𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟓𝟐 𝐏𝐞𝐭𝐮𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐃𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐤 𝐑𝐓

Setelah pelukan singkat, Fajar beranjak, memakai celananya kembali. Aku pun membetulkan posisi gamisku, merapikan setiap lipatan kain yang menjadi perisai bagi kegilaanku.

"Kamu tunggu di ruang tamu sebentar, ya, Jar," ucapku, suaraku masih sedikit parau. "Aku mau membersihkan vaginaku dari sperma kamu dulu di kamar mandi."

"Oke, Ustadzah," jawabnya, suaranya serak. Ia mengangguk patuh.

Aku berjalan ke kamar mandi, merasakan sisa-sisa kehangatan dan kekenyalan yang perlahan menghilang. Aku membersihkan vaginaku, menghilangkan setiap jejak fisik dari perbuatan kami. Gerakanku terasa mekanis, sebuah tindakan rutin yang harus kulakukan untuk kembali ke realitas.

Setelah bersih, aku mengambil tas kecilku. Di sana, tersembunyi kotak pil yang kubeli di apotek. Pil anti hamil. Aku menatapnya sejenak. Meskipun Mas Dimas mengizinkan aku hamil anak pria lain, hatiku menolak. Aku tidak ingin ada konsekuensi permanen dari kegilaan ini.

Aku mengambil minum, lalu menelannya. "Semoga tidak hamil," ucapku dalam hati, sebuah doa yang ironis di tengah kehidupan yang ku jalani.

Aku membuang kotak pil itu ke tempat sampah, lalu kembali ke ruang tamu menemui Fajar. Wajahku kini terlihat lebih tenang setelah meminum pil itu.

Aku kembali ke ruang tamu. Fajar sudah duduk santai di sofa, kakinya menyilang, menungguku. Ia menatapku, senyumnya semakin lebar. "Nah, Ustadzah sudah bersih, nih," sapanya, suaranya dalam dan penuh godaan. "Gimana, siap buat ronde selanjutnya?"

Aku berjalan perlahan ke sofa, lalu merebahkan diri di sebelahnya. Rasa lelah yang teramat sangat menjalar di seluruh tubuhku. "Aku sudah capek banget, Jar," rintihku, suaraku parau. "Gimana yaa... dari pagi sampai sore sudah kamu kerjain sama teman-teman kamu."

Fajar menyandarkan punggungnya, terlihat kecewa. "Yahh... gimana yaa. Aku nagih banget sama memek Ustadzah. Habisnya enak banget sih memeknya. Teman-temanku kalau dapat jatah ngentot pasti juga ketagihan," ucapnya, nadanya terdengar memohon.

"Ihh, jangan ajakin banyak orang dong, Jar," balasku, pura-pura kesal. "Nanti aku kecapekan malah enggak bisa jualan. Hehe."

"Iyaa-iyaa, Ustadzah," jawabnya, mengalah. "Terus ini gimana sekarang?"

"Emm... kamu balik dulu aja deh. Kapan-kapan aja lagi," ucapku, mencoba menenangkan diri.

Fajar menghela napas panjang, lalu bangkit dari sofa. "Yaudah, bagi nomer HP Ustadzah yaa... biar aku bisa chat Ustadzah dulu kalau mau ke sini," pintanya.

Aku mengangguk, lalu meraih ponselku, dan memberinya nomorku. Tanganku terasa gemetar. Fajar mencatatnya dengan cepat. Aku baru saja membuka pintu duniaku yang baru pada seorang pria yang baru kukenal.

"Yaudah Ustadzah, aku balik ke apotek dulu yaa. Terima kasih yaa... memek kamu enak," bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan.

Aku tersenyum, merasakan sensasi panas menjalar ke pipiku. "Hehe. Iya, Jar, terima kasih juga. Kontol kamu juga enak," balasku. Entah kenapa, kali ini aku bisa menyebut kata "kontol" dengan mudah, bukan lagi "penis" seperti biasanya. Sebuah pikiran melintas: apakah aku sudah terlalu binal? Pertanyaan itu membuatku bergidik, namun anehnya, juga terasa membebaskan.

Aku mengantar Fajar sampai ke depan pintu. Ia naik ke motornya dan melambaikan tangan. Setelah Fajar berjalan dan tak terlihat, aku menutup pintu, menguncinya, lalu berjalan terhuyung-huyung ke kamar. Keheningan rumah terasa kontras dengan kegilaan yang baru saja terjadi. Aku merebahkan diri di kasur, memejamkan mata, membiarkan tubuhku yang lemas tenggelam dalam kelelahan yang memabukkan. Fantasiku tentang menjadi wanita binal kini telah menjadi kenyataan yang sangat nyata.

Keesokan harinya, aku bangun pagi seperti biasa. Aku segera menunaikan salat Subuh, merasakan ketenangan yang palsu setelah kegilaan semalam. Selesai shalat, aku membersihkan rumah. Setelah itu, aku mandi. Aku memilih untuk mengenakan

gamis lebar, jilbab lebar syar'i, dan tak lupa cadar. Di balik balutan ini, aku merasa seperti menyembunyikan sisi lain dari diriku.

Aku langsung menuju studio untuk memproses pesanan yang menumpuk. Penjualanku naik drastis setelah live streaming gila semalam. Aku sibuk mencetak resi dan menyiapkan produk. Kulihat sudah jam 8 pagi, dan setelah memproses semua, aku mulai mengepaknya satu per satu. Pesanannya sangat banyak, membuatku kelelahan.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu. Aku berjalan ke depan dan membukanya. Ternyata, Pak RT yang berdiri di sana.

"Ada apa, Pak?" tanyaku.

Ia menyeringai, senyumnya penuh arti. "Emm... boleh minta bikinin kopi enggak, Ustadzah? Hehe."

"Ihh, aku lagi sibuk, Pak," jawabku, sedikit kesal. "Ngopi di warkop aja sana."

"Sibuk apa emang, Ustadzah?" tanyanya, matanya melirik ke arah dalam rumah.

"Aku sibuk nge-packing pesanan, Pak. Lagi banyak orderan," jelasku.

"Wihh.. ya sudah, aku bantu saja mau enggak, Ustadzah?" tawar Pak RT.

"Enggak, ahh.. nanti Bapak minta bayaran," godaku.

"Enggak, kok, tenang aja. Bapak enggak bakal minta bayaran. Paling minta yang lain, hehe," jawabnya, suaranya serak.

"Ihh, maunya Bapak emang..." balasku, pipiku terasa panas.

"Gimana, Ustadzah, mau enggak aku bantuin?" desaknya.

Aku menghela napas, lelah. "Yaudah, Pak, ayo bantuin. Biar cepat selesai. Aku udah capek banget soalnya."

"Yuk, Ustadzah."

Aku mengajaknya ke studioku. Pak RT mengikutiku dari belakang, langkahnya terasa berat. Sampai di studio, aku menunjuk tumpukan gamis dan bubble wrap.

"Ini, Pak, caranya gini," jelasku. "Gamisnya ditaruh di sini, terus dilapisi bubble wrap biar aman. Setelah itu, masukin ke dalam plastik packing."

Pak RT mengangguk, lalu mulai mengambil salah satu gamis. Ia mengusap gamis itu, lalu menatapku. "Gamisnya halus banget, ya, Ustadzah," ucapnya, suaranya pelan. "Sama halus kayak kulit Ustadzah di balik ini."

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku mencoba mengabaikannya, lalu kembali fokus pada pekerjaanku. "Ayo, Pak, dibantu, jangan melamun," kataku.

Pak RT menyeringai. Ia mengambil bubble wrap, lalu mulai membungkus gamis. Tiba-tiba, tangannya meraih tanganku di atas tumpukan gamis. "Ustadzah, aku boleh enggak, pegang gamis yang masih dipakai Ustadzah?" bisiknya.

Aku tersentak, napasku tercekat. Aku tahu maksudnya. "Ihh, Bapak ada-ada aja," ucapku, mencoba melepaskan tangannya, namun cengkeramannya kuat.

"Sebentar aja, Ustadzah," mohonnya, suaranya serak. Ia memajukan tubuhnya, membuatku terpojok. Tangannya yang bebas merayap di punggungku, lalu naik, dan berhenti di pinggangku. Ia meremasnya lembut.

"Ahh..." desahku, tak bisa menahan diri. Sensasi sentuhan itu membuatku merinding.

"Ustadzah, aku cuma mau tahu, apakah gamis ini senyaman itu di badan Ustadzah," bisiknya. Ia melingkarkan tangannya, lalu meremas payudaraku dari luar gamis.

"Ahh! Pak! Jangan!" rintihku, namun suaraku lebih terdengar seperti desahan.

"Ahh, Pak, udah nanti aja," rintihku, mencoba menenangkan diri dan juga dirinya. Napasku tersengal. "Ini sekarang selesaikan dulu packing-an-nya."

Pak RT menghentikan remasannya. Ia menatapku, matanya memancarkan nafsu dan sedikit kekecewaan. "Janji, Ustadzah?" tanyanya, suaranya serak. Ia tahu, aku mencoba bernegosiasi.

Aku menghela napas, menenangkan diri. "Iya, Pak, janji," jawabku, suaraku parau. "Nanti kalo udah selesai, baru ku kasih sebagai imbalannya."

"Imbalan apa?" bisiknya, tangannya yang tadinya meremas payudaraku kini turun, mengelus pinggulku di balik gamis. "Apa yang harus Bapak lakukan untuk mendapatkan imbalan yang pantas dari tubuh Ustadzah yang seksi ini?"

"Pokoknya bantu sampai selesai dulu," ucapku, membalikkan badan, memaksakan diri kembali fokus pada tumpukan gamis. Aku mengambil satu gamis, melipatnya dengan cepat. "Udah, ayo, Pak, bantu bubble wrap ini. Semakin cepat selesai, semakin cepat Bapak dapat imbalan."

Pak RT tersenyum, senyum yang penuh kemenangan. Ia tahu, ia telah memenangkan perundingan ini. Ia kembali mengambil bubble wrap, namun kini ia berdiri sangat dekat denganku, bahunya hampir bersentuhan dengan bahuku.

"Okee Ustadzah," jawabnya, suaranya serak, "Demi imbalan dari Ustadzah, Bapak akan bekerja secepat kilat. hehe"

Kami mulai bekerja. Setiap kali tangannya bergerak, bahunya menyentuh lenganku. Setiap sentuhan terasa seperti percikan api. Aku berusaha melipat gamis dengan fokus, tapi pikiran dan tubuhku sudah dikendalikan oleh bayangan "imbalan" yang sebentar lagi akan kuberikan.

Kami berdua terus bekerja, namun suasana di studio jauh dari kata fokus. Setiap kali aku mengulurkan tangan untuk mengambil lakban, tangan Pak RT akan menyentuhku, atau ia akan berbisik di telingaku.

"Aduh, Ustadzah," bisiknya, suaranya serak, matanya menatap leherku di balik jilbab. "Bapak jadi enggak fokus nih. Lihat Ustadzah gerak-gerak terus, jadi pengen gerak-gerak juga di dalam Ustadzah, hehe."

"Ihh, Bapak!" tegurku, namun tawaku terdengar, mengkhianati penolakanku.

Aku menelan ludah. "Ihh, Bapak ini! Fokus, Pak, jangan mikir yang aneh-aneh!" balasku, berusaha menjaga suara tetap normal, padahal jantungku sudah berdebar.

"Gimana mau fokus, Ustadzah? Tangan Bapak lagi sibuk megang-megang gamis yang bau surga, tapi pikiran Bapak melayang ke dalamnya gamis yang dipake Ustadzah, hehe." katanya lagi, tawanya serak. Ia kemudian mengelus punggungku dari balik gamis. "Tangan Bapak enggak sabar mau ambil hadiah yang akan ustadzah kasih nanti. Hehe."

"Jangan gitu, Pak," jawabku, suaraku parau, jantungku berdebar tak karuan.

Setelah sekian lama, akhirnya semua pesanan selesai terbungkus rapi. Studio yang tadinya penuh paket kini terlihat lebih lapang.

"Nah, sudah selesai, Ustadzah! Bapak hebat, kan?" seru Pak RT, tampak bangga.

"Iya, Bapak hebat," jawabku, lega. kemudian, aku mulai mengangkat kardus-kardus berisi paket ke depan rumah, ke kotak paket. Pak RT dengan sigap membantuku mengangkat tumpukan yang berat itu.

Setelah semua selesai, aku merebahkan diri di sofa ruang tamu. Tubuhku terasa sangat lelah. Pak RT berjalan mendekat, lalu duduk di sebelahku. Ia menagih janjiku yang memberikan imbalan kepadanya tadi.

Pak RT mendekat, duduk di sebelahku. Ia tidak menyia-nyiakan waktu. Dia mencondongkan tubuhnya, menagih janji. "Gimana, Ustadzah? Pekerjaan sudah selesai. Sekarang giliran Bapak menagih imbalannya," bisiknya, matanya memancarkan nafsu.

Aku memejamkan mata, pura-pura berpikir. "Emang Bapak mau imbalan apa, sih?" tanyaku, suaraku parau.

"Aku maunya yang dari tadi Bapak bilang, Ustadzah," jawabnya, suaranya semakin rendah. Ia mendekat, menempelkan bibirnya di telingaku. "Bapak mau kontol Bapak ini masuk ke dalam memek Ustadzah," bisiknya. "Dan Bapak mau Ustadzah cium kontol Bapak yang sudah capek packing tadi. Gimana? Itu bayaran yang pas, kan?"

Aku menarik napas dalam, merasakan gairah yang kembali memuncak. Aku tahu, aku tidak bisa menolak. "Ihh, Bapak ini maunya banyak banget," bisikku, kini dengan nada manja. "Yaudah deh. Tapi, Bapak harus janji, harus buat aku keenakan, ya. Awas kalo aku gak puas. Nanti bapak ku aduin ke security komplek, ku bilang ke mereka bapak memperkosaku, biar di gebukin warga. haha"

Pak RT menyeringai, senyumnya penuh kemenangan. "Pasti, Ustadzah. Aku jamin, ini akan jadi imbalan yang paling memuaskan yang pernah Ustadzah terima." Tangannya langsung merayap ke gamisku.

Tangan Pak RT meremas payudaraku dengan lembut. Aku mendesah, suaraku parau. "Ahh..."

Kemudian, tangan kirinya melingkar di punggungku, merangkul, dan menarikku mendekat. Tubuhku yang lemas bersandar di dada bidangnya. Tangannya yang tadi menarikku bergeser, meremas payudaraku yang satunya lagi. Kini, kedua tangannya memegang payudaraku dari luar gamis.

Gerakannya menjadi semakin brutal, memilin putingku dari luar bra merahku. "Masya Allah, Ustadzah, payudaramu ini sempurna, belum kendor juga" bisiknya, suaranya serak dan penuh gairah. "Begitu besar, begitu kencang. Aku suka wanita yang punya aset begini."

Aku tidak bisa menjawab, hanya mendesah, suaraku parau, "Iya, Pak... ahh... iya..."

Tangannya yang dominan itu perlahan bergerak turun dari payudaraku. Jemarinya yang kasar mengelus perutku, lalu melingkar ke belakang, mengelus pinggulku. "Pinggulmu ini, Ustadzah, bikin Bapak enggak tahan," bisiknya. "Aku mau lihat, apakah di balik gamis ini, memek Ustadzah sudah basah."

Tangannya terus turun, melewati paha mulusku, dan akhirnya mendarat di celah di antara pahaku. Tangannya yang besar dan hangat itu mengusap vaginaku dari luar gamis.

"Ahh!" Aku menjerit, suaraku parau.

"Sudah basah banget, Ustadzah," bisiknya, suaranya penuh kemenangan. "Kamu menginginkan Bapak, kan? Kamu mau kontol Bapak masuk ke dalam memek kamu, kan?"

"Iya, Pak... Ahhh... iya..." desahku, menyerah pada kenikmatan yang memabukkan itu. "Aku suka..."

Pak RT menyeringai. "Bagus, Sayang. Bapak tahu, Ustadzah ini sebenarnya binal. Dan Bapak suka Ustadzah yang kayak gini. Sekarang, kita ke kamar, ya. Bapak akan buat kamu lupa sama semua masalahmu." Ia bangkit, lalu menarikku.

"Jangan, Pak, udah di sini aja," pintaku, suaraku parau. Aku menyuruhnya duduk lagi di sofa. Aku tidak mau pindah. Energi untuk berjalan ke kamar pun seolah lenyap, tergantikan oleh hasrat yang harus segera dipuaskan.

Ia menurut, duduk kembali, matanya memancarkan nafsu. Tanpa ragu, aku berjongkok di depan kakinya. Aku membuka gespernya, lalu membuka kancing dan menurunkan resleting celananya. Dengan gerakan cepat, aku turunkan celana dan celana dalamnya sampai ke lantai, memperlihatkan penisnya yang tegang.

Ku pegang penisnya, merasakan kehangatan dan kekerasan yang memabukkan itu. Pak RT mendesah hebat.

"Ahh... mulus banget tangan Ustadzah," rintihnya, suaranya serak. "Aku suka... terus, Sayang... pegang yang kencang... Ahhh..." Aku mengocok penisnya perlahan, mengikuti irama desahanku sendiri. Aku tahu, permainan ini baru saja dimulai, dan aku siap untuk hanyut di dalamnya.

Aku mulai mengocoknya perlahan, jari-jariku melingkari ketebalannya. "Kontol Bapak besar banget," bisikku, meskipun aku tahu ukurannya tidak lebih besar dari milik Pak Budi dan Fajar. Tapi, aku tak bisa menahan diri untuk tidak memujinya. Aku menunduk, menyingkap cadarku sedikit, lalu aku mencium kepala penisnya, dan mulai menjilatinya dengan lembut. Aku tahu, aku telah menjadi wanita yang binal, tapi di dalam hatiku, aku menyukai setiap detiknya.

"Gimana, Pak? Enak?" tanyaku, suaraku parau.

"Enak banget, Sayang," jawabnya, suaranya serak. "Kamu tahu banget cara bikin Bapak Puas. Terus, Ustadzah... lebih cepat..."

Aku mengocoknya semakin cepat, gerakanku semakin brutal. Aku bisa merasakan setiap uratnya yang menonjol di telapak tanganku

Aku menjilat, menghisap, dan mengulum penisnya, membuat Pak RT mengerang hebat. "Ahh... Ustadzah... Enak bangett..." bisiknya, suaranya penuh kemenangan. Tangannya yang besar memegang kepalaku, menggerakkannya naik-turun, mempercepat irama hisapanku.

"Terus, Sayang... jangan berhenti... Bapak suka... Bapak suka mulut Ustadzah yang lembut ini..." rintihnya, suaranya serak. Aku terus mengulum, merasakan kenikmatan yang memabukkan itu. Aku adalah Ustadzah Tiara, dan kini aku hanyut dalam permainan gila ini.

Tangan Pak RT terus memaju-mundurkan kepalaku, mengarahkan ritme kulumanku. Aku mengerang, menelan setiap inci dari kejantanannya. "Ahh... Ustadzah... enak banget... terus..." desahnya, suaranya serak, penuh kemenangan.

Aku melepas penisnya dari mulutku. Aku bangkit berdiri, tubuhku menegang. Aku menaikkan gamisku hingga ke pinggang, memperlihatkan paha dan celana dalamku. Aku menatapnya, mataku memancarkan hasrat yang tak lagi bisa kusembunyikan.

"Pak, turunin celana dalamku," perintahku, suaraku parau.

Pak RT menelan ludah, matanya membelalak penuh nafsu. Ia masih duduk di sofa depanku, lalu perlahan menarik celana dalamku ke bawah. Sensasi dingin kain yang meluncur turun membuatku merinding. Ketika celana dalamku terlepas, ia menatap vaginaku yang basah.

"Masya Allah, Ustadzah... Memekmu cantik banget," bisiknya, matanya memancarkan gairah. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh vaginaku yang basah. Ia membelainya lembut, mengusap clitoris-ku.

"Ahh..." desahku, kepalaku mendongak. "Terus, Pak... enak..."

Pak RT terus membelai, gerakannya memutar, membuatku semakin gila. "Ustadzah sudah gak sabar mau dientot kan?" godanya, suaranya serak. "Aku suka Ustadzah yang kayak gini, di luar alim, di dalam liar banget."

Kemudian, Ia mengangkat satu kakiku, menaruhnya di sofa. Posisi ini membuat vaginaku terekspos sempurna di depan wajahnya. Tanpa menunggu, Kepala Pak RT kedepan, lalu mulai menjilati vaginaku. Lidahnya yang hangat menyentuh setiap inci di sana, membuatku menjerit tertahan.

"Ahh! Pak! Enak banget!" rintihku. Aku mencengkeram bahunya, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan itu. Jilatan Pak RT begitu ahli, membawaku ke puncak kenikmatan

Pak RT terus menjilati vaginaku, gerakannya begitu ahli dan penuh gairah, membuatku mendesah tanpa henti. "Ahh... ahhh... terus, Pak... enak banget..." rintihku, suaraku parau.

Tanganku reflek memegang kepalanya, mencengkeram rambutnya agar ia tidak lepas dari vaginaku. Aku mengerang, merasakan gelombang kenikmatan yang begitu dekat. Kemudian, aku mendorong kepalanya menjauh, aku sudah tidak sabar lagi.

Aku berbalik membelakangi Pak RT, lalu tanpa aba-aba, aku duduk di pangkuannya. Aku merasakan pantatku menduduki penisnya yang tegang. Aku kemudian melebarkan sedikit kakiku. Penisnya yang besar langsung bergesekan dengan bibir vaginaku.

Aku mulai memaju-mundurkan vaginaku, membuat bibir vaginaku bergesekan dengan penisnya. Urat-urat penisnya sangat terasa di bibir vaginaku, sensasi itu membuatku gila. Kami berdua mendesah.

"Ahh... Ustadzah... enak banget..." desah Pak RT, suaranya serak. Ia memeluk pinggangku erat, menahan tubuhku agar tidak jatuh.

"Ahh... Pak... terus... lebih cepat... aku suka..." rintihku, suaraku parau. Aku terus memaju mundurkan pingangku, gerakanku semakin cepat, semakin brutal.

Kemudian, Pak RT tak tahan. Ia mendesah, suaranya serak, penuh permohonan. "Ustadzah, masukin... masukin kontolku ke memek Ustadzah," pintanya.

"Sabar, ih, Pak. Buru-buru amat sih, hehe," godaku, tawa kecilku terdengar nakal.

"Aduh, kontolku udah enggak sabar, nih, Ustadzah. Dulu belum sempat bisa ngentot Ustadzah. Sekarang pengen banget kontolku ngentot Ustadzah," rintihnya, nadanya terdengar memohon.

"Ihh, nanti dimasukin langsung keluar. Aku-nya enggak puas dong," kataku, memancingnya.

"Tenang aja, Ustadzah. Aku kuat, kok, hehe," jawabnya, suaranya penuh kemenangan.

"Ihh, enggak percaya," balasku, pura-pura ragu.

"Coba aja deh, Ustadzah, kalau enggak percaya," tantangnya.

"Yaudah, aku coba, ya, Pak. Awas aja kalau langsung keluar," ucapku. Aku menghentikan gesekanku, mengangkat pantatku sedikit ke atas. Tanganku memegang penisnya, mengarahkan kepala penisnya ke lubang vaginaku.

Kemudian, aku menurunkan tubuhku pelan-pelan. Penis Pak RT masuk perlahan ke vaginaku. Aku merasakan setiap inci penisnya masuk, meregangkan setiap inci di dalam diriku.

"Ahh... Ustadzah... enak banget...," desah Pak RT, suaranya serak. Ia memeluk pinggangku erat, menahan tubuhku agar tidak jatuh.

"Ahh... Pak... terus... lebih dalam...," rintihku. Vaginaku terasa penuh, Pinggangku bergetar oleh kenikmatan yang memabukkan. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini. Kami berdua mendesah.

Aku mendiamkan dulu penisnya di dalam vaginaku. Aku memejamkan mata, merasakan kehangatan yang memabukkan itu. Tiba-tiba, Pak RT bersuara, suaranya seperti kaget.

"Ehh, Ustadzah, diam dulu, di depan ada orang," bisiknya.

Aku membuka mata. Ku lihat di depan, di balik jendela ruang tamu, ada seorang kurir yang sedang mengambil paket jualanku. Pikiranku kalut. Sebuah ide gila terlintas di benakku.

Aku berteriak, "Pak Kurirr!" teriakku, memanggilnya.

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com