𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟓𝟒 𝐊𝐞𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐬 𝐃𝐢𝐦𝐚𝐬

Keesokan harinya, aku terbangun subuh dini hari. Aku segera mengambil air wudu dan menunaikan salat Subuh, gerakan-gerakan ritual yang terasa begitu kontras dengan kegilaan yang membakar di dalam diriku. Setelah itu, aku langsung membersihkan rumah. Aku menyapu, mengepel lantai, dan merapikan setiap sudut, menyiapkan rumah agar terlihat sempurna untuk kepulangan Mas Dimas.

Setelah selesai, aku mengambil ponselku, jantungku berdebar tak karuan. Aku mengirim pesan ke Mas Dimas.

Tiara: Mas pulang jam berapa?

Balasan masuk tak lama kemudian.

Mas Dimas: Sudah otw ke bandara sayang.

Tiara: Oke, Mas, hati-hati. Mau dimasakin apa?

Mas Dimas: Nasi goreng aja, Dek. Mas kangen nasi goreng Adek.

Tiara: Oke, Mas. Hati-hati di jalan ya, Mas.

Aku meletakkan ponsel, lalu bergegas ke dapur, membuka kulkas untuk mengecek bahan-bahan. Aku mengeluarkan telur, sosis, dan beberapa sayuran. Aku mulai meracik bumbu, namun aku menyadari ada yang kurang. Tidak ada bawang merah dan cabai. Nasi goreng Mas Dimas tidak akan lengkap tanpa rasa pedas yang membakar dan aroma khas bawang merah yang kuat.

Aku menyeringai. Aku tahu persis di mana harus mendapatkan itu. Tak lama kemudian Suara gerobak yang familiar itu sudah terdengar samar di luar. Pak Toni, tukang sayur, pasti sudah datang.

Aku menelan ludah. Rasa lelah dari permainan kemarin seolah hilang, tergantikan oleh hasrat yang kembali memuncak. Aku harus keluar. Aku harus pergi menemui Pak Toni, bukan hanya untuk membeli cabai dan bawang, tapi juga untuk menggodanya. Aku berjalan cepat ke kamar, mengambil dompet, dan tanpa ragu mengenakan gamis lebar, jilbab, dan cadarku. Di balik lapisan suci itu, aku adalah wanita yang berbeda, dan kini aku siap untuk bermain lagi.

Aku berjalan ke depan rumah, membuka pintu. Bau masakan dan aroma sayur segar langsung menyambutku. Aku memanggil Pak Toni.

"Sayur, Pak!" teriakku.

Ternyata di sana sudah banyak ibu-ibu yang sedang berbelanja.

Aku berjalan menuju gerobaknya. Beberapa ibu menyapaku dengan ramah.

"Assalamualaikum, Ustadzah Tiara," sapa Ibu Rina, tetangga sebelahku, dengan senyum ramah.

"Waalaikumsalam, Bu Rina, Bu Nia," balasku, suaraku kuusahakan terdengar lembut dan alim.

"Wah, tumben Ustadzah pagi-pagi sudah ke sini," timpal Ibu Nia, yang terkenal suka bergosip. "Mas Dimas sudah pulang, ya? Sudah masakin apa pagi ini?"

"Iya, Bu, ini Mas Dimas mau pulang, jadi mau buatkan nasi goreng," jawabku, sambil berusaha menjaga nada bicaraku agar tetap tenang. "Tapi lupa beli bawang merah sama cabai."

Aku menunduk, pura-pura mencari di antara tumpukan sayuran, padahal pikiranku melayang pada pertemuan kemarin dengan Pak Toni. Pak Toni hanya tersenyum tipis, matanya memancarkan sinyal rahasia ke arahku.

"Wah, Mas Dimas mau pulang," sela Ibu Nia, matanya menyelidik. "Pasti kangen banget ya, Ustadzah? Setelah ditinggal dinas lama, hehe."

"Iya, Bu, kangen banget," jawabku, berusaha tersenyum dari balik cadar. Aku tahu, yang mereka bicarakan bukan sekadar kangen. Sorot mata Ibu Nia jelas mengarah pada urusan ranjang.

Pak Toni, sambil menimbang cabai untuk Ibu Rina, menyela dengan suara berat. "Bawang merah sama cabai di sini bagus-bagus, Ustadzah. Paling pedas ini, yang Bapak sisihkan tadi malam." Ia menatapku, senyumnya semakin lebar, dan aku tahu ia sedang menggunakan kode kotor di depan para tetangga.

"Iya, Ustadzah," timpal Ibu Rina. "Pak Toni ini memang selalu sedia yang pedas-pedas, ya. Haha. Pak Toni ini emang gitu Ustadzah. Suka godain ibu-ibu. Tuh Bu Nia sudah jadi korban, iya kan Bu? Haha."

"Enggak yaa! Enak aja," sergah Ibu Nia dengan berani. "Pak Toni gak bakal kuat ngeladenin aku, wekk!"

"Hehehe, kalo Bu Nia aku nyerah deh," balas Pak Toni, menertawakan tantangan Ibu Nia. "Tapi kalo Ustadzah, aku sanggup," ucapnya, kini menatapku lagi, tatapannya penuh arti. "Ustadzah mau cabai yang besar atau kecil?"

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku tahu ia sedang bermain-main dengan kata-kata cabai, mengaitkannya dengan godaan dari pertemuan kemarin. Aku harus tetap terlihat tenang. "Yang... Emm.. keduanya saja, Pak Toni," jawabku, suaraku kuusahakan tetap lembut, padahal dalam hati aku ingin tertawa sekaligus berontak.

"Okee, Ustadzah," ucap Pak Toni, lalu ia mengambil bawang merah dan cabai untukku. Tangannya menyentuh tanganku, sebuah sentuhan singkat yang terasa begitu panas dan intim. "Totalnya Rp15.000, Ustadzah."

"Sama ayam juga, Pak, sekalian," pintaku, nadaku masih tenang.

"Oke, Ustadzah, bentar yaa..."

"Heleh, Pak Toni segala mau godain Ustadzah," cibir Ibu Rina. "Gak bakal mempan."

"Iyaa, Pak Toni ini selera kamu ketinggian, haha," timpal Ibu Nia, membuat Ibu-ibu lain tertawa. Aku hanya menunduk.

Pak Toni hanya menyeringai, mengabaikan ejekan mereka, matanya tetap tertuju padaku, seolah hanya kami berdua yang mengerti rahasia di balik percakapan ringan ini.

Sambil menunggu Pak Toni memotong ayam, aku mencari-cari sayuran apa lagi yang bisa kubeli. Aku memutari gerobak.

"Yaudah ya, Pak Toni, Ustadzah, Bu Rina, aku pulang dulu," pamit Ibu Nia. Ia melambaikan tangan, matanya masih terlihat puas karena sudah bergosip.

Ibu-ibu lain juga sudah pada pulang. Kini, hanya tinggal aku dan Bu Rina di sana.

Aku terus memutari gerobak, sampai aku berada persis di sebelah Pak Toni yang sedang memotong ayam. Tiba-tiba, tangannya yang penuh bau amis ayam meremas pantatku dengan keras. Aku terkesiap, dan tanpa sadar, "Ahh..." desahku, suaraku parau.

Bu Rina yang berdiri tak jauh dariku langsung menoleh. "Ehh, kenapa, Ustadzah?" tanyanya, matanya menyelidik.

Aku cepat-cepat mencari alasan. "Gak apa-apa, Bu," jawabku, berusaha terdengar tenang. "Ini tadi kaki saya kena gerobak, jadi sakit dikit, tapi gak apa-apa."

"Ohh, yaudah, Ustadzah," ucap Bu Rina, namun ia menyeringai. "Kirain di apa-apain sama Pak Toni, haha. Soalnya, biasanya Pak Toni ini suka banget noel-noel ibu-ibu di sini. Iya kan, Pak? Haha!"

Semua mata tertuju padaku dan Pak Toni. Aku menatapnya, pura-pura terkejut. "Emang iya, Pak Toni?" tanyaku, nadaku terdengar lugu. Padahal aku tahu persis, remasan barusan jauh dari kata 'noel'.

"Ehh, enggak kok, Ustadzah," jawab Pak Toni, nadanya panik, seolah takut ketahuan. "Fitnah itu, haha."

"Ihh, takut banget sama Pak Toni," ucapku, pura-pura cemas, sambil tertawa kecil di balik cadar. Padahal aku sama pak toni sudah melakukan hal yang lebih daripada sentuhan di pantat.

"Udah, Pak, cepat ayamnya," ucapku, suaraku sedikit mendesak.

Pak Toni mencondongkan tubuhnya ke arahku, suaranya berbisik. "Bentar, sabar, Ustadzah, nunggu Bu Rina pulang dulu."

Aku tertawa kecil, menantangnya. "Gak usah, Pak. Lagian aku gak mau. Habis ini suamiku pulang, haha."

"Yahh..." Pak Toni terdengar kecewa, matanya menatapku penuh harap.

Aku melirik ke arah Bu Rina. Dia sedang sibuk memilih sayuran, posisinya di seberang kami. Aku melihat celah. Aku melangkah mendekat ke arah Pak Toni. Lalu, tanganku yang tersembunyi di balik gamis dan jilbab lebarku, kupegang penisnya dari luar celananya. Penisnya masih lemas. "Ternyata enggak segahar waktu berdiri," pikirku, dan aku tertawa kecil di dalam cadarku.

Aku mulai meremasnya perlahan. Gerakan tanganku yang lembut dan penuh gairah membuat penisnya merespons. Perlahan, aku merasakan penisnya berdiri, mengeras.

Setelah penisnya tegak sempurna di genggamanku, aku melepaskannya. "Cepat, Pak, ayamnya bungkusin," pintaku, nadaku kembali normal.

"Ahhh, ini sudah, Ustadzah. Kocokin dong," rintihnya, suaranya serak.

"Udah, jangan ngawur. Nanti dilihat Bu Rina," tegasku, namun aku menyeringai.

Ia menurut, menghela napas panjang, lalu membungkus ayam dan sayuranku. "Jadi berapa totalnya, Pak?" tanyaku.

"30 ribu, Ustadzah," jawab Pak Toni.

Aku mengambil uang, lalu menyerahkan ke Pak Toni. Kemudian, aku berpamitan pulang ke Bu Rina. "Bu Rina, aku duluan yaa. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, Ustadzah," balas Bu Rina.

Setelah berpamitan, aku berjalan dengan cepat masuk ke rumah, meninggalkan Pak Toni yang berdiri di belakang gerobaknya dalam keadaan ngaceng sempurna. Aku menutup pintu, dan tawa kecil kemenangan pecah dari balik cadarku. Aku berhasil menggoda Pak Toni di depan Bu Rina, dan aku menyukai sensasi bahaya itu.

Kemudian aku masuk ke dalam rumah, menaruh bahan-bahan yang kubeli tadi di dalam kulkas. Aku segera mengeluarkan semua bumbu nasi goreng—bawang merah, cabai, dan lainnya—lalu memblendernya. Aku ingin semua siap, sehingga begitu Mas Dimas sampai, aku tinggal memasak dan tidak terburu-buru.

Setelah semua selesai, aku berjalan ke sofa ruang tamu, merebahkan diri, dan membuka HP. Aku berharap ada kabar terbaru dari Mas Dimas. Namun, tidak ada notif chat sama sekali. "Mungkin dia sudah di pesawat," pikirku.

Aku pun mulai scroll-scroll video pendek, mencoba mengalihkan pikiran dari kelelahan dan kegilaan yang baru saja terjadi. Di tengah asyiknya aku scrolling, aku mendengar suara aneh dari depan rumah, seperti gerobak yang digeser dan desahan tertahan.

Aku mengintip dari balik jendela. Ternyata, di luar pagar rumah, gerobak Pak Toni masih ada, dan aku melihat Pak Toni berdiri, mukanya mendongak ke atas, matanya terpejam. Aku tidak tahu kenapa dia melakukan itu. Tiba-tiba, dari bawah Pak Toni, kepala Bu Rina muncul.

Aku terkesiap, tubuhku membeku. Aku tahu posisi itu! Aku tahu pasti Bu Rina habis mengulum penis Pak Toni. Aku tidak menyangka. Bu Rina, yang tadi sempat meremehkan Pak Toni di depanku, kini melakukan perbuatan itu tepat di depan rumahku, di balik gerobak sayur. Pemandangan itu begitu gila. Sebuah senyum sinis terukir di balik cadarku. Ternyata, bukan hanya aku yang punya rahasia liar.

Aku masih menempel di jendela, mataku membelalak tak percaya. Setelah Bu Rina bangkit, kini dia berjongkok kembali, posisinya seperti rukuk membelakangi pak toni di balik gerobak. Badannya terhalang dari pandangan jalan umum, namun dari posisiku di ruang tamu, aku melihat mereka sangat jelas terlihat.

Pak Toni menyeringai. Ia memegang pinggang Bu Rina, memosisikan penisnya bersiap memasuki vagina wanita itu. Kemudian, ia mendorongnya ke depan.

Aku melihat kepala Pak Toni mendongak ke atas, matanya terpejam, menikmati setiap sentuhan. Pinggulnya mulai memompa vagina Bu Rina. Gerakannya cepat, brutal, seolah ingin melampiaskan semua gairah yang sudah tertahan.

"Ahh! Toni! Terus!" desah Bu Rina, suaranya tertahan, namun masih bisa kudengar.

Pak Toni mengerang, suaranya serak. "Ahh! Bu Rina! Enak banget! Aku selalu suka memek kamu yang sempit ini!"

Aku mencerna desahan Pak Toni. Ucapan "Aku selalu suka memek kamu yang sempit ini!" menyiratkan bahwa mereka sudah sering melakukannya. Pikiranku kalut. Aku menebak-nebak, korban Pak Toni bukan cuma aku dan Bu Rina. Aku curiga masih banyak lagi ibu-ibu di kompleks ini yang menjadi korbannya, bersembunyi di balik citra alim mereka.

Aku terus mengintip, menyaksikan perbuatan mereka selama kira-kira sepuluh menit. Pak Toni terlihat semakin memburu, gerakannya brutal.

"Ahh, Bu, aku mau keluar!" rintihnya, suaranya menggelegar.

Kemudian, ia melepas penisnya dari vagina Bu Rina. Bu Rina terkesiap. Pak Toni lantas menekan Bu Rina agar tetap jongkok. Kulihat Bu Rina mengulum penisnya.

Pak Toni mendesah hebat, kepalanya mendongak. "Ahh! Bu Rina! Ahhhhhh!" Ia memuntahkan spermanya ke dalam mulut Bu Rina. Bu Rina menelan, lalu Pak Toni melepaskan penisnya.

Aku terkesiap di balik jendela. Pemandangan itu begitu gila, sebuah rahasia liar yang tersembunyi di balik gerobak sayur. Aku tahu, aku adalah saksi kunci dari permainan gila yang mereka lakukan.

Setelah melihat perbuatan mereka, aku menarik diri dari jendela. Aku tidak peduli dengan Pak Toni dan Bu Rina lagi. Sebuah senyum sinis tersungging di balik cadarku. Kebanyakan orang di balik penampilan alimnya ternyata menyimpan rahasia liar.

Aku berjalan cepat ke studioku. Aku kembali memproses semua pesanan yang menumpuk karena live streaming gila kemarin, lalu mulai nge-packing sendirian. Tanganku cekatan membungkus gamis syar'i, namun pikiranku melayang pada pemandangan di luar pagar tadi. Rasa bersalah dan geli bercampur menjadi satu.

Sampai siang tiba, ada notifikasi di HP-ku. Jantungku langsung berdebar kencang. Itu Mas Dimas. Dia mengabarkan kalau dia sudah sampai bandara dan akan otw ke rumah. Entah kenapa, aku merasa deg-degan luar biasa. Aku kangen sekali padanya, namun di saat yang sama, aku merasa berdosa setelah semua kegilaan yang kulakukan di balik layar. Perasaan kontradiktif itu membuat hatiku bergemuruh.

Aku segera membalasnya. "Oke, Mas, hati-hati di jalan, jangan ngebut."

Aku melanjutkan packing pesanan gamisku. Aku ingin menyelesaikan semuanya sebelum dia tiba. Satu jam kemudian, semua pesanan selesai. Aku menaruhnya di kotak paket di depan rumah untuk di-pick up kurir.

Setelah itu, aku ke kamar, Aku melepas jilbab dan cadarku, merebahkan diri di kasur sambil scroll-scroll video pendek, mencoba menenangkan kegugupan. Setiap suara mobil yang lewat membuatku tersentak.

Tiba-tiba, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Suara mesin yang sangat kukenal. Mas Dimas. Jantungku serasa ingin melompat keluar. Mas Dimas sudah pulang.

Aku segera bangkit dari kasur, merapikan sedikit rambut dan pakaianku, lalu berjalan terhuyung-huyung menuju pintu depan. Aku menarik napas dalam, mencoba memasang ekspresi rindu yang tulus, meskipun rasa bersalah dan gairah membara di dalam diriku.

Aku membuka pintu. Di depanku, berdiri Mas Dimas, dengan tas kerja di tangan. Wajahnya terlihat lelah, namun ada sorot mata yang tajam dan penuh arti. Ia tidak tersenyum lebar seperti biasanya, melainkan menyeringai tipis, seolah dia sedang menggodaku.

"Assalamualaikum, Sayang," sapanya, suaranya dalam.

Aku langsung memeluknya erat, menenggelamkan wajahku di dadanya. "Waalaikumsalam, Mas. Adek kangen banget..." bisikku, air mata yang kurasakan bukan hanya air mata rindu, tapi juga air mata pengakuan dosa.

Setelah puas memeluk Mas Dimas, aku langsung melepas jaketnya, lalu menuntunnya ke meja makan. Aku bergegas ke dapur. Kemudian, dengan gerakan cepat aku memasak nasi goreng yang sudah kuracik bumbunya. Dengan topping ayam dan aroma bawang merah serta cabai yang menusuk hidung, nasi goreng itu segera kuhidangkan di meja.

Kami berdua makan bersama. Mas Dimas melahapnya dengan cepat. Setelah makanan kami habis, percakapan kecil pun dimulai.

"Dek, gimana di rumah sendiri? Seru kan? Hehe," tanya Mas Dimas, senyumnya penuh arti.

Aku menunduk, memainkan kain gamisku. "Ihh, Mas. Maaf ya, Mas, Adek sekarang udah kotor," ucapku, suaraku terdengar menyesal, meskipun aku tahu penyesalan itu semu.

"Gak apa-apa, Dek. Mas enggak marah," balasnya, suaranya dalam. "Justru dengan ini hubungan kita sekarang makin mesra, kan? Dulu hidup kita monoton banget kan. Sekarang kita jadi lebih sering ngobrol."

"Iyaa sih, Mas," jawabku pelan.

Mas Dimas menggeser kursinya, mendekat ke arahku. Ia meraih tanganku, menggenggamnya erat. "Adek tahu kan, Mas pasang CCTV itu karena Mas mau lihat Adek. Mas mau lihat Adek yang lebih berani, Adek yang dulu enggak bisa Mas puaskan. Dan Mas bangga, Adek nurutin semua kemauan Mas."

"Mas, tapi... Mas... Mas benar-benar serius?" tanyaku,. Ini adalah satu-satunya ketakutan yang nyata.

"Sangat serius, Sayang," jawabnya, ia mencium tanganku. "Sekarang, kita ke kamar. Mas mau lihat Adek yang binal. Adek mau kan, tunjukin ke Mas, Adek yang selama ini Mas tonton di video?"

"Aku mau, Mas," jawabku, suaraku parau, penuh penyerahan diri. Kami pun bangkit, berjalan menuju kamar, meninggalkan piring kotor di meja makan. Hari ini, aku akan menunjukkan pada Mas Dimas, seberapa liarnya aku sekarang dalam urusan ranjang.

Setelah sampai kamar, Mas Dimas langsung menubrukku, memelukku erat. Bibir kami bertemu, dan kami berciuman dengan brutal, sebuah luapan hasrat yang tertahan. Aku bisa merasakan lidahnya menuntut, menjelajahi setiap inci mulutku.

Tangannya yang besar merayap ke pantatku, meremasnya dengan brutal. "Gila, Dek, pantatmu ini, Emang paling juara." bisiknya di sela ciuman kami. Kemudian tangannya semakin naik ke pinggangku, lalu ke payudaraku. Ia meremasnya dengan lembut, sangat berbeda dengan sentuhan kasar Fajar atau Pak RT.

"Emmhh..." aku mendesah pelan, merasakan sensasi sentuhan yang familier namun kini terasa begitu memabukkan.

Aku tak mau kalah, tanganku bergerak cepat ke arah penisnya. Di luar dugaanku, penisnya sudah sangat tegang, membesar di balik celana. Aku mengelusnya, merasakan kehangatan yang memancar.

Mas Dimas menarik napas panjang. "Ahh... Dek... mas tahu, kamu kangen ini kan," desahnya, suaranya serak.

"Mas... penis Mas udah keras banget," bisikku, suaraku parau. Aku mencengkeramnya, merasakan setiap uratnya menonjol. "Aku suka..."

"Ini buat Adek, Sayang," balasnya, ia mencium leherku. "Kontol ini buat Adek yang semakin binal. Mas mau lihat Adek yang ada di video itu. Punya Mas sekarang sudah bukan seperti yang dulu lagi, nanti akan mas buktikan" bisiknya, suaranya penuh kemenangan...

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com