Pagi itu, aku terbangun dengan perasaan yang campur aduk. Setelah menunaikan shalat Subuh, aku langsung menuju dapur. Aku memasak ayam goreng untuk sarapanku sendiri. Suara wajan bergesekan dengan spatula memenuhi keheningan pagi, sebuah rutinitas yang terasa begitu damai. Setelah sarapan, aku mulai membersihkan rumah, menyapu, mengepel, dan mencuci piring. Semua terlihat normal, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi semalam.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, aku melangkah ke studio kecilku. Di dalam, aku mengecek pesanan yang masuk dan mulai mengepaknya dengan rapi. Semua rutinitas ini terasa menenangkan, sebuah cara untuk kembali ke duniaku yang lama, dunia yang aman dan damai. Setelah semua paket selesai dikemas, aku mengambilnya dan berjalan ke depan rumah. Aku meletakkannya di dalam wadah yang biasa kusediakan untuk kurir, sebuah kotak besar di samping pot bunga.
Kemudian, aku kembali ke ruang tamu, merebahkan diri di sofa. Kulihat jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku bermalas-malasan di sofa, membiarkan pikiranku melayang. Aku mulai memikirkan strategi untuk live jualan gamis model baru ku nanti siang. Sejenak, aku teringat ide dari Mas Dimas untuk memakai gamis ketat. Pikiranku langsung dipenuhi bayangan dari live streaming-ku kemarin, saat aku meremas payudaraku sendiri di hadapan ratusan penonton. Perasaan malu dan gairah bercampur aduk, membuatku merasa berdebar.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp dari Mas Bims. Jantungku berdebar kencang. Aku tahu, ia pasti sudah menunggu.
Mas Bims: Sayang, sudah bangun? Kok belum live? Aku sudah tidak sabar melihatmu. Aku butuh tontonan yang seksi, yang bisa membuatku gila.
Pesan itu begitu vulgar, begitu menuntut. Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku mencoba mengendalikan diriku, memaksakan senyum.
Aku: Mas Bims, ini masih pagi. Aku masih mau istirahat. Aku juga lagi mikirin ide buat live nanti siang.
Mas Bims: Ide apa, Sayang? Nanti mau pake baju apa?
Aku: Belum tahu, Mas. Nanti aku jualan gamis model terbaru. Aku mau coba pake gamis yang agak ketat biar banyak yang nonton dan beli.
Mas Bims: Okee, Sayang, nanti aku akan gift gede biar yang nonton ramai. Aku juga ada gift spesial, tapi tidak di live. Besok akan ada orang yang mengirim ke rumahmu. Gimana, mau gak?
Aku terdiam, bingung. "Gift apa, Mas?" tanyaku penuh rasa penasaran.
Mas Bims: Rahasia. Pokoknya spesial dan harus kamu pakai. Dan nanti aku minta yang ngirim memfotomu pakai barang itu. Gimana? Mau gak?
Aku bingung. Aku penasaran. Akhirnya, aku menjawab, "yaudah mas aku mau."
"Oke, Sayang, besok siang dia akan ke rumahmu untuk antar hadiahnya."
"Oke, Mas. Ya sudah, Mas, aku siap-siap dulu. Nanti siang aku mau live."
Aku menutup percakapan itu, hatiku berdebar tak karuan. Ada rasa takut, tapi di saat yang sama, dorongan untuk melangkah lebih jauh, untuk mengetahui seberapa dalam aku bisa jatuh, terlalu kuat untuk kutahan. Aku bergegas ke studiku, mempersiapkan baju-baju gamis yang akan aku jual, serta jilbab dan cadar. Semuanya aku gantung di belakang untuk nanti diperlihatkan ke pembeli.
Setelah menata dengan rapi, aku pergi ke kamar mandi untuk mandi. Aku ingin tampil cantik nanti, tampil beda dari yang pernah mereka lihat. Setelah mandi, aku memakai gamis. Aku memilih gamis merah ketat model terbaru, kemudian jilbab dan cadar. Jilbabnya cukup lebar, tapi aku sampirkan di pundak, sehingga memperlihatkan tonjolan payudaraku di gamisku. Aku menatap diriku di cermin. Di balik pakaian ini, aku adalah wanita yang berbeda, yang berani, yang penuh gairah.
Aku kembali ke studio, mempersiapkan ponselku di ring light. Jantungku berdebar kencang, sebuah kombinasi antara rasa takut dan hasrat yang tak terduga. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol Live.
"Assalamualaikum semuanya. Haii..." sapaku, suaraku sedikit bergetar.
Penonton mulai hadir. Angkanya terus melonjak, dari nol menjadi puluhan, lalu ratusan. Tak lama, komentar pujian langsung datang. "Wah, cantik banget," tulis salah satu penonton. "Ustadzah, gamisnya kok ketat banget?" timpal yang lain.
Aku mencoba untuk tetap tenang, memaksakan sebuah senyum. Namun, aku tahu, ini bukan lagi tentang jualan gamis. Ini adalah sebuah pertunjukan, sebuah permainan gila yang tidak bisa kulepaskan.
"Alhamdulillah, terima kasih sudah hadir," kataku, suaraku terdengar ceria. "Hari ini aku mau review gamis terbaru nih, modelnya kekinian banget. Bahannya adem, nyaman dipakai."
Namun, komentar-komentar yang muncul tidak lagi berfokus pada gamis.
"Ustadzah, goyang dong," tulis seseorang. "Bikin sange," timpal yang lain.
Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku mencoba mengabaikan komentar-komentar itu, tapi dorongan untuk melangkah lebih jauh, untuk menyenangkan mereka, terlalu kuat untuk kutahan.
"Masya Allah, jangan begitu yaa," kataku, suaraku terdengar malu-malu, tapi di dalam hatiku, ada sensasi aneh yang membuatku semakin bergairah. "Ini kan live jualan, bukan live joget."
Namun, komentar-komentar semakin liar. Mereka meminta lebih. Mereka menuntut lebih.
Aku terus mengabaikan komentar-komentar yang semakin liar, mencoba fokus pada gamis yang kuperkenalkan. Namun, suasana berubah drastis saat Mas Bims hadir di dalam live. Aku menyapanya dengan senyum yang dipaksakan. "Masya Allah, Mas Bims! Makasih sudah mampir!"
Seketika, komentar-komentar berfokus padanya. "Mas Bims! Kasih gift dong! Biar Ustadzah Tiara goyang!" tulis salah satu penonton.
Aku tertawa canggung. "Hee jangan gitu yaa. Mas Bims cuma mampir kok, iya kan Mas Bims."
Tapi, tepat setelah kata-kata itu keluar dari mulutku, sebuah notifikasi besar muncul di layar: "Mas Bims mengirimkan Gift Paus!" Aku terkejut, hatiku mencelos. Gift itu cukup mahal, sebuah tanda bahwa ia serius.
Kemudian, Mas Bims berkomentar, "Ayo goyangin dadanya, hehe biar penonton suka."
Aku membeku. Ini bukan lagi godaan, ini adalah perintah. Aku pura-pura tidak membaca komentar itu, mencoba kembali memperkenalkan gamisku. "Kalau yang ini warnanya lebih terang, bentuknya lebih kekinian..."
Namun, ucapanku terhenti. Komentar semakin tak kondusif. Mereka terus menyuruhku menggoyangkan dada besarku. Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku tahu, aku tidak bisa menolak lagi. Aku harus melakukannya.
Aku mulai menggoyangkan dadaku. Gerakannya pelan, tapi payudaraku yang besar terlihat jelas di balik gamisku naik turun. Aku semakin berani. Aku menggoyangkan pantatku juga, seolah-olah aku adalah penari profesional. Penonton berkomentar jorok, dan aku tidak peduli lagi. Aku suka. Aku suka bagaimana aku menjadi pusat perhatian. Aku mendesah, merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku.
Kemudian, Mas Bims kembali berkomentar, "Ganti baju yang putih kemarin, lalu buka 1 kancingnya."
Aku menolak. "Jangan, Mas! Aku gak mau!" Tapi banyak penonton yang mendukung Mas Bims. Aku bingung sekali.
Tiba-tiba, ada WhatsApp masuk dari Mas Dimas. "Gak apa-apa, Sayang, lakukan aja biar viewers makin ramai dan kondusif, biar banyak yang beli."
Aku kaget. Kenapa Mas Dimas merestui aku untuk berbuat ini? Aku merasa terperangkap, tapi anehnya, aku juga merasa berani. Aku memiliki restu dari suamiku. Apa lagi yang harus kutakutkan?
"Ya sudah ya, teman-teman, tunggu sebentar yaa," ucapku pada penonton, lalu aku keluar dari frame kamera.
Aku dengan cepat melepas semua pakaianku. Aku ganti bra merah, gamis putih yang menerawang, dan jilbab pendek, tak lupa memakai cadar. Aku menatap diriku di cermin. Di balik pakaian ini, aku adalah wanita yang berbeda, yang berani, yang penuh gairah. Aku kembali masuk frame kamera dengan melenggok-lenggokkan pantatku, seolah sedang melakukan pertunjukan.
Komentar-komentar semakin liar. Penonton menyambutku dengan teriakan-teriakan penuh nafsu. Aku tahu, ini bukan lagi tentang jualan gamis. Ini adalah sebuah pertunjukan, sebuah permainan gila yang tidak bisa kulepaskan. Dan anehnya, aku menyukai ini.
"Remas teteknya, Sayang," komentar Mas Bims lagi di live.
Aku yang sudah terlanjur direstui suamiku, aku tidak keberatan. Namun, aku mengajukan syarat agar tidak dibilang murahan. "Mas Bims kirim singa dulu baru aku remas," ucapku sambil tertawa manja, penuh godaan. "Hehe."
Kemudian, tak lama, langsung gift Singa muncul di layar.
"Terima kasih banyak, Mas Bims," ucapku dengan suara parau, penuh kemenangan. Kemudian, aku langsung meremas payudaraku pelan. Aku mengelus-elusnya memutar, payudaraku terlihat besar dan indah di kamera. Komentar-komentar penonton semakin liar dan tak terkendali, membuatku semakin bergairah.
Tiba-tiba, aku mempunyai ide yang lebih gila. Aku membuka satu kancing gamis depanku, sehingga terlihat belahan payudaraku. Aku terus meremas payudaraku. Kini, remasanku semakin kencang, mengikuti irama desahanku.
Kemudian, aku melepas satu kancing lagi, sehingga braku terlihat. Bra merah yang kupakai terlihat jelas karena 2 kancing sudah aku buka, Komentar-komentar penonton semakin jorok.
"Gila, bra merah!" tulis seseorang.
"Ustadzah, turunin dikit bra nya, putingnya hampir kelihatan!" timpal yang lain.
"Remas, Ustadzah, remas sampai keluar susunya!"
Aku mendesah, tak bisa menahan diri. remasan di dadaku membuatku semakin gila. Aku hanya ingin kenikmatan itu. Aku hanya ingin puas. Aku terus meremas payudaraku, terkadang mencubit puttingku dari luar bra ku, membuatku menjerit pelan.
"Ahh... Mas Bims... enak..." rintihku.
"Remas yang kencang, Sayang," balas Mas Bims dalam komentar live. "Aku suka melihatmu seperti ini."
Aku terus melakukannya, mengikuti setiap perintahnya. Aku tidak peduli lagi dengan rasa malu. Aku hanya ingin kenikmatan itu terus berlanjut. Aku hanya ingin rasa puas yang tidak pernah kudapatkan dari suamiku.
Tak terasa, aku sudah melakukan itu begitu lama. Kini sudah hampir Maghrib. Aku merasa lelah, tapi di saat yang sama, aku juga merasa sangat puas. Kemudian, aku pamit untuk menyudahi live. "Maaf, teman-teman, aku harus mengakhiri live-nya. Sampai jumpa besok, yaa."
Komentar-komentar penonton semakin liar, memohonku untuk tetap live.
"Jangan, Ustadzah, jangan pergi!" tulis mereka. "Aku belum puas!"
Tapi aku tak peduli. Aku langsung mematikan live-nya. Aku bangkit dari kursi, berjalan terhuyung-huyung ke kamar mandi, hatiku dipenuhi dengan perasaan campur aduk antara rasa malu dan kepuasan yang luar biasa.
Setelah menyudahi live, aku bangkit dari kursi, berjalan terhuyung-huyung ke kamar mandi. Aku mencuci muka, mencoba menghilangkan bekas air mata dan keringat. Setelah itu, aku mandi. Air dingin membasuh tubuhku, seolah ingin membersihkan setiap noda dan kebohongan yang menempel pada diriku. Setelah selesai, aku memakai baju tidurku yang berwarna merah muda, dan merebahkan badanku yang capek di ranjang.Kulihat ada pesan dari Mas Bims di ponselku. "Jangan lupa besok yaa..."
Aku tidak menjawab, hanya memejamkan mata. Tubuhku lelah, tapi hatiku diliputi perasaan campur aduk antara rasa malu dan kepuasan yang luar biasa. Aku tahu, ini adalah sebuah permainan, sebuah permainan gila yang tidak bisa kulepaskan. Dan anehnya, aku menyukai ini. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini, hingga akhirnya terlelap.
Keesokan paginya, rutinitasku seperti biasa. Setelah menunaikan salat Subuh dan sarapan, ponselku bergetar. Ada telepon dari Mas Dimas. Aku kaget, tapi juga merasa senang. Aku mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Mas," sapaku, suaraku sedikit bergetar.
"Waalaikumsalam, Dek. Mas ganggu ya?" tanyanya, suaranya terdengar lembut.
"Enggak, Mas, kenapa? Mas kangen Adek ya? Hehe," jawabku, mencoba terdengar ceria.
"Hehe, iya, Dek, Mas kangen," jawabnya. "Oh iya, Mas lihat kemarin live Adek ramai banget yaa. Mas Bims kirim singa ya?"
Jantungku berdebar kencang. Ia tahu. Ia melihatnya. Perasaan takut dan terkejut membanjiri diriku.
"Iyaa, Mas. Adek enggak nyangka," jawabku, suaraku parau, "Terus Mas Bims minta Adek joget. Dan remas-remas payudara adek." Aku menelan ludah, bingung harus berkata apa lagi. "Ohh iya, Mas, kenapa Mas kok nyuruh Adek buat nurutin kemauan mereka di live?"
"Mas enggak tahu, Dek," jawabnya. "Jujur Mas suka lihat kamu seperti itu di live."
Aku terdiam, tak bisa berkata-kata. Kata-kata itu bagai tamparan keras di wajahku. Aku tidak menyangka ia akan berkata seperti itu.
"Aneh ihh, Mas," jawabku, mencoba menutupi keterkejutanku.
"Dek, selain joget sama remas payudara Adek disuruh ngapain lagi?" tanyanya, suaranya serak, penuh selidik.
"Selain joget dan remas payudara Adek disuruh buka kancing, Mas," jawabku, sebuah kebohongan yang terasa hambar di lidahku.
"Adek mau?"
Aku terdiam, bingung harus berbohong apa lagi. Aku tidak mau ia tahu. Aku tidak mau ia tahu aku telah jatuh terlalu dalam. "Adek enggak mau, Mas. Adek langsung matiin live," jawabku berbohong. Aku tahu, itu adalah sebuah kebohongan yang kejam, tapi di saat yang sama, aku merasakan sebuah sensasi aneh. Sensasi menjadi sosok yang berbeda. Sensasi menjadi sosok yang liar, dan anehnya, aku menyukai itu.
"tapi setelah itu mas bims bilang mau kasih hadiah mas. tapi langsung."
"apa maksudnya itu dek?"
"jadi mas bims mau kasih hadiah gitu, tapi hadiahnya akan dikirim langsung sama orang suruhan nya kerumah. nanti siang orang nya kesini dan mas bims minta bukti foto. sambil dia minta foto buka kancing mas. karena kemarin aku gak mau buka kancing. jawabku ngasal."
"dan kamu mau dek?"
"adek bingung mas, tapi adek penasaran. boleh gak mas orang suruhan mas bims kerumah?"
"boleh kalo adek mau, mas gpp kok dek. tapi nanti adek bilang ya adek ngapain aja selain foto buka kancing sama orang suruhan mas bims."
"iya mas."
"yaudah dek mas berangkat kerja dulu yaa.."
Setelah itu, Mas Dimas menutup telepon. Aku terdiam, memandang langit-langit. Perasaanku campur aduk. Aku merasa bersalah, tapi juga penasaran. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi dorongan untuk melangkah lebih jauh terlalu kuat untuk kutahan.
Aku kemudian bersih-bersih rumah, setelah itu mandi. Setelah mandi, aku kemudian ke kamar. Aku membuka ponselku, scrolling video-video pendek sampai jam 12 siang. Ponselku bergetar, ada chat dari Mas Dimas.
Mas Dimas: Dek, orang suruhan nya sudah datang?
Disaat bersamaan, aku mendengar ketukan pintu. Aku yakin itu orang suruhan Mas Bims. Aku membalas chat Mas Dimas dengan tergesa.
Aku: Mas, orang suruhannya sudah datang.
Kemudian aku ke depan rumah. Aku membuka pintu rumahku, ada pria tua berumur sekitar 40-an. Aku memandang mukanya, aku kaget. Orang ini adalah orang yang fotonya dikirim Mas Bims kepadaku dulu, orang dengan foto penis yang sangat besar. Aku kaget, tapi aku berusaha tenang.
"Assalamualaikum, Ustadzah," salamnya...
Bersambungg...
