𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟒𝟔 𝐏𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐀𝐥𝐚𝐬 𝐏𝐮𝐫𝐰𝐨

 "Aku mau," jawabku, tanpa ragu. Hati kecilku berbisik bahwa ini adalah jalan yang salah, tapi hasrat dan keinginanku untuk memuaskan Tiara serta mendapatkan keturunan jauh lebih kuat.


Evelyn tersenyum, matanya berbinar. "Baik, Pak. Pantangannya tidak terlalu sulit. Bapak tidak boleh bersetubuh dengan istri orang lain. Tidak boleh melayani istri orang lain, baik itu hanya sentuhan atau hal lain, sama sekali tidak boleh," jelas Evelyn, suaranya terdengar serius. "Dan untuk ritualnya, Bapak harus bersetubuh dengan perawan di Laut Selatan. Ritual ini harus Bapak lakukan di malam Jumat, saat bulan purnama."

"Seks dengan perawan?" tanyaku.

"Iya, Pak. Perawan, karena nanti darah perawan nya akan dibuat menyatu dan membangkitkan energi di dalam susuk nya," jelasnya.

"Terus, susuknya kapan dimasukkan?" tanyaku.

"Setelah ritual selesai, Pak. Setelah Bapak bersetubuh dengan perawan di Laut Selatan, nanti susuknya akan saya masukkan di kelamin Bapak. Dengan begitu, Bapak akan menjadi pria yang paling kuat di ranjang, dan istri Bapak akan sangat memuja Bapak."

"Susuknya dari mana, Evelyn?" tanyaku, penasaran.

"Ada dukun kenalanku, Pak. Dia yang bisa membuat susuk ini. Dia sudah memberitahu saya semua syarat dan pantangannya," jawab Evelyn, meyakinkanku.

Aku mengangguk, merasa sangat yakin. Aku akan melakukan semua yang ia suruh. Aku akan menjadi pria yang bisa memuaskan Tiara, dan aku akan mendapatkan anak yang selama ini aku inginkan.

"Lalu kapan kita bisa melakukan ritual itu, Evelyn?" tanyaku, tidak sabar.

Evelyn tersenyum, lalu menatapku dengan mata yang berbinar. "Bapak tidak perlu khawatir soal itu. Saya sudah ada kenalan yang bisa membantu kita mencari wanita perawan. Dan soal waktu, ritual ini harus dilakukan pada malam Jumat, saat bulan purnama. Jadi, kita harus menunggu waktu yang pas, malam jumat minggu ini bapak bisa?" jawabnya, suaranya terdengar lembut dan meyakinkan.

"Bisaa.. " jawabku dengan yakin.

"Bapak hanya perlu fokus pada diri Bapak. Saya akan kasih tau Bapak kalau semua sudah siap," tambahnya, lalu ia bangkit dari kursi dan berjalan keluar ruangan, meninggalkan aku dengan pikiran yang kalut, namun penuh harapan.

Setelah Evelyn pergi, aku kembali duduk di kursi, mencoba memproses semua yang terjadi. Pikiranku kalut. Evelyn, susuk, perawan di Laut Selatan... Semua itu terdengar seperti fantasi gila, tapi aku tahu, aku sangat menginginkannya.

Aku ingin menjadi pria yang bisa memuaskan Tiara. Aku ingin memiliki kekuatan untuk mengendalikan permainan ini. Aku ingin menjadi pria yang bisa membuat Tiara, istriku, memujaku, bukan pria lain. Dan jika susuk itu bisa membantuku mendapatkan semua itu, aku tidak peduli dengan ritual atau pantangan yang harus kulakukan.

Setelah memikirkan itu semua aku jadi kangen istriku Tiara, ku ambil hp ku, lalu ku chat istriku.

"Assalamualaikum, Sayang," ketikku, jemariku berdebar tak karuan.

"Waalaikumsalam, Mas," balasnya cepat.

"Gimana, Sayang, hari ini? Kegiatan kamu mau ngapain?" tanyaku, mencoba terdengar santai, padahal pikiranku dipenuhi oleh bayangan-bayangan liar yang menghantuiku.

"Tadi habis beli sayuran, Mas, lalu ke apotek. Beli pil anti hamil. Sekarang lagi nge-packing pesanan pembeli," jawabnya.

Jantungku mencelos membaca pesannya. Pil anti hamil? Jadi ia benar-benar memikirkan kemungkinan itu? Kemungkinan ia hamil anak pria lain?

"Wihh, di-entot penjual sayur enggak, Dek, tadi?" tanyaku, sebuah godaan yang tak bisa kutahan.

"Enggak, Mas. Dia minta, tapi Adek enggak sempat izin ke Mas, kan? Jadi Adek enggak kasih, Adek cuma ngegodain dia aja, hehe." jawabnya.

Ada nada penyesalan dalam balasannya. Aku tersenyum, senyum penuh kemenangan. Ia tidak menolak karena tidak mau, tetapi karena ia membutuhkan izinku. Ia telah sepenuhnya masuk ke dalam kendaliku.

"Oke, Dek. Nanti live enggak?" tanyaku.

"Enggak tahu, Mas. Menurut Mas, Adek enaknya live apa enggak?"

"adek coba live aja. biar gak kesepian. sekalian godain viewers2 adek. hehe"

Pesan dari Tiara masuk. "Oke, Mas. Adek live ya," balasnya.

Aku tersenyum puas. "Iya, Dek. Live saja. Anggap saja nanti mas melihat Adek," ketikku, suaraku serak, penuh hasrat yang tidak bisa kuungkapkan. "Live yang lebih berani dari biasanya, ya. Live yang bisa membuat Adek bisa puas."

"Maksud Mas?" balasnya, terdengar bingung. "Live yang gimana?"

"Pakai gamis ketat yang Adek punya, ya," balasku. "Dan pakai bra merah itu. Mas mau lihat Adek goyang, remas payudara sendiri. Lakukan semuanya yang Adek mau. Mas suka Adek yang nakal."

Tiara terdiam. Aku bisa membayangkan wajahnya yang terkejut di seberang sana. Ia pasti sedang memproses permintaanku, memikirkan apakah aku marah atau serius.

"Mas... Mas enggak marah?" tanyanya.

"Enggak, Sayang. Mas tidak marah," jawabku, suaraku serak, penuh kemenangan. "Mas justru suka lihat Adek yang nakal. Adek harus berani.."

Aku menunggu balasannya, jantungku berdebar tak karuan. Ia pasti sedang bimbang. Antara rasa takut dan hasrat yang tak bisa ia bendung.

"Ya sudah, Mas," balasnya, suaranya parau, penuh pengakuan. "Adek akan live. Tapi janji ya, Mas, jangan marah kalau Adek nakal."

"Mas janji," jawabku.

Setelah percakapanku dengan Tiara, aku kembali bekerja, mencoba memusatkan pikiranku pada tumpukan dokumen di depanku. Namun, bayangan Tiara yang akan melakukan siaran langsung dengan berani terus menghantuiku. Aku tidak sabar untuk melihat sejauh mana ia akan melangkah, sejauh mana ia akan menuruti setiap fantasiku. Sepanjang hari itu, aku sengaja tidak membuka ponsel, membiarkan notifikasi menumpuk. Aku ingin menikmati ketegangan ini, penantian ini, dan tontonan itu nanti, di rumah dinas.

Sore harinya, aku tiba di depan pintu rumah dinas. Langkahku terasa ringan, dipenuhi antusiasme. Aku membuka pintu, menjatuhkan tas, dan langsung menuju ke kamar. Hal pertama yang kuambil bukan pakaian ganti, melainkan ponselku.

Aku langsung membuka siaran langsungnya, Jantungku seolah berhenti berdetak saat aku membuka siaran langsungnya. Pemandangan yang kulihat membuatku terkesiap. Tiara berada di depan kamera, mengenakan gamis ketat berwarna merah yang mencetak lekuk tubuhnya. Di dadanya, aku bisa melihat tonjolan payudara yang besar dan kencang, terbungkus bra merah yang ia kenakan di balik gamisnya. Kancing gamisnya sudah terbuka sebagian, memperlihatkan bra merahnya dan belahan payudaranya yang indah dan mulus. Posisinya seperti menungging, tapi pantatnya berada di samping, di luar jangkauan kamera. Badannya perlahan tersentak ke depan secara teratur, seolah-olah ada seseorang yang sedang menggenjotnya dari belakang.

Aku mengepalkan tanganku, namun bukan karena amarah, melainkan karena hasrat yang memuncak. Aku menyukai pemandangan ini. Aku penasaran siapa yang menggenjotnya, dan rasa cemburu yang seharusnya ada, kini bercampur dengan gairah yang aneh.

Tiba-tiba, kamera tersenggol, bergeser sedikit. Sebuah tangan kekar, dengan urat menonjol, muncul di layar. Tangan itu memegang pinggul Tiara, mengendalikan setiap gerakannya. Aku menyadari, mungkin itu tangan Pak Budi, pria yang disewa Mas Bims untuk memuaskan istriku. Di layar, Tiara mendongakkan kepala, wajahnya memancarkan kenikmatan yang luar biasa. Matanya terpejam, dan bibirnya terbuka, mengeluarkan desahan panjang yang terdengar serak di speaker ponselku.

"Ahh... ahhh... lebih cepat, Pak..." rintihnya, suaranya parau. "Aku suka... ahhh..."

Pria itu tertawa pelan. "Ustadzah, kamu enak banget," bisiknya, suaranya serak. Ia terus menggenjotnya, gerakannya semakin cepat dan brutal.

Aku melirik kolom komentar yang membanjiri layar. Komentar-komentar nakal bermunculan, membuatku semakin terangsang.

"Ustadzah, goyang terus! Aku suka liat goyanganmu!"

"Enak kan Ustadzah, punya dia lebih besar dari suamimu kan?"

"Buka gamisnya, Ustadzah! Kita mau liat semuanya!"

"Memekmu pasti sempit banget Ustadzah. Aku mau juga dong!"

"Aku suka Ustadzah yang kayak gini, binal!"

Aku tersenyum puas. Istriku yang selama ini polos dan alim, kini menjadi objek fantasi ribuan pria di dunia maya. Aku menyukai permainan ini, aku menyukai fantasi gila ini. Aku menutup live streaming-nya, lalu duduk di sofa, membiarkan pikiranku memproses semua yang terjadi. Tiara, Pak Budi, dan ribuan penonton di luar sana, semuanya menari dalam irama yang kubuat.

Aku mematikan ponselku, membiarkan layar menjadi gelap. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam bayangan-bayangan liar yang menghantuiku. Lebih baik aku tidur saja, aku tidak mau mengganggu kesenangan istriku.

Besok adalah hari Kamis. Pikiranku langsung tertuju pada Evelyn, pada janji yang ia berikan. Mungkin malamnya ia akan mengajakku ke pantai selatan untuk ritual dan memasang susuk. Aku tidak sabar. Aku ingin menjadi pria yang bisa memuaskan Tiara, yang bisa mengendalikan permainan ini. Aku ingin menjadi pria yang bisa membuat Tiara, istriku, memujaku, bukan pria lain.

Pagi hari, aku bangun dengan perasaan campur aduk. Aku mandi, sarapan, dan langsung berangkat ke kantor. Seperti biasa, tak lama setelah aku sampai di ruangan, Evelyn masuk membawa secangkir kopi.

"Pagi, Pak Dimas," sapanya, senyumnya begitu manis.

"Pagi, Evelyn," balasku. "Gimana? Jadi kapan ritualnya? Aku sudah tidak sabar. Minggu aku sudah pulang ke rumah."

Evelyn tersenyum. "Malam ini kata dukunnya bisa, Pak. Malam ini ya, Pak. Nanti setelah kerja kita langsung ke sana."

"Di mana tempatnya, Evelyn?" tanyaku.

"Di Banyuwangi, Pak. Jadi nanti kita melakukan ritual di Pantai Selatan Banyuwangi. Di Alas Purwo, Pak."

Aku mendengar itu dan langsung bergidik ngeri. Aku paham mitos-mitos yang ada di sana, tentang tempat itu yang dikenal angker dan sakral. Ada rasa takut yang menyergap, tapi juga dorongan kuat untuk melanjutkan semua ini.

"Aman kah, Evelyn?" tanyaku, mencoba menutupi kegugupanku.

"Aman kok, Pak, tenang saja. Saya sudah dapat wanita perawannya juga kok. Dia sudah di lokasi tinggal nunggu Bapak aja."

Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Wanita perawan. Darah perawan. Semua itu terdengar begitu gila, tapi janji yang ditawarkan, tahan lama, memikat wanita, dan punya anak, terdengar sangat menggoda. Aku mengangguk, sebuah keputusan yang aku tahu akan mengubah hidupku.

"Oke, Evelyn. Nanti sore setelah kerja kita langsung ke sana, ya."

Evelyn tersenyum. "Oke, Pak," jawabnya, lalu ia keluar dari ruangan, meninggalkan aku dengan pikiran yang kalut, namun penuh harapan. Aku tidak sabar menunggu malam tiba.

Aku mencoba fokus pada pekerjaanku, tapi pikiranku terus terdistraksi. Aku tiba-tiba memikirkan Tiara dan live streaming-nya kemarin sore. Aku menghela napas, mencoba menenangkan diri, tapi sia-sia.

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Tiara masuk.

"Sayang, aku izin mau main sama penjual sayur, boleh?"

Jantungku berdebar kencang membaca pesannya. Aku tersenyum tipis, sebuah senyum penuh kemenangan. Ia telah sepenuhnya berada di bawah kendaliku. Ia meminta izin kepadaku. Aku mengetik balasan, jemariku gemetar, tapi juga penuh hasrat.

"Silakan, Sayang. Lanjutkan, ya. Tapi ingat, kamu harus rekam semuanya, dan kirimkan videonya ke aku. Aku mau tahu, apakah kamu benar-benar menikmati, dan aku mau lihat ekspresi keenakanmu. Oke?"

Aku menunggu balasannya, menahan napas. Aku tahu, aku sedang melangkah lebih jauh ke dalam kegilaan ini. Tapi, aku tidak peduli. Aku menyukai permainannya. Aku menyukai bagaimana aku bisa mengendalikan Tiara, bagaimana ia menuruti setiap keinginanku.

"Iya, Mas. Aku akan rekam semuanya," balasnya. "Tapi janji ya, Mas, jangan marah kalau aku nakal kayak gini."

"Mas janji," jawabku penuh kemenangan.

Aku menutup ponselku, senyum puas terukir di wajahku. Rencanaku berhasil. Tiara sepenuhnya jatuh ke dalam perangkap yang kubuat. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam bayangan-bayangan liar yang menghantuiku. Permainan ini baru saja mencapai level yang jauh lebih berbahaya, dan aku, sebagai dalangnya, sangat menikmati setiap detiknya.

Aku bergegas membuka aplikasi CCTV. Jantungku berdebar tak karuan, penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Namun, pandanganku terhalang. Tiara berada di depan rumah, di area gerobak penjual sayur. Aku hanya bisa melihat siluet kecilnya di balik gorden kaca depan. Siluet itu bergerak-gerak, membuatku semakin penasaran.

"Ahh, sial," gumamku. "Aku tidak bisa melihat dengan jelas."

Aku menghela napas, lalu mematikan aplikasi itu. Aku tidak mau menghabiskan waktu dengan melihat sesuatu yang tidak jelas. Lebih baik aku menunggu video dari istriku. Aku yakin, ia akan merekam semuanya untukku, dan aku akan mendapatkan tontonan yang jauh lebih memuaskan.

Aku menyandarkan punggungku ke kursi, memejamkan mata, membiarkan pikiranku hanyut dalam bayangan-bayangan liar. Aku membayangkan Tiara, istriku yang alim, beraksi di depan gerobak penjual sayur. Sebuah senyum tipis terukir di bibirku. Aku tidak sabar. Aku sangat menyukai permainan ini.

Aku kembali bekerja, namun pikiranku melayang. Bukan pada pekerjaan, melainkan pada video yang akan dikirimkan Tiara. Aku membayangkan setiap adegan, setiap desahan, setiap rintihan yang akan kulihat. Penantian ini terasa begitu memuaskan.

Sore harinya, Evelyn masuk ke ruanganku. "Sudah siap, Pak?" tanyanya, senyumnya penuh arti.

"Sudah," jawabku, nadaku dipenuhi antisipasi. Aku mengambil tas dan kunci mobil, lalu mengajaknya keluar.

Di mobil, aku menyetir, sementara Evelyn duduk di sampingku. Perjalanan menuju Banyuwangi terasa jauh, namun rasa penasaranku mengalahkan rasa lelah. Aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

"Evelyn," kataku, "Kamu kok cepat sekali dapat cewek perawan untuk ritualnya?"

"Dari teman, Pak," jawab Evelyn, suaranya terdengar santai, seolah hal ini adalah sesuatu yang biasa. "Dia mami gitu. Aku minta carikan cewek perawan, Aku bilang uang tidak masalah."

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku tidak tahu harus merasa apa. Antara terkejut, jijik, dan hasrat yang tak bisa kutolak. Evelyn adalah wanita yang cerdas, yang bisa mendapatkan apa pun yang ia mau.

"Eh, kebetulan ada," lanjutnya, senyumnya penuh arti. "Ada dua, satu untuk ritual Bapak, satu lagi bonus buat Bapak, kalau Bapak mau."

Aku terkesiap. "Beneran? Wah, beruntung sekali ya aku," ujarku, nadaku penuh kegembiraan. Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku. Aku akan mendapatkan dua wanita, dua perawan. Semua ini terasa seperti mimpi. Aku menatap Evelyn, dan ia membalas tatapanku, senyumnya semakin lebar.

"Tentu saja, Pak," bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Saya kan sudah janji, akan membuat Bapak jadi pria yang paling dominan."

Aku mengangguk, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini. Perjalanan yang terasa panjang, kini terasa singkat. Aku tidak sabar untuk tiba di sana. Aku tidak sabar untuk memulai ritual, dan aku tidak sabar untuk melihat bagaimana semua ini akan mengubah hidupku.

Kami melaju membelah malam. Jalanan yang sepi dan gelap tidak membuatku takut, justru sebaliknya, aku merasa sangat bersemangat. Pikiranku dipenuhi oleh bayangan-bayangan liar tentang apa yang akan terjadi di Alas Purwo, tentang ritual yang akan kulakukan, dan tentang bagaimana semua ini akan membantuku mengendalikan Tiara, istriku.

Aku tahu, aku sudah sepenuhnya dikendalikan oleh nafsu, dan aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin kenikmatan itu terus berlanjut. Aku hanya ingin menjadi pria yang bisa membuat Tiara, istriku, memujaku, bukan pria lain. Dan jika ritual ini bisa membantuku mendapatkan semua itu, aku tidak peduli dengan konsekuensinya.

Perjalanan selama dua jam terasa singkat. Pikiranku terus-menerus dipenuhi bayangan Tiara, Evelyn, dan ritual gila yang akan kulakukan. Aku merasa sangat bersemangat.

Kami tiba di sebuah rumah kuno di hutan alas purwo yang terlihat sangat angker. Aku bergidik ngeri, tapi Evelyn menenangkanku. "Tenang, Pak, ini rumah dukunnya."

Kami berdua masuk. Bau dupa langsung menyambutku, membuatku mual. Evelyn memperkenalkan aku pada dukun itu. "Mbah, ini yang mau ritual, namanya Pak Dimas."

Dukun itu mengangguk, matanya menatapku lekat-lekat. "Oh, iya. Masuk, Pak Dimas."

"Di minum dulu," ucap dukun itu, menunjuk segelas air putih di meja ruang tamunya.

Aku mengambil gelas itu, dan meminumnya. Aku merasa aneh, tapi tidak peduli. Aku hanya ingin ritual ini selesai, dan aku bisa kembali ke rumah.

"Kita sambil nunggu dua cewek perawannya datang, ya, Pak. Harusnya sebentar lagi," ucap Evelyn, senyumnya penuh arti.

Aku mengangguk, lalu duduk di sofa. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak, tapi hasrat dan keinginanku untuk memuaskan Tiara serta mendapatkan keturunan jauh lebih kuat. Aku tidak peduli dengan ritual atau pantangan yang harus kulakukan. Aku hanya ingin menjadi pria yang bisa membuat Tiara, istriku, memujaku, bukan pria lain.

Aku menatap Evelyn. Ia duduk di sampingku, tangannya meraih tanganku, lalu mengelusnya lembut. "Tenang, Pak. Semuanya akan baik-baik saja."

Aku, Evelyn, dan Mbah Dukun duduk di ruang tamu, berbicara ringan sambil menunggu kedua gadis itu datang. Obrolan kami dipenuhi tawa, seolah-olah kami sedang menunggu teman lama, bukan dua wanita yang akan dijadikan objek ritual.

"Mbah sudah lama kenal sama Evelyn?" tanyaku, memecah keheningan.

"Iya, Pak Dimas. Sudah lama," jawab Mbah Dukun, "Evelyn ini murid saya yang paling pintar. Dia tahu banyak hal yang tidak diketahui orang lain."

Aku menatap Evelyn, dan ia tersenyum penuh arti. "Mbah terlalu memuji," ucapnya. "Saya cuma belajar dari yang terbaik."

Aku mengangguk, merasa semakin yakin dengan pilihanku. Evelyn adalah orang yang tepat untuk membantuku. Ia tahu banyak, dan ia tidak takut untuk melangkah lebih jauh.

"Apa yang akan terjadi setelah ini, Mbah?" tanyaku, nadaku dipenuhi antisipasi.

"Pak Dimas hanya perlu rileks," jawab Mbah Dukun. "Biarkan energinya bekerja. Susuk ini akan menyatu dengan darah perawan, dan setelah itu, Bapak akan menjadi pria yang paling kuat di ranjang."

Aku tersenyum, membayangkan Tiara yang akan memujaku, yang akan meminta lebih dariku. Aku membayangkan bagaimana aku akan mengendalikan permainan ini, dan bagaimana aku akan menjadi sutradaranya.

Tiba-tiba, suara mobil berhenti di depan rumah. Kami semua terdiam. Aku melihat ke arah jendela, dan jantungku berdebar kencang. Ada seorang wanita berusia sekitar 40-an yang menyetir, dan dua wanita muda berusia sekitar 20-an turun dari mobil. Mereka berjalan menuju rumah, langkah mereka terlihat ragu-ragu.

Evelyn bangkit, lalu menyambut mereka di depan pintu. "Mari, masuk," bisiknya. "Mbah sudah menunggu."

Mbah Dukun menyuruh mereka masuk. Aku menatap mereka, dan napasku tercekat. Mereka begitu muda, begitu polos, dan mereka akan menjadi bagian dari ritual gila ini.

Bersambungg...


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com