Pagi hari, rutinitas kami terasa normal. Tiara menyiapkan sarapan. Matanya yang indah selalu tersenyum saat menatap ponselnya. Aku melirik, mencoba membaca pesan-pesan yang masuk, tapi tidak bisa. Kecurigaan kecil yang selama ini kutepis, kini mulai menggerogoti. Aku tahu, ada sesuatu yang baru telah dimulai, sesuatu yang tidak bisa kuhentikan.
Di kantor, pikiranku tidak bisa tenang. Aku sesekali membuka ponsel, menonton siaran langsung Tiara. Dia terlihat begitu bahagia, lebih hidup dari yang pernah kulihat. Dia tertawa, menanggapi komentar-komentar. Aku mencoba untuk fokus pada pekerjaanku, tapi pikiranku terus-menerus kembali pada siaran langsung itu.
Di hari Jumat, setelah salat Jumat, saat jam istirahat makan siang, aku kembali menonton siaran langsungnya. Ia mengenakan gamis baru yang cukup ketat. Gamis itu tidak sepenuhnya menutupi lekuk tubuhnya, terutama payudaranya yang besar, yang tercetak sangat jelas di balik hijab lebarnya. Komentar-komentar jorok mulai bermunculan.
"Mbak Tiara, gamisnya kok ketat banget?" "Meskipun pakai gamis, payudaranya gede banget ya." "Wihh bulet banget, kenceng lagi. pengen crot disana."
Aku merasa darahku mendidih. Aku ingin berteriak, karena aku, suaminya, bahkan belum pernah crot di sana.
Tiba-tiba, sebuah gift elang muncul. Nama pengirimnya membuatku terkejut: Mas Bims. Dia kembali.
"Makasih banyak ya, Kak Bims!" seru Tiara, suaranya riang, lebih riang dari yang pernah kudengar.
Kemudian, sebuah komentar muncul dari akun Mas Bims. "Kak, hijabnya ke atasin dong. Aku pengen lihat hatimu yang bagus ituu.."
Aku terdiam, membeku. Tanganku mengepal. Aku melihat Tiara. Ia terlihat sedikit canggung, tapi ia tertawa kecil. "Jangan, Kak Bims, aku nggak mau ya, Kak. Hati di dadaku ini hanya untuk suamiku."
Tapi Mas Bims tidak menyerah. Ia terus merayu. "Ayolah kak, sekali ini aja. Aku penasaran. Nanti, aku kirim elang lagi."
Kemudian, sebuah notifikasi lain muncul. Mas Bims mengirimkan gift elang lagi. "Kak, aku gift elang lagi, hijabnya kebelakangin ya, aku ingin lihat hatimu ya?"
Aku tahu maksud Bims. Dia ingin melihat bongkahan payudara istriku. Aku melihat Tiara. Matanya yang indah terlihat bingung. Ia menatap ke arah kamera, lalu menunduk. Gelagatnya seperti tidak menolak. Tiba-tiba, tangannya bergerak, memegang ujung hijabnya, seolah bersiap-siap mengangkatnya ke atas.
"Pak Dimas, ada telepon dari pusat. Katanya penting," suara sekretarisku memecah keheningan.
Sial! Aku mengutuk dalam hati. Aku ingin melihat apa yang akan ia lakukan. Aku ingin tahu. Tapi aku harus mengangkat telepon. Aku mematikan ponselku, berjalan ke mejaku, dan mengangkat telepon. Pikiranku masih di kamar itu, di layar ponselku, pada Tiara yang sedang berada di persimpangan.
Aku kembali ke mejaku, namun pikiranku tak pernah benar-benar ada di sana. Percakapan telepon dari kantor pusat terasa kabur, tak satu pun kata penting yang bisa kucerna. Yang terngiang di benakku hanya satu: Tiara, dan tangannya yang ragu-ragu di ujung hijabnya. Aku harus melakukan sesuatu, harus menghentikannya sebelum semuanya terlambat.
Aku memutuskan untuk izin pulang cepat. Pukul tiga sore, aku sudah berada di mobil, mengemudi dengan hati kalut. Aku ingin sampai di rumah, ingin berlari ke kamar studio, dan menarik Tiara keluar dari sana. Aku ingin ia sadar, ingin ia tahu betapa bahayanya dunia yang ia masuki.
Ketika sampai di rumah, aku langsung masuk. Kunci rumah kubawa, dan pintu kubuka tanpa ragu. Aku berjalan cepat menuju kamar studio istriku. Namun, tepat di depan pintu, langkahku terhenti. Aku mengurungkan niatku. Aku ingin tahu seberapa jauh ia sudah melangkah. Lebih baik aku menonton live-nya dulu dari kamar, pikirku. Aku kembali ke kamar kami, mengambil ponselku, dan membuka aplikasi.
Dan benar saja. Apa yang kulihat membuat jantungku berdebar kencang, kali ini bukan hanya karena cemas, melainkan juga karena sebuah sensasi aneh yang menjalar di tubuhku. Tiara kini tidak lagi menutupi seluruh dadanya dengan hijab. Hijabnya kini disampirkan di pundak, menutupi hanya setengah payudaranya. Bongkahan payudaranya yang besar tercetak sangat jelas di gamisnya yang ketat. Aku merasa marah, tapi juga merasakan hasrat yang membara. Penisku tegang.
Aku menatap layar, hatiku dipenuhi dengan perasaan campur aduk antara amarah dan gairah. Kulihat Tiara tersenyum, matanya berbinar. Ia memperagakan gamisnya, dan setiap gerakannya membuat payudaranya terlihat semakin jelas. Aku membaca komentar-komentar yang muncul. Komentar-komentar yang kini semakin jorok dan blak-blakan.
"Mbak, gamisnya bagus aku pengen beli, tapi lebih pengen pake yang di dalamnya."
"Aku nonton sambil coli, Kak. Bikin sange."
"Terima kasih, Kak, sudah berbagi pemandangan indah."
"Gede banget, Kak, jadi pengen pegang."
Aku melihat Tiara membaca komentar-komentar itu. Namun, ia tidak terlihat marah. Ia justru tertawa, sebuah tawa yang lepas dan penuh kenikmatan. Tawa yang sama yang ia bagikan dengan orang-orang asing ini tidak pernah kutemukan saat ia bersamaku. Tawanya membuatku semakin tegang, semakin gila. Tanganku kini tidak lagi bisa diam. Aku mengelus penisku sendiri, merasakan sensasi panas yang menjalar di seluruh tubuhku.
Aku terus memelototi layar ponselku, membiarkan komentar-komentar itu mengalir. Ada hasrat yang semakin membara di dalam diriku.
"Kak, munduran dikit dong, pengen lihat full body kakak," tulis seorang penonton. Tiara, yang masih mengenakan gamis ketatnya, melangkah mundur sedikit, menampakkan seluruh tubuhnya. Aku menelan ludah, dadaku berdebar kencang.
Lalu, komentar lain muncul. "Kak, goyangin dadanya, aku mau crot."
Aku membeku. Aku menunggu, berharap Tiara akan mengabaikan komentar itu. Tapi ia tidak melakukannya. Tiara, istriku, yang selama ini kukenal sebagai sosok yang alim dan pendiam, tersenyum kecil. Ia mengibas-ngibaskan tangannya, kemudian mulai menggoyangkan tubuhnya dengan pelan. Payudaranya yang besar bergerak naik turun di balik gamisnya. Aku tidak habis pikir. Istriku benar-benar menuruti permintaan pria lain, permintaan yang begitu vulgar.
Aku yang menonton itu, ikut gila. Aku merasakan sebuah sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuhku. Aku membayangkan Tiara, istriku, yang selama ini hanya kulihat dalam kegelapan, kini menjadi bintang utama di panggung yang kulihat dari ponselku. Aku membayangkan kenakalannya, sisi liar yang selama ini ia sembunyikan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika ia melakukan itu di hadapanku.
Tanganku kini tidak lagi bisa diam. Aku membuka celana, mengelus penisku sendiri, merasakan sensasi panas yang menjalar di seluruh tubuhku. Aku terus memandang layar, aku coli melihat istriku sendiri dilecehkan, Aku menyaksikan istriku yang kembali goyangkan dadanya di sana. Tidak lama, aku merasakan diriku akan mencapai puncak. "Ahh.. ahh.." Aku memuncratkan spermaku. Cairan putih hangat itu membasahi celanaku dan sedikit mengenai sprei.
Aku terengah-engah, tubuhku lemas. Aku meraih beberapa lembar tisu di meja, mengelapnya. Setelah itu, aku mengganti pakaian tidurku. Aku kembali ke ranjang, mengambil ponselku, dan kembali menonton siaran langsung Tiara. Aku melihatnya, masih tersenyum, dan kembali mempromosikan produknya.
Aku yang kelelahan dan penuh dengan perasaan campur aduk akhirnya tertidur.
Sebuah Percakapan yang Menghancurkan
Aku terbangun pukul sepuluh malam. Kepalaku terasa pusing, mungkin karena kelelahan, atau mungkin karena tindakan bodohku tadi sore. Aku melirik ke sampingku, ranjang kosong. Tiara tidak ada di sana. Seketika, aku tersadar. Aku sampai melupakan kewajibanku, salat Maghrib.
Aku turun dari tempat tidur, berjalan ke luar kamar untuk mengambil minum, lalu menunaikan salat Isya. Namun, baru saja aku sampai di depan pintu kamar studio istriku, langkahku terhenti. Aku mendengar suara. Suara Tiara.
Apakah dia masih live jam segini? Aku buru-buru mengeluarkan ponselku, mengecek akunnya. Tidak. Ia tidak sedang live. Aku merasa bingung. Jika tidak live, lalu dengan siapa ia berbicara?
Aku menempelkan telingaku di pintu yang tertutup. Suara Tiara terdengar samar, namun jelas. Ia sedang menelepon seseorang. Ia memanggil orang itu "Mas". Hatiku langsung kacau, jantungku berdegup kencang. Apakah ia sedang meneleponku? Tidak mungkin. Suaranya terdengar terlalu mesra, terlalu lembut, seperti ia sedang membisikkan rahasia.
Aku menguping, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Jangan minta lebih yaa, Mas... itu ajaa... yang lain hanya untuk suamiku..."
Kalimat itu bagai tamparan keras di wajahku. Aku tak tahu apa maksudnya. Apa yang dia bicarakan? Apa yang dia berikan kepada "Mas" itu, dan apa yang ia sisakan untukku? Aku merasa perutku mual, kepalaku semakin pusing. Aku ingin mendobrak pintu itu, ingin melihat siapa yang ia telepon. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa berdiri di sana, di depan pintu yang tertutup, membiarkan pikiranku berputar-putar dalam ketidakpastian.
Bersambungg...
