Aku menutup telepon dengan tangan gemetar. Jantungku berdebar tak karuan, pikiranku kalut. Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Mas Dimas tidak marah. Ia justru mengizinkan. Mengizinkan aku untuk terus bermain, asalkan aku merekam semua aksiku dan mengirimkannya padanya.
Aku merasa bingung, ada perasaan lega yang aneh bercampur dengan rasa takut yang baru. Aku berjalan terhuyung-huyung menuju ruang tamu. Di sana, Pak Budi sudah duduk santai di sofa. Ia menatapku dengan senyum penuh arti, seolah-olah tidak ada yang terjadi.
"Ustadzah, kenapa?" tanyanya, suaranya serak. "Kok kayak habis lihat hantu."
Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku tidak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan ini. "Pak... Bapak... Bapak harus tahu sesuatu," bisikku, suaraku parau.
"Ada apa, Sayang?" godanya.
"Mas Dimas... Mas Dimas sudah tahu semuanya," jawabku, suaraku nyaris tak terdengar.
Wajah Pak Budi berubah. Senyumnya pudar, matanya membelalak kaget. Ia bangkit, seolah-olah siap untuk pergi. "Gila! Aku harus pergi!, sebelum suamimu pulang"
Aku menahannya, meraih tangannya dengan cepat. "Jangan, Pak! Mas Dimas... Mas Dimas tidak marah," ucapku, suaraku bergetar. "Dia... dia bilang... dia mengizinkan."
Pak Budi terdiam, matanya menatapku lekat-lekat, penuh kebingungan. "Mengizinkan?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Iya, Pak. Tapi... ada syaratnya. Mas Dimas bilang... kita harus merekam semua yang kita lakukan. Dan... dan kita harus mengirimkannya ke dia."
Pak Budi menatapku, matanya memancarkan sebuah kilatan aneh. Perlahan, senyum muncul di bibirnya. Kemudian senyum itu berubah menjadi tawa. Ia tertawa, tawa yang terdengar kejam di telingaku.
"Hahaha! Gila!" tawanya. "Aku tidak menyangka. Suamimu... dia gila! Dia benar-benar gila! Aku suka fantasi dia!. hahaha"
Tawanya membuatku bergidik, tapi anehnya, aku juga merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku.
"Baiklah, suami kamu yang minta ini semua. Mari kita mainkan Ustadzah," ucap Pak Budi, tawanya terdengar penuh kemenangan. Ia menepuk-nepuk pahanya, mengisyaratkanku untuk mendekat.
"Main gimana, Pak?" tanyaku, suaraku parau. Pikiranku kalut, tidak bisa memproses semua yang terjadi.
"Ayo kita cari satu lagi lelaki," bisiknya, suaranya serak. "Biar kamu bisa merasakan dua kontol sekaligus. Nanti kita rekam, dan kirim ke suami kamu."
Jantungku berdebar tak karuan. Aku tidak bisa mempercayai apa yang baru saja kudengar. Apakah pertama kali diizinkan, aku akan langsung selingkuh dengan dua lelaki sekaligus? Apakah Mas Dimas nanti tidak marah? Tapi... dia sudah memberiku izin. Harusnya tidak apa-apa jika aku melakukan apa pun. Semua ini adalah keinginannya. Aku mengangguk, sebuah pengakuan yang membuatku merasa aneh. Aku ingin kenikmatan itu. Aku ingin menjadi bagian dari permainan ini.
"Aku mau, Pak," jawabku, suaraku nyaris tak terdengar. "Tapi siapa lelaki satunya?"
Pak Budi tersenyum, senyumnya penuh arti. "Terserah kamu, Ustadzah. Kamu mau ajak siapa? Security kompleks? Pemulung? Atau kamu punya lelaki yang kamu inginkan?"
Aku terdiam, bingung harus menjawab apa. Pikiranku berkelana, mencoba mencari seseorang yang cocok. Namun, aku tidak bisa menemukan siapa pun. "Emm... aku enggak tahu, Pak," rintihku, suaraku parau.
Tiba-tiba, suara motor berhenti di depan rumahku. Pak Budi dan aku terdiam, saling menatap. Pintu gerbang rumahku terbuka, dan seorang tukang paket masuk, berjalan ke arah kotak tempat paket jualanku biasa di-pick up.
Aku menatap Pak Budi, lalu beralih menatap kurir yang baru saja datang. Pikiranku berkecamuk, menimbang-nimbang. Kurir itu terlihat masih muda, tidak seperti Pak Budi atau tukang sayur yang sudah berumur. "Dia, Ustadzah," bisik Pak Budi, suaranya serak. "Kurir ini saja. Gimana, mau nggak, Ustadzah, sama kurir?"
Aku terdiam sejenak. Jika Mas Dimas mengizinkan, sepertinya tidak ada batasan. Kurir ini terlihat polos dan lugu. Sebuah senyum tipis terukir di bibirku, sebuah pengakuan yang membuatku merasa bersemangat. Aku mengangguk. "Mau, Pak," jawabku, suaraku parau.
"Mari kita mulai langsung saja, Ustadzah," ucap Pak Budi, senyumnya penuh kemenangan. "Mas Bims juga nanti minta dikirimin rekamannya."
Aku mengambil ponselku, menghidupkan kamera, dan mulai merekam. "Hai," bisikku ke arah kamera, suaraku bergetar. "Aku akan rekam ini untuk Mas Bims. Dan untuk suamiku, Mas Dimas."
Aku memanggil kurir itu, yang masih berdiri di depan kotak paket dengan wajah bingung. "Pak kurir," panggilku, suaraku terdengar lebih berani dari dugaanku. "Kamu mau bantu aku? Bantu rekam, ya?"
Kurir itu mengangguk, matanya membelalak tak percaya. Aku menyerahkan ponselku padanya, lalu berjalan ke arah Pak Budi.
Singkat cerita, kami bertiga sudah selesai berhubungan badan bertiga. (adegan 3some ada di bab 44), Aku merasa lemas tak berdaya. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku yang telanjang bulat tanla jilbab dan cadar ini hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan itu. Dua pria, dua sensasi berbeda, dan dua kali mereka memuntahkan sperma di dalam vaginaku. Aku merasa kotor, namun anehnya, aku juga merasa sangat puas.
Setelah itu, aku mengambil ponselku kembali dari tangan kurir. Dengan tangan gemetar, aku mengirim foto selfieku bersama kurir, dan video gila yang baru saja kami rekam ke Mas Bims dan Mas Dimas.
Kurir itu tersenyum puas, napasnya masih memburu. Ia mengambil paket-paket di dalam kotak, lalu berjalan keluar. Sebelum pergi, ia menoleh ke arahku. "Terima kasih banyak ya, Pak Budi dan Ustadzah," ucapnya, matanya memancarkan rasa terima kasih yang mendalam. "Kapan-kapan, aku mau lagi sama Ustadzah."
"Tergantung, Pak," jawabku, suaraku parau. "Lihat besok saja, ya."
Ia tersenyum, lalu melajukan motornya, meninggalkan halaman rumah. Aku melihat Pak Budi terkapar di sofa. Ia terlihat kelelahan, namun di matanya, aku melihat sorot kemenangan yang mendalam.
Aku bangkit, mengambil pakaianku yang berserakan, lalu berjalan ke kamar mandi. Kucuran air dingin membasuh tubuhku, membersihkan sisa-sisa keringat dan... sisa-sisa perbuatan itu. Namun, yang kurasakan adalah kekotoran yang tak kunjung hilang. Aku merasa hampa, namun di saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku.
Setelah selesai mandi, aku kembali ke ruang tamu. Pak Budi sudah duduk di sofa, memakai semua bajunya. Aku berjalan ke arahnya, lalu duduk di sebelahnya. Kami berdua terdiam, menikmati keheningan yang canggung.
"Capek, Ustadzah?" tanyanya, suaranya serak. Ia mengulurkan tangannya, mengelus rambutku yang basah.
"Iya, Pak," jawabku, memejamkan mata. "Rasanya tenang begini... aku jadi lupa semua masalah."
Pak Budi tertawa pelan, tawanya terdengar penuh kemenangan. "Tapi enak, kan?" tanyanya.
"Enak banget, Pak," rintihku, suaraku parau. "Terima kasih, Pak."
"Untuk apa, Sayang?" tanyanya, ia menciumi keningku.
"Untuk semuanya," jawabku, memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.
"Iya, sama-sama Ustadzah," jawab Pak Budi, suaranya serak. "Aku juga berterima kasih sudah dikasih memek sempit Ustadzah."
Jantungku berdebar tak karuan. Aku tidak bisa membalasnya. Setelah itu, Pak Budi bangkit, lalu ia berpamitan. "Aku pulang dulu, ya. Sampai ketemu lagi, Sayang."
Ia berjalan keluar rumah, meninggalkan aku sendirian, dengan pikiran yang kalut, dan tubuh yang terasa lemas.
Setelah memastikan Pak Budi benar-benar pergi, aku kembali ke kamar. Pintu rumah yang tertutup terasa seperti sebuah pengakuan, sebuah segel yang memisahkan dunia luar yang "normal" dengan duniaku yang kini terasa begitu gila.
Aku merebahkan diri di kasur kamarku. Tubuhku terasa sangat lelah, setiap inci ototku terasa sakit, seperti habis dipukuli. Namun, kelelahan itu bukan hanya fisik. Aku merasa capek secara emosional, seolah-olah semua energi yang kumiliki sudah terkuras habis. Sepanjang hari itu, aku hanya berbaring di sana, membiarkan tubuhku yang lemas tenggelam dalam kasur yang empuk. Pikiranku melayang, memutar kembali setiap adegan yang baru saja terjadi. Rasanya seperti sebuah mimpi buruk yang anehnya juga terasa begitu memuaskan.
Keesokan harinya, aku bangun pagi, merasakan sisa-sisa kelelahan yang membebani tubuhku. Seperti biasa, aku mengambil air wudu, lalu menunaikan shalat subuh. Gerakanku terasa khusyuk, namun pikiranku melayang, memikirkan kejadian kemarin yang sangat nakal.
Selesai shalat, aku membersihkan rumah, lalu mandi. Setelah itu, aku memakai gamis longgar dan jilbab lebarku, menutupi setiap lekuk tubuhku. Tak lupa, cadarku juga kukenakan. Di balik balutan syar’i ini, aku merasa seperti menyembunyikan sisi lain dari diriku. Sisi yang begitu kotor, namun terasa begitu membebaskan.
Tiba-tiba, suara tukang sayur menggema di depan rumahku, memecah keheningan pagi. "Sayuurr! Sayuurr!"
Aku tersenyum, lalu berteriak. "Sayur, Pak!"
Aku bergegas ke kamar, mengambil dompetku. Sebelum keluar, aku menatap bayanganku di cermin. Seorang ustadzah yang alim, yang selama ini dikenal polos dan lugu. Tapi di balik cadar ini, aku adalah wanita yang berbeda.
Aku berjalan ke gerobak sayur itu. Dia langsung menyambutku.
"Mau beli apa, Ustadzah?" tanyanya, suaranya terdengar santai, namun ada nada lain yang hanya bisa kami berdua pahami.
"Ayam, Pak," jawabku, suaraku parau, penuh dengan keraguan. "Sama bumbu-bumbu, ya."
Ia menimbang ayam, sementara aku mengamati gerobaknya. Pikiranku berkelana, memikirkan perkataan Mas Dimas semalam dan perbuatanku dengan kurir dan Pak Budi.
"Bumbunya apa aja, Ustadzah?" tanyanya.
"Bumbu rendang, Pak," jawabku. Aku memberanikan diri, mencoba memperpanjang percakapan. "Pak... Bapak... bapak kok kelihatan segar sekali pagi ini?"
Ia tersenyum, matanya memancarkan sebuah kilatan aneh. "Haha, Ustadzah ini ada-ada saja," ucapnya. "Saya memang selalu segar kalau ketemu Ustadzah. hehe"
Kami berdua terdiam. Aku merasa gugup. "Emm... ngomong-ngomong, nama Bapak siapa sih?. Aku aja belum tau nama bapak haha" tanyaku.
Pria itu tersenyum, lalu menjawab, "Nama Bapak Toni, Ustadzah. Panggil saja Pak Ton."
"Oh, iya," ucapku, tersenyum dari balik cadar. "Salam kenal, Pak Ton. Aku Tiara."
Pak Toni tertawa pelan, suaranya serak. "Hehe, salam kenal juga, Ustadzah Tiara," balasnya, ada nada aneh dalam suaranya. "Aneh juga ya, padahal kelamin kita udah kenalan, tapi Ustadzah enggak tahu namaku. Haha."
Aku tersentak, tapi mencoba menutupi kegugupanku dengan tawa. "Haha, iya, Pak. Aneh ya. Haha."
Sambil aku memilih-milih sayuran, Pak Toni membungkus ayam dan bumbu rendangku. Pikiranku berkecamuk, memikirkan perkataan Pak Toni. Ia tidak malu, tidak ragu sedikit pun untuk berbicara seperti itu.
Ia berjalan ke arahku, lalu tanpa aba-aba, tangannya menampar pantatku dengan keras. "Aww!" Aku menjerit, rasa sakit yang tajam membuatku terkejut.
"Kontolku kangen pantat mulus Ustadzah, hehe," bisiknya, senyumnya penuh kemenangan, seolah-olah apa yang baru saja ia lakukan adalah hal yang biasa.
"Ihh, Pak, awas nanti dilihat orang!" bisikku, melirik ke kanan dan kiri, takut ada tetangga yang memergoki kami.
Pak Ton tertawa pelan. "Enggak, Ustadzah, sepi kok," jawabnya santai.
Setelah ucapannya, Pak Toni mengelus pantatku pelan. "Ahh..." Aku mendesah, merasakan sensasi sentuhan yang memabukkan itu.
Kemudian, ia meremasnya dengan keras. "Padat banget emang pantat Ustadzah ini," bisiknya, suaranya serak. "Bikin aku ngaceng."
Aku menunduk, melirik ke arah celananya. Benar saja, penisnya sudah mengembang besar di balik celana kolornya. Aku tidak bisa menahan diri. Sebuah dorongan aneh muncul dari dalam diriku, sebuah keinginan untuk melangkah lebih jauh.
Dengan gerakan gemetar, kuarahkan tanganku ke penisnya, lalu kutarik celana kolor itu ke bawah. Penis besarnya langsung mencuat, tegak sempurna. Aku memegangnya, merasakan kehangatan dan kekerasannya.
Pak Toni menjerit, suaranya parau, "Ahh! Ustadzah... enak banget... terus, Sayang... remas yang kencang."
"Penis Bapak juga besar banget, Pak," rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan. "Aku suka... ahh..."
Pak Toni mendongakkan kepalanya, matanya terpejam, menikmati setiap sentuhan. "Ahhh... Ustadzah... kamu hebat... kamu semakin nakal ustadzah... aku suka..."
"Hehe, iya, Pak," bisikku, suaraku bergetar. "Sambil awasin sekitar ya, Pak Ton. Takut nanti ada orang."
"Ahh, iya, Ustadzah, tenang aja," balasnya, suaranya serak. "Enggak ada orang kok. Semua orang juga lagi di rumah. Hehe."
Aku melanjutkan aktivitas tanganku di penisnya. Aku meremasnya, mengocoknya pelan, mengikuti irama napasku yang memburu.
Tiba-tiba, tangan Pak Toni masuk ke dalam jilbab lebarku, meremas payudara besarku dari luar gamis. Tangannya yang tertutup jilbabku membuatnya semakin leluasa. Aku menjerit tertahan, "Ahh..."
"Padat banget payudara Ustadzah ini," bisiknya, suaranya serak. "Bikin gemes..."
Aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
"Kamu suka kan, Ustadzah?" bisiknya lagi, gerakannya semakin brutal, semakin cepat. "Kamu suka sentuhan Bapak di tetek kamu kan?"
"Iya, Pak... ahh... iya... Aku suka. Ahh.." desahku,
"Ustadzah, sepongin dong," bisiknya, suaranya serak, penuh permohonan. "Aku... aku butuh ini, Sayang. Tolong."
Aku tersentak. Aku merasa lelah, dan aku tidak ingin melanjutkan permainan ini. "Ihh, males ah, Pak Ton," jawabku, mencoba mengalihkan pandangan. "Lagi males kayak gitu."
Mata Pak Toni memancarkan keputusasaan. Ia meraih tanganku, menggenggamnya erat. "Ustadzah, tolong dong," bisiknya, suaranya bergetar. "Aku... aku udah gak tahan, udah ngaceng banget. Kamu tahu bagaimana rasanya, kan? Aku butuh kamu. Mulutmu... mulutmu yang sangat lembut itu Ustadzah. Aku... aku janji cuma sebentar kok."
Aku terdiam, seluruh tubuhku gemetar. Pikiranku kalut. Ia tidak merayu, ia memohon. Ia terlihat begitu rentan, begitu putus asa. Kata-katanya menyentuh sisi lain dari diriku, sisi yang ingin merasakan kekuasaan, sisi yang ingin menjadi penyelamat.
"Aku... aku tidak tahu, Pak," rintihku, suaraku parau.
"Tolong, Ustadzah. Aku mohon," bisiknya lagi, suaranya memelas, penuh permohonan. "Aku hanya butuh kamu. Kamu bisa membuatku gila. Kamu bisa membuatku puas. Kamu bisa membuatku bahagia. Tolong, Ustadzah, tolong..."
Aku menelan ludah, Tanpa sadar, aku mengangguk. Dengan gerakan perlahan, aku berlutut di hadapan Pak Toni,
Aku berlutut di hadapan Pak Toni. Dengan tangan gemetar, aku menyingkap sedikit cadarku, hanya untuk membuat celah kecil. Ku masukkan penisnya ke dalam cadarku, kepalaku perlahan turun. Aku mencium kepala penisnya, merasakannya merata di bibirku. Kemudian, ku jilat-jilat, mengelilingi setiap inci di sana.
"Ahh..." desah Pak Toni, suaranya serak. "Enak, Ustadzah... enak banget..."
Aku tidak menjawab. Aku hanya terus menjilatinya, mengikuti irama napasnya yang memburu. Kemudian, ku masukkan penisnya ke dalam mulutku.
Pak Toni menjerit, suaranya parau, "Ahhh! Ustadzah... enak banget! Terus, Sayang... terus..." Tangannya yang besar memegang kepalaku, menggerakkannya naik turun, mempercepat irama hisapanku. "Ahhh... gila... Ustadzah... kamu hebat... aku suka... ahhh..."
Aku terus melakukannya, mengikuti setiap irama yang diberikan Pak Toni. Aku mencengkeram erat penisnya, dan sesekali aku mendesah. "Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau.
"Aku suka Ustadzah yang kayak gini," bisiknya. "Di luar alim dan polos bercadar, tapi di dalam... liar banget."
"Iya, Pak Ton," jawabku, suaraku parau. "Aku aslinya liar banget sekarang, Pak."
Matanya memancarkan nafsu yang membara. "Ahh, aku enggak sabar mau ngentot memek Ustadzah," bisiknya, suaranya serak. "Nungging dong, Ustadzah, mumpung sepi."
"Ahh, jangan, Pak, enggak mau.," rintihku, mencoba menolak.
"Ayolah, Ustadzah," mohonnya, suaranya memelas. "Sekali celup aja ya. Ya...?"
Aku berpikir sejenak. Pikiranku kalut, namun ada sebuah ide yang tiba-tiba muncul. Apa aku kerjain saja ya orang ini? Ya, kenapa tidak? Mas Dimas sudah mengizinkan, dan aku juga ingin melangkah lebih jauh dengan orang ini.
"Yaudah, sini, Pak," ucapku. Aku pun menungging, memposisikan diriku di hadapannya.
Pak Toni menyeringai penuh kemenangan. Ia meremas pantatku dari luar gamis. Tangannya yang besar terasa begitu dominan, membuatku merinding. "Padat banget pantat Ustadzah ini," pujinya, suaranya serak. Ia mengelusnya, perlahan, meremasnya perlahan lalu semakin cepat, membuatku mendesah tak karuan.
"Ahh..." rintihku, suaraku parau.
Kemudian, ia mengangkat gamisku sampai ke pinggang, memperlihatkan pantatku yang masih terbalut celana dalam. Tanpa aba-aba, ia menampar-namparkan penisnya yang tegang ke pantatku. Aku terkesiap, sensasi hangat dan keras itu membuatku mendesah tak karuan.
"Ahhh... Ustadzah... rasakan ini..." bisiknya, suaranya serak. "Rasakan bagaimana kontol Bapak ini masuk ke memek ustadzah... rasakan besarnya... ahh..."
Setelah itu, tangannya yang kasar merayap di bawah gamisku, dan dengan gerakan perlahan, dia menurunkan celana dalamku sampai ke lutut. Aku tidak bisa menolak. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini.
Kemudian, ia menggesek-gesekkan kepala penisnya yang tegang ke bibir vaginaku. Sensasi hangat dan keras itu membuatku gila. Aku mencengkeram lututku, berusaha menahan sensasi yang membanjiri seluruh tubuhku.
"Ahh..." desahku, suaraku parau.
"Ahh... Ustadzah... memekmu basah banget..." desah Pak Toni, suaranya serak. "Kamu suka, kan? Ahhh..."
Tanpa menunggu jawabanku, ia berbisik lagi, penuh hasrat, "Aku masukin ya, Ustadzah... Ahh..."
"Ahh... iya, Pak," bisikku, suaraku parau. "Secelup aja yaa..."
Tangan Pak Toni memegang pinggulku, dan dia mendorong penisnya perlahan. Aku mendesah, merasakan sensasi hangat dan penuh itu. "Ahh... enak banget, Ustadzah," desahnya, suaranya serak. Ia mendorong lebih keras lagi, dan akhirnya seluruh penisnya masuk ke dalam. "Ahh... enak banget memek Ustadzah... ahh... akhirnya bisa ngentot memek Ustadzah..."
Aku juga mendesah, "Ahh..." Perasaanku campur aduk antara kenikmatan dan sebuah ide licik yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Tanpa aba-aba, aku memajukan tubuhku, membuat penisnya di dalam vaginaku terlepas.
"Ahhh..." desah kami bersamaan, sebuah rintihan panjang yang terdengar hampa. Aku segera menaikkan celana dalamku kembali dan menurunkan gamisku.
"Eh, kenapa, Ustadzah?" tanya Pak Toni, suaranya dipenuhi kebingungan.
Aku tertawa pelan, tawa yang terdengar penuh kemenangan. "Enggak kenapa-kenapa, Pak. Kan tadi janjinya sekali celup aja, kan? Haha."
Aku mengambil belanjaanku yang sudah terbungkus rapi. Kuberikan selembar uang ke Pak Toni, lalu aku berbalik, berjalan masuk ke dalam rumah. "Babay, Pak Ton, haha."
Ku lihat dari balik gorden, ia masih berdiri di sana, menggaruk-garuk kepala, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku tersenyum, sebuah senyum penuh kemenangan di balik cadarku.
Bersambungg...
