𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟑𝟗 𝐀𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 (𝟏)

Setelah menaruh belanjaan ke kulkas, aku berjalan terhuyung-huyung ke studioku. Tubuhku terasa lemas, namun sensasi dari perbuatan tadi masih melekat di kulitku. Aku duduk di kursi, menggenggam ponselku, mencoba menenangkan diri. Jantungku masih berdebar tak karuan, perasaanku campur aduk antara rasa malu dan kepuasan yang luar biasa. Aku membuka ponsel, dan langsung membuka chat dari Mas Bims.

Mas Bims: "Sayang, kok akhir-akhir ini tidak live? Aku kangen melihatmu. Aku butuh tontonan yang seksi, hehe"

Aku terdiam, jari-jariku gemetar. Aku tahu, ia menungguku. Ia menungguku untuk melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kulakukan. Ia menungguku untuk menjadi Tiara yang ia inginkan. Aku mengetik balasan, mencoba terdengar santai, padahal jantungku berdebar tak karuan.

Aku: "nggak live dulu mas Bims, aku hari ini lagi capek. Tadi habis beli sayur keluar lalu Banyak pesanan masuk. Aku lagi istirahat.."

Mas Bims: "Capek kenapa, Sayang? Habis diapain sama tukang sayur, hayoo..?"

Pesan itu bagai tamparan keras di wajahku. Aku terkejut, tubuhku membeku. Bagaimana ia tahu? Bagaimana ia bisa tahu apa yang baru saja terjadi? Aku menunduk, mataku menatap layar ponselku, bingung harus menjawab apa. Ia seperti memiliki mata-mata yang mengawasiku.

Aku: "Mas, jangan aneh-aneh, ya. Aku cuma beli sayur, kok. Enggak ada apa-apa." Aku tidak mau mas bims mengetahui perbuatanku dengan penjual sayur itu.

Mas Bims: "Hahaha... gak apa-apa kok sayang, tenang ajaa.. aku Cuma ingin kamu lebih nakal dan jujur aja kalau melakukan sesuatu.." jawabnya seperti perhatian kepadaku.

Aku menelan ludah. Ia benar. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku membutuhkan perhatian ini. Aku membutuhkan pujian ini. Aku membutuhkan sensasi ini. Aku mengetik balasan, jemariku gemetar, tak bisa menahan diri.

Aku: "Emang Mas mau aku ngapain kalau aku live? Aku enggak mau sampai buka cadar, ya."

Mas Bims: "Tenang saja, Sayang. Aku enggak akan minta kamu buka cadar. Aku hanya ingin kamu pakai gamis putih yang ketat itu lagi. Aku ingin kamu pakai bra merah itu lagi. Aku ingin kamu bergoyang. Aku ingin kamu remas payudaramu di depan kamera. Aku ingin kamu main dengan sex toys yang aku kirim. Tapi jangan lihatkan ke kamera, Aku ingin kamu desah, Sayang. Aku ingin kamu bilang kalau kamu keenakan."

Pesan itu begitu vulgar, begitu intim, tapi entah mengapa, terasa begitu memabukkan. Aku membayangkan diriku di depan kamera, melakukan semua yang ia perintahkan. Aku membayangkan para penontonnya bersorak, memujiku, dan memujiku. Aku membayangkan sensasi itu menjalar ke seluruh tubuhku.

Aku: "Mas, aku takut... ini terlalu jauh."

Mas Bims: "Enggak, Sayang. Ini enggak terlalu jauh. Ini hanya sebuah permainan. Sebuah permainan yang akan membuatmu merasa hidup kembali. Percayalah. Kamu akan menjadi wanita yang paling berani dan liar. Kamu akan menjadi ratu di sini."

Aku terdiam, menatap pesan itu berulang kali. Ia telah berhasil menarikku ke dalam permainannya, permainan yang lebih berbahaya dari yang pernah kubayangkan. Aku tahu, aku tidak bisa lagi menolak. Aku tahu, aku sudah jatuh terlalu dalam.

Aku: "Yaudah, Mas. Tapi, Mas harus janji, ya. Enggak boleh minta aku buka cadar. Aku enggak mau."

Mas Bims: "Iya, Sayang. Aku janji. Tapi, setelah kamu puas dengan itu semua, kamu harus janji, ya. Kamu akan lebih berani. Kamu akan mencoba hal-hal baru."

Aku: "Iya, Mas. Aku janji. Tapi aku live bentar aja ya mas. Mungkin sejam aja"

Setelah membalas pesannya, aku segera bersiap-siap. Aku meraih gamis putih ketat dari lemari. Bra merah yang menyala itu terasa dingin di kulitku. Jantungku berdebar tak karuan, perasaanku campur aduk antara rasa malu, takut, dan gairah yang membara. Aku menatap diriku di cermin. Di balik pakaian ini, aku adalah wanita yang berbeda, yang berani, yang penuh gairah. Ini bukan lagi Tiara yang alim dan pendiam. Ini adalah Tiara yang baru, yang Mas Bims ciptakan. Aku meraih ponselku, dan dengan tangan gemetar, aku menekan tombol Live.

Begitu aku menekan tombol Live, aku terkejut melihat jumlah penonton langsung melonjak drastis. Ada ratusan orang menontonku. Aku merasa panik, tapi di saat yang sama, ada sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Mereka semua langsung mengomentari pakaianku dan tubuhku.

"Gila, Ustadzah, seksi banget!" tulis seseorang.

"Teteknya gede banget, bikin ngaceng," komentar yang lain. Aku menunduk, malu, tapi anehnya, aku juga menyukai perhatian ini.

Kemudian, Mas Bims masuk ke ruang live-ku. Dia seperti biasa, langsung melempar gift yang sangat mahal. "Wihh, makasih, Mas Bims," ucapku, suaraku sedikit bergetar.

Tak lama, ada chat masuk di WhatsApp-ku. Itu dari Mas Bims.

Mas Bims: "Sayang, pakai sex toys-nya yang telur getar itu. Biar makin panas."

Aku yang tadi pagi terangsang karena penjual sayur, kini tidak bisa menolak. Aku nurut. Aku mengambil sex toys itu di laci meja. Dengan tangan gemetar, aku memasangnya di dalam vaginaku. Perbuatanku itu tidak terlihat di kamera karena kameraku hanya setengah badan. Penonton tidak akan tahu. Aku menelan ludah, lalu menekan tombol di remote. Seketika, benda itu bergetar di dalam vaginaku. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku hanya bisa mendesah pelan.

Di layar, wajahku terlihat memerah, dan desahan pelan lolos dari bibirku. Semua penonton komentar jorok, mereka seperti tahu apa yang sedang terjadi.

"Wah, Ustadzah sudah mulai nakal ya, mendesah desah gituu.," tulis seseorang.

"Ustadzah keenakan, ya? Goyangin terus pinggulnya ustadzah," komentar yang lain.

Aku menatap layar ponselku, mataku terpejam, membiarkan diriku hanyut dalam sensasi itu. Mas Bims kembali mengirimiku pesan di WhatsApp.

Mas Bims: "Gimana, Sayang? Enak? Lebih cepatin lagi getarnya ya."

Aku menekan tombol di remote, dan getaran itu semakin kencang. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... ahh... iya, Mas... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku tidak lagi malu mendesah sambil dilihat orang di live.

Mas Bims: "Ustadzah, goyangin pinggulmu, ya. Biar kami semua bisa lihat kamu keenakan." Komentar mas bims di live ku.

Aku menurut, menggoyangkan pinggulku, perlahan, lalu semakin cepat, mengikuti irama getaran di dalam vaginaku. Aku mendongakkan kepala, mataku terpejam, dan aku bisa merasakan gejolak dahsyat di dalam diriku.

Mas Bims: "Ustadzah, sekarang buka kancing gamismu satu aja, ya. Aku ingin lihat sedikit payudaramu yang besar itu." Komentar mas bims lagi.

"Mas Bims, jangan begitu... aku malu... " ucapku dalam live.

Aku terkejut. Aku tahu, ini terlalu jauh. Tapi, dorongan untuk melangkah lebih jauh, untuk mengetahui seberapa dalam aku bisa jatuh, terlalu kuat untuk kutahan. Dengan tangan gemetar, aku membuka kancing teratas gamisku, memperlihatkan sedikit belahan payudaraku yang besar dan mulus yang sedikit tertutup oleh cadar bawahku.

Komentar langsung membanjiri layar. "Masya Allah... Ustadzah... cantik banget... mulus banget," tulis Mas Bims.

Penonton lain tak kalah heboh. "Ustadzah, itu belahan surga!" teriak salah satu komentar. "Aku nonton sambil coli, Ustadzah Bikin sange banget," timpal yang lain. Ada juga yang lebih berani, "Remas, Ustadzah... remas payudaramu... aku mau crot."

Membaca komentar-komentar itu, aku semakin mendesah. Getaran dari telur kecil di dalam vaginaku terasa semakin kuat, seolah merespons setiap godaan yang mereka lontarkan. Aku tidak peduli lagi dengan rasa malu. Aku hanya ingin kenikmatan itu. Aku ingin puas.

Aku menuruti kemauan mereka. Dengan tangan gemetar, aku meraih payudaraku, meremasnya dari luar gamis. Sensasi sentuhan itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku mendesah hebat. "Ahhh... ahh... iyaa... Mas... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Aku terus meremas payudaraku yang besar, terkadang cadar bawahku tersingkap memperlihatkan belahan payudaraku makin terlihat. Komentar semakin liar. "Wih, belahan nya makin kelihatan!,mulus banget woi.." tulis seseorang. "Ustadzah, meremasnya lebih kenceng dong, aku sudah ngaceng!"

Getaran di vaginaku dan remasan di dadaku membuatku merasa belingsatan. Aku mendesah hebat, tak peduli lagi dengan penonton. Aku hanya fokus pada sensasi yang membanjiri tubuhku. Aku mendongakkan kepala, memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan.

Tiba-tiba, aku merasakan gejolak orgasme. Aku orgasme di depan mereka semua. Tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali. Aku menjerit, "Ahhh! Aku keluar! Ahhhhhh!" Setelah itu, tubuhku lemas. Aku menyandarkan badanku ke sandaran kursi, terengah-engah.

Setelah tenagaku terkumpul, rasa malu mulai menyelimuti hatiku. Aku sadar apa yang baru saja kulakukan. Aku sangat malu melakukan ini semua. Dengan suara bergetar, aku berkata kepada penonton, "Maaf, teman-teman, aku harus mengakhiri live-nya."

Aku melihat banyak penonton yang kecewa. "Yah, Ustadzah, kok cepat sekali?" tulis mereka. "Padahal kami belum puas!" Tapi aku tak peduli. Aku langsung mematikan live-nya. Kulihat aku sudah live 8 menit, hanya 8 menit yang membuatku merasakan kepuasan yang luar biasa. "Semoga Mas Dimas tidak melihat live-ku tadi," bisikku pada diri sendiri, hatiku dipenuhi dengan perasaan campur aduk antara rasa malu dan kepuasan yang aneh.

Aku bangkit dari kursi, berjalan terhuyung-huyung ke kamar mandi. Aku melepas jilbab dan cadarku, aku mencuci muka, mencoba menghilangkan bekas air mata dan keringat. Aku menatap diriku di cermin. Wajahku pucat,

Aku melangkah terhuyung-huyung keluar dari studio, tubuhku terasa lemas tapi hatiku dipenuhi dengan perasaan yang campur aduk. Aku berjalan menuju sofa di ruang tamu dan merebahkan diri di sana, mencoba menenangkan napasku yang masih memburu. Aku menyentuh payudaraku, masih merasakan sisa-sisa orgasme yang baru saja kurasakan. Kemudian aku meraih ponselku. Ada sebuah pesan dari Mas Bims.

Jantungku berdebar kencang, perpaduan antara rasa takut dan kenikmatan. Aku membuka pesannya.

Mas Bims: Gimana, Sayang? Puas gak tadi?

Aku: Puas banget, Mas. Tapi aku malu banget. Aku tidak menyangka bisa sejauh ini.

Mas Bims: Gak apa-apa, Sayang. Nanti juga terbiasa. Kamu cantik banget, dan kamu berhak mendapatkan kenikmatan itu.

Aku: Iyaa, Mas. Makasih ya sudah membuatku merasa diinginkan.

Mas Bims: Sama-sama, Sayang. Itu sudah kewajibanku sayang. Aku senang melihatmu bahagia.

Kemudian, Mas Bims kembali mengirimkan pesan yang membuatku terdiam. Jantungku berdebar tak karuan.

Mas Bims: Gimana teman Mas kemarin yang Mas kirim fotonya? Kamu jadi mau gak ngentot sama dia di real life? Biar kamu makin banyak pengalaman.

Perasaan jijik dan takut membanjiri diriku. Aku tahu, ini adalah sebuah jebakan, sebuah permainan gila yang tidak bisa kulepaskan. Aku mencoba menolak, tapi dorongan untuk melangkah lebih jauh, untuk mengetahui seberapa dalam aku bisa jatuh, terlalu kuat untuk kutahan.

Aku: Ahh, aku gak mau, Mas. Aku gak mau kalau sampai bersetubuh. Itu terlalu jauh. Aku takut. Aku takut kalau Mas Dimas tahu.

Mas Bims: Jangan takut, Sayang. Suamimu tidak akan tahu. Aku janji. Ini akan menjadi rahasia kita berdua. Lagian, kamu juga sudah pernah kan main sama Pak RT dan penjual sayur? Jadi gak ada ruginya, Sayang. Kamu sudah jatuh dalam permainan ini, tidak ada jalan kembali, Sayang.

Aku: Aku tahu, Mas. Tapi aku belum siap. Aku belum bisa sejauh itu.

Mas Bims: Kenapa, Sayang?

Aku bingung mau jawab apa, aku sudah melakukan mastrubasi di depan viewersku, meremas payudara ku di depan viewersku, bahkan memperlihatkan belahan dadaku, dan mengulum penis penjual sayur di depan rumahku. Dan hampir di setubuhi pak RT dan Rian, Apalagi yang Aku pertahankan? Itu sudah cukup jauh. Aku hanya perlu satu langkah lagi. Satu langkah lagi, dan kamu akan merasakan kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya, Yaitu di setubuhi mereka semua yang mempunya penis besar itu. Aku ingin tapi aku takut.

Aku: Tapi mas bims, aku masih istri orang, Mas. Aku tidak mau menghianati suamiku.

Mas Bims: Istrinya siapa, Sayang? Istri dari pria yang tidak bisa memuaskanmu? Istri dari pria yang membiarkanmu kesepian? Itu bukan istri, itu hanya sebuah status.

Kata-kata Mas Bims bagai tamparan keras di wajahku. Aku terdiam, tak bisa berkata-kata. Ia benar. Aku merasa kosong. Aku merasa sendirian. Aku merasa seperti sebuah boneka yang hanya dipajang di etalase.

Aku tidak menjawab chat itu, aku taruh ponselku di sebelah badanku, pandanganku ke langit-langit rumah. Aku merenungkan semua yang terjadi. Apakah aku sudah siap untuk melangkah lebih jauh? Apakah aku sudah siap untuk disetubuhi orang lain selain suamiku? Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku bingung, membuatku takut, tapi juga memancing rasa penasaran yang aneh.

Aku memejamkan mata, mencoba mengusir pikiran-pikiran kotor itu. Tiba-tiba, ponselku berdering. Ada telepon dari Mas Dimas. Aku kaget, hatiku mencelos. Aku merasa dia akan menghakimiku atas live yang barusan kulakukan. Dengan tangan gemetar, aku mengangkat teleponnya.

"Assalamualaikum, Mas," sapaku, mencoba terdengar normal.

"Waalaikumsalam, Dek. Adek lagi ngapain?" tanyanya, suaranya terdengar lelah.

"Lagi nonton TV aja, Mas. Mas gimana, sudah sampai Bali?" jawabku, sebuah kebohongan yang terasa hambar di lidahku.

"Sudah, Dek. Ini barusan sudah sampai rumah dinas. Adek gimana di rumah, baik-baik aja kan? Ada teman kamu yang main ke rumah gak? Atau ada tamu gak?" tanyanya, suaranya penuh selidik.

Aku merasa aman. Ternyata Mas Dimas tidak melihat live-ku tadi.

"Baik-baik aja kok, Mas. Gak ada tamu ke rumah, Mas," jawabku, sebuah kebohongan yang terasa begitu mudah keluar dari mulutku.

"Syukurlah, Mas jadi tenang kalau Adek baik-baik aja di rumah. Ya udah, Mas beres-beres dulu yaa," ujarnya.

"Iyaa, Mas." Kemudian Mas Dimas mematikan teleponnya.

Aku terdiam, memandang langit-langit. Aku merasa bersalah. Aku telah berbohong. Aku telah mengkhianatinya. Tapi di sisi lain, aku merasakan sebuah sensasi aneh yang tidak bisa kuingkari. Aku merasa berani. Aku merasa punya kendali. Perasaan ini begitu memabukkan, dan aku tidak tahu, apakah aku bisa kembali ke diriku yang dulu. Aku meraih ponselku kembali, aku melihat-lihat video pendek di aplikasi, mencoba mengalihkan pikiranku dari semua hal yang telah terjadi.

Sampai akhirnya Maghrib tiba, aku sholat. Kemudian aku merebahkan diri di kamarku. Keheningan menyelimutiku. Aku mengambil ponselku, membuka aplikasi pesan. Aku tahu, ini adalah sebuah kesalahan, tapi entah mengapa, aku tidak mau menghentikannya. Aku tahu, aku ingin bermain lagi. Aku mengetik pesan untuk Mas Dimas. Aku ingin ia tahu, meskipun aku telah berbuat sejauh ini, aku tetap mencintainya. Aku ingin ia merasa aman, meskipun aku tahu itu adalah sebuah kebohongan yang kejam.

Aku: Mas, besok Adek mau live lagi, mau jual gamis model baru, doain laris yaa.

Tak lama Mas Dimas membalas chatku.

Mas Dimas: Tentu, Dek. Semoga laris yaa.

Kemudian, ada chat lagi dari Mas Dimas yang membuatku terkesiap.

Mas Dimas: Dek, besok pake gamis ketat yaa biar banyak yang nonton, hehe. Mas juga mau nonton, Mas kangen sama Adek. Mas pengen lihat Adek live pake baju ketat.

Aku kaget, sejak kapan Mas Dimas seperti ini. Pertanyaan itu berputar di benakku, membuatku bingung. Namun, anehnya, di balik kebingungan itu, ada sensasi aneh yang menjalar. Aku merasa senang. Aku merasa diinginkan.

Aku: Emang Mas gak marah kalo Adek live pake baju ketat?

Mas Dimas: Enggak kok, Dek. Kan biar jualan Adek laris.

Jantungku berdebar kencang. Aku seperti mendapat restu dari suamiku untuk berbuat nakal. Restu yang tidak pernah kuduga akan kudapatkan.

Aku: Iya Mas, lihat besok aja ya, Mas.

Kemudian aku memejamkan mata, aku bingung apakah Mas Dimas benar-benar mengizinkanku untuk berbuat nakal atau ada maksud lain. Pikiranku terus berputar, memikirkan semua kemungkinan. Aku tahu, besok akan menjadi hari yang panjang, penuh dengan ketegangan, gairah, dan ketakutan. Dan aku, tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aku tidak tahu, apakah aku harus mengikuti kemauannya atau tidak. Tapi, dorongan untuk melangkah lebih jauh, untuk mengetahui seberapa dalam aku bisa jatuh, terlalu kuat untuk kutahan. Aku memeluk guling, mencoba menenangkan diri, tapi bayangan Mas Dimas yang liar, dan bayangan diriku yang berani terus menghantuiku..

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com