Pagi itu, aku terbangun dengan tubuh terasa lelah, namun hatiku dipenuhi perasaan campur aduk. Di sampingku, Pak Budi masih terlelap. Aku bangkit, berjalan terhuyung-huyung menuju kamar mandi. Kucuran air dingin membasuh tubuhku, tapi yang kurasakan hanyalah kekotoran yang tak kunjung hilang. Aku mengusap vaginaku, membersihkan sisa-sisa sperma Pak Budi. Pikiranku kalut. Apakah aku akan hamil? Aku bahkan belum pernah hamil dengan Mas Dimas, suamiku, dan kini ada kemungkinan aku hamil dengan pria lain, bahkan pria tua yang baru aku temui sehari. Ketakutan itu mencengkeramku, membuatku gemetar.
Selesai mandi, aku mengambil air wudhu, lalu menunaikan salat Subuh. Aku mencoba untuk khusyuk, tapi bayangan semalam terus menghantuiku. Selesai shalat, aku tetap memakai mukena, hanya saja aku tidak memakai dalaman apa pun. Aku kembali ke kamar dan duduk di samping Pak Budi yang masih terbaring. Aku menatapnya, ada perasaan jijik bercampur dengan rasa takjub. Ia terlihat begitu damai, seolah tidak terjadi apa-apa. Perlahan, aku mengulurkan tanganku, mencoba membangunkannya.
"Pak, bangun," bisikku, suaraku parau.
Ia mengerang, lalu perlahan membuka matanya. Ia menatapku, senyumnya penuh arti. tubuhnya masih telanjang dibalik selimut, Aku menunduk, malu, tapi pada saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh menjalar di seluruh tubuhku. Mataku tak sengaja melirik ke bawah, dan aku terkejut. Penisnya tegak sempurna, lebih besar dari yang kubayangkan saat melihatnya dari dekat.
"Masya Allah, Pak..." rintihku, suaraku nyaris tak terdengar.
Ia tertawa pelan. "Ustadzah, kenapa? Kaget?" godanya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Punya Bapak selalu begini kalau bangun. Sempurna, kan? Keras banget. Penis ini yang semalam membombardir memek ustadzah. hehe"
Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku tahu, ia sedang mengujiku. Ia mencoba menarikku lebih dalam ke dalam permainannya. "Iya, Pak..Terimaksih ya semalam." jawabku, suaraku parau.
"Sama-sama ustadzah, Sini Ustadzah, sentuh," perintahnya, suaranya melembut, penuh rayuan. "Rasakan bagaimana kerasnya ini. Ini yang akan membuat Ustadzah ketagihan di entot kontol besar nanti."
Aku menggeleng, mencoba menolak. "Jangan, Pak... aku takut..."
"Kenapa, Sayang?" bisiknya, tangannya meraih tanganku, lalu menuntunku untuk menyentuh penisnya yang tegang. "Bapak tidak akan gigit kok. Ustadzah harus berani. Lihatlah, kontol ini milikmu sekarang. Setelah ini, kamu tidak perlu repot-repot lagi berfantasi dengan laki-laki lain di dunia maya. Cukup hubungi Bapak saja."
Aku memejamkan mata, merasakan sensasi itu. Penisnya begitu besar, begitu keras, dan panas. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak, tapi sentuhan itu terlalu nyata. Aku mulai mengocoknya perlahan, mengikuti irama desahanku.
"Ahh... iya, Ustadzah... begitu... terus... lebih cepat," bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Ustadzah, Bapak penasaran banget, bibir Ustadzah yang indah itu, pasti bisa bikin Bapak keenakan, mau coba lagi enggak, Ustadzah? Kamu tidak usah malu, di dalam mukena ini, kamu bebas berbuat apa pun."
Ia menyeringai, matanya menatapku lekat-lekat. Aku menghentikan kocokanku, bingung. "Maksud Bapak?" tanyaku, suaraku bergetar.
Ia tertawa, tawa yang terdengar kejam di telingaku. "Iya, Sayang. Bapak akan buat Ustadzah lebih keenakan. Ustadzah tidak perlu khawatir dengan Mas Dimas. Bapak sudah kirimkan videomu semalam ke Mas Bims. Mas Bims bilang, Dia suka banget, dia sudah kasih izin buat aku ngentotin ustadzah."
Aku tersentak, tubuhku membeku. Mataku membelalak. Videoku? Mas Bims? Kasih izin? Pikiranku berputar tak karuan. Ia tahu. Ia melihatnya.
Untuk menyetubuhiku dia harus minta izin mas bims, bukan nya izin mas dimas sebagai suami sah ku, seakan-akan mas bims punya kendali penuh atas kepemilikan tubuhku untuk di setubuhi siapapun. Tapi aku tak terlalu peduli.
"Sini, Sayang, mendekat," bisik Pak Budi, suaranya serak dan menuntut. Ia menarik tubuhku, membiarkanku bersandar di dada bidangnya yang masih hangat. Tangan besarnya merayap di punggungku, lalu dengan santai melingkar ke depan, meremas payudaraku dari luar mukena. Sentuhannya terasa begitu nakal, membuatku merinding.
"Kamu gak pake bra ya, Ustadzah?" tanyanya, suaranya bernada menggoda, dan aku hanya bisa mengangguk pelan. "Udah mulai binal yaa? Hehe. Aku suka," jawab Pak Budi, tawanya terdengar penuh kemenangan.
Ia menuntunku untuk turun dari dadanya, membiarkan tubuhku berlutut di depannya. "Sekarang, hisap kontol Bapak, Ustadzah. Aku akan buat kamu lupa dengan suamimu."
Aku hanya bisa pasrah, memejamkan mata, dan membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini. Tanpa sadar, aku menganggukkan kepala, ku masukkan penisnya ke dalam cadarku, kepalaku perlahan turun mengulum penisnya. Sensasi penisnya yang besar dan keras di dalam mulutku, perpaduan sentuhan tangannya di payudaraku, membuatku gila. Aku tahu, aku sudah tidak bisa kembali.
Aku menggenggam penisnya yang besar itu, jari-jariku melingkarinya dengan erat. Kepalaku naik turun, mengulum penis Pak Budi. Desahannya membuatku semakin berani. "Ustadzah, kamu hebat banget... pintar sekali... ahhh..." bisiknya, tangannya mengusap-usap kepalaku, mempercepat irama hisapanku.
"Ahh… Ustadzah… jilatanmu, hisapanmu… Ahh… enak banget, Sayang," desahnya, suaranya serak, matanya terpejam, menikmati setiap gerakanku. "Aku suka wanita sepertimu, di luar alim dan polos, tapi di dalam... Ahhh... liar banget."
"Ustadzah, apa kamu pernah mencicipi punya suamimu seperti ini? Apa kontol dia keras seperti ini? Pasti tidak, kan?" tanyanya, suaranya dipenuhi ejekan. "Ayo, Ustadzah, jangan malu. Nikmati saja... ini lebih nikmat dari punya suamimu..."
Aku menelan ludah, air mataku menetes. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku terus mengulumnya, merasa seperti budak nafsu yang tidak berdaya. Ia menarikku lebih dekat, tangannya yang lain memegang daguku, memaksaku untuk menatapnya.
"Ustadzah, kamu harus berjanji... kamu akan terus begini. Bapak suka... Bapak akan buat kamu lebih bahagia... Bapak akan berikan apa saja yang kamu mau..."
Setelah cukup puas mengulum penis Pak Budi, aku merasa lemas tak berdaya. Pak Budi menarikku, mengangkat daguku, membuat mata kami bertemu. Ia menatapku lekat-lekat, senyum misterius mengembang di bibirnya.
"Ustadzah..." bisiknya, suaranya dalam. "Ustadzah… aku sudah merasakan mulutmu yang lembut dan vaginamu yang sempit, tapi ada satu lagi yang belum pernah aku lihat dan rasakan," bisiknya. " Sekarang, Bapak minta satu hal. Boleh?"
Aku hanya mengangguk, napasku masih terengah. "Apa, Pak...?"
"Buka cadarmu, aku ingin melihat wajahmu yang cantik secara langsung" pintanya.
Jantungku berdebar kencang. Aku menggelengkan kepala. "Jangan, Pak... Aku tidak bisa."
"Kenapa? Kamu malu?" godanya, jemarinya membelai bibirku. "Kamu tidak perlu malu. Bapak sudah lihat tubuhmu, dan Bapak sangat suka. Sekarang Bapak ingin lihat wajah cantikmu, lihat bagaimana ekspresi keenakanmu saat Bapak menggenjotmu. Ayo, Ustadzah, jangan sembunyikan kecantikanmu dari Bapak."
"Tidak... tidak, Pak... aku takut..." rintihku.
Pak Budi tertawa, tawa yang penuh rayuan. Ia memegang daguku, lalu perlahan menurunkan tangannya ke selangkanganku dari luar mukena, mengusap celah di antara pahaku. "Ustadzah, kamu harus berani. Kalau kamu berani, Bapak janji, kenikmatan yang tadi kamu rasakan akan berlipat-lipat ganda. Bapak akan buat kamu lebih keenakan. Kamu gak mau, Ustadzah?"
Aku terdiam, menelan ludah. Aku memikirkan tawaran Pak Budi. Kenikmatan yang tadi dan kemarin aku rasakan sudah membuat seluruh tubuhku gemetar. Jika Pak Budi berjanji akan memberikan kenikmatan yang lebih, apakah aku bisa menolak?
"Ustadzah, jangan ragu. Bapak tahu kamu mau," bisik Pak Budi, suaranya meyakinkan. "Bapak tahu kamu suka dengan penis Bapak yang besar ini, kan? Bapak akan masukkan kontol ini ke dalam mulut Ustadzah lagi, dan Bapak akan membiarkan Ustadzah mengulumnya sampai Ustadzah puas. Tapi, dengan satu syarat, Bapak harus melihat wajah Ustadzah. Bapak ingin lihat bagaimana Ustadzah keenakan saat mengulum kontol Bapak ini."
Aku terperangkap dalam jebakan Pak Budi. Aku tergoda oleh janji kenikmatan yang lebih besar, dan di saat yang sama, aku merasa tak berdaya untuk menolak. Perlahan, tanganku terangkat, menggapai tali cadarku. Jari-jariku gemetar saat aku melepaskan ikatan itu. Cadar yang selama ini melindungiku, kini terlepas, memperlihatkan wajahku yang cantik.
Pak Budi tertegun. Ia menatapku lekat-lekat, matanya memancarkan kekaguman. "Masya Allah, Ustadzah... wajahmu benar-benar sempurna. Kamu cantik sekali... lebih cantik dari yang Bapak bayangkan," bisiknya, suaranya dipenuhi ketulusan. "Sekarang, Bapak akan berikan apa yang Bapak janjikan. Ayo, Sayang. Nikmati Bapak. Nikmati setiap inci kontol Bapak."
Pak Budi tersenyum, lalu menarik kepalaku, mengarahkannya kembali ke penisnya yang tegak. "Ayo, Sayang. Jadilah wanita binal yang bapak suka. Ayo, Ustadzah. Kontol Ini lebih baik dari punya suamimu."
Tanpa sadar, aku kembali mengulum penis Pak Budi. Di dalam hatiku, aku merasa hampa, namun tubuhku terasa hidup, merasakan kenikmatan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.
Aku terus mengulum penis Pak Budi, menelan setiap inci dari kejantanannya yang besar itu. Sambil kepalaku naik turun, tangan Pak Budi naik ke wajahku. Ia mengelus-elus pipiku dengan lembut, gerakannya seolah gemas melihat wajahku.
"Masya Allah, Ustadzah... kamu cantik banget," bisiknya, suaranya serak. "Wajahmu sempurna... Aku bisa gila kalau lihat kamu begini terus."
Aku melepaskan hisapanku sejenak, menatap matanya yang dipenuhi nafsu. "Penis Bapak juga sempurna... aku tergila-gila sama penis bapak..." rintihku, tak bisa lagi menahan hasrat.
Pak Budi tersenyum penuh kemenangan. Ia kemudian menarikku, lalu merebahkan ku. Ia sendiri jongkok di depanku, penisnya yang besar dan tegang kini berada tepat di depan wajahku. "Sekarang, hisap lagi, Sayang," perintahnya, suaranya serak. "Hisap sampai Bapak puas."
Aku menurut, kembali mengulum penisnya. Di tengah hisapanku yang brutal, tangan kirinya bergerak. Ia mengangkat ujung mukenaku, menyelipkan tangannya ke dalam, dan mengelus lembut pahaku. "Pahamu mulus banget, Ustadzah... Aku suka."
Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau.
Tangan kirinya terus naik, jari-jarinya yang kasar menyentuh vaginaku yang basah. "Ahh... sudah basah banget memekmu, Ustadzah... Kamu menginginkan ini, kan?" bisiknya. "Kamu suka sentuhan Bapak, kan?"
"Iya, Pak... ahh... iya..." desahku, kepalaku terus naik turun.
Bersamaan dengan itu, tangan kanannya bergerak. Ia menyentuh payudaraku dari luar mukena. Ia meremasnya, gerakannya begitu lihai dan penuh nafsu. Aku menjerit pelan, tak bisa menahan kenikmatan yang membanjiri seluruh tubuhku.
"Ahh... Ustadzah... payudaramu ini... kencang sekali..." bisiknya. "Aku suka. Aku suka semuanya dari Ustadzah... Kamu adalah wanita paling seksi yang pernah Bapak temui... Badanmu sempurna."
Aku tidak bisa berkata-kata, hanya mendesah dan terus mengulum. Aku mencengkeram erat penisnya, dan sesekali aku memuji. "Penis Bapak juga... besar banget, Pak.. penis terbesar yang pernah aku temui... aku suka..." rintihku, air mataku mengalir, bukan karena sedih, tapi karena kenikmatan yang luar biasa. Aku tahu, aku sudah sepenuhnya dikendalikan oleh nafsu, dan aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin kenikmatan itu terus berlanjut.
"Iya, Ustadzah, kontolku sekarang punyamu," bisik Pak Budi, suaranya serak. Ia mengelus kepalaku. "Kapan pun kamu mau, kontol ini pasti datang ke sini untuk puasin kamu. Kamu cuma perlu bilang. Kamu mau ini,"
Aku tidak bisa menahan diri, tanganku meraih penisnya, mengelusnya lembut. "Ahh... terima kasih, Pak... ini penis punyaku... ahh... sempurna sekali..." rintihku, suaraku tercekat. "Pak, aku mau penis ini, ahh... masuk ke vaginaku lagi, Pak... ahh..."
Pak Budi tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat kejam di telingaku. Ia menggelengkan kepala, "Sabar, Ustadzah... nanti kontol Bapak akan buat Ustadzah keenakan... Sabar, kita main pelan-pelan ya... kita nikmatin hari yang panjang ini. Kamu kan sudah bilang kalau kamu suka penis Bapak, jadi sekarang tugasmu adalah nurut, ya."
Aku hanya bisa mengangguk pasrah, "Iya, Pak... ahhh... aku nurut..."
Ia kemudian melepaskan tanganku. Ia mengangkat penisnya yang tegang, lalu menampar-nampar di wajahku. Aku terkesiap, sensasi hangat dan keras itu membuatku mendesah tak karuan.
"Ahhh... Ustadzah... wajah kamu cocok banget ditampar kontol gede Bapak," bisiknya, suaranya serak. Ia terus menampar, gerakannya pelan, namun intens. Ia menyeringai, "Ahhh... Ustadzah... rasakan ini... rasakan bagaimana kontol Bapak ini... rasakan kehangatannya... rasakan besarnya... ahh... Bapak bisa gila..."
Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini. Sensasi penisnya yang hangat dan keras menampar-nampar pipi, hidung, dan bibirku membuatku gila.
Pak Budi terus menampar-nampar penisnya di wajahku. Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini. Sensasi itu begitu aneh, namun memabukkan. Kemudian Ia menghentikan gerakannya.
"Ustadzah," bisiknya, suaranya melembut, penuh bujukan. Ia meraih kedua tanganku, menggenggamnya erat. "Bapak sudah lihat wajah Ustadzah yang cantik. Tapi Bapak ingin lihat kamu seutuhnya. Buka mukenamu ya ustadzah?"
Jantungku berdebar kencang. Aku tahu, jika aku melepas mukena ini, aku akan telanjang bulat. Rambutku, yang selama ini hanya dilihat oleh suamiku, akan terlihat olehnya. Rasa takut yang luar biasa menyergapku. Aku menggelengkan kepala dengan cepat.
"Jangan, Pak... aku tidak mau.. aku angkat aja mukena nya ya pak, jangan di lepas.." rintihku, suaraku parau.
Pak Budi tertawa pelan. "Kenapa, Sayang? Kamu malu? Kamu tidak perlu malu. Tubuhmu ini terlalu indah untuk disembunyikan. Aku sudah tahu kalau di dalam mukena ini, kamu tidak pakai dalaman apa-apa. Kamu itu suka kan, main-main seperti ini? Apalagi kalau kamu telanjang bulat dan rambutmu terurai, kamu akan semakin seksi dan menggoda. Kontolku pasti suka lihat kaku seperti itu ustadzah"
Ia melepaskan genggaman tangannya, lalu menyentuh pundakku dengan lembut. Jemarinya perlahan mengelus pundakku, membuatku merinding. "Bapak janji, Bapak tidak akan buat kamu rugi. Bapak akan buat kamu puas. Kamu akan merasakan nikmat yang tidak pernah suamimu berikan. Kamu akan tahu bagaimana rasanya jadi wanita yang paling diinginkan, wanita yang paling seksi. Ayo, Sayang... kamu harus berani sedikit. Jangan bohongi dirimu sendiri. Kamu menginginkan ini."
Rayuannya bagai sihir, meluluhkan semua pertahananku. Aku memejamkan mata, tak bisa lagi menolak. Aku tahu, aku sudah jatuh terlalu dalam. Semua kata-katanya menusuk, tapi terasa begitu membebaskan. Ia benar. Aku ingin ini. Aku ingin kenikmatan yang lebih.
Aku mengangkat kepalaku, menatap matanya yang memancarkan nafsu. "Yaudah, Pak... Bapak aja yang lepasin..." bisikku, suaraku nyaris tak terdengar, sebuah pengakuan kalah. Aku bangkit dari kasur, turun ke lantai, berdiri di depannya.
Pak Budi menyeringai, senyum penuh kemenangan. Ia juga bangkit dari kasur, lalu dengan perlahan, ia menarik ujung bawah mukenaku ke atas kepala. Lalu dia lepaskan dan di lepar ke lantai, menampakkan tubuhku yang telanjang bulat. Rambutku yang selama ini tertutup kini tergerai, jatuh menutupi punggungku.
Pak Budi tertegun. Ia menatapku, matanya membelalak, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia menghela napas, suaranya serak, penuh kekaguman. "Masya Allah, Ustadzah... kamu benar-benar sempurna... Tubuhmu putih, mulus, dan kencang. Rambutmu indah sekali... Aku tidak pernah melihat wanita seindah ini."
Ia membiarkan mukena itu jatuh ke lantai, Kini, kami berdua sama-sama telanjang bulat. Aku merasa malu, tapi di saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang terasa begitu memabukkan.
"Ayo, Sayang... kita akan bermain," bisiknya, suaranya penuh kemenangan. Ia melangkah ke arahku, dan aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini.
Pak Budi meraih tanganku, ia menuntunku ke arah meja rias. Aku terdiam, mengikuti setiap langkahnya. Di sana, di depan kami, terdapat kaca besar yang memantulkan seluruh tubuh kami yang telanjang bulat. Jantungku berdebar kencang, perasaanku campur aduk antara rasa malu dan takjub.
"Lihat, Ustadzah... lihatlah," bisiknya, suaranya serak. Ia memelukku dari belakang, menempelkan tubuhnya yang kekar dan tua ke punggungku yang mulus. "Lihat bagaimana kita terlihat di kaca itu."
Aku menatap pantulan kami di cermin. Sisi kanan kami adalah aku, seorang wanita yang baru saja melepas semua pakaiannya, tubuhku putih, mulus, dan kencang. Di sampingku, Pak Budi, dengan kulitnya yang keriput dan tubuhnya lumayan kekar di usianya. Pemandangan itu begitu kontras, begitu gila.
"Ustadzah, kamu sangat sempurna," bisiknya, suaranya penuh kekaguman. Ia menempelkan wajahnya di pipiku. "Lihatlah, kamu seperti bidadari, dan Bapak, Bapak ini cuma laki-laki tua yang menginginkan tubuhmu."
Namun, mataku tak bisa lepas dari satu hal, penisnya. Penisnya yang besar dan tegang menempel di pantatku, mengacung, seolah-olah ingin membelah pantatku. Aku bisa merasakan setiap uratnya yang menonjol, dan sensasi itu membuatku gila.
"Lihat Ustadzah... kontol ini tegak untukmu. Hanya untukmu..." bisiknya lagi. "Dan lihatlah pantatmu. Begitu indah... begitu kencang... Kontol Bapak tidak tahan melihatnya. Kontol ini ingin masuk ke dalam vaginamu yang sempit lagi Ustadzah."
Aku hanya bisa mendesah, tak bisa berkata-kata. "Ahh... Pak..." rintihku, suaraku parau.
Ia terus menggerayangi tubuhku dari belakang, meremas payudaraku, mengelus pahaku, dan sesekali memaju-mundurkan penisnya di pantatku. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan ini.
"Ustadzah, kamu sudah binal sekarang," bisiknya. "Tidak ada yang perlu kamu sembunyikan lagi. Ini rahasia kita berdua. Kamu akan menjadi wanita paling berani yang pernah ada. Dan Bapak yang akan memuaskanmu."
Aku mengangguk, air mata mengalir dari mataku, aku telah jatuh terlalu dalam..
Bersambung....
