𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟓 𝐁𝐚𝐛𝐚𝐤 𝐁𝐚𝐫𝐮 𝐊𝐞𝐜𝐮𝐫𝐢𝐠𝐚𝐚𝐧

 

Aku mengepalkan tanganku di depan pintu, napasku memburu. Ada desakan kuat untuk mendobraknya, untuk melihat siapa yang ia ajak bicara, untuk mengungkap apa yang ia sembunyikan. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak punya bukti, hanya bisikan yang samar, bisikan yang mungkin saja kupalsukan di benakku sendiri.

Aku mundur selangkah. "Aku harus mencari bukti," batinku, sebuah janji yang kuucapkan pada diriku sendiri.

Aku berjalan ke dapur, mengambil segelas air, dan meneguknya hingga tandas. Pikiranku kalut. Tiba-tiba, aku teringat. Aku belum salat Isya. Aku merasa sedikit tenang. Aku mengambil air wudu, lalu salat. Aku mencoba memfokuskan pikiranku, memohon petunjuk. Namun, bahkan di dalam doaku, wajah Tiara dan bisikan-bisikan misterius itu terus menggangguku, merusak kekhusyukanku.

Setelah selesai salat, aku kembali ke depan pintu studio Tiara. Aku tidak lagi berniat mendobraknya. Kali ini, aku hanya ingin menguping. Aku menempelkan telingaku di pintu yang dingin, berharap bisa mendengar lebih banyak. Aku harus tahu apa yang terjadi. Aku harus tahu siapa "Mas" itu, apa yang ia minta.

Jantungku berdegup kencang. Kali ini, percakapan mereka terdengar lebih jelas. Suara Tiara terdengar lebih pelan, lebih intim, seolah ia sedang berbicara dengan kekasih rahasianya.

"Maaf, Mas, aku enggak bisa. Ini sudah terlalu malam... Aku enggak mau Mas minta lebih. Itu aja, ya?" Suaranya memohon, namun juga penuh janji. "Nanti ya, kalau Mas sudah kirim hadiahnya... Adek janji... Adek kasih yang lebih dari itu. Tapi sekarang, jangan minta lebih ya, Mas... yang lain hanya untuk suamiku..."

Kalimat itu bagai tamparan keras di wajahku. Aku tak tahu apa maksudnya. Apa yang dia berikan kepada "Mas" itu, dan apa yang ia sisakan untukku? Aku merasa perutku mual, kepalaku semakin pusing. Aku ingin mendobrak pintu itu, ingin melihat siapa yang ia telepon. Namun, aku hanya bisa berdiri di sana, di depan pintu yang tertutup, merasa sebuah jurang telah tercipta di antara kami.

Tak lama, aku mendengar Tiara menyudahi panggilan itu. "Assalamualaikum, Mas. Sampai ketemu besok."

Aku buru-buru berlari kembali ke kamar, merebahkan diriku, dan memejamkan mata. Aku mengatur napas, mencoba terlihat seperti orang yang sedang tidur pulas. Tidak lama kemudian, aku mendengar pintu terbuka. Tiara masuk, berjalan perlahan. Ia tidak membangunkan aku. Aku merasakan ranjang bergerak, ia merebahkan dirinya di sampingku. Aroma sampo stroberi miliknya memenuhi indraku, aroma yang dulu menenangkan, kini terasa menyesakkan.

Aku menunggu. Sepuluh menit terasa seperti sepuluh jam. Aku membalikkan badanku, membelakangi Tiara. Perlahan, tanganku bergerak, menyentuh bahunya. Tidak ada balasan. Aku menyentuh lehernya, memastikan napasnya teratur. Aku yakin dia sudah tidur.

Jantungku berdebar kencang. Aku mengambil napas dalam-dalam, lalu membalikkan badanku. Ia tidur dengan tenang, ponselnya tergeletak di sampingnya. Perlahan, sangat perlahan, aku mengulurkan tanganku, meraih ponselnya.

Jantungku terasa berhenti. Layar ponselnya menyala, dan aku bisa melihat sebuah pola kunci. Aneh, dulu ia tidak pernah mengunci ponselnya. Rasa curiga yang selama ini kupendam kini meledak tak terkendali. Ia tidak lagi mempercayaiku.

Aku mematung, ponsel Tiara tergenggam di tanganku. Notifikasi WhatsApp itu terpampang jelas, menusuk mataku. Pesan dari "Mas Bims" terukir di sana, dingin dan lugas: "besok pake gamis warna putih yaa. pake bh warna merah, jilbab yang kecil aja."

Darahku mendidih, amarah membakar di dadaku. Namun, pada saat yang sama, sebuah sensasi yang menjijikkan namun memabukkan menjalar di bawah perutku. Aku tidak mengerti bagaimana kedua hal ini bisa ada di saat yang bersamaan. Amarah yang membakar, kemarahan karena istriku yang alim dan polos diperlakukan seperti wanita murahan, beradu dengan hasrat gelap yang tak bisa kuhentikan. Ini adalah racun, sebuah perpaduan antara jijik dan nafsu yang menggerogoti jiwaku. Aku adalah suaminya, tapi dia menari, telanjang, untuk pria lain.

Apakah Tiara akan menurutinya? Apakah ia akan memakai gamis putih yang akan mencetak lekuk tubuhnya lebih jelas? Apakah ia akan memakai bra merah, sebuah rahasia kecil yang hanya diketahui oleh pria bernama "Mas Bims"? Aku tidak tahu. Pikiranku kalut, ditarik-ulur antara amarah dan hasrat yang tak terduga.

Aku tahu, aku tidak bisa berada di sini lebih lama lagi. Aku takut jika aku terus memegangi ponselnya, aku akan menemukan hal-hal lain yang membuatku gila. Aku meletakkan kembali ponselnya di sampingnya, lalu merebahkan diriku. Aku memejamkan mata, berusaha menenangkan diri. Namun, yang terbayang di benakku hanya satu: Tiara, dalam balutan gamis putih, dengan bra merah di dalamnya, menari di depan kamera, hanya untuk pria bernama "Mas Bims".

Aku terbangun pagi itu dengan perasaan yang tidak biasa. Ada kegelisahan yang mengendap di dadaku, tapi juga rasa penasaran yang membuncah. Seperti biasa, aku sarapan, lalu berpamitan dengan istriku. Aku mencium keningnya, dan entah kenapa, ciuman itu terasa dingin. Ada jarak yang tak terlihat di antara kami.

Di kantor, pikiranku tidak bisa fokus. Mataku terus-menerus melirik jam di sudut layar, menunggu pukul 12 siang. Aku ingin melihat apa yang akan dikenakan Tiara. Apakah ia akan menuruti permintaan pria bernama Bims itu? Jantungku berdebar kencang, sebuah kombinasi antara amarah dan hasrat yang tak terduga.

Pukul 12 siang, aku membuka aplikasi live streaming, namun Tiara tidak live. Aku merasa sedikit lega, tapi juga kecewa. Aku menunggu. Satu jam terasa begitu lama. Jari-jariku terus me-refresh halaman itu, hingga akhirnya, pukul 1 siang, Tiara muncul di layar.

Apa yang kulihat membuat napasku tertahan. Tiara mengenakan gamis putih, persis seperti yang diminta Bims. Hijabnya tidak lagi lebar, ia memakai hijab yang lebih kecil. Setiap gerakannya membuat gamis itu terlihat lebih ketat, dan aku bisa melihat lekuk tubuhnya dengan sangat jelas.

Aku memelototi layar, mencoba melihat lebih detail. Dan benar saja. Di balik gamis putihnya, samar-samar terlihat sebuah warna merah. Bra merah.

Aku tahu, aku tidak salah lihat. Setiap kali ia bergerak, warna merah itu terlihat lebih jelas, seperti sebuah rahasia yang ia bagikan.

Darahku mendidih. Ia menuruti permintaan itu. Ia menuruti pria bernama Bims itu. Ia melakukan ini untuk pria lain. Rasa marahku meluap, tapi di sisi lain, hasratku juga membuncah. Aku hanya bisa menatap layar, menyaksikan istriku, yang selama ini hanya kulihat dalam kegelapan, kini menjadi tontonan publik.

Aku tak sanggup untuk menonton lebih lama. Jantungku berdegup kencang, sebuah kombinasi antara amarah dan gairah yang tak terkendali yang terasa seperti racun. Aku mematikan layar ponsel, mengambil napas dalam-dalam, lalu membuka WhatsApp. Jari-jariku gemetar saat mengetik, mengeja amarahku.

Aku: Dek, kenapa senekat itu?

Bersambungg...


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com