𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟓𝟑 𝐏𝐞𝐭𝐮𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐃𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐤 𝐑𝐓 𝟐

Aku mendiamkan dulu penisnya di dalam vaginaku. Aku memejamkan mata, merasakan kehangatan yang memabukkan itu. Tiba-tiba, Pak RT bersuara, suaranya seperti kaget.

"Ehh, Ustadzah, diam dulu, di depan ada orang," bisiknya.

Aku membuka mata. Ku lihat di depan, di balik jendela ruang tamu, ada seorang kurir yang sedang mengambil paket jualanku. Pikiranku kalut. Sebuah ide gila terlintas di benakku.

Aku berteriak, "Pak Kurirr!" teriakku, memanggilnya.

Pak RT terkesiap, tubuhnya membeku. Ia menatapku, matanya membelalak tak percaya. Ia tidak percaya aku memanggil kurir itu.

Kemudian, Pak Kurir itu menoleh ke jendela, mencari keberadaanku. Tanganku melambai, menyuruhnya masuk.

Pak Kurir itu membuka pintu lalu masuk, ia melihat kami, matanya membelalak. "Ehh, Ustadzah lagi ngewe," ucapnya santai. "Ehh, cowok baru ya, Ustadzah? Hehe."

Pak RT semakin kaget. Ia menatap Pak Kurir itu, lalu menatapku. Ia tidak bisa berkata-kata, hanya bisa menatapku dengan mata yang penuh ketakutan, namun juga kekaguman.

"Pak Kurir, rekam lagi dong. Kayak kemarin," pintaku, suaraku parau.

"Siapp, Ustadzah," jawab Kurir itu, matanya berbinar. "Tapi nanti giliran yaa, seperti kemarin, hehe."

Pak RT tambah bingung dengan apa yang kami ucapkan. Ekspresi kagetnya bercampur dengan rasa penasaran yang membara. "Emang kalian sudah pernah?" tanya Pak RT dengan bingung, suaranya terdengar tidak percaya.

Aku menyeringai di balik cadar. "Udah, Pak, enggak usah banyak tanya. Ini jadi mau apa enggak? Kalo enggak mau, aku sama Pak Kurir aja deh," gertakku, suaraku penuh tantangan.

"Ehh, mau, mau, Ustadzah!" jawab Pak RT cepat, tidak mau kehilangan gilirannya.

"Yaudah..." Aku berdiri, dan merasakan sensasi penis Pak RT yang terlepas dari vaginaku. "Ahhh..." desahku. Aku bergegas ke studio, mengambil ponselku, dan langsung menyalakan mode rekam. Aku mengarahkan kamera ke wajahku.

"Hallo, Mas," ucapku ke kamera, suaraku serak. "Hari ini aku mau main sama Pak RT dan Kurir. Ini aku rekamin buat Mas." Aku tersenyum nakal ke arah kamera.

Setelah itu, aku mengasihkan HP-ku ke Pak Kurir. "Rekamin ya, dari angle yang bagus, kayak kemarin," bisikku padanya.

Pak Kurir mengangguk, menyeringai. "Siap, Ustadzah. Aku jamin, rekaman ini bakal bikin suamimu suka."

Aku kembali ke sofa. Kurir itu mengambil posisi merekam yang strategis. Aku mengangkat gamisku sampe ke pinggang, kemudian Aku duduk kembali di pangkuan Pak RT, memposisikan vaginaku yang basah tepat di atas penisnya. Pak RT yang sudah tidak sabar langsung mendorong penisnya masuk.

"Ahh! Ustadzah!" desahnya, suaranya menggelegar.

"Ahh! Pak! Terus... lebih cepat..." rintihku, membiarkan tubuhku hanyut dalam permainan gila ini. Kurir itu merekam setiap detik adegan terlarang kami.

Pak RT menggenjotku dari bawah dengan gerakan yang sangat cepat dan brutal. Aku menjerit-jerit, merasakan sensasi penuh dan sakit yang kini bercampur dengan kenikmatan yang memabukkan.

Kurir itu mendekat, merekam proses keluar masuknya penis Pak RT di vaginaku dari sudut yang lebih dekat. "Bagus banget direkam dari sini, Ustadzah," kata Pak Kurir, suaranya serak. "Terlihat jelas banget."

Tiba-tiba, Pak RT berhenti menggenjot. Aku terengah, tubuhku menegang karena sensasi yang terhenti tiba-tiba.

"Sekarang giliran Ustadzah yang naik turun," perintahnya, suaranya dipenuhi gairah. "Biar Bapak bisa nikmatin pemandangan ustadzah goyang hehe. Gantian, Sayang. Biar kontol Bapak enggak capek."

"Ihh, Bapak ini maunya ngatur-ngatur," godaku, meskipun aku langsung menuruti.

Aku mulai menaik-turunkan tubuhku, menggenjot penis Pak RT dengan irama yang kubuat sendiri. Sensasi penisnya yang besar memenuhi vaginaku membuatku mendesah hebat.

Tangan Pak RT yang tadinya mencengkeram pinggangku, kini naik meraih payudaraku. Ia meremasnya dengan brutal, jari-jarinya memilin putingku dari balik gamis. "Ahh... Ustadzah... enak banget! Terus, Sayang, goyang lebih cepat!" desahnya, matanya terpejam, menikmati setiap gerakanku.

"Ahh... Pak... aku suka... aku suka diremas gini..." rintihku, suaraku parau.

Kurir itu tertawa kecil. "Genjot terus, Ustadzah! Ekspresimu gila banget! Mas Dimas pasti suka lihat rekaman ini!" ucapnya sambil terus merekam.

Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini. Sensasi remasan di payudara dan genjotan di vagina membuatku semakin gila, mendekati orgasme lagi.

Sambil aku terus menaik-turunkan tubuhku, menggenjot penisnya, Pak RT dengan tangan kirinya yang bebas melepas kancing gamisku dari depan satu per satu. Kemudian, ia menurunkan gamisku lewat pundakku. Kini, gamisku hanya tersangkut di pinggangku, dan bagian dadaku sudah terbuka, tinggal mengenakan bra merahku. Jilbab lebarku yang menjuntai di bahu menjadi satu-satunya yang menutupi bagian atas.

Dengan cepat, Pak RT melepas pengait bra-ku, dan melepaskannya hingga terlepas sepenuhnya. Payudaraku yang besar dan kencang tersembul bebas, langsung disambut kedua tangannya. Ia meremasnya dengan brutal, cengkeramannya begitu kuat, lalu jari-jarinya memilin putingku.

"Ahhh! Pak! Enak banget!" jeritku, suaraku parau. Sensasi remasan di payudara dan genjotan yang kencang di vagina membuatku gila. Aku merasakan gelombang kenikmatan membanjiri seluruh tubuhku, sebuah pertanda orgasme yang begitu dekat.

"Gimana, Ustadzah? Enak kan dientot kontol bapak?" goda Pak RT, suaranya serak, penuh kemenangan. "Kamu mau keluar, Sayang? Bapak akan buat kamu keenakan sampe minta lagi"

Aku mendesah, tak bisa lagi menahan diri. "Ahh... aku mau keluar! Terus, Pak! Lebih cepat!" Aku terus menaik-turunkan tubuhku dengan liar, membiarkan diriku hanyut dalam puncak kenikmatan ini. Kurir itu terus merekam, mengabadikan setiap detik dari adegan terlarang kami.

"Ahh! Pak! Aku keluar! Ahhhhhhh!" jeritku, suaraku parau, tercekik oleh gelombang kenikmatan yang membanjiri seluruh tubuhku. Tubuhku kejang hebat, pinggulku bergerak tak terkendali di atas pangkuan Pak RT. Sensasi dari remasan payudaranya dan genjotan kerasnya mencapai puncak yang memabukkan.

Aku ambruk di pangkuannya, mendiamkan diriku, merasakan sisa-sisa orgasme yang membuat sekujur tubuhku bergetar. Napasku memburu, aku terengah-engah, lemas tak berdaya.

Pak Kurir menghentikan rekamannya. "Wahh, binal banget, Ustadzah, mainnya," pujinya, suaranya serak. Dia menaruh HP-ku di meja. Kemudian, tangannya yang bebas meraih payudara kananku, meremasnya lembut.

Sementara Pak RT ikut terengah-engah. "Gimana, Ustadzah? Kamu puas kan?" tanyanya, suaranya dalam.

"Ahhh, iya, Pak, aku puasss..." jawabku, suaraku parau.

"Aku belum puas, Ustadzah," rengeknya.

"Bentar, Pak. Vaginaku Masih ngilu," balasku.

"Gak apa-apa, Ustadzah, pelan-pelan aja," bujuknya. Kemudian, tanpa melepas penisnya dari vaginaku, Pak RT mendorongku, memposisikanku berdiri dengan pantat sedikit menungging. Penisnya yang besar terasa merobek saat ia mengubah posisi kami.

Ia mulai menggenjotku dengan pelan, gerakannya hati-hati. Aku mulai merasa keenakan lagi.

"Gimana, Ustadzah, udah enakan? Aku kencengin, ya?" godanya.

"Iyaa, Pak, ahhh, udah enak..." rintihku.

Kemudian Pak RT mempercepat genjotannya. Aku mendesah keras. "Ahh! Pak! Lebih cepat! Aku suka! Ahhhhh!" Aku mencengkeram meja di depanku, membiarkan diriku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan itu. Kurir di samping kami kembali menyalakan kamera, merekam adegan brutal ini.

Dengan cepat, Pak RT menggenjotku dari belakang. Tangannya memegang pinggangku, mengendalikan setiap hentakannya. Payudaraku yang terlepas bergoyang-goyang karena guncangan, membuat Pak Kurir tak tahan lagi. Ia mendekat, lalu meraih payudaraku, meremasnya dengan kuat. Aku menjerit, "Ahh! Terus! Enak banget!"

Pak RT mendesah keras, suaranya menggelegar. "Ahh! Ustadzah! Aku mau keluar! Ahhhhhh!"

Setelah itu, Pak RT mencabut penisnya, dan aku merasakan sensasi hampa yang tiba-tiba. Ia mengeluarkan spermanya, menumpahkannya di pantatku yang mulus. Cairan hangat itu membasahi kulit pantatku.

Pak RT terengah-engah, lalu menepuk pantatku dan mengelusnya. "Gila, Ustadzah," bisiknya, suaranya serak. "Memekmu enak banget, masih rapet. Bikin aku enggak tahan lama. Puas banget aku ustadzah."

Pak Kurir mematikan rekamannya, lalu tersenyum penuh kemenangan. "Mantap Ustadzah! Mainmu keren banget barusan."

Pak RT merebahkan diri di sofa. Napasnya terengah-engah, tubuhnya terlihat lemas. Aku segera membersihkan sperma di pantatku dengan ujung gamisku yang tersangkut di pinggang, lalu ikut merebahkan diriku di sampingnya.

Tak lama, Pak Kurir mendekat. Dia mengeluarkan penisnya yang sudah tegang, lalu mulai mengocoknya di sampingku.

"Nanti ya, Pak Kurir. Aku masih capek," ucapku, suaraku parau.

"Gak apa-apa, Ustadzah, aku ngocok aja sambil lihat Ustadzah," jawabnya, suaranya serak. "Soalnya aku buru-buru antar barang habis ini."

"Ohh, ya sudah, Pak. Ngocok aja sendiri yaa. Aku capek banget," balasku.

"Iyaa, Ustadzah, ahh... Aku boleh crot di muka Ustadzah enggak? Ahhh..." pintanya, suaranya dipenuhi gairah.

"Bolehh, Pak," jawabku tanpa ragu.

Pak Kurir tersenyum penuh kemenangan, lalu terus mengocok penisnya di depan mukaku yang masih tertutup cadar. Ia mendesah hebat, suaranya memenuhi ruangan. "Ahhh... Ustadzah... kamu ini binal banget... aku suka..."

Sambil mengocok, Pak Kurir merayuku. "Ustadzah, buka dong cadarnya. Aku kan udah bantu rekam. Aku mau lihat wajah Ustadzah lagi kayak kemarin. Cantik banget wajah Ustadzah kemarin."

"Ihh, enggak mau, Pak. Udah gini aja." tolakku, menggeleng pelan.

Pak RT yang tadinya terengah-engah, langsung terkesiap, menatapku dan Kurir secara bergantian. Matanya membelalak kaget. Ia tak menyangka aku sudah sejauh itu dengan Kurir, sampai sudah pernah menunjukkan wajahku tanpa cadar.

Aku hanya tersenyum ngeledek ke arah Pak RT. Sebuah senyum penuh kemenangan di balik cadar, seolah mengatakan, "Bapak enggak tahu, kan, seberapa liarnya aku?" Aku tahu, Pak RT kini semakin penasaran dan gila karena diriku.

Pak RT, yang terkejut dengan pembicaraanku dengan Kurir, langsung bertanya, "Emang Ustadzah sudah ngapain aja sama Kurir ini?"

Aku menyeringai di balik cadar, menikmati rasa penasarannya. "Emm... sudah apa aja yaa. Menurut Bapak aku sudah ngapain aja? Hehe," godaku. Kulihat wajahnya semakin tegang dan penasaran, tapi aku tak peduli. Perasaan terkejutnya adalah bagian dari tontonanku.

Sementara itu, Pak Kurir semakin mendesah hebat, gerakannya memburu. Dia sudah di ambang klimaks. "Ahh, Ustadzah, aku mau keluar! Ahh, ahh..." rintihnya, suaranya serak.

"Sini, keluar di wajahku," pintaku, suaraku parau.

"Ahh, aku mau keluar di cadar Ustadzah. Ahh..." jawabnya.

Ia menempelkan kepala penisnya yang tegang tepat di depan bibirku yang tertutup cadar. Kemudian, dengan desahan panjang yang menggelegar, ia mengeluarkan spermanya. Cairan hangat dan kental itu muncrat, membasahi cadarku, bahkan terasa sampai ke mataku dan sedikit membasahi jilbabku. Aku memejamkan mata, merasakan sensasi basah dan lengket itu.

Kemudian, Pak Kurir tiba-tiba menyingkap cadarku, membuat wajahku bagian bawah terekspos. "Ustadzah, bersihin sisa sperma di ujung penisku dong," pintanya, matanya memancarkan gairah yang tersisa.

Aku menelan ludah, wajahku terasa panas, namun aku menurut. Aku menunduk, menjulurkan lidahku, lalu menghisap kepala penisnya. Sensasi hangat dan asin itu memabukkan. Pak Kurir mengerang hebat. "Ahhhh... Ustadzahh.. Enakkk..." rintihnya, suaranya serak.

Aku melepaskan penisnya. "Udah bersih, Pak," ucapku, suaraku parau.

Dia menyeringai puas, lalu dengan cepat memperbaiki celana dan pakaiannya kembali. "Yaudah, Ustadzah, aku pamit pergi dulu, ya. Mau melanjutkan kirim paketanku ke gudang, terus nanti aku kirim barang juga," pamitnya. Aku menganggukkan kepala, membiarkan dia pergi.

Setelah Pak Kurir pergi, aku menoleh ke arah Pak RT. Ia ternyata sudah merapikan pakaiannya kembali, meskipun napasnya masih terengah-engah. Aku sendiri masih duduk di sofa, dengan gamisku tersingkap di perut, memperlihatkan payudara dan vaginaku.

"Gila, Ustadzah," ucap Pak RT, suaranya serak, penuh kekaguman. "Kamu sudah sejauh itu sama Kurir? Sampai blowjob dan memperlihatkan wajahmu."

Aku hanya tersenyum di balik cadar yang kusingkap sedikit. "Hehe, Bapak cemburu, ya?" godaku.

"Bukan cemburu, Ustadzah," jawabnya. Ia mendekat, tangannya meraih payudaraku, meremasnya lembut. "Aku cuma kagum. Kamu ini benar-benar wanita paling liar yang pernah aku temui."

"Bapak mau lagi?" tanyaku, suaraku parau. "Aku masih punya waktu sedikit sebelum harus mandi dan melanjutkan packing."

Pak RT menggeleng, tetapi tangannya kemudian meremas payudaraku. "Aku enggak kuat lagi, Ustadzah.. Aku bisa gila kalau terus-terusan sama kamu." Ia menunduk, mencium payudaraku, lalu menjilat putingku. "Aku cuma mau nikmatin ini sebentar. Anggap aja ini bonus terakhir buatku ya."

"Yaudah, Pak. Ahhh..."

Setelah Pak RT puas menyusu di payudaraku, ia menarik wajahnya. Nafasnya masih memburu, matanya memancarkan kepuasan yang mendalam. Ia mengecup putingku sekali lagi.

"Aku pulang dulu ya, Ustadzah. Terima kasih banyak atas imbalannya," bisiknya, suaranya serak. Ia bangkit, merapikan celana dan kemejanya.

"Sama-sama, Pak," jawabku, suaraku parau.

"Nanti kalau sudah kangen, jangan sungkan panggil Bapak lagi ya. Bapak siap bantu packing kapan aja, hehe," godanya sambil menyeringai.

"Iya, Pak," balasku, hanya tersenyum di balik cadarku.

Aku tidak mengantarnya. Aku hanya melihat dia berjalan keluar dari rumah, lalu dengan cepat aku menutup pintu dan menguncinya. Aku merapikan gamisku yang sudah kusut di pinggang dan memakainya seperti semula kembali.

Kemudian, aku mengambil HP-ku dan merebahkan diri di sofa. Jantungku berdebar kencang. Aku segera mengirimkan video-video tadi, rekaman adegan gila bersama Fajar dan Pak RT ke Mas Dimas. Belum ada balasan. Mungkin dia masih sibuk bekerja di Bali.

Lalu, aku kepikiran sesuatu. Apa aku kirim ke Mas Bims juga ya videonya? Aku menimbang-nimbang. Mas Bims adalah orang yang mengirim Pak Budi kesini, orang yang pertama kali menyetubuhiku selain suamiku, dia yang tahu tentang sisi liarku. Lagipula, aku ingin membuat permainan ini semakin gila.

Aku mengambil keputusan. Dengan tangan gemetar, aku mengirimkan semua video itu ke Mas Bims juga.

Seketika itu juga, HP-ku bergetar. Mas Bims langsung dengan cepat menjawab chat-ku.

Mas Bims: GILA! Tiara, ini beneran kamu? Kamu bener-bener sudah liar! Aku suka banget!

Tiara: Hehe, iya, Mas. Itu aku. Kamu suka?

Mas Bims: Suka banget! Kamu benar-benar sudah jadi jalangku sekarang. Berapa kali kamu orgasme?

Aku menyeringai, sebuah rasa bangga yang aneh menjalari diriku. "Sekali kali mas bims, hehe," jawabku, mengetik dengan cepat.

Mas Bims: Berarti masih jagoan Budi ya ngentotnya daripada cowok di video ini.

Aku tahu Mas Bims sedang mengujiku dia sedang menggali informasi dariku. Aku harus memuaskan keingintahuannya. "Iyaa, Mas Bims. Kalo Pak RT agak loyo dia. Lebih kuat Pak Budi. Hehe," balasku jujur tentang Pak RT.

Mas Bims: Kalo yang ngentot kamu di live kemarin siapa? Kuat enggak? Kontolnya gede juga, enggak kalah sama Budi.

Aku tertawa kecil, menikmati bagaimana Mas Bims mengorek detail terlarang ini. "Ohh, itu. Dia namanya Fajar Mas Bims. Dia kuat juga, penisnya gede banget. Masih muda juga umurnya, hehehe," jawabku, menambahkan detail yang ku tahu akan membuat Mas Bims semakin bergairah.

Mas Bims: Hahahaha.. Udah banyak yaa cowok kamu sekarang. Aku udah enggak perlu ngajarin lagi nih, haha.

"Ihh, apasih Mas Bims," jawabku, pura-pura malu, padahal di dalam hati aku merasakan sensasi aneh yang memabukkan. Aku telah sepenuhnya jatuh ke dalam permainan mas bims, dan aku menyukai bagaimana Mas Bims menganggapku sebagai "jalang" miliknya

Kemudian giliran Mas Dimas membalas chat-ku.

Mas Dimas: Wihh itu Pak RT ya, Sayang. Wahh.. kok bisa, Sayang. Ceritain dong.

Aku tersenyum puas. Aku tahu, Mas Dimas pasti menyukai semua rekaman yang kuberikan. Aku mengetik balasan dengan rinci.

Tiara: Jadi tadi Pak RT kerumah, Mas. Aku mintain tolong buat nge-packing jualanku. Kemudian setelah selesai, Pak RT minta imbalan itu hehe. Jadi Adek kasih aja. Gak apa-apa kan, Mas?

Mas Dimas: Wow. Gak apa-apa, Dek. Ini yang ngerekam siapa, Dek? Jago banget kameramen-nya haha.

Tiara: Itu Kurir yang kemarin, Mas. Sudah lebih berani dia sekarang. Kemarin kan masih malu-malu, hehe.

Mas Dimas: Dia ngentotin Adek juga gak tadi?

Tiara: Enggak, Mas. Dia buru-buru. Jadi dia ngocok doang tadi di depan Adek. Tapi dia keluar di muka dan cadar Adek, Mas.

Aku menunggu balasan Mas Dimas, jantungku berdebar kencang. Aku tahu, permainan ini semakin gila, dan aku menyukai setiap detiknya.

Mas Dimas: Wihh.. ya udah, Dek, enggak apa-apa kok. Besok Mas mau pulang. Mas enggak sabar mau gituan juga sama Adek. Mas sudah kangen banget sama Adek.

Tiara: Adek juga kangen banget, Mas. Hati-hati ya, Mas pulangnya besok.

Setelah chat dengan Mas Bims dan Mas Dimas itu, aku tersenyum puas. Perasaanku campur aduk antara kelegaan karena Mas Dimas tidak marah, dan sensasi memabukkan karena ia menyukai dan mengendalikan kegilaanku. Aku segera bangkit dan bergegas ke kamar mandi.

Kucuran air hangat membasuh tubuhku, membersihkan sisa-sisa sperma Kurir dan Pak RT, serta aroma gairah yang menempel. Aku menggosok tubuhku, membersihkan setiap inci, namun yang kucari bukan hanya kebersihan fisik, melainkan juga rasa bebas yang aneh. Setelah mandi, aku memilih memakai baju santai, sebuah daster longgar dan celana legging, pakaian yang tak pernah kupakai di depan orang lain selain suamiku.

Aku merebahkan diri di kasur, memejamkan mata. Pikiranku berkelana, memikirkan janji Mas Dimas yang akan pulang besok. Ia bilang dia tidak sabar mau "gituan juga" denganku. Aku membayangkan ekspresi wajahnya saat ia melihat langsung sisi liarku. Aku yakin, ia akan membuatku lebih gila lagi. Aku sudah tidak sabar menunggu besok. Aku ingin tahu sejauh mana Mas Dimas akan memuaskan fantasi tergelapnya, dan sejauh mana aku, si Ustadzah Tiara yang alim, akan jatuh ke dalam lubang kenikmatan yang ia ciptakan.

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com