Mereka bertiga masuk. Wanita paruh baya itu tersenyum tipis, sementara kedua gadis muda di sampingnya menunduk, terlihat gugup. Evelyn menyambut mereka dengan senyum ramah. Kami semua saling bersalaman, lalu duduk di ruang tamu.
Aku mengamati kedua gadis itu dengan saksama. Salah satunya mengenakan jilbab, wajahnya cantik, walau tidak secantik Tiara. Gadis yang lain tidak memakai jilbab, dengan kulit putih dan paras cantik khas keturunan Tionghoa. Mereka berdua begitu polos, begitu rapuh. Aku merasa bergidik ngeri, namun hasratku jauh lebih kuat dari rasa takut.
Evelyn menatapku, senyumnya penuh arti. "Pak Dimas mau merawanin yang mana duluan?" candanya, dan Mbah Dukun serta wanita paruh baya yang membawa mereka tertawa.
Aku ikut tertawa, mencoba terdengar santai, padahal jantungku berdebar tak karuan. "Aku tidak tahu, hehe," jawabku.
Aku melihat kedua gadis itu menunduk, wajah mereka memerah. Mereka pasti merasa sangat malu. Aku tahu, mereka tidak di sini karena kemauan mereka sendiri. Mereka adalah korban, dan aku adalah pelakunya.
Tiba-tiba, Mbah Dukun memecah keheningan. "Sudah, jangan bercanda," ucapnya. "Kita harus segera memulai ritual."
Ia menatapku lekat-lekat. "Pak Dimas, kamu harus memilih. Ritual ini akan menentukan nasibmu, dan nasib kedua wanita ini. Pilihlah dengan hati-hati."
Aku menelan ludah. Pilihan yang sulit. Gadis berjilbab, yang mengingatkanku pada Tiara, atau gadis keturunan Tionghoa yang cantik. Aku tidak tahu harus memilih yang mana. Aku hanya ingin ritual ini selesai, dan aku bisa kembali ke rumah.
Aku menatap Evelyn, dan ia mengangguk, memberiku isyarat untuk memilih. "Pilih saja, Pak," bisiknya, suaranya serak. "Pilih yang paling membuat Bapak bergairah."
"Emm, gini aja deh, Evelyn," kataku, mencoba terdengar tenang. "Lebih baik mereka perkenalan dulu, aku mau tahu nama dan umur mereka."
Evelyn tersenyum, senyum penuh kemenangan. Ia menoleh ke arah kedua gadis itu. "Perkenalkan diri kalian, ya," perintahnya. "Namamu siapa, dan usiamu berapa?"
Gadis berjilbab menunduk, lalu perlahan mengangkat kepalanya. Matanya terlihat gugup, namun ia mencoba untuk tersenyum. "Nama saya Bunga, Pak. Usia saya 20 tahun."
Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Namanya Bunga. Begitu indah, begitu polos. Wajahnya mengingatkanku pada Tiara, istriku, saat ia pertama kali aku nikahi.
Kemudian, giliran gadis keturunan Tionghoa. Ia menunduk, lalu mengangkat kepalanya. "Nama saya Mei Ling, Pak. Usia saya 21 tahun."
Aku mengangguk, lalu menatap Evelyn. "Aku... aku pilih Bunga aja, Evelyn," jawabku, suaraku serak, penuh pengakuan. "Aku ingin dia yang menjadi bagian dari ritual ini."
Evelyn tersenyum, senyum penuh kemenangan. "Pilihan yang bagus, Pak," bisiknya. "Mbah, Pak Dimas sudah memilih."
Mbah Dukun mengangguk, lalu ia menatap Bunga. "Bunga, kamu sudah siap?"
Bunga menunduk, lalu mengangguk pelan. Aku tahu, ia tidak siap. Tapi ia tidak bisa menolak. Ia telah menjadi bagian dari permainan gila ini, dan aku, sebagai dalangnya, akan memastikan ia akan memainkan perannya dengan sempurna.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Suasana semakin pekat oleh kegelapan, dan Mbah Dukun memberi isyarat agar kami bersiap. Langkah kami berlima, aku, Evelyn, Mbah Dukun, Bunga, dan Mei Ling, dan wanita paruh baya yang membawa mereka menembus lebatnya hutan, hanya ditemani cahaya senter yang menari-nari di antara pepohonan. Angin malam yang dingin berhembus, membuatku bergidik, bukan karena takut, melainkan karena antisipasi.
Kami tiba di sebuah goa yang gelap dan lembab, lokasinya tak jauh dari Pantai Selatan. Deburan ombak terdengar samar, menambah nuansa mistis pada malam itu. Mbah Dukun memimpin kami masuk, dan di dalam, aku melihat sebuah batu besar di tengah-tengah goa. Dupa yang ia nyalakan langsung memenuhi udara dengan aroma menyengat, membuatku mual.
"Pak Dimas dan Bunga, silakan ke tengah," perintah Mbah Dukun, suaranya serak. "Duduk bersila, berhadapan dengan Mbah."
Aku dan Bunga menurut. Aku menatap mata Bunga, dan ia menunduk, wajahnya memerah. Ia tampak ketakutan, namun tak bisa menolak. Evelyn, wanita paruh baya yang membawa mereka, dan Mei Ling duduk di belakang kami, menyaksikan semuanya.
Mbah Dukun mulai membaca mantra. Suaranya bergema di dalam goa, menciptakan suasana yang mencekam. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini. Fantasiku tentang Tiara yang binal, kini berpadu dengan kenyataan di hadapanku.
Suara Mbah Dukun yang serak memecah keheningan, menghentikan gumaman mantranya. Ia menatapku dan Bunga secara bergantian, matanya yang tua memancarkan sebuah perintah yang tak terbantahkan.
"Lepaskan semua pakaian kalian," perintahnya, suaranya pelan namun penuh otoritas. "Ritual ini butuh kesucian yang sejati. Kalian harus telanjang, tidak ada yang boleh disembunyikan."
Jantungku berdebar kencang. Aku menelan ludah, menahan napas. Aku tahu, aku tidak bisa menolak. Ini adalah bagian dari perjanjianku. Aku melirik Bunga, dan ia tampak membeku. Wajahnya yang semula memerah kini memucat pasi. Tangannya gemetar, dan ia menunduk, tidak berani menatapku.
"Ayolah, Bunga," bisik Evelyn, suaranya melembut, penuh bujukan. "Ini cuma sebentar, kok. Demi Bapak."
Bunga perlahan-lahan mengangkat tangannya. Jari-jarinya yang gemetar mulai melepaskan kancing-kancing pada bajunya. Ia melakukannya dengan gerakan lambat, seolah-olah setiap detik adalah penderitaan yang tak tertahankan.
Aku pun mengikuti. Satu per satu, kancing kemejaku terlepas. Aku menanggalkan celana dan pakaian dalamku, membiarkan tubuhku telanjang bulat di dalam goa yang dingin.
Ketika Bunga akhirnya melepaskan semua pakaiannya, napasku tercekat. Aku takjub dengan tubuhnya yang ternyata cantik dan seksi. Payudaranya yang tidak terlalu besar namun kencang, perutnya yang rata, dan paha mulusnya membuatku terdiam. Tubuhnya tidak kalah dengan Tiara, bahkan mungkin lebih sempurna.
Rasa kasihan bercampur dengan hasrat yang tak terbendung. Ia adalah seorang perawan yang lugu, namun di hadapanku kini, ia adalah objek dari ritual gila ini.
Aku dan Bunga kembali duduk bersila di hadapan Mbah Dukun. Namun, kali ini, kami berhadapan. Aku bisa melihat setiap inci tubuhnya yang telanjang, dari payudaranya yang kencang hingga paha mulusnya. Tubuh polosnya yang terpampang nyata membuat penisku seketika menegang. Aku berusaha mengalihkan pandangan, tapi sensasi itu terlalu kuat.
Bunga hanya menunduk, tidak berani menatapku. Wajahnya memerah, tubuhnya gemetar. Ia tampak begitu polos dan lugu, dan aku tahu, aku akan menjadi orang pertama yang akan menyentuhnya.
"Sekarang," ucap Mbah Dukun, suaranya serak. "Bunga, kamu rebahan."
Bunga menurut. Dengan gerakan lambat, ia merebahkan tubuhnya di atas batu besar yang dingin, membiarkan tubuhnya terbuka. Ia memejamkan mata, seolah-olah ingin melarikan diri dari kenyataan yang ada.
"Sekarang, Pak Dimas," perintah Mbah Dukun. "Lakukan. Segera lakukan penetrasi penis Bapak ke vagina perawan Bunga."
Aku menelan ludah. Jantungku berdebar tak karuan. Aku tahu, ini adalah bagian dari ritual. Ini adalah bagian dari perjanjianku. Aku tidak bisa kembali. Aku tidak bisa menolak.
Aku naik ke atas Bunga. Ia terkesiap, tubuhnya menegang. Aku menatapnya, dan di matanya, aku melihat ketakutan dan keputusasaan. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin kenikmatan itu. Aku hanya ingin menjadi pria yang dominan.
Aku menyeringai, lalu membuka kakinya hingga mengangkang sempurna. Aku memposisikan tubuhku di antara pahanya, lalu menggesekkan kepala penisku di vagina mungilnya. Aku memperhatikan vagina itu; sangat cantik dengan bulu-bulu halus yang rapi. Sensasi gesekan itu membuatku gila.
Setelah vaginanya basah, aku mencoba memasukkan penisku. Dengan sekali hentakan, aku mendorongnya, tapi meleset. "Ahh!" Bunga menjerit.
Aku menghela napas, merasa bersalah, tapi hasratku jauh lebih kuat. Aku menatap Evelyn, dan ia mengangguk, memberiku isyarat untuk melanjutkan.
"Sabar, Pak," bisik Evelyn. Ia kemudian mendekat, mengusap-usap rambut panjang Bunga. "Rileks, Bunga. Rileks."
Setelah Bunga tenang, aku kembali mencoba memasukkan penisku. Aku mendorongnya perlahan. Penisku masuk setengah, lalu aku menghentak sehingga masuk semua ke dalam vaginanya.
"Ahh!... sakit!" jerit Bunga, suaranya parau, dipenuhi rasa sakit yang bercampur dengan ketakutan. Aku bisa merasakan selaput daranya robek, dan darah mengalir. Sensasi itu begitu aneh, namun memabukkan. Aku merasakan kegilaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Aku tidak peduli dengan rasa sakitnya. Aku hanya ingin kenikmatan itu. Aku hanya ingin menjadi pria yang bisa membuat Tiara, istriku, memuja penisku.
Aku merasakan penisku tertanam penuh di dalam vagina Bunga yang sempit. Bunga menjerit pelan, suaranya parau, dipenuhi rasa sakit yang bercampur dengan ketakutan. Aku tidak peduli dengan rasa sakitnya. Aku hanya ingin kenikmatan itu. Aku hanya ingin menjadi pria yang bisa membuat Tiara, istriku, memujaku, bukan pria lain.
Tiba-tiba, Mbah Dukun menyela. "Tarik dulu penismu pak," perintahnya, suaranya serak.
Aku menurut. Dengan gerakan perlahan, aku mencabut penisku dari vagina Bunga. Aku melihat darah segar mengalir dari vaginanya, membuatku bergidik ngeri, namun juga bergairah. Bunga meringis kesakitan, matanya terpejam.
Mbah Dukun kemudian mengambil sedikit darah perawan dari vagina Bunga dengan tangannya. Ia mengusapnya di tangan, lalu meremasnya, seolah-olah ia sedang membuat sebuah ramuan. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan, tapi aku tahu, ini adalah bagian dari ritual.
Setelah itu, Mbah Dukun menatapku. "Sekarang, lanjutkan pak," perintahnya. "Biarkan darah itu menyatu dengan energimu."
Aku mengangguk, lalu kembali memposisikan penisku. Aku mendorongnya masuk ke dalam vagina Bunga. Bunga menjerit, suaranya parau, dipenuhi rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan yang memabukkan. Aku mulai menggenjotnya, gerakannya semakin cepat, semakin dalam.
"Ahh... ahhh... lebih cepat pak," desah Bunga, suaranya serak. "Enak... ahhh..."
Kami berdua mendesah, suara kami bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni gairah yang mengerikan. Aku tahu, aku sudah sepenuhnya dikendalikan oleh nafsu
Aku terus menggenjot Bunga, merasakan setiap sentakan, setiap dorongan. Desahanku dan desahannya menyatu, menciptakan simfoni gairah yang mengerikan. Aku tahu, aku sudah sepenuhnya dikendalikan oleh nafsu, dan aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin kenikmatan itu terus berlanjut. Aku hanya ingin menjadi pria yang bisa membuat Tiara, istriku, memujaku, bukan pria lain.
Tak lama, aku merasakan gejolak hebat di dalam diriku. Gelombang orgasme terasa begitu dekat. Aku menjerit, "Ahh! Aku keluar! Ahhhhhh!" Tubuhku menegang, pinggulku bergerak tak terkendali. Aku merasakan gelombang kenikmatan membanjiri seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang begitu kuat, begitu nyata, dan begitu memabukkan. Aku membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.
Setelah itu, aku merasakan sebuah kelegaan yang luar biasa saat spermaku menyembur keluar, memenuhi setiap inci vagina Bunga. Bunga menjerit, suaranya parau, dipenuhi rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan yang memabukkan. Aku terengah-engah, lemas, lalu ambruk di atasnya.
Tak lama, suara Mbah Dukun memecah keheningan. "Sudah pak," perintahnya. "Sekarang, kamu kesini, ke hadapan Mbah."
Aku menurut. Dengan gerakan perlahan, aku mencabut penisku dari vagina Bunga, lalu aku berjalan ke hadapan Mbah Dukun. Mbah Dukun menatapku lekat-lekat, Ia kemudian membaca mantra, suaranya bergema di dalam goa, menciptakan suasana yang mencekam.
Setelah itu, Mbah Dukun memasukkan susuk itu ke dalam tubuhku. Aku merasa aneh, tapi tidak peduli. Aku hanya ingin ritual ini selesai,
"Sudah selesai, Pak," ucap Mbah Dukun, suaranya serak. "Kamu bisa langsung coba."
Aku menatap Mbah Dukun, lalu mengalihkan pandanganku ke penisku. Ajaib. Penisku kembali menegang, padahal aku baru saja mengeluarkan sperma di vagina Bunga. Seakan tak percaya, aku ingin mencoba penis gagahku ini, untuk membuktikan keampuhan susuk itu.
Evelyn mendekatiku, senyumnya penuh kemenangan. "Kamu mau coba ke siapa, Pak?" bisiknya, suaranya serak. "Mau coba ke Mei Ling boleh, ke Evelyn juga boleh. Jangan ke Bunga lagi, kasian memeknya masih sakit. Biar dia istirahat dulu." Aku melihat Bunga sudah mengenakan bajunya, duduk dengan menunduk di sebelah Mei Ling.
Aku bingung memilih siapa. Mei Ling, dengan kulit putih dan kecantikan khas Tionghoa, atau Evelyn, wanita yang telah membantuku dalam perjalanan ini? Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak, tapi hasrat dan keinginanku untuk memuaskan diriku sendiri jauh lebih kuat.
Evelyn seakan membaca pikiranku. Ia tersenyum, lalu melangkah lebih dekat. "Kenapa bingung, Pak?" bisiknya, suaranya penuh rayuan. "Bagaimana kalau kita berdua saja yang bermain?"
Aku terkesiap, napasku tercekat. Aku menatap Evelyn, dan ia membalas tatapanku, senyumnya semakin lebar. "Bapak tidak perlu khawatir," bisiknya. "Aku akan buat Bapak puas. Dan besok, Bapak akan menjadi pria yang paling kuat di ranjang, bukan hanya dengan melihat istri Bapak dengan pria lain, tapi dengan kekuatan Bapak sendiri."
Aku menelan ludah. Pilihan yang sulit. Tapi, Evelyn benar.
Evelyn langsung menunduk, tanpa menunggu jawabanku. Dengan gerakan yang penuh gairah, ia melahap penisku. Keahliannya membuatku terbuai. Hisapannya begitu kuat, dan ia tahu persis bagaimana cara membuatku gila. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Tanganku bergerak liar, meremas payudaranya yang cukup besar. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa.
"Ahh... ahhh... enak, Evelyn," desahku, suaraku serak, penuh pengakuan.
Evelyn melepaskan kulumannya. Ia bangkit, lalu dengan gerakan cepat, melepaskan semua bajunya hingga telanjang bulat. Tubuhnya yang indah terpampang nyata di hadapanku. Ia kemudian menungging di depanku, memamerkan bokongnya yang kencang.
"Langsung tes penis baru Bapak dong," bisiknya, suaranya serak. "Pasti sudah perkasa. Aku mau jadi yang pertama kali nyoba, hehe."
"Haha, oke, Evelyn. Rasakan penis baruku ini," jawabku, suaraku dipenuhi kemenangan.
Aku tidak bisa menahan diri. Aku memposisikan penisku di vagina Evelyn. Dengan sekali hentakan, aku mendorongnya masuk. Kami berdua menjerit, suara kami bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni gairah yang mengerikan. Aku merasakan sensasi yang luar biasa, seolah-olah aku adalah pria yang paling kuat di dunia.
"Ahh... ahhh... enak, Pak," desah Evelyn. "Aku suka... ahhh..."
Aku mulai menggenjotnya, gerakanku semakin cepat, semakin brutal.
Kami berdua terus mendesah, suara kami bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni gairah yang mengerikan. Aku terus menggenjotnya, gerakanku semakin cepat, semakin brutal. Aku tahu, aku sudah sepenuhnya dikendalikan oleh nafsu, dan aku tidak peduli lagi.
Tiba-tiba, Evelyn memanggil Mbah Dukun. "Mbah, sini! Mau join enggak?" tawarnya, suaranya serak, penuh godaan. "Aku kangen kontol besar Mbah."
Aku terkesiap, napasku tercekat. Aku kaget ternyata Evelyn sudah pernah di-entot Mbah Dukun.
Mbah Dukun itu mendekat, berdiri di depan Evelyn, lalu melepas celananya. Penisku yang berada di dalam vagina Evelyn masih terus menggenjotnya, sementara aku tak bisa mengalihkan pandangan dari Mbah Dukun. Penisku terasa kecil, tidak sebanding dengan penis Mbah Dukun yang ternyata sangat besar, bahkan lebih besar dari penis Pak Budi. "Wah, andai aku memiliki penis sebesar itu," pikirku dalam hati.
Evelyn kemudian menggenggam penis Mbah Dukun itu. Ia mengulumnya, sementara aku terus menggenjot Evelyn. Kami bertiga terhanyut dalam perbuatan ini, sebuah perbuatan yang begitu gila, begitu menakjubkan, namun terasa begitu memuaskan.
Aku terus menggenjot Evelyn, gerakanku semakin cepat dan brutal. Evelyn mendesah hebat, suaranya serak, penuh kenikmatan. Aku tahu, aku sudah sepenuhnya dikendalikan oleh nafsu, dan aku tidak peduli lagi.
Evelyn melepaskan kulumannya dari penis Mbah Dukun. "Mbah, entot salah satu gadis itu aja," tawarnya sambil menunjuk bunga dan mei ling.
Mbah Dukun menatapku. "Gimana, Pak Dimas? Boleh saya entot salah satu gadisnya?"
Aku tersenyum, senyum penuh kemenangan. "Enggak apa-apa, Mbah," jawabku. "Mbah perawanin Mei Ling juga enggak apa-apa. Sebagai bentuk terima kasihku kepada mbah."
"Wah, benar, Pak Dimas? Terima kasih banyak, ya," balas Mbah Dukun, matanya berbinar. Ia kemudian berjalan menuju Mei Ling. Aku tidak peduli, aku fokus menggenjot Evelyn. Kami berdua mendesah sampai akhirnya Evelyn mendesah hebat dan orgasme. Badannya ambruk ke depan, dan penisku terlepas dari vaginanya.
Penisku masih gagah perkasa, belum keluar. Aku merasa bangga dengan penisku yang sekarang. Aku mencari siapa yang bisa memuaskanku. Aku melihat Bunga dan wanita yang membawanya ke sini duduk bersebelahan. Aku mencoba mengajak Bunga berhubungan seks lagi. "Bunga, ayo, kita lanjutkan," kataku, suaraku serak, penuh hasrat.
"Aku… punyaku masih sedikit perih, Pak," jawab Bunga, suaranya parau, matanya masih menunduk.
"Oh, iya. Enggak apa-apa, Bapak enggak maksa," balasku, meskipun hasratku masih bergejolak. Aku menyadari, dia benar. Vaginanya pasti masih terasa sakit setelah ritual tadi.
Aku melihat sekeliling. Mbah Dukun sudah rebahan di atas batu, sementara Mei Ling bergoyang lincah di atas penisnya. Pemandangan itu membuatku bergidik, tapi anehnya, aku juga merasa terangsang.
Kemudian, mataku tertuju pada wanita yang membawa Bunga. Ia menatapku dengan mata penuh gairah, dan sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
"Pak, aku mau coba kontolnya juga dong, hehe," tawar wanita itu, suaranya serak.
Bersambungg...
