Kemudian aku ke depan rumah. Aku membuka pintu rumahku, ada pria tua berumur sekitar 40-an. Aku memandang mukanya, aku kaget. Orang ini adalah orang yang fotonya dikirim Mas Bims kepadaku dulu, orang dengan foto penis yang sangat besar. Aku kaget, tapi aku berusaha tenang.
"Assalamualaikum, Ustadzah," salamnya.
"Waalaikumsalam, Pak," jawabku, suaraku sedikit bergetar.
"Gini, Ustadzah, aku disuruh Pak Bims ke sini, untuk mengirim kotak ini."
Aku menerima kotaknya, hatiku berdebar tak karuan. Aku menyuruhnya masuk ke sofa ruang tamu, dan ia menurut. Aku membuka kotaknya, berisi gelang dan kalung. Ada selembar surat dari Mas Bims.
Aku kemudian membuka ponselku, ada chat dari Mas Dimas.
Mas Dimas: Dek, kamu baik-baik aja kan? Apa yang dia berikan?
Aku memfoto kotak itu, dan sebuah suratnya yang belum kubaca. Pikiranku kalut. Pria tua itu kini duduk di hadapanku, menatapku dengan mata penuh gairah. Aku tahu, ini adalah awal dari sebuah permainan yang lebih gila.
Aku menelan ludah, hatiku berdebar tak karuan. Pria tua suruhan Mas Bims itu duduk di hadapanku, menatapku dengan mata penuh gairah. Tanganku gemetar saat membuka surat yang ada di dalam kotak. Isinya hanya satu kalimat, tapi cukup untuk membuat duniaku berputar.
“Sayang, aku tahu kamu berani. Aku sudah mengirimkan hadiahnya. Sekarang, aku butuh bukti. Kirimkan foto payudaramu sebagai ucapan terima kasih. Jangan malu, dan harus orang suruhanku yang ngefoto, kamu pasti bakal suka.”
Aku menatap surat itu, lalu kembali menatap pria tua di depanku. Ia tersenyum penuh kemenangan, seolah tahu apa isi surat itu. Aku mengambil ponselku, dan Mas Dimas sudah membalas chat-ku.
Mas Dimas: Apa isi suratnya, Dek?
Aku: Mas Bims minta fotoin payudaraku, Mas, buat sebagai terima kasih.
Mas Dimas: Kamu mau, Dek?
Aku: Adek gak tau, Mas, Adek takut. Apa yang harus Adek lakuin, Mas?
Mas Dimas: Lakuin aja, Dek. Jangan takut, Mas akan nemenin kamu.
Balasan Mas Dimas membuatku semakin mantap. Aku terkejut, tapi di saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku merasa berani. Aku merasa punya kendali. Aku tahu, ini adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal, tapi entah mengapa, aku tidak mau menghentikannya.
Aku menaruh ponselku, lalu kembali menatap pria tua di depanku. Aku mencoba terlihat santai, meskipun di dalam hatiku, badai tengah berkecamuk. "Pak, nama saya Tiara. Bapak siapa?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar.
"Aku Budi," jawabnya, suaranya serak. "Salam kenal ya, Ustadzah."
"Salam kenal juga, Pak," balasku. "Ohh iya, ini suratnya beneran Mas Bims minta itu ya, Pak?"
"Iya, Ustadzah. Dia minta aku fotoin dada Ustadzah, dengan pakai gelang dan kalung di kotak ini." Ia menatapku, matanya dipenuhi nafsu yang membara. "Gimana, Ustadzah? Kamu mau? Mas Bims bilang, dia akan kasih yang lebih kalau Ustadzah mau."
Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku tahu, ia tidak sedang berbicara tentang uang. Ia berbicara tentang kenikmatan. Ia berbicara tentang hasrat yang selama ini kupendam. Aku menunduk, tak berani menatapnya. Aku tahu, aku sudah jatuh terlalu dalam, dan aku tidak bisa lagi kembali.
"Aku... aku enggak tahu, Pak..." rintihku. "Aku takut..."
"Jangan takut, Ustadzah," bisiknya, suaranya melembut, penuh rayuan. "aku disini gak akan memaksa kok, kalau ustadzah gak mau ya gpp kok.."
Aku berpikir sejenak. Mas Dimas sudah memberiku izin. Entah apa alasannya, tapi restunya membuatku merasa lebih berani. Aku menatap Pak Budi, mencoba menenangkan diri. "Ya sudah, Pak, aku mau," jawabku, suaraku masih sedikit bergetar. "Tapi di dalam studioku saja ya, Pak."
Senyum kemenangan terukir di wajahnya. "Oke, Ustadzah."
Aku berdiri, melangkah ke arah studiku. Pak Budi mengikutiku dari belakang, langkahnya terasa berat dan terburu-buru. Setelah sampai di studio, aku berdiri di tengah ruangan, hatiku berdebar tak karuan. "Aku harus gimana, Pak?" tanyaku, suaraku parau.
"Buka gamisnya aja Ustadzah, sama branya. Lalu pakai kalungnya," jawabnya sambil mengambil ponsel dari saku celana. Ia menyalakannya dan bersiap untuk memotret.
Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku menuruti perkataannya. Dengan tangan yang bergetar, aku membuka resleting gamisku dari depan. Kain gamis yang longgar itu meluncur turun, memperlihatkan tubuhku yang hanya terbalut bra merah. Pak Budi mendesah, matanya membelalak, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Masya Allah, Ustadzah, payudaramu besar sekali," bisiknya, suaranya serak. "Bra merah itu terlihat begitu seksi di tubuhmu."
Aku merasa malu, tapi anehnya, aku juga menyukai sensasi ini. Aku terus melakukannya. Aku melepas bra-ku, membiarkan payudaraku yang besar dan mulus terpampang jelas di hadapannya.
"Sekarang, Ustadzah, pakai kalungnya," perintahnya.
Aku mengambil kalung yang ada di dalam kotak dan memakainya. Kalung itu terasa dingin di leherku, sebuah sensasi yang aneh di tengah semua panas dan gairah ini.
"Sekarang, Ustadzah, berpose yang bagus," bisiknya. "Anggap saja aku ini suamimu. Dan kamu, kamu adalah ratu."
Aku kembali berpose sesuai arahannya. Dia terus mengarahkan poseku, suaranya serak dan menuntut. "Lihat ke kamera, Ustadzah... ya, begitu... sekarang, miringkan sedikit tubuhmu..."
Aku menuruti setiap perintahnya, merasa seperti boneka yang bisa ia mainkan sesuka hati. Aku tahu, ini adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal. Tapi entah mengapa, aku tidak mau menghentikannya. Aku hanya ingin kenikmatan itu. Aku hanya ingin puas.
"Sekarang, Ustadzah, sentuh payudaramu... ya, begitu... remas pelan-pelan," bisiknya. "Aku suka melihatmu seperti ini, terlihat seksi banget."
Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku meremas payudaraku sendiri, mengikuti irama desahanku.
"Masya Allah... Ustadzah... cantik banget..." bisiknya lagi. "Sekarang, Ustadzah lepas semua gamisnya kebawah lalu sentuh vaginamu... ya, begitu... dari luar celana dalammu..."
Aku menuruti setiap perintahnya. Tanganku gemetar, tapi aku terus melakukannya. Aku meloloskan gamisku kebawah kemudian aku menyentuh vaginaku dari luar celana dalam, merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri.
"Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
"Ustadzah suka kan?" tanyanya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Aku tahu Ustadzah suka. Aku akan membuat Ustadzah lebih keenakan."
"Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku merasa malu, hanya memakai celana dalam, hijab, dan cadar di hadapan Pak Budi yang penisnya selalu aku kagumi lewat foto yang dikirim Mas Bims.
"Ustadzah suka kan?" tanyanya, suaranya serak, penuh kemenangan.
Aku tidak bisa menjawab, hanya mengangguk pelan. Ia terus mengarahkan poseku, setiap perintahnya membuatku semakin tenggelam dalam sensasi yang aneh dan memabukkan ini. "Ustadzah, sekarang sentuh putingmu," bisiknya, suaranya serak. "Pilin pelan-pelan, seperti yang kamu lakukan di live-mu kemarin. Aku suka melihatmu keenakan seperti itu."
Aku menuruti setiap perkataannya, tanganku gemetar saat memilin putingku. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku mendesah hebat. "Ahhh... ahh... Mas... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Ia tersenyum puas, matanya tak lepas dari tubuhku. Aku melirik ke celananya, dan aku terkejut. Celananya mengembang sangat besar. Aku bisa membayangkan penisnya yang ereksi, penis yang sama yang kulihat di foto Mas Bims. Perasaan jijik dan gairah bercampur aduk, membuatku gila.
"Ustadzah, sentuh vaginamu... ya, begitu... dari luar celana dalammu," bisiknya lagi.
Aku menuruti setiap perintahnya, tanganku gemetar, tapi aku terus melakukannya. Aku menyentuh vaginaku dari luar celana dalamku, merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Ia tersenyum, lalu mendekat. Tangannya yang besar dan kasar menyentuh pinggulku, membelainya pelan. "Aku suka Ustadzah yang nakal," bisiknya. "Aku suka Ustadzah yang berani. Jangan malu, ini rahasia kita bertiga dengan mas bims. Kamu akan ketagihan."
Dia terus meremas payudaraku, memilin putingku. Aku mendesah. Tangannya yang kasar terasa begitu brutal, tapi sensasi itu membuatku semakin gila. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan ini.
Kemudian, dia menyuruhku melepas celana dalamku. "Lepas celana dalammu, Ustadzah. Aku ingin melihat semua keindahanmu," bisiknya, suaranya serak.
Aku nurut. Dengan tangan gemetar, aku membuka celana dalamku. Kain itu meluncur turun, memperlihatkan vaginaku yang basah. Kini, aku telanjang bulat, hanya memakai jilbab dan cadar.
Dia tersenyum penuh kemenangan, matanya memancarkan gairah yang membara. Dia menuntunku untuk berpose di kursi, dengan berbagai gaya sensual. "Duduk, Ustadzah... ya, begitu... sekarang, lebarkan kakimu..."
Aku menuruti setiap perintahnya, merasa seperti boneka yang bisa ia mainkan sesuka hati. Aku tahu, ini adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal. Tapi entah mengapa, aku tidak mau menghentikannya. Aku hanya ingin kenikmatan itu. Aku hanya ingin puas.
Dia terus mengarahkan poseku, setiap perintahnya membuatku semakin tenggelam dalam sensasi yang aneh dan memabukkan ini. "Ustadzah, sentuh putingmu... ya, begitu... pilin pelan-pelan," bisiknya. "Aku suka melihatmu keenakan seperti ini."
"Masya Allah... Ustadzah... cantik banget..." bisiknya lagi. "Sekarang, Ustadzah, sentuh vaginamu... ya, begitu... Aku suka melihatmu keenakan seperti ini."
Aku menuruti setiap perkataannya, tanganku gemetar, tapi aku terus melakukannya. Aku menyentuh vaginaku, merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Dia tersenyum, lalu mendekat. Tangannya yang besar dan kasar menyentuh pinggulku, membelainya pelan. "Aku suka Ustadzah yang nakal," bisiknya.
Dia terus meraba pinggulku, pahaku, lalu membelai bibir vaginaku. Aku mendesah hebat. Sensasi jari-jarinya yang kasar di kulitku yang sensitif membuatku melengkung. Aku tidak bisa mengendalikan diri, tubuhku bergerak tak terkendali mengikuti setiap sentuhannya. "Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau. "Terus, Pak... lebih dalam..."
Kemudian dia menaruh ponselnya di tripod di mejaku. "Sekarang kita sesi bikin video ya, Ustadzah. Kita bikin berdua. Aku sebagai model laki-lakinya," bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan. Ia tersenyum, lalu dengan cepat melepas semua bajunya. Aku kaget melihat penisnya yang sangat besar. Kini aku melihat penis itu langsung. Penis yang biasa aku lihat dari foto. Penisnya hitam, besar, dan tegang, lebih besar dari yang kubayangkan. Jantungku berdebar tak karuan, perpaduan antara rasa takut dan gairah yang tak bisa kuingkari.
Setelah telanjang, dia memencet tombol rekam di ponselnya. Kemudian dia menuntunku berdiri, menuntunku untuk berpose berdua. Pose yang sangat sensual. "Ustadzah, sekarang kita berpose ya," bisiknya. "Aku akan peluk Ustadzah dari belakang, tangan Ustadzah sentuh penisku."
Aku menuruti setiap perintahnya. Dia memelukku dari belakang, tangan kanannya meremas payudaraku, sementara tangan kirinya memegang tanganku, menuntunku untuk menyentuh penisnya. Aku mengocok penisnya, mengikuti irama desahanku. Aku mendongakkan kepala, memejamkan mata.
"Ustadzah, sekarang kita ciuman," bisiknya.
Pak budi menyibakkan cadarku kesamping, kemudian Kami berciuman. Bibirnya yang kasar dan berbau rokok terasa begitu asing, namun aku membalasnya dengan penuh nafsu, seolah-olah aku ingin melupakan semua yang pernah terjadi.
"Masya Allah... Ustadzah... enak banget ciuman sama Ustadzah..." desahnya, suaranya serak. "Sekarang, Ustadzah, kita berpose yang lebih liar. Sini tangannya ke tembok, terus pantatnya agak nungging." Dia mengarahkanku.
Aku menuruti setiap perintahnya, merasa seperti boneka yang bisa ia mainkan sesuka hati. Aku menaruh tanganku di tembok, memposisikan pantatku menungging. Dia memelukku dari belakang, meremas payudaraku dengan brutal. Aku bisa merasakan penisnya yang tegang menempel di pantatku.
"Ustadzah... pantat Ustadzah bagus banget," bisiknya, suaranya serak. "Aku suka. Aku suka banget."
Pinggangnya bergoyang seakan-akan sedang menggenjot tubuhku, penisnya terus bergesekan ke pantatku. Kemudian, dia menaruh penisnya di sela-sela pahaku, menggeseknya. Tangan kanannya terus meremas payudaraku, sementara tangan kirinya kebawah membelai vaginaku dari depan, kemudian memegang penisnya dari depan, menggesek-gesekkan penisnya ke bibir vaginaku. Aku mendesah hebat.
"Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
"Ustadzah suka kan?" tanyanya, suaranya serak, penuh kemenangan.
Terkadang, kepala penisnya yang besar didorong ke lubang vaginaku, membuatku sakit. Aku menjerit, tapi rasa sakit itu segera tergantikan oleh kenikmatan yang memabukkan. Kami berdua merasa nikmat, sampai aku merasakan mau orgasme.
"Ahh... Pak... terus... lebih kencang... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Aku terus mendesah, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini. Tiba-tiba, aku merasakan gejolak hebat di dalam diriku. Aku menjerit, "Ahhh! Aku mau keluar! Ahhhhhh!"
Tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali. Setelah itu, tubuhku lemas, ambruk di lantai. Dia mengangkat tubuhku, membiarkanku bersandar di dinding. Dia mengocok penisnya di depan mukaku dan menepuk-nepuk penisnya yang besar dan tegang ke cadarku, membuatku mendesah. "Ahhh... ahh... Pak..."
"Gimana, Ustadzah? Enak enggak?" tanyanya.
"Enak, Pak. Ahh..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Kemudian dia bangkit, berjalan ke arah ponselnya di tripod, lalu mematikan rekaman. Aku terdiam, napasku memburu, jantungku berdebar tak karuan.
Dia kembali ke arahku, menyeringai. "Ustadzah, sudah tidak aku rekam nih," bisiknya, suaranya serak. "Jadi sudah tidak perlu malu lagi. Ayo kita lakukan yang lebih nikmat dari ini."
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menggendongku. Aku terkejut, tapi tidak menolak. Tubuhku terasa ringan, seolah-olah aku adalah boneka yang bisa ia mainkan sesuka hati. Dia berjalan keluar dari studio, menuju ke arah kamarku. "Ini kamar Ustadzah, kan?" tanyanya.
"Iya, Pak," jawabku, suaraku parau.
Kemudian dia masuk, lalu merebahkanku ke kasur. Dia merebahkan dirinya di sampingku, menyibakkan cadarku, lalu mencium bibirku. Aku membalas ciumannya dengan penuh nafsu. Bibirnya yang kasar dan berbau rokok terasa begitu asing, namun aku membalasnya dengan penuh nafsu, seolah-olah aku ingin melupakan semua yang pernah terjadi.
"Bibir Ustadzah manis banget," bisiknya, suaranya serak. "Aku suka. Aku suka banget."
Dia menunduk, menciumi leherku, lalu mengulum putingku, menghisapnya dengan ganas. Sensasi itu begitu kuat, begitu memabukkan. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
"Ustadzah suka kan?" tanyanya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Aku tahu Ustadzah pasti suka. Aku akan membuat Ustadzah ketagihan."
Kemudian tangannya turun. Dia terus meremas payudaraku, memilin putingku, sementara tangan yang lain membelai vaginaku. Aku mendesah keras karena perbuatannya. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan ini.
Tiba-tiba dia menghentikan perbuatannya. Dia jongkok di sampingku, penisnya tepat di depan mukaku. Aku memperhatikan penisnya. Sangat besar sekali penis ini. Penis yang sama yang kulihat di foto Mas Bims. Perasaan jijik dan gairah bercampur aduk, membuatku gila.
"Ustadzah, sudah pernah nyepong kontol belum?" tanyanya, suaranya serak.
"Belum, Pak," jawabku bohong. Aku tidak ingin ia tahu aku sudah pernah melakukannya.
"Mau gak Bapak ajarin?"
Aku diam, bingung. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Di dalam hatiku, ada rasa takut yang luar biasa akan penis nya yang sangat besar ini, tapi juga rasa penasaran yang tak bisa kuingkari.
Dia mengartikan keheninganku sebagai tanda setuju. Kemudian dia memegang bahuku, "Duduk aja, Ustadzah, biar enak kalo nyepong." Kemudian dia turun dari kasur, berdiri di lantai, lalu aku diposisikan duduk di ujung kasur. Posisi penisnya pas di depan mukaku.
Kemudian dia menyibakkan cadarku ke samping, dan aku disuruh menjilati kepala penisnya. Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku menjilatinya, merasakan rasanya yang aneh, tapi entah mengapa, terasa begitu memabukkan.
"Ahh... Ustadzah... enak banget..." desahnya. "Sekarang, Ustadzah, masukkan kontolku ke mulutmu."
Aku menuruti setiap perkataannya. Aku memasukkan penisnya. Penis ini sangat besar. Mulutku hanya mampu menampung sampai leher penisnya saja. Pak Budi mendesah, tangannya meremas payudaraku dan vaginaku. Lalu kami berdua mendesah.
Lalu Pak Budi memasukkan satu jarinya ke vaginaku. "Ahh, Pak, sakit!" jeritku, suaraku parau.
"Gilaa, sempit banget memek Ustadzah," bisiknya. "Bayangin memek Ustadzah yang sempit ini dimasukin kontol besarku."
Aku memejamkan mata, membayangkan ucapannya. Pikiranku melayang, membayangkan bagaimana rasanya jika penisnya yang besar itu benar-benar masuk ke dalam vaginaku. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku mendesah hebat, tak bisa menahan diri.
Jarinya terus keluar masuk di dalam vaginaku. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku mendesah hebat. Di saat yang sama, tangan satunya terus meremas payudaraku, memilin putingku. Aku tergila-gila dengan penis Pak Budi ini, seperti monster, besar banget.
"Ahh... Pak... terus... lebih cepat..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam sensasi itu. Penisnya yang besar di mulutku, jari-jarinya di vaginaku, dan remasan di payudaraku, semua itu membuatku gila.
Kemudian dia melepaskan tangannya, dan melepaskan penisnya dari mulutku. Dia sedikit mendorong bahuku ke belakang. Aku terdiam, bingung dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Dia menyeringai, matanya memancarkan nafsu yang membara. Dia melebarkan kakiku, lalu menjilati vaginaku.
Sensasi dingin dan basah itu membuatku menjerit pelan, "Ahhh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Dia terus menjilati, mengulum, dan menghisap, gerakannya semakin cepat, semakin intens. Aku tidak bisa menahan diri. Aku mendesah, tubuhku menegang.
"Ustadzah, memekmu manis sekali," bisiknya, suaranya serak. "Aku suka. Enak banget memek ustadzah"
Aku hanya bisa mendesah, tak bisa berkata-kata. "Ahh... ahh... terus, Pak... lebih cepat... Ahhh!" Suaraku parau, penuh kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Dia terus menjilati, mengulum, dan menghisap, gerakannya semakin cepat, semakin intens. Aku mendesah, tak bisa lagi menahan diri.
Tiba-tiba, dia mengangkat kepalanya, menatapku, matanya dipenuhi gairah. "Ustadzah, saatnya menu utama," ucapnya.
"Maksudnya apa, Pak?" tanyaku, suaraku parau.
Dia tidak menjawab, lalu dia mengangkat tubuhnya berdiri, kemudian mengangkangkan kakiku. Dia memposisikan tubuhnya di tengah-tengah kakiku yang mengangkang, lalu dia menindih tubuhku. Dia menyibakkan cadarku ke samping, lalu menciumku. Ciumannya begitu menuntut, begitu liar, berbeda dari biasanya. Aku membalas ciumannya dengan penuh nafsu, seolah-olah aku ingin melupakan semua yang pernah terjadi.
Tangan kirinya ke bawah, memegang penisnya. Dia menggesek-gesekkan penisnya di bibir vaginaku, dan kemudian memposisikan kepala penisnya yang besar itu tepat di bibir vaginaku. Lalu mendorongnya pelan. Aku terkesiap, tubuhku membeku. Rasa sakit yang tajam itu menyentak kesadaranku, namun tubuhku tidak bisa menolak.
"Ahh, Pak, jangan gini," rintihku, suaraku parau, penuh ketakutan. "Ahh, sakit banget, Pak."
Dia tidak peduli, terus mendorong penisnya. "Tahan, Sayang, sebentar saja," bisiknya. "Setelah ini, kamu akan keenakan. Kamu akan merasakan kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya."
Aku memejamkan mata, isak tangis bercampur dengan desahan yang masih keluar dari bibirku. Aku tahu, ini bukan lagi permainan. Ini nyata. Rasa sakit itu, sensasi itu, semua ini terlalu jauh. Tapi, dorongan untuk melangkah lebih jauh, untuk mengetahui seberapa dalam aku bisa jatuh, terlalu kuat untuk kutahan.
"Ahh... Pak... jangan..." rintihku. "Aku tidak mau..."
Ia terus mendorongnya, dan aku bisa merasakan kepala penisnya membelah bibir vaginaku. Aku menjerit, "Ahhh! Pak! Sakit! Jangan!"
Air mataku sedikit mengalir, apakah ini saatnya aku bersetubuh dengan lelaki lain? Apakah aku sudah siap dengan ini semua? Aku sangat bimbang, tapi di sisi lain aku sangat menginginkan disetubuhi dengan penis gagah besar milik Pak Budi. Penolakanku hanya di mulut, sementara tubuhku tidak bisa menolak.
"Ahh, Pak, jangan gini," rintihku, suaraku parau, penuh ketakutan. "Ahh, sakit banget, Pak."
Dia tidak peduli, terus mendorong penisnya. "Tahan, Sayang, sebentar saja," bisiknya.
"Ahh... Pak... jangan..." rintihku. "Aku tidak mau..."
Ia terus mendorongnya, dan aku bisa merasakan kepala penisnya membelah bibir vaginaku. Aku menjerit, "Ahhh! Pak! Sakit! Jangan!"
Dia mengabaikan jeritanku, terus mendorong penisnya. Aku bisa merasakan setiap inci dari penisnya yang besar dan tegang itu masuk ke dalam vaginaku yang sempit. Rasa sakit itu begitu tajam, membuatku menjerit.
Dia menghentikan dorongannya. Aku melihat ke arah bawah dan menyadari penisnya sudah sepertiga yang masuk. Rasanya sakit sekali, air mataku sedikit mengalir. Dia menunduk, mencium bibirku, lalu berbisik, "Udah enakan, Ustadzah?"
Aku mengangguk pelan, berusaha menahan tangisku.
Kemudian, dia memundurkan penisnya. Lalu dia memasukkan lagi, begitu terus sampai aku merasa sangat enak. Rasa sakit yang tajam itu perlahan tergantikan oleh kenikmatan yang memabukkan. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Kemudian, dengan sekali hentakan, seluruh penisnya yang sangat besar itu masuk seluruhnya ke dalam vaginaku. Aku tersentak, menjerit kesakitan, air mataku mengalir deras. "Ahhh! Pak! Sakitttt!" teriakku, tubuhku kejang.
Pak Budi kemudian menenangkanku. Dia memelukku erat, mencium bibirku, dan membelai kepalaku. "Tahan, Sayang, sebentar saja," bisiknya. "Setelah ini, kamu akan keenakan. Kamu akan merasakan kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya."
Aku hanya mengangguk dan menangis, membiarkan air mataku membasahi pipi. Rasa sakit yang tajam itu masih terasa, tapi sentuhannya yang lembut perlahan meredakannya. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini.
Kemudian, Pak Budi mulai menggerakkan penisnya maju mundur. Perlahan, rasa sakit itu menjadi sangat nikmat. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi penisnya yang besar dan keras di dalam vaginaku yang sempit membuatku gila. Aku melengkung, mencengkeram sprei ranjang dengan erat.
"Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
"Ustadzah suka kan?" tanyanya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Aku tahu Ustadzah suka. Aku akan membuat Ustadzah ketagihan. Aku janji."
Dia terus menggerakkan pinggulnya, memaju-mundurkan penisnya di dalam vaginaku. Gerakannya yang lambat dan ritmis membuatku semakin gila. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... ahh... terus, Pak... lebih cepat... Ahhh!" Suaraku parau, penuh kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
"Ahhh... Pak... terus... lebih cepat... Ahhh!" Suaraku parau, penuh kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
"Gimana rasanya, Ustadzah, dientot kontol gede?" bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Enak, kan? Beda sama punya suamimu, kan?"
Aku tidak bisa menjawab, hanya mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi penisnya yang besar dan keras di dalam vaginaku yang sempit membuatku gila. Aku melengkung, mencengkeram sprei ranjang dengan erat. "Ahh... Pak... enak banget..." rintihku, suaraku parau.
"Aku tahu, Sayang," bisiknya lagi, "kamu butuh ini. Kamu butuh kepuasan yang tidak bisa suamimu berikan. Aku di sini untuk membuatmu puas."
"Ahh... Pak... aku mau keluar... ahhh..." rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan.
"Keluarin, Sayang... keluarin..." bisiknya. "Aku suka melihatmu keenakan seperti ini."
Dia terus menggerakkan pinggulnya, memaju-mundurkan penisnya di dalam vaginaku. Gerakannya yang brutal dan cepat membuatku semakin gila. Aku menjerit, "Ahhh! Aku keluar! Ahhhhhh!" Tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali. Setelah itu, tubuhku lemas.
Dia menempelkan wajahnya di leherku, menciumi leherku, lalu mengulum putingku, menghisapnya dengan ganas. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... terus..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Aku memejamkan mata, menikmati sisa-sisa orgasme yang baru saja meledak di dalam diriku. Pak Budi menghentikan genjotannya, namun penisnya masih menancap di vaginaku. Napasku memburu, tubuhku lemas, tapi aku merasa sangat puas.
Kemudian Pak Budi bilang, "Ustadzah, mau di atas gak? Pasti Ustadzah pengen naikin kontol gedeku ini kan?"
"Mau, Pak," jawabku, suaraku parau, penuh pengakuan.
Kemudian Pak Budi mencabut penisnya. "Ahh," desahku, sebuah sensasi hampa menyelimuti. Kemudian dia berbaring di kasur.
"Sini, Ustadzah," dia menuntunku untuk menduduki penisnya. Aku kemudian memposisikan tubuhku di atasnya, mengarahkan penisnya pas ke lubang vaginaku. Lalu aku menurunkan pinggulku pelan. "Ahhh... enak sekali rasanya," rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan yang memabukkan.
Kemudian aku mengambil selimut untuk menutupi perbuatanku. Begini aku merasa sedikit nyaman dan tidak malu. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam sensasi itu. "Gimana, Sayang? Enak enggak?" bisiknya, suaranya serak.
"Iya, Pak, enak banget," jawabku, suaraku parau. "Terus, Pak... Ahhh..."
Kemudian aku memaju-mundurkan pinggulku. Gerakanku pelan, ritmis, lalu semakin cepat. Setiap gerakanku membuatku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... lebih kencang... Ahhh! Enakkk!" rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
"Ustadzah, kamu hebat banget," bisiknya, suaranya serak. "Aku suka Ustadzah yang nakal. Aku suka Ustadzah yang berani. Jangan malu, ini rahasia kita berdua. Kamu akan ketagihan."
Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.
Kami berdua meracau tak karuan, aku terus menggenjot penis Pak Budi. Gerakan pinggulku semakin brutal, semakin cepat, mengikuti irama desahanku yang semakin keras. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan ini.
"Ahh, Pak, sepertinya aku akan ketagihan penis Bapak, ahh," rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan. "Terus, Pak, lebih cepat... Ahhh!"
"Ahh, iya, Ustadzah, aku juga pasti ketagihan memek Ustadzah. Sempit banget. Enakk. Ahh," desahnya, suaranya serak, penuh kemenangan. "
Aku tidak bisa menjawab, hanya mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi penisnya yang besar dan keras di dalam vaginaku yang sempit membuatku gila. Aku melengkung, mencengkeram bahunya dengan erat. "Ahh, Pak, terus... ahhh," rintihku, suaraku parau.
"Ustadzah, kamu hebat banget," bisiknya. "Aku suka bagaimana kamu mengendalikan ini. Aku suka bagaimana kamu membuatku gila."
"Ahhh... Ustadzah, aku enggak tahan," desahnya, suaranya serak. Tanpa aba-aba, dia membalikkan tubuhku. Kini, posisinya aku rebahan di bawahnya, dan Pak Budi di atasku. Dia mulai menggenjotku dengan brutal, mulutnya menciumi payudaraku dengan ganas.
Genjotan Pak Budi sangat brutal, berbeda dari yang pernah kurasakan. Setiap hentakannya membuatku mendesah, tak bisa menahan diri. Aku mencengkeram sprei ranjang dengan erat, merasakan sensasi itu menjalar ke seluruh tubuhku.
"Ahhh... Ustadzah, aku mau keluar..." bisiknya, suaranya serak, penuh nafsu.
"Ahhh, iya, Pak, keluarin..." rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan.
"Ahhh... Ahhh... crot... crott... aku keluar di dalam memekmu, Ustadzah... nikmat... Ahhh..." desahnya, suaranya serak, penuh kemenangan.
Aku merasakan cairan spermanya yang hangat dan kental membanjiri vaginaku. Sangat banyak. Aku kaget. Kenapa dia keluar di dalam vaginaku? Aku ingin menanyakannya, tapi bibirku tidak bisa terucap karena tubuhku terlalu lemas.
Kemudian Pak Budi ambruk di sebelahku. "Terima kasih, Ustadzah, kamu enak banget," ucapnya. Sambil memelukku, kita berdua tidur. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam kelelahan yang luar biasa.
Bersambungg...
