𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟒𝟒 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠

Pov Dimas
Pagi itu, aku bangun dengan kepala yang terasa berat, seperti terbebani ribuan pertanyaan tanpa jawaban. Bayangan rekaman CCTV semalam terus berputar di pikiranku. Pria tua itu, Tiara, dan selimut yang menutupi perbuatan mereka. Apakah benar-benar terjadi? Aku tidak tahan membayangkan jika penis sebesar itu masuk ke lubang sempit istriku, Tiara.

Kepalaku pusing membayangkannya. Aku tidak tahan membayangkan jika itu terjadi. Fantasi gila itu, yang selama ini hanya bermain di kepalaku, kini terasa begitu nyata dan menyakitkan. Aku tidak bisa mengusir bayangan itu, betapa pun kerasnya aku mencoba.

Setelah mandi dan bersiap, aku meraih ponselku, jemariku gemetar saat membuka aplikasi CCTV. Di layar, aku melihat Tiara dan pria itu masih tertidur lelap, berdekatan di ranjang yang sama denganku. Selimut yang sama, bantal yang sama. Dadaku terasa sesak. Mereka terlelap dalam keheningan yang menyesakkan, menciptakan jurang tak kasat mata di antara kami.

Tak lama, Tiara terbangun. Ia menyingkap selimut, dan untuk pertama kalinya aku melihatnya telanjang bulat di hadapan pria lain. Setiap lekuk tubuhnya, yang selama ini hanya bisa kunikmati, kini terpampang jelas, menjadi tontonan yang membuatku jijik sekaligus bergairah. Ia perlahan duduk, menggaruk kepalanya, lalu menatap pria di sampingnya yang masih pulas. Senyuman puas terukir di bibirnya, senyum yang sama yang kulihat semalam. Senyum itu terasa seperti belati yang mengiris, sebuah pengakuan tanpa kata.

Tiara kemudian berdiri, melangkah ke kamar mandi, sekitar 15 menit istriku keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk. Rambutnya basah, menempel di lehernya, memberikan kesan polos yang begitu palsu. Setelah itu ia mengambil mukena, menunaikan shalatnya. Gerakannya terlihat begitu tenang, khusyuk. Namun, setelah selesai shalat, aku melihat ia duduk termenung cukup lama. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan, tapi aku yakin, pikirannya tidak sesunyi yang terlihat. Setelah merenung, ia kembali ke tempat tidur.

Ia duduk di kasur, di samping pria suruhan Mas Bims itu. Ia menatapnya sejenak, lalu dengan perlahan mengguncang bahunya. "Bangun..." bisiknya lembut.

Pria itu menggeliat, lalu membuka matanya. Ia menyibak selimut, dan mataku membelalak. Pemandangan itu membuat napasku tercekat. Mata Tiara terpaku pada penis pria itu yang sangat besar dan tegak karena morning wood. Matanya terlihat kaget. Namun, bukan keterkejutan yang mengerikan, melainkan sebuah kejutan yang dipenuhi hasrat. Tiara terus memandang penis itu, seolah-olah ia sedang melihat sebuah harta karun. Lidahnya bergerak, membasahi bibirnya yang kering. Sebuah senyuman tipis kembali terukir di wajahnya. Senyuman yang penuh dengan janji dan hasrat terlarang.

Di layar ponsel, setelah Tiara tertegun melihat penis yang masih tegak, pria tua itu tidak menyia-nyiakan waktu. Ia meraih tangan istriku, menariknya pelan, lalu memeluk tubuhnya. Tiara yang awalnya mematung, kini merebahkan kepalanya di bahu pria itu. Tangannya melingkar ke punggung, lalu dengan gerakan perlahan, ia meremas payudara Tiara.

"Mmm..." desah Tiara, suaranya tercekat. "Enak pakk..."

“Kamu suka kan, Sayang?” bisik pria itu.

Tiara hanya mengangguk pelan, tanpa suara. “Enak…” desahnya pelan.

Pria itu kemudian menyuruh Tiara duduk, tepat di depan penisnya yang masih tegak. Tiara menatapnya, lalu menelan ludah.

"Sekarang, hisap kontol ini, Sayang," bisiknya, suaranya serak. "Aku ingin kamu merasakannya dalam mulutmu."

Tiara mengangguk, sebuah anggukan yang terasa seperti pengakuan. Ia menyibakkan cadarnya, membuka mulutnya, dan dengan gerakan gemetar, ia memasukkan kepala penis pria itu ke dalam mulutnya. "Ahh... ahhh..." desah pria itu. Ia mendongakkan kepalanya, matanya terpejam. "Enak... bibirmu lembut sekali, Sayang..."

Aku menyaksikan semua dari layar ponselku, dan aku merasa gila. Hasratku, yang selama ini hanya menjadi fantasi, kini menjadi kenyataan. Aku merasa jijik, tapi di saat yang sama, penisku ereksi. Aku menyukai permainan ini, aku menyukai bagaimana istriku, wanita yang selama ini polos dan lugu, ternyata mempunyai sisi nakal yang tersembunyi. Aku mematikan ponselku, lebih baik aku bersiap untuk berangkat kerja.

Aku melajukan mobilku, menuju kantor. Pikiranku tidak bisa fokus. Setiap sudut jalan, setiap gedung yang kulewati, terasa seperti tontonan yang jauh. Aku hanya memikirkan Tiara, dan apa yang sedang ia lakukan. Setibanya di kantor, aku langsung menuju ruanganku. Aku menutup pintu, mencoba memfokuskan diri pada pekerjaan, tapi sia-sia. Setiap angka di monitor, setiap kata yang kubaca, terasa hampa. Aku tidak bisa bekerja. Pikiranku terus-menerus kembali pada Tiara. Apa yang sedang ia lakukan sekarang? Apakah permainan ini sudah berakhir? Atau justru semakin gila?

Aku membuka ponsel, membuka aplikasi CCTV. Jantungku berdebar kencang, perasaanku campur aduk antara ketakutan dan hasrat. Namun, pemandangan di layar membuatku tercekat. Di sana, tepat di depan kameraku, Tiara sudah telanjang bulat, bahkan tidak memakai cadar dan jilbab. Rambutnya terurai, indah, dan tubuhnya yang indah terlihat sangat jelas di kamera.

Ia menungging menghadap kameraku, posisinya sangat sempurna karena kameraku berada di meja riasnya. Aku bisa melihat setiap lekuk tubuhnya dengan jelas dan dekat. Wajahnya mendongak ke atas, ekspresinya dipenuhi kenikmatan. Di belakangnya, pria itu, tangan kirinya meremas payudara Tiara. Jemarinya bergerak brutal, sementara tangan kanannya menjambak rambut Tiara. Aku melihat pinggul pria itu maju mundur dengan ritmis.

Aku memperjelas penglihatanku, dan duniaku serasa runtuh. Penis besar pria itu masuk ke dalam vagina sempit istriku. Lubang yang selama ini hanya bisa kumasuki, kini dinikmati orang lain. Pria itu terus menggenjot vagina Tiara, gerakannya semakin cepat dan dalam.

"Ahh… ahhh…," desah Tiara, suaranya serak. "Lebih cepat pak… ahhh… aku suka…"

Pria itu menyeringai, "Enak kan ustadzah? Aku tahu kamu suka… memekmu sempit banget…"

"Ahhh… ahhh… iya… aku suka penis Bapak… besar… ahhh… lebih dalam lagi…" desah Tiara, suaranya semakin keras.

Aku mengepalkan tangan, amarah dan hasrat bercampur menjadi satu. Aku jijik, tapi di saat yang sama, penisku ereksi lagi. Aku menyukai ini. Aku menyukai fantasi bahwa istriku yang alim, yang selama ini terlihat begitu lugu dan polos, kini menjadi objek fantasi pria lain. Aku tidak bisa menghentikannya. Aku hanya bisa menonton, menyaksikan permainan gila yang sudah kumulai.

Pria itu terus menggenjot Tiara, dan Tiara terus mendesah. "Ahh… ahhh… terus, Pak… aku mau keluar… ahhh…"

Tiara menjerit, "Ahhhh!" tubuhnya menegang, dan ia terjatuh lemas. Pria itu tersenyum puas.

Aku terus mengamati, terperangkap dalam tontonan yang memuakkan sekaligus memikat. Layar ponsel menunjukkan Tiara mencapai puncaknya, tubuhnya menggeliat hebat, desahan panjang meluncur dari bibirnya yang terbuka. "Aaaahhh! Pak... Aku keluarr...Aahh!"

Tak lama, pria itu juga mendesah keras, raut wajahnya menegang penuh kepuasan. Aku melihat gerakannya yang terakhir, tubuhnya menekan kuat, Pria itu mendesah, "Ahhh… aku keluarr…." dan ia menumpahkan spermanya di dalam vagina Tiara.

Pikiranku seketika kalut. "Gila! Bagaimana kalau hamil?" Getir terasa di dadaku. Selama ini, sperma-ku saja tak pernah mampu membuat Tiara hamil. Bagaimana jika Tiara justru hamil anak pria ini? Pertanyaan itu membakar benakku.

Anehnya, di tengah kekacauan itu, muncul sebuah pikiran yang tak terduga. Hamil. Jika Tiara hamil, entah anak siapa, aku mungkin tidak akan mempermasalahkannya. Aku ingin punya anak. Aku ingin Tiara hamil. Perasaan ini begitu kontradiktif, dan membuat kepalaku pening.

Dengan tangan gemetar, aku menutup aplikasi CCTV. Cukuplah. Aku sudah melihat cukup banyak.

Jemariku beralih ke aplikasi pesan instan, membuka obrolan dengan Tiara. Aku merasa perlu melampiaskan semua ini. Aku ingin melihat reaksinya, bagaimana ia akan menghadapi fakta bahwa aku tahu segalanya.

Aku: Tiara. Aku mau tanya. Apa kamu tahu arti CCTV?

Tidak ada jawaban. Mungkin ia memang tidak sedang memegang ponselnya. Mungkin ia masih dalam pelukan pria itu, atau sedang mencuci diri dari perbuatan mereka. Rasa marahku semakin membuncah.

Aku: Apa kamu tahu, kalau di rumah kita ada CCTV yang tersembunyi yang ku pasang? Apa kamu tahu, kalau aku sudah memasangnya sejak lama? Dan apa kamu tahu, kalau semua perbuatanmu dengan Pak RT, dengan tukang sayur, dan sekarang... dengan pria yang ada di sampingmu itu... aku lihat semuanya!

Aku meletakkan ponselku, membiarkannya tergeletak di meja. Mungkin Tiara sedang sibuk dengan pria itu. Biarlah. Yang terpenting, aku sudah melontarkan ancamanku. Aku sudah mengungkapkan bahwa aku tau semuanya. Perasaanku Sedikit lega, aku menyimpan ponselku dan kembali bekerja. Anehnya, kini aku bekerja dengan perasaan yang agak lebih tenang dan fokus. Beban rahasia yang selama ini kupendam kini terangkat. Aku sudah mengetahui semuanya, dan ternyata aku cukup menyukai itu, Permainan ini baru saja dimulai, dan aku ingin menjadi sutradaranya.

Tak lama kemudian, pintu ruanganku terbuka dan Evelyn masuk dengan senyum manis dan secangkir kopi mengepul di tangannya.

"Pagi, Pak Dimas," sapanya ramah.

"Pagi, Evelyn," balasku, mencoba membalas senyumnya meski rasanya berat sekali.

Evelyn meletakkan kopi di mejaku, lalu menatapku dengan sorot mata penuh perhatian. "Pak Dimas kok sepertinya lemas banget hari ini? Tumben banget."

Aku menghela napas, menyandarkan punggung ke kursi. "Iyaa Evelyn. Lemas banget hari ini."

"Kenapa kok bisa gitu, Pak? Karena istrinya kah?" tanyanya, tepat sasaran. Evelyn memang sudah tahu banyak tentang hubunganku dengan Tiara, setidaknya bagian-bagian yang dilihatnya langsung kemarin.

Aku sempat ragu, haruskah aku menceritakan semua? Tapi, Evelyn adalah satu-satunya orang yang tahu sebagian, dan entah kenapa, aku merasa ingin berbagi beban ini dengannya.

"Evelyn," kataku, suaraku rendah. "Aku... aku melihat sesuatu yang gila tadi pagi."

Evelyn mengerutkan keningnya, ekspresinya berubah serius. "Melihat apa, Pak?"

Aku menarik napas dalam, lalu menceritakan semuanya. Mulai dari kecurigaanku, pemasangan CCTV, kejadian kemarin, dan puncaknya, adegan di pagi hari saat pria itu menumpahkan spermanya di dalam vagina Tiara. Aku menceritakan kegelisahanku tentang kemungkinan Tiara hamil, dan perasaan anehku yang justru menginginkan hal itu. Semua, tanpa terkecuali.

Evelyn mendengarkan dengan saksama, sesekali matanya membulat terkejut, namun ia tidak menyela. Setelah aku selesai, ia terdiam sejenak, memproses semua informasiku.

"Pak Dimas," katanya akhirnya, suaranya tenang tapi tegas. "Ini... ini memang gila. Tapi Pak Dimas harus ingat satu hal. Jangan sampai Pak Dimas yang jadi korban di sini. Jangan sampai Pak Dimas yang terus-terusan ditindas oleh keadaan atau oleh mereka."

Aku menatapnya, bingung. "Maksudmu?"

Ia mendekat, lalu duduk di pangkuanku. Tangannya melingkar di leherku, dan ia membisikkan sesuatu di telingaku, "Bapak harus membuat istri Bapak melakukan semua yang Bapak inginkan. Tapi, hanya untuk Bapak. Dia harus menjadi boneka yang menari hanya untuk Bapak."

Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam bisikannya yang beracun. Fantasi gila yang selama ini hanya ada di dalam pikiranku, kini menjadi kenyataan yang jauh lebih gila. "Aku... aku tidak tahu harus mulai dari mana," bisikku.

"Mudah, Pak," bisiknya. "Bapak hanya perlu menunjukkan, siapa yang memegang kendali di sini."

Perkataan Evelyn seperti sengatan listrik. Ada benarnya. Aku sendiri yang mendorong Tiara, yang membiarkan fantasiku menjadi kenyataan. Jadi, kenapa aku harus merasa kalah? Aku punya kendali, dan aku punya bukti.

"Apa yang harus kulakukan, Evelyn?" tanyaku, kini rasa lemas mulai berganti dengan semangat baru.

Evelyn tersenyum tipis. "Pak Dimas punya semua kartu di tangan. Pak Dimas bisa bermain dengan ini. Buat mereka menari sesuai irama Pak Dimas. Buat Bu Tiara tahu siapa yang sebenarnya memegang kendali. Buktikan bahwa Pak Dimas adalah suami yang bisa melakukan segalanya, bahkan di balik layar sekalipun."

Aku mengangguk perlahan. Sebuah ide mulai terbentuk di benakku. Evelyn benar. Aku tidak boleh ditindas. Aku yang akan mengendalikan. Aku akan membuat mereka menari sesuai iramaku.

"Terima kasih, Evelyn," kataku, kini senyumku tulus. "Kamu benar."

Evelyn membalas senyumku. "Sama-sama, Pak. Sekarang, minum kopinya, biar semangat lagi."

Aku meraih cangkir kopi, menyesapnya perlahan. Pikiranku kini dipenuhi rencana-rencana baru. Permainan ini baru saja dimulai, dan aku akan menjadi pemain terbaik. Tiara, Pak RT, tukang sayur, bahkan pria suruhan Mas Bims itu... mereka semua akan tahu siapa yang sebenarnya berkuasa.

Tepat setelah percakapanku dengan Evelyn selesai, ponselku bergetar. Tiara menelepon. Senyum tipis terukir di bibirku. Ini dia. Waktu yang tepat untuk melancarkan skenarioku.

Aku mengangkat telepon. "Halo, Dek," sapaku, suaraku kuusahakan terdengar dingin, penuh amarah yang dibuat-buat.

Di seberang sana, kudengar isakan. "Mas... Mas sudah tau semua?..." rintihnya, kata-katanya bercampur dengan tangisan. "Mas... aku bisa jelasin..."

"Jelasin apa, Tiara?!" bentakku, suaraku menggelegar, sengaja kubuat seolah amarahku tak terbendung. "Kamu mau jelasin apa? Aku lihat semuanya! Aku lihat kamu dipegang-pegang Pak RT! Aku lihat kamu sama penjual sayur! Dan sekarang... dengan pria itu! Aku lihat semuanya!"

Ada jeda panjang. Aku bisa membayangkan Tiara membeku di seberang sana, terdiam, hanya bisa menangis. Pikirannya pasti kalut, akal sehatnya berteriak, dan ia pasti merasa begitu hina.

"Apa yang kamu pikirkan, Tiara? Kamu menjual diri? Kamu jadi jalang?!" bentakku lagi, mempermainkan emosinya. "Aku izinkan kamu live! Aku izinkan kamu masturbasi! Tapi ini yang kamu lakukan di belakangku?! Kamu membiarkan tubuhmu dinikmati pria lain?! Bahkan dia menumpahkan spermanya di vagina kamu, gimana kalau kamu hamil anak dia, hahh?!, Aku lihat semua ekspresi keenakanmu! Kamu terlihat sangat keenakan, Tiara! Aku sakit!"

Isakan Tiara semakin keras. Ia pasti tidak bisa berkata-kata, hanya bisa menangis dan menangis. Pikirannya pasti dipenuhi rasa malu dan takut, merasa seperti akan mati. Bagus. Ini yang kubutuhkan.

Kemudian, perlahan, aku mengubah nada suaraku. Amarah yang kubuat-buat itu lenyap, tergantikan oleh nada yang lebih dalam, lebih gelap, penuh bisikan hasrat. "Udahh… Adek... jangan nangis lagi," bisikku, suaraku serak, namun kini memiliki intonasi yang begitu menakutkan, tapi anehnya, juga terasa begitu menyenangkan. "Aku enggak marah... Aku bercanda aja kalau aku marah."

Kudengar ia terkesiap, tubuhnya pasti membeku. "M-maksud Mas?" tanyanya, suaranya parau, penuh kebingungan dan ketakutan.

"Aku suka, Dek," bisikku lagi, kini sepenuhnya jujur dengan hasrat tergelapku. "Aku suka melihat Adek begitu. Aku suka melihat Adek keenakan. Aku suka melihat Adek yang ternyata jadi binal. Aku suka melihat Adek berani dengan laki-laki lain. Adek tahu kenapa aku pasang CCTV?"

Aku menunggu jawabannya, tapi ia hanya terdiam, mungkin menggeleng di seberang sana, tak bisa berkata-kata.

"Karena aku ingin lihat Adek," bisikku, kini suaraku dipenuhi kepuasan. "Aku ingin lihat Adek, Istriku Ustadzah alim, dan selalu berpakaian syar’i yang tidak pernah bisa aku puaskan. Aku ingin lihat Adek yang berani, dan di puaskan orang lain. Jangan malu, Sayang. Aku izinkan. Aku suka. Lanjutkan permainan gila itu. Lebih nakal lagi, Sayang. Buat Mas Bims, buat orang suruhan nya, buat mereka semua gila dengan tubuh Indah Adek. Mas suka lihat Adek keenakan."

Ada keheningan panjang di seberang telepon. Aku bisa merasakan hatinya berdebar tak karuan, terkejut, namun mungkin juga tergoda. Aku tahu ia merasa seperti ada sesuatu yang menusuk-nusuk hatinya, tapi pada saat yang sama, ia pasti merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Aku mengizinkan. Aku membiarkannya sepenuhnya jatuh ke dalam permainan ini, dan aku adalah dalangnya.

"Iya, Mas..." rintihnya, suaranya parau, penuh pengakuan, penuh penyerahan diri. "Aku... aku akan lanjutkan..."

Sebuah senyum kemenangan mengembang di wajahku. "Bagus, Sayang, Tapi adek harus selalu cerita setiap main sama siapapun, dan jangan bohongi mas, paham?!!." bisikku, suaraku kini sepenuhnya normal, namun dengan nada otoritas yang tak terbantahkan. "Nanti, kalau sudah selesai, Adek kirimkan videonya ke Mas, ya? Mas mau lihat semua ekspresi keenakan Adek. Mas ingin tahu, apakah Adek benar-benar keenakan atau tidak."

"Iya, Mas..." jawabnya dengan sedikit lantang, tak lagi merintih ataupun menangis.

Aku tahu, mulai sekarang, Tiara akan sepenuhnya berada di bawah kendaliku. Permainan ini baru saja mencapai level yang jauh lebih berbahaya, dan aku, sebagai dalangnya, sangat menikmati setiap detiknya.

Aku menutup telepon, senyum puas terukir di wajahku. Rencanaku berhasil. Tiara sepenuhnya jatuh ke dalam perangkap yang kubuat. Aku memandang Evelyn yang masih berada dalam pangkuanku, matanya berbinar penuh kekaguman. Dia bertepuk tangan pelan, senyumnya penuh kemenangan. "Bagus, Pak... Sangat bagus sekali," pujinya, matanya berbinar. "Bapak sudah mulai mengendalikan permainan ini."

Aku membalas senyumnya. "Ini semua berkatmu, Evelyn."

"Sebagai hadiah, biarkan saya buat Bapak lebih rileks," bisiknya. Tanpa menunggu jawabanku, ia bangkit dari pangkuanku. Ia berlutut di depanku, lalu dengan gerakan perlahan, ia membuka kancing celanaku dan menurunkan resletingnya. Ia mengeluarkan penisku yang sudah tegang.

Evelyn menatap penisku dengan mata penuh hasrat. "udah ngaceng aja kontol bapak... biar Evelyn puasin bapak sebagai hadiah.." bisiknya.

Ia kemudian melahap penisku, gerakannya lambat dan hati-hati, seolah ia sedang mencicipi sebuah hidangan yang lezat. Aku mendongakkan kepala, mataku terpejam, membiarkan diriku tenggelam dalam sensasi itu. "Ahh... ahhh... enak, Evelyn," desahku, suaraku serak.

Evelyn terus melakukannya, gerakannya semakin cepat, lebih intens. Ia mengisap, menjilat, dan mengulum penisku, membuatku semakin tak terkendali. "Gimana, Pak? Lebih enak dari sepongan istri Bapak, kan?" bisiknya di antara isapannya.

Aku tidak menjawab. Aku hanya bisa mendesah, "Ahh... ahhh... terus, Evelyn... lebih cepat..."

Ia terus melakukannya, dan aku merasakan ketegangan memuncak dalam diriku. Aku menyukai permainan ini. Aku menyukai bagaimana Evelyn perlahan-lahan memenuhi fantasiku. Fantasiku tentang Tiara yang menjadi binal, kini berpadu dengan kenyataan di hadapanku.

Evelyn terus mengulum penisku dengan telaten dan gerakan yang sangat profesional. Ia tahu persis bagaimana cara membuatku gila. Aku terus mendesah, dan tidak lama kemudian, aku merasakan gejolak hebat. "Ahh... Evelyn... aku keluar... aku keluar!" desahku, menyerah pada sensasi yang memabukkan.

Spermaku muncrat ke dalam mulutnya, dan ia menelan semuanya tanpa ragu. Ia membersihkan sisa-sisa sperma dari bibirnya, lalu menatapku dengan mata yang jujur. "Pak," bisiknya, suaranya lembut, "Saya harus jujur."

"Ada apa, Evelyn?" tanyaku, suaraku masih serak.

"Bapak mengalami ejakulasi dini," ucapnya, tanpa basa-basi.

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com