𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟑 𝐊𝐞𝐫𝐚𝐠𝐮𝐚𝐧

Sore itu, aku menyetir pulang dengan perasaan yang tidak tenang. Pikiranku terus-menerus melayang pada live Tiara, pada Mas Bims, dan pada tawaran yang menggantung di udara. Aku ingin pulang dan memeluknya, tapi di sisi lain, aku ingin pulang dan mengkonfrontasinya. Pikiranku terbelah.

Mobilku mendekati gerbang kompleks. Satpam, seorang pria paruh baya bernama Jono, keluar dari posnya untuk membukakan portal. Aku melirik ke dalam pos, melihat seorang satpam lain yang sedang memegang ponsel, tertawa kecil.

Jono, yang mengenali mobilku, menyapa. "Selamat sore, Pak Dimas."

"Sore, Pak," jawabku, suaraku terdengar kaku.

Tiba-tiba, aku mendengar suara satpam di dalam pos. "Gar, nih lihat live orang jualan cadar, habis dikasih elang, cok. Langsung disuruh buka cadar tiga detik. Gilaa, ternyata mukanya cantik banget bjirr. Teteknya juga gede banget, walaupun pake gamis keliatan gede banget."

Jantungku terasa berhenti. Aku membeku. Kepalaku terasa kosong. Jono, yang menyadari tatapanku, terlihat canggung. Ia menggaruk kepalanya, lalu buru-buru menutup portal. Aku terkejut, gugup, dan jantungku berdebar kencang. Aku buru-buru menginjak gas, meninggalkan pos satpam, meninggalkan percakapan yang mengiang di telingaku.

Aku menyetir dengan kecepatan tinggi, pikiranku kalut. Elang. Buka cadar. Wajahnya cantik. Teteknya gede banget. Kata-kata itu berputar-putar di kepalaku, seperti sebuah lagu yang mengerikan. Aku tahu itu pasti Tiara. Aku tahu itu istriku.

Aku sampai di rumah, parkir mobilku sembarangan, lalu lari masuk. Pintu kubuka, namun tidak ada senyum Tiara yang menyambutku. Aku hanya mendengar suaranya dari dalam kamar sebelah. Suara yang kini terasa berbeda, tidak lagi seperti suara istriku, melainkan seperti suara seorang wanita yang sedang menari di atas jurang.

Aku langsung masuk ke kamar, mengambil ponselku, dan membuka aplikasi live streaming. Aku langsung mencari nama Tiara, dan kulihat ia sedang live. Ia masih mengenakan cadar, seperti biasanya. Ia tertawa, memperagakan sebuah gamis baru. Matanya yang indah, yang dulu hanya kulihat saat kami berdua, kini menjadi tontonan publik.

Namun, yang membuatku terkejut adalah komentar-komentar yang terus mengalir. Komentar-komentar yang lebih nakal dari sebelumnya.

"Kak, kok teteknya makin gede ya? Habis dikasih elang, ya?"

"Tadi 3 detik aja udah bikin adem. Apalagi kalau seharian, ya."

"Cadar itu kayak bungkus kado, bikin penasaran sama isinya." "Mukanya aja cantik, apalagi... ya, Kak?"

Aku merasa darahku mendidih. Aku ingin berteriak, ingin mematikan ponselku, ingin berlari ke kamar sebelah dan menarik Tiara. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa duduk diam, menyaksikan istriku, yang selama ini hanya kulihat dalam kegelapan, kini menjadi tontonan nakal publik.

Aku menunggu di kamar, detak jantungku berpacu seiring dengan jarum jam. Pikiranku kalut, dipenuhi potongan percakapan yang kudengar di pos satpam. Elang. Tiga detik. Buka cadar. Tetek. Kata-kata itu berputar-putar di kepalaku, menciptakan bayangan yang mengerikan tentang istriku.

Tepat saat azan Maghrib berkumandang, suara pintu kamar sebelah terbuka. Tiara masuk, wajahnya yang cantik, yang hanya tertutup cadar, terlihat lelah namun bahagia. Ia melepas cadarnya, meletakkannya di atas meja, lalu berjalan ke arahku.

"Mas, sudah pulang? Kok enggak ngabarin?" sapanya lembut, lalu memelukku.

Tubuhnya terasa hangat di dekapanku. Aku membalas pelukannya, namun hatiku terasa dingin. Sebuah pertanyaan mendesak ingin keluar dari bibirku, pertanyaan yang bisa saja menghancurkan segalanya. Aku tidak bisa menahan diri.

"Dek," bisikku, suaraku serak. "Tadi... pas live... kamu buka cadar, ya?"

Tiara melepaskan pelukannya, menatapku, matanya yang indah terlihat bingung. "Enggak, Mas. Kenapa Mas tanya begitu?"

"Tadi... di kantor... aku dengar orang-orang ngobrol. Mereka bilang... kamu buka cadar pas live... dikasih hadiah elang." Aku sengaja tidak bilang aku mendengarnya di pos satpam.

Tiara terdiam. Ia menunduk, matanya yang indah kini tertutup oleh bulu matanya yang panjang. "Oh... itu..." Ia kembali menatapku, matanya dipenuhi kejujuran yang menenangkan. "Enggak kok, Mas. Aku enggak buka cadar. Tadi memang ada yang nyuruh aku buka, tapi dia gift pesawat. Tapi aku enggak mau. Aku bilang aku enggak pernah buka cadar di tempat umum."

Ia melanjutkan, suaranya terdengar meyakinkan. "Adek cuma bilang makasih. Terus aku bilang, 'Maaf ya, Kak, aku nggak bisa. Aku nggak pernah buka cadar di depan orang lain selain suami dan mahramku'."

Aku terdiam, memandang wajahnya yang polos. Tidak ada raut wajah berbohong. Ia terlihat begitu tulus, begitu lugu. Aku merasa bodoh karena mendengarkan gosip. Aku memeluknya erat, mencium keningnya.

"Maaf ya, Sayang. Mas cemburu," bisikku.

Tiara tertawa kecil. "Enggak apa-apa kok, Mas. Aku tahu Mas cemburu. Tapi Mas percaya sama Adek kan?"

Aku mengangguk. "Tentu saja, Sayang. Aku percaya sama kamu." Aku memang tidak punya bukti untuk meragukannya. Ia adalah Tiara yang kukenal, istriku yang alim dan polos. Ia tidak mungkin melakukan itu. Pikiranku menenangkanku. Satpam itu mungkin salah lihat, atau salah orang. Aku tahu, aku hanya percaya saja, aku tidak punya bukti. Aku merasa sedikit lega.

Malam itu, kami salat Maghrib berjamaah. Setelah itu, kami kembali ke rutinitas kami. Tiara melanjutkan live-nya, dan aku kembali ke dunia rutinitasku. Namun, di dalam hatiku, sebuah bisikan kecil, sebuah keraguan, terus mengiang, "Apakah ia benar-benar jujur? Atau apakah ia hanya ingin aku percaya?"

Setelah salat Isya berjamaah, kami duduk di meja makan. Malam itu, Tiara terlihat begitu bersemangat. Ia terus-menerus bercerita tentang penjualannya.

"Mas, alhamdulillah... jualan Adek sekarang laku banyak. Tadi ada yang beli 10 gamis sekaligus," katanya, suaranya dipenuhi kegembiraan. "Aku butuh modal, Mas, buat restock barang. Kalau enggak, nanti pas ada yang mau, stoknya kosong."

Aku menelan ludah, menatap matanya yang berbinar. Ada perasaan aneh di dadaku. Ini adalah Tiara yang begitu hidup, begitu penuh ambisi. Aku bangga, tapi di balik rasa bangga itu, sebuah kecemasan lain tumbuh. Apa yang terjadi jika aku tidak bisa lagi memenuhi permintaannya? Apa yang akan dia lakukan jika aku tidak bisa memberinya uang?

"Berapa butuhnya, Dek?" tanyaku.

"Sepuluh juta, Mas," jawabnya. "Aku mau restock semua model yang paling laku."

Aku mengangguk. "Ya sudah, nanti Mas transfer sepuluh juta. Buat modal, ya."

Tiara tersenyum lebar, lalu memelukku. "Makasih, Mas. Mas baik banget."

Malam itu, setelah makan, kami kembali ke kamar. Tiara tidak lagi menunggu. Ia langsung memelukku, mencium bibirku, dan mendorongku ke tempat tidur. Gerakannya begitu agresif, begitu liar. Aku merasakan hasratnya yang membara, hasrat yang selama ini terpendam. Ia seperti kesetanan, tidak lagi malu, tidak lagi ragu.

Aku, yang masih terbayang komentar-komentar nakal di siaran langsungnya, juga seperti kesetanan. Kecemburuan dan hasratku bercampur jadi satu. Aku membalas setiap ciumannya, setiap sentuhannya. Aku menindihnya, membelai payudaranya yang besar, dan mencium lehernya dengan ganas. Ini bukan lagi tentang cinta. Ini tentang kepemilikan. Aku tidak peduli lagi.

Aku memposisikan diriku, dan tanpa menunggu, aku menggenjotnya dengan keras. Aku merasakan sensasi panas yang menjalar di seluruh tubuhku. Aku menggenjotnya, melampiaskan semua kecemburuan dan ketakutan yang kupendam. Tiara mendesah, suaranya dipenuhi kenikmatan.

"Ahh... enak, Mas," rintihnya, mencengkeram bahuku.

Aku semakin cepat menggenjotnya. "Ahh.. Ahh.. Adek cantik banget..," Aku merasakan diriku akan mencapai puncak. "Ahh ahh... Mas keluar, Dek!" rintihku.

Tiara memelukku erat, menggeleng. "Jangan dulu, Mas, Adek enak... Ahh!"

Aku mencoba menahan. Tapi aku tidak bisa. Nafasku memburu, tubuhku menegang. "Mas nggak kuat, Dek... croott..."

Aku merasakan spermaku memuncrat di dalam rahimnya. Aku ambruk, menempelkan wajahku di lehernya, terengah-engah. Aku terbaring di sampingnya, lelah. Tubuhku terasa berat, seperti habis berlari maraton. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku terlelap dalam kelelahan yang luar biasa, merasa puas telah melampiaskan hasratku, tapi tidak tahu apakah aku telah memuaskan hasratnya.

Bersambung...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com