Aku melihat sekeliling. Mbah Dukun sudah rebahan di atas batu, sementara Mei Ling bergoyang lincah di atas penisnya. Pemandangan itu membuatku bergidik, tapi anehnya, aku juga merasa terangsang.
Kemudian, mataku tertuju pada wanita yang membawa Bunga. Ia menatapku dengan mata penuh gairah, dan sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
"Pak, aku mau coba juga dong, hehe," tawar wanita itu, suaranya serak.
"Boleh, sini," jawabku, melangkah ke arahnya. "Nama kamu siapa? Status kamu apa? Istri orang atau tidak?" Penting bagiku untuk menanyakan hal ini. Aku teringat pantangan dari Evelyn. Aku tidak boleh bersetubuh dengan istri orang lain.
"Namaku Rini," jawabnya. "Aku janda, Pak."
Aku tersenyum, Aku melangkah ke arah Rini, menatap matanya yang memancarkan hasrat. Aku tidak peduli dengan Mei Ling atau Mbah Dukun yang sedang asyik dengan perbuatan mereka. Pikiranku hanya fokus pada Rini.
Aku menciumnya, bibir kami bersentuhan, dan sensasi itu membuatku gila. Aku merasakan setiap lekuk bibirnya yang lembut, dan aku tidak bisa menahan diri. Tanganku bergerak liar, meremas payudaranya. Rini mendesah, suaranya serak, penuh kenikmatan. Aku tahu, ia juga menginginkan ini.
Aku melepaskan ciumanku, lalu dengan cepat, aku melepas baju Rini. Kemejanya jatuh ke lantai, memperlihatkan bra hitamnya. Aku membuka kaitan bra-nya, dan payudaranya yang besar tersembul keluar. Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku tidak tahu harus merasa apa. Antara terkejut, jijik, dan hasrat yang tak bisa kutolak.
Aku tahu, aku sudah sepenuhnya dikendalikan oleh nafsu, dan aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin kenikmatan itu terus berlanjut.
Setelah melepas bajunya, aku melepaskan celananya dan celana dalamnya. Rini mendesah, suaranya serak. Ia memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.
Aku memasukkan jariku ke vaginanya, merasakan kelembutan dan kehangatan yang memabukkan. Setelah basah, aku menyuruhnya rebahan di atas batu yang dingin. Ia menurut, membiarkan tubuhnya terbuka. Aku melebarkan kakinya, memamerkan keindahan tubuhnya yang telanjang.
Aku memposisikan penisku di vaginanya, dan sensasi itu membuatku gila. Aku tahu, aku tidak bisa kembali. Aku telah jatuh terlalu dalam. Aku menggenjotnya, gerakanku semakin cepat, semakin brutal. Kami berdua mendesah.
"Enak banget, Sayang," desahku, suaraku serak, penuh kenikmatan.
Rini mendesah, suaranya parau, "Ahhh... iya, Pak... terus... lebih cepat... aku suka... ahhh...".
"Kamu suka, kan?" tanyaku, gerakanku semakin cepat dan dalam. "Kamu suka dengan penis Bapak yang sekarang?
"Iya, Pak... ahhh... aku suka... aku suka semuanya... ahhh...".
Kemudian aku mencabut penisku, Aku menatap Rini, senyum misterius mengembang di bibirku. "Sekarang, Sayang," bisikku, suaraku serak, "gimana kalau kita coba gaya lain?"
Rini mengangguk, napasnya masih terengah. "Gaya apa, Pak?" tanyanya.
"Nungging," jawabku. "Aku suka wanita yang nungging. Terlihat begitu seksi dan binal."
Rini menurut. Dengan gerakan lambat, ia mengubah posisinya, memposisikan dirinya menungging di hadapanku. Aku memandangi pantatnya yang indah, dan hasratku kembali memuncak. Aku tidak sabar untuk mencoba kekuatan baru dari susuk yang baru saja aku pasang.
Aku memposisikan penisku di vaginanya, dan sensasi itu membuatku gila. Aku menggenjotnya, gerakanku semakin cepat, semakin brutal. Kami berdua mendesah, suara kami bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni gairah yang mengerikan
"Ahh, Pak, enak banget," desah Rini, suaranya parau, penuh kenikmatan. "Aku mau keluar, Pak!"
"Ahh, iya, memek kamu juga enak, ahh," jawabku, suaraku serak, penuh kemenangan.
Aku menggenjotnya semakin cepat, semakin brutal. Rini menjerit, "Ahh, Pak, aku keluar, ahh!" Tubuhnya kejang, dan aku merasakan kehangatan yang membanjiri vaginanya. Dia sudah mencapai orgasme.
Aku mencabut penisku, yang masih tegak perkasa. Aku tersenyum, senyum penuh kemenangan. "Gila," gumamku. "Baru selesai ritual, aku langsung bikin puas dua wanita."
Aku merasakan kelegaan yang luar biasa setelah mencapai puncaknya bersama Rini, tapi penisku masih tegak perkasa. Aku menoleh, mencari target berikutnya. Mataku bertemu dengan mata Bunga. Ia duduk diam, tapi matanya memancarkan rasa ingin tahu yang dalam. Ia ternyata memperhatikan setiap gerakanku saat aku menyetubuhi Rini.
Aku melangkah ke arahnya, menawarkan sebuah ajakan yang tak bisa ia tolak. "Bunga, ayo, lagi," bisikku, suaraku serak, penuh hasrat.
Bunga hanya diam, menunduk. Ia tampak malu dan takut. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kenikmatan itu terus berlanjut. Aku memegang tangannya, mengelusnya lembut. "Jangan takut, Bunga," kataku, mencoba menenangkannya. "Vagina kamu sudah gak sakit kan?."
Aku mengajaknya berdiri. Dengan gerakan perlahan, aku mencium bibirnya, merasakan kelembutan yang memabukkan. Tanganku bergerak liar, meraba payudaranya yang ranum dan kencang itu.
"Ahh... Pak..." desah Bunga, suaranya parau, penuh kenikmatan. "Enak..."
Aku melepaskan ciumanku, lalu dengan cepat, aku membuka bajunya. Bajunya jatuh ke lantai, kemudian satu persatu ku buka sampai terakhir aku membuka celana dalamnya, aku memperlihatkan tubuhnya yang telanjang bulat. Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Tubuh yang indah sekali. Kemudian ku remas payudara nya. Vagina nya ku usap dengan tanganku satunya.
"Kamu suka, kan?" bisikku, tanganku bergerak liar, membelai setiap lekuk tubuhnya yang telanjang.
"Iya, Pak... ahh... aku suka..." desah Bunga.
Aku mengelus punggung Bunga yang mulus, menuruti perintahku untuk menungging. Pinggulnya yang ramping dan bokongnya yang indah terpampang jelas di hadapanku. "Lihatlah, kamu begitu seksi dari belakang gini, Bunga," bisikku, suaraku serak, penuh dengan hasrat yang tak terbendung. "Aku suka kamu yang seperti ini".
Aku mendekat, memposisikan penisku di vaginanya. Kurasakan sensasi hangat dan basah saat kepala penisku bergesekan dengan bibir vaginanya. "Lihat, Sayang," bisikku lagi, suaraku melembut, "Lihatlah dirimu. Kamu begitu sempurna. Kamu terlihat sangat cantik dan nakal". Bunga hanya menunduk, napasnya memburu, tak bisa berkata-kata.
Tanpa menunggu lebih lama, aku mendorong penisku masuk, dengan hentakan yang lebih kuat dari sebelumnya. Aku bisa merasakan vaginanya yang sempit dan ketat, sensasi itu membuatku gila. Kami berdua mendesah, suara kami bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni gairah yang mengerikan.
"Sudah enak, Bunga?" tanyaku, kini suaraku terdengar lebih dalam. "Sudah tidak sakit kan?". Bunga mendesah, sebuah rintihan panjang yang terdengar begitu nikmat di telingaku. "Enak, Pak… enak," rintihnya. "Sudah tidak sakit lagi. Terus, Pak… kencengin".
"Ahh… Bunga… memekmu sempit banget… aku suka," desahku, suaraku serak, penuh kemenangan. Aku mulai menggenjotnya, gerakanku semakin cepat dan brutal. Setiap dorongan terasa begitu dalam, membuat Bunga menjerit-jerit.
"Ahh… lebih cepat, Pak… lebih cepat," rintihnya, "Aku suka… ahhh…". Aku semakin menggenjotnya, gerakanku semakin cepat, semakin brutal. Aku tahu, aku sudah sepenuhnya dikendalikan oleh nafsu, dan aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin kenikmatan itu terus berlanjut.
"Kamu suka, kan, Bunga? Kamu suka penis Bapak yang ini?" tanyaku, sambil terus menggenjotnya. Bunga hanya bisa mengangguk, napasnya memburu. "Kamu tidak perlu malu. Kamu itu milik Bapak sekarang. Bapak akan buat kamu lebih bahagia".
Aku bisa merasakan tubuh Bunga menegang, pinggulnya bergerak tak terkendali. Ia mendesah, "Ahh… Pak… aku mau keluar… ahhh…". Aku semakin menggenjotnya, gerakanku semakin cepat dan brutal. Bunga menjerit, "Ahh! Aku keluar! Ahhhhhh!". Tubuhnya kejang, pinggulnya bergerak tak terkendali. Ia terjatuh lemas, ambruk di atas batu, sementara aku masih terus menggenjotnya.
"Bagus, Sayang," bisikku, suaraku serak, "Bagus… Bapak suka… Bapak suka kamu yang nakal…". Aku merasakan gejolak hebat di dalam diriku. Gelombang orgasme terasa begitu dekat. Aku menjerit, "Ahh! Aku keluar! Ahhhhhh!". Aku menumpahkan spermaku di dalam vagina Bunga.
Aku terengah-engah, lemas, lalu ambruk di atasnya. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan ini. Aku tahu, aku sudah sepenuhnya dikendalikan oleh nafsu, dan aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin kenikmatan itu terus berlanjut.
Akhirnya setelah ritual ini, aku bisa memuaskan 3 wanita sekaligus. Aku merasa bangga dengan penisku ini, aku tidak percaya bahwa susuk ini bisa membuatku seperti ini. Aku merasa bangga dengan diriku, aku telah menemukan kekuatanku yang tersembunyi.
Kemudian aku membuka mata. Aku melihat Mbah Dukun baru saja menumpahkan spermanya di vagina Mei Ling. Aku melihat Mei Ling sangat cantik, namun matanya kosong, ia tampak lemas tak berdaya. Mbah Dukun tersenyum penuh kemenangan.
"Terima kasih, Pak Dimas, sudah dibolehin merawanin Mei Ling," ucapnya, suaranya serak. "Memeknya enak banget, sempit."
"Sama-sama, Mbah," balasku sambil bangkit dan memakai kembali pakaianku. "Aku juga berterima kasih sudah diberi susuknya. Aku langsung bisa memuaskan tiga wanita sekaligus, haha."
Mbah Dukun menggeleng pelan, senyumnya penuh misteri. "Itu belum seberapa, Pak Dimas. Nanti perlahan penis Pak Dimas akan semakin besar. Bisa seperti punyaku."
Aku terkesiap, jantungku berdebar tak karuan. "Serius, Mbah?" tanyaku. Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku.
"Iya, serius, Pak. Asal jangan lupa pantangannya, ya. Kalau Pak Dimas melanggar, nanti bisa jatuh sakit bahkan meninggal."
Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku tahu, aku tidak akan melanggar pantangan itu. Karena yang ku mau hanya memuaskan Tiara, istriku. Fantasiku tentang Tiara yang binal kini berpadu dengan kenyataan di hadapanku.
Aku hanya mengangguk, sebuah pengakuan bahwa aku siap melakukan apa pun. "Baik, Mbah, aku tidak akan melanggar pantangannya. Karena yang aku mau hanya memuaskan Tiara, istriku."
"Sudah, Pak Dimas," perintahnya, suaranya serak. "Sekarang, kalian semua berpakaian lagi. Kita kembali ke rumah."
Aku bangkit, merasakan tubuhku sedikit pegal, namun ada sensasi lain yang jauh lebih kuat, sebuah kebanggaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Dengan bangga, aku memandangi penisku yang kini sedikit lemas, namun aku tahu kekuatannya sudah jauh melampaui apa yang pernah kumiliki. Aku melirik Bunga yang masih terbaring lemas, kemudian aku bangkit dan mulai mengenakan pakaianku. Aku melakukannya dengan gerakan yang mantap, tidak ada lagi keraguan atau rasa malu.
Setelah semua berpakaian rapi, kami kembali berjalan menembus pekatnya malam. Suasana yang tadinya penuh gairah dan desahan, kini kembali sunyi. Hanya suara langkah kaki kami yang beradu dengan dedaunan kering. Aku berjalan di depan, merasa seperti seorang pemimpin. Pikiranku berkelana. Aku memikirkan Tiara, istriku. Aku tidak sabar untuk kembali ke rumah dan mencoba kekuatan baru ini padanya. Aku ingin melihat bagaimana Tiara, istriku yang alim dan polos, akan bertekuk lutut di bawah kendaliku, di bawah penisku yang kini sudah sempurna. Aku membayangkan ekspresi wajahnya, rintihannya, desahannya. Semua fantasi gelapku kini terasa begitu dekat, begitu nyata. Aku tidak sabar untuk menanti.
Kami tiba di depan rumah Mbah Dukun yang kuno dan angker. Bau dupa kembali menyambut kami,
Kami semua masuk ke dalam rumah Mbah Dukun. Bau dupa yang menyengat terasa lebih pekat di dalam ruangan. Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi, namun tidak ada yang terlihat lelah. Suasana yang tadinya tegang kini terasa lebih santai, seolah-olah kami baru saja selesai makan malam.
Kami semua berbincang ringan, obrolan-obrolan yang tidak penting. Namun, setiap kata yang keluar dari mulut mereka, setiap senyuman, terasa penuh arti.
Aku melihat Mei Ling dan Bunga. Wajah mereka yang tadinya pucat pasi kini terlihat sedikit lebih tenang. Mereka berdua berbisik-bisik, sesekali melirik ke arahku. Aku menyeringai, sebuah senyum kemenangan. Aku tahu, mereka berdua akan mengingatku. Mereka akan mengingat malam ini, dan mereka akan mengingat penisku yang baru.
Evelyn, di sisi lain, tampak sangat puas. Matanya berbinar, senyumnya tidak pernah pudar. "Aku bilang juga apa, Pak," bisiknya, suaranya serak. "Susuk ini akan mengubah hidup Bapak. Bapak akan menjadi pria yang paling kuat."
Aku hanya mengangguk.
Tepat pukul 01.30 pagi, aku merasa lelah dan memutuskan untuk mengakhiri ritual malam ini. Aku mengajak Evelyn untuk pulang. Perjalanan dua jam ke rumah dinas membuatku sadar, sepertinya besok aku tidak akan bisa masuk kerja.
Kami berdua berpamitan, mengucapkan selamat tinggal pada Mbah Dukun, Bunga, dan Mei Ling. Aku melambai ke mereka, dan mereka membalas lambaianku. Aku dan Evelyn masuk ke dalam mobil, lalu melaju membelah malam.
Di dalam mobil, kami berbincang ringan. "Evelyn, uangnya sudah kamu kasih ke mereka?" tanyaku.
"Sudah, Pak," jawab Evelyn, senyumnya penuh kemenangan. "Uangnya sudah aku urus. Dibagi ke Bunga Rp30 juta, ke Mei Ling Rp30 juta, dan ke Mbah Dukun Rp90 juta."
"Wah, hebat ya kamu bisa mengatur semuanya," pujiku, kagum dengan keprofesionalannya.
Evelyn tertawa pelan. "Tentu, Pak. Ini kan demi kepuasan Bapak. Saya juga senang bisa membantu Bapak. Bagaimana, Pak? Bapak puas dengan ritual malam ini?"
Aku mengangguk, sebuah senyum lebar terukir di wajahku. "Puas sekali, Evelyn. Penisku terasa berbeda. Lebih kuat, lebih perkasa."
"Itu belum seberapa, Pak," bisik Evelyn, suaranya serak. "Nanti, Bapak akan tahu sendiri bagaimana susuk itu bekerja. Bapak akan jadi pria yang paling dicari. Wanita mana pun akan bertekuk lutut di bawah Bapak."
Singkat cerita, kami tiba di rumah Evelyn. Dia turun, lalu berpamitan. "Pak Dimas, besok saya izin enggak masuk, ya," katanya.
"Haha, saya juga, Evelyn," balasku, senyumku penuh arti.
Aku kembali melaju, membelah jalanan sepi menuju rumah dinas. Aku tiba di sana pukul 03.30 pagi. Tanpa membuang waktu, aku langsung merebahkan diri di kasur. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam kenikmatan itu, dan tertidur lelap.
Bersambungg...
