Setelah memastikan Pak Toni pergi, aku kembali ke kamar. Pikiranku berkecamuk, memutar kembali semua adegan yang terjadi kemarin. Dua pria, Pak Budi dan kurir, telah menumpahkan sperma di dalam vaginaku. Aku merasakan sensasi mual, sebuah perasaan jijik yang bercampur dengan rasa takut.
Aku tidak mau hamil anak mereka.
Meskipun aku belum bisa hamil dengan Mas Dimas, suamiku, aku tidak ingin hamil anak pria lain. Perkataan Mas Dimas yang mengizinkan aku hamil anak mereka berputar di kepalaku, tapi hatiku tidak mau. Hati kecilku berteriak, menolak. Ini adalah satu-satunya garis yang tidak ingin kulewati. Aku tidak ingin ada bagian dari hidup mereka yang tertanam permanen di dalam diriku.
Aku harus membeli pil pencegah hamil. Aku harus memastikan tidak ada yang bisa tumbuh di dalam diriku. Aku harus memastikan aku tidak akan pernah memiliki anak mereka. Aku bangkit dari tempat tidur, mengambil dompetku, dan bersiap untuk pergi ke apotek.
Aku mengambil kunci motor, lalu bergegas keluar rumah. Aku mengendarai motorku, membelah jalanan yang tidak terlalu ramai. Pikiranku kalut, memikirkan semua yang terjadi. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aku tidak ingin hamil anak mereka.
Setelah sampai, aku memarkir motorku, lalu masuk ke dalam apotek. Di sana, seorang apoteker muda, seorang wanita, menyambutku dengan senyum ramah.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanyanya.
"Saya mau beli pil pencegah hamil, Kak," jawabku, suaraku parau, malu.
Ia mengangguk, lalu mengambil sebuah kotak kecil dan meletakkannya di depanku. "Ini," ucapnya, "Diminum 1x24 jam setelah berhubungan badan, ya, Bu."
Kami berdua terdiam, canggung. Kemudian, wanita itu memecah keheningan. "Bu... kalau boleh tahu, suaminya kenapa, ya? Kok sampai harus beli pil ini?" tanyanya, suaranya terdengar penasaran.
Aku terdiam, bingung harus menjawab apa. "Emm... suami saya lagi tugas, Kak," jawabku.
"Ohh, kasihan," ucapnya. "Pasti kangen ya? Terus... Ibu habis melakukan sama siapa dong kalo suami tugas? Kok sampai harus minum pil ini?"
"Enggak ada apa-apa, Kak," jawabku, mencoba menghindar.
Wanita itu tersenyum, senyumnya penuh arti. "Saya bisa lihat dari mata Ibu. Ibu habis... habis melakukan itu, kan? Dengan pria lain?" tanyanya.
Aku terkesiap, tubuhku membeku. Aku menelan ludah, tidak bisa berkata-kata. "I-iya, Kak," jawabku, sebuah pengakuan yang membuatku malu.
Wajah wanita itu berubah. Senyumnya pudar, matanya membelalak kaget. Ia menatapku dari atas ke bawah, seolah tidak percaya. "Masya Allah..." bisiknya. "Ibu bercadar... tapi kok..." Ucapannya menggantung di udara, namun aku tahu apa yang ia maksud. Ia tidak percaya. Ia kaget seorang wanita bercadar bisa melakukan perbuatan ini.
Aku menunduk malu, merasa seperti semua yang kusembunyikan di balik cadar ini kini terbongkar. Namun, suara apoteker itu memecah keheningan. "Gak apa-apa kok, Bu," ucapnya, suaranya terdengar santai. "Santai aja. Aku juga suka gitu kok, hehe."
Aku menoleh ke arahnya, mataku membelalak tak percaya. "Gitu gimana, Kak?" tanyaku, suaraku parau.
Ia tersenyum, senyumnya penuh arti. "Emm, aku kadang suka berhubungan sama selain suami juga, hehe," jawabnya, suaranya terdengar jujur. "Tapi aku penasaran aja, kan kamu pakaiannya alim banget bahkan bercadar, kok bisa ngentot sama cowok selain suami? Emang cowok itu se spesial apa?"
Jantungku berdebar kencang. Aku menelan ludah, bingung harus menjawab apa. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak, tapi kata-katanya menusuk, terasa begitu membebaskan. Ia benar. Aku, seorang ustadzah yang selama ini dikenal alim, ternyata memiliki sisi lain yang tak pernah orang lain bayangkan.
"Gimana ya, Kak," jawabku, suaraku parau, penuh pengakuan. "Aku... aku juga enggak tahu. Aku juga bingung. Tapi... tapi aku suka. Aku suka kenikmatan itu. Aku suka bagaimana aku bisa merasa bebas. Aku suka bagaimana aku bisa menjadi diriku sendiri, bukan Ustadzah Tiara yang alim."
"Cowok itu spesial apa?" tanyanya lagi, suaranya terdengar santai, seolah ia benar-benar hanya ingin tahu.
Aku terdiam, memikirkan pertanyaan itu. Apa yang membuat Pak Budi begitu spesial? Apa yang membuatku jatuh terlalu dalam ke dalam permainannya? "Emm... penisnya, Kak," bisikku, suaraku nyaris tak terdengar. "Penisnya besar banget. Lebih besar dari punya suamiku. Dan dia... dia tahu bagaimana cara membuatku keenakan."
Apoteker itu tersenyum, senyumnya penuh kemenangan. "Wah, aku ngerti sih, Bu," jawabnya. "Aku juga suka gitu. Aku suka sama cowok yang penisnya besar dan bisa membuatku keenakan."
Aku tersenyum, merasa sedikit lega. Ia tidak menghakimiku. Ia mengerti. Ia juga seorang wanita yang mencari kepuasan, dan itu membuatku merasa tidak sendirian.
"Kamu ke sini sendirian, Bu?" tanyanya, suaranya terdengar ramah.
"Iya, Kak," jawabku.
"Wah, kebetulan banget," ucapnya, senyumnya semakin lebar. "Aku lagi pengen main-main, nih. Kamu mau enggak main sama temen aku? Aku mau lihat kamu senakal apa kalo lagi main, hehe."
Jantungku berdebar kencang. Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku tidak menyangka percakapan ini akan berujung seperti ini. "Jangan deh, Kak," jawabku, suaraku parau.
Ia tidak peduli. Ia terus merayuku. "Ihh, enggak apa-apa. Siapa nama kamu? Ustadzah Tiara, kan? Enggak apa-apa, Ustadzah Tiara. Aku juga sering kok di entot di sini sama temen-temenku. Di gudang belakang aja, yuk... Temenku ada di sana. Mereka pasti suka banget bisa ngentotin ustadzah alim bercadar gini."
Aku membeku, pikiranku kalut. Aku ingin lari, tapi kakiku terasa lumpuh. Aku tidak tahu harus melangkah ke mana. Semua yang terjadi terasa begitu nyata, tapi juga begitu gila. Aku, seorang ustadzah, dihadapkan pada pilihan gila ini. Aku harus melangkah ke mana?
Tanpa menunggu jawabanku, ia menarik tanganku. Aku, seorang ustadzah, hanya ikut saja. Langkahnya terasa mantap dan penuh keyakinan, sementara langkahku terasa berat, seperti ditarik oleh takdir yang tak bisa kuelak. Aku tidak punya pilihan lain. Aku telah jatuh terlalu dalam, dan kini aku hanyut dalam perbuatan ini.
Kami berjalan menembus rak-rak obat, melewati lorong sempit, menuju pintu yang ada di belakang. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak, tapi tubuhku tidak bisa menolak. Aku hanya bisa pasrah.
Tiba-tiba, aku memecah keheningan. "Siapa... siapa nama Kakak?" tanyaku, suaraku parau. Ini adalah sebuah pertanyaan bodoh, tapi aku butuh sebuah pegangan. Aku butuh nama, sebuah identitas, sebuah pengakuan bahwa aku tidak akan hanyut sendirian di dalam kegilaan ini.
Apoteker itu tersenyum, senyumnya penuh arti. "Anisa," jawabnya.
"Oke, salam kenal ya, Anisa," ucapku. Aku tidak tahu dari mana aku mendapatkan keberanian untuk membalas sapaannya, tetapi rasanya kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
Anisa mengangguk, lalu kembali menggenggam tanganku. "Ayo, Tiara," bisiknya, suaranya serak, penuh gairah. "Temanku sudah menunggu."
"Tapi aku enggak mau bersetubuh," ucapku, suaraku parau. "Aku masih capek banget."
Anisa melepaskan genggamannya, wajahnya terlihat kecewa. "Yahh, terus gimana dong?" tanyanya.
"Aku kocokin penisnya saja ya," tanyaku, sebuah kompromi yang kurasa cukup aman, sebuah jalan keluar yang tidak terlalu jauh dari batas yang kubuat.
Wajah Anisa kembali bersinar, senyumnya lebar. "Iya, deh," jawabnya, suaranya terdengar penuh kemenangan. "Temanku ada lima orang di gudang. Kamu pasti puas mengocok penis mereka. Aku saja setiap hari suka dengan penis mereka berlima, hehe."
Jantungku berdebar kencang. Lima orang? Setiap hari? Aku tidak bisa berkata-kata. Pikiranku kalut, tidak bisa memproses semua yang kudengar. Aku hanya bisa menatapnya, mataku membelalak tak percaya. Ini jauh lebih gila dari apa pun yang pernah kubayangkan. Namun, di tengah kekacauan itu, ada sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Rasa takut, yang seharusnya mendominasi, kini bercampur dengan rasa penasaran yang memabukkan. Apa yang akan terjadi di dalam gudang itu? Bagaimana rasanya mengocok lima penis sekaligus? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi pikiranku, dan aku tahu, aku tidak bisa menolak.
"Ayo," bisikku, suaraku parau. "Aku siap."
Anisa menarik tanganku, membawaku melewati sebuah pintu kecil di belakang apotek. Kami masuk ke dalam sebuah ruangan yang gelap dan lembap, sebuah gudang yang dipenuhi dengan tumpukan kardus. Di sana, di tengah-tengah kegelapan, lima pria muda sedang duduk di lantai. Mereka menatapku, mata mereka membelalak, penuh rasa kagum.
Anisa menyeringai, senyumnya penuh kemenangan. Ia menepuk tanganku, lalu mulai memperkenalkan mereka satu per satu. "Teman-teman, kenalkan, ini Ustadzah Tiara. Ustadzah, ini teman-temanku."
Ia menunjuk seorang pria yang terlihat paling muda, dengan wajah ramah. "Ini Rian, 26 tahun," bisiknya.
Kemudian, ia menunjuk pria lain yang terlihat lebih kekar. "Ini Andi, 28 tahun."
Pria ketiga memiliki wajah yang lebih pendiam. "Ini Gilang, 25 tahun."
Pria keempat, dengan kumis tipis, menatapku lekat-lekat. "Ini Fajar, 29 tahun."
Dan yang terakhir, dengan rambut gondrong. "Ini Rio, 27 tahun."
Mereka semua menatapku dengan kagum. "Masya Allah, cantik banget, Nis," bisik salah satunya. "Enggak nyangka Ustadzah bisa kayak gini."
Anisa tertawa, lalu ia menatap mereka semua dengan serius. "Dengar, ya," ucapnya, suaranya terdengar tegas. "Kalian tidak boleh ngentotin dia. Kalian hanya boleh ngocok di depan Ustadzah. Dan... kalau kalian beruntung... nanti akan dikocokin sama Ustadzah."
Aku terkesiap, tubuhku membeku. Aku hanya bisa berdiri di sana, menatap mereka, bingung. Pikiranku kalut. Ini jauh lebih gila dari apa pun yang pernah kubayangkan.
Mereka semua terlihat sedikit kecewa, bahu mereka terkulai lesu. Aku menatap mereka, bingung. Pikiranku kalut. Apakah mereka akan menolak? Apakah aku akan bebas?
Namun, Anisa memecah keheningan. "Kalian kenapa?" ucapnya, suaranya terdengar tegas. "Ini sudah keberuntungan kalian bisa ngecrot di depan ustadzah alim bercadar kayak Ustadzah Tiara gini. Kapan lagi kalian berlima bisa seperti ini?"
Kata-kata Anisa bagai sihir. Wajah mereka yang tadinya lesu, kini kembali bersemangat. Mereka saling berbisik, mata mereka memancarkan nafsu yang membara.
Anisa tersenyum, lalu berbalik ke arahku. "Aku balik ke toko depan, ya," bisiknya, suaranya serak. Ia melirik ke arah lima pria itu, senyumnya penuh arti. "Kamu bersenang-senang di sini dengan mereka. Nikmati, ya."
Aku membeku, tubuhku terasa dingin. Ia pergi. Ia meninggalkanku sendirian di dalam gudang yang gelap dan lembap ini, bersama lima pria yang menatapku seolah-olah aku adalah hidangan yang lezat. Aku menelan ludah, bingung harus berbuat apa. Aku tahu, aku telah jatuh terlalu dalam.
Rio, pria berambut gondrong itu, mendekat ke arahku. Ia memegang tanganku, menggenggamnya erat. "Sini, Ustadzah, duduk di sini," bisiknya, lalu menuntunku ke sebuah kursi kantor yang cukup besar.
Aku menurut, duduk di sana, sementara mereka semua mengelilingiku. Aku merasa seperti seorang ratu, dipertontonkan dan disembah.
"Kita mulai ya, Ustadzah," ucap Fajar, senyumnya penuh arti.
Kemudian, satu per satu, mereka berlima melepas celananya. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini. Namun, aku segera membukanya kembali. Aku tidak ingin melewatkan satu pun adegan ini.
Aku menatap penis mereka semua, satu per satu. Aku mulai mendeskripsikan mereka di dalam hatiku.
Aku melihat penis Rio yang berukuran sedang, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Penisnya terlihat kencang, dengan urat yang menonjol.
Kemudian, aku menatap penis Andi. Penisnya lebih besar dari milik Rio, dengan kepala yang lebih lebar. Penisnya terlihat kokoh, seolah-olah ia bisa membuatku keenakan.
Setelah itu, aku menatap penis Gilang. Penisnya lebih kecil dari penis Andi, tapi lebih panjang. Penisnya terlihat ramping, dengan ujung yang runcing.
Kemudian, aku menatap penis Rian. Penisnya lebih besar dari penis Gilang, tapi lebih pendek. Penisnya terlihat tebal, dengan kulit yang gelap.
Dan yang terakhir, aku menatap penis Fajar. Penisnya lebih besar dari semuanya. Panjang dan tebal. Bahkan lebih panjang dari punya Pak Budi, dan diameternya jauh lebih besar dari punya Pak Budi. Penisnya terlihat seperti godam, dengan urat yang menonjol. Aku bisa membayangkan bagaimana jika penis itu masuk ke vaginaku, pasti akan merobek vaginaku, dan sensasi itu membuatku gila. Untung mereka semua sudah sepakat tidak memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Jika tidak, vaginaku akan sangat sakit jika dimasuki penis Fajar yang sebesar itu.
Mereka semua langsung mengocok penisnya di depan wajahku yang tertutup cadar. Suara kocokan yang memburu dan napas mereka yang terengah-engah menciptakan simfoni gairah yang mengerikan. Aku merasa seperti dihadapkan pada sebuah dilema yang gila. Lima pria, lima penis, dan aku hanya bisa memilih satu.
"Nah, Ustadzah," ucap Rio, suaranya serak, penuh kemenangan. "Pilih siapa yang mau kamu kocok duluan?"
Aku menelan ludah, bingung harus pilih yang mana. Pikiranku kalut, mencoba menimbang-nimbang. Namun, mataku tak bisa lepas dari satu hal: penis Fajar yang seperti monster itu. Penisnya yang besar dan tebal, yang tadinya membuatku takut, kini terasa begitu memikat. Aku ingin merasakannya. Aku ingin melihat apakah ia sekuat yang kubayangkan. Dorongan untuk menyentuhnya begitu kuat.
Tanpa sadar, tanganku bergerak, mengarah ke penis itu. Sebuah pengakuan yang memabukkan, sebuah penyerahan diri yang tak bisa kuelak.
Tanganku gemetar saat menyentuh penis Fajar. Sensasi yang kurasakan membuatku tersentak. Penisnya terasa sangat tebal, satu tanganku tidak cukup, kemudian tanganku satunya ikut memegang. Aku takjub. Penisnya gagah sempurna di tanganku. Aku bisa merasakan setiap uratnya yang menonjol, dan kehangatan yang memancar dari sana.
"Wah, ternyata Ustadzah Tiara suka yang besar-besar, ya... hahaha," ledek Rio, suaranya serak.
Aku menunduk, pipiku terasa panas. Malu. Namun, hasrat yang memuncak dalam diriku mengalahkan rasa malu itu. Aku tahu, aku telah jatuh terlalu dalam. Dan aku tidak peduli. Aku hanya ingin kenikmatan itu terus berlanjut.
Aku memaju mundurkan tanganku, mengocok penis Fajar. Ketebalannya membuat tanganku lelah, tapi aku terus melakukannya. Fajar mendesah hebat, suaranya serak dan penuh gairah. "Ahh... Ustadzah... enak banget... terus, Sayang... lebih cepat kocokin nya..." bisiknya, tangannya memegang bahuku, menopang tubuhnya yang gemetar.
Keempat pria lainnya, Andi, Gilang, Rian, dan Rio, juga mengocok penis mereka sendiri di depan wajahku yang tertutup cadar. Mereka berempat meracau tak karuan, mengucapkan kata-kata kotor yang memabukkan.
"Ahh... gila... Ustadzah... kamu hebat banget," desah Rio, suaranya parau. "Aku suka wanita yang berpakaian alim seperti ini..."
Andi menjerit pelan, suaranya terdengar penuh kekaguman. "Ahh... lihat... dia bahkan tidak menyentuhku... tapi aku sudah hampir keluar... Ahhh..."
Gilang, yang tadinya diam, kini mendesah hebat. "Ahh... Ustadzah... aku... aku mau lihat wajahmu... ahhh..."
Rian, yang terlihat paling muda, hanya bisa menatapku, matanya membelalak. Ia mendesah, tak bisa berkata-kata. "Ahh... aku gak kuat... aku gak kuat..."
Fajar mendesah lagi, suaranya semakin keras, "Ahh... terus, Ustadzah... tanganmu... tanganmu lembut banget... Ahhh... aku suka kamu... aku suka semuanya... ahhh..."
"Ustadzah... kami berlima... kami semua mau crot di wajahmu... ahhh... kamu izinkan kan?" bisik Andi, suaranya penuh permohonan. "Kami berlima akan membuat cadarmu penuh dengan sperma... ahhh..."
"Boleh, silakan kalian keluarkan di wajahku, aku mau sperma kalian semua," jawabku, suaraku parau, penuh hasrat yang tak bisa lagi kusangkal. Aku sudah terlalu nafsu dengan kondisi seperti ini. Dikelilingi lima penis membuatku sangat bergairah. Aku merasa menjadi ratu, didamba dan disembah oleh para budak nafsuku.
Rio tersenyum, senyum penuh kemenangan. Ia menarik tangan kiriku, mengarahkannya ke penisnya. "Aku mau tangan Ustadzah juga," bisiknya, suaranya serak.
Sekarang, aku mengocok dua penis sekaligus, penis Fajar yang besar dan penis Rio yang lebih kecil. Tanganku bergerak lincah, memaju-mundurkan penis mereka. Kedua orang itu mendesah hebat, suara mereka bercampur menjadi satu.
"Ahhh… ahhh…," desah Rio. "Ustadzah, tanganmu lembut sekali… aku suka… aku suka banget…"
"Ahh… ahhh… terus, Sayang… lebih cepat…" rintih Fajar, suaranya serak.
"Ahh… ahhh… aku suka… aku suka semuanya…," bisikku, tak bisa lagi menahan hasrat. "Aku mau sperma kalian… aku mau semuanya…"
Aku terus mengocok penis Rio dan Fajar. Tanganku bergerak lincah, mengikuti irama desahan mereka. Aku merasa seperti seorang ratu, dipertontonkan dan disembah. Tiba-tiba, tangan kiri Rian memegang kepalaku, dan dengan gerakan kasar, kepalaku didongakkan ke atas. Aku terkesiap, tidak menyangka akan hal itu.
Rian meracau, suaranya parau, "Ahh... Ustadzah... aku mau keluarrr... ahhh..." Ia terus mengocok penisnya, gerakannya semakin cepat, semakin brutal.
"Iya, keluarkan, Rian," jawabku, suaraku parau, penuh dengan hasrat.
Kemudian, semburan sperma mendarat di wajahku, mengenai cadar dan mataku. Aku memejamkan mata, merasakan sensasi itu. Cairan hangat dan kental itu membasahi cadar dan kelopak mataku. Rasanya begitu aneh, namun memabukkan.
Rian melepaskan tangan kirinya dari kepalaku, senyum puas terukir di wajahnya. "Terima kasih, Ustadzah," ucapnya, suaranya serak. Ia kemudian melangkah menjauh, meninggalkan aku dengan sensasi hangat yang masih menempel di wajahku.
Kini, tinggal empat penis lagi yang harus aku puaskan. Aku terus mengocok penis Rio, sementara Fajar memegang tangan kananku, melepaskan tanganku dari penisnya.
"Gantian, Ustadzah," bisiknya. "Biar adil. Aku mau mainan yang lain dulu."
Ia mengarahkan tanganku ke penis Gilang yang ramping dan panjang. Aku menurut, dan tanganku langsung mengocok penis Gilang, sementara tangan kiriku masih mengocok penis Rio.
Kemudian, Fajar menjongkok di depanku, tangannya bergerak ke arah payudaraku. Jantungku berdebar tak karuan, napasku tercekat. Aku deg-degan. Fajar menghentikan gerakannya sejenak, menatapku, senyumnya penuh arti. Lalu, tanpa meminta izin, tangannya berada di dadaku, menyentuh payudaraku dari balik mukena.
"Ahh..." desahku, tak bisa menahan diri. Sensasi sentuhan itu membuatku merinding. Fajar meremasnya pelan. jemarinya memilin putingku. "Payudaramu sempurna Ustadzah," bisiknya, "Aku suka. Ini Tetek ter bagus yang pernah aku temuin, besar dan kenceng banget."
Fajar terus meremas payudaraku, gerakannya semakin keras, seolah ingin menghancurkannya. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahhh... ahhh..." rintihku, suaraku parau.
Kemudian, Andi mendekat, mengusap-usapkan kepala penisnya ke bibirku dari balik cadar. "Ahhh... Ustadzah... aku mau di sepong dong. Aku mau keluar ahh...," rintihnya, suaranya serak.
Aku bingung harus menjawab apa. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak, tapi hasrat dan keinginanku untuk melangkah lebih jauh terlalu kuat untuk kutahan. Andi terus mengusap-usapkan penisnya di bibirku sambil terus mengocok, gerakannya semakin cepat, semakin brutal.
"Iya, bol... ahh..." aku ingin bilang boleh, namun tiba-tiba Andi mendesah tak karuan, suaranya serak, penuh kemenangan. "Ahhh! Aku keluar, Ustadzah!"
Semburan sperma mendarat di cadarku. Aku terkesiap, merasakan cairan hangat dan kental itu membasahi kain cadarku, tepat di depan bibirku, yang tadinya akan kubiarkan untuk menjilati penisnya. Perasaanku campur aduk antara rasa jijik dan kecewa.
Setelah Andi puas, Ia mengelus kepalaku, gerakannya terasa begitu lembut, seolah-olah ia berterima kasih. "Terima kasih, Ustadzah," ucapnya, suaranya serak.
"Sama-sama," jawabku, suaraku parau.
Aku melihat ke sekeliling. Kini, tinggal tiga orang lagi. Ada Rio dan Gilang, yang kedua penisnya masih di tanganku, sedang aku kocok. Dan ada Fajar, yang masih jongkok di depanku, meremas payudaraku. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak, tapi tubuhku tidak bisa menolak. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.
Fajar terus meremas payudaraku, cengkeramannya semakin brutal, dan aku mendesah. Tanganku, di sisi lain, terus memaju-mundurkan pada penis Rio dan Gilang. Mereka berdua meracau tak karuan, suara mereka bercampur menjadi satu.
"Ahhh… Ustadzah… Ahh… Enak banget…," desah Rio, suaranya serak. "Tanganmu… seperti punya malaikat… ahhh…"
"Terus, Ustadzah… terus… lebih cepat… aku mau keluar… ahhh…" rintih Gilang, suaranya parau.
Aku terus mengocok, tapi tanganku terasa lelah, pergelangan tanganku sakit. Aku tidak bisa lagi menahan diri. Aku melepas tanganku dari penis Rio dan Gilang. Mereka berdua menjerit kecewa.
"Rio, Gilang, tanganku capek," ucapku, suaraku parau. "Berhenti dulu, ya. Kalian mengocok penis kelian sendiri dulu."
"Yahh, padahal lagi enak-enaknya, Ustadzah," jawab Rio, suaranya terdengar memohon. "Bagaimana kalau kita ngentot aja?"
Jantungku berdebar kencang. Aku bingung dengan permintaan Rio. Di satu sisi, aku sangat menginginkannya. Apalagi, tadi Pak Toni cuma memasukkan penisnya sebentar saja. Aku jadi sedikit tanggung. Aku bingung, apakah aku mau atau tidak dengan ajakan Rio. Tapi jika aku mau, pasti yang lain ikut juga. Aku sangat bingung. Aku takut, tapi di saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang terasa begitu memabukkan. Aku tidak tahu, apakah aku harus mengikuti ajakan Rio atau tidak. Tapi, aku ingin lebih. Aku ingin kenikmatan itu terus berlanjut.
Bersambungg...
