𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟒𝟑 𝐌𝐚𝐚𝐟𝐤𝐚𝐧 𝐀𝐤𝐮 𝐒𝐮𝐚𝐦𝐢𝐤𝐮

 


 Pak Budi membalikkan tubuhku, memposisikan bokongku sedikit menungging. Sensasi kulitnya yang keriput menempel di punggungku membuatku merinding. Tangan kanannya menampar pantatku pelan. "Plak!" Suara tamparan itu menggema di ruangan, membuatku tersentak, tapi anehnya, aku juga mendesah. "Ahhh..."

"Kamu mau di-entot lagi, Ustadzah?" tanyanya, suaranya serak. Ia meremas payudaraku yang besar dengan tangan kirinya.

Aku hanya bisa mengangguk, napasku memburu. "Mau, Pak... mauuu..." rintihku, suaraku parau.

"Nungging, Ustadzah, yang lebih bagus." Aku menurut, menundukkan tubuhku sedikit. Ia menyeringai. "Nah, begitu. Cantik sekali pantatmu, Sayang."

Ia mulai menggesek-gesekkan penisnya yang besar dan tegang di bibir vaginaku. Sensasi itu membuatku gila. Aku menjerit pelan, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... aku enggak sabar... ayo, Pak... masukin..."

"Sabar, Ustadzah... nikmatin dulu," bisiknya. Ia terus menggesek, gerakannya lambat, tapi intens. "Memek Ustadzah sudah basah banget. Aku suka. Aku suka Ustadzah yang nakal."

Tiba-tiba, ia menghentikan gesekannya. Aku bisa merasakan kepala penisnya berhenti, tepat di lubang vaginaku. Jantungku berdebar tak karuan, perasaanku campur aduk antara rasa takut dan kenikmatan. Ia mendorongnya pelan, sangat pelan, membuatku menjerit kesakitan.

"Ahhh! Pak! Sakit! Jangan!" teriakku, tapi suaraku lebih terdengar seperti desahan. Air mataku mengalir.

Ia tidak peduli. Ia terus mendorongnya, dan aku bisa merasakan kepala penisnya membelah bibir vaginaku. "Tahan, Sayang... Tahan... Sebentar saja... Ahhh..." bisiknya, suaranya serak. "Memekmu sempit banget. Aku suka."

"Enggak... Ahh... Pak... sakit..." rintihku, air mataku terus mengalir.

Ia terus mendorongnya, dan rasa sakit yang tajam itu perlahan tergantikan oleh kenikmatan yang memabukkan. Penisnya terasa penuh di vaginaku, meregangkan setiap inci di dalamnya. Aku melengkung, mencengkeram lututku dengan erat.

Dengan sekali hentakan yang brutal, seluruh penisnya masuk ke dalam vaginaku. "Ahh!..." jeritku, suaraku parau, dipenuhi rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan yang memabukkan. Penisnya terasa begitu penuh, begitu sesak di dalam vaginaku. Aku bisa merasakan urat-uratnya yang tegang, dan sensasi itu membuatku gila.

"Gila, Ustadzah... sempit banget... Ahhh!" desahnya, suaranya serak. "Rasakan ini... Rasakan bagaimana kontol besar Bapak ini..."

Aku hanya bisa pasrah, memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini.

Pak Budi mendiamkan penisnya di dalam vaginaku. Aku terdiam, isak tangisku bercampur dengan napas yang memburu. Penisnya terasa begitu penuh di dalam diriku, sebuah sensasi yang terasa sakit, namun juga begitu memuaskan. Ia menunduk, mencium leherku, lalu berbisik, "Ustadzah, masih sakit ya? Tahan sebentar, ya. Nanti sakitnya akan hilang, dan digantikan sama keenakan yang luar biasa."

Aku hanya bisa mengangguk, berusaha menahan tangisku. "Ahh... Pak... sakit..." rintihku, suaraku parau.

"Sempit banget memek Ustadzah," bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Pantesan Mas Dimas gak bisa puasin kamu. Kontolnya kecil ya?"

Aku tidak menjawab, hanya mendesah, tak bisa menahan diri. Rasa sakit yang tajam itu perlahan tergantikan oleh kenikmatan yang memabukkan. Aku bisa merasakan setiap uratnya yang menonjol, dan sensasi itu membuatku gila.

"Gimana, Sayang? Udah enakan?" tanyanya.

"Iya, Pak... ahh... iya... udah enakan..." rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan.

Ia menyeringai, senyumnya penuh kemenangan. Tanpa aba-aba, ia mulai menggenjotku. Gerakannya pelan, namun brutal. Aku mencengkeram lututku, berusaha menahan sensasi yang membanjiri seluruh tubuhku.

"Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau.

Ia terus menggenjot, gerakannya semakin cepat, semakin dalam. "Gimana, Ustadzah? Enak? Beda kan sama punya suamimu?" bisiknya, suaranya serak. "Aku jamin, kamu akan ketagihan. Aku akan buat kamu ketagihan sama kontol besar ini."

Kemudian, tangan kirinya yang tadinya menopang pinggangku, kini naik. Ia meremas payudaraku dengan brutal, sementara tangan kanannya terus memegang pinggangku sambil menggenjotku dengan brutal. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.

Di depan kami, di pantulan kaca meja rias, aku melihat semua perbuatan itu. Aku melihat bagaimana tubuhku yang polos dan alim ini digenjot oleh pria lain. Aku melihat bagaimana wajahku yang selama ini tertutup cadar kini memancarkan ekspresi nafsu yang memabukkan. Aku melihat bagaimana payudaraku diremas dengan kasar, dan penisnya yang besar itu keluar masuk dari vaginaku.

Pemandangan itu begitu gila, begitu menakjubkan, tapi entah mengapa, terasa begitu memuaskan. Aku tidak lagi malu. Aku hanya ingin kenikmatan itu. Aku hanya ingin puas.

"Ahh... Pak... terus... lebih cepat... Ahhh!" rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku menganggukkan kepala, air mata mengalir dari mataku. "Iya, Pak... aku suka... aku suka..."

Pak Budi terus menggenjotku dengan brutal. Aku hanya bisa mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, membuatku gila. Tiba-tiba, tangan kanannya yang tadinya meremas payudaraku, kini naik, menjambak rambutku. Ia menariknya kuat-kuat, membuatku mendongakkan kepala. Aku menjerit pelan, merasakan rasa sakit yang aneh, bercampur dengan kenikmatan yang memabukkan.

"Ahh! Pak! Jangan! Ahh..." rintihku, suaraku parau.

Ia tidak peduli. Ia terus menggenjot, gerakannya semakin cepat, semakin brutal. Ia menempelkan wajahnya di leherku, menciumi leherku, lalu berbisik, "Ustadzah, Bapak suka kamu begini. Kamu terlihat sangat seksi kalau rambutmu ditarik... Kamu terlihat sangat binal."

Di depan kami, di pantulan kaca meja rias, aku melihat semua perbuatan itu. Aku melihat bagaimana penisnya yang besar dan tegang keluar masuk dari vaginaku, gerakan itu begitu cepat, begitu brutal. Rambutku yang tergerai ditarik olehnya, membuat leherku terekspos. Pemandangan itu begitu gila, tapi entah mengapa, terasa begitu memuaskan.

Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... terus... lebih cepat... Ahhh!" rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Kemudian, aku merasakan gejolak hebat di dalam diriku. Gelombang orgasme terasa begitu dekat. Aku menjerit, tak bisa menahan diri. "Ahh! Pak! Aku mau keluar! Aku mau keluar!" teriakku, tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali.

Tiba-tiba, Pak Budi menghentikan genjotannya, lalu ia mencabut penisnya dari vaginaku. Aku terkesiap, sensasi hampa menyelimuti diriku. Aku merasa sangat kecewa.

"Ahh, Pak... jangan... kenapa berhenti?" rintihku, suaraku parau, penuh permohonan. "Terus, Pak... aku mau keluar... Ahhh... aku mau keluar..."

Aku merasakan gelombang kenikmatan itu semakin dekat, dan aku tidak ingin ia berhenti. Aku memohon kepadanya, tanganku meraih penisnya, menuntunnya kembali ke vaginaku.

"Terus, Pak... tolong... aku mau keluar..." rintihku, suaraku parau, penuh keputusasaan.

Ia menyeringai, senyumnya penuh kemenangan. Ia tahu, ia telah mengendalikan diriku sepenuhnya. Ia mendorongku hingga aku berlutut, lalu ia menampar-nampar penisnya di wajahku. "Ustadzah, kamu hebat," bisiknya. "Aku akan buat kamu keluar, Sayang. Tapi, kamu harus nurutin setiap perintahku. Kamu setuju?"

Aku hanya bisa mengangguk, air mata mengalir dari mataku, sebuah pengakuan kalah. Aku tahu, aku telah jatuh terlalu dalam, dan aku tidak bisa lagi kembali. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini.

Pak Budi menyeringai, senyumnya penuh kemenangan. Ia tahu, aku telah sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Tanpa aba-aba, ia kembali memasukkan penisnya yang besar dan tegang ke dalam vaginaku. Aku menjerit, tapi rasa sakit itu segera berubah menjadi kenikmatan yang memabukkan.

"Ahh! Pak! Enak! Terus, Pak!" rintihku, suaraku parau.

Ia terus menggenjotku dengan brutal, gerakannya semakin cepat dan dalam. Aku bisa merasakan setiap hentakannya, setiap dorongannya, dan setiap benturan kulit kami yang terdengar jelas di ruangan itu. "Plok! Plok! Plok!" Suara itu seperti irama yang memompa gairahku.

"Gimana, Ustadzah? Kamu suka, kan?" bisiknya, suaranya serak. Ia menjambak rambutku, membuatku mendongakkan kepala, dan ia terus menggenjotku. "Ini yang kamu mau, kan? Ini yang bisa membuatmu keenakan."

Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan itu. Di depan kami, di pantulan kaca meja rias, aku melihat semua perbuatan itu. Aku melihat bagaimana penisnya yang besar dan tegang keluar masuk dari vaginaku, dengan brutal. Aku melihat bagaimana wajahku yang selama ini tertutup cadar kini memancarkan ekspresi nafsu yang memabukkan.

"Ahh... Pak... lebih cepat... lebih cepat... Ahhh!" rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku mencengkeram lututku, berusaha menahan gelombang kenikmatan yang semakin memuncak. Aku bisa merasakan tubuhku menegang, pinggulku bergerak tak terkendali.

"Keluar, Sayang... keluarkan... ahhh..." desahnya, suaranya serak. "Ahhh... Bapak juga... Bapak mau keluar di dalammu... ahhh!"

Aku menjerit, "Ahh! Aku keluar! Ahhhhhh!" Tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali. Aku merasakan gelombang kenikmatan membanjiri seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang begitu kuat, begitu nyata, dan begitu memabukkan. Setelah itu, tubuhku lemas, ambruk di lantai.

Pak Budi mencabut penisnya, dan aku merasa hampa. Ia menatapku, matanya dipenuhi gairah dan kemenangan. "Ustadzah, kamu hebat," bisiknya. "Kamu sudah keluar. Kamu sudah merasakan kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya."

Ia kemudian memelukku, menciumi leherku. "Kamu sekarang milikku, Ustadzah," bisiknya. "Kamu sudah janji kamu bakal nurutin semua kemauanku. Jangan lagi pakai cadar ini. Cadar ini hanya untuk menutupimu dari pandangan yang tidak pantas, tapi sekarang, di depanku, kamu adalah seorang ratu, seorang wanita binal yang pantas dipertontonkan."

Aku hanya bisa mengangguk, air mata mengalir dari mataku, sebuah pengakuan kalah. Aku tahu, aku telah jatuh terlalu dalam. Aku tidak bisa kembali.

"Iya, Pak... aku janji," jawabku, suaraku parau, penuh pengakuan.​

Pak Budi menyeringai penuh kemenangan. "Ayo, Sayang, sini," bisiknya. Ia berjalan ke arah meja rias, menarik kursi di depannya, lalu duduk. Ia menepuk pahanya, mengisyaratkan aku untuk duduk di atasnya.

Aku menurut, berjalan terhuyung-huyung ke arahnya. Aku naik, memposisikan diriku di pangkuannya. Sensasi kulit kami yang telanjang bersentuhan membuatku bergidik. Aku bisa merasakan penisnya yang masih besar dan tegang menempel di vaginaku yang basah.

Pak Budi memeluk pinggangku erat, menempelkan wajahnya di leherku. "Nyaman, kan, Ustadzah?" bisiknya, suaranya serak. "Kamu itu sempurna. Begitu pas di pangkuan Bapak."

"Iya, Pak..." rintihku, suaraku parau. "Terima kasih..."

"Untuk apa, Sayang?" tanyanya, ia menciumi leherku, lalu mencupangnya pelan, meninggalkan tanda merah di sana.

"Untuk semuanya..." jawabku, memejamkan mata. "Aku... aku merasa hidup lagi."

Ia tertawa pelan. "Itu karena kamu sudah jujur sama dirimu sendiri. Kamu itu wanita yang berani, wanita yang butuh kepuasan, suamimu, tidak bisa memberikannya, kan?"

Aku mengangguk, isak tangisku bercampur dengan desahan yang semakin keras. "Iya, Pak... aku... aku hampa..."

"Nah, sekarang kamu punya Bapak," bisiknya. Ia meremas payudaraku dengan brutal. "Kamu punya kontol yang besar ini, yang akan selalu siap buat kamu. Kamu mau? Aku bisa ajari kamu jadi lebih nakal."

Aku menggeleng, malu, tapi pada saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Enggak, Pak... aku takut..."

"Kenapa takut?" tanyanya. "Suamimu saja tidak tahu, kan? Aku janji, ini akan jadi rahasia kita. Kamu hanya perlu nurut. Kamu hanya perlu nikmatin. Katakan padaku, Ustadzah, apa yang paling kamu suka dari Bapak?"

Aku terdiam, bingung harus menjawab apa. Pikiranku kalut, tapi mulutku seolah punya kehendak sendiri. "Penis Bapak... aku suka penis Bapak... besar... dan brutal..." rintihku, sebuah pengakuan yang membuatku malu.

Pak Budi tersenyum, senyum penuh kemenangan. "Nah, sekarang kita buat kamu makin ketagihan," bisiknya.

Aku hanya bisa pasrah, memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini.

Pak Budi terus meremas payudaraku sambil aku duduk di pangkuannya. Ia menciumi leherku, lalu berbisik, "Ustadzah, Bapak punya ide. Ustadzah nggak penasaran mau coba kontol lain? Atau mau main sama banyak kontol sekaligus?"

Jantungku berdebar tak karuan. Aku terdiam, bingung harus menjawab apa. "Emm, aku nggak tau, Pak..." rintihku, suaraku parau.

Ia tersenyum penuh kemenangan. "Ustadzah, kalau mau bilang saja. Jangan bohongi dirimu. Bapak tahu kamu itu binal. Bapak tahu kamu butuh kepuasan lebih. Nanti, kita main sama beberapa cowok yang menimati tubuhmu. Kamu pasti puas banget, Sayang. Kamu akan jadi ratu di antara mereka."

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Pikiranku kalut, tapi kata-katanya menusuk, terasa begitu membebaskan. Aku membayangkan diriku di tengah-tengah mereka, disembah, didamba, merasakan kenikmatan yang luar biasa. "Emm... aku mau, Pak... tapi sama siapa?" tanyaku, suaraku nyaris tak terdengar.

"Dipikir nanti saja, Ustadzah," jawabnya, suaranya serak. Ia tersenyum, senyumnya penuh arti. "Yang penting Ustadzah mau dulu. Sekarang, yuk kita mandi bareng."

Tanpa menunggu jawabanku, ia bangkit dari kursi, lalu menggendongku. Aku terkejut, tapi tidak menolak. Tubuhku terasa ringan, seolah aku adalah boneka yang bisa ia mainkan sesuka hati. Ia berjalan ke arah kamar mandi yang ada di kamarku. Ia menurunkanku, lalu menyalakan shower. Air hangat membasahi tubuhku, tapi yang kurasakan adalah sensasi panas yang memabukkan.

"Sini, Sayang, biar Bapak yang mandiin," bisiknya.

Aku hanya mengangguk, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini. Ia mengambil sabun, lalu mengusap tubuhku. Gerakannya begitu sensual, begitu lembut, namun penuh gairah. Ia menyabuni setiap lekuk tubuhku, meremasnya, mengelusnya, membuatku mendesah tak karuan.

"Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Ia menyabuni payudaraku, lalu meremasnya, memilin putingku. "Ahh... Ustadzah... payudaramu ini... sempurna... Aku suka... aku suka sekali..." bisiknya.

Setelah selesai mandi, kami keluar. Aku merasa begitu bersih, tapi di saat yang sama, aku merasa kotor, kotor sekali. Aku meraih rok dan baju tunik dari lemari. Aku memakainya, lalu mengambil hijab. Aku tidak memakai cadar, karena Pak Budi sudah melihat wajahku.

Namun, ia menghentikanku. "Ustadzah, pakai cadarmu lagi," perintahnya.

Aku terdiam, bingung. "Kenapa, Pak? Bapak kan sudah tahu wajahku."

"Ustadzah, kamu itu milikku," bisiknya, suaranya serak. Ia meraih cadarku, lalu memakaikannya di wajahku. "Di luar sana, kamu tetap Ustadzah. Kamu tetap alim. Tapi, di balik cadar ini, kamu adalah wanita paling nakal, wanita yang hanya Bapak yang tahu betapa liarnya. Ini rahasia kita. Rahasia yang membuatmu semakin seksi."

Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini. Ia mencium keningku, lalu memelukku erat.

"Ustadzah, setelah ini kegiatannya ustadzah apa?" tanyanya, suaranya serak.

"Aku... aku mau nge-packing orderan pembeli, Pak," jawabku, suaraku parau.

Ia tersenyum, senyumnya penuh kemenangan. "Yaudah, Ustadzah. Aku bantuin, ya."

Jantungku berdebar kencang. Aku terkejut, tapi aku tidak menolak. Ia mengikutiku dari belakang, langkahnya terasa berat. Kami berjalan ke studioku, ruangan kecil yang selama ini menjadi duniaku yang aman dan damai. Di sana, tumpukan paket dan pakaian syar'i menantiku.

Kami berdua duduk di lantai, mengemas paket-paket itu. Di antara kami, ada keheningan yang canggung, tapi tak lama, ia memecahnya.

"Ustadzah, kamu hebat," bisiknya, suaranya serak. "Bisa jualan gamis sebanyak ini. Pasti banyak yang suka sama gamis buatanmu, ya."

"Alhamdulillah, Pak..." jawabku, suaraku sedikit bergetar.

"Sama seperti tubuhmu, Ustadzah," timpalnya, suaranya penuh arti. Ia meraih sebuah gamis, mengusap-usapnya. "Bahannya halus. Semulus kulit Ustadzah."

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku mencoba mengabaikan ucapannya, tapi dorongan untuk melangkah lebih jauh, untuk menyenangkan dia, terlalu kuat untuk kutahan. "Pak, jangan begitu..." rintihku.

Ia tertawa pelan. "Ustadzah, aku serius. Lihatlah gamis ini," ucapnya, ia menaruh gamis itu di depan tubuhku. "Gamis ini melambangkan kesucian. Tapi di dalamnya, ada wanita yang begitu liar, begitu seksi. Aku suka. Aku suka kamu yang begitu."

Ia mengulurkan tangannya, dan tangannya menyentuh punggungku dari balik mukena. Ia mengelusnya, perlahan, lalu semakin cepat, membuatku merinding. "Kamu tidak perlu malu, Ustadzah. Kamu itu sempurna. Kamu bisa jadi wanita paling salehah di luar sana. Tapi di hadapanku, kamu bisa jadi wanita paling nakal, wanita paling seksi. Kamu suka, kan?"

Aku tidak bisa menjawab, hanya mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak..." rintihku, suaraku parau.

"Ustadzah, setelah di-packing gini nanti Ustadzah antar ke jasa pengiriman?" tanya Pak Budi, suaranya terdengar santai, seolah kami benar-benar hanya berurusan dengan pekerjaan.

"Enggak, Pak," jawabku sambil mengemas satu per satu paket gamis. "Nanti di-pick-up sama kurir dari jasa pengirimannya."

"Wah, baik banget kurirnya ya, Ustadzah," ucapnya, ada nada aneh dalam suaranya. Ia mengambil paket lain, menimangnya sejenak. "Mau pick-up barang di rumah."

"Iyaa, sudah pekerjaannya begitu, Pak Budi," balasku, mencoba terdengar normal, padahal jantungku berdebar tak karuan.

"Tapi baik loh mereka, Ustadzah. Coba deh kapan-kapan kasih mereka bonus," rayunya. Ia tersenyum penuh arti, matanya tak lepas dari tubuhku.

"Emm... iya deh. Nanti aku kasih mereka uang jajan," balasku, tanpa berpikir panjang.

Pak Budi tertawa pelan, tawanya terdengar serak dan menggoda. "Jangan bonus uang, Ustadzah. Cepat habis kalau uang," bisiknya. Ia mendekatkan wajahnya ke arahku, membuatku terkesiap.

"Terus apa, Pak?" tanyaku, suaraku parau.

Ia menyeringai. "Kasih bonus tubuh Ustadzah. Haha."

Aku tersentak, rasa malu yang luar biasa membanjiri diriku. "Ihh, Bapak ada-ada aja," ucapku, mencoba terdengar kesal, tapi di dalam hatiku, ada sensasi aneh yang tidak bisa kuingkari.

"Gak apa-apa, Ustadzah," bisiknya. "Kan katanya tadi mau main sama banyak kontol. Nah, Bapak bisa bantu Ustadzah wujudkan itu. Kita mulai dari kurir-kurir yang baik ini."

Aku terdiam, tanganku berhenti mengemas. Pikiranku kalut. Kata-kata Pak Budi bagai racun yang memabukkan. Ia benar. Aku sudah berjanji, aku sudah jatuh terlalu dalam. Aku membayangkan diriku, Ustadzah Tiara, yang selama ini dikenal alim, memberikan "bonus" kepada para kurir. Pemandangan itu begitu gila, begitu menakutkan, tapi anehnya, juga terasa sangat memuaskan.

Setelah selesai mengemas semua paket, aku menaruhnya di kotak yang biasa kusimpan di depan rumah. Aku kembali ke ruang tamu, di mana Pak Budi sudah duduk santai di sofa. Aku merebahkan diri di sampingnya, meletakkan kepalaku di bahunya. Kami sudah seperti sepasang kekasih, nyaman dan saling mengerti.

"Capek, Sayang?" bisik Pak Budi. Ia mengelus rambutku dengan lembut.

"Iya, Pak..." jawabku, memejamkan mata. "Rasanya tenang begini... aku jadi lupa semua masalah."

"Nah, itu gunanya Bapak," ucapnya, suaranya serak. "Bapak di sini untuk buat kamu lupa semua masalah. Kamu hanya perlu nikmatin kontol Bapak. haha"

Keheningan menyelimuti kami. Tiba-tiba, aku merasa rindu pada Mas Dimas. Sudah lama aku tidak membuka ponsel, dan aku ingin tahu kabarnya. Aku bangkit, mengambil ponselku di kamar, lalu kembali ke sofa. Pak Budi menatapku dengan mata penuh tanda tanya.

"Kenapa, Sayang?" tanyanya.

"Aku mau buka HP, Pak... kangen Mas Dimas," jawabku, suaraku parau.

Ia hanya mengangguk, lalu memelukku dari samping. Aku membuka layar ponselku, dan mataku terbelalak. Ada notifikasi chat dari Mas Dimas. Aku membukanya, dan jantungku berdebar tak karuan.

Mas Dimas: Tiara. Aku mau tanya. Apa kamu tahu arti CCTV?

Tubuhku membeku. Mataku membelalak. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak. Aku menatap Pak Budi, dan ia menatapku, bingung.

Chat berikutnya.

Mas Dimas: Apa kamu tahu, kalau di rumah kita ada CCTV yang tersembunyi yang ku pasang? Apa kamu tahu, kalau aku sudah memasangnya sejak lama? Dan apa kamu tahu, kalau semua perbuatanmu dengan Pak RT, dengan tukang sayur, dan sekarang... dengan pria yang ada di sampingmu itu... aku lihat semuanya!

Degg…

Bersambung...

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com