𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟎 𝐀𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐀𝐥𝐢𝐦𝐤𝐮 𝟏

Pak Hasan terus mengelus pantatku. Sentuhan itu memicu gelombang panas ke seluruh tubuhku. Aku memejamkan mata, melengkungkan punggung, membiarkan hasrat liar itu memuncak. Vaginaku terasa banjir, celana dalamku terasa basah dan lengket.

Tiba-tiba, suara asing memecah keheningan.

“Pakk, nasi goreng!”

Aku terkesiap, seluruh tubuhku menegang. Jantungku serasa mau copot.

Pak Hasan juga kaget. Tangan di pantatku seketika terlepas.

“Ehh, iya..!” jawab Pak Hasan, suaranya terdengar gugup dan sedikit panik.

Aku mendengar suara langkah kaki Pak Hasan beranjak dari sampingku menuju gerobak nasi goreng. Suara spatula yang beradu dengan wajan terdengar tergesa-gesa.

Aku kaku. Aku tidak berani bergerak. Aku tidak berani menoleh ke arah pembeli. Aku tetap memunggungi mereka, mematung di kursi pojokan itu. Tubuhku terasa panas dan gemetar, aku tidak berani menggerakkan badanku sedikit pun.

Dari tempatku duduk, aku hanya bisa mendengar suara racikan bumbu dan suara pembeli yang berbicara singkat. Mereka hanya bisa melihat punggungku yang tertutup gamis.

Aku berharap mereka melihatku sebagai pelanggan biasa.

Aku menahan napas, menunggu. Menunggu pembeli itu pergi. Menunggu hukuman atas perbuatanku. Aku terlalu malu untuk kembali menjadi Ukhti Zahra yang alim. Yang ada di sini hanyalah Zahra yang liar, yang ketahuan basah di tempat umum.

Aku menahan napas, telingaku fokus mendengarkan obrolan singkat antara Pak Hasan dan pembeli di depanku. Aku tidak jelas apa yang mereka bicarakan, hanya suara basa-basi yang teredam. Tubuhku masih gemetar.

Syukurlah, tak lama kemudian, aku mendengar suara langkah kaki pembeli itu menjauh. Mereka sudah selesai.

Aku mengira Pak Hasan akan kembali meracik nasi gorengku. Namun, yang kudengar selanjutnya adalah suara krak-kruk-krak-kruk. Pak Hasan terdengar menutup rolling door tokonya.

Deg!

Kenapa ditutup? Rasa takut itu kembali menyergap, tetapi rasa penasaran dan gairah lebih besar. Warung ini kini terasa seperti tempat rahasia, tertutup dari dunia luar.

Tak lama, aku merasakan langkah kaki Pak Hasan mendekat. Ia kembali ke tempatku, ke pojokan gelap ini.

Ia duduk tepat di belakangku. Kursi plastik itu bergeser, dan aku bisa merasakan tubuhnya yang kokoh langsung bersandar di punggungku. Duduknya sangat mepet. Aku bisa merasakan tonjolan keras, penisnya, menekan punggungku, terasa nyata di balik gamis licinku.

“Pak, kenapa ditutup?” tanyaku, suaraku bergetar lirih, perpaduan antara takut dan gairah.

“Biar gak ada yang beli lagi, Ukh. Biar gak ganggu,” jawab Pak Hasan, suaranya serak dan penuh arti, diikuti tawa kecil, “hehe.”

Aku merasakan Pak Hasan semakin menekan tubuhnya ke depanku. Tonjolan di punggungku itu terasa semakin jelas.

“Aku takut, Pak,” bisikku, rasa malu dan takut itu kembali hadir, tetapi aku tidak beranjak.

“Jangan takut, Ukhti,” katanya, nadanya menenangkan, tetapi isinya memprovokasi. “Bapak gak akan nakal kok. Bapak hanya bantuin Ukhti nuntasin hasrat Ukhti.”

Aku hanya diam, pasrah. Pengakuannya bahwa ia hanya "membantuku" membuatku merasa lebih baik, seolah ini adalah terapi, bukan dosa.

Kemudian, tangan Pak Hasan mendarat di pinggangku. Ia merangkulku dari belakang, perlahan, sentuhannya naik turun di pinggangku yang ramping. Tangannya terasa hangat, menjalar ke seluruh tubuhku.

Elusan di pinggang itu semakin turun, ke pahaku, masih dari luar gamis. Ia mengelus lembut paha dalamku, gerakan yang memprovokasi sensasi basah yang sudah kurasakan.

Lalu, tangannya bergerak lagi, memutari pinggulku, dan kembali ke pantatku. Ia mengelusnya, naik turun. Kemudian, sentuhannya berubah.

Ia mulai meremas-remas pelan pantatku yang besar dan padat di balik gamis. Sentuhan itu lebih intim, lebih nyata daripada sentuhan Pak Rahmat dan jauh lebih memuaskan daripada gagang kuas.

“Ahh… Mmmhh…” Desahan parau itu lolos dari bibirku. Aku melengkungkan punggungku, menekan tubuhku ke belakang, ke arahnya, merasakan tonjolan penisnya yang keras.

“Gitu, Sayang. Nikmatin,” bisik Pak Hasan, napasnya memburu di belakang leherku. “Pantat Ukhti enak banget kalau dipegang. Gede, padat, kenceng!”

Aku sepenuhnya hanyut. Aku tidak lagi peduli dengan rolling door yang tertutup. Aku hanya ingin sentuhan ini berlanjut.

Tiba-tiba, Pak Hasan berbisik lagi, suaranya dominan.

“Sekarang, Ukhti. Remas payudara Ukhti. Biar makin enak!”

Aku nurut tanpa berpikir. Aku kembali menyelipkan tangan kiriku ke balik jilbab, mencengkeram payudaraku sendiri. Aku meremas kuat-kuat, mengikuti irama sentuhan tangan Pak Hasan yang kini meremas pantatku. Desahan ganda, dari mulutku dan dari tangan Pak Hasan di tubuhku, membuatku mencapai batas kenikmatan yang terlarang.

“Ahh… Pak… enak banget… terus!” rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan dosa.

Remasan di payudaraku sendiri, beradu dengan remasan Pak Hasan di pantatku, membuatku kehilangan kendali. Aku sepenuhnya menyerah.

Tubuhku melengkung ke belakang, bersandar total pada dada Pak Hasan. Aku bisa merasakan panas tubuhnya, dan bau keringatnya yang kuat terasa menusuk hidungku. Rasa jijik dan gairah itu kini berbaur menjadi satu sensasi yang memabukkan.

Tiba-tiba, remasan di pantatku berhenti. Aku merasakan kedua tangan Pak Hasan kini berada di pinggangku.

Kemudian, ia mulai bergerak. Pak Hasan memaju mundurkan pinggangnya di punggungku. Gerakan itu membuat tonjolan keras di celananya bergesekan dengan tulang punggungku, mengirimkan sensasi aneh yang mengalir ke bawah.

“Ahh… Pak, itunyaa…” rintihku, suaraku parau, terkejut sekaligus terangsang oleh gerakan itu.

“Bolehh ya, Ukh? Aku ngaceng banget, Ahh.. gak tahan..” bisiknya serak, penuh permohonan yang memaksa. Aku merasakan napasnya yang memburu di telinga dan leherku.

Aku tidak menjawab, aku hanya bisa mendesah. Aku merasakan penisnya sangat besar sekali di punggungku, terasa begitu nyata dan mengancam di balik kain gamis. Sensasi besar itu membuat vaginaku berdenyut kencang.

Aku semakin menekan punggungku ke belakang, menikmati setiap gesekan yang terlarang itu. Di waktu yang sama, aku terus meremas payudaraku dengan tangan kiriku.

Kemudian, Pak Hasan menggerakkan salah satu tangannya, melepaskan cengkeraman dari pinggangku. Tangannya bergerak turun, mengelus lembut pahaku dari luar gamis. Elusan itu naik turun, semakin mendekati pangkal pahaku.

Sentuhan di paha itu membuatku melengkung. Aku tahu, Pak Hasan sedang mencari batas. Dan aku, Zahra, tidak punya kekuatan lagi untuk menolak. Aku hanya ingin hasratku tuntas.

“Mmmhh… Ahhh…” Desahanku semakin liar, tak lagi tertahan.

Sentuhan Pak Hasan di pahaku membuatku semakin gila. Aku merasakan ia semakin mendesak tubuhnya ke punggungku, gerakan pinggangnya yang memaju-mundur di punggungku tak terelakkan.

Kini, tangan Pak Hasan yang mengelus pahaku kembali naik, bergerak di sepanjang pinggangku, lalu ke perutku.

Tangannya terus meraba di area itu. Dari paha, naik ke pinggang, lalu ke perutku yang rata. Sentuhan itu terasa kontras dengan kekasarannya, tetapi justru terasa semakin memabukkan.

“Masya Allah, Ukhti Zahra… Tubuh Ukhti ini sempurna banget,” puji Pak Hasan, suaranya serak dan penuh gairah. “Perutnya rata, pinggangnya ramping. Aku suka banget…”

Pujian itu, meskipun vulgar, membuatku semakin bangga dan gila. Aku meresponsnya dengan semakin kuat meremas payudaraku sendiri di balik jilbab, seolah menunjukkan padanya betapa aku menikmati permainannya.

Pak Hasan terus mengelus perutku yang rata dengan satu tangan. Sementara itu, pinggangnya masih bergoyang-goyang di punggungku, gerakannya semakin dominan. Tonjolan keras itu terasa semakin turun, kini berada tepat di pantatku, menekan pantatku yang besar dan padat.

Sensasi itu membuatku menjerit tertahan. Aku semakin mendesah keras, melengkungkan tubuhku ke belakang, mencari tekanan dari tonjolan penisnya.

“Ahh… Pak… Mmmhh…”

Remasanku di payudara semakin menjadi-jadi, mencubit putingku hingga menegang, mencoba mencapai klimaks yang tak kunjung datang.

Tiba-tiba, Pak Hasan mengubah posisinya. Satu tangannya kembali ke pahaku, sementara tangan yang satunya masih di perutku.

Tangan di pahaku itu kini bergerak ke samping. Dengan sedikit tekanan, ia mencoba melebarkan kakiku. Kakiku yang semula rapat kini sedikit terbuka, memberinya akses yang lebih besar.

Lalu, tangan itu bergerak lagi. Ia mulai mengelus paha dalamku. Sentuhan di area itu, yang merupakan zona terlarang dan paling sensitif, membuatku tersentak hebat. Sensasi basah yang sudah kurasakan di vaginaku terasa semakin kuat.

“Aahh! Pak… Jangan…” rintihku, sebuah penolakan lemah yang justru terdengar seperti undangan liar.

Aku tahu, aku sudah sepenuhnya dikendalikan olehnya. Aku telah menjadi Zahra yang liar, yang mencari kepuasan di pojokan gelap warung nasi goreng ini.

Tangan Pak Hasan yang mengelus paha dalamku terasa begitu hangat dan mengancam. Aku meremas payudaraku sendiri semakin kuat, tetapi fokusku kini beralih sepenuhnya ke sentuhan di paha.

“Gpp, Ukhti. Enak kok,” bisik Pak Hasan, suaranya serak dan menenangkan, seolah meyakinkanku bahwa yang kulakukan adalah hal yang wajar.

“Ahh… Tapi Pak. Ahh.” Aku merintih, sebuah penolakan lemah yang langsung ditelan oleh desahanku sendiri.

Pak Hasan tak peduli dengan penolakanku. Elusannya semakin memabukkan. Tangannya yang besar dan kasar terasa naik turun di paha dalamku, semakin dalam, semakin ke atas. Aku melengkungkan punggungku, menekan tubuhku ke arahnya, merasakan sensasi gesekan penisnya di pantatku semakin kuat.

Kemudian, terjadi.

Tangan Pak Hasan yang mengelus paha dalamku, kini menyentuh area vaginaku. Sentuhan itu terasa jelas, meskipun terhalang oleh kain gamis.

Aku tersentak. Seluruh tubuhku menegang. Aku segera menarik tangan kananku dan memegang tangannya.

“Pakk, jangann…” bisikku, suaraku parau, penuh kepanikan yang nyata. “Jangan sentuh itu!”

Pak Hasan tidak menarik tangannya. Ia hanya tersenyum serak di belakangku.

“Biar cepat keluar, Ukhti Zahra… Pasti Ukhti sukaa..” godanya, nadanya lembut tetapi memaksa.

“Tapi jangan, Pak. Yang lain aja,” rengekku. Aku masih ingin menjaga sedikit batas, meskipun aku sudah telanjang di hadapannya.

Pak Hasan tertawa kecil, tawa yang penuh pengertian. Ia menarik tangannya dari vaginaku, tetapi tetap memeluk pinggangku dengan erat.

“Yaudah,” katanya, nadanya kini beralih menjadi mengajari. “Ukhti elus-elus sendiri aja, ya, memeknya. Aku pengen lihat.”

Aku terdiam. Mengelus memekku sendiri?

“Gimana caranya, Pak?” tanyaku polos, suaraku lirih.

Pak Hasan berbisik, nadanya kembali menjadi instruktur hasrat. “Gini, Sayang. Coba Ukhti geser tangan Ukhti yang meremas payudara itu ke bawah. Sekarang, sentuh pahanya. Raba dari luar gamis, ya, Ukh.”

Aku menuruti. Aku melepaskan remasan di payudaraku, dan tangan kiriku yang gemetar bergerak turun, meraba pahaku dari luar gamis.

“Nah, sekarang gesek pelan-pelan. Gerakin jari Ukhti di atas memek Ukhti dari luar kain. Biar basahnya makin banyak, biar Ukhti makin keenakan,” bisiknya, suaranya penuh perintah.

Aku mulai menggesekkan jari-jariku di atas vaginaku, dari luar gamis. Sentuhan itu, meskipun terhalang kain, terasa begitu intim, begitu pribadi, dan begitu mematikan.

“Ahh… Mmmhh…” Desahan itu kembali lolos, kali ini lebih panjang dan basah.

Pak Hasan mendesah keras di belakangku. “Gitu, Sayang. Ukhti liar banget! Terus! Bapak akan lihat. Bapak akan temenin.”

Aku sepenuhnya hanyut, tanganku terus mengelus, meraba, dan menggesek, sementara tubuhku melengkung menikmati tekanan penis Pak Hasan di pantatku. Aku telah menjadi Zahra yang dia ciptakan.

Tangan Pak Hasan yang hangat dan kasar terasa seperti panduan. Ia terus menuntun tanganku di vaginaku dari luar gamis, memastikan setiap gesekan menciptakan sensasi yang maksimal. Aku melengkung ke belakang, bersandar pada dadanya.

Sementara tangan kanannya sibuk membimbing tanganku yang mengelus memek, tangan kirinya masih di perutku, mengelus lembut perut rataku.

Kemudian, tangan yang di perutku itu naik perlahan, menyentuh ujung jilbabku.

“Sayang,” bisik Pak Hasan di telingaku, suaranya serak dan memabukkan. “Tanggung banget kalau ketutup begini. Aku pengen lihat lagi. Coba disampirin jilbabnya di pundak, kayak kemarin, ya?” Ia merayuku.

Aku sudah terlalu hanyut dalam nafsu. Rasa malu sudah lenyap. Aku mengiyakan tanpa suara, hanya dengan anggukan kepala yang lemah.

Pak Hasan tersenyum penuh kemenangan. Ia menarik jilbab lebarku perlahan, menyampirkannya ke pundakku. Kain itu kini hanya menutupi kepala dan leherku, membuat payudaraku yang besar tercetak jelas di balik gamis abu-abu yang licin.

Melihat payudaraku yang terekspos, Pak Hasan mendesah keras.

“Masya Allah, Sayang. Payudara Ukhti ini gede banget! Padat sekali. Aku suka cara Ukhti meremasnya.”

Tangan kiriku yang meremas payudaraku kini terlihat jelas olehnya. Aku tersentak, tetapi tidak melepaskannya. Aku justru semakin mencengkeram.

Saat Pak Hasan menatap lekat, ia menyadari sesuatu. Bentuk putingku yang menegang dan menonjol sangat jelas terlihat di balik kain gamis yang tipis dan licin.

“Ehh… Ukhti Zahra, Ukhti enggak pakai bra ya?” tanyanya, suaranya penuh kekagetan yang dibuat-buat.

Aku terkejut. Aku tertangkap basah. “Ehh… Aku… Aku kelupaan, Pak,” jawabku lirih, wajahku memerah karena malu.

“Wahh, berani sekali Ukhti,” godanya, tawanya kecil, bernada gelap. “Tapi gpp, Sayang. Itu justru bikin Bapak jadi lebih suka, dan pengen meremasnya…”

“Jangan, Pak!” bisikku cepat. Aku masih berusaha mempertahankan batas terakhir itu.

Pak Hasan seolah menghormati penolakanku. Tangannya kembali ke perutku, mengelus perut rataku dengan lembut. Aku kembali rileks, hanyut dalam sentuhannya yang kini lebih lembut.

Aku pun terus memainkan vaginaku dari luar gamis dan meremas payudaraku sendiri. Aku sudah tidak peduli dengan sentuhan tangan Pak Hasan di perutku, dan tidak peduli lagi dengan gerakan pinggangnya yang semakin kebawah, membuat penisnya bergoyang di pantatku. Fokusku hanya pada pelampiasan.

Tangan Pak Hasan di perutku kemudian semakin naik, aku tidak sadar.

Tangannya melewati pinggang, lalu naik ke dada.

Deg!

Tiba-tiba, tangan kasarnya menangkup payudaraku yang besar. Aku tersentak kaget, napasku tertahan.

Pak Hasan berbisik di telingaku, suaranya serak dan menenangkan, “Nikmatin aja, Ukhti.”

Badanku kaku, Mematung.. Aku luluh. Sentuhan itu begitu nyata, begitu hangat, jauh lebih memuaskan daripada remasanku sendiri. Aku melepaskan tangan kiriku dari payudaraku. Sekarang, giliran tangan Pak Hasan yang mengambil alih. Ia mulai meremas pelan payudaraku yang besar dan padat.

Aku merasakan gejolak nafsuku semakin tinggi. Elusan dan remasan Pak Hasan di payudaraku, beradu dengan gesekan tanganku sendiri di vaginaku, membuatku melengkung hebat.

“Ahh… Pak… Ya Allah… Mmmhh…” Aku merintih tanpa henti.

Tangan Pak Hasan semakin liar di payudaraku. Ia meremasnya kuat-kuat, memilin putingku yang menegang.

“Ahhh… Ukhti… Gede banget! Aku suka. Aku remas, ya? Aku remas nenen Ukhti sampai ukhti puas..” godanya, napasnya memburu di leherku.

Sementara itu, tanganku sendiri semakin bermain liar di vaginaku. Aku tidak hanya menggesek lagi. Aku menekan, mencoba menemukan titik yang paling sensitif, mengikuti irama remasan Pak Hasan di payudaraku.

“Lebih kuat, Pak! Lebih kuat! Ahh… Ahhh.. Enakk.!” Aku memohon, suaraku pecah, gairahku tak tertahankan lagi.

Pak Hasan merespons dengan kedua tangannya kini di payudara kanan kiriku, dan remasan yang semakin brutal di payudaraku. Tanganku di vaginaku juga menekan keras.

Tubuhku bergetar hebat. Mataku terpejam. Semua sensasi sentuhan di dada, gesekan di vagina, tekanan penis di pantat semua itu memuncak menjadi satu titik yang terang.

“Aahh!. Pakkk… Ahhh… Enakkk.. Ahhh!!!”

Aku menjerit lirih, orgasme itu menghantamku. Tubuhku kejang sesaat, melengkung kuat, dan cairan hangat membanjiri celana dalamku. Napasku terputus-putus. Aku jatuh lemas, bersandar pada Pak Hasan, kelelahan, dan penuh dosa.

Tubuhku lemas, lunglai, bersandar ke belakang ke dada Pak Hasan. Napasku masih memburu, sisa-sisa orgasme itu terasa begitu nyata, hangat, dan memalukan. Aku merasa kotor, tetapi sekaligus damai karena hasrat itu untuk sementara waktu tuntas.

Tangan Pak Hasan berhenti meremas payudaraku. Ia tidak lagi brutal. Tangannya memeluk perutku, mengelus lembut perut rataku dengan gerakan menenangkan, seolah dia adalah pelindungku, bukan dalang kehancuranku.

“Mmmh… Ukhti Zahra, Sayang…” bisiknya serak, suaranya kini terdengar lembut, tetapi penuh kekaguman.

“Gila, Ukhti liar banget,” ia memujiku, memuji kebinalanku. “Aku enggak nyangka, Ukhti yang alim begini… bisa separah ini.”

Ia menekan bibirnya ke rambutku yang tertutup jilbab. “Aku beruntung sekali bisa berbuat begini dengan Ukhti Zahra. Yang paling disegani di komplek ini. Aku janji, rahasia ukhti ini aman sama bapak.”

Aku hanya bisa pasrah. Aku adalah cerminan dosa yang baru saja ia ciptakan, dan pujian atas kehinaan itu terasa begitu memabukkan. Aku menikmati pengakuan atas kebinalanku.

Namun, di tengah keheningan yang singkat itu, aku merasakan sesuatu. Penis Pak Hasan yang tadinya keras dan menekan pantatku, kini masih tegang. Ia sendiri belum mencapai pelepasan.

Pak Hasan mendesah keras, pelukannya di perutku semakin erat.

“Ahh… Sayang…” bisiknya. “Ukhti sudah enak kan, sudah crot.”

Aku mengangguk lemah.

“Tapi… Bapak belum, Ukh,” bisiknya lagi, nadanya berubah menjadi memohon, tetapi terdengar mendesak. “Dari tadi Bapak sudah tahan. Ukhti mau kan, bantuin Bapak biar keluar?”

Permintaan itu menghantamku. Dia memintaku membantunya nuntasin. Aku yang baru saja kembali ke kesadaran, kini dihadapkan pada tugas baru, melayani hasratnya.

“Bantuin gimana, Pak?” tanyaku lirih, suaraku masih parau.

Pak Hasan tertawa kecil, tawa yang penuh rencana. “Aku pengen Ukhti yang bantu pegang kontolku, Sayang. Cuma dipegang aja, ya?”

Aku menggeleng lemah. “Aku tidak bisa, Pak,” bisikku, rasa malu yang tersisa masih memberontak di batas terakhir.

“Gimana dong, Ukhti. Masa Ukhti sudah di-enakin Bapak, terus Ukhti enggak mau enakin Bapak sih,” godanya, nadanya mengandung rasa bersalah yang dibuat-buat.

Aku bingung. Aku tidak mau egois. Aku sudah mendapatkan pelepasan, dan ini adalah konsekuensinya.

“Emm… Bapak mainin itunya aja sendiri yaa di belakangku, aku enggak mau lihat. Bapak cukup mainin di punggungku aja gimana?” tawaranku keluar, sebuah kompromi antara hasrat liar dan rasa malu.

Pak Hasan mendesah puas. “Yaudah deh, Ukhti. Tapi boleh Bapak gesekin ke punggung Ukhti yaa?”

“Iya, boleh, Pak,” jawabku cepat.

“Kalo ke pantat Ukhti juga boleh enggak?” tanyanya lagi, suaranya semakin penuh harap.

Aku terdiam. Aku memikirkan. Aku tidak boleh egois. Sentuhan di pantatku tadi terasa sangat memabukkan.

“Iya, boleh deh, Pak. Tapi diluar gamis ya, Pak,” jawabku, sebuah penyerahan diri yang total.

Pak Hasan tidak membuang waktu. Aku mendengar suara gesekan kain dan bunyi resleting di belakangku.

“Ahh…” desahnya tertahan.

Aku tahu, dia sedang melepas celananya dan mengeluarkan penisnya. Detik berikutnya, aku mendengar suara rintihan tertahan di belakangku, lalu gerakan.

Aku merasakan sentuhan hangat dan besar yang asing, dan itu adalah penisnya, menyentuh pantatku di balik kain gamis abu-abu. Sensasi itu membuatku terkesiap, tubuhku membeku.

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com