"Ada apa, Evelyn?" tanyaku, suaraku masih serak.
"Bapak mengalami ejakulasi dini," ucapnya, tanpa basa-basi.
"Ini bukan hanya karena Bapak terlalu lama menahan diri. Ini karena
pikiran Bapak tidak tenang. Selalu memikirkan istri Bapak, kecurigaan
yang berlebihan. Itu yang membuat Bapak cepat keluar."
Aku terdiam, merasa malu. Ia benar. Aku tidak bisa menyangkalnya.
"Bapak harus mencari solusi," lanjutnya. "Mungkin Bapak bisa mencoba
pengobatan tradisional atau herbal. Ada beberapa ramuan yang bisa
membantu Bapak mengendalikan diri, menenangkan pikiran, dan memperkuat
stamina."
Evelyn bangkit, lalu ia kembali duduk di pangkuanku, menghadap ke
arahku. "Aku akan bantu Bapak," bisiknya. "Aku akan carikan informasi
tentang ramuan yang paling cocok untuk Bapak. Kita akan membuat Bapak
menjadi pria yang dominan di ranjang, bukan hanya dengan melihat istri
Bapak dengan pria lain, tapi dengan kekuatan Bapak sendiri."
Aku menatapnya, mataku dipenuhi kebingungan dan hasrat. Ia menunduk,
mencium bibirku. Ciumannya lembut, tapi penuh gairah. "Bapak harus
menjadi pria yang dominan," bisiknya. "Bapak harus mengendalikan
permainan ini, dan itu dimulai dari diri Bapak sendiri."
"Oke Evelyn. Kamu kapan bisa bawa obat itu?" tanyaku.
"Mungkin besok, Pak. Karena aku harus cari tahu dulu mana yang paling bagus," jawabnya.
"Oke. Berapa pun harganya, aku beli. Jangan khawatir soal uang," ujarku, menunjukkan betapa aku menginginkan ini.
"Siap, Pak Dimas," jawabnya sambil mencium bibirku. Ciumannya terasa
manis, seperti sebuah janji. Kemudian dia keluar dari ruangan kantorku.
Tak lama setelah Evelyn pergi, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari
Tiara masuk. Ia mengirimkan sebuah foto dirinya sedang selfie di ruang
tamu, dengan seorang kurir muda yang terlihat seusianya. Di belakangnya,
pria suruhan Mas Bims duduk santai di sofa.
"Mas aku izin mau main sama kurir," tulisnya.
Aku tersenyum, lalu mengetik balasan. "Silakan, Sayang. Selamat menikmati penis kurir. Semoga kamu puas ya."
Aku benar-benar mulai menyukai sensasi ini. Fantasi yang kuciptakan, Aku
tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi aku tahu, aku
menyukai permainannya. Aku menyukai bagaimana aku bisa mengendalikan
Tiara, bagaimana ia menuruti setiap keinginanku, bahkan saat aku tidak
ada di sisinya.
Aku tidak ingin melihat adegan itu sekarang. Aku ingin menikmati
ketegangan ini, menahan diri, dan menantikan tontonan itu nanti, di
rumah dinas. Sepanjang sisa hari itu, aku kembali fokus pada
pekerjaanku. Aku mengabaikan ponselku, tidak peduli dengan pesan yang
mungkin masuk atau notifikasi apa pun. Pikiranku yang sebelumnya kacau,
kini terasa lebih terorganisir. Aku tahu, aku akan mendapatkan tontonan
yang kucari nanti malam, dan penantian ini terasa begitu memuaskan.
Sore itu, langkahku terasa ringan saat tiba di depan pintu rumah dinas.
Aku tidak sabar. Aku melangkah cepat ke dalam, menjatuhkan koper, dan
langsung menuju kasur. Hal pertama yang kuambil bukan pakaian, melainkan
ponselku. Jemariku bergetar saat membuka aplikasi pesan. Di sana, sudah
ada puluhan pesan dan notifikasi dari Tiara. Jantungku berdebar
kencang, perasaanku campur aduk antara cemburu, amarah, dan hasrat yang
tak bisa kutolak.
Aku membuka pesannya satu per satu. Ia tidak hanya mengirimkan foto,
tapi juga video. Aku melihat foto-foto itu, dan napasku tercekat.
Foto-foto itu berisi adegan-adegan mesum istriku dengan kurir dan pria
suruhan Mas Bims.
Foto 1: Tiara terlihat berlutut di sofa, dengan celana dan pakaian dalam
diturunkan hingga lutut. Ia menjilati penis pria suruhan Mas Bims yang
besar, dengan ekspresi wajah yang campur aduk antara takut dan
kenikmatan. Pria itu menatap Tiara dengan senyum puas, sementara tangan
kanannya meremas payudara istriku. kemungkinan besar kurir yang
mengambil foto ini.
Foto 2: Tiara menungging di hadapan kurir muda itu, dengan pantatnya
yang besar dan mulus terekspos jelas. Kurir itu terlihat sedang memegang
penisnya, dan menggesek-gesekkannya di pantat Tiara. Pria suruhan Mas
Bims berdiri di depan tiara, penis besarnya di genggam tangan tiara yang
masih menggunakan jilbab dan cadar. Dari angle foto ini aku tau orang
suruhan mas bims yang nge foto.
Foto 3: Tiara duduk di pangkuan kurir muda itu, dengan payudaranya yang
besar tersembul keluar. Kurir itu terlihat sedang mengulum puting
payudara Tiara, sementara Tiara memejamkan mata, kepalanya mendongak,
menikmati setiap sentuhan. Pria suruhan Mas Bims memotret mereka berdua.
Foto 4: Foto ini membuatku gila. Tiara terlihat sedang mengulum penis
kurir muda itu dan juga penis orang suruhan mas bims di dalam genggaman
tangan nya, ia menatap kamera dengan mata penuh hasrat. Di foto itu, ia
tidak memakai cadar dan jilbab, rambutnya terurai, dan ia terlihat
begitu cantik dan binal. Aku sangat menyukai foto ini.
Aku menutup ponselku, tanganku gemetar. Semua fantasi gelapku, kini
menjadi kenyataan yang jauh lebih gila. Aku tahu, permainan ini belum
berakhir. Ia tak hanya mengirimkan foto. Aku harus melihat videonya.
Aku membuka video pertama, yang berdurasi 10 menit. Jantungku berdebar
kencang, dan tanganku gemetar. Pemandangan yang kulihat di layar membuat
napasku tercekat. Video itu direkam dari sudut pandang yang berbeda.
Video dimulai dengan Tiara yang memegang ponselnya. Ia terlihat gugup,
tapi juga penuh hasrat. "Aku... aku akan rekam ini untuk Mas Bims,"
bisiknya ke arah kamera. "Dan untuk suamiku."
Ia memutar kamera, merekam tubuhnya yang telanjang bulat, dari depan
hingga belakang. "Aku harap, kalian suka," bisiknya. Kemudian, ia
memanggil kurir muda itu. "Pak kurir.. Kamu... kamu mau bantu aku?"
tanyanya, suaranya serak.
Kurir muda itu mengangguk, matanya membelalak. Tiara kemudian
menyerahkan ponselnya. "Tolong rekamkan aku, ya," bisiknya. Kurir itu
mengangguk, tangannya gemetar.
Tiara kemudian kembali ke sofa, di mana pria suruhan Mas Bims sudah
menunggunya. Ia menungging di hadapan pria itu, dengan pantatnya
menghadap kamera. Kurir itu merekam dari belakang. Pria suruhan Mas Bims
menyeringai, lalu mendekati Tiara.
"Nah, Sayang," bisik pria itu, "Kita mulai permainannya, ya?"
Pria itu memegang pinggul Tiara, mengusap-usap pantatnya. "Ahhh... ahhh..." desah Tiara, suaranya serak.
Kurir muda itu hanya bisa merekam, matanya terpaku pada layar. Pria
suruhan Mas Bims kemudian memasukkan penisnya yang besar ke dalam vagina
Tiara. Tiara menjerit, "Ahhhh!" tubuhnya menegang, Aku bisa melihat
dengan jelas proses penis sebesar itu masuk ke vagina sempit istriku.
"Aku suka, Sayang," bisik pria itu, "Aku suka memek kamu yang sempit... ahhh.. Enak banget."
Kurir muda itu terlihat menelan ludah, tidak bisa mengalihkan
pandangannya. Ia terus merekam, seolah-olah ia adalah robot yang
diprogram untuk melakukan hal ini.
Video itu berlanjut dengan adegan-adegan yang semakin gila. Pria suruhan
Mas Bims terus menggenjot Tiara, dan Tiara terus mendesah, "Ahhh...
ahhh... lebih cepat, Sayang... ahhh..."
Pria suruhan Mas Bims kemudian menyuruh Tiara berbalik, dan ia mulai
menjilati vagina Tiara. "Ahhh... ahhh... enak, Sayang..." desah pria
itu. "Memek kamu Manis sekali ustadzah..."
Tiara menjerit, "Ahhh! Aku keluar! Ahhh!" tubuhnya kejang, pinggulnya
bergerak tak terkendali. Pria itu menyeringai, lalu menyuruh Tiara untuk
menghisap penisnya.
"Aku mau keluar, Sayang," bisik pria itu. "Aku mau kamu telan spermaku... ahhh..."
Tiara mengangguk, lalu ia mulai mengulum penis pria itu. Tidak lama kemudian, pria itu menjerit, "Ahhh! Aku keluar!"
Ia menumpahkan spermanya di dalam mulut Tiara. Tiara menelannya, lalu menatap pria itu dengan mata kosong.
Video itu berakhir dengan pria suruhan Mas Bims menepuk bahu kurir muda
itu. "Kamu mau ikut main, Nak?" bisiknya. "Dia sangat enak..."
Aku menatap layar ponselku, dan video itu berhenti. Sebuah fakta baru
yang terasa seperti pukulan, menghantamku. Bukan hanya aku yang
mengendalikan Tiara, tapi juga Mas Bims. Video ini, yang seharusnya
menjadi tontonan pribadiku, juga dikirimkan kepadanya. Bahkan Tiara
menyebut nama Mas Bims duluan daripada namaku. Gila. Sungguh gila..
Aku memutar video kedua, yang berdurasi 4 menit. Perasaanku campur aduk
antara amarah dan hasrat. Kali ini, sudut pandang perekaman berubah.
Video ini direkam pria suruhan Mas Bims, menunjukkan Tiara menungging di
sofa dengan pantat yang sangat menggoda. Aku bisa melihat pantatnya
yang besar dan mulus, serta pinggulnya yang bergoyang-goyang.
Di belakangnya, kurir muda itu menggenjotnya dari belakang. Aku bisa
melihat penis kurir itu yang tidak terlalu besar, bahkan lebih besar
penisku, penis itu masuk ke dalam vagina Tiara yang basah. Gerakannya
cepat dan brutal.
"Ahhh... ahhh... lebih cepat pak..." desah Tiara, suaranya serak. "Aku suka... Ahhh..."
Kurir itu menyeringai, "Enak kan, Kak? Memek kamu sempit banget kak Ahhh..."
Tiba-tiba, kamera bergeser. Tiara terlihat menunduk, dan aku melihatnya
mengulum penis pria suruhan Mas Bims yang besar. Ia melakukannya dengan
gerakan yang profesional, seolah-olah ia sudah terbiasa. Tangannya yang
bebas meremas payudaranya sendiri.
"Ahhh... ahhh... iya... begitu, Sayang..." desah pria itu, suaranya
serak. "Hisap yang kencang... hisap sampai dia keluar... ahhh..."
Tiara tidak menjawab. Ia hanya terus mengulum, mengikuti setiap irama yang diberikan pria itu.
"Kamu mau keluar ustadzah?" bisik pria itu. "Tahan, ya... Aku akan buat kamu keluar bersamaan dengan kurir itu..."
Vidio berhenti, Aku menelan ludah, menahan napas. Aku tidak bisa
mengalihkan pandanganku. Gairah, kecemburuan, dan amarah bercampur
menjadi satu, membuatku gila. Aku tahu, permainan ini belum berakhir.
Dan aku tidak peduli seberapa jauh ia akan melangkah. Aku menyukai ini.
Aku membuka video ketiga, yang berdurasi 15 menit, video paling panjang.
Jantungku berdebar kencang, dan tanganku gemetar. Video itu direkam
oleh pria suruhan Mas Bims, menunjukkan Tiara yang sudah tidak memakai
gamisnya. Ia duduk di pangkuan kurir muda itu, menghadap ke arah pria
itu.
Tiara mulai menggoyangkan pinggulnya di atas penis kurir itu. "Ahhh... ahhh... enak Pak..." desah Tiara, suaranya serak.
Kurir itu membalas dengan desahan, sambil mengulum payudara Tiara.
"Ahhh... ahhh... aku mau keluar kak Ahh.. aku gak kuat lagi, memek kakak
enak banget Ahhh..." desah kurir itu.
"Keluar di mana, Kak?" tanya kurir, suaranya parau.
"Di... di dalam aja, Pak..." jawab Tiara.
Tiara mengangguk, terus menggenjotnya, dan tidak lama kemudian Kurir itu menjerit, "Ahhh! Kak.. Aku keluar!"
Ia menumpahkan spermanya di dalam vagina Tiara. Tiara mendesah, kenikmatan. "Ahhh... ahhh..."
Setelah itu, Tiara bangkit dari pangkuan kurir itu. Ia berjalan ke arah
perekam, pria suruhan Mas Bims. "Pak Budi," bisik Tiara, "Aku belum
keluar... Masukin penis besar Pak Budi, ya..."
Aku terkejut. "Pak Budi?" batinku. Aku jadi tahu nama pria itu.
Aku melihat Tiara menjilati penis Pak Budi. Ia melakukannya dengan
gerakan yang profesional, seolah-olah ia sudah terbiasa. Pak Budi
mendesah, "Ahhh... ahhh... enak, Sayang... hisap yang kencang..."
Tiara mengangguk, lalu ia mulai menghisap penis Pak Budi. "Ahhh...
ahhh..." desah Tiara, suaranya serak. "Ini... nikmat... Ahh..."
Pak Budi kemudian menyuruh Tiara berdiri, dan dengan gerakan yang tak
terbantahkan, ia mendorongnya hingga membungkuk di hadapan kurir yang
masih duduk lemas di sofa. Tiara menurut, tubuhnya gemetar, dan ia
menunduk, Pak Budi menyeringai, lalu memposisikan penisnya yang besar
dan tegang di belakang Tiara. Ia mengangkat sedikit pinggul Tiara, lalu
memposisikan penis besarnya pas di depan vagina tiara dan kemudian
langsung mendorongnya dengan kuat, memasukkan penisnya ke dalam vagina
istriku.
"Ahhh... ahhh... enak banget Ustadzah..." desah Pak Budi, suaranya serak. "Memekmu selalu sempit banget... ahhh..."
Tiara menjerit, "Ahhhh!" tubuhnya menegang, lalu ia mendesah, "Enak... ahhh... lebih cepat, Pak... aku suka..."
Pak Budi terus menggenjotnya, gerakannya semakin cepat dan brutal. "Aku
suka, Sayang," bisiknya, "Aku suka kamu yang binal gini... Ahhh..."
"Ahhh iyahh. Pak..." desah Tiara. "Aku mau keluar... ahhh..."
Mereka berdua mendesah, suara mereka bercampur menjadi satu, menciptakan
simfoni gairah yang mengerikan. Tiara menjerit, "Ahhhh!.. Aku Keluarr..
Ahh!!.." tubuhnya kejang, pinggulnya bergerak tak terkendali. Ia
terengah-engah, lemas, lalu ambruk di lantai. Pak Budi menyeringai puas,
lalu mencabut penisnya.
"Enak kan, Sayang?" bisiknya. "Aku tahu kamu suka..."
Pak Budi kemudian mengocok penisnya di muka Tiara yang masih tertutup
cadar, menampar-namparkannya di wajah istriku. Tiara memejamkan mata.
Kurir itu kemudian berdiri, dan ia pun ikut mengocok penisnya yang
kembali tegang di depan muka Tiara. Tiara membuka matanya, dan dengan
gerakan gemetar, ia memegang kedua penis itu. Ia mengocoknya secara
bersamaan.
"Ahh... ahhh... lebih kencang ustadzah..." desah Pak Budi.
Kurir itu menyeringai, "Kak... aku mau lihat wajah Kakak... Buka cadarnya, Kak..."
Tiara menggeleng,. "Tidak... aku tidak mau..." bisiknya.
"Ayolah Kak..." bujuk kurir itu. "Aku hanya mau lihat sebentar... Aku janji..."
Tiara tetap menggeleng. Pak Budi kemudian menepuk bahu Tiara. "Kasih
aja, Sayang... Gak apa-apa kok," bisiknya. "Dia sudah bantu kita... Kamu
juga harus kasih dia hadiah, kan?"
Tiara terdiam, menatap Pak Budi dengan mata yang penuh kebingungan, tapi
juga penuh pengakuan. Ia menelan ludah, lalu dengan gerakan gemetar, ia
membuka cadarnya. Wajahnya yang cantik, yang selama ini hanya bisa
kulihat, kini terpampang jelas di hadapan dua pria itu. Aku menelan
ludah, gairah dan amarah bercampur menjadi satu, membuatku gila.
"Wah, Kakak cantik banget!" puji kurir itu, matanya membelalak takjub.
"Aku beruntung banget bisa lihat wajah Kakak langsung, tanpa cadar."
"Ini belum apa-apa, Dek," ucap Pak Budi, menyeringai. Ia kemudian meraih
jilbab Tiara, dan dengan satu sentakan, melepaskannya. Rambut hitam
Tiara yang panjang dan indah terurai, membuat penampilannya semakin
cantik memikat. Kurir itu kembali memuji kecantikan istriku, "Astaga,
Kakak... Kakak kayak bidadari.. Cantik banget. Sempurnaa.."
Kini, Tiara berdiri telanjang bulat di depan mereka berdua. Tanpa
jilbab, tanpa cadar, hanya tubuhnya yang indah. Pak Budi kemudian
menyuruh Tiara untuk berlutut di antara mereka. Tiara menurut, dan ia
mulai mengulum penis mereka berdua secara bergantian.
"Ahhh... ahhh... enak, Sayang..." desah Pak Budi. "Terus... hisap yang kencang..."
Tiara terus mengulum, mengikuti setiap irama yang diberikan. Kurir itu
pun mendesah, "Ahhh... ahhh... lebih cepat, Kak... aku suka..."
Mereka berdua mendesah, suara mereka bercampur menjadi satu, menciptakan
simfoni gairah yang mengerikan. Tiara menjerit, "Ahhh! Ahh!" tubuhnya
menegang, lalu ia mendesah, "Enak... ahhh.. Pak... aku suka penis kalian
Ahh..."
Kurir itu menyeringai, "Ahhh... aku keluarrr!" Ia menumpahkan spermanya
di muka Tiara. Tiara memejamkan mata, wajahnya penuh dengan sperma kurir
itu.
Pak Budi tertawa puas, "Sekarang giliranku ustadzah..." Ia mengocok
penisnya, lalu menumpahkan spermanya di muka Tiara. "Aku suka, Sayang...
Aku suka kamu yang nakal... Ahhh... aku suka kamu yang binal..."
Adegan itu berakhir dengan Pak Budi meratakan spermanya di muka Tiara.
Ia menyeringai puas, sementara Tiara memejamkan mata, wajahnya penuh
dengan sperma. Video berhenti.
Aku mematikan ponselku, membiarkan pikiranku memproses semua yang
kulihat. Aku memikirkan semua kejadian itu, dari kecurigaanku yang tak
berdasar, sampai kini aku menjadi sutradara dari film porno yang
diperankan oleh istriku sendiri. Aku merasa jijik, tapi di saat yang
sama, ada sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku menyukai
ini. Aku menyukai bagaimana aku bisa mengendalikan Tiara, bagaimana ia
menuruti setiap keinginanku, bahkan saat aku tidak ada di sisinya.
Aku meraih ponselku lagi, ingin bertanya pada Tiara. Aku ingin tahu, apa
yang ia rasakan. Aku ingin tahu, apakah ia benar-benar menikmati semua
itu.
Aku mengetik pesan, jemariku gemetar.
"Dek," ketikku. "Sudah selesai permainannya?"
Tak lama, balasan masuk. "Sudah, Mas. Maaf, Adek capek banget."
"Capek kenapa?" tanyaku. "Apa yang terjadi?"
"Adek... Adek nggak tahu harus cerita apa," jawabnya. "Adek merasa... Adek merasa kotor."
"Kenapa merasa kotor, Dek?" tanyaku. "Apa yang terjadi? Apa kamu tidak menikmati?"
Ada jeda lama. Aku menunggu, menahan napas. "Adek... Adek merasa bersalah, Mas. Adek merasa berdosa..."
"Berdosa kenapa?" desakku. "Apa kamu tidak suka, Dek?"
"Adek... Adek nggak bisa bohong, Mas," jawabnya. "Adek... Adek suka. Tapi... tapi Adek takut. Adek takut Mas marah..."
Aku tersenyum, lalu mengetik balasan. "Mas tidak marah, Sayang. Mas
sudah bilang, Mas suka. Sekarang, jawab pertanyaan Mas dengan jujur. Apa
kamu keenakan?"
Tiara tidak menjawab. Aku tahu, ia sedang berpikir. Ia sedang berjuang melawan perasaannya.
"Jawab, Dek," desakku lagi. "Jawab jujur. Mas mau tahu."
"Iya, Mas," jawabnya. "Adek... Adek keenakan. Adek... Adek suka. Tapi... tapi Adek nggak mau Mas lihat Adek seperti itu."
"Kenapa?" tanyaku. "Kenapa kamu tidak mau Mas lihat?"
"Adek... Adek malu, Mas," jawabnya. "Adek malu kalau Mas lihat Adek kayak gitu."
Aku tersenyum lagi. Aku tahu, ia sudah sepenuhnya berada dalam
kendaliku. Ia malu, tapi ia juga menikmati. Ia merasa berdosa, tapi ia
juga merasa bebas.
"Jangan malu, Sayang," ketikku. "Adek sangat cantik. Adek sangat
memikat. Mas suka lihat Adek kayak gitu. Mas suka lihat Adek jadi nakal.
Sekarang, jawab pertanyaan Mas yang terakhir. Apa kamu sudah puas?"
"Adek puas, Mas," jawabnya.
Aku tersenyum. "Bagus kalau Adek puas," ketikku. "Oh ya, semalam Pak
Budi nginap di rumah, kan? Malam ini dia nginap lagi enggak?"
"Enggak, Mas. Dia pulang," jawabnya singkat.
"Yaudah, Adek istirahat yaa. Love you Sayang."
Aku menutup telepon, senyum puas terukir di wajahku. Aku tahu, permainan
ini akan terus berlanjut. Dan aku tidak sabar untuk melihat apa yang
akan terjadi selanjutnya.
Pagi harinya, aku bangun seperti biasa, mandi, sarapan dan langsung
pergi ke kantor. Tidak lama setelah aku sampai di ruangan, Evelyn masuk
membawakan secangkir kopi.
"Gimana, Evelyn, kamu sudah bawa obatnya?" tanyaku.
"Ini, Pak," jawabnya sambil meletakkan tablet di mejaku. "Satu tabletnya
Rp1,5 juta. Ini obat yang sangat bagus, tapi kalau terlalu sering
diminum bisa memengaruhi jantung."
"Yahh," keluhku. "Enggak ada solusi lain?"
"Ada, Pak, tapi harganya jauh lebih mahal," balas Evelyn.
"Berapa?" tanyaku, penasaran.
"Ada susuk kembang kantil, Pak," jelasnya. "Ini tidak hanya membuat
Bapak tahan lama di ranjang, tapi juga bisa memikat wanita dan
mempermudah Bapak punya anak. Saya tahu Bapak belum punya anak, kan?"
Aku terdiam, memikirkan perkataannya. Ia benar. Aku dan Tiara sudah lama menikah, tapi belum juga dikaruniai anak.
"Harganya Rp150 juta," lanjut Evelyn. "Tidak ada efek sampingnya, tapi ada pantangan dan ritual yang harus Bapak lakukan."
Aku terdiam, menimbang-nimbang. Harga itu memang sangat mahal, tapi
janji yang ditawarkan, tahan lama, memikat wanita, dan punya anak,
terdengar sangat menggoda.
Bersambungg...
