𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟓𝟏 𝐃𝐢 𝐆𝐞𝐧𝐣𝐨𝐭 𝐒𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐋𝐢𝐯𝐞 𝐒𝐭𝐫𝐞𝐚𝐦𝐢𝐧𝐠


"Jangan, Rio. Aku tidak mau," ucapku, suaraku bergetar. Aku menggelengkan kepala, mencoba menolak ajakan Rio.

Rio terlihat kecewa, ia menghela napas. "Yah, gimana dong, Ustadzah?" tanyanya, suaranya parau. "Padahal kan kami mau puasin Ustadzah."

Pikiranku kalut, aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku ingin menolak, tapi di sisi lain, aku juga menginginkannya. Aku ingin kenikmatan itu, tetapi rasa takutku lebih besar.

"Gini saja, deh," ucapku, mencari jalan tengah. "Aku isap saja penis Rio dan Gilang, bergantian. Bagaimana?"

"Boleh, Ustadzah!" ucap Gilang dengan cepat, matanya berbinar. Ia langsung menyodorkan penisnya ke hadapanku.

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku menyingkap sedikit cadarku, lalu ku genggam penis Gilang. Penisnya terasa ramping dan panjang. Aku memasukkan penisnya ke dalam cadarku, lalu ku jilat-jilat kepala penisnya. Sensasi itu membuatku gila.

"Ahh… ahhh… enak, Ustadzah…," desah Gilang, suaranya serak. "Terus… lebih cepat…"

Aku menurut, ku masukkan penisnya ke dalam mulutku, kemudian aku memaju-mundurkan kepalaku. Aku tidak peduli dengan rasa jijik yang seharusnya ada. Aku hanya ingin kenikmatan itu terus berlanjut. Gilang mendesah hebat, suaranya memenuhi ruangan.

"Enak banget mulutmu, Ustadzah," ucap Gilang, suaranya parau. Ia mendongakkan kepala, matanya terpejam, menikmati setiap gerakanku.

Sementara itu, Rio terus mengocok penisnya sendiri di sampingku. Fajar masih memainkan payudaraku, jemarinya memilin putingku dari luar gamisku.

"Ahh... aku mau keluar... aku gak kuat," desah Gilang, suaranya serak. "Ahh... Ustadzah... aku mau keluar..." Aku merasakan penisnya berkedut di dalam mulutku.

Kemudian, dengan gerakan yang tiba-tiba, Gilang mengeluarkan penisnya dari mulutku. Ia mengocoknya dengan cepat di depan mukaku. Aku segera memejamkan mata, takut spermanya akan masuk ke mataku.

"Ahh!" ia menjerit. Kemudian, crot... crott... Gilang mengeluarkan sperma hangatnya, yang mendarat di mukaku dan cadarku.

"Ahh, enak banget isapan Ustadzah Tiara, aku enggak tahan," ucap Gilang, suaranya serak, penuh gairah. Ia kemudian membersihkan dirinya dan berjalan menjauh, memberikan ruang.

Kemudian Rio, yang sejak tadi mengocok penisnya, kini menyodorkan penisnya ke arahku. "Giliranku, Ustadzah," ucapnya, matanya memancarkan nafsu.

Namun, tiba-tiba Fajar menghentikannya. "Bentar," ucap Fajar. "Ustadzah berbaring saja biar lebih enak."

Tanpa menunggu persetujuanku, Fajar menggendongku, membawaku ke pojok gudang yang tersembunyi di balik tumpukan kardus. Di sana, sudah ada matras yang cukup nyaman. Ia menidurkanku dengan lembut. Rio berlutut di samping kiriku, tepat di depan kepalaku. Dia memintaku untuk memasukkan penisnya ke dalam mulutku. Aku menyingkap sedikit cadarku, lalu menuntun penis itu masuk ke dalam mulutku. Aku menjilat, kemudian mengisap penisnya. Rio mendesah hebat, kepalanya mendongak, matanya terpejam.

Sementara itu, Fajar berada di samping kananku. Tangan kirinya meremas payudaraku, sementara tangan kanannya mengusap pahaku dari luar gamis. Perlahan, gamisku terangkat ke atas, memperlihatkan pahaku yang mulus. Fajar mengusapnya,

Rio, yang tidak mau kalah, ikut meremas payudaraku dan pahaku juga, sementara mulutku masih menghisap penisnya. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.

Tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh vaginaku dari luar celana dalam. Aku tersentak, mendesah kencang. "Ahh!" Aku tidak tahu itu tangan siapa. Namun, sentuhan itu membuatku gila, membuatku semakin menginginkan lebih.

Tangan itu terus mengusap-usap vaginaku, menembus celana dalamku. "Ahh... iyaaah..." Aku mendesah, suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini. Sensasi itu begitu aneh, namun memabukkan.

Kemudian, Fajar meraih tanganku. Ia menuntunku, mengarahkannya ke penisnya yang sangat besar itu. "Kocokin, Ustadzah," bisiknya, suaranya serak.

Aku kembali memegang penis monster itu. Rasanya sangat memabukkan sekali. Aku mengocoknya, tangan kananku melingkarinya dengan erat. Aku bisa merasakan setiap uratnya yang menonjol, dan sensasi itu membuatku gila.

Di saat yang sama, gesekan tangan di vaginaku terus berlanjut, membuatku semakin tak terkendali. Aku merasakan gejolak hebat di dalam diriku. Gelombang orgasme terasa begitu dekat. Aku menjerit, "Ahh! Aku mau keluar! Ahhhh!" aku tak bisa lagi menahan diri. Aku mencengkeram erat penis Fajar, tanganku bergerak semakin cepat, mengikuti irama napasku yang memburu.

Fajar mendesah, suaranya serak dan penuh gairah. "Ahh... Ustadzah... tanganmu... tanganmu lembut banget..." bisiknya.

Sementara Rio, yang masih berlutut di depanku, juga mendesah, suaranya bercampur dengan desahan Fajar. "Ahh... mulutmu enak banget... aku mau keluar... ahhh..." rintihnya. Aku terus menghisap penis Rio, sementara tangan kananku masih mengocok penis Fajar. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.

Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang basah dan hangat di wajahku. Aku membuka mata, dan melihat Rio menumpahkan spermanya di wajahku, menutupi cadarku. "Ahh... Ustadzah... aku keluar..." bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan. Ia kemudian melangkah menjauh, meninggalkan aku dengan sensasi hangat yang masih menempel di wajahku.

Sementara Rio, yang masih berlutut di depanku, juga mendesah, suaranya bercampur dengan desahan Fajar. "Ahh... mulutmu enak banget... aku mau keluar... ahhh..." rintihnya.

Aku terus mengisap penis Rio, sementara tangan kananku masih mengocok penis Fajar. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.

Tiba-tiba, Rio melepas penisnya dari mulutku, kemudian aku merasakan sesuatu yang basah dan hangat di wajahku. Aku membuka mata, dan melihat Rio menumpahkan spermanya di wajahku, dan cadarku. "Ahh... Ustadzah... aku keluar..." bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan.

Setelah menumpahkan sperma nya, Ia kemudian melangkah menjauh, meninggalkan aku dengan sensasi hangat yang masih menempel di wajahku.

Tak lama kemudian, Fajar mengusap vaginaku semakin cepat. Ia menggerakkan jemarinya dengan brutal, membuatku menjerit, tak bisa menahan diri. Aku mendesah, "Ahh... iya... terus..." dan aku menyadari, dari tadi itu adalah tangan Fajar. Ia tahu bagaimana cara membuatku gila.

Aku merasakan kembali gelombang orgasmeku yang tadi tertunda. Gelombang itu membanjiri seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang begitu kuat, begitu nyata, dan begitu memabukkan. Aku menjerit, tubuhku kejang, dan aku merasakan kehangatan yang membanjiri celana dalamku.

"Enak, Ustadzah?" tanya Fajar, suaranya serak, penuh kemenangan. Ia menunduk, menatapku lekat-lekat, senyum misterius mengembang di bibirnya.

"Enak banget," jawabku, napasku masih memburu. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Sentuhan tangan di vaginaku dan sensasi penisnya yang besar di tanganku, membuatku gila.

"Mau lebih enggak, Ustadzah?" godanya, suaranya serak. Aku tahu, ia memancingku, ia ingin melihat seberapa jauh aku akan melangkah. Aku juga tahu ke mana arahnya. Aku membayangkan penisnya yang sangat besar ini masuk ke dalam vaginaku. Aku membayangkan bagaimana rasanya, dan sensasi itu membuatku merinding. Aku menginginkannya, dan aku tidak bisa menyangkalnya lagi.

Aku mengangguk pelan, sebuah pengakuan yang membuatku merasa sangat malu, tapi juga sangat bebas. Fajar menyeringai, senyumnya penuh kemenangan. Tanpa basa-basi, ia bangkit. Kemudian ia melepas celana dalamku.

Celana dalamku terlepas sepenuhnya, menampakkan vaginaku yang sudah basah dan siap. Fajar menatapnya dengan penuh kekaguman. "Masya Allah, Ustadzah... memekmu indah sekali," bisiknya, suaranya serak. Tanpa menunggu lebih lama, ia melebarkan kakiku, lalu menunduk dan mulai menjilati vaginaku. Sensasi lidahnya yang basah dan kasar membuatku mendesah hebat. "Ahh... Fajar... enak..." rintihku, tak bisa menahan diri.

Fajar terus menjilati vaginaku, gerakannya semakin cepat, semakin brutal, membuatku merasa gila. Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benakku. Aku harus meminta izin pada Mas Dimas. Aku meraba-raba tas di sampingku, mencari ponsel. Aku menemukannya, dan saat layarnya menyala, aku melihat notifikasi pesan dari Mas Dimas.

"Assalamualaikum, Sayang," tulisnya.

Aku segera membalasnya. "Waalaikumsalam, Mas."

"Gimana, Sayang, hari ini? Kegiatan kamu mau ngapain?" tanyanya.

Aku bingung harus jujur atau bohong. Pikiranku kalut, mencoba menimbang-nimbang. Aku memutuskan untuk berbohong. "Tadi habis beli sayur, Mas, lalu ke apotek. Beli pil anti hamil," balasku, menyembunyikan sebagian kebenaran. "Sekarang lagi nge-packing pesanan pembeli."

"Wih, di-entot penjual sayur enggak tadi, Dek?" tanyanya.

"Enggak, Mas. Dia minta, tapi Adek enggak sempat izin ke Mas, kan? Jadi Adek enggak kasih, Adek cuma ngegodain dia aja, hehe," jawabku.

"Oke, Dek. Nanti live enggak?"

"Enggak tahu, Mas. Menurut Mas, Adek enaknya live apa enggak?"

"Adek coba live aja. Biar enggak kesepian. Sekalian godain viewers-viewers Adek. Hehe," balasnya.

Balasan mas dimas membuat Aku merasa tertantang. Aku ingin melangkah lebih jauh."Oke, Mas. Adek live ya," balasku.

"Iya, Dek. Live saja. Anggap saja nanti Mas melihat Adek," tulisnya. "Live yang lebih berani dari biasanya, ya. Live yang bisa membuat Adek bisa puas."

"Maksud Mas?" balasku bingung. "Live yang gimana?"

"Pakai gamis ketat yang Adek punya, ya," balasnya. "Dan pakai bra merah itu. Mas mau lihat Adek goyang, remas payudara sendiri. Lakukan semuanya yang Adek mau. Mas suka Adek yang nakal."

Aku membeku. Dimas memintaku untuk memamerkan tubuhku ke ribuan penonton. Namun, di tengah kebingungan itu, aku merasa tertantang. "Mas... Mas enggak marah?" tanyaku.

"Enggak, Sayang. Mas tidak marah," jawabnya. "Mas justru suka lihat Adek yang nakal. Adek harus berani."

Tantangan dari Mas Dimas semakin memicuku. Aku tahu, ini adalah sebuah pengakuan bahwa ia menyukai perbuatanku. "Ya sudah, Mas," balasku. "Adek akan live. Tapi janji ya, Mas, jangan marah kalau Adek nakal."

"Mas janji," jawabnya.

Setelah Mas Dimas berjanji, aku semakin merasa tertantang. Aku ingin melangkah lebih jauh, Sebuah ide gila terlintas di pikiranku. Gimana kalau aku live sambil berbuat mesum seperti ini dengan Fajar? Ahh, pasti akan enak sekali.

Sementara itu, Fajar masih menjilati vaginaku di bawah. Ia mendongakkan kepalanya, suaranya serak. "Kenapa, Ustadzah?" tanyanya. "Balas chat siapa?"

"Enggak siapa-siapa, Jar. Aku harus pulang," ucapku, suaraku parau.

Fajar menghentikan jilatannya, mendongakkan kepala, dan menatapku dengan mata penuh kekecewaan. "Yahh, tanggung banget, Ustadzah," rintihnya. "Aku belum puas."

Aku terdiam sejenak, memikirkan ide gila. Sebuah senyum tipis terukir di balik cadarku. "Gimana kalau kamu ikut aku pulang aja?" tanyaku.

Fajar terkejut. Matanya membelalak tak percaya. "Wah, enggak apa-apa, Ustadzah?" tanyanya, suaranya parau. "Di rumah sepi, memang?"

"Iya, enggak apa-apa kok," jawabku, suaraku terasa lebih percaya diri. "Rumahku sepi. Suamiku lagi dinas ke Bali."

Fajar tertawa, tawa yang terdengar penuh kemenangan. "Wahh, nakal banget, ya, Ustadzah," ucapnya. "Suami ke Bali, malah ngajak aku ke rumah, hehe."

"Ihh, kamu mau apa enggak?" tanyaku, nadaku terdengar tidak sabar.

"Iyaa, jelas mau, lah, Ustadzah, hehe," jawabnya, suaranya dipenuhi kegembiraan.

"Yaudah, ayo," ucapku. "Pakai lagi baju kamu."

Fajar segera bangkit, mengambil bajunya yang berserakan di lantai, lalu memakainya kembali. Aku juga merapikan gamisku, mengambil celana dalamku, dan memasukkannya ke dalam tas. Pikiranku berkecamuk, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Setelah Fajar selesai memakai bajunya dengan rapi, dia langsung mengajakku keluar dari gudang. "Ayo, Ustadzah, aku sudah siap," katanya.

"Bentar, bantuin aku bersihin sperma di wajahku dong," pintaku, suaraku parau. "Ada tisu, enggak?"

"Ada," jawabnya. Fajar mengambil beberapa lembar tisu, kemudian dengan lembut membersihkan sperma yang menempel di cadarku dan wajahku. Jari-jarinya terasa hangat di kulitku, sebuah sentuhan yang membuatku merinding. "Ini, Sayang, sudah bersih," bisiknya. Ia tersenyum, senyumnya penuh kemenangan. "Tapi aku suka, lho, lihat wajah kamu penuh dengan sperma kami begini. Kamu terlihat sangat seksi. hehe"

Aku menunduk malu, tidak bisa berkata-kata. "Ihh, Fajar, ada-ada saja," balasku, mencoba terdengar kesal, padahal di dalam hatiku, ada sensasi suka yang tidak bisa kuingkari.

Setelah semua bersih, ia menarik tanganku, mengajakku keluar dari toko. Aku melirik ke belakang, melihat gudang yang gelap dan lembap itu, saksi bisu dari semua kegilaan yang baru saja terjadi.

Aku masih bisa mencium bau sperma, yang masih menempel di cadarku. sebuah pengingat dari perbuatan gila yang baru saja terjadi.

Kami berjalan ke luar toko. Di depan pintu, kami melewati Anisa yang sedang melayani seorang pembeli.

"Nis, aku keluar dulu ya," ucap Fajar santai.

Anisa tersenyum, senyumnya penuh arti. "Iya, Jar. Ihh, Ustadzah suka yang gede-gede juga, ya, hehe."

Aku melihat ke arahnya dengan malu-malu, lalu pandanganku beralih ke pembeli. Wanita itu menatapku dengan tatapan jijik dan menutup hidungnya. Aku tahu, bau sperma yang menempel di cadarku mungkin sampai ke hidungnya. Aku tidak peduli. Aku hanya terus berjalan ke arah motorku.

"Jar, ayo, bawa motorku aja," ucapku, suaraku parau.

"Aku bawa motor sendiri aja, Ustadzah," jawabnya. "Biar enak kalo balik, biar Ustadzah gak perlu anterin."

"Ohh, yaudah kalo gitu," balasku.

Kami pun berangkat, Fajar mengikuti di belakangku. Perjalanan terasa begitu singkat, seolah-olah waktu melayang begitu saja. Aku membelah jalanan yang tidak terlalu ramai. Angin malam terasa dingin di wajahku, namun yang kurasakan adalah kehangatan. Kehangatan dari keberanianku, kehangatan dari nafsu yang memabukkan, dan kehangatan dari Fajar yang mengikutiku dari belakang.

Di setiap lampu merah, aku melirik ke belakang. Fajar selalu ada di sana, menatapku, senyumnya penuh arti. Ia adalah temanku, partnerku dalam permainan gila ini. Aku tidak merasa sendirian lagi.

Aku memikirkan apa yang akan terjadi di rumah. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak, tapi hasrat dan keinginanku untuk melangkah lebih jauh terlalu kuat untuk kutahan. Akhirnya, aku pun tiba di depan rumah. Jantungku berdebar kencang. Fajar memarkir motornya di belakangku, lalu ia turun, matanya menatapku lekat-lekat.

"Masuk, Jar," ajakku.

Kami berdua berjalan masuk ke dalam rumah. Aku membuka pintu, dan keheningan menyambutku. Rumah terasa sepi, hanya ada kami berdua.

"Gimana, Ustadzah?" bisik Fajar, suaranya serak. "Kita mau main di mana?"

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku menatapnya, lalu sebuah ide melintas di benakku. "Bentar, Jar," jawabku, suaraku parau. "Aku mau mandi dulu. Nanti aku live streaming sambil jualan gamis dulu. Kamu boleh ikut tapi jangan bersuara dan jangan masuk kamera ya."

Fajar mengerutkan keningnya, ekspresinya dipenuhi kebingungan. Ia terlihat kecewa, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. "Yahh, kenapa, Ustadzah? Aku enggak sabar," rintihnya, suaranya terdengar memohon. "Lagian, kenapa harus live streaming segala? Aku di sini buat Ustadzah puas, bukan buat jualan."

"Ssst," bisikku, menaruh telunjuk di bibirku. "Ini juga buat kita senang, kok. Ini bagian dari permainannya," ucapku, senyumku penuh arti. "Percaya sama aku. Kamu akan suka."

Fajar menghela napas, namun ia mengangguk pasrah. "Ya udah, Ustadzah," jawabnya, suaranya masih terdengar kecewa. "Tapi janji, ya, setelah live streaming, Ustadzah cuma buat aku."

"Iya, Jar, tenang aja," jawabku. Kemudian aku menyuruh Fajar duduk di sofa ruang tamu. "Kamu tunggu di sini," bisikku. Aku bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri, dan berganti pakaian. Setelah mandi, aku memilih gamis yang cukup ketat, lengkap dengan cadar dan jilbab pendek. Aku mengaca, dan pantulan di cermin membuatku tersenyum. Lekuk tubuhku tercetak jelas, membuatku terlihat sangat seksi di balik pakaian syar'I yang ketat ini.

Aku keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ruang tamu. Fajar menatapku, matanya membelalak takjub. "Masya Allah, Ustadzah," bisiknya, suaranya serak. "Aku enggak nyangka badan Ustadzah seseksi ini. Di balik gamis longgar yang tadi, ternyata Ustadzah menyimpan tubuh seperti bidadari."

Aku tersenyum, pipiku terasa panas. "Enggak, ah," jawabku, mencoba menutupi kegugupanku.

"Aku enggak sabar lihat tubuh telanjang Ustadzah," bisiknya lagi.

Aku tertawa pelan. "Sabar, Jar," godaku. "Semua akan ada waktunya."

Aku hanya tersenyum, lalu aku mengajaknya ke studioku. Ruangan kecil itu kini terasa berbeda, dipenuhi aura yang aneh. Aku menyiapkan semua alat live streamingku. Aku duduk di kursi, tepat di depan kamera. Fajar berdiri di sampingku, tangannya sesekali menyentuh pahaku.

Aku menarik napas dalam, lalu menekan tombol "Live". Notifikasi langsung bermunculan, dan dalam sekejap, ribuan penonton sudah bergabung.

"Assalamualaikum semuanya," sapaku, suaraku parau. "Maaf ya, aku lama enggak live. Tadi lagi sibuk nge-packing pesanan. Tapi sekarang, Aku akan temanin kalian semua."

Tak lama, komentar-komentar mulai bermunculan.

"Wihh.. Ustadzah Tiara sudah live!"

"Ustadzah, pakai gamis apa itu? Kok ketat banget?"

"Seksi banget, Ustadzah, aku suka!"

"Ustadzah, goyang dong!"

Aku tersenyum, sebuah senyum penuh kemenangan di balik cadar. "Assalamualaikum, viewers," sapaku, suaraku parau. "Terima kasih sudah nonton. Malam ini... kita akan jualan gamis yang baru, ya."

Aku mulai menggoyangkan pinggul, memamerkan lekuk tubuhku yang tercetak jelas di balik gamis. Fajar menyeringai, ia membelai pahaku perlahan, lalu meremasnya dari balik gamis. Aku menjerit tertahan, namun terus berbicara ke kamera, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

"Gamisnya nyaman banget, ya... bahannya halus..." desahku, suaraku parau, tak bisa menahan diri. "Emmhh..."

Fajar terus menyeringai. Ia jongkok di depanku, mengangkat gamisku sampai paha, kemudian membelai pahaku dengan lembut. Aku mendesah, "Ahh..." Pikiranku kalut, namun aku terus berbicara ke kamera, mencoba terlihat normal.

Komentar-komentar nakal membanjiri layar. "Ustadzah, buka kancingnya, dong!" tulis salah satu komentar. "Gamisnya kurang terbuka, Ustadzah! Kita mau lihat belahannya!" tulis yang lain.

Aku tersenyum, sebuah senyum yang penuh arti. "Sabar, teman-teman," ucapku, suaraku parau. "Ayo, kasih Paus dulu, yaa, baru aku buka satu kancing, hehe."

Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar. Mas Bims masuk ke live-ku, dan langsung mengirimkan Paus. Jantungku berdebar tak karuan. Komentar-komentar semakin menggila, menagihku untuk melepas kancing gamisku.

"Ayoo, Ustadzah! Sudah dikasih Paus, tuh!"

"Buka, Ustadzah, buka!"

Mau tak mau, aku membuka satu kancing gamisku. "Satu kancing, ya, teman-teman," ucapku, suaraku bergetar. "Kan tadinya satu Paus, satu kancing."

Tiba-tiba, notifikasi lain muncul. Mas Bims mengirimkan dua Paus lagi. Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku tahu, aku tidak bisa menolak.

Aku membuka dua kancing lagi, memperlihatkan bra merah dan belahan payudaraku yang indah.

Komentar-komentar semakin gila.

"Masya Allah, Ustadzah, bra merah!"

"Aku mau juga dong digoyang Ustadzah!"

"Ustadzah, goyang lagi, kita mau lihat semuanya!"

"Ustadzah, kenapa enggak dibuka semuanya aja? Hehe."

"Ahhh, aku suka, Ustadzah, yang kayak gini, binall!"

Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Gam... gamisnya nyaman banget, ya..." rintihku, suaraku parau. Di bawah sana, Fajar terus membelai pahaku, dan sesekali ia mengusap vaginaku dari luar gamis. Aku menggeliat, merasakan kenikmatan yang membanjiri seluruh tubuhku.

"Mau lebih, Ustadzah?" bisik Fajar, suaranya serak. Dia bangkit di sampingku. Ia meraih tanganku, lalu menuntunnya ke penisnya yang sudah tegang. "Pegang, Sayang..."

Aku memegang penisnya dari balik celana. Penisnya sudah tegang, terasa sangat besar sekali. Jantungku berdebar tak karuan. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menahan diri.

Kemudian, dia membuka celana dan menurunkan resletingnya, lalu melorotkan celananya sampai ke lantai. Penisnya terlihat sangat besar di balik celana dalamnya. Tanpa aba-aba, tanganku langsung membuka celana dalam Fajar. Penis yang sangat besar itu mengacung ke arahku. Menatapnya, aku tidak lagi fokus ke live-ku. Tatapanku terpaku pada penis Fajar.

Ku genggam penis itu, ku kocok pelan. Sensasi itu begitu memabukkan, membuatku gila. Aku kemudian mencoba fokus ke live. Tanganku mengocok penis Fajar, sementara bibirku terus berbicara ke kamera, berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Sambil tanganku terus mengocok penisnya, Fajar mengelus pahaku. Elusannya semakin ke atas, melampaui lutut, hingga menyentuh vaginaku dari balik celana dalam. Aku tersentak, napasku tertahan. Fajar terus mengelusnya, jari-jarinya yang kasar membelai celah di antara pahaku, merasakan kehangatan yang membanjiriku.

Aku mendesah hebat, suaraku parau. Pikiranku kalut, namun hasratku terlalu kuat untuk kutahan. Di layar ponselku, komentar-komentar nakal semakin membanjiri, seolah-olah penonton bisa merasakan apa yang sedang terjadi.

"Remas payudaramu sendiri, Ustadzah! Ayo!"

"Aku gak tahan liatnya!"

"Go Ustadzah go! Kita suka kamu yang gini!"

Mataku terpaku pada komentar itu. Tiba-tiba, tanpa berpikir panjang, aku langsung meremas payudaraku dengan tangan kiri. Tanganku yang lain terus mengocok penis Fajar. Aku mencengkeram payudara besarku, memijat dan meremasnya dengan brutal, merasakan setiap inci dari sana. Sensasi itu membuatku gila, tubuhku merinding, dan aku mendesah hebat.

"Ahh… ahhh…," rintihku, suaraku parau. "Enak… enak banget…”

Fajar menyeringai, senyumnya penuh kemenangan. Ia tahu, aku sudah sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Ia membisikkan sesuatu di telingaku, suaranya serak, penuh hasrat. "Ustadzah, kamu hebat… Aku suka kamu yang begitu… Kamu adalah wanita paling seksi dan berani yang pernah aku temui."

Fajar menyeringai puas, lalu menyuruhku berdiri. Dengan gerakan yang mantap, ia jongkok di depanku, matanya menatap lekat-lekat lekuk tubuhku yang masih tertutup gamis. Perlahan, ia mengangkat gamisku hingga ke pinggang, lalu menurunkan celana dalamku. Sebuah sensasi dingin menerpa kulitku, membuatku bergidik. Fajar tersenyum, lalu menyuruhku duduk kembali.

Aku menurut, duduk di kursi di depan kamera, sementara Fajar masih jongkok di depanku. Aku mengatur ulang kameraku, hanya menampilkan kepala dan bagian atas payudaraku. Fajar kemudian membuka kakiku, memposisikan dirinya di tengah-tengah. Tangannya yang kasar menyentuh vaginaku, membelainya, membuatku mendesah hebat. "Ahh... Fajar..." rintihku, suaraku parau.

Ia mengabaikan rintihanku, lalu menunduk. Lidahnya yang hangat menyentuh vaginaku, menjilatinya, membuatku menjerit tertahan. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Fajar... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku bisa melihat komentar-komentar yang semakin gila di layar.

"Ustadzah, goyang terus! Aku suka liat goyanganmu!"

"Ahh... Ustadzah... kita mau lihat semuanya... buka gamisnya... buka semuanya..."

"Enak ya Ustadzah? wahh fajar siapa tuh ustadzah"

Aku tidak peduli dengan komentar-komentar itu, hanya fokus pada sensasi yang kurasakan. Fajar terus menjilati vaginaku, gerakannya semakin cepat, semakin brutal. Aku menjerit, "Ahh! Fajar! Aku... aku mau keluar..." rintihku, tak bisa menahan diri. Aku mencengkeram erat kursi yang kududuki, berusaha menahan gelombang kenikmatan yang membanjiri seluruh tubuhku. Aku mendesah, suaraku semakin keras, dan aku tahu, ribuan orang di luar sana mendengarnya.

Fajar mengangkat kepalanya, tersenyum. "Ustadzah, kamu hebat... Kamu tahu bagaimana cara membuat kami gila..." bisiknya

Fajar terus menjilati vaginaku, gerakannya semakin cepat, semakin brutal. Lidahnya yang hangat menyentuh setiap inci bibir vaginaku, membuatku menjerit tertahan. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Aku merasakan gelombang kenikmatan yang membanjiri seluruh tubuhku. Tubuhku menegang, pinggulku bergerak tak terkendali. Aku mencengkeram erat kursi yang kududuki, berusaha menahan sensasi yang begitu kuat, begitu nyata, dan begitu memabukkan.

"Ahh! Fajar! Aku... aku mau keluar..." rintihku, tak bisa menahan diri.

Fajar tidak peduli. Ia terus menjilati, gerakannya semakin cepat, semakin brutal. Aku menjerit, "Ahh! Aku keluar! Ahhhhh!" Tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali. Aku merasakan gelombang kenikmatan membanjiri seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang begitu kuat, begitu nyata, dan begitu memabukkan. Cairan hangat membasahi vaginaku, dan Fajar masih menjilatinya. Ia menelan semua cairan orgasmeku tanpa ragu, seolah-olah ia sedang mencicipi sebuah hidangan yang lezat.

Setelah orgasme, aku terengah-engah, lemas, dan ambruk di kursi. Aku melirik layar ponselku, dan melihat komentar-komentar yang semakin gila.

"Wah, siapa tuh yang gerak-gerak di bawah?"

"Enak ya, Ustadzah? Pacar baru, ya?"

"Masya Allah, aku mau juga dong dijilatin Ustadzah!"

"Kita mau lihat cowoknya dong Ustadzah!"

"Enak ya Ustadzah? wahh fajar siapa tuh ustadzah"

Aku tidak peduli dengan semua komentar itu. Aku hanya tersenyum sinis, sebuah senyum kemenangan di balik cadarku. Aku tahu, mereka semua iri. Mereka semua menginginkan apa yang fajar miliki. Mereka semua ingin menjadi Fajar. Mereka semua ingin merasakan apa yang fajar rasakan. Aku merasa seperti seorang ratu, dipertontonkan dan disembah. Aku tahu, permainan ini baru saja dimulai.

Fajar menyeringai, lalu ia mengambil ponsel dan tripodku, menyerahkannya padaku. "Pegang, Ustadzah," bisiknya. Aku memegangnya dengan tangan gemetar. Fajar sedikit mendorong kursiku mundur, lalu ia berdiri di belakang ponselku, memposisikan pinggangnya tepat di tengah-tengah kakiku. Penisnya yang sangat besar dan tegang berada tepat di depan vaginaku. Aku melihat kamera ponselku, dan aku hanya mengarahkannya ke wajahku, memastikan hanya bagian atas tubuhku yang terlihat oleh para penonton.

Aku menatap Fajar. Ia memposisikan penisnya di vaginaku, kemudian menggesek-gesekkannya ke bibir vaginaku. Sensasi itu membuatku mendesah hebat. "Ahh... Fajar... enak..." rintihku, suaraku parau.

Fajar mengabaikan rintihanku, ia terus menggesekkan penisnya, gerakannya semakin cepat, semakin brutal. Aku menjerit tertahan, tak bisa menahan diri. Aku merasakan kenikmatan yang membanjiri seluruh tubuhku. Di layar, komentar-komentar semakin gila.

"Wah, kenapa tuh Ustadzah? Ada apa di bawah?"

"Terus, Ustadzah, jangan berhenti!, sampe di entot"

"Enak kan, Ustadzah? Aku mau juga dong!"

Aku tidak peduli dengan komentar-komentar itu. Aku hanya fokus pada sensasi yang kurasakan. Fajar terus menggesekkan penisnya, membuatku gila. Aku menjerit, "Ahh! Fajar! Enakk.." rintihku, tak bisa menahan diri.

Fajar mendorong penisnya perlahan. Aku mencengkeram lututku. Sensasi sakit yang tajam membuatku menjerit, "Ahh, Jar, sakit... penismu terlalu besar buatku."

Fajar menunduk, menatapku lekat-lekat. "Tahan, Ustadzah," bisiknya, suaranya serak. "Tahan sebentar saja, ya."

Ia terus mendorongnya, dan aku bisa merasakan kepala penisnya masuk. Rasa sakit yang tajam itu membuatku menjerit lagi. "Stop, Jar, stop dulu. Sakit!"

Fajar berhenti. Aku melihat ke bawah. Kepala penisnya sudah masuk, vaginaku terasa sangat penuh, sangat sesak. Aku terengah-engah, merasakan sensasi yang begitu aneh.

Kemudian, Fajar memundurkan penisnya lagi. Ia tidak mencabutnya sepenuhnya, hanya mengeluarkannya sedikit. Kemudian ia memajukannya lagi, hanya kepala penisnya yang masuk. Gerakan itu begitu enak. Rasa sakit yang tajam itu perlahan tergantikan oleh kenikmatan yang memabukkan. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.

Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Tanganku yang memegang tripod gemetar. Aku tidak bisa berkata-kata, hanya mendesah, "Ahh... iya, Jar... terus... lebih cepat..."

Fajar terus memaju mundurkan penisnya. Sensasi itu begitu memabukkan, membuatku mendesah tak karuan. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini.

Tiba-tiba, ia menghentikan gerakannya. Ia menatapku lekat-lekat, matanya dipenuhi nafsu. Kemudian, dengan hentakan keras, dia memasukkan penisnya.

"Ahhh! Sakitttt..." Aku menjerit, suaraku parau, dipenuhi rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan yang memabukkan. Penisnya masuk hampir seluruhnya, mentok di rahimku. Vaginaku terasa sesak sekali.

Fajar mendesah hebat, suaranya serak. "Ahh! Enak banget memek Ustadzah, Sempit banget. Ahh.." desahnya.

Aku yakin desahan itu terdengar di live ku, terdengar oleh ribuan penonton yang menyaksikan. Aku merasa malu, tapi anehnya, aku juga merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku suka. Aku suka perbuatan ini.

Kemudian, Fajar memaju mundurkan penisnya perlahan. Gerakannya kini lebih lembut, lebih teratur. Setiap dorongannya terasa begitu dalam mentok di rahimku, begitu memuaskan. Kami berdua mendesah, "Gimana, Sayang?" bisiknya, suaranya serak. "Masih sakit?"

Aku hanya bisa menggeleng, isak tangisku bercampur dengan desahan yang semakin keras. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan ini.

Di layar ponsel, aku bisa melihat komentar para penonton semakin gila.

"Genjot terus, Ustadzah! Kita suka lihat Ustadzah ekspresinya keenakan gini!"

"Ahh, aku enggak tahan, aku lihat sambil coli!"

"Aku mau genjot juga dong, Ustadzah! Enak kan digenjot kontol?"

Aku mendesah, tak bisa lagi menahan diri. "Ahh... terus, Sayang... lebih cepat..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku melirik kamera, menyunggingkan senyum kecil yang penuh godaan di balik cadarku.

"Gimana, teman-teman? Enak kan kalian lihat aku begini? Kalian mau kan merasakan apa yang dia rasakan sekarang? Kontol ini... enak banget loh. Kontolnya masuk ke punyaku. Gede banget.. punya kalian se gede dia juga gak? Ahh…" Ucapkuku ke kamera, suaraku begitu serak dan manja. Aku tahu, ucapanku akan membuat mereka semakin gila.

Tiba-tiba, aku merasakan vaginaku berkedut. Aku tahu, aku akan segera mencapai puncaknya. "Ahh... aku mau keluar... ahh..." rintihku. Aku menjerit, "Ahhh! Aku keluar! Ahhhhhh!" Tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali. Aku merasakan gelombang kenikmatan membanjiri seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang begitu kuat, begitu nyata, dan begitu memabukkan.

Aku orgasme lagi, orgasme yang ketiga kalinya bersama Fajar. Sungguh pintar sekali Fajar memainkanku. Fajar masih mendiamkan penisnya di vaginaku. Aku terengah-engah, lemas, lalu ambruk di sandaran kursi.

Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan ini. Setelah itu, aku membuka mata dan melihat layar ponselku lagi. Aku membaca komentar-komentar penonton itu.

"Gila! Ustadzah orgasme!" "Aku rekam, nih!" "Ustadzah Tiara, ratu kenikmatan!" "Aku suka kamu, Ustadzah! Nikah yuk!"

Aku tersenyum puas di balik cadarku. Aku tahu, aku telah menjadi ratu. Ratu yang didamba, disembah, dan diinginkan oleh ribuan pria di dunia maya. Aku tidak peduli dengan perbuatan ini. Aku hanya ingin kenikmatan itu terus berlanjut.

"Gimana, Ustadzah, sudah siap lanjut lagi atau belum?" tanya Fajar, suaranya serak dan menuntut. "Aku belum keluar nih."

Aku memejamkan mata, napasku masih memburu. Aku merasakan sisa-sisa kenikmatan yang membanjiri seluruh tubuhku. Aku lelah, tapi di saat yang sama, aku juga menginginkannya. Aku ingin lebih. Tapi aku juga butuh istirahat.

"Bentar," rintihku, suaraku parau. "Aku masih capek."

Fajar mendesah pelan, suara kecewa yang terdengar penuh kemenangan. Ia tahu, ia telah memegang kendali penuh atas diriku. Ia mengangguk pasrah. "Oke deh, Ustadzah."

Kemudian, ia mencabut penisnya. "Ahh," desahku, suaraku parau, penuh kekecewaan. Sensasi hampa menyelimuti diriku saat penisnya yang besar dan tegang itu tercabut dari vaginaku.

Fajar masih berada di posisinya, di depanku, tubuhnya di antara kakiku yang mengangkang. Ia menatapku, senyumnya penuh arti. Tangannya yang besar meraih payudaraku dari luar bra merahku, masuk ke sela kancing gamisku yang sudah terbuka. Ia meremasnya, gerakannya begitu brutal, namun memabukkan.

Aku menghela napas, tak bisa menahan diri. Aku iseng menurunkan kameraku, memastikan para penonton bisa melihat tangannya yang meremas payudaraku.

"Teman-teman semua," ucapku, suaraku serak, penuh godaan. "Gamisnya nyaman banget, ya... ini gamis spesial, loh... hanya untuk kalian yang tahu rahasia Ustadzah..." Aku tertawa pelan, tawaku terdengar penuh kemenangan. "Lihat, ada yang suka juga dengan gamis ini. Dia mau tahu, apakah gamis ini senyaman itu di badan Ustadzah.. jadi dia mau memegang langsung apakah gamis ini nyaman di payudara ustadzah.. ini testimony dari dia langsung ya teman-teman. hehe"

Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini. Tangan Fajar terus meremas, sementara tanganku yang lain memegang ponsel, memastikan setiap detik dari perbuatanku terekam dan dilihat. Aku tahu, aku sudah sepenuhnya dikendalikan oleh nafsu. Dan aku tidak peduli.

Fajar menyeringai. Aku menatapnya, lalu bertanya, "Gimana, enak enggak gamisnya dipegang?"

"Enak banget, Ustadzah," jawab Fajar, suaranya serak. Tangannya terus meremas payudaraku. "Emm, gamisnya kenyal, besar, dan masih kenceng."

Aku menoleh ke kamera, senyumku penuh arti. "Tuh, teman-teman, dengar sendiri, kan? Gamisnya nyaman dan enak banget dipakai. Kalian harus beli, yaa... hehe."

Komentar-komentar nakal membanjiri layar.

"Gila!, kita mau juga dong pegang gamisnya!" tulis salah satu komentar.

"Tuh kan, bener, Ustadzah ini memang nakal!" tulis yang lain.

"Ustadzah, buka gamisnya! Kita mau lihat semuanya!" tulis yang lain, menagih.

"Sabar ya, teman-teman," ucapku, suaraku parau, penuh godaan. "Nanti kalau kalian beruntung, aku akan ajak kalian ngeriview gamis bareng di rumahku. Gimana? Hehe."

Komentar-komentar semakin menggila, berebut ingin menjadi yang beruntung itu.

"Aku, Ustadzah! Aku yang paling sering nonton live Ustadzah!" tulis salah satu komentar.

"Gila! Aku rela bayar berapa pun buat jadi yang beruntung, Ustadzah!" tulis yang lain.

Fajar tersenyum puas. Ia melepaskan tangannya dari payudaraku, lalu menyuruhku meletakkan tripod di meja. "Ayo, Ustadzah, sekarang kita main yang lain," bisiknya. Aku menurut. Fajar memposisikanku menungging ke samping, gamisku di angkat sampai pinggang, sementara aku berusaha memperbaiki sudut kamera. Di layar, kini hanya terlihat kepala sampai perutku dari samping. Payudaraku terlihat menggantung ke bawah, ditopang bra merah. Payudaraku terlihat kencang, tidak turun sama sekali.

Kemudian, Fajar berada di belakangku, menggesek-gesekkan penisnya ke bibir vaginaku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau. Aku sengja memanggil fajar dengan pak, agar identitas fajar tetap menjadi rahasia.

Fajar mengabaikan rintihanku, lalu perlahan memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Aku menjerit tertahan, "Ahh... sakit..." Penisnya yang sangat besar terasa begitu penuh di vaginaku, meregangkan setiap inci di dalamnya. Fajar mendesah, "Ahh... Ustadzah... memekmu masih selalu sempit banget, gak melar sama sekali... aku suka..." Aku hanya bisa pasrah, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini.

Fajar tidak lagi memaju-mundurkan penisnya dengan perlahan. Dengan satu hentakan yang brutal, ia menggenjot vaginaku. Rasa sakit yang tajam itu segera digantikan oleh kenikmatan yang memabukkan. Ia terus menggenjot, gerakannya semakin cepat, semakin brutal. Tangannya memegang pinggulku, memadukan genjotannya dengan genggaman tangannya.

"Plok! Plok! Plok!" Suara itu seperti irama, memompa gairahku. Badanku maju-mundur, mengikuti setiap hentakan darinya. Aku mendesah, tak bisa menahan diri.

"Ahh... Pak.. lebih cepat... ahhh..." rintihku, suaraku parau. Aku sengja memanggil fajar dengan pak, agar identitas fajar tetap menjadi rahasia.

"Ahh... Ustadzah... memekmu sempit banget... enak... ahhh..." desah Fajar, suaranya serak. "Aku suka... aku suka kamu yang nakal..."

Saking kerasnya genjotan Fajar, tanganku tak sengaja menyenggol tripod di meja. Kamera bergoyang, lalu miring, mengubah angle menjadi lebih ke belakang. Di layar ponselku, aku bisa melihat pinggangku, dan tangan Fajar yang memegang pinggulku. Gerakan maju-mundur pinggulku terlihat jelas, sebuah pemandangan yang begitu vulgar.

Aku melirik komentar. Ribuan penonton membanjiri layar, meminta lebih.

"Kamera agak ke belakang lagi, Ustadzah! Biar keliatan digenjotnya!"

"Wah, akhirnya Ustadzah ngasih tontonan yang kita mau!"

"Maju terus, Ustadzah! Kita dukung kamu meraih kenikmatan!"

Aku tersenyum, sebuah senyum penuh arti. Aku tidak peduli lagi dengan apa yang mereka minta. Aku hanya ingin kenikmatan itu. Aku hanya ingin puas. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini. Fajar terus menggenjotku, gerakannya semakin cepat, semakin brutal. Dan aku... aku hanya bisa mendesah, dan merasakan sensasi yang memabukkan itu.

Fajar terus menggenjotku dengan cepat, hentakannya membuatku mendesah, tak bisa menahan diri. Aku mencengkeram erat kursi yang ada di depanku, merasakan gelombang kenikmatan membanjiri seluruh tubuhku. Aku tahu, aku akan orgasme lagi.

"Lebih cepat, ahh... aku mau keluar..." rintihku, suaraku parau, penuh permohonan.

"Tahan, Ustadzah," bisik Fajar, suaranya serak. Tanpa menghentikan genjotannya, ia meraih tripod, mengatur angle kamera. Layar ponselku berganti, kini kamera diarahkan sedikit ke belakang. Di layar sekarang terlihat dari payudaraku yang menggantung hingga pantatku yang besar dan mulus, dan sedikit badan Fajar. Kini terlihat dengan jelas penis Fajar yang perkasa, menggenjot vaginaku dengan brutal.

Komentar-komentar semakin nakal.

"Gila! Pantat Ustadzah putih mulus banget!"

"Bisa pecah itu memek Ustadzah kena kontol segitu!"

"Aku minder liat kontol cowoknya."

"Enak banget cowoknya, bisa genjot pantat mulus ustadzah!"

"Tolong kamera di geser lagi, pengen liat muka cowoknya. hehe"

Tangan Fajar kembali ke pinggangku, genggamannya semakin erat. Ia kembali menggenjotku dengan kasar, gerakannya semakin cepat, semakin dalam. "Ahh... iyaa... aku mau keluar... Ahhh..." rintihku. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, membuatku gila.

Fajar semakin cepat menggenjot, ia mendesah hebat, suaranya serak, penuh kemenangan. "Ustadzah, kamu hebat... kamu bikin aku gila.. Enak banget memek kamu. ahhh..." desah fajar sambil menampar pantatku.

Tiba-tiba, sebuah gejolak hebat membanjiri seluruh tubuhku. Gelombang orgasme yang tak bisa kutahan. Aku menjerit, "Ahhh! Aku keluar! Ahhhhhh!" Tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali. Aku merasakan gelombang kenikmatan membanjiri seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang begitu kuat, begitu nyata, dan begitu memabukkan. Kepalaku jatuh bersandar di kursiku.

Setelah orgasme, Fajar tidak berhenti. Ia semakin cepat menggenjot. "Ahh, Ustadzah, aku juga mau keluar! Ahhh..." rintihnya, suaranya serak. Ia terus menggenjot, gerakannya semakin cepat, semakin brutal, sampai akhirnya ia menjerit, "Ahh! Aku keluar! Ahhh!" Aku merasakan kehangatan spermanya membanjiri setiap inci vaginaku.

Fajar mendiamkan penisnya di dalam vaginaku, merasakan sisa-sisa kenikmatan. Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini. Setelah itu, aku dengan perlahan, aku meraih tripod dan kamera ponselku. Aku kembali memposisikannya, memastikan wajahku terlihat jelas di layar.

Aku menyapa penontonku yang berjumlah ribuan itu. "Teman-teman semua, kalian sudah puas dengan tontonannya?" ucapku, suaraku serak, namun penuh kemenangan. "Jangan lupa dibeli, yaa, gamisnya. Siapa tahu kalian akan jadi yang beruntung selanjutnya, hehe."

Komentar-komentar langsung membanjiri layar, ribuan penonton merespons ucapan dan tawaranku.

"Puasss! Puas banget, Ustadzah!"

"Gila, Ustadzah. Aku sampai crott lihatnya."

"Pilih aku, Ustadzah! Aku bakal order gamis yang banyak."

"Aku minder lihat punya cowoknya. Tapi aku mau coba juga, Ustadzah!"

"Jangan ajak penonton live di rumah, Ustadzah. Bahaya. Diluar aja."

Aku tersenyum sinis, menatap lurus ke kamera. Mereka semua tidak tahu. Mereka tidak tahu bahwa ini semua adalah bagian dari permainanku. Aku memandang Fajar yang masih memejamkan matanya, napasnya memburu, lalu aku mencabut ponselku dari tripod.

"Yaudah segini dulu, ya, live nya," ucapku, suaraku serak, namun penuh kemenangan. Aku melambaikan tangan ke kamera. "Kapan-kapan aku bakal live lagi. Assalamu'alaikum semuanya." Kemudian, aku mematikan live ku.

Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku yang lemas ambruk ke kursi. Pikiranku kalut, namun hatiku terasa penuh. Aku melirik ke layar ponselku, melihat dashboard penjualanku. Angkanya naik drastis. Ribuan pesanan masuk. Aku tidak percaya. Aku telah menghasilkan begitu banyak uang dari perbuatan ini.

Kemudian, aku merasakan Fajar mencabut penisnya. "Ahh," desah kami berdua. Suara kami bercampur menjadi satu. Aku merasakan sensasi hampa yang menyelimuti vaginaku. Aku menoleh, menatap Fajar. Wajahnya dipenuhi keringat, napasnya memburu. Namun, senyum puas terukir di bibirnya.

"Gila, Jar," ucapku, suaraku parau. "Apa yang kita lakukan tadi..."

Fajar tertawa pelan. "Gila, Ustadzah, binal banget, ya," godanya, suaranya serak. "Ngentot sambil dilihat ribuan penonton. Haha."

"Tapi seru, kan, Jar?" tanyaku, mataku memancarkan sebuah kilatan aneh.

"Iya, seru banget, Ustadzah," jawabnya. Ia kemudian memelukku dari belakang, menempelkan tubuhnya yang hangat dan berkeringat di punggungku yang lemas. Tangannya melingkar ke depan, meremas payudaraku. "Terima kasih, ya."

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku tidak peduli lagi. "Iya, sama-sama, Jar," balasku. "Aku juga terima kasih. Penismu enak banget..."

Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini. Ini adalah duniaku yang baru. Dunia yang penuh dengan kenikmatan, dosa, dan kehinaan.

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com