Dimas, seorang kepala cabang bank, dan Tiara, Ustadzah yang merasa hampa, terjebak dalam pernikahan tanpa gairah karena perjodohan. Dalam pencariannya akan makna hidup, Tiara menemukan validasi dari dunia live streaming, di mana ia menjadi objek fantasi pria tak dikenal. Rasa cemburu Dimas perlahan berubah menjadi obsesi. Ia menyaksikan istrinya menjadi tontonan, dan mengejutkannya, ia menemukan sensasi cuckold yang membuatnya bergairah. Fantasi ini mencapai puncaknya ketika Tiara, yang kini lebih berani, membawa sisi liarnya dari dunia maya ke dunia nyata.
Namaku Dimas, 30 tahun. Di mata orang, hidupku sempurna. Jabatan kepala cabang di sebuah bank besar, gaji enam digit, dan sebuah rumah mewah. Rutinitas harianku terbungkus dalam jas mahal dan kemeja rapi, sebuah seragam yang terasa lebih seperti borgol emas. Semuanya tampak sempurna di luar, seperti bingkai foto yang indah, tapi isinya kosong, hampa.
Kehampaan itu berlanjut di rumah, di mana Tiara, istriku yang berusia 25 tahun, menantiku. Kami sudah menikah dua tahun, tapi belum dikaruniai anak. Tiara adalah mantan ustadzah di pesantren, dan jejak masa lalunya begitu kental dalam setiap gerakannya. Ia selalu mengenakan gamis dan cadar, bahkan saat ada tamu datang ke rumah. Suaranya lembut, dan setiap gerakannya hening, seolah dilatih untuk selalu tenang.
Tiara adalah sosok istri idaman banyak pria. Ia taat beribadah, memiliki tubuh ideal dengan payudara besar, ahli dalam urusan rumah tangga, dan pandai menjaga diri. Tapi bagiku, semua kebaikan itu terasa seperti tirai tebal yang menyembunyikan hasrat yang tak pernah ia tunjukkan. Kami menikah melalui perjodohan, dan hubungan kami terasa seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi ranjang. Kami berdua terperangkap dalam keheningan yang tak terucap, sebuah keheningan yang jauh lebih mematikan dari pertengkaran.
Malam itu, setelah makan malam, keheningan kami terasa lebih berat dari biasanya. Aku duduk di sofa, mengawasi Tiara yang duduk di seberang, menggenggam ponselnya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk layar dengan ritme yang gugup. Sesekali, senyum tipis terukir di matanya, tapi wajahnya yang tertutup kain tetap memancarkan kegelisahan yang tak bisa kusembunyikan. Ia menekan-nekan ujung gamisnya, menarik-narik kain itu seolah ingin melepaskan diri.
Ia meletakkan ponselnya, lalu menoleh ke arahku. Matanya yang biasanya teduh dan menenangkan, kini memancarkan keraguan, dan sesuatu yang lain—sesuatu yang asing bagiku.
"Mas..." bisiknya. "Aku... mau minta izin."
Jantungku berdebar kencang. Ada getaran di suaranya yang membangkitkan sesuatu yang selama ini terlelap di dalam diriku. Bukan hasrat biasa, tapi semacam antisipasi.
"Izin apa, Sayang?" tanyaku, suaraku serak.
Tiara menunduk, memainkan jemarinya. "Aku mau... coba jualan online. Jualan gamis, hijab, dan cadar." Matanya kembali berbinar, memancarkan semangat yang belum pernah kulihat. "Seperti kata ustadzah Silmi, biar aku ada kegiatan. Aku bosan, Mas. Aku merasa hidupku cuma di dapur, di kamar, di mushola. Aku mau berinteraksi dengan dunia luar. Aku mau... melakukan sesuatu yang berbeda."
Ia tidak sekadar meminta izin. Ia sedang membuka jiwanya, membiarkan aku melihat lubang kosong yang sama yang juga menggerogoti diriku. Tanpa sadar, aku bangkit dan berjalan ke arahnya. Aku memeluknya. Tubuhnya terasa hangat di dekapanku. Tanganku merayap di punggungnya, membelai kain gamis yang lembut.
"Tentu saja, Sayang. Aku akan mendukungmu," bisikku, suaraku bergetar, terharu. "Tapi... hati-hati, ya. Dunia itu tidak seperti yang kamu lihat di majelis taklim."
Tiara tersenyum dalam pelukanku. "Aku tahu, Mas. Tapi aku punya kamu. Dan aku punya Allah. Aku yakin, aku akan baik-baik saja."
Ia membalas pelukanku, erat. Tangannya yang lembut membelai punggungku, menarik bajuku hingga kainnya menegang. Untuk pertama kalinya, tangannya tidak terasa dingin. Di dalam pelukan itu, ada janji tak terucap tentang sebuah perubahan.
Saat kami berpelukan, pikiranku mulai berkelana. Jauh di dalam sana, muncul perasaan aneh dalam pikiranku. Tiara, istriku yang alim dan terbungkus rapi, akan berinteraksi dengan banyak orang. Mereka akan melihatnya. Menilai gamis dan jilbab yang ia kenakan. Memuji matanya, suaranya, senyumnya. Aku membayangkan Tiara membalas pesan-pesan dari mereka, tersenyum, dan entah kenapa, imajinasi itu... terasa mendebarkan. Aku buru-buru menepis pikiran itu, tapi ada sesuatu yang mulai berdenyut di dalam diriku.
Malam itu, setelah makan malam, kami kembali ke kamar. Udara di antara kami terasa berbeda, berat, tapi juga penuh harapan. Ada janji tak terucap yang mengambang, janji tentang sebuah perubahan. Aku berbaring di tempat tidur, sementara Tiara duduk di meja rias, wajahnya yang polos memancarkan binar yang belum pernah kulihat. Ia bukan lagi kuncup yang tertutup, melainkan sebuah bunga yang perlahan membuka kelopaknya.
"Mas..." bisiknya, memecah keheningan yang lama. "Apa yang kamu pikirkan?"
Aku tersenyum. "Aku senang melihatmu bersemangat, Sayang," jawabku. "Aku hanya... merasa kita akan memulai sesuatu yang baru."
Tiara menoleh, matanya berbinar. "Aku juga, Mas. Aku merasa... aku ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat."
Aku bangkit, berjalan ke arahnya. Aku berlutut, memeluknya dari belakang. Tubuhnya terasa hangat dan lembut. Aku mencium lehernya, mencium aroma sabun dan wewangian yang samar. Tanganku menyentuh dagunya, mengangkat wajahnya, dan aku mencium bibirnya. Tiara terkejut, namun ia membalas ciumanku, perlahan pada awalnya, kemudian dengan gairah yang kuat. Awalnya, ciuman itu lembut, hati-hati, seolah aku sedang meminta izin. Namun, perlahan, ciuman itu menjadi lebih dalam, lebih menuntut. Napas kami menyatu, kami berdua menginginkan ini.
Dengan lembut, aku melepaskan gamisnya, lalu pakaian dalamnya. Aku menatap tubuhnya, tubuh yang selama ini hanya kulihat dalam kegelapan. Di bawah cahaya remang-remang, lekuk tubuhnya terlihat sempurna, sebuah harta karun yang selama ini tersimpan rapi. Sebuah desahan panjang keluar dari bibirnya. "Mas..."
Aku menuntun Tiara untuk berbaring di tempat tidur. Aku memposisikan diriku di atasnya, merasakan getaran di tanganku saat aku memegang diriku yang sudah menegang.
"Sayang... boleh aku?" bisikku, suaraku serak.
Tiara mengangguk, matanya terpejam rapat. "Iya, Mas... aku mau..."
Aku tidak langsung masuk. Aku hanya menggesekkan menggesekkan ujung penisku di vagina mulusnya, merasakan panas dan kebasahan yang tak tertahankan. Tiara mendesah, suaranya dipenuhi kenikmatan. "Mas... Masuk..."
Dengan satu dorongan, aku masuk ke dalamnya. Tiara menjerit, tubuhnya menegang, dan ia memelukku erat. "Ah, Mas... enak..." rintihnya, suaranya bergetar.
Aku mulai bergerak. Perlahan, lalu makin cepat. Aku mencoba fokus pada sensasi, pada setiap sentuhan, setiap desahan Tiara. Namun, napasku sudah terengah-engah. Di kepalaku, kecemasanku berteriak bisakah aku kali ini? Aku mencoba mendorong lebih dalam, lebih cepat, tetapi rasanya sia-sia. Aku tahu waktu yang kumiliki terbatas.
Aku merasakan diriku akan mencapai puncaknya. "Dekk... Mas... ahh... aku... Ahh.. Ahh.." Aku membenamkan diriku lebih dalam, merasakan kehangatan yang membanjiri kami berdua.
Setelah mencapai puncaknya, aku ambruk di atas tubuhnya yang lemas. Aku menempelkan wajahku di lehernya, menciumnya, merasakan napasnya yang terengah-engah. Tiara memelukku. "Mas... aku... suka..." bisiknya lemah.
Kalimat itu terasa seperti janji kosong. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku yang lelah ambruk di atas tubuhnya. Tiara tidak membalas ciumanku. Aku tidak berani bertanya. Setelah beberapa saat, ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku terlelap dalam kelelahan yang luar biasa, memeluk ketakutan bahwa, meskipun malam ini ada yang berbeda, rasa hampa itu masih mungkin akan kembali.
Suatu sore, aku pulang dari kantor, menemukan Tiara duduk di sofa. Punggungnya menghadap pintu, seluruh fokusnya tertuju pada layar ponsel di tangannya. Aku melihat bahunya bergetar, dan dari balik hijabnya terdengar tawa yang asing. Tawa itu lepas, penuh kegembiraan, dan entah kenapa, terasa seperti lonceng alarm yang berdering. Ini bukan tawa yang pernah ia bagikan denganku. Aku berjalan mendekat, mencium pipinya.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok senyum-senyum terus?" tanyaku, suaraku terdengar lebih tegang dari yang kuinginkan.
Tiara menoleh, matanya di balik cadar berbinar. "Mas, alhamdulillah... pesanan banyak. Silmi banyak bantu. Dia juga yang ngasih ide untuk jualan. Dia bilang, aku bisa lebih dari ini."
Aku terdiam, hatiku mencelos mendengar nama itu. Silmi. Wanita yang dulu Tiara sebut-sebut sebagai teman pesantrennya. Dulu, nama itu hanyalah nama. Sekarang, nama itu seperti sebuah ancaman, bayangan yang mengisi kekosongan yang selama ini aku abaikan.
Malamnya, setelah kami selesai makan, Tiara menatapku, matanya memancarkan keraguan. Ia menggerakkan jemarinya di atas paha, seolah mencari keberanian. "Mas... aku mau minta izin," bisiknya. "Aku... mau ketemu Silmi. Besok siang di kafe. Dia mau kasih aku tips-tips jualan. Boleh ya, Mas?"
Aku menarik napas dalam, berusaha mengabaikan perasaan aneh yang menekan dadaku. "Tentu saja, Sayang," jawabku, mencoba tersenyum, meski rasanya senyum itu tidak sampai ke mataku. "Tapi... hati-hati, ya."
Tiara tersenyum, lalu bangkit dan memelukku erat. "Makasih ya, Mas. Aku janji, aku enggak akan lama." Pelukannya terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Bukan lagi pelukan yang mencari kehangatan, melainkan pelukan yang penuh ambisi. Ada semangat baru dalam dirinya yang seolah ingin ia bagikan, namun aku justru merasa ada jarak yang tercipta.
Jarak dan Kekosongan yang Baru
Aku berangkat kerja keesokan harinya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, aku meyakinkan diri bahwa ini hanya langkah kecil bagi Tiara untuk tumbuh, tapi di sisi lain, bayangan Tiara yang kini semakin mandiri dan bersemangat terus menggangguku. Rasanya ada sesuatu yang perlahan lepas dari genggamanku.
Siangnya, saat aku sedang meneliti laporan, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi dari Tiara. "Mas, aku otw ya, mau ketemu Silmi di kafe. Doain lancar." Satu kata itu, "otw," yang begitu sederhana, terasa seperti sebuah palu yang menghantam. Aku merasa ia kini bukan lagi hanya milikku, melainkan juga milik dunia luar yang selama ini ia dambakan. Aku berusaha keras untuk fokus pada pekerjaan, tapi pikiranku terus melayang pada kursi kosong di seberang Tiara, pada apa yang sedang ia bicarakan dengan Silmi.
Sore harinya, aku pulang dari kantor. Rumah terasa sepi. Sepatu Tiara tidak ada di tempatnya. Senyumnya tidak menyambutku di pintu. Aku berjalan ke kamar, meletakkan tasku. Keheningan itu terasa lebih berat dari biasanya. Aku mengambil ponsel, mengetuk jendela percakapan Tiara. Jariku gemetar saat mengetik, "Sayang, sudah selesai?"
Tak lama kemudian, balasan masuk. "Belum, Mas. Masih di kafe. Sebentar lagi selesai." Aku menghela napas panjang. Aku tahu ia tidak bohong, tapi fakta bahwa ia masih di sana membuatku gelisah. Aku berjalan ke ruang keluarga, menyalakan televisi, mencoba mengalihkan pikiranku. Namun, aku tidak bisa. Pikiranku terus-menerus kembali pada Tiara, pada kafe yang kini ia kunjungi, pada percakapan yang mungkin saja mengubahnya.
Setelah salat Maghrib, aku kembali mencoba menghubunginya. Kali ini, ia langsung mengangkat.
"Halo, Mas?"
"Sayang, sudah mau pulang?" tanyaku.
"Iya, Mas. Sebentar lagi. Silmi masih ada yang mau diomongin. Mas, katanya aku harus live streaming. Silmi bilang ini bagus untuk jualan."
Jantungku terasa berdegup, tapi kali ini bukan karena gairah. Live streaming. Aku membayangkan mata Tiara yang selama ini hanya kulihat di balik cadar, kini akan dilihat oleh ribuan orang. Aku merasa sebuah pintu baru saja terbuka, pintu yang akan membawanya jauh, lebih jauh dari yang pernah kubayangkan.
"Ya sudah. Hati-hati di jalan ya, Sayang," bisikku, suaraku serak.
"Iya, Mas. Assalamualaikum," jawabnya. Suara Tiara terdengar begitu bersemangat, sebuah gairah yang tidak pernah kutemukan dalam pelukanku.
Bersambung....
