Aku menyelesaikan salat Isya, tapi perasaan cemas masih membayangiku. Setelah melipat sajadah, aku duduk di ruang keluarga, menyalakan televisi, namun pikiranku terus melayang. Setiap detik yang berlalu terasa panjang, dan setiap bayangan di luar jendela terasa seperti Tiara yang sedang berjalan pulang.
Sekitar pukul delapan malam, aku mendengar suara kunci berputar. Pintu terbuka, dan Tiara masuk dengan senyum lebar, membawa sebuah bungkusan kecil.
"Assalamualaikum, Mas," sapanya riang.
"Waalaikumsalam," jawabku, hatiku sedikit lega melihatnya. "Kok lama?"
"Maaf, Mas. Tadi aku mampir beli martabak," katanya sambil mengangkat bungkusan itu. "Tadi aku sama Silmi ngobrolin banyak hal. Mas, dia hebat banget. Dia ngasih aku banyak banget ide buat jualan."
Tiara bercerita dengan antusiasme yang membuncah, matanya berbinar-binar. Ia tidak meminta izin, tidak lagi bertanya "boleh atau tidak". Ia hanya memberitahuku, seolah ini adalah keputusannya sendiri. "Mas, Silmi bilang aku harus live streaming. Nanti dia bantu ajarin. Dia bilang, gamis dan hijab itu bukan cuma buat nutupin, tapi juga bisa jadi fashion. Terus, cadar... dia bilang cadar itu bikin orang penasaran. Dia nyuruh aku pakai cadar pas live, biar orang pada lihat mata aku yang katanya bagus."
Aku hanya mengangguk, terpesona oleh gairah yang baru kutemukan dalam diri istriku. Aku tidak bisa menolak. Melihatnya sebahagia ini, semua kecemasanku terasa tidak berarti.
Malam itu, setelah kami selesai makan martabak, kami kembali ke kamar. Udara terasa lebih panas dari biasanya. Tiara memelukku dari belakang, bibirnya mencium leherku.
"Mas... aku mau malam ini," bisiknya, suaranya parau.
Aku menoleh, mataku melebar. Ini bukan Tiara yang kukenal. Ini Tiara yang baru, Tiara yang lebih berani.
"Kamu serius?" tanyaku.
"Iya, Mas. Aku mau..."
Kami berciuman, ciuman yang lebih dalam, lebih menuntut. Tiara melepas gamisnya, lalu pakaian dalamnya. Ia meraih tanganku, menuntunku ke atas ranjang.
"Mas, aku mau di atas," bisiknya, matanya yang indah menatapku, penuh hasrat.
Aku menelan ludah. Ini adalah sebuah pengalaman yang baru bagiku. Aku berbaring, membiarkan Tiara mengendalikan. Ia duduk di atas pangkal pahaku, membelai penisku yang sudah tegang. "Mas... besar sekali," bisiknya, suaranya bergetar. Ia menurunkannya, mengarahkan mulut vaginanya yang basah. Dengan satu dorongan, ia masuk.
"Ahhh..." desah Tiara, suaranya bercampur antara kenikmatan dan kepuasan.
Ia mulai bergerak, pelan-pelan. Gerakannya ritmis, seolah ia sedang menari. Aku hanya bisa berbaring, menikmati sensasi. Tiara mencium bibirku, tangannya menangkup wajahku. "Mas... enak banget..." rintihnya.
Aku mencoba menyesuaikan ritmenya, namun entah kenapa, aku tidak bisa. Nafasku memburu, jantungku berdebar kencang. Aku merasa akan mencapai puncak. "Dekk... Mas keluar... Ahh.. Ahh.." Aku memuncratkan spermaku di dalam rahimnya.
Tiara terdiam, gerakannya terhenti. Sebuah keheningan singkat mengisi ruang. Ia menatapku, matanya yang indah dipenuhi rasa kecewa yang tidak bisa ia tutupi.
Ia tidak menggerang, tidak menjerit. Ia hanya terdiam, tubuhnya ambruk di atasku. "Makasih, Mas," bisiknya, suaranya lemah.
Aku memeluknya, membenamkan wajahku di lehernya. Aku merasa sebuah jurang telah tercipta di antara kami, jurang yang semakin dalam, semakin sulit untuk dijembatani. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku terlelap dalam kelelahan yang luar biasa, membiarkan pertanyaan dan kekecewaan Tiara menggantung di udara.
Hari-hari setelah itu terasa seperti film yang diputar ulang. Aku bangun, mengenakan kemeja kerjaku, dan berangkat ke kantor. Rutinitasku tak berubah. Tapi di rumah, semua telah berubah.
Tiara, istriku, kini memiliki rutinitas barunya. Pagi hingga siang, ia akan membereskan rumah, memasak, dan melakukan kewajiban layaknya seorang istri. Namun, setelah itu, ia akan "menghilang". Aku tahu ia tidak benar-benar menghilang. Ia hanya pindah ke kamar sebelah, kamar yang dulu kami gunakan untuk menyimpan barang tak terpakai, dan kini telah ia sulap menjadi sebuah studio mini.
Di kantor, pikiranku tidak bisa tenang. Aku sering membuka ponsel, membuka aplikasi live streaming, dan mencari nama Tiara. Jantungku berdebar setiap kali aku melihatnya muncul, wajahnya yang cantik, matanya yang indah, kini tidak lagi hanya milikku. Ia milik semua orang yang menontonnya.
Aku membaca komentar-komentar yang muncul.
"Ukhti Tiara cantik banget."
"Masyaallah, cadarnya bikin penasaran."
"Gamisnya bagus, Kak, mau dong."
Aku melihat tumpukan hadiah virtual yang dikirimkan oleh para penontonnya. Setiap hadiah itu terasa seperti sebuah batu yang dilemparkan ke dalam dadaku. Batu yang perlahan menumpuk, menciptakan jurang yang semakin dalam di antara kami.
Aku pulang ke rumah, sekitar pukul empat sore. Pintu rumah terbuka, namun tidak ada senyum Tiara yang menyambutku. Aku hanya mendengar suaranya dari dalam kamar sebelah, suaranya yang kini terdengar lebih ceria, lebih bersemangat, lebih genit. "Terima kasih banyak yaa, Mas Budi, untuk dukungannya! Jangan lupa di-share live-nya, ya."
Aku terdiam di depan pintu, hatiku terasa sakit. Dulu, aku adalah satu-satunya "Mas" di hidupnya. Tapi kini, ada "Mas Budi", "Mas Gery", dan entah "Mas-Mas" lainnya yang ikut memanggilnya "Sayang", yang memuji matanya, yang membuatnya tersenyum dan tertawa. Aku berjalan ke kamar, meletakkan tasku, dan duduk di atas ranjang. Aku menunggu. Aku tahu ia tidak akan keluar sampai menjelang Maghrib.
Sore itu, rasa penasaranku mengalahkan kecemburuanku. Aku mengeluarkan ponsel, mencari akunnya, dan menonton live-nya dari dalam kamar.
Tiara berdiri di depan kamera, memperagakan sebuah gamis baru. Gamis itu longgar, namun ukurannya yang besar membuat payudaranya sedikit menonjol saat ia bergerak. Ia berputar, tangannya mengangkat sedikit gamisnya, dan aku bisa melihat lekuk tubuhnya dengan jelas. Jantungku berdebar kencang. Ia begitu antusias, begitu profesional.
Aku memelototi layar, membaca komentar yang terus-menerus mengalir. Awalnya, komentar itu biasa saja. Namun, perlahan, mataku menangkap beberapa komentar yang membuatku tegang.
"Mbak, gamisnya bagus, tapi lebih bagus lagi yang di dalamnya."
"Cadar itu bikin penasaran, apalagi kalau lihat yang gerak-gerak di dalam baju."
"Gamisnya kok jadi sempit di bagian depan ya, Kak? Tapi justru itu yang bikin gamisnya bagus."
"Masyaallah, bonusnya gede banget, Kak!"
Aku merasa darahku mendidih. Aku ingin berteriak, ingin mematikan ponselku, ingin berlari ke kamar sebelah dan menarik Tiara. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa duduk diam, menyaksikan istriku, yang selama ini hanya kulihat dalam kegelapan, kini menjadi tontonan publik.
Hari-hari terus berjalan seperti itu. Aku terus merasa cemburu. "Sayang, apa kamu harus se-terbuka itu sama penonton? Apa kamu harus biarin mereka kasih komentar aneh-aneh?" tanyaku suatu malam.
Tiara tersenyum, matanya memancarkan ketenangan yang aneh. "Enggak apa-apa kok, Mas. Mereka cuma iseng. Yang penting aku enggak tanggapin."
Kata-katanya tidak menenangkanku. Justru membuatku semakin resah. Ia menganggap hal itu sepele. Ia tidak melihat apa yang kulihat, ia tidak merasakan apa yang kurasakan. Kami seperti berdiri di dua sisi tebing yang berbeda.
Suatu siang, saat jam istirahat di kantor, aku kembali menonton live Tiara. Ada banyak penonton di sana. Komentar-komentar nakal itu kembali muncul. Tiara hanya tertawa, tidak menanggapi. Sampai kemudian, ada sebuah notifikasi di layarnya. Sebuah gift besar muncul di layar ponselnya. Aku melihat sebuah ikan paus melompat-lompat di sana.
"Makasihh Mas Bims.. wah aku dikasih paus sama Mas Bims!" seru Tiara, suaranya terdengar riang, lebih riang dari yang pernah kudengar.
Napas di dadaku tercekat. Mas Bims. Nama itu terukir di kepalaku. Siapa dia? Kenapa ia memberikan hadiah sebesar itu? Aku merasa seperti sedang menonton sebuah drama yang tidak kumengerti, dengan Tiara sebagai pemeran utama dan aku hanya penonton.
Kemudian, sebuah komentar muncul dari akun Mas Bims. "Kak, buka cadarnya dong. Aku mau lihat kecantikan kakak. Matanya aja cantik apalagi mukanya."
Aku terdiam, membeku. Tanganku mengepal. Aku melihat Tiara, ia terlihat sedikit canggung. Ia mengibas-ngibaskan tangannya, tertawa kecil. "Jangan Kak Bims, aku nggak pernah buka cadar di tempat umum yaa Kak."
Tapi Mas Bims tidak menyerah. Ia terus merayu. "Kak, ayolah... sekali ini aja. Aku penasaran."
Kemudian, sebuah notifikasi lain muncul. Mas Bims mengirim sebuah gift pesawat. Pesawat, salah satu hadiah virtual yang paling mahal. "Kak, aku gift pesawat, buka cadar, ya?"
Aku melihat Tiara, matanya yang indah terlihat bingung. Ia menatap ke arah kamera, lalu menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Aku tahu, ia berada di persimpangan. Pilihan itu ada di tangannya. Pilihan untuk tetap menjadi Tiara yang kukenal, atau melangkah ke dunia yang penuh dengan iming-iming, dunia yang akan membawanya jauh dariku, dunia yang tak lagi bisa kugapai.
Aku mematikan ponselku. Aku tidak sanggup melihatnya. Aku takut melihat apa yang akan ia pilih...
Bersambungg...
