Aku: Dek, kenapa senekat itu?
Tak lama kemudian, balasan dari Tiara muncul.
Tiara: Maksud Mas? Senekat apa?
Aku menatap layar, hatiku dipenuhi dengan perasaan campur aduk. Aku tidak tahu harus marah atau justru merasa tertarik.
Aku: Baju kamu yang itu. Kenapa harus pakai baju yang kayak gitu? Dan bra kamu kelihatan.
Balasan Tiara datang dengan cepat, dengan emoji yang santai.
Tiara: Ohh, itu. Gak apa-apa kok, Mas. Cuma buat mancing penonton aja. Biar banyak yang beli. Lagian, mereka gak kenal aku kok di dunia nyata, kan aku pakai cadar jadi mereka gak akan bisa tahu.
Jawaban itu bagai tamparan keras di wajahku. Ia begitu santai. Ia tidak melihat ini sebagai pelanggaran, melainkan sebagai sebuah strategi bisnis yang cerdas. Ia begitu pragmatis. Aku mencoba mengembalikan Tiara yang kukenal, Tiara yang polos, yang patuh, yang tidak tahu apa-apa.
Aku: Meskipun begitu. Kan kita sebagai muslim, gak baik mengumbar aurat seperti itu.
Tiara terdiam sejenak. Aku menunggu, berharap ia akan mengerti. Akhirnya, balasan datang.
Tiara: Iyaa, Mas... Adek matiin live sekarang deh, atau Adek ganti baju aja? Gimana, Mas?
Jantungku berdebar kencang. Ia memberiku pilihan. Aku bisa menyuruhnya berhenti, mengakhiri semua ini. Tapi hati kecilku yang lain menolaknya. Ada sensasi aneh yang kurasakan. Aku sedikit menyukai perbuatannya kepada orang lain. Ada rasa deg-degan, sebuah campuran kebanggaan dan kecemburuan, memiliki istri yang dikagumi banyak orang. Aku ingin ia tetap berada di sana, di panggung yang ia ciptakan.
Jari-jariku gemetar, mengetik balasan. "Ganti baju aja, Dek. Aku gak mengekang kamu kok."
Aku tahu itu adalah kebohongan terbesar yang pernah kuucapkan. Aku tidak mengekang, aku mengendalikan. Aku ingin dia di sana, di balik layar, menari hanya untukku.
Tiara: Oke, Mas. Adek ganti baju dulu ya. Makasih ya, Mas. Mas baik banget.
Balasan Tiara terasa begitu polos, begitu tulus, seolah ia benar-benar mengira aku adalah suaminya yang "baik". Aku meletakkan ponselku, merasa muak dengan diriku sendiri. Pikiranku kalut. Aku kembali ke ponselku, membuka aplikasi, dan menunggu. Setiap detik terasa bagai pukulan.
Tak lama kemudian, Tiara kembali muncul di layar. Wajahnya yang ditutupi cadar kini tersenyum.
"Maaf ya teman-teman," sapanya, suaranya ceria. "Aku ganti baju dulu. Baju tadi terlalu ketat, nanti kalian enggak fokus beli barangku, malah fokus ke aku, kan repot!"
Aku terdiam, membeku. Ia berani memberikan alasan seperti itu. Alasan yang begitu terus terang, begitu genit. Ia bahkan tidak merasa malu, ia justru menertawakan dirinya sendiri. Penonton di sana, yang sebelumnya sudah berkomentar nakal, kini kembali ramai.
"Yah, kok ganti, Kak? Padahal udah enak dilihatnya." "Bajunya ganti yang lebih hot aja Kak, jadi lebih kelihatan badannya." "Meskipun diganti, bayangan nenen yang tadi enggak akan hilang, Kak. Gamis lebar juga gak bakal bisa nutupin nenen gede kakak"
Aku melihat Tiara tertawa. Ia menanggapi komentar itu dengan santai, tanpa beban. Kemudian ia menjauh dari kamera, sepertinya menuju kamar untuk ganti baju.
Tak lama kemudian, ia kembali ke kamera, kini memakai gamis lebar, hijab lebar, dan dengan cadarnya yang berwarna hitam. Pakaian yang sudah biasa ia pakai. Penontonnya mulai mengomentari pakaiannya yang baru. Beberapa kecewa, beberapa memuji. Tiara hanya tersenyum. Ia kembali ke mode penjual yang polos.
Aku pun merasa lega dan kembali bekerja, pikiranku kini tenang. Aku pulang seperti biasa jam 4 sore. Aku masuk ke rumah, ke kamar, mengganti baju, mandi, lalu merebahkan diri di ranjang. Aku membuka ponsel, ingin melihat istriku live.
Namun, saat aku membuka aplikasinya, akunnya tidak sedang live. Aku bingung. Aku keluar kamar, berjalan menuju studio istriku. Aku masih mendengar dia berbicara, suaranya terdengar seperti sedang live. Pintunya sedikit terbuka, dan aku mengintip.
Jantungku berdebar kencang. Ia berbicara dengan ponselnya, tapi ia mengenakan gamis yang tadi, gamis putih ketat. Hijabnya pendek, hanya menutupi setengah payudaranya. Aku bahkan bisa melihat samar-samar warna merah dari bra yang ia pakai. Dan ia masih memakai cadar. Ia menyapa penonton, "Makasih ya, Kak Bims, sudah setia menunggu. Maaf tadi live-nya kepotong."
Aku bingung kenapa di ponselku dia tidak live. Aku buru-buru mengecek, apakah aku diblokir? Ternyata tidak. Aku tidak diblokir. Aku kembali mengintip, kebingunganku bercampur dengan rasa cemas yang semakin dalam. Ia pasti sedang melakukan live privat, hanya untuk orang-orang tertentu, seperti Mas Bims.
Aku terus mengintip, dan apa yang kulihat membuat napasku tertahan. Tiara kini tidak hanya berbicara. Ia mulai bergerak, lalu dia bicara, "Jangan crot dong, Mas, nanti aku dosa," jawabnya, tapi matanya berkedip ke kamera. Ia menggerakkan bahunya, dan payudaranya ikut bergerak, gamis putihnya yang ketat mengikuti setiap gerakannya, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya. Ia menyentuh dadanya, mengelusnya dari luar gamis.
"Ini khusus buat kalian yang sudah gift dan langganan ke aku," bisiknya, suaranya parau, tidak seperti suara yang kudengar saat ia live di publik. "Kalian suka?"
Aku melihat dia menunduk, bibirnya mendekat ke kamera, seolah ia sedang mencium layar. Ia tertawa, lalu berkata, "Jangan nakal ya, Mas Bims. Nanti aku juga bisa ikutan nakal karena kamu." Aku tidak habis pikir. Istriku benar-benar menuruti permintaan pria lain, permintaan yang begitu vulgar.
Aku merasa bingung harus melakukan apa. Tapi di hati kecilku, ada sensasi tersendiri. Aku merasa penisku menegang melihatnya. Aku mengelus penisku di balik celana, menyaksikan istriku, yang selama ini hanya kulihat dalam kegelapan, kini menjadi tontonan publik, menari untuk pria lain, menari dengan kata-kata genit yang ia lontarkan dengan mudah. Aku tidak tahu lagi, apakah aku marah, atau justru terangsang. Yang jelas, aku tidak bisa berhenti mengintip.
Tak lama kemudian, dia berbicara lagi ke kamera bahwa dia mau menyudahi live-nya karena tidak mau lama-lama live seperti ini, cukup 10 menit saja. Aku pun bergegas lari ke kamar. Aku berencana ketika istriku datang, aku berpura-pura tidak terjadi sesuatu apa pun.
Bersambung...
