasa hina itu menusukku. Aku segera mengangkat kedua tanganku, menutup wajahku dengan telapak tangan karena saking malunya. Aku memejamkan mata erat-erat, membiarkan tubuhku bersandar di dadanya.

Pak Hasan tertawa kecil. “Jangan malu, Sayang. Ukhti makin gemesin kalau malu-malu begini.”

Kemudian, tangannya menyentuh lenganku.

“Sayang, Bapak izin sentuh payudara Ukhti lagi, ya? Biar Bapak cepat keluar.”

Aku menggeleng cepat. “Udah, Pak, jangan…”

“Biar cepat selesai, Ukh. Sudah malam juga,” desaknya.

Aku berpikir, tidak ada salahnya. Tadi juga sudah dia pegang. Aku sudah keluar dengan tangannya. Aku tidak boleh egois.

Aku menghela napas pasrah. Aku mengiyakan, hanya dengan anggukan dan desahan lirih.

Pak Hasan mendesah panjang, sebuah tanda kemenangan.

Aku merasakan kedua tangannya melepaskan pelukan di perutku dan langsung menangkup kedua payudaraku yang besar. Remasannya kuat, mencengkeram.

Di saat yang sama, aku merasakan Pak Hasan menggesek-gesekkan penisnya yang tegang di pantatku dari luar gamis. Gerakan itu memaju-mundur, cepat, dan brutal.

Aku segera membalasnya dengan desahan liar yang tak tertahankan. Remasan di payudaraku dan gesekan di pantatku membuatku kembali ke pusaran gairah.

“Ahh… Mmmhh… Pak! Enak! Terus!” Aku menjerit lirih.

Pak Hasan mendesah keras, suaranya parau dan memburu di belakang leherku. “Gila, Sayang! Ukhti liar! Nenennya gede banget! Rasanya enak! Ahh!”

Gesekan di pantatku semakin cepat dan brutal, remasan di kedua payudaraku semakin kuat. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku sepenuhnya tenggelam dalam dosa dan gairah, menjadi Zahra yang liar, yang melayani hasrat prianya.

Remasan kuat Pak Hasan di payudaraku dan gesekan penisnya di pantatku terasa semakin brutal. Aku mendesah liar, tubuhku melengkung menikmati setiap sentuhan. Aku tahu dia sudah di ambang batas.

Namun, tiba-tiba, gerakannya melambat. Remasan di payudaraku menjadi kurang bertenaga, dan gesekan di pantatku pun melonggar.

“Ahh… Ukhti Sayang…” bisik Pak Hasan serak, suaranya dipenuhi frustrasi. “Susah, Ukh… Aku susah keluar kalo Cuma begini.”

Ia menarik napas panjang. “Ukhti mau kan, bantuin Bapak? Pegang sebentar aja, ya? Coli-in Bapak pakai tangan Ukhti…” ia merayuku.

Permintaan itu kembali menghantamku, kini dengan suara yang memohon. Namun, batas terakhirku masih berteriak. Menyentuh kemaluan pria adalah kehancuran total.

“Aku tidak bisa, Pak,” jawabku, suaraku terdengar tegas, meskipun tubuhku masih gemetar karena gairah. “Aku tidak mau. Yang lain aja, Pak.”

Pak Hasan mendesah keras, tidak senang dengan penolakanku. “Yaudah deh, Sayang. Kita ganti posisi, ya?”

Aku mengangguk, pasrah. Aku tahu ia ingin mencari sensasi baru untuk mencapai pelepasan.

“Ayo berdiri, Ukh,” perintahnya.

Aku berdiri dengan kaki gemetar. Pak Hasan segera menyingkirkan kursi plastik tempat kami duduk, menciptakan ruang kosong di pojokan gelap itu.

“Sekarang, Ukhti, coba menungging di meja ya? Tangan Ukhti bertumpu di meja.”

Aku membelalakkan mata di balik cadar. Menungging? Posisi itu terasa sangat vulgar, sangat menelanjangi. Aku merasa malu luar biasa, tetapi hasrat liar dan rasa bersalah karena menolaknya membuatku menurut.

Aku berbalik, menghadap ke meja. Aku menundukkan tubuhku, menungging, dan tangan kananku bertumpu di meja yang dingin. Gamis abu-abuku yang licin melorot ke bawah, mencetak pantatku yang besar dengan sempurna. Posisi ini membuat vaginaku terasa terekspos dari belakang, meski masih tertutup kain.



“Masya Allah, Ukhti Zahra…” erang Pak Hasan di belakangku. Aku bisa mendengar ia mengatur napas, disuguhi pemandangan liar ini.

Kemudian, ia kembali bergerak. Aku merasakan penisnya yang tegang dan besar menempel di pantatku. Ia mulai menggesekkan penisnya dengan cepat dan keras di pantatku, persis di lipatan antara pantat dan paha atas.

Di saat yang sama, kedua tangannya kembali menangkup payudaraku dari depan. Ia meremasnya dengan liar, menggunakan remasan yang brutal untuk mengimbangi gesekan di belakangku.

“Ahh… Gitu, Sayang! Enak! Pantat Ukhti kenceng banget!” desahnya di telingaku.

Aku mendesah keras, terkejut dengan sensasi posisi ini. Pantatku bergetar hebat.

Namun, kali ini, ada yang berbeda. Karena posisiku yang menungging, dan pantatku yang besar terangkat, kepala penisnya terkadang bergesekan dengan vaginaku yang basah, dari luar gamis.

Sentuhan di area itu, yang jauh lebih sensitif, membuatku menjerit tertahan. Sensasi gesekan penisnya di vagina, meskipun terhalang kain, terasa begitu nyata dan mematikan.

“Aahh! Pak! Kena! Mmmhh…”

Sensasi itu membuatku kembali mencapai puncak gairah. Aku menghentakkan pinggulku ke belakang, mencari sentuhan itu lagi. Aku melupakan rasa malu, membiarkan tubuhku dikendalikan sepenuhnya.

“Terus, Sayang! Ahh! Ukhti Zahra, kamu liar banget!” erang Pak Hasan, suaranya pecah, tahu bahwa sentuhan itu telah membuatnya semakin dekat dengan pelepasan.

Aku menjerit lirih, menghentakkan pinggulku ke belakang. Sentuhan kepala penis Pak Hasan yang bergesekan dengan bibir vaginaku dari luar gamis terasa begitu mematikan. Aku telah mencapai titik kegilaan baru.

Pak Hasan paham. Ia segera menggesekkan penisnya makin keras ke bibir vaginaku dari luar gamis. Gerakan itu cepat, ritmis, dan brutal, didukung oleh remasan kuat di kedua payudaraku.

“Gini aja enak ya, Ukh…” bisiknya serak, napasnya memburu. “Apalagi kontol ini masuk ke memek Ukhti. Ahh… pasti enak banget, Ukh…”

Mendengar kata-kata vulgar itu, dan merasakan sentuhan yang begitu intim, aku tidak bisa menolak. Aku sepenuhnya hanyut dalam fantasi yang baru saja ia ciptakan.

“Aahh, iya Pak, pasti enak…” jawabku, suaraku parau, penuh pengakuan dosa.

“Coba yuk, Ukhti…” ajaknya, suaranya mengandung tantangan.

Rasa takut seketika menyergap. Batas terakhirku kembali berteriak.

“Aahh, jangan, Pak. Gini aja terus… ahhh…” Aku memohon, menggerakkan pinggulku ke belakang, mencari sentuhan di vagina itu lagi.

“Ahh, iya Ukhti. Enak banget,” desahnya, ia menuruti permintaanku, menggesek lebih cepat dan lebih keras.

Kami berdua hanyut dalam perbuatan terlarang itu. Gesekan penisnya di vaginaku dan remasan di payudaraku membuatku mendesah tanpa henti.

Namun, setelah beberapa saat, gerakan Pak Hasan kembali melambat, dipenuhi frustrasi. Ia mendesah panjang.

“Mmmh… Sayang, Bapak susah banget, enggak keluar-keluar,” bisiknya, suaranya memohon. “Plis, Sayang… Bapak butuh bantuan Ukhti. Plis, colikan kontol Bapak pakai tangan Ukhti, ya? Cuma sebentar.”

Permintaan itu kembali dilontarkannya, kali ini dengan nada yang lebih mendesak dan penuh keputusasaan.

Aku tak langsung menolak. Tubuhku masih gemetar karena orgasme yang kurasakan tadi dan sentuhan di vagina yang baru saja berakhir. Nafsu ku sudah semakin tinggi, dan aku tahu, jika aku membantunya, permainan liar ini akan segera berakhir. Aku tidak mau egois.

Aku menarik napas, memejamkan mata. Rasa malu dan pengorbanan batin beradu dengan desakan gairah.

Pak Hasan memanfaatkan kebingunganku. Ia terus merayuku. “Plis, Sayang. Biar Bapak cepat keluar. Kamu kan sayang sama Bapak…”

Pertahananku runtuh. Aku lelah melawan. Aku ingin semuanya cepat selesai.

Aku mengangguk lemah, membiarkan tanganku terlepas dari meja.

“I-iya, Pak… aku mau…” bisikku, suaraku nyaris tak terdengar, sebuah penyerahan diri yang total.

Pak Hasan menjerit tertahan. “Ahh… Terima kasih, Sayang! Ukhti Zahra memang baik!”

Pak Hasan segera melepas remasannya dari kedua payudaraku. Nafasku masih memburu, tetapi aku harus menghadapi konsekuensi dari pilihan liarku.

“Makasih, Sayang,” ucapnya, suaranya dipenuhi kemenangan. “Sekarang, coba Ukhti balikin badan.”

Aku memutar tubuhku perlahan. Aku berdiri kaku di depan Pak Hasan yang telanjang di bagian bawah. Mataku otomatis tertuju ke bawah.

Saat aku melihat penis Pak Hasan, aku sangat kaget. Aku menahan napas. Penisnya berdiri tegak, membesar, urat-uratnya menonjol, dan ukurannya...

“B-besar banget, Pak!” desahku, tanpa sadar membandingkannya. Penis itu terlihat dua kali lipat dari penis Pak Rahmat kemarin yang sudah membuatku takut setengah mati. Penis ini adalah monster menurutku.

Pak Hasan menyeringai, bangga dengan pengakuanku. “Ukhti sukaa?”

Aku menelan ludah. Rasa takut dan gairah beradu hebat. “Emm, suka, Pak,” jawabku jujur, suaraku parau.

“Yaudah, Ukhti coba duduk di meja sini, ya,” perintahnya, menunjuk ke meja tadi di belakangku.



Aku menurut. Aku segera mengangkat pantatku untuk duduk di meja. Kakiku menjuntai ke bawah. Posisiku kini sejajar dengan Pak Hasan.

Pak Hasan mendekat. Ia berdiri tepat di antara kedua kakiku, sangat dekat. Pandanganku sepenuhnya tertuju ke penisnya yang besar dan keras di hadapanku. Aku tidak berani menyentuh, hanya menatapnya.

Pak Hasan tahu aku gugup. Ia tersenyum lembut, lalu mengambil tanganku, tangan kananku yang tadi bebas dan menuntunnya ke penisnya.

Sentuhan kulitku yang halus dengan kulit penisnya yang keras dan hangat membuatku tersentak. Sensasi itu begitu mengejutkan, begitu nyata, jauh melampaui sentuhan gagang kuas atau gesekan di balik kain.

“Gini caranya, Sayang,” bisik Pak Hasan, nadanya kembali menjadi guru privat. “Ukhti genggam gini, terus naik turun pelan-pelan, ya? Biar Bapak cepat keluar.”

Aku memegang kemaluannya, menggenggamnya, dan mulai menggerakkan tanganku. Gerakan itu kaku, tetapi aku memaksakan diriku. Aku harus menuntaskan ini.

Sementara tanganku sibuk melayani hasratnya, kedua tangan Pak Hasan bergerak naik dan langsung meremas kedua payudaraku. Remasannya kuat, mengimbangi kegugupan tanganku.

“Ahh… Pintar, Sayang. Ukhti Zahra memang cocok jadi wanita liar,” godanya, desahannya semakin keras seiring dengan gerakan tanganku.

Sentuhan di payudaraku dan penisnya di tanganku membuatku kembali hanyut. Aku memejamkan mata, fokus pada sensasi yang memabukkan itu.

Di tengah kegilaan ini, tanpa sengaja aku melebarkan kakiku sedikit, mencari posisi yang lebih nyaman di meja dingin.

Seketika, tangan kiriku, tangan yang bebas di pangkuanku, bergerak refleks dan mengelus vaginaku sendiri dari luar gamisnya.

Gesekan di vaginaku dan remasan di payudaraku, beradu dengan penis besar Pak Hasan yang kupegang, menciptakan pusaran gairah yang tak tertahankan.

“Mmmhh… Ahhh…” Desahan ganda itu lolos dari bibirku, gairahku kembali mencapai puncak. Aku tidak lagi peduli dengan rasa malu. Aku adalah wanita liar yang sedang melayani hasrat prianya, dan melayani hasratku sendiri.

Tangan kananku bergerak liar mengelus vaginaku dari luar gamis, beradu dengan remasan kuat Pak Hasan di payudaraku, sementara tangan kiriku sibuk melayani penisnya yang besar.

Pak Hasan mendesah keras, suaranya serak dan memburu. “Ahh enak banget tangan Ukhti ahh…”

Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya ke telingaku. “Andai bapak bisa ngentotin Ukhti… Ahh!”

Desahannya begitu cabul, kata-kata kotor itu kini langsung tertuju padaku, Aku merasa malu, tetapi kata-kata itu justru membuatku semakin terangsang dan membayangkan sensasi liar yang baru saja ia tawarkan.

Pak Hasan memanfaatkan jeda gairah itu. Ia kembali merayuku.

“Ahh, tadi baru digesek pakai kontol aja enak kan, Ukhti? Apalagi masuk beneran. Ahh…”

“Jangan, Pak! Aku Enggak mau!” tolakku, tetapi suaraku lemah, dipenuhi desahan.

Pak Hasan tak peduli dengan penolakanku. Ia maju.

Aku merasakan kepalanya mendekat ke dadaku, dan kemudian, ia mengulum putingku dari luar gamisku. Kain gamis abu-abuku yang licin menjadi basah karena air ludahnya. Sensasi hangat dan basah itu langsung membuatku menjerit tertahan. Aku sangat ke enakan. Aku melengkungkan punggungku, menekan payudaraku ke arah mulutnya.

Tangan Pak Hasan kini sambil meraba pahaku yang menjuntai dari meja. Sementara tangan kananku masih memainkan penisnya, dan tangan kiriku terus mengelus vaginaku dari luar gamis.

Aku sepenuhnya tenggelam. Kesenangan ganda ini mulutnya di dada dan tanganku di kemaluannya membuatku melupakan segala hal di sekitarku.

Namun, di tengah kenikmatan itu, aku merasakan sentuhan yang berbeda di pahaku. Tangan Pak Hasan yang meraba-raba pahaku kini tidak lagi di atas kain. Aku merasa kain gamis di pahaku terangkat.

Aku tersentak. Aku sadar ketika tangan Pak Hasan sudah menyentuh kulit pahaku yang mulus. Ia telah menaikkan gamisku sampai paha!

Aku membelalakkan mata di balik cadar. Aku menoleh ke bawah. Benar. Kakiku, pahaku, kini setengah terekspos di pojokan gelap itu. Aku tidak hanya dicabuli, tetapi kini setengah telanjang di depan penjual nasi goreng.

Rasa takut itu kembali, tetapi api hasrat yang dibakar oleh mulutnya di dadaku membuatku pasrah. Aku membiarkan tangannya menyentuh kulit pahaku yang mulus.

“Mmmhh… Ukhti… Kulit Ukhti halus banget…” bisik Pak Hasan, melepaskan mulutnya sejenak dari putingku untuk mendesah. Tangannya yang kasar kini mengelus paha dalamku yang terekspos, mendekati area sensitifku.

Sentuhan tangan Pak Hasan di kulit pahaku yang mulus membuatku kaku seakan tidak bisa menolak. Aku tahu, setiap inci kulit yang ia sentuh adalah batasan yang kulewati.

Pak Hasan kembali mengulum putingku dari luar gamis yang basah oleh air ludahnya. Sensasi basah dan hangat di dadaku itu begitu memabukkan, membuatku melupakan tangan liarnya di paha.

Sementara itu, pahaku semakin dilebarkan oleh tangan Pak Hasan. Kakiku kini terbuka lebar, dan badan Pak Hasan semakin maju di antara kedua pahaku yang menjuntai dari meja. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya dan tonjolan besar penisnya yang kini sejajar dengan vaginaku.

Tanganku yang bebas masih melayani penisnya dengan gerakan naik turun yang semakin cepat. Tanganku yang satu lagi terus mengelus vaginaku dari luar kain, mencoba mencapai pelepasan.

Tangannya di pahaku semakin merayap. Gerakannya naik perlahan, dari paha luar ke paha dalam. Sentuhan itu terasa lebih dekat, lebih intim, melewati batas-batas kesopanan.

“Ahh… Ukhti… Bapak enggak tahan…” desah Pak Hasan, melepaskan putingku sejenak. Ia kini menatapku lekat, matanya dipenuhi gairah.

“Aku mau rasain memek Ukhti, Sayang. Boleh, ya? Cuma sebentar aja.”

Aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa memejamkan mata, menggeleng lemah, sebuah penolakan formalitas yang tak berarti.

Pak Hasan mengabaikan gelenganku. Tangannya yang kasar kini mencapai area paling intimku. Ia menekan tangannya kuat-kuat di lipatan pahaku.

Deg!

Aku merasakan sentuhan tangan kasarnya di vaginaku yang terhalang celana dalam tipis yang sudah basah, menyentuh tepat di bibir vaginaku menggantikan tanganku diluar gamis.

Aku tersentak hebat. Semua perbuatanku, semua dosa, kini terfokus pada satu sentuhan itu. Tanganku yang menggenggam penisnya seketika berhenti. Aku melengkungkan punggungku, menahan jeritan yang nyaris lolos.

“Ahh! Pak!” rintihku, suaraku parau, penuh gairah yang tak tertahankan.

Pak Hasan mendesah keras, tahu bahwa ia telah menemukan titik paling sensitifku. Tangannya mulai menggesek-gesek vaginaku dari luar celana dalamku, mengikuti irama yang telah kuciptakan sendiri. Aku sepenuhnya menjadi boneka gairahnya, melayani hasratnya dan melampiaskan hasratku sendiri di pojokan gelap warung nasi goreng.

“Ahh! Sayang, memek Ukhti basah banget ya? Aku rasain celana dalam ukhti basah benget,” bisiknya serak, menekan tangannya lebih dalam ke vaginaku.

Aku memejamkan mata. “Mmmhh… Terus, Pak… lebih cepat!” Aku memohon, gairahku membakar habis sisa-sisa kesucianku.

Gesekan di vaginaku dan remasan di payudaraku menjadi semakin intens, semakin panas. Aku menggerakkan pinggulku ke depan, mencari tekanan dari tangannya. Tanganku tidak lagi memegang penisnya dan vaginaku, melainkan membiarkan tanganku beristirahat memegang pinggangnya pak hasan. Fokusku hanya pada kenikmatan yang diciptakan oleh sentuhan ganda ini.

Tiba-tiba, sentuhan di vaginaku berubah.

Aku merasakan badan Pak Hasan semakin maju di antara kedua pahaku yang terbuka. Ia mendekat, menekan keras.

Kemudian, aku merasakan sentuhan yang lebih besar, lebih keras, dan lebih hangat, menempel di vaginaku dari luar gamis.

Itu penisnya!

Pak Hasan, yang masih telanjang di bagian bawah, menyentuhkan penisnya langsung ke vaginaku dari luar celana dalam tipis dan gamis. Gerakannya berirama, memaju-mundur, menyerupai sebuah penetrasi yang terhalang kain.

“Aku ngentot Ukhti dari luar celana dalam. Ahh.., Sayang! Ahh!” erangnya, suaranya pecah.

Sensasi itu begitu nyata, begitu kuat, membuatku menjerit tertahan. Aku melengkungkan tubuhku, mencengkeram erat lengan Pak Hasan di dadaku. Sentuhan penisnya di vaginaku, meskipun terhalang kain celana dalam, terasa seperti kehancuran yang paling memabukkan.

“Aahh! Pak! Mmmhh… Jangan berhenti! Aku mau keluar lagi!. Ahhh..” Aku memohon, suaraku berubah menjadi jeritan liar. Aku adalah Zahra yang binal, yang menuntut sentuhan terlarang ini.

Sentuhan penis Pak Hasan di vaginaku, yang terhalang kain, terasa begitu mematikan. Aku melengkung kuat, mencengkeram lengan Pak Hasan di dadaku.

Pak Hasan semakin menggerak-gerakkan penisnya di vaginaku. Gerakannya cepat, meniru gerakan penetrasi yang sesungguhnya. Di saat yang sama, ia mengulum putingku dari luar gamis yang sudah basah oleh air ludahnya.

Aku benar-benar hanyut. Aku adalah Zahra yang binal, yang menuntut sentuhan terlarang ini.

“Ahh! Sayang! Kontol Bapak enak, kan? Rasain ini!” erangnya serak.

“Mmmhh… Ya Allah… Ahhh! Pak… terus! Lebih cepat! Aku mau keluar lagi! Aku suka kontol Bapak!” Aku menjerit lirih, suaraku parau, tak sengaja aku nyebut kata kontol yang begitu tabu bagiku, penuh pengakuan dosa.

Gesekan di vaginaku, isapan di payudaraku, dan remasan di dadaku, semuanya memuncak menjadi satu gejolak dahsyat. Aku merasakan tubuhku kejang, gairah itu kembali menghantamku, lebih kuat dari yang pertama.

“Aahh!.. Pakk.. Aku Keluarr.. Ahhh.. ” Aku menjerit sekali lagi, orgasme itu mengguncang tubuhku. Aku ambruk kedepan, lemas, bersandar pada tubuh Pak Hasan. Aku merasakan celana dalamku semakin basah karena orgasmeku barusan.

Napas kami berdua memburu. Keheningan singkat menyelimuti pojokan gelap itu.

Namun, di tengah kelelahan itu, aku merasakan sentuhan lain yang mengejutkan.

Tanpa aba-aba, Pak Hasan menggerakkan tangan kirinya ke bawah, ke samping pinggangku. Ia memegang karet celana dalamku yang tipis, tepat di pinggang.

Deg!

Ia menariknya. Karet celana dalamku terlepas sampai ke lutut.

Aku tersentak, refleks memegangi tangan Pak Hasan dengan panik. Vaginaku kini terekspos, hanya tertutup kain gamis yang tidak sepenuhnya menutupi.

Pak Hasan mengabaikan kepanikanku. Matanya turun, menatap ke arah pahaku.

“Masya Allah, Ukhti Zahra…” bisiknya, suaranya dipenuhi ketakjuban. Ia menarik napas. “Bagus banget, Sayang. Bersih, tanpa bulu… Aku nggak nyangka memek Ukhti Zahra sebagus ini.”

Aku merasa hina, ngeri, dan malu luar biasa. Ia telah melihat bagian paling pribadiku!

Aku menarik tanganku dari Pak Hasan dan dengan gerakan panik, menaikan celana dalamku kembali. Aku segera turun dari meja dan berdiri tegak, menarik gamisku ke bawah.

“Pak! Cukup! Bapak terlalu nekat!” suaraku kembali kaku dan formal, dipenuhi kemarahan yang dibuat-buat. Aku menatapnya tajam, meskipun wajahku terasa panas.

Pak Hasan mundur selangkah, wajahnya menunjukkan sedikit rasa bersalah, tetapi hasratnya masih membara.

“Maaf, ukhti zahra Sayang. Aku khilaf. Aku nggak tahan lihat Ukhti…” Ia segera meminta maaf. Kemudian, nadanya kembali merayu. “Boleh digesek kayak tadi lagi ukhti? Aku bentar lagi pengen keluar…”

Melihatnya yang frustrasi, dan merasakan sisa gairah yang masih berdenyut di tubuhku, aku kembali goyah. Aku butuh dia keluar agar semua ini benar-benar selesai.

“Aku mau, Pak.” Jawabku, suaraku lirih. “Tapi syaratnya, Bapak enggak nekat dan maksa kayak tadi. Janji?”

“Aku janji, Sayang! Aku janji!” serunya, wajahnya kembali berseri.

Aku kembali ke meja. Kali ini, aku memutuskan untuk mengambil kendali. Aku duduk lagi di meja, dan dengan tangan sendiri, aku menaikkan gamisku lebih ke atas daripada tadi. Kuangkat hingga sampai ke pinggang.

Pinggulku, pantatku, dan celana dalamku yang kini kotor dan basah terlihat sangat jelas di mata Pak Hasan. Aku ingin dia melihatnya. Aku ingin dia menghargai pengorbananku.

Pak Hasan mendesah keras. Matanya membelalak, dipenuhi kekaguman liar.

“Ahh… Ukhti Zahra… Masya Allah. Kamu memang primadona.” Ia memuji. “Aku beruntung sekali bisa lihat aset Ukhti Zahra ini. Ini yang bikin kontol Bapak gila!”

Aku kembali duduk di meja, melebarkan kakiku, menumpu tangan ke belakang di meja. Posisi ini membuat vaginaku yang basah terasa sangat terekspos.

Pak Hasan segera maju. Ia menggesekkan penisnya yang besar dan keras di vaginaku dari luar celana dalam, gerakannya cepat dan ritmis. Kedua tangannya kembali menangkup kedua payudaraku, meremasnya dengan brutal.

Aku menjerit. Aku benar-benar Zahra yang binal sekarang.

“Aahh! Terus, Pak! Jangan berhenti!” Aku memohon, melengkungkan punggungku, menikmati sentuhan liar penisnya di vagina dan remasan di payudaraku.

Pak Hasan mendesah keras, suaranya parau dan memburu di belakangku. “Ahh! Sayang! Ukhti Zahra, kamu gila! Kontol Bapak enak, kan? Ahh!”

Ia menekan pinggulnya lebih kuat, mempercepat gesekan penisnya di vaginaku. Sentuhan itu terasa begitu nyata, seolah tidak ada kain yang menghalangi. Remasan di payudaraku semakin brutal, mencubit putingku yang menegang hingga terasa sakit.

“Aku suka, Pak! Aku suka banget! Mmmhh… Ahhh!” Aku merintih tanpa henti, membalas setiap desahannya dengan rintihan liarku. Aku memajukan pinggulku, mencari sentuhan penisnya yang paling intim.

Pak Hasan menjulurkan lidahnya, membasahi leherku yang tertutup jilbab. “Ukhti Zahra, aku pengen crot di dalam memek Ukhti! Ahh! Aku enggak tahan! Aku pengen ngentok memek indah ukhti”

Mendengar kata-kata itu, gairahku semakin tak terkendali. Aku tahu, batasnya sudah sangat dekat. Tubuhku kejang-kejang karena sensasi yang memuncak.

“Keluarin, Pak! Keluarin! Aahh!” Aku memohon, suara liarku memecah keheningan di pojokan warung yang tertutup itu.

Pak Hasan menjerit keras. Remasan di payudaraku menjadi sangat kuat, dan gesekan di vaginaku mencapai kecepatan maksimal.

“Aahhhhh! Ukhti Zahraaa!.. Bapak Keluarr.. Ahhh…Ahhh…”

Aku merasakan tubuh Pak Hasan menegang hebat di depanku. Gerakan gesekan penisnya berhenti, digantikan oleh tekanan hangat yang memanjang di vaginaku. Aku merasakan cairan spermanya hangat menyemprot ke celana dalam dan perutku, Dia telah mencapai orgasmenya. Badannya terhuyung, ambruk ke depan, lemas, mencengkeram erat meja gerobak.

Keheningan kembali menyelimuti kami, hanya tersisa napas kami yang memburu dan aroma dosa yang kuat. Aku terengah-engah, tubuhku basah oleh keringat dan cairan sperma pak hasan yang baru saja keluar. Aku telah melayani hasratnya dan melampiaskan hasratku sendiri, di meja warung nasi goreng yang dingin.

Beberapa detik kemudian. Ia mengambil napas panjang, dan ketegangan di tubuhnya melunak.

Aku merasakan tubuhnya bergerak, Ia memelukku erat dari depan. Tangannya memeluk punggung dan kepalaku, Sementara penisnya masih nempel di vaginaku di depan, Tapi Pelukannya kini bukan lagi bernuansa hasrat brutal, melainkan kehangatan yang menenangkan.

Aku bersandar sepenuhnya pada dadanya, mencoba mengatur napasku yang memburu.

Pak Hasan berbisik di telingaku, suaranya serak dan lembut, berterima kasih.

“Makasih banyak, Sayang. Ukhti Zahra memang baik. Bapak puas banget,” bisiknya.

Kemudian, ia mulai memujiku, memuji tubuhku yang baru saja ia cabuli.

“Ukhti Zahra… kamu wanita terseksi yang pernah Bapak lihat, Sayang. Lebih dari siapa pun,” ia menegaskan. “Payudara Ukhti yang besar, pantat Ukhti yang padat, memek Ukhti yang Bagus dan basah… semuanya bagus banget, Ukh.”

Pujian vulgar itu, yang seharusnya membuatku jijik, kini terasa begitu memabukkan di tengah kelelahan pasca-orgasme. Aku adalah wanita alim yang baru saja disebut wanita terseksi oleh penjual nasi goreng.

Ia mengelus lembut perutku yang rata. Ia menenangkanku. “Udah, Sayang. Jangan takut. Jangan ngerasa bersalah. Bapak tahu, kamu cuma butuh pelepasan hasrat. Dan Bapak sudah bantu kamu.”

Aku hanya bisa mengangguk lemah, menerima narasi pelampiasan yang ia ciptakan.

Kemudian, nadanya kembali berubah, kali ini dipenuhi janji yang gelap. “Kapan aja, Sayang. Kalau Ukhti butuh pelampiasan lagi, butuh ngerasain kontol Bapak lagi, datang aja ke sini. Bapak siap jadi partner Ukhti kapan saja.”

Ia mencium pipiku, tepat di balik cadar. “Bapak akan jadi partner kenakalan liar Ukhti.”

Aku mengangguk lagi, sebuah persetujuan yang diam-diam. Aku tahu, batas yang kucari telah kulewati, dan sekarang, aku memiliki partner rahasia untuk melayani hasrat liarku. Aku kini terikat pada Pak Hasan dan warung nasi gorengnya yang gelap.

Pak Hasan melepaskan pelukannya, memberiku ruang untuk kembali ke kesadaran. Aku segera menarik gamisku ke bawah, menutupi tubuhku yang basah dan kotor. Dan merapikan jilbab dan cadarku, Kemudian Aku turun dari meja, tubuhku masih gemetar.

“Emm… Nasi gorengnya… berapa, Pak?” tanyaku, suaraku kembali kaku dan formal, berusaha menutupi jejak kehancuranku.

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com